Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2020-09-03
Words:
334
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
12
Hits:
119

Hope

Summary:

Melantha yang terluka dan Ansel yang mengkhawatirkannya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

MELIHAT MELANTHA yang mengintip dari belakang pintu ruang medis, tak perlu Ansel tanyakan ia telah mengetahui alasan gadis itu datang.

“Aku tahu kau terluka, ayo sini.” Melantha mengikuti Ansel yang menunjuk ke sebuah kursi, tepat di sampingnya. “Terluka pas latihan dengan Nona Franka, ya?”

Melantha diam karena Ansel benar. Wajahnya sedikit tersipu.

Ansel memegang lengan Melanta yang berdarah lalu melihat kakinya, lagi-lagi gadis ini mengukir luka baru, padahal goresan sebelumnya masih belum sembuh, mana terkadang meninggalkan bekas pula. Ansel menghela napas panjang.

“Tuan Ansel tak perlu mengobatiku, masih ada orang lain yang membutuhkan pertolongan Tuan Ansel.”

“Jadi kau menyuruhku yang seorang medis meninggalkan dirimu di sini?” Ansel melototi Melantha, lantas menyentil pelan keningnya, “tidak mungkin ‘kan?” Ansel mencuci luka Melantha dengan air, setelahnya diberi alkohol yang mana membuat Melantha merintih pedih.

“Tahan dulu,” bisik Ansel pelan, mengusap kepala Melantha, sebagaimana yang sering ia lakukan. Lalu, Ansel memberikan betadine dan membalutnya. Kini, Ansel beralih ke kakinya, ia melakukan pengobatan yang sama seperti di lengannya. Lantas, ia kembali melirik lengan dan kaki Melantha, bekas yang belum hilang, entah bagaimana caranya membuat hati sakit, tanda perjuangan Melantha tatkala ia berada di R.I. Ia masih ingat sebagaimana Melantha tak terlihat hidup saat kali pertama berada di sini dan betapa lega dirinya sebegitu ia mampu melihat gadis ini tersenyum. Ansel menunduk dalam-dalam sembari memegang tangan Melantha, keningnya membentur lutut Melantha.

“Aku tahu betapa bahagianya dirimu ketika Nona Franka memujimu, aku tahu betapa bersinarnya dirimu tatkala berada di medan perang, tetapi ... aku ..., aku khawatir.” Melantha mengusap pelan kepala Ansel, hendak berujar, namun dia menutup mulut tatkala mendengar suara Ansel. “Aku berharap bisa mengajakmu ke sebuah tempat di mana kau tak akan terluka, tetapi aku tahu dirimu takkan bahagia. Aku berharap kau membiarkanku mengobatimu dan mengkhawatirkanmu, setidaknya dengan begitu aku akan tahu bahwa dirimu baik-baik saja.”

Ansel mendongak, bertemu netra Melantha, seperti biasa wajah gadis itu tampak tak beremosi dan sendu.

“Terima kasih, Tuan Ansel.”

Kedua sudut bibir Melantha mengembang dan Ansel yakin, itulah senyuman terindah yang pernah ia lihat.[]

.

.

.

Notes:

- Fic ini ada berkat dialog Melantha yang menyebut nama Ansel.