Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2020-08-11
Words:
604
Chapters:
1/1
Comments:
9
Kudos:
36
Bookmarks:
1
Hits:
414

a bit too much

Summary:

Beberapa hal tentang Yachi Hitoka.

Notes:

special presents for the one and only
HAPPY BIRTHDAY KAK ANN! i love you please stay healthy and be happy <3
⠀⠀
Haikyuu Ⓒ Haruichi Furudate

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Namanya Yachi.

Tsukishima mengenalnya.

Yachi Hitoka, teman satu kelas sekaligus manager tim klub voli mereka. Rambutnya pirang—cerah. Sama seperti Tsukishima. Bedanya, Yachi tidak cukup tinggi. Ini sudah tahun ketiga dan tingginya masih belum mencapai bahu Tsukishima. 

Tsukishima tahu beberapa hal tentang Yachi Hitoka.

Kurang lebih, sejak kali pertama Tsukishima melihatnya. Hari itu adalah pelajaran kelas bahasa, dan kursi mereka tertukar.

“Tsukishima-san?”

Suara itu kikuk, canggung, dan setengah gugup hingga membuat suaranya terdengar sedikit bergetar.

Tsukishima bahkan nyaris mengenakan earphone-nya tak acuh sampai Yamaguchi menyenggol bahunya. "Tsukki, ada yang memanggilmu."

Tsukishima menaikkan alis, kemudian berdiri dan berbalik. Kosong. Di belakangnya tidak ada siapa-siapa. Butuh tiga detik untuk Tsukishima terdiam, lalu menunduk. Yachi meringis.

Pendek. Begitu impresi Tsukishima dalam hati.

“P-permisi. Tsukishima-san, maaf, sepertinya kursi kita—eh, maaf, namaku Yachi Hitoka, kita sekelas. Maaf!

Terlalu banyak maaf dalam satu kalimat, pikir Tsukishima.

Kata sebagian orang, Tsukishima itu pendiam. Tidak banyak bicara dan cenderung membalas seadanya. Kata sebagiannya lagi, arogan, menyebalkan, dan sisanya berisi umpatan.

Namun hari itu, Tsukishima merasa seperti akan tertawa. Maksudnya, secara harfiah, benar-benar tertawa.

Rasa geli itu kemudian berimplementasi menjadi sebuah dengusan kecil, dan Tsukishima memindahkan tasnya. "Sori."

 


 

"Namanya Yachi Hitoka, dia akan menjadi manajer sementara kita," kata Shimizu suatu hari. Di tepi gimnasium, dengan Yachi yang berdiri kaku di belakangnya. Tsukishima menaikkan alis. "Semuanya, aku harap kalian tidak akan merepotkan Hitoka-san."

Hinata adalah yang paling bersemangat, dan entah mengapa, terlihat lebih menjengkelkan dari hari-hari biasanya. 

"Hitoka-san?" Shimizu melambaikan tangan di depannya.

"Y-ya, Senpai!"

Nadanya terdengar lebih nyaring. Ada sedikit binar antusiasme yang berkobar di balik matanya. Tsukishima melirik dari ujung lapangan. Dia itu, Ia menggeleng-gelengkan kepala, sejenis dengan Nishinoya dan Tanaka.

"AAAARGH!" Panjang umur. Nishinoya berteriak sambil memegangi dadanya.

"KIYOKO-SAN TERSENYUM!" Tanaka berseru tak kalah keras. Mereka bersimpuh di hadapan Yachi. "TOLONG, KAMI MOHON, JADILAH MANAJER TETAP KAMI!"

Idiot, Tsukishima meringis. 

Tapi, itu bukan ide yang buruk.

 


 

Suatu hari, Hinata dan Kageyama muncul dari arah pintu kelasnya. "Oi, Pelitshima! Ajari kami, dong!"

Sebuah kubik perempatan muncul di dahi Tsukishima. 

Setelah ditolak dengan sangat tidak etis, Hinata dan Kageyama pun berakhir bertiga di meja Yachi Hitoka. "Apaan? Lihat belagaknya, tuh. Dasar pelit." Hinata menyipit-nyipitkan mata, menggumamkan Pelitshima berkali-kali dengan wajah semenyebalkan mungkin.

Kageyama mendenguskan “Bodoh” dan Yachi tergelak kecil.

Dan, tiba-tiba saja, lingkaran itu telah terbentuk alami dengan sendirinya.

Hinata adalah yang paling senang bercerita, sedangkan Kageyama mendengarkan. Sepuluh detik kemudian mereka akan bertengkar dan Yachi hanya tertawa sembari berusaha memisahkan keduanya. Terkadang juga tidak. Tsukishima adalah pengamat yang baik.

"Aku ... dulu pernah mendapat peran menjadi pemain ekstra warga kota B."

Yachi adalah sosok dengan tingkat pesimistik yang tinggi. Tapi, pikir Tsukishima dalam hati, memang tidak semua bintang tahu dapat seberapa terang dirinya bersinar.

"Ibuku seorang desainer, tetapi aku tidak pernah punya mimpi. Atau ... hal yang kusuka."

Yachi pandai menggambar. Ada sesuatu yang menakjubkan tentang cara ia melihat dunia.

"Jadi, ketika Shimizu-senpai datang dan mengajakku bergabung. Aku merasa sangat senang!"

Tsukishima masih ingat, di akhir pertandingan resmi pertama Yachi, gadis itu menangis, berkali-kali meneriakkan terima kasih di antara confetti.

Tsukishima, untuk satu dan lain hal, tidak menyadari.

Entah sejak kapan, dunianya seakan hanya berotasi pada Yachi.

 


 

Sekarang mereka sudah kelas tiga.

Yachi mungkin dulu adalah sosok yang sedikit canggung tanpa kepercayaan diri. Namun seiring berjalannya waktu, bersama Karasuno, Yachi jatuh, berkembang, dan terbang.

Tsukishima, adalah satu dari orang yang paling mengetahui hal itu.  

"Kau sudah dengar? Katanya, Hinata-senpai dan Yachi-senpai berpacaran!" Derap sepatu murid-murid kelas satu melangkah riang di sepanjang lorong.

Yamaguchi di sebelahnya bersenandung. "Ah, benar juga. Tsukki, tidakkah kau berpikir jika mereka adalah pasangan yang manis?"

Tsukishima tahu beberapa hal tentang Yachi Hitoka.

 

Terkadang, terlalu banyak.

Notes:

and yes, I'm using their surnames.
thanks for reading, anyway.