Actions

Work Header

The Notes

Summary:

Lili hanya perlu bertahan sebentar lagi, kata Yoongi. Namun adiknya tidak sekuat yang ia pikir.

Chapter Text

Yoongi memandang dua buah buku yang dipegangnya menggunakan satu tangan dengan perasaan campur aduk, semua perasaan itu didominasi oleh sesak luar biasa di dadanya. Namun, Yoongi tetaplah Yoongi, meskipun batinnya menggeram, berteriak, menjerit, dan mengamuk seperti orang kerasukan, tak ada satupun ekspresi yang tercetak di wajah sempurnanya.

“Itu buku yang belum sempat Lili baca, baru kemarin sampai.” kata seorang wanita bertubuh sedikit gempal, wajahnya mewakili umurnya yang mungkin berada di akhir lima puluhan, dan ekspresi tegasnya membuat Yoongi sedikit kurang nyaman. “Aku tidak sadar kalau Lili memiliki barang sebanyak ini.” Yoongi terkekeh seraya menggeleng pelan menanggapi lelucon ibu Kim.

Kedua buku yang masing masing berwarna merah jambu dan oranye itu dimasukkan ke dalam tas gendongnya, lalu kedua tangannya bergerak meraih kardus, tas, dan beberapa plastik untuk dibawa ke dalam mobil. Ketika ia selesai memindahkan semuanya, ibu Kim berdiri di depan rumah sambil mengulurkan tangan ke arah Yoongi.

“Ini, handphone Lili, ia baru saja menggantinya bulan ini, kan?” Yoongi tak mengeluarkan suara, ia hanya mengangguk ketika menerima benda persegi empat tersebut.

Ia tidak mungkin lupa, ia berhasil membuat Lili tertawa hingga menangis karena handphone itu adalah hadiah yang ia berikan pada Lili berkat hasil jerih payahnya selama sebulan bekerja tanpa libur. Dia lantas membukanya. Layar terbuka dan menampilkan wajah Lili yang sedang mengenakan seragam sekolah tampak tersenyum disana, mengingatkannya pada memori yang mungkin tidak bisa kembali.

“Kejadian ini sungguh diluar dugaan.” ibu Kim tiba-tiba berbicara membuatnya mendongak untuk menyimak kalimat selanjutnya, “Lili anak yang ceria, meski, yah, terkadang merepotkan dan– “ Ibu Kim berhenti mengucap, ia tidak mampu berkata-kata lagi akibat nafasnya yang tercekat. “Kami selalu menganggapnya anak dan berkali-kali kukatakan hal itu pada Lili, tapi kurasa Lili tetap salah paham,” ibu itu melanjutkan kata-katanya, “kami minta maaf karena tidak menyadari apapun, aku benar-benar menyesal.”

Yoongi hanya mengucapkan tidak apa apa sambil tersenyum tipis.

‘Selalu menganggapnya anak.’

Jika dulu Yoongi selalu berada di pihak ibu asuh Lili saat Lili diam-diam mengeluh padanya, kini ia merasa posisinya dulu benar-benar salah. Yoongi muak dengan ucapan orang-orang yang mengatakan bahwa mereka menganggap Yoongi dan Lili anak hanya karena ia dan adiknya yatim piatu. Ia muak pada semua orang. Mengingat Lili membuat Yoongi menahan dongkol dihatinya untuk ibu asuh Lili yang kini telah menghentikan drama tangisnya. Yoongi akhirnya pamit, dia membawa mobil milik atasannya melesat menuju rumah kakek-neneknya. Membawa seluruh barang milik Lili.

*****

“Ibu! Kak Yoongi datang!”

Suara teriakan dari tiga adik sepupunya menyapa telinga Yoongi begitu ia keluar dari mobil.

Ada Yeonjun sebagai yang tertua, lalu Soobin yang tubuhnya lebih tinggi dari kakaknya serta si kecil Beomgyu yang tahun ini berumur empat tahun. Bibinya keluar dari dapur seraya tersenyum lebar dan menyambutnya antusias meskipun Yoongi bisa lihat kantung matanya yang menghitam dan membengkak, kejadiannya sudah berlalu seminggu lalu, namun tetap saja semua itu membekas dihati sang bibi, orang yang dulu merawat Yoongi dan Lili saat kecil.

Ia kagum pada bibinya yang bisa sekuat itu tersenyum di hadapannya. Seolah luka itu tidak pernah ada, seolah tidak pernah ada memori menyakitkan baginya, seolah hidupnya tidak pernah diberi cobaan apapun.

Jujur saja, Yoongi iri.

Sang bibi membantunya mengeluarkan seluruh barang Lili lalu kembali ke dapur, sedangkan Yeonjun menghampiri kardus-kardus tersebut dengan ekspresi wajah ingin tahu, disusul Soobin di belakangnya.

“Ini milik kak Lili?” Yoongi menoleh lalu mengangguk kecil. “Ya, ada banyak buku tulis yang masih baru, kau bisa memakainya nanti.”

Yeonjun dan Soobin jelas bersorak gembira karena tidak perlu membeli buku tulis baru untuk semester depan, lagipula buku Lili besar-besar dan tebal, mereka bisa menggunakannya dalam waktu yang cukup lama. Demi mencari tumpukan buku tulis tersebut, ruang tengah telah porak poranda dalam sekelebatan mata. Sedangkan Beomgyu tampak tak tertarik karena ia belum mengerti urusan kakak-kakaknya yang sudah sekolah. Dia justru melirik ke kanan dan kiri seakan akan mencari sesuatu, sampai akhirnya berteriak, bertanya pada semua orang.

“Kak Lili dimana?”

Yoongi terdiam, dia menatap Beomgyu dengan wajah yang tidak bisa dideskripsikan. Bukannya ia membenci Lili, hanya saja, hingga saat ini mungkin akan lebih baik ia tidak mengingat Lili dulu. Setidaknya ia harus sembuh dulu.

Karena tidak ada yang menyahut, Soobin menjadi orang yang berinisiatif menjawab pertanyaan adiknya. “Kak Lili sekolah.”

“Beomgyu mau ikut.”

“Tidak bisa, nanti kak Lili kerepotan harus merawat kamu disana.” balas Yeonjun

Beomgyu akhirnya diusir pergi oleh Soobin dengan berkata sang ibu akan pergi ke kebun, jadi Beomgyu harus ikut. “Ia selalu menanyakan kak Lili setiap hari, padahal dulu tidak seperti itu. Kemarin tubuhnya demam, Beomgyu rewel, mengajak kak Yeonjun dan aku pergi ke sekolah kak Lili, katanya ia ingin bertemu kak Lili.”

Yoongi tak menjawab, ia memilih duduk dan meraih beberapa buku catatan dan lembaran-lembaran kertas yang berserakan.

“Tapi kak Lili pasti senang kan sekarang? Kata ibu, setidaknya dia tidak perlu tertekan dan kesakitan lagi. Aku jadi ingin ikut.”

“Tentu saja, tapi kau tidak bisa kembali lagi kesini bodoh! Seperti paman dan bibi, juga kak Lili, mereka tidak akan pernah kembali.”

*****

Yoongi mengangkat salah satu buku binder Lili yang berwarna hijau, didepannya terulis ‘Buku Catatan’. Lili sangat suka menulis, dia menulis apapun yang ia inginkan di semua buku. Sehingga dulu ibunya sering mengomel karena Lili mencoret coret semua buku-buku dengan tulisannya yang tak pernah memiliki akhir, termasuk buku baru. Yoongi membuka halaman pertama lalu dahinya berkerut sebentar, dia sedikit bingung dengan isi dari ‘buku catatan’ Lili yang ia pegang.

'Tidak apa – apa jika kau kehilangan nafas, tidak akan ada yang menyalahkanmu.'

Pria bermata sipit itu terpaku untuk beberapa saat sebelum akhirnya memilih untuk tidak peduli, namun semakin ia masuk lebih dalam ke buku itu, Yoongi semakin menyesal karena telah membukanya.

Lili dan segala kata – kata yang tak pernah terucapkannya.

Nyatanya itu bukan buku catatan sekolah, atau buku catatan pelajaran bahasa Korea yang Lili pelajari beberapa tahun terakhir, tapi buku hariannya. Buku yang ia tulis bersama hatinya, isi yang ada di kepala Lili, tapi tak pernah diberitahukannya kepada siapapun, atau apapun.

’12 Agustus 2016. 01.29 Jika kamu memiliki 10 hari, hanya 1 hari yang mampu terisi hanya dengan kebahagiaan. Selebihnya, tidak ada.’

Yoongi merasa nafasnya sedikit tersendat di ujung leher dekat dengan tenggorokan. Ia melanjutkan waktu membacanya, tidak menyadari bahwa ia tidak pernah seserius ini membaca. Hanya Lili, anggota di keluarga mereka yang mungkin bisa saja menghabiskan waktu seharian penuh dengan membaca dan menulis.

’14 Agustus 2016. 00.34 Tidak bisa tidur lagi. Aku tidak bisa menutup mata, aku bahkan terlalu takut untuk bermimpi. Karena mungkin mimpiku nanti bisa lebih indah dari yang kuhadapi sekarang, aku tidak bisa bermimpi banyak-banyak. Aku takut sekali jika aku memilih untuk meninggalkan segalanya dan terus bermimpi. Tidak. Aku sudah berjanji untuk bertahan pada kak Yoongi.’

’02 September 2016. 00.12 ’MATI SAJA KAU, AKU SEBAL SEKALI YA AMPUN. Eh? Atau aku saja yang mati?’

Buku yang Yoongi pegang memang tidak terlalu tebal, namun benar benar terisi penuh sehingga butuh waktu untuk membaca semuanya.

’31 Desember 2016. 23.42 Aku ingin bertemu ibu dan ayah.’

Disaat ia sedang memilih buku yang lain untuk dibaca, handphone Lili bergetar. Yoongi terdiam, di bawah itu ada banyak notifikasi dari aplikasi chat online Lili. Dia perlu waktu untuk membukanya. Kepalanya berusaha mengungkit memorinya bersama Lili yang paling terakhir.

“Hei, apa sandi handphonemu?” Yoongi menoleh untuk melihat Lili yang sibuk menulis sesuatu di laptopnya.

Tanpa menoleh adiknya menjawab. “Nama lain pluto.”

“Apa?” Pria itu mendengar semuanya, namun terlalu terkejut untuk bisa menangkap jawaban Lili “Nama lain Pluto yang berupa angka – angka itu lho, ada enam digit.”

Yoongi mencebik, “aku tidak tahu, berapa, sih?” Bahkan tanpa dilihat pun Yoongi tahu adiknya memutar bola matanya malas karena kebebalan sang kakak.

“134340.”

“Aneh sekali. Tidak jelas.”

“Aku memang aneh. Baru tahu?.”

Yoongi segera membuka kata sandi telepon adiknya. Ada sebuah pop-up dari email, pemberitahuan bahwa karya Lili terpilih menjadi pemenang sebuah lomba cerpen online. Yoongi mendengus, hatinya sakit. Mengingat bahwa meskipun Lili mendapat penghargaan dari presiden sekalipun, adiknya tidak akan pernah menerimanya.

"Kau punya bakat menulis, Lili. Lanjutkan saja, lalu kirimkan ke penerbit."

"Tidak perlu. Tidak akan ada orang yang mau menerima tulisanku."

Yoongi ingat dengan jelas di memorinya, ia berdecih tak habis pikir dengan pola pikir adiknya sendiri.

"Kenapa pesimis sekali, sih."

"Loh, baru tahu?"

Dahi Yoongi mengerut saat ia membuka isi percakapan Lili dengannya.

Disana tertera dengan jelas Lili mengirimnya sebuah pesan suara, tapi tidak pernah terkirim dan Yoongi tidak pernah menerimanya. Besar kemungkinan memang tidak terkirim, atau Lili tidak pernah berpikir untuk mengirimnya. Tanpa pikir panjang lagi Yoongi membuka isi dari pesan suara itu.

“Kak Yoongi, ini Lili…”

Yoongi merasa air matanya akan jatuh, ini adalah suara yang selama seminggu ini tidak pernah Yoongi dengar. Mungkin dulu Yoongi terbiasa hidup tanpa suara Lili karena terbatasnya jarak mereka. Dulu ia bisa menjalani hidup tanpa beban karena ia tahu, Lili masih ada di seberang sana. Mereka hanya terpisah jarak. Tapi kini Yoongi tidak bisa jika tidak menangis. Selain pesan suara ini Yoongi mungkin tidak bisa mendengar suara Lili dimanapun.

Bahkan saat ia ingin menelfon Lili dan berbicara dengannya hingga mulutnya berbusa, Yoongi tidak akan bisa. Bahkan ketika ia ingin melihat wajah Lili secara langsung, Yoongi tahu itu tidak akan mungkin.

Karena tepat seminggu yang lalu, di hari ulang tahun Lili yang ketujuh belas, di malam hari saat ia mengirim chat ucapan selamat ulang tahun untuk Lili, disaat itu Lili memilih untuk menyerah, ia memilih untuk bermimpi selamanya, ia akhirnya bisa menutup mata dan tertidur tanpa harus terbangun di tengah malam karena bermimpi buruk.

 

 

 

Selamanya.

 

 

 

Lili, adiknya yang pendek, bodoh, eksentrik, gemuk seperti babi, berisik, dan jauh lebih putih darinya itu, menggantung dirinya sendiri.

 

 

Mati karena lelah dan tercekik tali.

 

 

“…jangan marahi aku, kumohon, aku hanya tidak tahu harus berbuat apapun lagi, aku lelah. Aku harus berpikir positif dan mencintai apapun yang terjadi, tapi…” suara decihan dan isakan tangis terdengar dari sana. “Bahkan kata ‘mencintai’ terdengar sangat menjijikkan bagiku. Aku ragu apakah aku harus mencintai Tuhan yang membuat garis hidupku seperti ini atau membencinya karena telah merenggut semuanya dariku, jadi kupikir bisa saja akan lebih baik jika aku mati lalu menanyakannya langsung pada Tuhan. Apa mau Dia dariku, kenapa Dia melakukan ini padaku. Lagipula, aku rindu ayah dan ibu. Kak Yoongi, jangan khawatir, aku akan baik baik saja setelah ini. Aku bisa kembali bermimpi, aku bisa kembali tertidur setelah sekian lama aku terjaga di tengah malam dengan fisik dan mental didera lelah tak berujung.”

Nafas Lili terdengar tersendat-sendat namun ia berusaha terus mengucap sepatah dua kata lagi. “Setelah semuanya selesai, aku tidak akan kembali. Dan seharusnya kau beruntung, aku tidak akan meminta uang lagi padamu, kan? Aku tidak akan merepotkan siapapun lagi, entah itu kakak atau ibu Kim, hehehe.”

Yoongi terisak hebat, tapi pesan suara itu belum terhenti. “Kau pasti sebal karena aku tidak mengatakan hal ini sebelumnya, kau terlalu sibuk, aku tidak bisa mengganggumu seenaknya saja. Seperti yang kau bilang begitu ibu meninggal, apa yang ada di hidup kita telah berubah. Aku bisa menerimanya, hanya saja...” Lili menghela nafas, hening beberapa saat sebelum isakan Lili terdengar lebih kencang, “hanya saja aku tidak tahan dengan dunia ini kak. Aku lelah, aku benar – benar lelah. Terimakasih sudah terlahir sebagai kakakku. Maaf aku tidak pernah mengatakan kata ini secara langsung, tapi kuyakin tanpa kuberitahupun, kau tahu kalau aku mencintaimu, kan? Aku sayang sekali pada kak Yoongi, sampai jumpa lagi kak.”

Yoongi merasa dunianya hancur begitu saja. Dia menjerit tanpa suara sambil menarik nafasnya perlahan agar tidak terdengar isakan. Yoongi terus menerus menangis hingga tubuhnya terlalu lemah untuk sekadar duduk.

 

 

Ia membaringkan tubuhnya di kasur, isakannya telah berhenti, nafasnya sudah sedikit teratur. Namun matanya semakin berat untuk dibuka, hingga akhirnya Yoongi terlelap.

 

 

 

 

 

 

 

Gelap. Yoongi tertidur di kamar adiknya yang mati gantung diri.