Actions

Work Header

Love Playlist

Summary:

Ahn Jeong Won memutuskan untuk 'menetap' sebagai pilihan akhirnya. Seluruh momen yang ia lewati layaknya alunan lagu dengan warna yang berbeda tiap detiknya. Semua hal baru, suka maupun duka, kini menunggunya di daftar putar.

Notes:

Akhirnya setelah beberapa pertimbangan, tulisan ini aku publish. My second fanfic. Cerita yang terjadi setelah Jang Gyeoul confess ke Profesor Ahn Jeong Won. Ya, walau masih banyak kekurangan atau mungkin nggak sesuai ekspetasi, semoga cerita ini bisa ngisi waktu luang untuk nunggu Season 2. So, hope you guys like it.

Di setiap chapter akan ada satu lagu yang iringin cerita ini. Bisa dibilang, setiap lagu punya makna sendiri dan jadi pondasi dalam alurnya. Mungkin bisa sambil diputar, dan semoga, lagu yang aku pilih dan saranin easy listening di telinga kalian~

So, for first chapter, prologue special for wintergarden, our national anthem. Confession is not Flashy (화려하지 않은 고백) - Kyuhyun. Selamat membaca~

Chapter 1: Confession is not Flashy

Chapter Text

Yulje, 25 Desember 2019

                True love.

Pepatah mengatakan, jika sepasang kekasih mendapat ciuman di hari pertama salju turun, maka perjalanan cinta mereka akan diberkahi keberuntungan hingga akhir cerita nanti.

Tentu banyak orang yang mengharapkan hal indah menghampiri mereka di saat-saat bahagia, layaknya hari natal. Bak salju yang turun satu persatu ke permukaan bumi, putih bening dan suci. 

Pergi bersama rekan kerja, keluarga, dan orang yang spesial adalah anugerah dari Tuhan yang tak bisa dilewatkan, salah satu momen menyenangkan bagi setiap individu.

Namun, apa boleh buat. Pemikiran-pemikiran itu sudah tertinggal pada masanya bagi Ahn Jeong Won, seorang bedah pediatrik berusia 40 tahun yang menghabiskan waktunya di rumah sakit. Mendedikasikan hari spesialnya untuk menyelamatkan banyak nyawa dan mendapat senyuman indah dari para malaikat kecil sebagai balasan. Tak ada imbalan lain. Tak ada yang lebih indah dari pada itu.

Tidak ada cinta di usianya yang ke-20. Tidak ada ketenaran di usinya yang ke-30. Dan tidak ada yang lebih cerah dari keinginan terbesarnya untuk menjadi seorang pastor. Beberapa orang mungkin menertawakan pria tampan nan gemilang tersebut karena menjadi seorang chaebol yang hidup dalam sendok dan sumpit emas, namun lebih memilih berjalan diam-diam menuju jalur setapak penuh duri.

Menurutnya, semua akan berjalan sesuai rencanya. Rasa lelah yang ia alami 20 tahun terakhir, akan sampai pada bagian penutup. Sekarang ia tak memiliki banyak waktu. Ia harus merapatkan dindingnya, agar tak ada lagi hal lain yang menghalangi tujuan utamanya, menjadi pastor.

Sayangnya, Tuhan berkata lain. Ketika semua rencananya sudah tersusun rapi, sebuah perasaan aneh tiba-tiba muncul dan kemudian, tanpa tahu malu terus mengusik diri Ahn Jeong Won.

Membuatnya terbodohi dengan sikapnya yang goyah mendadak. Membuatnya terus melakukan hal asing yang diluar kendali dirinya. Membuatnya terus ragu untuk melangkah pergi. Membuatnya terus bertanya-tanya apakah semua keputusan ini adalah pilihan yang tepat untuknya?

Ahn Jeong Won terlalu takut dengan rasa ini, perasaan baru yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Tertekan? Apa istilah itu pantas untuk semua ini? Tidak.

Apakah ia tertekan karena sudah memutuskan untuk mengabdi pada Tuhan? Tidak.

Lalu apa? Pemikiran-pemikiran lain mulai tumbuh. Semakin ia membuang semua pemahaman itu, semakin pula ia terjerumus ke dalamnya. Sampai pada titik dimana ia bertanya.

“Apakah ini hal yang tepat untuk dirinya? Jika tidak, akankah Tuhan merestui dirnya untuk menetap?” Bila kalimat ini sudah muncul, bukankah itu bertanda hati dan otaknya tidak lagi sejalan?

***

Hari itu, Rabu, 25 Desember 2019, Ahn Jeong Won melangkahkan kakinya menuju kantor setelah memastikan seluruh pasien kecilnya baik-baik saja. Waktu kerjanya telah usai. Ia merapikan peralatan di atas meja kerja. Tak lupa mematikan komputer dan mengganti scrub biru dengan pakaian biasa. Memakai mantel hitam untuk menghangatkan badannya sejak musim dingin yang panjang tiba. Ya, musim dingin.  

Suara ketukan pintu menghentikan aktivitasnya sejenak.

“Siapa itu?” tanyanya pada orang diluar sana.

“Gyeoul,” jawab seseorang dengan suara yang sangat ia kenal. Tubuhnya berhenti sepersekian detik sebagai respon. Tanpa terlalu banyak berpikir, ia menjawab.

“Oh... Masuklah,” ucapnya. Pun lisannya kini tak lagi bisa ia kendalikan. Secara otomatis berbicara informal pada bawahannya.

Jeong Won duduk di tepi meja, menunggu hal yang ingin Gyeoul bicarakan. Seakan-akan mendapat sinyal bahwa apa yang akan diutarakan dokter muda itu adalah perihal penting, Ahn Jeong Won memberikannya ruang. Gadis itu datang dengan jas putih dan scrub seperti biasanya. Rambut coklatnya diikat kuda, menyisakan poni panjang yang menutupi sebagian kecil sisi kanan wajahnya.

“Ada masalah apa?” tanya Jeong Won pada satu-satunya residen departemen bedah umum tersebut. Wajahnya tertunduk dengan tangan saling bertaut di depan tubuhnya. Kedua matanya merah berair seperti menahan tangis.

 Apakah seseorang menyakitinya?

“Profesor,” ia mulai berbicara. Perlahan dan terbata-bata. Bibirnya mulai bergetar kecil. “Profesor... aku...” lanjutnya lagi tertahan.

Entah apa yang akan ia katakan, tapi rasa beban di dada Jeong Won tiba-tiba datang menghantam dirinya. Melihat gadis itu berkaca-kaca entah mengapa membuatnya sakit. Lelaki itu menunduk, menghela nafas berat. Sesak.

Bola mata residen wanita itu sekan-akan berlari kesana kamari. Bibirnya gemetar tak karuan. “Profesor, aku.. suka padamu,” tuturnya lemah.

Mendengarnya, Jeong Won tertegun. Ia mengangkat kepalanya perlahan, memandang lurus ke arah wanita di hadapannya. Jang Gyeo-Ul langsung memutuskan tatapannya. Menghindar.

“Maafkan aku,” ujarnya. “Kenapa aku menangis?” tanyanya sendiri dengan mata yang berair.

Sesak.

Mengetahui gadis itu menangis karena dirinya, membuat hatinya tertekan.  

“Maafkan aku,” ucapnya sekali lagi. Setiap kalimat maaf yang ia lontarkan, membuat Ahn Jeong Won merasa sangat bersalah. Kenapa ia meminta maaf?

Seseorang tiba-tiba meminta maaf kepadamu hanya karena ia tak bisa menahan diri untuk menyukaimu. Apakah itu salah?

“Maafkan aku,” dan lagi. Kenapa ia meminta maaf? Apa karena menyukainya adalah sebuah tindak kejahatan? Apa ia meminta maaf atas keberaniannya untuk mengetuk pintu dan melakukan pengakuan sekali lagi setelah Ahn Jeong Won menolaknya beberapa waktu lalu?

Kenapa ia meminta maaf? Jeong Won jelas-jelas tahu siapa yang seharusnya meminta maaf disini. Seseorang yang telah memperlakukan wanita itu  dengan dingin tanpa ampun, dan mendorongnya jauh-jauh dari dirinya sendiri. Ahn Jeong Won kembali menunduk, merasakan nyeri yang tak ada hentinya.

“Aku tahu ini lancang,” ucapnya lagi, “tapi, tak bisakah kau tetap bekerja di rumah sakit dan jangan menjadi pastor?”

“Kumohon tetap disampingku, alih-alih di samping Tuhan, Profesor,” pintanya sembari menahan tangisnya agar tidak pecah. Ahn Jeong Won menatapnya dalam.  Jang Gyeo-Ul yang mengetahui itu kembali menempatkan pandangannya kebawah, “maafkan aku.”

“Maafkan aku, Profesor.” Gadis itu meminta maaf kesekian kalinya. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelahnya. Kalut? Semua perasaan tercampur aduk dalam emosinya. Ia tak bisa menuangkannya dengan kalimat, bahkan sepatah kata pun.

 

사랑하는 나의 사람아 

Dear my love

말없이 약속할게

I’ll silently promise you

그대 눈물이 마를때까지 

Until your tears dry

내가 지켜준다고

I’ll protect you

멀고 먼 훗날 지금을 회상하며

Far ahead in the future, if only we can reminisce these days

작은 입맞춤을 할 수 있다면 

If I could give you a little kiss

 

Dan Ahn Jeong Won hanya tak bisa lagi menahan semuanya. Mendengar isak tangis gadis itu diantara heningnya ruangan, membuat ia merasa tertikam. Pria itu dihujani dengan rasa bersalah.

Ia berdiri, melangkahkan kakinya perlahan menuju satu-satunya residen di bawah tangannya. Pandangannya memanas dipenuhi air di kedua kelopak matanya. Menegakan badannya tepat di hadapan wanita yang rapuh dibuatnya.

Ahn Jeong Won meletakkan tangan kanannya di atas helai rambut Gyeoul. Menggerakan telapak dan ibu jarinya dengan lembut seakan-akan manusia di hadapannya adalah kaca yang mudah pecah. Rapuh.

Ekspresi kecil tanda terkejut muncul di wajahnya. Membuatnya mengangkat muka, menatap Jeong Won, yang sudah menurunkan tangannya ke sisi telinga Gyeoul. Seolah bertanya apa maksud dari semua ini?

Pandangan mereka bertemu. Mata Jeong Won menyiratkan sesuatu.

Perlahan, Jeong Won mendekatkan wajahnya, dan kemudian menyentuhkan kedua bibirnya di atas bibir Gyeoul. Residen itu menjatuhkan kedua tangannya ke samping badan, terkejut dengan apa yang ia terima. Jantungnya berdetak amat kencang tak karuan. Matanya mengerjap beberapa kali tak tahu harus merespon apa. Karena ini adalah ciuman pertamanya.

Tidak. Bukan. Ciuman pertama mereka.

Ahn Jeong Won tak bisa merangkai kalimat panjang untuk menjelaskan semua hal yang ingin ia sampaikan pada Gyeoul. Rasa bersalahnya. Permintaan maafnya. Rasa tertekannya. Ia hanya mengikuti kata hati dan nalurinya sebagai seorang lelaki. Menurutnya, ini adalah tindakan yang paling tepat untuk menjabarkan setiap bagian dari dirinya dan seluruh perasaan peliknya.

                Maaf.

                Maaf.

                Maaf.

Kecupan pertama sebagai permohonan maaf yang tak pernah ia sampaikan sebelumnya. Semua rasa bersalah bercampur menjadi satu, meraup dalam perasaan Ahn Jeong Won. Meluruh, tapi tak jua raib sepenuhnya. Gyeoul menutup kedua matanya, merasakan pahit manis pesan yang lelaki itu kirimkan padanya. Berharap setiap inchi kalimat dan penggalan kata tersirat akan sampai pada perasaan wanita di hadapannya.

Jeong Won melepas tautan di kedua bibirnya. Memandang Gyeoul yang tak lagi tahu harus berbuat apa dengan mata yang sudah basah. Mengangguk kasat, mengiyakan segala permintaan Jang Gyeoul tadi. 

Dengan kedua tangan di leher sang gadis, ia kemudian kembali menempelkan bibirnya perlahan. Gyeoul masih setia mencengkram jas putihnya. Tak percaya bahwa semua hal yang ia alami ini bukanlah mimpi.

Dan ciuman kedua melambangkan janji untuk wanitanya. Janji sebagai jawaban bahwa Ahn Jeong Won akan terus berada di sampingnya.

                Iya.

Bahkan sebelum Gyeoul meminta, Jeong Won sudah memutuskan untuk menetap. Memikirkan waktu yang pas untuk memberikannya kabar bahwa ia telah memilih jalan terbaik. Sampai ia tiba pada titik buntu, bingung bagaimana cara mengutarakan semuanya pada wanita itu. Membuatnya kembali menahan keinginannya dan memakan waktu yang lama untuk segera menghubunginya. Terus berpikir.

Dan penjelasan ini pun bukan berarti ia menyingkirkan Tuhan dan memastikan Gyeoul sebagai pemenang, tetapi ia membuat rencana lain dalam keputusannya. Mengikuti takdir dan restu dari Tuhan untuk menyelamatkan lebih banyak jiwa bersama orang yang ia sayangi, Jang Gyeoul. Tak ada jalan yang lebih bahagia daripada itu.

Ahn Jeong Won merangkul tubuh kecil Gyeoul di dalam pundak lebarnya. Menaruh wajahnya di bahu kecil dokter itu. Membiarkan kepala mungil wanita itu tenggelam dalam dekapannya. Mengeratkan pelukan hangat di awal musim dingin yang berbeda tahun ini. Tak habis pikir, seberapa besar anugerah yang Tuhan hadiahkan padanya. Mendapatkan ciuman pertama di hari salju turun. Mendapatkan pendamping hidup di hari natalnya. Dan Jeong Won tak akan pernah melepaskan apa yang Tuhan berikan padanya mulai dari sekarang.

“Gyeoul-ah, let’s get along well this winter.”       

 

이 넓은 세상위에

In this big world

그 길고 긴 시간 속에

Throughout this long time

그 수많은 사람들중에

Among all these people

오직 그대만을 사랑해

I only love you

 

이 넓은 세상위에

In this big world

그 길고긴 시간 속에

Throughout this long time

그 수많은 사람들중에

Among all these people

그댈 만난걸 감사해

I’m so thankful that i met you