Chapter Text
Pernah, Hinata Shouyou bertanya padanya, dengan tawa yang terlalu lebar di samping keringat yang berlelehan: itu adalah suatu sore yang melelahkan, terbukti dengan anggota klub voli yang terduduk terengah seraya meminum minumannya dengan ganas seolah air hanya dapat ditemukan di saat itu saja.
“Eh, Yachi-san, menurutmu, malaikat itu ada, nggak?”
Sejenak, Hitoka menoleh dan menatapnya dengan intens dan tidak lupa cengiran aku-tidak-tahu-apa-yang-terjadi-sehingga-kamu-menanyakan-itu-padaku dan kepala yang digaruk meskipun tidak gatal, wajah Shouyou tampak begitu serius, serius sekali sampai-sampai ia kehilangan kesan terhadap Shouyou yang biasanya.
Ia membuka mulut, mencoba mencari jawaban yang sekiranya ia pahami dan ia yakini dengan benar, mencoba mencari eksistensi yang sering didepiksikan dengan seorang lelaki atau perempuan yang rupawan dan sepasang sayap yang putih, indah dan besar tergantung di balik punggungnya, terasa mengagumkan, dan berada di bawahnya akan membuatmu terasa begitu terlindung, berkata, masih dengan cengiran yang tak kunjung berubah, “Ada … mungkin? E-ee, ngomong-ngomong, kenapa kamu bertanya begitu, Hinata?”
Shouyou ikut menggaruk kepalanya, dengan senyuman yang lebih lebar; benarlah impresinya, berada di dekat Shouyou selalu membuatnya merasa seperti bahwa ini adalah sebuah siang yang cerah, tidak menyengat namun hangat, dengan langit yang begitu cerah tanpa awan, menimpalinya dengan rentetan kalimat, “Enggak, hanya saja … kemarin Kageyama juga bertanya begitu padaku, dan aku nggak terlalu paham apa yang dia maksudkan dan aku juga menjadi penasaran, jadi, aku putuskan bertanya padamu, karena ... kamu tampak seperti dewi pengetahuan?”
Oh, Kageyama. Hitoka mengangguk-angguk, secercah pencerahan memasuki otaknya, dia terlalu paham, begitu juga dengan seluruh anggota tim voli itu, kecuali Shouyou, dan rasa panik akan semburat merah yang secara refleks terbentuk saat dipanggil (atau disebut?) sebagai dewi pengetahuan, dan serangkaian skenario yang menakutkan terbentuk seketika di kepalanya, “Ahaha—aku, aku bukan dewi pengetahuan, kok!” ia tertawa, “Kalau menurutku, mungkin mereka ada, hanya saja kita nggak tahu siapa dia, dan bagaimana bentuknya? Mungkin, misalnya seperti, dengan keberadaan yang berbeda, bisa jadi dia adalah seekor kucing yang terus mengikutimu, bisa jadi dia adalah seseorang yang begitu dekat dengan kamu, namun kamu tidak menyadarinya? Atau—bagimu, bisa jadi dia adalah Kageyama-kun?”
Lelaki seratus enam puluh dua senti itu mengangguk-angguk cepat, “Penjelasan Yachi-san selalu dapat dimengerti dengan mudah! Aku tertolong, barangkali, aku bisa pakai jawaban itu ke Kageyama, boleh, ya?”
Hitoka mengangguk ringan, “Nggak apa-apa, nggak apa-apa.”
“Tapi, Yachi-san,” Shouyou menggaruk kepalanya lebih keras, “Nggak mungkin, ‘kan, jika Kageyama itu seorang malaikat?”
Hitoka tertawa, entah tawa jenis apa karena itu mengandung kebingungan yang sama seperti saat kau memakan buah simalakama, Hinata Shouyou terlalu tidak peka pada sekelilingnya dan itu memberi Kageyama waktu yang sulit, pastinya.
Ia tercenung, beberapa saat kemudian.
Dia mengatakan segala hal tentang malaikat (yang sebagian berupa imajinasi, sebagian lagi berbentuk keraguan), tetapi dia sendiri pun tidak terlalu meyakini keberadaan malaikat—dan membuatnya terasa seperti orang yang hanya dapat mengatakan.
Hitoka terduduk di lantai teras belakang rumahnya (yang ditanami dengan tanaman yang berusaha keras untuk bertahan hidup) dan merasakan terpaan angin kencang mengenai wajahnya. Ibunya belum pulang, dan memang begitu seharusnya karena ini siang hari, ah, siang hari yang lain dengan suhu di atas kata sedang, dan terkadang, ia pun merasa bahwa … ia ditinggalkan.
Ia mengunyah sosis goreng yang ia tusuk seperti sate dengan perasaan kesal.
Masih, dia berpikir tentang malaikat.
Jika ada malaikat di dekatnya, mungkin dia akan bernyanyi untuk menenangkan hatinya? Atau melakukan sesuatu yang membuatnya bisa menghindar dari kekesalan ini? Dia menghela nafas.
Seekor kucing hitam berjalan menuju ke arahnya, ia mengerjap. Kenapa ada kucing di sini, pikirnya, ini ‘kan lantai teratas rumahnya.
Kucing itu mengeluskan dirinya ke Hitoka, dan mengeong (ingin dimanja).
Hitoka tersenyum geli, mencuil sedikit bagian sosis gorengnya dan meletakkannya di sebelahnya, untuk mencoba apakah kucing itu akan memakannya (hei, kucing jaman sekarang itu tukang memilih), itu tampak seperti bahwa kucing itu menatapnya untuk meminta makan, barusan dan sebagai manusia yang baik hati, Hitoka membagi makanannya, toh ia dapat membuat lagi.
Kucing itu memakannya dengan lahap.
Cuil lagi. Letakkan lagi.
Kucing itu memakannya lagi.
Cuil. Letakkan. Makan. Cuil. Letakkan. Makan.
Kucing hitam itu sama sekali tidak manis, namun ada yang membuatnya terasa senang sekali saat membagi makanannya.
Hitoka mencoba mencuil lagi untuk menyadari sosis goreng itu telah habis, kemudian ia pergi ke dalam, dia membuat agak banyak untuk menghapus kelowongannya di hari Minggu yang cerah ini tadi, dan membaginya lagi, lagi dan lagi.
Hingga akhirnya sang kucing pergi dengan perut kenyang, dan Hitoka masuk ke dalam dengan perasaan lega.
Entah mengapa?
Ibunya datang dengan segudang kelelahan dan ia menyambutnya dengan senyuman lebar.
“Hitoka-chan, kenapa kamu tampak senang sekali?” tanya ibunya, dan dia makin melebarkan cengirannya.
“Aku rasa, aku habis makan bersama malaikat.”
