Work Text:
let this colors burst,
like a firework
A MuiNezu Fanfiction by pappilon de lune
Dedicated to Bambul
Disclaimer: Kimetsu no Yaiba © Koyoharu Gotouge
Pendar-pendar cahaya malam ini mencuri hati Nezuko. Rasa bungah membuat kedua bola matanya tidak bisa berhenti bergerak mencari objek yang menarik. Bisik-bisik para pejalan kaki tidak membuat semangat Nezuko luruh. Barangkali karena sudah lama tidak melihat sesuatu yang semeriah ini atau terlalu lama tinggal di dalam kotak sempit, membuat Nezuko tanpa sadar tercengang di tengah hiruk pikuk festival musim panas.
"Apa kau senang berada di sini?" tanya Tanjiro—kakak laki-lakinya—yang terdengar seperti dersik karena suaranya tertelan kegaduhan.
Nezuko tidak menjawab. Ia hanya mengangguk penuh antusias. Tanjiro yang melirik dari sudut mata pun turut mengangguk karena memaklumi sikap adik perempuannya. Bahkan ia sempat menahan tawa saat melihat rahang mulut Nezuko yang hampir melorot. Menampilkan kedua taring yang terkadang terlihat menakutkan jika diperhatikan dengan saksama.
"Sepertinya kau cukup senang." Tanjiro menarik tangan kiri Nezuko dan dengan lembut mengelus punggung tangannya. "Syukurlah, Nezuko. Kakak harap ini bisa menjadi hadiah untukmu setelah melalui hari yang sangat panjang melawan para iblis." Keduanya pun tersenyum lebar. Kemudian melanjutkan perjalanan melewati berbagai stan makanan dan permainan yang tersaji di dalam festival.
Pedagang makanan dan penjaga stan permainan berlomba-lomba mencari dan mencuri perhatian setiap pengunjung yang lewat. Aroma cumi dan belut bakar menyelinap ke dalam rongga hidung. Pun aroma manis permen kapas membuat kita seolah pulas tertidur di atas awan merah jambu. Di ujung jalan tempat mereka menyusuri festival, ada sebuah kedai yang tidak begitu ramai dikunjungi. Nezuko tertarik untuk menghampirinya dan mencoba mencari tahu apa yang dijual di sana.
Aroma arak dan buah-buahan menyambut Nezuko seperti seorang tamu. Tanjiro ikut tercengang berada di balik punggungnya. Indra penciuman Tanjiro yang terlalu peka itu bisa merasakan keberadaan buah prem musim panas dan membawanya bernostalgia ke waktu lampau. Teringat di setiap musim panas tiba, ayah dan ibunya akan menyuruh Nezuko dan Tanjiro untuk memanen buah prem hijau yang akan diolah menjadi arak. Mereka belum diperbolehkan minum hingga usia balig tiba. Namun saat bersama Urokodaki-san, Tanjiro diizinkan untuk minum sake buah prem usai berlatih keras di dalam hutan. Arak ini memang sangat disukai banyak orang dan dijadikan teman saat musim panas. Tidak terkecuali kakak laki-lakinya.
Ia kemudian menarik haori kotak-kotak Tanjiro dan memberi maksud agar membelinya. Tentu saja, Nezuko tidak bisa mencicipi makanan atau minuman yang dibuat oleh manusia. Apalagi menemani kakaknya minum arak. Lagipula Tanjiro pun pasti tidak akan mengizinkan, meskipun Nezuko tetap menjadi manusia. Seteguk saja, barangkali bisa mengobati kerinduan dengan orang tercinta. Dari balik sinar remang-remang cahaya kuning obor di sudut ruangan itu, terlihat percikan merah jambu di kedua pipi Tanjiro. Nezuko pun menampilkan deretan giginya yang putih bersih saat kedua mata mereka saling bertemu.
Bersamaan dengan momen hangat yang menyapa mereka, muncul satu orang asing menepuk bahu Tanjiro. Nezuko ikut menoleh dan melihat seorang pria paruh baya yang tampak kebingungan mencari sesuatu. Aroma yang menguar memberi kesimpulan jika pria tersebut bukanlah seorang iblis. Nezuko dan Tanjiro percaya ia adalah manusia biasa yang memang butuh pertolongan.
"Nak, apa kau tahu di mana aku bisa membeli cermin untuk hadiah ulang tahun putriku?" ucapnya kepada Tanjiro. "Mataku tidak bisa melihat dengan jelas di malam hari. Bisakah kalian membantuku?"
Tanjiro mengurungkan niatnya untuk membeli sebotol arak dan memberi perhatian kepada orang asing tersebut. Ia mengobrol dengan sopan dan menuntunnya pergi ke satu tempat yang Tanjiro ingat menjual cermin dan perhiasan. Mereka berjalan beriringan dan terlihat asyik mengobrol seperti sudah saling mengenal sebelumnya. Barangkali, karena rindu yang membuncah serta penampilan yang mendukung pria paruh baya itu—mirip dengan ayahnya—membuat Tanjiro tidak kuasa menahan untuk mengakrabkan diri. Dan dari balik punggung keduanya, Nezuko tersenyum secerah sinar rembulan malam ini. Hatinya turut menghangat bisa melihat Tanjiro berjalan seperti tanpa beban. Nezuko refleks memandangi langit hitam di atas sana, memperhatikan triliunan bintang yang berkedip-kedip lucu, dan membuat hatinya berkata: Ada banyak keindahan yang terkadang dilupakan karena tragedi panjang ini. Aku mulai menyukai langit malam.
Di dalam gelombang manusia yang memadati area festival, Nezuko kehilangan jejak Tanjiro dan pria asing itu. Rasa khawatir beserta panik karena tidak terbiasa terpisah dengan kakaknya membayangi pikiran Nezuko di antara hiruk-pikuk ratusan pengunjung. Ia menoleh dan mengamati sekeliling. Tidak ada aroma Tanjiro di mana-mana. Bukan, bukan karena dibawa oleh iblis. Barangkali mereka asyik berbincang-bincang hingga tidak menyadari langkahnya yang terlalu cepat. Namun, pria paruh baya itu tidak mungkin bisa berjalan dengan cepat. Artinya Nezuko terlalu lamban atau fokus memperhatikan stan hiburan yang berjejer, sehingga tertinggal dari langkah Tanjiro.
Nezuko mengerang kecil saat memutuskan untuk berhenti sejenak. Sesekali, ia juga menghentakkan kaki sambil memperhatikan sekeliling. Lagi dan lagi. Beberapa bulir keringat turun dari dahi. Membuat Nezuko tidak segan mengelapnya dengan kimono warna merah jambu yang membalut tubuh kurus itu. Ia sedikit frutrasi karena belum juga mengetahui keberadaan Tanjiro. Dengan putus asa, Nezuko memilih untuk berjalan ke sebuah tanah lapang, hingga tanpa sengaja melihat seseorang berdiri memakai topeng yang mirip seperti Urokodachi-san. Kedua mata Nezuko melebar dan berkilauan. Barangkali, ia bisa bertemu dengan Tanjiro. Pun orang yang melatih sang kakak. Kemudian, ia segera berlari menuju ke arah orang itu disertai dengan rasa bahagia yang meluap.
Saat tangan kanannya menepuk bahu seseorang—yang ia duga Urokodachi-san—kedua pupil mata Nezuko mengecil dan bibirnya gagal menciptakan senyuman. Ekspresi kecewa karena ia salah mengenali orang membuat Nezuko digerayangi jutaan perasaan sedih. Ia tersesat dan hanya bisa menampilkan wajah muram di pinggir lapangan dan diterangi cahaya samar sang rembulan.
Satu burung gagak hinggap di ranting pohon pinus tidak jauh dari Nezuko berdiri. Kedua matanya bergerak seolah mencari mangsa. Namun, ia bukan gagak pemangsa. Adalah gagak yang bekerja untuk mencari dan menyebarkan informasi. Tidak perlu takut saat bersua dengannya. Karena ia pada dasarnya adalah sahabat atau rekan seorang Pemburu Iblis. Gagak itu mengepakkan sayap hitam pekat miliknya dengan angkuh. Kemudian menggerakkan kaki kecilnya dengan lincah, sebelum terbang menuju tempat seseorang yang berada di seberang lapangan.
Muichiro sedang melakukan penyelidikan, saat festival musim panas itu diadakan. Ia bersembunyi di Kuil Yasukuni bersama Shinazugawa—seniornya sesama Hashira—yang dipimpin oleh Oyakata-sama. Kuil Yasukuni berada di seberang lapangan yang beberapa jam lagi akan menjadi tempat pementasan kembang api. Sebagian pengunjung mulai memenuhi tempat itu. Beberapa ada yang menggelar kain bersih sebagai alas tempat duduk di atas tanah kering. Sebagian lainnya masih ada yang memilih menjelajahi aneka stan yang berjejer rapi. Dan hanya beberapa saja yang mendatangi kuil untuk melakukan ritual berdoa dan mempertaruhkan nasib melalui ramalan. Semua aktivitas malam ini tampak sangat normal.
Samar-samar, Muichiro bisa mendengar seniornya mendecih dan mendesis hampir sepanjang waktu mereka bersama. Barangkali, itu adalah sebuah tanda atas ketidaknyamanan karena (khawatir) belum juga menemukan sesuatu yang mereka butuhkan. Informasi penting, Iblis, dan Muzan. Selama hampir tiga jam tidak ada yang bisa mereka jadikan bahan laporan untuk diserahkan kepada Oyakata-sama. Dengan perasaan gusar, Shinazugawa mengacak rambutnya dengan sedikit erangan. Sedangkan Muichiro hanya terlongong-longong memperhatikan laki-laki berambut perak itu.
[Malam. Hitam. Pekat. Seperti. Bulu. Burung. Gagak]
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir tipis Muichiro. Sedetik, setelah Shinazugawa pamit untuk berkeliling sekali lagi di halaman belakang Kuil Yasukuni. Ia hanya mengangguk dan melihat punggung Shinazugawa yang menghilang di tikungan. Di dalam hati, ia berkata: Apa dia tidak nyaman pergi misi bersamaku? Muichiro tampak berusaha berpikir keras sambil memilih menatap langit berhiaskan bintang-bintang.
Ia bisa merasakan terpaan angin yang menggerakkan anak-anak rambutnya. Muichiro masih berdiri di sisi barat Kuil Yasukuni, menunggu Shinazugawa, dan membicarakan kembali mengenai kelanjutan misi ini. Selang beberapa menit, Shinazugawa tiba membawa dua tusuk takoyaki dengan ekspresi yang sedikit membingungkan. Muichiro terlihat mengerutkan dahi.
"Di dekat sana ada yang berjualan takoyaki. Aku pikir, kau pasti lapar," katanya sembari menggosok tengkuk dengan tangan kiri. "Oi! Cepat ambil!" perintah Shinazugawa tidak sabaran. Kemudian, ia memaksa Muichiro untuk mengambil satu tusuk takoyaki dan bersandar di salah satu pohon sugi.
Saat pikiran Muichiro sedang mencerna tingkah aneh seniornya, serta takoyaki di tangan kanan, seekor burung gagak bernama Ginko tiba-tiba hinggap di bahunya tanpa merasa sungkan. Ia mengepak sayap beberapa kali. Mencengkeram dengan sangat kuat. Kemudian menggerakkan kepalanya, melirik Muichiro, dan menguar-uarkan sesuatu dengan lantang.
"Nezuko! Nezuko! Dia ada di dalam festival sendirian!"
Muichiro hanya tercengang mendengar informasi itu, sedangkan Shinazugawa berdecak kesal. Ia juga menggerutu: Di mana Kamado Tanjiro? Kenapa adiknya ditinggal sendirian?
"Nezuko sendirian di tengah festival! Nezuko! Nezuko!"
Burung gagak dengan bulu mata lentik itu, tidak mau berhenti diam di bahu Muichiro. Mulut dan kakinya seolah memberi perintah untuk bergegas. Namun keduanya masih bergeming karena berpikir: Apakah menolong Nezuko termasuk misi malam ini? Kedua mata keduanya saling memandang. Lagi dan lagi, Shinazugawa berdecak sembari menendang kerikil dengan ujung sandalnya.
"Aku tidak mengerti, kenapa si Keras Kepala itu meninggalkan adik perempuannya di tengah keramaian begitu saja." Karbon dioksida meluncur dari mulutnya dalam satu kali hentakan kasar. "Apa dia tidak berpikir bahwa itu tindakan berbahaya? Bagaimana jika Nezuko berubah menjadi iblis dan menyerang para pengunjung? Orang itu benar-benar bodoh sekali."
Muichiro tidak banyak berkomentar. Ia menunggu keputusan dari seniornya yang terlihat sedang berpikir keras. Namun burung gagak di bahunya tidak juga berhenti berteriak. Terkesan tidak sabaran yang seolah menggambarkan situasi darurat.
"Bergegaslah!" Akhirnya, ia memutuskan. "Aku pikir, salah satu dari kita harus ada yang menolong adik si Keras Kepala itu. Kau tidak mungkin memintaku untuk menolongnya 'kan? Jadi, segera selesaikan dan kembali secepat mungkin. Aku akan meminta Kochou datang ke mari."
Setelah Shinazugawa memberinya perintah untuk pergi menyusul Nezuko, Muichiro segera bersiap-siap, dan meminta sang gagak memandunya ke lokasi. Namun sebelum pergi, ia menghabiskan takoyaki dengan cepat dan mengucapkan terima kasih kepada Shinazugawa. Seniornya itu hanya membalas dengan gerutuan-gerutuan kecil, seperti: Ya, ampun! Kenapa aku harus berurusan dengan bocah itu lagi. Apa si Keras Kepala itu tidak khawatir? Bagaimana kalau terjadi sesuatu dalam keadaan sendirian begitu?
Gerutuan dari mulut Shinazugawa terdengar sangat pelan melebihi tiupan angin lembut yang menerbangkan anak rambut Muichiro. Barangkali ia tengah khawatir, tetapi sengaja tidak menunjukkan perasaan itu karena sama sekali tidak terlihat keren.
Dari sisi timur lapangan, berjejer lima buah alat peluncur kembang api yang sudah dipersiapkan untuk acara malam ini. Selama sepuluh detik, Nezuko mengagumi apa yang ada di hadapannya itu. Ia membayangkan perca warna-warni memenuhi kerongkongan sang Dewa Langit dan membaginya kepada jiwa-jiwa yang kehausan di bawah kakinya. Anak-anak—baik perempuan maupun laki-laki—berseru penuh suka cita. Hati Nezuko menghangat. Jejak tawa mereka membawa sedikit memori ketika semua adik-adiknya masih hidup dan berkumpul bersama.
Satu kembang api diluncurkan untuk uji coba sebelum tengah malam tiba. Hati Nezuko sekali lagi seperti dicuri oleh keindahan pendar berwarna merah dan kuning yang meninggalkan bekas seperti anak sungai di atas awan legam. Membuatnya terkagum-kagum, hingga tanpa sadar melangkahkan kaki ke belakang, dan tubuhnya terhuyung di atas tanah kering. Nezuko hampir saja menjatuhkan diri jika tidak ada satu tangan besar menangkap lengan kirinya. Namun, ada firasat buruk saat ia menatap wajah orang yang menolongnya. Terlebih saat pria dengan janggut jarang-jarang itu mengatakan sesuatu yang membuat Nezuko ngeri, seperti: Kau tersesat, ya? Ayo, aku antar kau pulang! Kau manis sekali. Kenapa kau sendirian? Tidak usah takut! Paman ada di sini, Manis.
Nezuko menggertakkan giginya dan berusaha menjauhkan tangan kotor itu dari tubuhnya. Bau arak keluar dari mulut pria itu—yang Nezuko duga adalah seorang pemabuk. Terlihat dari wajahnya bahwa ia mempunyai niat yang buruk. Akan tetapi, tangannya enggan terlepas. Mereka berdua sempat saling tarik-menarik dan membuat Nezuko terjerembab.
Satu suara menginterupsi dengan tegas. Keduanya pun menoleh. Tepat di belakang Nezuko tampak Muichiro berdiri dengan tatapan kosong, tetapi terlihat mematikan. Dengan tenaga yang ia punya, Nezuko berdiri dan membersihkan sisa-sisa tanah yang mengotori kimononya. Barangkali, karena terlalu banyak menggunakan kekuatan untuk menyerang iblis dan minimnya waktu istirahat membuatnya melemah dan tumbang begitu saja.
"Singkirkan tangan kotormu itu, Paman!"
Pemabuk itu menggerutu dan menganggap kehadiran Muichiro sebagai penghalang urusannya. Sembari menarik sudut bibir dengan wajah mengejek, ia berjalan mendekati Muichiro, kemudian berkata, "Jangan ikut campur! Dasar Bocah Ingusan!"
Muichiro menendang sebelah kaki pemabuk tanpa ampun dan ragu. Teriakan dan makian menyapa telinga beberapa pengunjung yang lewat di sekitar mereka. Beberapa ada yang tertarik dan mulai mendekati lokasi kejadian. Sebagian memilih mengabaikan sembari berbisik-bisik tidak jelas. Hingga akhirnya—tanpa sengaja—kerumunan di sekitar Muichiro pun makin lama makin bertambah banyak.
"Aku ini seorang Pillar. Jangan remehkan aku!"
Sebelah tangan pemabuk itu menggapai satu batu besar dan langsung melemparkannya tepat ke arah kepala Muichiro. Untung saja ia dapat menghindar di waktu yang tepat, sehingga pemabuk itu merosot ke tanah. Hanya dengan satu kali pukulan di tengkuk yang sempat dihadiahi Muichiro, sebelum meninggalkan lingkaran manusia.
"Ayo, Nezuko-san! Kita cari Tanji—" Muichiro merasakan pegangannya mengendur. Ia menoleh dan memperhatikan Nezuko menarik tangannya untuk membetulkan posisi pita yang miring karena insiden barusan. Keduanya sedang berada di pinggir lapangan yang cukup jauh dari festival.
"Se-ben-tar Mu-hi," ucap Nezuko terbata-bata sembari berusaha mengikat poninya. Tangan kurus Nezuko terlihat sedikit bergetar. Muichiro berinisiatif untuk membantunya, tetapi itu tidak membuat ikatan pita Nezuko lebih baik. Dan pita itu juga sudah terlihat sangat kotor karena tanah kering yang menempel.
"Aku pikir, ini tidak bisa lagi kau pakai. Kenapa tidak membeli yang baru saja?" Muichiro memperhatikan sekeliling. Tampak jalanan di sudut lain berjubel bukan main. Barangkali, ada satu pedagang yang menjual pita untuk mereka di sana.
Bibir Nezuko melengkung ke atas seperti bulan sabit. Kedua matanya berpendar menatap Muichiro yang menampilkan wajah kebingungan. Ia menarik seragam Muichiro dan menunjuk ke arah lautan manusia yang menjamah tiap sudut-sudut festival.
"Mu-hi-chiro! Mu-hi-chiro!" Nezuko tidak menyerah untuk memaksa Muichiro ke arah sana, tetapi ia pikir ini hanya akan membuang-buang waktu untuk mencari di mana Tanjiro.
"Kita seharusnya mencari Tanjiro-san, bukan untuk bermain-main—"
Bermain-main?
Bermain
Main
Siapa? Siapa yang mengatakan hal itu sebelumnya.
Kedua mata Nezuko berkedip-kedip memperhatikan Muichiro yang kebingungan. Ia bisa melihat ada kabut tipis menyelimuti kedua matanya yang sedikit pekat malam ini.
"—lagipula kalau tidak segera kembali, aku khawatir, Shinazugawa-san akan meledak dan keluar asap dari kepalanya seperti kembang api."
Mendengar kata-kata Muichiro, membuat rasa gelisah Nezuko hilang begitu saja. Ia pun tersenyum cukup lebar seolah benar-benar membayangkan wajah Shinazugawa yang memerah dan menampilkan asap kelabu dari balik rambutnya yang berantakan. Keduanya saling bertemu pandang selama empat detik. Dan seperti bisa melihat imajinasi yang Nezuko ciptakan, Muichiro ikut tertawa hingga gigi gerahamnya terlihat begitu jelas. Entah kenapa, ia merasa lega. Sudah sangat lama ia tidak tertawa seperti ini. Ternyata begitu menyenangkan, batinnya. Hingga tanpa ia sadari, sudut matanya mengeluarkan beberapa tetes air mata.
Tenang saja, Muichiro. Kabut yang memenuhi pikiranmu itu perlahan akan segera memudar—
Hampir saja ia kembali resah memikirkan sesuatu yang menggema di dalam kepalanya, tetapi menatap wajah Nezuko yang bahagia membuatnya menarik kedua sudut bibir. "Terima kasih, Nezuko-chan. Kau cukup menghiburku malam ini." Tanpa sadar, Muichiro mengganti sufiks -san menjadi -chan. "Oh, kalau kau kesulitan memanggil namaku. Aku tidak keberatan jika kau cukup menyingkatnya menjadi Mui saja. Mu-hi."
"Mu-hi."
"Ya. Ne-zu-ko-chan."
"Sekarang kita cari Tanji—"
Lagi dan lagi. Kata-kata itu terpotong. Tarikan yang cukup kuat dari seragam Muichiro membuatnya kembali menoleh. Nezuko dengan wajah masih penuh harap tengah berjuang memaksanya menyelami lautan manusia di dalam festival.
"Mu-hi!"
"Bukankah hal seperti itu hanya untuk anak kecil?" Muchiro tersentak saat bibirnya lolos mengeluarkan kata-kata barusan "Sungguh kekanak-kanakan sekali ..."
Kata-kata siapa? Apa aku mengenal suara—
Siapa?
Ia terdiam sebentar sebelum melanjutkan, "Sekali saja dan setelah itu kita cari Tanjiro-san. Tapi, apa kau tidak ingat di mana terakhir kalian berpisah?" Nezuko hanya menunduk, tetapi Muichiro bisa melihat bibirnya yang mengerucut lucu. "Memang berbahaya jika kita masuk ke dalam sana karena banyak sekali pengunjung. Mungkin kita berdua juga bisa tersesat. Kecuali—" Ia memotong kalimatnya sendiri. Kemudian, melepas ikatan pita di rambut Nezuko. "Kita gunakan saja ini untuk mengikat tangan satu sama lain. Apa kau setuju?"
Dengan penuh antusias, Nezuko mengangguk. Pendar di kedua matanya seolah menunjukkan Muichiro adalah penyelamat baginya. Tanpa permisi lagi, Muichiro mengikat pergelangan tangan kanan Nezuko dengan pita itu dan mengikat ujung lain di tangan kiri miliknya. "Selesai," gumamnya. Ia tersenyum dan menyegerakan menuju keramaian di tengah festival.
Dua puluh menit berlalu, kepala mereka tidak berhenti diam menoleh ke sekeliling. Walaupun agak sulit untuk melangkah, tetapi keduanya sangat menikmati berada di sana. Aroma tajam keringat pengunjung serta beberapa makanan berkumpul menjadi satu dan menyelinap ke dalam rongga hidung. Tidak bisa dipungkiri jika Muichiro turut merasa menikmati malam ini.
"Mu-hi!" Nezuko berusaha memanggil Muichiro agar berhenti sejenak di satu tempat. Muichiro refleks berbalik dan menelengkan kepala dengan ekspresi menanti jawaban. "Mu-hi, lihat!" ucapnya sekali lagi dengan nada sedikit memaksa. Ia menunjuk satu gerobak yang menjual permen kapas dua rasa khas festival musim panas di desa ini.
Muichiro hanya bergeming saat Nezuko berusaha menarik seragamnya dengan sedikit kasar. Di dalam pikirannya, untuk apa harus menuruti Nezuko membeli permen kapas, sedangkan ia yakin Nezuko tidak akan bisa memakannya. Namun, gadis itu tidak menyerah. Ia mendorong punggung Muichiro hingga ia mengiakan kemauannya. Seketika tanpa sadar, Muichiro sudah berada di dekat penjual permen dan memesan satu gumpalan kapas tersebut.
"Permen kapas ini ada dua rasa dan warna. Stroberi dan jeruk. Merah jambu dan oranye. Kalian mau yang mana?" tanya penjual permen kapas yang mempunyai tahi lalat di dekat bibir itu. Tangan kurusnya dengan cekatan melayani pembeli yang lain.
"Aku tidak peduli rasa dan warnanya." Muichiro merogoh saku dan mengeluarkan beberapa logam uang dari kantong. Kemudian, menyerahkannya kepada si penjual. "Beri satu dengan rasa stroberi. Dan aku tidak keberatan kalau kau ingin menyimpan kembaliannya."
"Terima kasih banyak, Nak. Semoga kau menyukainya. Permen kapas ini tentunya sangat manis seperti kekasihmu itu," ucap penjual permen kapas dengan nada menggoda. Keduanya mengerutkan dahi dan saling menatap. Kemudian terkikik dan mendapati segaris rona berma melintas di pipi masing-masing.
Satu permen kapas senada dengan warna kimono Nezuko telah sampai di tangan Muichiro. Selama hampir sebelas detik, ia mengamati serat-serat gula yang memang tampak menggiurkan dari dekat. Namun entah kenapa, dadanya terasa sesak saat memperhatikan makanan-makanan di festival ini lebih lama. Takoyaki, permen kapas, dan beberapa lainnya. Seperti ada memori yang hilang di antara jajanan itu. Nezuko yang menyadari perbedaan ekspresi Muichiro, sengaja berjalan cepat hingga tangannya menarik Muichiro di sebuah arena tembak.
Menembak Papan
Berhadiah: jepit rambut, sisir, pita, gelang mutiara, dsb
Nezuko menunjuk dan berhenti di stan permainan itu. Ia memaksa Muichiro membayar untuk membeli dua tiket. Entah kenapa, ia tidak merasa keberatan dan mengamati wajah serius Nezuko saat membidik papan kayu (bertuliskan: pita). Sebelumnya, mereka sudah melepas ikatan yang menghubungkan tangan masing-masing dan bersiap untuk memulai permainan.
Ada satu gadis kecil menarik seragam Muichiro dan terlihat menyukai permen kapas di tangannya. Awal, ia ragu dan membiarkannya begitu saja. Akan tetapi, gadis itu tidak bisa diam menarik seragam Muichiro dan berpindah tanganlah permen itu. "Terima kasih," cicitnya. Tanpa disadari, beberapa penonton sudah bertepuk tangan atas keberhasilan Nezuko menembak satu papan bertuliskan permen. Namun, Nezuko merasa kecewa. Dan inilah saat yang tepat bagi Muichiro menonjolkan kemampuannya selain berpedang.
Diraihnya satu pistol dan langsung saja Muichiro membidik dengan satu mata menyipit. Ia teringat Genya pernah mengajarinya usai insiden di Desa Pedang. Meski tidak semahir Genya, tetapi ia tidak akan menyerah. Sebagai seorang Pillar, tentu bukan hal yang terlalu sulit melakukan hal seperti ini. Sekali tembak, papan bertuliskan pita pun rata dengan tanah. Semua pengunjung bertepuk tangan. Pita indah berwarna merah—seperti batu merah delima—kini berada di tangan Muichiro. Namun malam ini, wajah Nezuko jauh lebih indah daripada pita merah itu. Apalagi saat tersenyum.
Mereka mengunjungi satu-dua stan makanan dan permainan seperti anak-anak yang lupa diri. Permainan terakhir yang mereka kunjungi adalah menangkap ikan koi yang membuatnya tidak akan pernah lupa dengan tangan lembut Nezuko. Saat itu, Nezuko tidak juga bisa menangkap ikan koi dan frustrasi. Beberapa kali, bibirnya membentuk kerucut karena gagal saat bermain. Melihat Muichiro yang selalu berhasil, membuat Nezuko memaksanya untuk membantu. Dan untuk pertama kalinya, ia bisa menghirup aroma tubuh Nezuko dari dekat karena posisinya yang hampir tanpa jarak. Menurut Muichiro, Nezuko memiliki aroma yang mirip seperti permen kapas rasa stroberi. Namun, di detik yang berbeda akan tercium aroma bunga melati, kemudian jeruk yang tajam dan menyengat. Membuat Muichiro penasaran aroma apa lagi yang akan ia hirup jika terus berada dekat dengannya.
Ia mendengar satu bunyi yang hampir meledakkan jantung dan kilatan cahaya di atas langit pegam. Semua orang menoleh dan bergumam, sudah tiba saatnya. Nezuko tidak bisa mengalihkan perhatian kepada kembang api yang merekah seperti mawar di atas sana. Tidak ada seorang pun yang mengelak kecantikannya. Untuk menjangkau pertunjukan yang lebih luas, Muichiro menarik tangan Nezuko, dan keduanya berjalan cepat membelah lautan manusia. Pasti ada, pasti ada. Tempat yang lebih tinggi dan Nezuko-chan bisa melihat itu, batinnya. Dan sampailah mereka di ujung timur festival. Sebuah tangga membawa mereka ke tempat lebih tinggi. Meninggalkan rasa sesak karena tidak perlu berjubel dengan ratusan manusia lainnya. Menikmati malam penuh kejutan bersama seseorang yang tidak akan pernah ia duga.
Lingkar-lingkar warna membelah kanvas hitam tepat di hadapan Nezuko dan Muichiro. Percikannya membuat dua pasang pipi memerah seolah menyerap warna berma dari kembang api. Berbagai bunyi degum memasuki rongga telinga setiap pengunjung. Sejenak, Muichiro tidak bisa melihat ke mana perginya bulan dan bintang yang sempat ia puja. Mereka tiba-tiba saja seperti hilang ditelan cahaya di sekitarnya. Namun saat melihat pendar mata Nezuko, ia tersadar, bintang-bintang itu berpindah tempat di dalam bola mata Nezuko. Menari-nari seperti disediakan sebuah panggung dengan sengaja. Bunga-bunga api yang luruh. Meledakkan jantung Muichiro. Detik-detik itu, ia menyimpulkan bahwa Nezuko mencuri segala yang ada di benaknya. Hari dan hati.
Kedua mata itu masih nyalang memandang pendar-pendar kembang api. Tidak ada satu pun orang yang ada di festival tidak terkagum-kagum dengan atraksi di atas sana. Hampir semua rahang mulut mereka melorot tanpa sadar. Anak kecil dan orang dewasa, mereka menyukai pentas kembang api. Pun Nezuko dan Muichiro. Namun di detik-detik terakhir, ia mendengar bisik-bisik memori pahit yang disampaikan oleh anak angin. Ia pun menjadi tidak berdaya dan memejamkan mata sambil berharap semua itu hilang setelah membuka mata. Rinai kenangan yang hampir saja berjatuhan di kedua matanya. Perasaan yang meledak-ledak karena terlalu kuat ia tahan. Janji yang tidak akan pernah terwujud. Kembang api dan—
Aku ingin datang ke festival kembang api, Yuichiro.
—ingatan yang Muichiro sembunyikan. Kehidupan di masa lalu yang mencekiknya. Meninggalkan rasa sesak sekaligus perih seperti cakaran burung gagak tepat di wajahnya. Tidak heran jika ia menjatuhkan beberapa tetes air asin dari sudut-sudut matanya. Dalam riuh rendah pentas yang seharusnya membawa kebahagiaan, Muichiro menangis. Bendung itu telah hancur dan memporak-porandakan hatinya. Malam ini terasa panjang dan kelam. Indah sekaligus mematikan.
"Mui, Mui!" Suara itu terdengar jelas, membuat Muichiro refleks menatap bibir tipis Nezuko. Saat mata keduanya saling bertemu, Nezuko tersenyum tipis, kemudian mengelus pucuk kepalanya.
"Aa, rupanya kau bisa memanggilku dengan jelas sekarang." Ia mengelap ingus dengan telunjuknya. Satu senyuman ia paksakan.
"Kem-bang a-pi. Can-tik. Ter-senyum-lah Mui."
"Terima kasih, Nezuko-chan."
Ia mengingatnya. Suara itu milik Yuichiro, saudara kembarnya. Kalimat sarkas yang sering diucap, Kekanak-kanakan!, membuat Muichiro diselipi kembali ingatan yang selama ini tertutup kabut putih setebal awan di musim panas. Seiring dengan bisingnya ledakan kembang api, ia turut meledak di dalam tempurung—yang kemudian hanyut melewati sungai kecil di pinggir hutan. Pun tubuhnya seperti tidak lagi berisi tulang.
Dengan tubuh kecilnya, Muichiro mencari penyangga sebelum raganya merosot dengan memeluk Nezuko. Ia juga menjatuhkan dahinya di atas bahu mungil itu. Menangis seperti bayi baru lahir dan ditinggal pergi sang ibu. Meraung-raung dan hampir saja mengalahkan suara kembang api. Namun, Nezuko tidak akan membiarkan Muichiro terjatuh lebih dalam. Usapan pelan dan hangat di punggungnya membuatnya berhenti menangis begitu saja. Menikmati belaian lembut Nezuko seorang diri.
"Tidak sekarang, Mui. Kau tahu, kita tidak boleh ke sana. Berbahaya berkeliaran di malam hari dan melewati hutan."
Malam itu, wajah kecewa Muichiro terpantul jelas di kedua bola mata Yuichiro. Menggugah rasa bersalah dan belas kasihan.
"Ah, aku janji. Lain kali kita akan pergi," ucapnya sembari membuang muka. "Tapi kau tidak boleh banyak meminta macam-macam lagi setelah sampai di sana. Aku juga tidak mau menggendongmu, uh."
Pada akhirnya, mereka tidak pernah sampai di ujung pentas. Kembang api itu tidak akan pernah Yuichiro lihat seumur hidup. Ia juga tidak pernah merasakan nikmatnya takoyaki, perisa stroberi di dalam permen kapas, bermain tembak-tembakan, dan berburu ikan emas. Tidak akan pernah. Tidak akan pernah untuk selamanya.
"Jangan bersedih lagi, Bodoh!"
Dan Muichiro refleks tersadar jika ia kini berada di pelukan Nezuko. Menyandarkan sejenak ingatan buruknya di pundak seorang gadis. Ia tidak bisa berlama-lama seperti ini. Pun berlama-lama larut dalam pesta kembang api. Keduanya sudah berada cukup jauh dari Kuil Yasukuni. Tangan dingin Muichiro menggenggam tangan Nezuko. Belum sampai sepuluh detik, perasaan hangat menjalari tubuh keduanya. Sadar akan kejanggalan itu, Muichiro menarik tangannya dan tercingangah menatap wajah Nezuko. Barangkali jika ia bercermin, tentunya akan terlihat jelas warna merah di kedua sisi pipi. Seperti warna kulit apel. Pun jantungnya turut bergemuruh layaknya bedug yang dipukul.
"Nezuko-chan, sudah saatnya kita kembali."
"Baik. Mui."
Saat Muichiro sudah mulai bisa mengontrol perasaannya. Ia kembali menggengam tangan Nezuko dan melewati anak tangga dengan hati-hati. Di tengah keramaian itu, Muichiro tidak ingin genggaman itu terlepas. Tidak ingin Nezuko hilang dan tersesat untuk kedua kalinya. Tidak untuk malam ini atau selamanya.
Tanjiro tanpa sengaja menabrak satu gadis kecil yang tengah membawa es serut dengan rasa dan warna seperti buah melon. Kimononya basah dan kotor. Ia juga menangis membuat ibunya panik di tengah hiruk-pikuk festival. Beberapa pengunjung melihat dan berbisik-bisik ke arah mereka. Tanjiro berulang kali meminta maaf dan menggantinya dengan sisa uang yang ia miliki.
Tidak jauh dari tempat Tanjiro berdiri. Shinobu memperhatikan tingkahnya—yang jelas terlihat panik seperti kehilangan sesuatu. Ia pun menepuk secara kasar pundak Tanjiro. Dan keduanya saling bertatap muka.
"Ara-ara, Tanjiro-kun. Kenapa kau panik begitu?"
Ia mengacak rambutnya sebelum menjelaskan bahwa ia kehilangan Nezuko saat berada di festival. Entah kenapa baunya sulit terendus oleh Tanjiro dan membuatnya panik bukan main. Ia terlihat hampir menangis, tetapi Shinobu justru tersenyum sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Tanjiro-kun, lihat di sana! Muichiro-kun sudah—"
Belum sempat Shinobu melanjutkan kalimatnya, ada gadis kecil menabrak tubuh Tanjiro. Kemudian berlari dan tanpa sadar membuka kerumunan jalan yang berujung sehingga tampaklah sosok Muichiro dan Nezuko.
"Nezuko!" teriaknya penuh semangat.
"Ara-ara, sungguh bahagia bisa melihat mereka berdua bersama dan bergandengan tangan," goda Shinobu sembari menyikut pinggang Tanjiro.
Ia semakin semangat meneriaki Nezuko saat memperhatikan dengan saksama tubuh adiknya yang utuh. Nezuko pun sempat melompat penuh suka cita sebelum menghamburkan diri menuju pelukan kakaknya. Mereka seperti terpisah sangat lama. Momen mengharukan. Membuat Shinobu dan Muichiro tersenyum melihatnya. Barangkali, mereka juga rindu dipeluk oleh seseorang dengan tulus seperti Tanjiro.
Mereka berkumpul dan Muichiro menceritakan kebersamaannya dengan Nezuko selama Tanjiro tidak ada. Shinobu tidak henti-hentinya mengoda dengan mengatakan sesuatu seperti: Ara-ara, kalian sedang berkencan, ya. Dan mengabaikan gagak Shinazugawa yang menanyai kabar dan situasi.
Kini, saatnya mereka berpisah. Seperti bulan yang akan digantikan oleh matahari. Muichiro dan Shinobu harus segera kembali ke Kuil Yasukuni. Sedangkan Nezuko dan Tanjiro menuju Rumah Wisteria untuk beristirahat sejenak sebelum menjalankan misi berikutnya. Masing-masing undur diri dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Namun beberapa langkah menuju lokasi tujuan, Muichiro berbalik dan mencari perhatian Nezuko kembali. Membuat Tanjiro dan Shinobu tercengang menatap mereka saling bergantian.
"Hei, Nezuko-chan! Ini milikmu, bukan?"
Pita berwarna merah pekat berkilauan di bawah cahaya rembulan. Muichiro dengan senyum tipis memberikannya kepada Nezuko. Selama lima detik, jemari mereka bersentuhan. Memercikkan kembali rona merah di sekitar tulang pipi. Nezuko meminta tolong Tanjiro untuk memasang pita yang ia dapat dari hadiah permainan menembak papan kayu, sebenernya Muchiro yang mendapatkannya. Akan tetapi, ia sengaja memberikan itu kepada Nezuko sebagai pengganti pita yang lama.
"Tokito-kun, apa kau keberatan memegang ini sebentar?" Tanjiro memberikan pita merah muda yang sedikit kotor dan penuh kenangan itu kepada Muichiro. Tanpa menaruh prasangka buruk, ia menyambutnya dan digenggam dengan sangat erat. "Terima kasih. Pita yang baru ini sangat cantik dikenakan oleh Nezuko," ucapnya lagi.
Semua orang memandang ke arah Nezuko. Pita itu memang sangat indah dan berkilauan di rambutnya. Namun, wajah Nezuko selalu lebih indah daripada itu—menurut Muichiro. Berulang kali, batinnya memuja dan memuji.
"Adikku memang cantik. Sangat cocok mengenakan apa saja. Kalian lihat 'kan?" Tanjiro terus mengoceh sembari mengelus pucuk kepala Nezuko. "Apa kau bersenang-senang malam ini? Tokito-kun pasti menjagamu dengan baik. Sekali lagi ... maafkan Kakak, Nezuko. Seharusnya Kakak lebih memperhatikanmu tadi." Ia menghapus air yang hampir meleleh di sudut-sudut matanya.
"Tentu saja. Nezuko-chan terlihat sangat cantik. Benar 'kan, Muichiro-kun?" goda Shinobu.
Ia kembali tercengang menatap Nezuko. Dan sekali lagi, Nezuko tampak berbeda dan benar-benar lebih berkilau. Warna merah di pitanya mengingatkan selalu akan kembang api yang mencuri perhatian. Begitu lemahnya ia di hadapan Nezuko. Pun kuatnya hati saat bersamanya. Muichiro hanya menjawabnya dengan senyuman. Tipis, tetapi berkesan bagi yang melihat. Barangkali, hanya Nezuko yang bisa melihatnya. Hanya Nezuko, pikirnya.
Terima kasih sudah meledakkan warna-warni di hatiku. Seperti kempang api.
Kemudian, lambaian tangan memgakhiri semua. Mereka sekali lagi berpisah. Perpisahan yang sesungguhnya. Arah yang berbeda, tetapi langit yang sama. Tanpa janji. Tanpa sumpah. Namun, mereka sudah saling mengikat. Memikat. Muichiro membalik badannya. Turut melambaikan tangan pada kedua bayangan itu. Sebelum lenyap ditelan kegelapan.
The End
Katamu, itu adalah rinai hujan
Kataku, itu adalah bintang
Warna-warni bersauh
Dan kau membuatku luruh
