Actions

Work Header

Tangkap Belut? Tangkap hatiqu~

Summary:

Mata Khun terus mengikuti gerakan lincah Baam ditemani percikan air dimana-mana.

"Anjay... Baam cepet banget nangkep belutnya," ucap sang bluenette
"Ho'oh, ya," Isu angkat bicara.

"Gara-gara 'dah sering megangin belutmu, toh?"

============================

Fanfic KhunBam spesial Ultah RI yang ditulis akibat begadang sampe jam 4 pagi OwO)

Notes:

Ini yang terjadi di otak Aya kalo dia bangun diatas jam 12.
Btw, Selamat Hari Kemerdekaan ke-75~

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Mata Khun terus mengikuti gerakan lincah Baam, ditemani percikan air dimana-mana.

"Anjay... Baam cepet banget nangkep belutnya," sang bluenette berkata.

"Ho'oh, ya," Isu angkat bicara.

"Gara-gara 'dah sering megangin belutmu, toh?" Suara yang dikeluarkan si bluenette satu detik kemudian menyerupai orang yang tercekik.

"Mboh dan berapa botol pelicin yang kalian habisin," lanjut Isu. Khun yang tidak memprediksi tanggapan itu pun langsung memerah semerah cabe rawit dan mangap-mangap layaknya ikan lele.

Speechless, dirinya pun mengalihkan pandangannya kembali ke Baam yang ternyata sudah basah kuyup karena belut di ember tinggal sedikit dan semakit sulit ditangkap. Dan layaknya manusia bermata normal, pandangan Khun langsung auto-focus pada Bam yang basah kuyup, membuat baju yang dikenakannya melekat dan menerawang pada tubuhnya yang bentuknya mengalahkan batang cokelat.

"Yo, gusti nu agung. Penguasa langit dan bumi. Mengapa ciptaanmu begitu hot begini. Hatiqu gk kuku," batin Khun yg kayaknya udah ngiler-ngiler itu...

Baam yang telah berhasil menangkap belut terakhir secara spontan melirik ke arah Khun.

Mendapati belahan baju jiwanya itu melihatnya sambil ngiler-ngiler, Baam bangkit sambil memegangi belutnya di depan burungnya dan menyeringai ganas ke arah Khun.

"MANTAP JIWA! BAYI KESAYANGAN KITA BAAM MENANG LAGI! YUHUUUUUUUUU!!!," teriak Yuri dengan toa, membuat Evan yang berdiri di sebelahnya berdarah kupingnya.

Mendengar itu Baam yang masih memegangi belut itu pun berjalan ke arah Khun dengan wajah polos sepolos tembok rumah baru.

"Lah, mulai, ini. Hati-hati, yo, anakku. Aku mau pergi ngasih makan burung dulu," kata Isu sambil menepuk-nepuk pundak Khun lalu beranjak pergi. Entah burung yang dimaksud itu burung yang di teras rumah apa burung anaknya.

"HEH. BAJING-"

 

"MAS KHUUUUUNNNN!!!" seru Baam menghampiri Khun, memotong misuhan yang hampir dikeluarkannya.

Bagaikan Jaka Tarub yang melihat bidadari turun dari khayangan, amarah Khun langsung pudar dan wajah seputih bedak bayinya pun melukiskan senyuman. [Ea]

"Aku menang lagi mas, ehe..." kata Baam sambil nyengir manis, semanis cintaku padamu.

"Bagus deh kalo gitu, lumayan bisa dapet banyak snack," kata Khun sambil menggaruk hidungnya, berusaha memadamkan percikan api neraka dalam dirinya. Sementara matanya? Matanya melihat ke arah lain berusaha menghindari pancaran sinar dewa dari belahan baju JIWA-nya.

Melihat reaksi Khun yang biasa-biasa saja, Baam pun mulai melancarkan aksinya. Cengkraman kuat pada belut yang dipegangnya dikendorkan, membuat belut kegerahan itu meronta-ronta seperti para artist ToGtwt saat horny-nya kumat.

"Ah. Ah. Belutnya," kata Baam sambil (seolah) berusaha menangkapnya kembali.

Belut unyu itu pun melesat ke arah Khun dan menabrakkan diri ke boxer gombor-gombor yg dipakainya. Membuat Baam ‘reflek’ menunduk, menabrak Khun, dan jatuh bersamanya ke tanah lapangan.

"Aduh... bathuk ro bokongku..." Khun mengusap-ngusap kepalanya yang terbentur konblok. Kemudian ia berusaha bangun tapi tak bisa karena tubuhnya tertimpa  ̶su̶r̶g̶a̶ ̶d̶u̶n̶i̶a̶  Baam. Iya, dia ditindihin Baam yang menyerupai setan, tapi rasanya masih seolah surgalah yang menindihinnya.

 

"Demi sarung wadimor Papa Edhuan... tenangkan belutmu A.A."  Ia pun menarik nafas panjang dan bersiap berakting marah.

"Ugh! Harusnya belutnya kamu masukin dulu ke bot--" omelan Khun terpotong oleh sundulan... BELUT??? di selangkangannya.

 

Iya, selangkangannya yang tertimpa dan tertutupi badan Baam.

 

Dengan tangan masih menggenggang erat sang sumber bencana. Baam berusaha bangkit sambil (dengan sengaja) menyenggol sana sini. Membuat Khun menggigit bibirnya, berusaha mengendalikan diri supaya 'belut'nya tidak ikut meronta-ronta. Meski sebenarnya otak laknatnya telah berkeliaran kemana-mana

"Maaf, Khun. Tadi kamu bilang apa? Aku nggak denger, ehe," tanya Baam sambil tersenyum malu.

Tidak menyadari hilangnya panggilan 'mas' dari namannya, Khun melanjutkan omelannya.

"Aku bilang harusnya kamu masukin dulu belutnya ke botol baru ke sini. Kok bisa-bisanya sih Yuri bilang kamu menang padahal belutnya masih di tangan gitu," gerutu Khun.

"Hahaha, maaf. Aku kelewat semangat pengen ketemu kamu," tawa Baam sebelum berusaha bangkit tapi, "Auch! Kayaknya keseleo, haha. Sekarang gimana kita balikin belutnya ini?" Sesaat Baam menatap belut itu lalu menatap Khun dengan tatapan jahil.

 

"Atau..." Baam mendekatkan mulutnya ke kuping Khun, uap hangat nafasnya menderu di kuping sang Ice Prince, "aku masukin ke dirimu saja, Aguero?"

 

Khun tersentak. Yep, 100% ada yang tegak tapi bukan keadilan.

Gagal mempertahankan kewarasannya, Khun merintih, "nodai aku, Kangmas..." dengan suara kecil seperti akan menangis.

.

.

.

.

"Jadi sebenarnya yang bottom siapa, sih?" tanya Hockney pada Hwaryun sambil mensketsa pose, mumpung ada referensi di depan mata.

"Tergantung sih, tapi kalau sekarang kayaknya Khun," jawab Hwaryun sambil makan krupuk sisa lomba.

 

"Malam ini kita bakal pesta belut," pikirnya.

Notes:

Rara: SUMPAH W NGAKAK GAK KELAR2 COEG. LU MAKAN APA OTAKNYA SEGEDE ITU
Aya: Makan cabe say. Biar jiwa fujonya selalu membara ಥ‿ಥ

Mari menggila bersama Aya di twitter @Potelot_Mabur
dan Rara @Choconangga

Karena kita sering tebar kutipan cerita dan fanart disitu ᕕ( ᐛ )ᕗ