Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Categories:
Fandoms:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2011-10-11
Completed:
2011-10-28
Words:
5,887
Chapters:
2/2
Comments:
19
Kudos:
10
Hits:
3,316

C o f f e e . L o v e

Summary:

Cinta itu sungguh tak terduga, dan tentu saja, selalu ada hubungan emosional yang kuat dalam 'ikatan' itu. Terkadang mereka tak disadari, muncul tiba-tiba tanpa sepengetahuan dirimu.

Ia membutuhkan dia untuk bersandar. Dia membutuhkan ia untuk mengisi rongga yang kosong di dalam hatinya.

Just like a coffee, tasted better if you drink it when it's hot...

—Tetapi cinta bukan berarti posesivitas.

A WonTif fanfiction for kaorinin! Read if you don't mind, but DLDR!!

Notes:

  • For .

Chapter 1: Complicated Bond

Chapter Text

Hanya dengan sekilas bertatapan, ia bisa mengerti semua tentang pemuda itu—apa yang sedang dia pikirkan, apa yang mengganggu benaknya—yeah, ia bisa merasakannya, entah mengapa. Seolah kelebatan visual itu bisa menampilkan komunikasi oral, sesuatu yang hanya mereka berdua yang tahu.

 

—seperti kali ini.

 

Oppa, apa kau kelaparan?”

 

Dan pemuda itu tersenyum kecil kepadanya. Hanya kepadanya.

 

.

.:-*-:.

.

 

C o f f e e . L o v e

 

.

.:-*-:.

.

 

A fic by mysticahime™

© 2011

 

.

.:-*-:.

.

 

Super Generation fic

AU

H/C yang hampir ga kerasa, Angst ringan, Wuffy brotherhood/sisterhood, Semi-romance/friendship, WonTif/StelWon/slight!HaeTif, Plothole, Adegan yang berlompat-lompat

Don’t Like Don’t Read! —I’ve warned you!

.

.:-*-:.

.

Super Junior & Girls' Generation belongs to God & themselves :)

 

.

.:-*-:.

.

 

Karena batas antara cinta dan persahabatan itu lebih tipis dari kertas...

 

.

.:-*-:.

.

 

Tiffany Hwang sudah menjalin benang-benang persahabatan dengan Choi Siwon semenjak hari awal matrikulasi kuliah di jurusan medis yang dipilihnya—bisa dibilang pada awalnya mereka saling mengenal ketika berada dalam satu kelompok saat orientasi jurusan di awal bulan September kemarin. Intensitas pertemanan mereka bertambah erat selama orientasi jurusan, dan kini hubungan mereka sudah lebih menyerupai hubungan kakak-adik.

 

Orang bilang, laki-laki dan perempuan tidak akan pernah bisa berteman tanpa dibumbui afeksi—tapi hal itu tidak berlaku bagi Tiffany dan Siwon. Bagi mereka berdua, hubungan yang terjalin di antara mereka hanyalah sebatas teman. Kalau bisa dianggap lebih, mungkin mereka serentak akan menjawab bahwa mereka adalah keluarga yang terlambat mengenal.

 

—bukan hubungan asmara yang manis seperti digosipkan oleh teman-teman sekampus mereka.

 

Ikatan batin mereka sangat kuat, dan mereka akan saling mengisi satu sama lain bila yang lainnya merasakan kehampaan. —galau, kalau bicara dengan kosakata dewasa ini.

 

Tiffany adalah tipe gadis yang selalu ceria, sekalipun sedang sedih, ia tidak akan menunjukkannya—tetapi Siwon akan langsung mengenalinya kala gadis itu sedang melewati masa-masa bermuram durja dimana ia akan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendengarkan puluhan lagu mellow dengan telinga tersumpal earphone.

 

Bagi Tiffany, Siwon adalah seseorang yang spesial—seorang kakak.

 

.

.:-*-:.

.

 

Choi Siwon tidak pernah sanggup membayangkan dunia tanpa Tiffany—bukan karena ia mencintainya, sungguh. Well, dia mencintai Tiffany, tetapi murni afeksi terhadap saudara perempuan yang selalu bertopang pada dirinya ketika ia rapuh, bukannya benih-benih perasaan antara laki-laki dan perempuan.

 

Baginya, Tiffany adalah sosok yang seperti kaca—rentan akan retakan dan bisa terpecah menjadi serpihan-serpihan kecil kapan saja. Gadis itu bisa menjadi superhero—ralat, superheroine—di suatu waktu, dan bisa menjadi crybaby pada detik berikutnya. Alur pikirannya begitu abstrak dan—terkadang—absurd.

 

Dia sendiri heran mengapa gadis yang begitu kekanak-kanakkan seperti Tiffany bisa begitu mengerti dirinya.

 

Siwon bukanlah tipe laki-laki yang memusingkan monolog berargumen memaksa dari entitas di sekitarnya; baginya gosip hanyalah serentetan kata-kata murahan yang sama sekali tidak berhak hinggap di membran timpaninya. Sesekali dia bisa mendengar teman-teman—atau lebih tepat disebut ‘teman-teman’—nya menggumamkan bahwa ia dan Tiffany berada dalam sebuah hubungan yang terjalin dalam pita gula—apa pula itu?—tetapi ia tidak ambil pusing.

 

Karena bagaimanapun juga, Tiffany Hwang adalah seorang adik (yang terlalu mengerti?) baginya.

 

.

.:-*-:.

.

 

Apa kau mau makan siang?”

 

Setiap kali pertanyaan itu terlontar dari balik sepasang bibir Siwon, Tiffany selalu mengangguk mantap untuk memberikan jawaban—disusul langkah-langkah riang yang menjajari laju kaki Siwon yang panjang-panjang menuju area tempat makan di seberang kampus mereka.

 

Lain dari kebanyakan gadis yang bertebaran di fakultas kedokteran, Tiffany bukanlah tipe yang suka menjaga image dan makan sesedikit mungkin agar tetap terlihat kurus. Baginya, kurus itu ‘sedikit menyenangkan’—sebagian besar karena mudah memilih ukuran baju—tetapi kurus yang diikuti dengan kata ‘kering’ sama sekali bukan hal yang luar biasa. Yang ada, germy-germy bakalan dengan senang hati datang menghampiri.

 

Karena jadwal kuliah yang cukup padat (insert kata ‘melelahkan’ dengan format bold di belakang kata ‘padat’), bagi Tiffany sendiri, waktu makan siang merupakan anugerah.

 

Terutama karena ia biasa makan siang bersama Siwon, orang yang dianggapnya sebagai teman sekaligus seorang kakak.

 

.

.:-*-:.

.

 

Oppa, aku galau...

 

Sering sekali SMS semacam itu masuk ke inbox ponsel Siwon—SMS dari Tiffany yang menandakan bahwa sang pengirim sedang berada dalam kondisi ‘kurang sehat’ secara psikis. Dan Siwon mafhum sekali dengan spamming yang nyaris dikirim setiap malam seperti itu. Bagaimanapun, Tiffany adalah seorang gadis yang sedang (berusaha) mendekati salah seorang sunbae di fakultas mereka. Sunbae itu adalah fasilitator kelompok orientasi jurusan Tiffany dan Siwon—kelompok dimana semua anggotanya setuju Siwon yang menjadi ketua; akibat dari kalah suit.

 

Kegalauan—atau apa pun itu—yang dialami Tiffany bukannya sensasi semata. Gadis itu benar-benar kalut, dan ia sama sekali tidak tahu siapa yang bisa diajaknya berbagi.

 

Bukannya Tiffany tidak memiliki teman-teman perempuan—tentu saja ia mempunyainya; sebut saja Kim Taeyeon, Kwon Yuri, Jung Sooyeon, dan Lee Soonkyu—tetapi entah mengapa, ia merasa lebih nyaman bila berbagi dengan Siwon.

 

—jangan salahkan ia, karena bagaimanapun juga, berbagi dengan saudara selalu terasa lebih menguatkan, lebih dari apa pun.

 

.

.:-*-:.

.

 

Bukan berarti karena dia dekat dengan Tiffany maka dia tidak mempunyai perasaan khusus pada gadis lain. Pada kenyataannya, Choi Siwon tengah menjalin hubungan jarak jauh dengan Stella Kim di Negeri Paman Sam nun jauh di sana. Keduanya baru memupuk perasaan kurang dari seumur jagung—jarak yang jauh membuat keduanya sukar berkomunikasi.

 

“Menurutmu, apa provider selular yang termurah untuk menelepon ke Amerika?” tanya Siwon suatu hari kepada Tiffany.

 

Gadis itu mendongak dari jjangmyeon yang tengah asyik dilahapnya, menatap Siwon dengan kedua matanya yang membulat bila tidak sedang tersenyum.

 

“Mmm, kurasa, ‘Annyeong’ memberikan penawaran menarik untuk pengguna yang ingin melakukan panggilan internasional—” hanya itu yang ia ingat; Sooyeon pernah memberitahunya soal provider murah. Teman Tiffany itu sering sekali menelepon Soojung, adik perempuannya yang tinggal di luar negeri.

 

“Oh ya?” suara Siwon terdengar bersemangat mendengarnya. —bisa menghubungi Stella dengan mudah, siapa yang tidak mau?

 

Ne, Oppa,” ia kembali pada kesibukannya—melilitkan jjangmyeon di sepanjang garpunya sebelum dimakan; begitulah cara Tiffany makan. “Aku punya SIM cardAnnyeong’ yang sudah lama tak dipakai, tetapi masih aktif. Apa kau mau memilikinya?”

 

“Benarkah?”

 

Ne.”

 

Tiffany merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel, menekan-nekan layarnya selama beberapa saat dan kemudian menyodorkan benda eletronik itu ke depan hidung Siwon. “Ini nomornya, cukup bagus bukan?”

 

Cepat, Siwon mengangguk. “Bagus.”

 

“Jadi, kau akan mengambilkan? Kalau iya, aku akan membawakannya besok untukmu, Oppa.”

 

Siwon tersenyum. Bagaimanapun juga, itu akan mempermudahnya berkontak dengan gadis yang sudah sangat ia rindukan—Stella Kim.

 

.

.:-*-:.

.

 

Tanya bagaimana rasanya kebingungan dalam menghadapi percintaan yang bertepuk sebelah tangan pada Tiffany—gadis itu sudah sering sekali mengalami hal semacam itu; bukan cuma satu atau dua kali. Setiap kali ia mengalami patah hati, dirinya langsung berubah menjadi serapuh kertas minyak.

 

—seperti halnya malam ini.

 

Bertekuk lutut dengan kepala terbenam di antara kedua lipatan femur dan crus; begitulah posisi Tiffany saat ini. Di tangan kanannya tergenggam ponsel layar sentuh—pertanda bahwa sang empunya sedang menggunakannya untuk ber-SMS-ria dan tengah menanti balasan dari lawan berkirim pesannya.

 

Sang lawan, tak lain dan tak bukan, adalah sang sunbae yang diam-diam disukainya, Lee Donghae.

 

Bercerita cukup banyak mengenai hal-hal yang biasa seperti bagaimana persyaratan masuk ke himpunan mahasiswa di kampus dan sebagainya, tiba-tiba saja pembicaraan berbelok menuju masalah perasaan.

 

Dan sang sunbae menyatakan bahwa ia sedang berusaha mendekati seorang gadis. —cantik dan pintar; dua hal itu dikatakannya sebagai ciri-ciri dari gadis tersebut.

 

Oh, well.

 

Dan Tiffany berkata, ia juga sedang menyukai seseorang—seseorang yang tidak terlalu tampan, namun lucu dan senyumnya menarik.

 

Begitukah? Layar ponsel Tiffany menampilkan deretan kalimat dari Lee Donghae. Siapa? Aku penasaran...

 

Barisan geligi di paling depan tanpa sadar mulai mengigiti bibir bawah Tiffany—ia ragu apakah harus memberitahukan siapa yang sedang ia sukai pada orang yang ia sukai.

 

Haruskah?

 

.

.:-*-:.

.

 

Tiffany bukanlah gadis yang agresif dalam soal cinta—ia bisa dibilang lebih seperti tipe yang menunggu. Ia mencintai, tetapi tidak akan menyerang terlebih dahulu. Sebagian besar sifatnya itu berasal dari trauma masa remajanya, gencar mendekati laki-laki yang disukainya hingga perasaannya terekspos jelas ke seluruh penjuru sekolah dan berakhir dengan patah hati karena sang pemuda malah menjauhinya.

 

Patah hati bukanlah frase yang dicari oleh Tiffany; ia terlalu sering menemukan dua kata itu dalam kamus pribadinya.

 

—dan patah hati sedini ini... bisakah ia menundanya—atau mungkin menghibahkannya pada orang lain?

 

.

.:-*-:.

.

 

Biasanya, Siwon tak pernah merasa terganggu bila Tiffany mulai memenuhi inbox-nya dengan aneka spamming yang isinya ‘menggalau’. Berikan penekanan, biasanya.

 

Tetapi tidak kali ini.

 

Malam ini, pada akhirnya Siwon berhasil mendengar suara Stella sekali lagi. Suara yang dirindukannya. Suara yang kerap kali diputar dalam imajinasi alam bawah sadarnya kala terlelap di malam hari. Suara yang membuat jantungnya berlonjakan gembira setiap kali telinganya menangkap getaran harmonik itu.

 

Di tengah-tengah dialog kasual yang—berusaha—dirangkai Siwon agar tidak terkesan menggombal namun tidak terlalu datar juga, spamming Tiffany mampir ke inbox-nya seperti biasa.

 

Sekali lagi, seperti biasa.

 

Hanya saja, kali ini Siwon sedang tidak ingin membalas SMS itu. Saat ini ia ingin fokus dengan Stella, gadis yang menjadi oase di padang gurunnya.

 

Ne,” Siwon menyahuti kata-kata Stella, “aku juga ingin sekali bisa satu universitas denganmu, Stella—hanya saja Eomma dan Appa tidak menyetujuiku untuk kuliah di luar negeri...”

 

Terdengar desah napas Stella di ujung sana. “Arraseo, Oppa. Hanya saja, aku terlalumerindukanmu...”

 

“Aku juga.” Mata Siwon menangkap layar ponselnya yang satu lagi berkedip-kedip, pertanda ada lagi pesan yang masuk ke ponselnya.

 

“Kau harus berterimakasih pada temanmu yang memberikan SIM card ini padamu, Oppa,” kata Stella—entah mengapa Siwon bisa merasakan bahwa gadis itu tengah tersenyum sambil bercakap-cakap dengannya.

 

“Ah, benar.”—entah mengapa muskular di kedua sudut bibirnya ikutan berkontraksi, membentuk senyuman—“Tiffany.”

 

“Dia pasti gadis yang sangat baik...”

 

Sebelum sempat Siwon membalas kata-kata Stella, ekor matanya telah menangkap layar ponselnya yang satu lagi berkedip-kedip—pertanda bahwa ada panggilan masuk ke sana.

 

Tiffany Hwang calling...

 

Entah mengapa, ada sesuatu yang timbul dalam hati Siwon. Gelap dan tidak menyenangkan. Sesuatu yang nyaris meledak dan menyembur ke permukaan.

 

“Stella?” Setidaknya, dia perlu memberitahu Stella, karena mungkin ‘sesuatu’ itu akan mendominasinya cukup lama.

 

“Ya, Oppa?”

 

“Aku akan meneleponmu kira-kira sepuluh menit lagi, apa kau keberatan?” Berat rasanya, tetapi, apa boleh buat? Dia tak ingin Stella terkena imbasnya, setidaknya, bukan Stella yang salah.

 

—dan telepon terputus.

 

Lalu dia menekan salah satu tombol di ponselnya yang lain untuk menjawab telepon dari Tiffany—telepon yang masuk untuk keempat kalinya.

 

“Ada apa?” Sama sekali tanpa sapaan ‘yeobosaeyo’ atau apa pun, Siwon langsung menyambut Tiffany dengan dua kata yang nyaris tanpa nada itu.

 

Di seberang sana, terdengar suara Tiffany yang nyaris putus asa. Oppa, kurasa sudah tidak ada harapan lagi antara aku dan Donghae oppa.”

 

“Tiffany.” Jauh di luar kesadarannya, Siwon mendengar dirinya menggumamkan nama gadis itu dengan nada dingin yang begitu kentara. “—bisakah kau tidak menggangguku, setidaknya saat ini?”

 

“... Oppa?” Ada intonasi kebingungan dalam suara Tiffany, mengalirkan gelombang penuh penyesalan pada diri Siwon.

 

Sejenak, pemuda itu berpikir untuk meminta maaf dan menarik kata-katanya. Tiffany sedang galau, dan sebagai seorang kakak yang baik, ia seharusnya mendengarkan keluh-kesah sang adik, bukannya berbicara dengan nada getas seperti itu.

 

—dan mendadak ia teringat dengan percakapannya dengan Stella yang terputus, membuyarkan semua rasa simpatinya pada Tiffany.

 

“Aku lelah mendengarkan semua ini, menyimpan semua rengekan dan omong kosongmu mengenai Donghae hyung.” Ia tertelan oleh rasa gengsi—dan aura gelap cinta yang terinterupsi oleh gadis itu. “Jangan ganggu aku.”

 

Sama sekali tidak ia tunggu jawaban gadis itu, Siwon segera memutuskan telepon dan mematikan ponselnya. Sedetik kemudian ia mengambil ponsel yang satunya lagi—yang semula ia gunakan untuk menelepon Stella.

 

Terdengar nada sambung sesaat sebelum suara lembut yang familier menyapa gendang telinganya. Wajah Siwon langsung berubah berseri-seri.

 

Yeobosaeyo, Jagiya?”

 

.

.:-*-:.

.

 

“Kau harus berterimakasih pada temanmu yang memberikan SIM card ini padamu, Oppa,”

 

“Dia pasti gadis yang sangat baik...”

 

.

.:-*-:.

.

 

Tiffany Hwang menyukai kopi—kecuali jenis black coffee yang terlampau pahit. Ia menyukai aroma harum yang menyeruak di tengah-tengah udara ketika ia menuangkan bulir-bulir likuid ke dalam cangkir keramiknya, membiarkan helai demi helai asap putih transparan menyentuh permukaan kulit wajahnya dengan lembut.

 

Tiffany suka bagaimana ia dapat menyaksikan visualisasi cairan bening berangsur-angsur bergradasi menjadi warna coklat susu—karena ia selalu menyeduh coffee mix 3in1 yang sudah dikemas dalam ukuran sachet. Ia senang memperhatikan buih-buih putih buram mengapung di surfasi substansi itu.

 

Semula, gadis itu meminum kopi demi mengusir rasa kantuk yang kerap kali memporak-porandakan konsentrasinya kala mempelajari mata kuliah patofisiologi di laboratorium kampus, tetapi pada akhirnya, ia jatuh cinta pada minuman berkafein itu.

 

Tiffany menyukai kopi, karena warna kopi susu nyaris identik dengan warna kulit Choi Siwon yang terbakar matahari.

 

.

.:-*-:.

.

 

Sejak awal mula, Choi Siwon bukanlah tipe orang yang pemilih soal makanan dan minuman, tetapi ia menghindari untuk mencerna segala jenis sayuran. Biasanya, Tiffany-lah yang akan cerewet dan memaksanya untuk memakan aneka daun berserat yang rasanya semi-pahit itu.

 

Dan biasanya akan berakhir dengan adu mulut yang tanpa akhir.

 

Pernah satu kali, Siwon mau memakan habis semua sayuran yang berada di mangkuk makanannya—tentu saja karena Tiffany menyuruhnya memilih antara makan sayur dengan main ice-skating. Siwon sama sekali tidak menyukai (dan tidak bisa) olahraga meluncur di atas es itu. Dingin dan merepotkan, begitu katanya.

 

Siwon sering menenggak kopi; bisa berkaleng-kaleng bila ia mau—ataupun bila ia memerlukan kesadaran seratus persen untuk mengerjakan laporan histologi demi nilai A di laporan semesterannya.

 

Sebagai mahasiswa kedokteran, tentu saja ia tahu kopi mengandung kafein yang menyebabkan adiksi—kecanduan—dan ketergantungan, dengan dosis yang harus semakin ditingkatkan, malah, tetapi ia tetap mengkonsumsi substansi itu—terutama jenis kalengan berlabel cappuccino dan, tentu saja, jenis black coffee yang membutuhkan kesabaran ekstra untuk menggilingnya. Selain itu, ada hal lain yang menyebabkan Siwon menyukai kopi.

 

Siwon menyukai kopi karena warna itulah yang berada di iris Tiffany. Coklat tua nyaris hitam, bening tetapi tak terlihat dasarnya.

 

—karena setiap kali Siwon melihat ke dalam cangkirnya, ia bisa menemukan sorot mata Tiffany Hwang di sana.

 

.

.:-*-:.

.

 

Oppa, ada apa?

 

Biasanya, getaran harmonik suara Stella dapat meredam hatinya yang mendung. Biasanya. Tetapi tidak kali ini.

 

Ia sendiri tidak tahu penyebabnya, tetapi ada sesuatu yang aneh di sana.

 

Dan ia sendiri tidak menyadari stimulannya.

 

Belum.

 

—tbc—

 

Author’s Bacot Area

Pertama-tama, ini cerita pertama yang saya tulis setelah satu bulan lebih vakum. Annyeong AO3!!! Miss me already?

Mohon maaf sebesar-besarnya karena membuat story baru padahal Everlasting Diary belum di-update sama sekali. Secepatnya, serius. Saya sedang berada dalam mood yang galau, jadinya saya membuat cerita seperti ini ._____.

Kritik dan saran, anyone?

 

Me ke aloha,

mysticahime™

Bandung, 29 September 2011, 11.43 p.m