Chapter Text
***
**
*
Tanggal 5 Februari
Suara robekan kertas menggema, mengisi kesunyian ruang ukuran 8 kali 6 meter. Kertas yang baru saja dirobek itu diremas dengan kuat di genggaman tangan kanan sosok yang merobek. Sosok itu memandangi kalender dinding di depan matanya yang menunjukkan angka lima belas dengan tulisan "Februari" di atasnya.
"Kenapa, Dok?"
Boun, perawat yang tengah membenarkan kotak tisu sampai kaget dengan yang Win lakukan barusan.
Win Metawin, seorang pria manis berumur 26 tahun yang baru saja merobek kalender pun menoleh. Ia hanya tersenyum sambil menggeleng seolah meyakinkan Boun kalau tidak ada hal yang perlu diambil pusing.
Dia membuang lembar kalender yang ia robek tadi ke tong sampah lalu melangkah pergi.
Karena terdorong rasa penasaran, Boun memungut robekan kalender yang barusan Win buang. Lembar kalender yang menunjukkan tanggal 14 Februari.
14 Februari? Kenapa?
Bagi sebagian orang tanggal itu terasa manis karena digadang-gadang sebagai hari kasih sayang. Boun tersenyum miris. Dia menatapi pintu yang baru saja tertutup karena kepergian Win.
Boun tahu persis kenapa Win begitu. Sekilas memang Win tampak gemilang dan bersinar. Kariernya sebagai seorang dokter gigi berhasil membuatnya memiliki cukup harta di usianya yang terbilang muda. Mulai dari blok ruko atas namanya, mobil yang dibeli dengan tunai, kafe macaroon sebagai usaha sampingan, dan juga banyak hal lainnya yang berjudul "harta pribadi". Namun satu hal yang tidak dia miliki.
Kasih Sayang.
Ya, kasih sayang pribadi. Kenapa kasih sayang pribadi? Banyak orang yang mengaku menyayanginya dan banyak juga orang yang mengejarnya. Namun itu semua tidak membuatnya merasakan kasih sayang yang nyata.
Orang tuanya meninggal ketika dia berumur enam belas tahun. Ayahnya selingkuh dan membuat ibunya mati bunuh diri. Parahnya selingkuhan ayahnya hanya terus mengambil harta ayahnya dan berakhir dengan membunuh ayahnya ketika tidak memenuhi keinginannya. Seketika itu juga perusahaan orangtuanya tak bersisa.
Bisa dibilang umur sembilan belas tahun, lebih tepatnya tanggal empat belas Februari, adalah titik terendah kehidupan seorang Win. Kekasih yang selama enam tahun dia anggap mecintainya setulus hati ternyata hanya memacarinya karena ingin harta orangtuanya. Setragis itu memori masa mudanya.
Hidup sebagai anak tunggal membuat dia sangat terpukul karena mengalami semua hal bertubi-tubi. Win yang sebenarnya ceria dan manja berubah menutup dirinya dan trauma akan kasih sayang.
Baginya kasih sayang adalah candu.
Sekali mencicipinya maka akan terus mencarinya.
=0_0=
Tanggal 6 Februari
"Tapi, Phi ... Aku ini dokter gigi!"
Win hampir merengek karena terus dipaksa. Di hadapannya tengah duduk Toptap, kakak tingkatnya ketika kuliah yang kini bertugas di rumah sakit swasta. Toptap yang memang senang bersosialisasi begitu menikmati pekerjaan di rumah sakit dan bertugas di UGD. Sangat berbeda dengan Win yang penyendiri dan memilih membuka klinik gigi sendiri dan dibantu dua orang perawat yang juga merangkap menjadi tenaga administrasi, Boun dan Prem.
"Ya ampun, setidaknya kau dokter! Kau tahu kan prosedur standar untuk donor darah? Ayolah, kau hanya mengecek di bagian registrasi saja, kok! Selebihnya kan hanya aku dan tim palang merah yang urus."
Win menggeleng. Ia tak mau terlibat dengan orang banyak. Tim palang merah dan sekumpulan pendonor. Tak mungkin donor darah untuk kegiatan sosial hanya melayani satu orang. Membayangkan keramaiannya saja Win sudah bergidik ngeri.
Lagipula aneh sekali, donor darah dilakukan dalam rangka menyambut hari valentin. Ini hal lucu bagi Win. Lucu dalam artian sedikit tidak biasa.
Ia pun menggeliat ingin lepas dari Toptap yang tengah menggelayuti tangannya.
"Ayolah! Kau tak akan menyesal. Lagi pula ini cuma seminggu. Kuyakin kau akan menikmatinya."
Win mendelik malas. "Yakin sekali kau, Phi." Bagi Toptap acara ini hanya seminggu. Tapi bagi Win, seminggu bersama kerumunan orang asing terasa bagai setahun. Semenjak tragedi di umur sembilan belas tahun, Win menjadi sedikit memiliki gangguan kecemasan jika berada di kerumunan orang yang tak ia kenali.
Sekilas tak berbahaya. Tapi demi ketenangan dirinya sendiri, dia lebih memilih berada di tempat yang tak ramai orang.
Toptap duduk tegap. Ia meraih ponselnya. Setelah itu dia menyodorkan layar ponsel ke wajah Win. "Ini! Donor darah yang diadakan fakultas olahraga, Win. Kita bisa cuci mata!" Toptap membuat alisnya naik turun dengan senyuman mesum di wajahnya.
Win menggelengkan kepalanya. "Mahasiswa seperti itu, Phi. Apa yang kau harapkan dari anak-anak bau kencur seperti itu?"
"Cuci mata!" jawab Toptap cepat. "Fakultas olah raga, Nong! Ratusan mahasiswa bertubuh menggiurkan ada di sana! Lagipula kita hanya bekerja membantu tim palang merah di hari pertama. Setelah itu kita hanya berjaga-jaga kalau mereka cidera atau sakit." Tangan Toptap bergerak ke berbagai penjuru saking semangatnya membujuk Win. "Ini mudah."
Win menggeleng lagi. "Aku tak mau." Win menjawab dengan tegas. Sama sekali tak peduli dengan bujukan Toptap yang baginya begitu bodoh.
Senyuman di wajah Toptap memudar. Dia meminum jus jeruk di hadapannya. Setelah itu dia menatap Win dengan serius. "Hei anak muda, dengarkan aku..."
Tadinya Win sudah menganggap Toptap serius. Tapi mendengar ucapan Toptap barusan Win malah terkekeh. Ucapan Toptap seperti kakek-kakek tua soalnya.
"...kalau kau tak membantuku, aku akan berhenti menemanimu menemui sponsor klinik."
Kekehan Win terhenti. Kalimat Toptap barusan benar-benar membuatnya ketakutan. Sponsor klinik begitu penting baginya. Ia pandangi wajah Toptap. Tak ada kilas canda di wajahnya.
Win pun paham. Ia tak punya pilihan saat ini.
=TBC=
Karakter berikutnya akan muncul di seiring berjalannya cerita. Bright muncul di part berikutnya yaa. (update tiap dua hari sekali)
Terima kasih sudah singgah. Semoga betah :)
11 Juli 2020.
