Chapter Text
Selasa itu, merupakan satu Selasa yang sepi. Tak terpikirkan olehnya, bahwa kafe di tempat ia bekerja itu akan sepi dan kosong. Alisnya terangkat satu, matanya menelusuri ruangan luas tersebut sembari menerawang jauh keluar ruangan, bertanya-tanya apakah akan ada yang datang. Ia pikir, kafe akan ramai, berhubung Selasa masih awal minggu. Bosan, melamunlah ia di balik kasir. Pagi ini, ia menyuguhkan dirinya segelas americano, dan sekarang adrenalinnya berpacu. Ia menghela nafas, dan jatuh berjongkok, kepalanya ditenggelamkan di antara kedua lengannya.
Begitu, sampai ia mendengar ketukan di meja dan sebuah “halo”.
Kepalanya sontak terangkat dan otomatis berdiri, refleknya berkata bahwa ada pelanggan, dan dia selalu suka pelanggan. Senyumnya selalu terpasang, dan sudah terpasang ketika ia melihat pelanggan di depannya. Sosok di depannya hanya tertawa kecil melihat pegawai yang terlihat hiperaktif ini.
“Selamat siang! Mau pesan apa?”
“Latte ya.”
“Panas dingin?”
Maksud hati ingin bertanya panas atau dingin, apa daya yang masuk ke otak pelanggannya bukan yang ia maksud.
“Maaf?”
Alisnya terangkat satu, badannya condong ke depan dengan telinga mengarah ke sang pegawai, tidak yakin dengan apa yang ia dengar. Sang pegawai, bukannya menjelaskan, malah benar-benar panas dingin melihat pelanggannya yang satu ini.
“Maksud saya, latte yang panas atau dingin?”
Sang pegawai menarik nafas setelah berhasil menjabarkan perkataannya sendiri dengan berbagai macam gestur tangan, sedangkan sang pelanggan hanya bisa menertawakan laku pegawai di depannya. Lucu, batinnya.
“Oh, yang panas saja ya.”
“Oke, atas nama siapa?”
“Mingyu.”
Sang pegawai yang memakai name tag bertuliskan Seokmin terdiam, tangannya sudah memegang spidol di samping gelas. Alisnya bertaut, memiringkan kepalanya. Ia menoleh kepada pelanggannya, tidak yakin apakah ini sebuah lelucon atau bukan. Semakin bingung, akhirnya Seokmin menuliskan apa yang didengarnya. Minggu. Ia beralih ke 'Minggu' untuk menyelesaikan transaksinya. Tersenyum kepada satu sama lain, sang pelanggan mengambil tempat di salah satu meja di dekat kasir. Seokmin terus memandang ke arah si 'Minggu', bertanya-tanya apakah dia sedang ditipu dalam sebuah acara TV, mengingat kondisi kafe yang sangat sepi pula. Ia menengok ke sekitarnya, merasa gelisah dan tidak aman. Setelah ia selesai dengan kopinya pun, ia ragu bagaimana memanggilnya.
“Hei, kopimu sudah selesai.”
Si 'Minggu' mendongakkan kepalanya, kemudian berjalan menuju Seokmin dan kopinya. Tangan Seokmin melipat di depan dadanya, dan bertumpu pada meja, mengawasi gerak-gerik 'Minggu'. Yang diperhatikan segera menyesap kopinya, lalu mengangguk pelan, sebelum menoleh kepada Seokmin. Mata Seokmin masih melekat pada wajah 'Minggu', masih mencari kejanggalan, berharap dia mengaku.
“Jangan kelamaan ngeliatin saya. Nanti naksir.”
Ia melangkah menuju pintu sembari menyesap kopi di tangannya, terlihat seringai kecil terpampang di wajahnya. Mata Seokmin membulat ketika ia menyadari apa yang baru saja terjadi. Beraninya orang itu, pikirnya. Alisnya tertaut saat ia mengacak-acak rambutnya. Ia tidak gelisah, tidak pula salah tingkah. Ia hanya kebingungan. Duduklah ia di lantai yang dingin, berharap cemas agar si 'Minggu' tidak datang lagi.
Seokmin mungkin bisa gila andai 'Minggu' datang terus-menerus dengan rutinitas kopi dan kalimat manisnya.
