Work Text:
Ordinary Delights
Shokugeki no Soma © Yuto Tsukuda and Shun Saeki
Antara Abel, Shinomiya, dan segelas mango-ade.
“Ah, sebelum pulang, aku akan berhenti di supermarket sebentar. Ada yang mau kau titip?”
“Hm...es krim semangka kedengarannya enak.”
“Baiklah, itu saja atau?”
“Sudah kubilang-kan, kalau kau sempat baru beli barang itu. Sekarang, sebaiknya kau fokus pada daftar belanjaan yang sudah kuingatkan berkali-kali. Kalau kau telat, palingan makan malammu akan berakhir di piring Negi.”
“Shinomiya-san, itu terlalu kejam!!! Lagipula, aku sudah janji, bukan? Untuk selalu pulang tepat waktu. Apalagi kalau kamu (dan Negi) senantiasa menunggu kehadiranku, hehehe.”
“Ya, ya, ya...sekarang cepatlah belanja atau ancaman tadi itu langsung kuterapkan saat ini juga.”
“Aku pergi dulu, ya!”
“Hn...awas saja kalau sampai kau lupa tentang daftar belanjaan itu.” Hati-hati di jalan.
Shinomiya menatap layar ponselnya dalam diam, manik gandumnya tersebut dipenuhi oleh sentimen kejenuhan. Baru saja, ia berbicara dengan pasangannya—seorang koki perancis sekaligus sous chef andalannya di Shino’s Tokyo—Abel Blondin. Kalau boleh jujur, dia tidak pernah menyangka bahwa mereka berdua akan menjadi pasangan sampai saat ini, terutama mengingat bahwa Shinomiya, sebagai seorang individu, memiliki kepribadian yang dingin dan tertutup—kehidupan pribadinya itu benar-benar misterius bahkan sahabat-sahabatnya selama di Tootsuki hanya bisa menggelengkan kepala mereka apabila kalau ada yang berusaha untuk menggali informasi tentang dirinya. Bukan dalam arti bingung ataupun merahasiakan, tetapi karena informasi yang mereka dapatkan sendiri saja sangatlah terbatas.
“Kalau kau terus merahasiakan kehidupanmu, bukankah kau juga akan menderita pada akhirnya nanti?”
Perkataan Fuyumi masih tercetak jelas dalam benaknya. Malam itu, mantan penyandang kursi kedua elite ten tersebut, mengajak dirinya untuk mengunjungi sebuah bar kecil di daerah Ginza dengan alasan untuk melepas rindu dan bersantai dari hiruk pikuk sorotan dunia kuliner yang selalu mengikuti mereka kemana saja. Bar yang mereka kunjungi terletak di ujung pusat kota, dengan penerangan yang minim dan sepi akan tanda-tanda kehidupan.
“Tenang saja, kita masih berada di dalam area distrik hiburan,” jelas Fuyumi seraya mengamati ekspresi Shinomiya yang dipenuhi oleh tanda tanya.
“Ah, darimana kau tahu daerah ini?”
“Intuisiku itu lebih kuat daripada yang bisa kau bayangkan.”
“Lucu sekali, Mizuhara.” Bilang saja, kalau waktu itu kau tersesat.
“Setidaknya, aku tidak pernah tersesat selama di Tootsuki.”
“Oi—”
“Hn. Kita sudah sampai.”
Fuyumi menghentikan langkahnya dan menatap bangunan kecil bernuansa Eropa kuno yang berada di hadapannya. Bagi Shinomiya, bangunan berwarna putih gading itu laksana menghasilkan penerangan sendiri—jalanan kecil nan gulita yang baru mereka lewati tadi tampak lebih elegan dan mengundang; seakan-akan menarik dirinya untuk menikmati berbagai macam godaan duniawi selama semalam suntuk.
“Selamat datang kembali, Nona Mizuhara,” sambut seorang laki-laki berumur dengan sepasang kelereng madu yang walaupun kelihatannya sudah dimakan umur tampak bersinar di balik bingkai kacamatanya yang terbuat dari besi. Raganya yang tegak menunjukan bahwa dia adalah seseorang yang semangat hidupnya akan terus berkobar bahkan ketika penghujung hayat sudah memanggilnya untuk melintasi alam baka.
“Selamat malam, Tuan Nagasawa. Seperti biasanya, ya.”
“Baiklah, Nona Mizuhara dan—”
“Shinomiya Kojirou,” tukas Shinomiya.
“Baiklah. Silahkan masuk, Nona Mizuhara dan Tuan Shinomiya.”
“Ternyata, nalurimu yang buta akan arah itu ada gunanya juga, ya?”
“Kau mau pulang dengan mata hitam, Shinomiya?”
“Aku benar-benar tidak menyangka bahwa kamu berhasil menemukan sebuah bar kecil nan elegan di antara lorong-lorong kelam yang kita sebut sebagai jalan tadi,” lantur Shinomiya. Tangan kanannya sibuk memainkan gelas kosong bekas warm brandy sembari sesekali menatapnya dengan seksama.
“Sudah kubilang, berterimakasihlah pada intuisiku ini,” balas Fuyumi. Luminasi hangat dari lampu-lampu yang berada di sekitar bar counter membuat netra crimsonnya lebih tajam bak belati yang berlapiskan batu-batuan mulia. Tangan kirinya disibukan dengan segelas liqueur segar.
“Beneran, bagaimana kau bisa menemukan tempat ini? Jangan bilang, saat itu kau sedang patah hati sehingga tanpa disadari, kau sudah menenggelamkan kenangan dia dengan cairan memabukan seperti ini.”
“Mulut itu merupakan kesalahan terbesar yang pernah diciptakan, apalagi kalau benda tersebut berada di wajahmu, Shinomiya.”
Shinomiya membalas retorika Fuyumi dengan senyuman pahit.
“Kalau tidak salah, saat itu aku diundang untuk menghadiri acara pembukaan sebuah trattoria di dekat sini. Si pemilik merupakan salah satu bawahanku yang memutuskan untuk terjun ke dunia kuliner secara solo—kudengar dari beberapa rekan sesama koki, setelah dia lepas dari pengawasanku, dia mulai lagi dari awal. Beberapa tahun kemudian, dia berhasil membangun sebuah trattoria. Selain itu, dia juga cepat dalam perihal mengumpulkan pegawai-pegawai terpercaya untuk membantu mengelola trattoria nya tersebut. Aku diundang sebagai tamu honorer dan pada waktu itu, aku tidak bisa mengatakan betapa bangganya diriku pada usahanya. Aku bisa katakan bahwa dia benar-benar menyerahkan semua energi, waktu, dan pikirannya kepada trattoria-nya itu. Namun, makanan itu lebih jujur daripada yang kita tahu. Ketika dia menghidangkan antipasto- nya, aku tidak bisa merasakan apa-apa. Yang kudapatkan dari hidangan itu hanyalah rasa hambar yang menyengat lidahku. Aku pikir, mungkin karena dorongan tensi malam pembukaan; membuat dia tidak sengaja melakukan kesalahan seperti ini. Masalahnya, sampai dolce- pun aku tidak dapat merasakan satu hidangan yang tidak hambar di lidahku.”
“Ah,” Shinomiya sangat mengenali situasi yang sedang diceritakan Fuyumi.
“Ya, kau betul. Aku tidak dapat merasakan cita rasanya sendiri dalam hidangan yang dia sajikan. Rasa hambar itu seolah-seolah menandakan bahwa dia tidak lagi menikmati memasak seperti dahulu. Cinta yang dia berikan pada masakannya tersebut adalah cinta yang mati, yang sudah dikuasai oleh ketamakan untuk sukses. Makanan baginya hanyalah alat untuk mencapai gemilang dunia kuliner. Aku yakin dia tidak lagi menikmati proses memasak, dilihat dari hasilnya. Cintanya itu sudah hilang,” sambung Mizuhara sambil menghabiskan cairan berwarna cokelat muda itu dalam satu teguk. Rasa hangat langsung membasuh tubuh koki spesialis hidangan Italia tersebut.
“Setelah beberapa saat, jam sudah menunjukan pukul dua belas malam. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar, mengitari distrik Ginza yang kaya akan hiburan dan kesenangan. Tanpa kusadari, aku membiarkan kakiku untuk membawa diriku sejauh mungkin dari trattoria itu. Intuisiku mengatakan bahwa ada sebuah tempat sederhana yang menyajikan hidangan mereka dengan penuh cinta di antara lorong-lorong gulita tersebut. Dan pada akhirnya, aku berhenti di depan bar ini.”
Mizuhara mengakhiri ceritanya dengan sebuah senyuman yang dia berikan kepada Nagasawa. Senyuman tulus yang seringkali ia lihat ketika koki berkepala biru keabu-abuan itu sedang memasak.
“Lalu, bagaimana kabarnya sekarang? Apakah trattoria itu masih berjalan?”
“Terakhir kali aku dengar, dia terlilit hutang yang menumpuk. Ternyata, rencananya untuk membuat trattoria itu dia sembunyikan dari tunangan nya sendiri. Bahkan, ketika ditanya secara langsung, dia malah meminta uang tambahan untuk melunasi usahanya tersebut.”
Dentingan jam menunjukkan pukul satu pagi.
“Bagaimana kalau kita akhiri malam ini?”
Mereka berdua berjalan ke arah jalanan utama dalam keheningan.
Menikmati angin malam di bawah naungan pohon sembari menunggu kedatangan taksi.
“Sesekali, datanglah ke restoranku. Aku tahu kau lebih senang mengurung diri di dalam apartemenmu dan memasak, tetapi sekali-kali berkunjunglah. Mungkin aku akan memasak makanan kesukaanmu,” kata Fuyumi. Pandangannya ditujukan pada jalan yang dipenuhi oleh lampu kendaraan dan celotehan mabuk para pekerja kantoran.
“Kau juga bisa mengajak dia .”
Shinomiya merasakan dunianya berhenti saat itu juga.
“Hinako yang memberitahuku tentangnya. Ternyata ada juga yang mau dengan dirimu yang bebal bagaikan batu itu, Kojirou.”
“Dia benar-benar tidak bisa menutup mulutnya, huh, si Hinako itu.” Ah, dia memanggilku dengan nama depan.
“Dia hanya khawatir bahwa kau akan berakhir sebatang kara. Kau tahu, kan, betapa pedulinya dia kepadamu.”
“Huh.”
“Lagipula, aku juga kaget bahwa ada seseorang yang menganggap sikap dinginmu itu menarik.”
“Dia itu cerewet dan suka sekali memelukku, benar-benar menyusahkan. Apalagi kalau sedang bersantai, dia pasti akan melingkarkan lengannya itu dan memelukku seharian.” Pelukannya itu membuat diriku merasa aman dan memastikan bahwa dia itu benar-benar ada di sampingku.
“Kalau begitu, kalian berdua itu saling menyusahkan satu sama lain, bukan?”
“Dia itu yang menyusahkan.” Dia memenuhi diriku.
“Aku turut berbahagia untuk kalian berdua. Terutama kau, Kojirou, aku senang bahwa kau dapat menemukan seseorang yang mencintaimu. Aku bisa melihat bahwa dia adalah pasangan yang sempurna untukmu.”
“Apa maksudmu?”
“Aku rasa kau menjadi lebih terbuka dan senyumanmu itu, benar-benar berubah. Ada sesuatu tentang dirimu yang kembali, kurasa kekuatan cinta itu memang nyata.”
“Ada-ada saja.” Tanpa bantuannya, mungkin aku akan terus terjebak pada bayangan diriku sendiri.
“Setidaknya, hubungi aku kalau kau ada masalah, Kojirou. Kalau kau terus-menerus merahasiakan kehidupanmu, bukankah kau juga akan menderita pada akhirnya nanti. Apabila masalah yang ingin kau ceritakan itu tidak bisa kau katakan langsung kepada pasanganmu, aku akan selalu membuka telingaku, Kojirou. Siapa sangka mendengarkan omelanmu setiap hari itu membuatku kebal akan perbincangan panjang.”
Sebelum Shinomiya dapat membalas tawaran Fuyumi, taksi yang dipesan oleh koki hidangan Italia itu berhenti di depan mereka.
“Sampai jumpa nanti.”
“Uhn. Sampai jumpa juga. Ingatlah, tawaranku masih berlaku.”
“Yang mana?”
“Siapa tahu. Hati-hati di jalan, Shinomiya.”
“Kau ini, sama-sama menyusahkan dengan yang lainnya.” Terima kasih, Fuyumi.
Shinomiya memandang kendaraan kuning itu melesat di antara lautan lampu-lampu, meninggalkan dia di bawah naungan pohon dan sunyi malam yang menemaninya.
Ah, kacamantanya terasa dingin.
“Aku pulang!”
“Selamat datang kembali. Aku sedang berada di dapur.”
Shinomiya sudah kenal tindakan pasangannya tersebut. Sebentar lagi, pinggang dia akan berkenalan kembali dengan sepasang lengan panjang milik koki bermanik lavender itu. Tebakannya tepat. Tiga menit kemudian, dia dapat merasakan kehangatan Abel yang kini sibuk menciumi surai coralnya. Sepasang lengan panjang pun sudah ditautkan pada pinggangnya. Semburat rona merah pun menghiasi kedua telinganya, mengingat bahwa pasangannya itu pasti akan terus memberikan kecupan kecil pada leher dan punggungnya sampai ia puas.
'Seperti seekor anak anjing saja' gelak Shinomiya dalam pikirannya.
“Kau sedang membuat apa?”
“Mango-ade. Aku ingin membuat sesuatu yang ringan, mengingat kau baru saja dari pesta dan kemungkinan hidangan yang mereka sajikan disana itu berat—aku memutuskan untuk membuat sesuatu yang tidak terlalu heboh, anggap saja ini minuman penutup.”
“Tentu saja, aku lebih memilih minumanmu daripada makanan-makanan yang ada tadi.”
“Dasar romantis.” Aku cinta kamu.
“Aku cinta kamu, juga.”
“Oh ya, bagaimana kabar daftar belanjaan yang aku titip? Kau sudah membeli semuanya, kan?"
