Work Text:
KRIIEEEETTTT
Kubuka lemari bajuku. Terlihat di dalamnya terdapat beberapa setel baju yang biasa kugunakan. Kebanyakan isinya adalah setelan jas hitam dengan kemeja bernuansa gelap dan putih yang biasa kukenakan untuk pergi ke kantor. Mataku menyisir seluruh pakaian yang ada di lemari sampai berhenti pada sepotong sweater merah maroon yang sudah jarang kupakai.
Tanpa sadar, bibirku menyungging kecil. Kuambil sweater itu, bersama dengan sepotong kemeja putih dan sepotong celana hitam, kemudian mengenakannya. Tak lupa kukenakan jaket kulit hitam sebagai luaran. Kutatap diriku sendiri di cermin sambil merapikan rambutku.
"... apa tidak terlalu awal menggunakan pakaian seperti itu? Ini masih musim gugur," tanyamu heran.
Memang masih terlalu awal untuk mengenakan pakaian musim dingin seperti ini, tapi aku tak bisa menahan diri untuk tidak berpenampilan kembali seperti hari itu.
Aku pun keluar dari apartemenku dan turun menggunakan lift. Sebelum keluar, aku menggantungkan sebuah syal putih di kerah jaket.
Hari ini aku mengambil libur. Bekerja sebagai CEO dari sebuah perusahaan besar seperti LFG memang sangat melelahkan, tapi bukan karena itu aku mengambil libur, namun karena hari ini tepat setahun semenjak--
Ting!
Denting lift membuyarkan lamunanku. Aku pun keluar dari lift dan berjalan keluar dari gedung. Ada sebuah kafe yang sudah lama tak kukunjungi karena kesibukanku. Kafe itu letaknya tak jauh dari apartemen, jadi aku putuskan untuk berjalan kaki.
"Sekali-kali tidak menggunakan mobil dan berjalan kaki keluar itu bagus untuk kesehatanmu," ujarmu sambil menarikku keluar gedung ketika aku hendak menuju tempat parkir.
Kupejamkan mataku sejenak, sebelum kembali berjalan. Lagi-lagi kenangan tentangmu kembali mengusikku. Entah kenapa, sejak memasuki musim gugur, aku semakin teringat padamu...
"Hmm, kalau disuruh memilih, aku lebih suka musim gugur, walau sebenarnya semua musim sama saja untukku."
Ahh, mungkin karena itu kah?
~~~
Sekitar 10 menit kemudian, aku sampai di kafe. Aku memilih sebuah meja yang ada di teras kafe itu. Sebelumnya aku sudah memesan secangkir kopi ekspreso pada sang barista. Aku kini duduk menunggu kopiku diantarkan. Sambil menunggu, aku berniat mengeluarkan handphone-ku dari saku jaket ketika angin sore yang dingin berhembus cukup kencang menerpaku. Aku merapatkan jaket dan tersenyum samar.
Sudah akan musim dingin lagi, kah?
"Kau suka musim dingin?"
Ya, aku suka musim dingin. Bukan karena pada musim itu tingkat keuntungan LFG biasanya ikut meningkat akibat banyaknya event seperti natal, tahun baru, dll... --oke, aku akui mungkin itu juga salah satu alasannya, tapi alasan utama aku menyukai musim dingin itu karena... salju. Kekanakan memang, tapi itulah yang menarik perhatianku sewaktu kecil, hingga aku menyukai musim dingin bahkan sampai saat ini.
Selain itu, di musim dingin juga lah aku pertama kali bertemu denganmu. Di LFG, 3 tahun yang lalu, kau mengetuk pintu ruanganku sambil tersenyum dan membawa proposal dana untuk penelitianmu.
Wuusshhhhh...
Sekali lagi angin yang cukup kencang berhembus, membuatku sadar bahwa matahari sudah mulai terbenam saat kulihat sekitarku sudah berwarna kejinggaan. Seorang pelayan tiba-tiba melintasi mejaku sambil membawa pesanan kopi untuk salah satu meja. Sayup-sayup aku mencium aroma kopi dari kopi yang ia bawa ketika melintas. Aromanya agak manis, sepertinya pesanan itu berupa Cafe au Lait atau sejenisnya.
"Aku memang tidak bisa merasakan rasa manisnya, tapi kopi seperti ini punya kandungan gula yang kubutuhkan untuk membantuku tetap terjaga lebih lama," ucapmu sambil meneguk Cafe au Lait yang kau pesan.
Ya, hari itu setelah menarikku keluar dari apartemen, kau membawaku ke sini. Kita duduk persis di meja ini. Persis saat matahari tenggelam. Aku bertanya padamu kenapa tiba-tiba kau mengajakku ke sini, kau hanya tersenyum dan bilang kalau kopi di sini enak, padahal aku tahu kau tidak bisa merasakannya. Indra pengecapmu sudah mati akibat kecelakaan sewaktu kau kecil. Maka dari itu, aku tidak bisa berhenti curiga padamu saat itu dan terus menanyaimu, hingga akhirnya kau memilih mengalihkan pembicaraan ke jajaran pakaian musim dingin yang dipajang di dalam toko di seberang jalan.
"Hei Victor, aku rasa syal putih itu cocok dengan jaket hitammu ini." Matamu menatap lurus melewatiku, memandangi kaca toko baju di belakangku.
"Kenapa tiba-tiba kau mengatakan itu? Kau berniat membelikanku syal tersebut?" jawabku sarkastik, tapi pada akhirnya aku ikut berbalik untuk melihat objek yang kau bicarakan.
Aku mendengus geli saat mengingat kembali kejadian itu. Kita seperti sepasang orang idiot, meributkan hal yang tidak penting seperti itu. Tapi saat itu aku benar-benar ingin tahu apa maksud dan tujuanmu...
...dan juga mungkin aku sedikit berharap.
Aku pun tersenyum getir sambil menatap syal putih pemberianmu yang menggantung di leherku.
~~~
Pukul 6 petang. Aku meninggalkan kafe itu dan berjalan pulang. Udara sudah semakin dingin. Untung saja aku membawa sarung tangan dan sudah memakainya sebelum pergi meninggalkan kafe. Aku juga tidak lupa melingkarkan syal yang bertengger di leherku supaya lebih hangat.
Aku menarik nafas dengan dalam dan menghembuskannya perlahan. Udara dingin itu masuk dan meresap ke dalam hatiku, bersaing dengan rasa dingin yang sudah ada, yang terbentuk dari kerinduanku semenjak kau pergi.
Tapi walau begitu, entah kenapa perasaanku jadi sedikit lebih ringan setelahnya. Mungkin karena aroma musim gugur ini mengingatkanku padamu? Sehingga rasa rinduku jadi terobati sedikit?
Entahlah, yang aku tahu aku harus segera pulang sebelum malam semakin larut.
Aku pun berbelok dan melewati sebuah taman. Taman ini sangat sepi, selain aku tidak ada lagi yang melintas di sini.
"Kau tahu? Sebenarnya kalau kau melewati taman ini, kau bisa menghemat waktu 1-2 menit untuk sampai ke apartemen," ujarmu sambil membawaku melewati tempat ini.
"Hanya 1-2 menit?" tatapku mengkritik.
Kau terkekeh pelan. "Untuk orang yang selalu berkejaran dengan waktu sepertimu, seharusnya kau yang paling tahu betapa berharganya 1-2 menit itu."
Aku hanya mendengus mendengar jawaban 'cerdas'-mu itu, tak sadar kalo sudut bibirku menukik kecil membenarkan perkataanmu.
Lagi-lagi ingatan tentangmu membuatku terhenti. Ingatan akan hari itu akhirnya menyeruak keluar tanpa bisa kucegah...
~~~
"Sudah kubilangkan, seharusnya kau bawa sarung tangan."
Aku menoleh ke belakang dan memergokimu yang sedang menghembuskan nafas ke jari-jari tanganmu. Kau tersenyum bodoh dan menggosok-gosokkan kedua telapak tanganmu.
"Err... Maafkan aku?"
Aku mendesah pelan. "Untuk apa kau minta maaf padaku?"
Aku pun berjalan mendekat, melepaskan salah satu sarung tanganku dan memberikannya padamu.
"Cepat pakai."
Kau menerima sarung tangan itu, tapi tidak langsung memakainya dan malah menatapku.
"Tanganku juga kedinginan, jadi cuma kupinjamkan satu," kataku sambil membuang muka. Tangan kiriku yang mulai kedinginan karena kehilangan penghangatnya segera aku masukkan ke saku jaket.
Kau menggeleng dan menyerahkannya kembali padaku. "Kau pakai lagi saja."
"Lalu bagaimana denganmu? Jari-jarimu saja sudah mulai memucat begitu."
Kau kembali terdiam dan memandang jari-jarimu lagi. Ahh, benar-benar...
Aku berdecak kesal dan mengambil sarung tangan itu, lalu memakaikannya di tangan kirimu.
Dingin. Itulah yang kurasakan saat tanganku menyentuh tanganmu. Tapi entah kenapa pipiku malah mulai terasa panas.
Dengan cepat, aku memakaikannya dan segera berjalan kembali supaya kau tidak melihat wajahku.
"Victor, tunggu!" panggilmu, namun tak kuhiraukan dan terus berjalan maju. Kau berlari kecil mengejarku, aku bisa mendengarnya dari suara langkah kakimu yang semakin mendekat.
"...!"
Aku hampir melompat kaget saat tiba-tiba sebuah tangan dingin menerobos masuk ke saku jaketku dan menggenggam tangan kiriku yang kedinginan. Sedangkan kau, sang pelaku hanya tersenyum polos di sampingku dan berkata, "Tangan kananku masih kedinginan."
"Gunakan saku jaketmu sendiri!"
Aku berusaha melepaskan tanganku, tapi kau menggenggam tanganku dengan kuat. Kau menyelipkan jari-jarimu di antara jari-jariku dan bergerak mendekat sampai bahu kita bersentuhan.
"Tapi kalau begini lebih hangat kan?"
Seketika otakku berhenti bekerja. Aku hanya bisa mendengar suara debar jantungku yang berdetak dengan keras di telinga. Kutundukkan kepalaku menatap tanah, tidak berani menatap balik wajahmu karena aku yakin wajahku sudah merah saat ini. Aku cuma bisa bergumam kecil.
"...idiot."
"Kau tak suka?"
Kau mencondongkan badan ke depan, menoleh berusaha melihat ekspresi wajahku. Aku dengan cepat memalingkan muka.
"Sudah, cepat gerakkan kakimu! Aku tidak mau mati kedinginan di sini bersama orang bodoh sepertimu!"
"...kau sepertinya memang sudah benar-benar kedinginan, telingamu sudah sangat merah begitu," godamu.
"Berisik."
Aku segera melangkah maju dan menyeretmu bersamaku. Tanpa melihat raut wajahmu, aku tetap bisa mendengar dengan jelas seringaian dalam ucapanmu barusan. Aku pun menekuk wajahku, berusaha menahan rasa malu. Kau hanya tertawa kecil di sampingku sambil mengimbangi langkah kakiku.
Di akhir musim gugur itu, kita berjalan berdampingan. Suara langkah kakimu menggema menemani suara langkah kakiku menyusuri taman ini...
...sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak entah ke mana pada keesokan harinya.
~~~
Aku menghela nafas dengan berat.
Lucien, sebenarnya kau ada di mana? Ke mana kau sedang melangkah sekarang? Aku rindu mendengar suara langkah kakimu...
Tuk.
Sesuatu jatuh dan mendarat di kepalaku membuyarkanku dari lamunanku. Kuambil dan kuperhatikan, ternyata sehelai daun kering kecoklatan yang jatuh. Aku mendongak dan menatap pohon yang kini sudah kehilangan semua daunnya.
"...kau tahu? Sebenarnya musim yang silih berganti ini tidak pernah memiliki arti yang khusus, tapi karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang puitis, mereka akhirnya memberikan interpretasinya masing-masing untuk setiap musim."
"Kalo begitu, apa arti musim gugur untukmu?"
Senyummu memudar. Kau terdiam cukup lama, entah kenapa aku seperti melihat pancaran kesedihan di matamu.
"...endless longing? Seperti pohon yang merindukan daunnya yang gugur dan tak bisa kembali lagi?" jawabmu sambil menangkap daun yang kebetulan jatuh di hadapanmu dan memainkannya.
Aku mengernyit heran.
"Dengan interpretasi yang menyakitkan seperti itu, kau masih tetap menyukai musim gugur?"
Kau menoleh, menatapku dalam-dalam sambil tersenyum samar.
"Karena itu mungkin yang selalu kurasakan..."
Saat itu aku masih belum mengerti maksudmu... tapi berkat dirimu, sekarang aku sekarang sangat mengerti apa arti dari 'musim gugur'-mu itu.
Kau membuatku merasakan hal yang sama setahun ini. Walaupun aku tidak tahu untuk siapa kata-katamu itu sebenarnya, karena aku yakin kata-kata itu bukan ditunjukkan untukku.
Hubungan kita selama ini tidak jelas. Kau bilang kau tak bisa membalas perasaanku. Katamu kau juga kehilangan empatimu akibat kecelakaan itu sehingga kau tidak bisa mengerti kenapa aku bisa tertarik padamu--atau lebih tepatnya kau tidak mengerti apa itu 'perasaan' secara umum. Walau begitu, selama ini aku merasa kau selalu memperlakukanku lebih dari seorang 'teman'. Namun tiap kali kutanya, kau selalu bilang kalau kau hanya penasaran bagaimana 'rasa'-nya melakukan kegiatan pasangan yang kau lihat di film.
"Pengalaman seperti ini mungkin suatu saat bisa berguna, jadi tak ada salahnya untuk mencobanya terlebih dahulu."
Kau mengatakannya dengan ringan sambil tersenyum, tanpa tahu betapa dinginnya kata-kata itu di telingaku.
Tapi kenapa saat itu, saat terakhir kali kau mengajakku keluar, kau tidak mengucapkan alasan yang sama? Kenapa kau bertingkah sangat aneh hari itu?
Ada banyak sekali yang ingin kutanyakan tentang hari itu padamu, tapi tidak bisa. Yang bisa kulakukan sekarang hanya bersiap untuk musim dingin yang kedatangannya tidak bisa ditunda. Musim dingin kesukaanku, dengan malam yang sangat panjang, yang kuisi dengan memikirkanmu...
~~~
Setelah terdiam cukup lama, aku berniat untuk mulai melangkah kembali... ketika kudengar suara langkah kaki di belakangku. Suara langkah kaki yang sudah sangat kukenal...
Tidak mungkin...
Suara langkah kaki itu mendekat, tapi aku cuma terdiam tak berbalik, aku takut kalo yang kudengar hanyalah ilusi, ilusi yang akan hilang ketika aku berbalik, seperti yang sudah terjadi sebelum-sebelu--
"Victor..."
Aku terpaku mendengar suara lirih yang sudah lama tidak kudengar memanggilku dari belakang. Dengan perlahan, aku membalikan badan. Ternyata benar kau yang berdiri di hadapanku. Kau yang menghilang 1 tahun yang lalu, kini berdiri di depanku dengan penampilan yang sama dengan hari itu. Walau penampakanmu saat ini lebih acak-acakan dari biasanya, wajahmu terlihat lelah, kantung matamu terlihat sangat kentara, dan bibirmu pucat.
Aku terdiam. Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Apa ini benar-benar kau?
Seakan bisa membaca pikiranku, kau tersenyum bodoh sambil terus menatapku.
"Aku pulang...?"
"..."
Musim dinginku yang sebentar lagi tiba, aku rasa sepertinya kali ini akan diisi denganmu... ya, benar-benar denganmu.
FIN.
