Actions

Work Header

Dua Sisi Koin

Summary:

Sejun menggantungkan harapannya untuk berbicara dengan Seungsik pada sekeping koin; tetapi tidak hari ini.

Notes:

Written as an entry for New World Fic Fest, based on prompt NW025: hogwarts!au where Slytherin 4th year Sejun annoys Hufflepuff prefect, Kang Seungsik, on purpose by staying out past curfew so they can meet at the Astronomy Tower.

Thank you so much for the prompt, semoga suka ya!

Work Text:

"Kepala atau ekor?"

Yang ditanya cuma bisa memutar mata. 

Pertanyaan itu lagi.

Chan menghela nafas pelan sebelum menjawab, "Ekor."

Dengar ini, Sejun langsung meraih koin emas dari saku jubahnya lalu memejamkan mata untuk memanjatkan doa. 

Belum kelar doanya, udah ditoyor kepalanya.

"Lebay lo," kata Chan. "Buruan orangnya keburu pergi."

Oke. Nggak jadi doa.

Yang lebih muda itu kembali membuka matanya, arah pandangnya mencari sosok seorang pria berseragam Hufflepuff sebelum mengembalikan atensinya kepada kakak tingkat asramanya. "Yakin ekor?" tanya Sejun.

"Lama lo." Chan mencoba meraih koin di tangan yang lebih muda, tapi langsung ditepis tangannya. "Lagian tinggal nyapa aja pake segala lempar koin dulu."

Sejun mengangkat satu jarinya ke bibir, mengisyaratkan kakak tingkatnya itu untuk diam. Terus dia lempar deh koin di tangannya, berharap bakal lihat sisi ekor dari koinnya.

Tapi ternyata…

Kepala.

Sejun udah siap mau ngerengek, mau narik dasi Chan soalnya dia yang pilih ekor tadi. Terus Chan, yang udah hafal banget bahaya yang menanti, langsung bangun dari kursi.

Mereka lagi di great hall. Bukan jam makan, lagi santai-santai aja. Kumpul sama anggota tim Quidditch Slytherin sambil main catur, sekalian ngomongin strategi biar bisa menang di pertandingan antar-asrama nanti.

Terus pas lihat Seungsik—prefect Hufflepuff tahun kelima, Sejun langsung mulai dengan taruhan bodohnya. 

Di awal tahun ajaran ini dia bikin aturan buat dirinya sendiri. Cuma boleh ngobrol sama Seungsik kalau koin yang dia lempar sesuai sama prediksi siapapun yang ada di sampingnya. Seringnya korban pas kayak gini sih, Chan.

Aneh banget emang aturannya. Tapi ya gimana, namanya juga Im Sejun.

Terus kalau prediksinya Chan salah, Sejun bakal bete. Soalnya kalau salah, itu berarti dia nggak boleh ngobrol sama Seungsik.

Kayak sekarang ini.

Tapi kayaknya, Chan hari ini lagi nggak pengen kena amuk. Dia ngehindar cepet banget, sekarang udah ngumpet di belakang teman asramanya yang lain; yang udah paham juga tingkahnya Sejun.

"Woy, Kang Seungsik!"

Suara kapten quidditch Slytherin. Kang Dongho. Kenceng bener.

Yang dipanggil tentu aja nengok. Tapi yang manggil bukannya ngomong malah nunjuk ke arah Sejun pake dagu. Terus pas Seungsik ngalihin pandangannya ke Sejun, Sejun langsung diem.

Aturan tetap aturan.

Nggak peduli seberapa ganteng Seungsik hari itu, Sejun buang muka. 

Karna menurut koinnya hari itu, mereka nggak boleh ngobrol.

Mungkin lain kali.

Jadi, besoknya pas dia lihat Seungsik di koridor pas jam pergantian kelas, dia langsung nepuk pundak orang yang ada di sampingnya. Padahal kenal aja enggak. Tapi langsung nanya, "Kepala atau ekor?"

Yang ditanya tentu bingung. "Hah?"

"Jawab aja," kata Sejun, ngeluarin koin dari saku jubahnya terus diangkat sedikit biar orang itu nangkep maksudnya. "Kepala atau ekor?"

"Ekor."

Denger ini, Sejun sedikit mengernyitkan dahi. Tapi dia coba aja, lempar koin. Terus refleks lompat kesenengan pas lihat sisi ekor dari koin itu. Tangannya dia kepal, ditaruh dekat dada. 

Hari ini boleh ngobrol sama Seungsik!

Dia tepuk-tepuk pundak cowok yang nggak dia kenal itu—dari tampangnya sih, kayaknya murid tahun keempat. Sama kayak dia. Dasinya warna biru, anak Ravenclaw. 

"Makasih," kata Sejun, nepuk pundak orang itu sekali lagi sebelum balik badan untuk pergi. 

Ngejar Seungsik, tentunya.

Terus pas udah kekejar, yang keluar dari mulutnya adalah; "Kak Seungsik!"

Seungsik bahkan belum sempet jawab, udah ngacir pergi bocahnya.

Sambil megangin dada, tentu aja. Nggak karuan soalnya jantungnya.

Iya, udah. Gitu doang ngobrol -nya.

Selalu begitu.

Tapi kali ini, langkahnya ditahan.

Ada yang nyengkram pergelangan tangannya. Dan tanpa balik badan, dia kayaknya tau ini siapa.

“Bisa berhenti nggak?”

Tuh, kan. Bener. Suara Seungsik.

Sejun menarik nafas dalam sebelum akhirnya memutar tubuh menghadap yang lebih tua. Kepalanya sedikit ia telengkan, pura-pura bingung. “Berhenti apa?” tanya Sejun.

Seungsik nggak jawab, malah ngelihatin tangan Sejun yang nggak dia pegang. Sejun ngikutin arah pandangnya sebelum ngalihin pandangan balik ke Seungsik. “Berhenti apa?” tanya Sejun lagi.

“Taruhannya,” jawab Seungsik, mencoba meraih koin di genggaman Sejun. Dia yakin banget cowok Slytherin itu megang koin. “Siniin koinnya.”

“Taruhan apaan.” Sejun langsung ngehindar—tapi dia lupa tangannya yang satu lagi masih dicengkram Seungsik. Lupa juga kalau yang lebih tua itu jelas mampu untuk nahan dia biar nggak pergi. 

Badannya terhuyung sedikit pas Seungsik narik dia mendekat, bingung sendiri sampai nggak bisa ngelak pas koin jimatnya itu dirampas dari kepalan tangannya.

“Lo kira gue nggak sadar?” Seungsik mengangkat koin yang sekarang ada di genggamannya. Menghela nafas pelan sebelum melepaskan tangan Sejun terus bilang, “Gue nggak tau lo sama temen-temen lo ada taruhan macem apa, tapi nggak usah bawa-bawa gue. Ganggu, tau nggak?”

Dan kali ini, Seungsik yang pergi. Sebelum Sejun bahkan sempat memberi eksplanasi.

Semenjak hari itu, Sejun nggak main koin lagi.

Dia sering nggak sengaja ketemu pandang sama Seungsik pas mereka lagi ada di ruangan yang sama. Atau lebih tepatnya, nggak sengaja mergokin Seungsik yang lagi ngelihat ke arah dia. 

Temen-temennya pada bilang itu mungkin tanda kalau Seungsik, juga, punya hati yang sama; dan Sejun nggak perlu lagi menggantungkan harapan pada koin yang tua. 

Tapi tiap perutnya disikut sama Chan pas Seungsik lewat, atau pas Seungsik lagi merhatiin dia dari kejauhan, Sejun cuma bisa mendengus pelan lalu menggelengkan kepala.

Nggak ada koin-koinan lagi.

“Lo yakin mau lepasin begitu aja?”

Kali ini Sooil yang turun tangan. Chaser andalan Slytherin itu biasanya nggak peduli urusan percintaan. Jadi pas dia nanya begini, Sejun langsung duduk tegap. “Lepasin apa?”

Sooil ngelihat ke arah Sejun pake tatapan yang seakan bilang; lo seriusan?

Sejun berdeham. Takut, dikit. “Dapet aja enggak,” katanya, terkekeh pelan. “Apanya yang dilepasin?”

Tatapan itu belum berubah.

Jadi Sejun menghela nafas. Terus akhirnya bilang, “Katanya gue ganggu.”

“Ya lagian lo deketinnya kayak bocah belom puber,” Chan nimbrung. Yang lebih tua itu mengetuk kepala Sejun pelan. “Coba mikir.”

Sooil ngangguk setuju. “Belom pernah ngobrol langsung kan?”

Sejun tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya menggelengkan kepala. “Sebelum koin gue dicolong? Belom,” jawabnya. 

“Lo terima koin lo dicolong?” kali ini suara si kapten. 

Mereka abis latihan quidditch tadi, sekarang lagi di ruang ganti. Sejun lagi duduk ngadem dulu soalnya keringetan.

“Kalo terima, siniin tongkat lo,” Dongho yang lagi telanjang dada itu berjalan mendekat, mau ngambil tongkat quidditchnya. Aset yang dia pegang untuk posisinya di tim— beater

Sejun langsung ngumpetin stik panjangnya itu di belakang punggung, satu tangan nahan Dongho biar nggak mendekat. “Mau diapain?”

“Mau gua kasih orang lain soalnya lu cupu,” jawab yang lebih tua

Sooil, ngelihat interaksi mereka, cuma terkekeh pelan. Terus Chan ikut nimbrung, “Gantiin aja. Cari yang udah gede tapi, ini masih kecil.”

Oh. Denger ini dia langsung kesulut.

Sejun itu yang paling muda di tim, ini biasanya jadi kebanggaan sendiri. Karna masuk tim itu jelas nggak gampang, dan dia anak tahun keempat.. Sendiri! Di tim! Mana terima dia didepak cuma karna.. Beginian?

“Gue udah gede!” kata Sejun, bangun dari posisi duduknya. Dia angkat tongkat kebanggaannya itu. Bilang, “Gue nggak cupu.”

“Oh ya?” Dongho melirik ke arah anggota tim yang lain, sengaja banget provokasinya. Tapi Sejun udah kepancing. Jadi dia lanjutin, “Buktiin coba.”

“Nanti malem.” Tongkat yang dia pegang itu akhirnya diturunin. Ekspresinya serius pas bilang, “Liat aja nanti malem.”

Respon kakak-kakak setimnya itu cuma ketawa, Dongho juga malah gelengin kepala sambil ngacak rambut Sejun. Langsung ditepis tentu tangannya, udah kesel duluan soalnya. Ketawa mereka tambah kenceng pas Sejun ngehentakkin kaki terus keluar dari ruang ganti.

Sejun nggak punya rencana harus gimana tapi yang dia tau jelas, hari itu juga dia harus bisa ngerebut koinnya dari Seungsik.

Salah satu tugas prefect—tugas Seungsik, itu patroli malam. Jadi rencana pertama yang bisa Sejun pikirkan; keliaran lewat dari jam malam. 

Terus muncul pertanyaan kedua, dimana?

Kalau Sejun nggak hoki, dia bisa aja ketemunya sama prefect yang lain. Kalau ketemu sama prefect yang lain, poin asramanya bisa berkurang. Kan nggak asik. 

Tapi nggak apa, yang penting nekat aja dulu.

Malam itu dia cosplay jadi ninja. Ngumpet di belakang pilar, jalan ngendap-ngendap, waspada penuh takut ketahuan. Terus pas matanya akhirnya nemuin Seungsik di salah satu koridor, dia baru sadar.

Pasangan patroli Seungsik.. Itu Hayoung, teman dekatnya Naeun si seeker Slytherin. Dia langsung nepuk jidat. Harusnya kalau dia sadar dari awal, dia bisa koordinasi kejahatan. Tapi terlambat, jadi yaudah. Dia ngikutin aja itu Hayoung sama Seungsik pelan-pelan dari belakang.

Kedua prefect itu ngelewatin tangga yang menuju ke menara astronomi. Nggak dicek. Terus lihat ini, Sejun langsung dapet ide. Dia lari ke tangga, sengaja berisik langkahnya. Terus sebelum naik, dia ngintip dulu ke belakang.

Seungsik lagi ngelihat ke arah dia. Tatapan mereka ketemu dan Sejun berani sumpah, dia bisa lihat Seungsik ngernyitin dahi. Tau kalau yang lebih tua sadar kalau itu Sejun, dia langsung lari naik ke menara astronomi. Berharap diikutin.

Bener aja.

Sejun lagi senderan di kusen jendela sambil ngatur nafas begitu Seungsik melangkahkan kaki ke ruang kelas astronomi. Sejun langsung nyengir, ngangkat satu tangan untuk nyapa yang lebih tua.

Tapi Seungsik nggak nyapa balik.

“Lima belas poin dari Slytherin,” ucap Seungsik, menghampiri Sejun dan berhenti tepat di hadapannya. “Taruhan apa lagi kali ini?”

Alih-alih menjawab, Sejun malah membalikkan badan. Kedua tangannya berpegangan pada kusen jendela. Bilang, “Indah ya langitnya malam ini?”

Dia bisa dengar Seungsik menghela nafas. Tapi nggak lama kemudian, yang lebih tua itu ngikutin posisinya—berdiri di samping Sejun sambil ikutan ngelihat langit. 

Mereka nggak ada yang ngomong, diem-dieman aja cukup lama sampai akhirnya Seungsik yang buka suara, “Kenapa gue?”

Denger ini, Sejun akhirnya ngalihin pandangannya ke arah Seungsik. “Apanya?”

Tatapan Seungsik masih terpaku pada langit malam, cahaya dari luar membuat wajahnya terlihat lebih.. Nggak bisa digapai.

Ini pertama kalinya Sejun berada sedekat ini dengan Seungsik. Pertama kalinya dia bisa lihat Seungsik sejelas ini. Tapi rasanya malah tambah jauh.

Dia ngehela nafas pelan. Masa bodoh deh sama koin, biarin aja dia abis diejek sama teman-teman timnya nanti. Dekat begini, dia sadar Seungsik sama dia terlalu beda; egois kalau Sejun tetap maksa.

Dia perlahan ngejauhin badannya dari jendela. Tapi pada saat yang sama, Seungsik ngarahin tatapannya langsung ke mata Sejun. Nanya, “Kenapa jadiin gue bahan taruhan?”

Niat Sejun untuk pergi langsung hilang.

“Gue nggak jadiin lo bahan taruhan,” jawab Sejun.

“Terus ini apa?” 

Sejun nggak bisa jawab. Bingung mau mulai darimana.

Dia cuma bisa ngelihatin pas Seungsik ngeraih ke saku jubahnya, ngeluarin koin yang terlampau familiar. “Ini apa?” tanya Seungsik lagi, mengangkat koin tadi. “Ini apa kalau bukan taruhan?”

Sejun mengernyitkan dahi. Bergumam pelan, “Iya, ya.. Itu taruhan..”

Raut wajah Seungsik kelihatan kecewa, tapi Sejun langsung ngambil koin di tangan Seungsik. “Ini koin,” kata Sejun. Langsung menggelengkan kepala begitu Seungsik ngelihatin dia seakan bilang dia bukan orang bodoh yang perlu dikasih tau kalau itu koin. “Maksud gue, kita ini koin.”

Sebelum Seungsik bahkan bisa ngomong, Sejun udah nyela. “Kita kayak koin,” ralatnya.

Seungsik memberi isyarat pada Sejun untuk melanjutkan.

Yang lebih muda itu nggak buang-buang waktu. Dia langsung taruh koinnya di telapak tangannya yang terbuka, ngasih lihat bagian kepala dari koin itu. “Ini lo, kak. Kepala,” katanya, sebelum membalik koinnya terus bilang, “Ini gue. Ekor.”

“Mau gimana juga, kita ada di dua sisi yang beda.” Sejun ngelihat ke arah koinnya dengan tatapan sedih. “Nggak bakal bisa ketemu.”

Ngomong begini, rasanya aneh. Baru sekali dia ngomong begini ke orang lain. Ke Chan aja nggak berani, takut diketawain. Tapi abis jelasin gini ke Seungsik, dia ngerasa bego.

“Aneh banget ya?” Sejun ngangkat mukanya untuk natap Seungsik. “Gue juga nggak tau kenapa kepikiran koin tapi ya gitu.”

Dia nungguin, udah nyiapin mental kalau Seungsik bakal ketawa. Tapi Seungsik nggak ketawa; dan Sejun belum nyiapin mental untuk yang.. Ini. Seungsik nggak ketawa. Dia malah ngeraih koin di tangan Sejun, dibalikkin jadi sisi kepala koinnya yang kelihatan. Terus nanya, “Kenapa gue dapet bagian kepala naga?”

Sejun, nggak ada persiapan jawaban, langsung jawab sama satu yang kepikiran, “Karna lo pinter?”

Terus Seungsik baru ketawa. 

Dan Sejun sadar kalau dia juga belum siap lihat Seungsik ketawa.

“Gue masih belum ngerti,” ucap Seungsik.

Tapi Sejun mana bisa jawab. Matanya terpaku di wajah Seungsik, masih kagum. Dia baru ngalihin pandangan begitu Seungsik berdeham.

“Memangnya kita sebeda itu sampe nggak bisa ketemu?” tanya Seungsik. Anggukan kecil dari Sejun bikin dia nanya lagi, “Coba kasih contoh gimana bedanya?”

“Ya.. beda.” Sejun menelengkan kepala, tampak berpikir sejenak sebelum nanya, “Lo abis lulus mau jadi apa?”

“Healer,” jawab Seungsik, nggak pake mikir.

“Tuh,” gumam Sejun. “Gue masih belom tau mau ngapain.”

“Udah gitu doang bedanya?”

Sejun mengedikkan bahu. “Segitu dulu.”

Terus, udah. Diem-dieman. Seungsik balik ngelihat langit malam, Sejun juga ikutan.

“Cocok deh tapi,” ucap Sejun memecah keheningan.

“Cocok?” tanya Seungsik.

“Jadi healer .” Sejun melirik ke arah pria di sampingnya. Bilang, “Lo keliatan kayak orang yang bakal cuci tangan abis mandi.”

Seungsik bingung banget. Dia ngelihatin Sejun, lama diem ngelihatin doang. Sebelum akhirnya nanya, “Itu pujian?”

Sejun cuma nyengir.

Terus lihat ini, Seungsik baru ketawa. Lucu juga soalnya kalau dipikir-pikir. Nggak sadar, tangannya diangkat untuk ngusak rambut Sejun—bikin yang lebih muda itu sedikit terkesiap kaget.

“Aneh-aneh aja,” kata Seungsik, narik tangannya menjauh. “Jadi itu alasannya pake koin?”

Sejun ngalihin pandangannya ke koin yang masih dia genggam. Ngangguk kecil terus bilang, “Ngobrol sama kakak jadi kayak hadiah.”

Seungsik cuma bisa gelengin kepala. Bingung mau ngomong apa, mau minta dijelasin lebih juga bingung. Tapi Sejun lucu. Seungsik bisa lihat jelas telinganya yang memerah, nahan malu.

Takut yang lebih muda itu bakal kabur kalau dia nanya lebih, Seungsik ngambil koin dari tangannya. “Kenapa lihatnya nggak gini aja?”

“Sisi ini,” lanjutnya, ngasih lihat bagian kepala dari koin sebelum dibalik jadi sisi ekor. “Nggak bakal berguna tanpa sisi ini.”

Dia nyoba masuk pake logikanya Sejun, tapi abis ngomong gitu jadi malu juga. Jujur. 

“Galleon ini.” Seungsik berdeham pelan sebelum melanjutkan, “Kan mata uang yang sah. Kalau satu sisinya nggak ada, ya berarti nggak sah.”

Sejun diem. Kelihatan bingung sama yang barusan dia denger. 

“Gini maksud-”

Seungsik baru mau lanjut jelasin, tapi udah dipotong duluan.

“Jadi kita sah?

Refleks dia noyor Sejun di jidat.

“Dua puluh poin dari Slytherin,” kata Seungsik, sambil batuk-batuk terus berjalan menjauh dari Sejun. 

“Tadi kan udah potong poin?!” protes yang lebih muda, bingung.

Seungsik bahkan nggak balik badan pas ngomong, “Potongan ekstra karna udah bikin jantung gue nggak karuan.”

Terus pergi. Ninggalin Sejun sendiri.

Koinnya masih ada di tangan Seungsik, tapi apa peduli Sejun. 

Dia tau dia udah nggak butuh koin itu lagi untuk ngobrol sama Seungsik di esok hari.