Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2020-09-15
Words:
1,006
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
11
Bookmarks:
1
Hits:
233

Shape of You

Summary:

Exusiai yang membantu Mostima tatkala mabuk.

Notes:

-Arknight adalah video game yang diterbitkan oleh Yostar.
-Saya tidak mengambil profit dalam bentuk apapun tatkala menulis ini.
-menggunakan sudut pandang Exusiai.

Work Text:

BARANGKALI KALIAN membutuhkan kronologi kejadian, bagaimana bisa si gadis bersurai biru terlelap di bahuku sembari memeluk erat pinggangku, layaknya memeluk guling. Kami berada di dalam taksi, akan menuju Penguin Logistics—sebab di sanalah aku dan dia tinggal, walau biasanya dia lebih sering berpindah-pindah.

Hari ini, kami diajak kawanan yang berada di Rhodes Island tuk berpesta dengan alasan cukup mudah: Blaze yang memaksa semua operator tuk bekerja sama dan Dr. Kal’stit pun telah kecapaian dalam menghadapinya.

“Lakukan sesukamu, ingat hanya hari ini, dan bersihkan seluruh tempat setelah selesai,” begitulah katanya dan memasang raut siap membunuh jikalau Blaze meminta lagi.

Dan dengan begitulah Blaze mengajak seluruh operator yang dia kenal, tentu saja dia juga mengajak anggota Penguin Logistics. Mostima awalnya menolak, namun Blaze berhasil memaksa Mostima tuk ikut. Dengan cara datang ke Penguin Logistics dan menyeret Mostima keluar—dengan paksa, jikalau Mostima tidak mengikutinya, maka ia akan membuat Mostima menyesal. Sejujurnya aku tidak tahu apa yang sebenarnya mereka bicarakan, Mostima yang biasanya hanya menaikan salah satu sudut bibirnya tatkala berbicara pada orang lain pun menatap Blaze malas.

“Baiklah, aku menyerah,” kata Mostima jengkel.

Dengan demikianlah aku dan Mostima berakhir di Rhodes Island dan meminum alkohol dengan gelas persegi kecil. Suasananya meriah, seluruh orang tersenyum! Aku menyukai hal ini lebih dari siapapun. Apalagi fakta bahwa ada banyak pai apel yang beredar di meja makan. Biasanya Mostima akan mengambil gelasku dan menyuruhku tuk mengambil jus. Tetapi kali ini tidak, sebab dia sedang rangkul oleh Blaze dan disodorkan alkohol terus-menerus.

“Jarang sekali kita bisa minum-minum seperti ini, Mostima harus banyak minum dong!”

“... Blaze, kau terlalu semangat.”

“Tentu saja harus bersemangat! Acara seperti ini hanya seumur hidup sekali lho! Tetapi beda cerita kalau Dr. Kal’tsit memperbolehkan lagi.”

“Wajahmu sudah merah banget.”

“Namanya juga minum! Mana mungkin wajahnya tidak merah?” kata Blaze sembari tertawa dan menuangkan minuman ke gelas kosong Mostima.

Perhatianku dari Mostima beralih kepada gadis yang memanggilku.

“Exusiai!”

“Ah! Halo Amiya!” kataku sambil tersenyum. “Hari ini kau cantik sekali!” pujiku spontan setelah melihat gaun merah mudah yang pas di lutut, memuatnya kesannya yang biasanya imut bertambah dua kali lipat.

“Ah ... terima kasih.” Wajahnya memerah, sepertinya dia tak terbiasa dipuji. “Apa kau ingin tampil? Dokter ada menyiapkan sebuah gitar listrik.”

“Mau! Tentu saja mau!”

Aku bergegas menuju panggung kecil yang hanya bermuat lima orang, duduk, dan menaruh gitar tersebut di dalam pangkuanku. Mengetes apakah senarnya bekerja dengan baik atau tidak, apakah nadanya pas atau tidak, mengetes pengeras suara. Setelah seluruhnya telah selesai, aku meraih mik.

“Halo Semua!”

“Halo!” jawab mereka serentak.

Perhatian mereka yang semula sedang berbincang, minum, makan, dan bermain games pun tertuju pada diriku, menambah debaran pada jantungku. Tubuhku merinding, tetapi ini bukanlah rasa takut, melainkan gugup karena terlalu senang.

“Hari ini Exusiai akan bernyanyi dengan lagu dengan ROCK AND ROLL!”

Mereka bersorak dan aku mulai memainkan gitar, lalu bernyanyi.

.

.

.

Setelah aku selesai bernyanyi dan mendapatkan tepuk tangan serta sorakan, kudapati Mostima telah berada di dalam keadaan separuh sadar.

“Mostima, kau tak apa?”

“E ... xu?”

Segera aku merangkulnya agar dapat duduk dengan tegak, malah ia bersandar di tubuhku, memeluk erat leherku. Aku ingin bertanya kepada Blaze seberapa banyak yang Mostima minum—aku sendiri juga tak tahu toleransi alkohol Mostima—namun, tak bisa sebab Blaze pun telah tepar di sofa.

“Wah ... Mostima mampu menghadapi toleransi alkohol Blaze.” Aku menoleh ke arah suara, milik Steward. Sebegitu mendengarnya aku langsung mengetahui betapa tinggi toleransi alkohol Blaze—mungkin salah satu yang terbaik di Rhodes Island. Ternyata Mostima sedang menghadapi iblis alkohol seorang diri, seketika aku merasa bangga.

“Exu ... pulang.” Kalimatnya tak jelas namun aku yakin maksudnya adalah ingin pulang ke Penguin Logistics.

“Kalau begitu aku pamit dulu dengan Amiya dan anggota Penguin Logistics ya.”

“Ehmm.”

Tatkala aku hendak melepaskan tangan Mostima, dia justru memelukku lebih erat.

“Pu ... lang ....”

Sekali lagi aku mencoba melepaskan tangannya, reaksi yang sama, dia memelukku lebih erat, kali ini dia menyelipkan kepalanya di bahuku.

“Steward, apa kamu bisa kasih tahu Amiya dan Texas, kalau aku dan Mostima akan pulang.”

“Tentu saja.”

“Terima kasih.” Aku tersenyum.

“Sama-sama.” Dia membalas senyumanku.

.

.

.

Begitulah kronologi singkatnya.

Kini aku telah tiba di Penguin Logistic dan sedang membaringkannya di kasur—tentu saja di kamarnya.

“Mostima, aku kembali ke kamarku dulu ya.”

Tatkala aku hendak berbalik, Mostima memegang tanganku.

“Exu ... di sini.”

“Kau menyuruhku tuk tidur di sini?”

“Ehmm ....”

“Di lantai?”

“Kasur ....”

Aku mengikutinya, teringat waktu kecil. Sebagaimana aku dan kakakku sering datang ke kamar Mostima dan tidur bersama. Dulu, ketika sayap mostima belum hancur dan kepalanya tak bertumbuh tanduk. Kami, sankta berbeda sarkaz. Kami memiliki lingkaran halo dan sayap, sedangkan sarkaz memiliki tanduk dan ekor runcing layaknya panah. Aku masih bertanya-tanya mengapa Mostima menjadi seperti ini, dia bukanlah bagian sankta lagi, namun bukan bagian dari sarkaz pula—sebab lingkaran halo Mostima masih ada, tetapi aku tetap ingin percaya jikalau Mostima bagian dari sankta.

Aku menyentuh tanduk Mostima dan sayapnya yang mulai hancur.

Mengapa dia terlihat rapuh sekali?

Mostima menyentuh wajahku, mulai dari kening, mata, hidung, mulut, dan berakhir di pipi. Dia masih mabuk, namun tak separah tadi.

“Mengapa ... kau terlihat sedih, ... Exu?”

“Aku menyanyangimu, oleh sebab itu aku—“

“Kau bersedih ... karena aku?”

Aku tidak mampu menjawabnya. Mostima terkekeh.

“Exu ... kau masih cantik seperti dulu. Bukan hanya penampilanmu, dirimu juga. Hatimu masih seindah dan sesuci sebagaimana sankta seharusnya.”

“Kau jugalah seorang sankta.”

“Aku bukanlah sankta lagi, aku pun bukanlah bagian dari tanah suci lagi. Setelah terjatuh, Laterano membuangku, aku pun ... membuang Laterano.”

“Apakah kau akan membuang segala hal terkait Laterano?”

“Tentu saja.”

“Bagaimana dengan diriku?”

Mostima terdiam, “Exu ... jika aku mampu membuangmu, aku telah melakukannya dari dulu.”

Ah ... ternyata dia tak mampu membuangku. Hatiku menghangat tatkala mendengar jawabannya.

“Exu.”

“Iya?”

“Aku boleh memelukmu?”

“Ten—tentu saja boleh.”

Mostima memeluk dengan pelan, perlahan menaruh kepalanya di atasku. Napasnya berada di atas kepalaku menggelitikku. Jemarinya yang memegang belakang leherku terasa dingin. Aku memeluk punggungnya, tanganku bergetar, jantungku berdetak kencang. Entah mengapa rasanya akau lebih gugup bersama Mostima ketimbang tadi berada di atas panggung. Padahal tatkala di taksi, aku tak seperti ini.

“Bersamamu memang menenangkan.”

Beberapa detik kemudian, napas Mostima mulai teratur. Meninggalkanku yang tak mampu tertidur—karena terlalu gugup.[]

.

.

.