Chapter Text
Itaru tidak menyangka seniornya di kantor tiba-tiba ngekos di Mankai. Memang sih, tidak ada larangan, siapa saja boleh asal bisa bayar dan bukan buronan maupun kriminal (standardnya rendah banget, tapi ya mau gimana lagi.). Namun, Itaru yakin, seniornya itu lebih dari cukup untuk sewa apartemen mahal di kawasan dekat kantor mereka.
Kalau Itaru, kan, ngekos di sini karena murah dan lumayan dekat, sehingga dia bisa kakin dengan santai. Suasana juga enak. Sakuya precious.
Tapi seniornya, apa? Kira-kira apa alasan seniornya ngekos di sini?
Itaru berpikir—mencari tahu apa alasan seniornya memutuskan untuk ngekos di Mankai sembari berjalan ke arah kamarnya. Setelah Itaru sampai di kamarnya, barulah ia menyadari kalau dia melakukan kesalahan fatal.
Kenapa sih dia harus setuju pergi ke kantor bareng seniornya!?
Ini sama aja memancing di air keruh!
Ia kesal dengan dirinya yang otomatis mengiyakan tumpangan gratis demi kehematan bensin agar bisa kakin lebih banyak. Tetapi, ia juga tidak mau dibully oleh orang kantor hanya karena dekat seniornya yang satu itu.
Padahal ya, senior dia tuh vibenya vibe antagonis banget, kok pada suka sih?
Ganteng sih, iya. Tapi kayaknya dia pernah melakukan kerja kotor dan senior dia terlalu sempurna—benar-benar mencurigakan!
Itaru nggak akan menyangkal, siapa sih yang ga mau pacaran sama orang kayak seniornya? Tapi kalau auranya kayak gitu sih, tidak terima kasih. Itaru yakin Chikage Utsuki menyembunyikan sesuatu yang mengerikan.
Tidak, Itaru tidak kebanyakan nonton anime maupun main game. Ini pemikiran normal.
Kalau pacar idaman tuh, seperti Omi, misalnya. Udah baik, mengayomi, rajin, pandai masak, dan sabar. Kalau bukan karena Omi pacaran sama orang lain dan lebih muda sih, Itaru gak masalah mau coba deketin.
Nasi sudah menjadi bubur, Itaru juga tahu dia sudah enggak bisa ngapa-ngapain, jadi ya sudah dia hanya bisa menerima nasib kalau nanti dinyinyirin sama anak kantor.
Sumpah deh, kalau bisa, Itaru rela kok tukar posisi sama mereka.
Dan akhirnya, hari yang sangat tidak ditunggu pun datang.
Itaru yang biasanya susah banget bangun pagi, entah kenapa makin susah bangun. Sepertinya, tubuh dan otaknya masih tahap penyangkalan—tidak ingin dinyinyirin anak kantor.
Dia sudah capek aja, dianggap rebut pacar orang ataupun dikatain suka goda cowok orang. Ya bukan salah dia kan punya muka cantik? Salahin cowoknya dong yang dengan gampang suka sama dia. Itaru mah, setia pada Gawain, husbandonya.
Itaru tahu, masih ada sekitar satu jam lagi sebelum masuk, tapi tubuhnya terasa sangat berat dan sungguh sulit baginya untuk membuka mata. Dia mau di alam mimpi aja sama Gawain.
Tapi sayangnya, tidak bisa. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan Itaru langsung merinding.
"Chigasaki? Kamu sudah bangun, kan?"
Ah! Suara itu! Suara seniornya! Tidak!
"... Chigasaki? Halo?"
Itaru mendadak panik, sehingga membuatnya terjatuh dari kasur.
"Ouch—!"
Sial, mana tempat tidurnya tinggi. Duh kampret banget sih.
"Chigasaki? Ada apa? Aku mendengar suara sesuatu yang besar jatuh?"
Oh tidak oh sial oh,
Itaru sudah keburu malu, belum lagi penampilan dia sama sekali nggak ada bagus-bagusnya sekarang. Dia ga mau buka pintu dan ketemu seniornya. Tolong lah, bahkan Itaru pun, masih ada harga diri walaupun tidak banyak!
"Chigasaki, aku masuk, ya."
Belum sempat Itaru selesai dengan panik dan breakdown, seniornya dengan mudah membuka pintu kamarnya.
Dilihatnya seorang Chigasaki Itaru, berbalut selimut, rambut berantakan, sedang tergeletak di lantai.
".... Chigasaki...?"
Bentar, kok seniornya bisa buka pintu kamar dia dengan mudah?
"Eh, Mas, pintunya ga dikunci ya?" tanya Itaru.
"Enggak," jawab Chikage. "Lain kali tuh dikunci. Bahaya."
Butuh lima detik hingga Itaru sadar akan posisinya yang sangat jelek dan tidak anggun.
Dengan sigap, Itaru refleks berdiri, membuat balutan selimutnya jatuh, memperlihatkan kondisi Itaru yang sesungguh.
Itaru lupa, dia tidur hanya mengenakan kaos—tidak memakai bra—dan celana dalam favoritnya.
Hening, dan Chikage hanya tersenyum aneh.
"Celana dalamnya, lucu."
Muka Itaru langsung memerah, tangannya melempar boneka kelincinya ke arah Chikage.
"MAS CHIKAGE KELUAR SANA!!!!!!!"
Chikage akhirnya tertawa lepas, membuatnya sedikit terkejut — soalnya, Tidak pernah dia mendengar Chikage tertawa selepas itu . Tapi tetap saja! Itaru masih malu dan kesel Chikage melihatnya dalam kondisi seperti ini!
"Iya, iya. Cepetan siap-siap, bentar lagi mau masuk. Katanya mau pergi bareng? Atau mau pergi kayak gitu?"
Muka Itaru yang sudah merah menjadi semakin panas, dia langsung lari ke arah Chikage dan mendorong pemuda yang lebih tua tersebut keluar kamar.
"BERISIK AH, YAUDAH TUNGGU AJA DI RUANG TENGAH! AKU GANTI BAJU!!!"
Itaru segera menutup pintu, kakinya lemes banget. Pagi ini, energi Itaru sudah hilang karena seniornya.
Chikage Utsuki, Seniornya di kantor, bukan cuman tahu rahasia dia yang seorang Otaku, tapi juga sudah melihat Itaru hanya menggunakan kaos dan celana dalam.
Apakah dia masih ada harga diri? Mungkin masih ada, sekecil butiran debu, mungkin.
"Mau mati aja dong..." Itaru dengan lemah berujar, memikirkan bagaimana caranya mengubur dirinya hidup-hidup.
