Actions

Work Header

Ingatlah Hari Ini

Summary:

Satu tahun dalam kehidupan Brian dan Winata yang sedang menjalani tahun terakhir mereka di SMA, dimana keduanya belajar arti kehidupan, persahabatan, dan cinta yang sesungguhnya.

Notes:

Author's Note:

ditulis untuk prompt #13 dari BrightWin Ficfest #BWInAnotherLife round 1, October 2020.

akhirnya selesai juga nulis fic ini, yang sebenernya tantangan buat aku yang selalu nulis full in English. pertama kalinya nulis untuk fandom brightwins juga, jadi deg-degan haha. terima kasih untuk S yang mau jadi beta reader-ku walaupun lagi skripsian :) juga didedikasikan untuk A yang paling baik hatinya. sebelumnya apologies in advance kalau ada terminologi atau fakta yang melenceng dikit ya!

playlist Spotify untuk lagu-lagu di fic ini bisa diakses di sini.

untuk readers, semoga suka ya, selamat membaca!

karya ini sedikit mengadaptasi lagunya Project Pop yang berjudul Ingatlah Hari Ini dan terinspirasi dari wawancara Bright & Win yang ini.

Chapter Text

Satu hal tentang fotografi adalah tidak ada yang peduli siapapun atau apapun itu yang menjadi objek.

Yang penting adalah menangkap sebuah momen, sepenggal cerita, seakan memaksa waktu untuk berhenti sejenak. Itu prinsip yang selalu Brian pegang teguh setiap ia mengangkat kameranya untuk melihat dunia dari kotak kecil viewfinder.

Ini Senin minggu pertama bulan Agustus, hari pertama kembali ke sekolah. SMA-nya sedang mengadakan acara welcoming ceremony untuk siswa baru. Melalui lensanya Brian dapat melihat deretan juniornya, siswa kelas 10 dengan seragam yang masih terlampau putih bersih, dengan gaya kikuk di lingkungan baru. Dia masih ingat hari pertamanya dua tahun lalu. Tak terasa sekarang dia sudah di tahun akhirnya, satu langkah terakhir sebelum universitas.

“Oi, Pak!” Sebuah suara dan tepukan pada pundak menarik Brian kembali ke realita.

Kalau bukan karena refleks cepatnya, mungkin kamera Brian bisa terguling dari pegangannya. Pemilik tangan yang menempel pada pundaknya ternyata Mike—teman sebangkunya—yang datang dengan Gunawan—teman sekelasnya. “Ngagetin aja.”

“Ya maaf…” Mike tersenyum usil. “Sibuk fotoin apa sih?”

“Nggak ada,” tutur Brian jujur. Hanya saja menggenggam kamera memberikan perasaan nyaman yang dia sendiri sebenarnya tidak bisa deskripsikan dengan kata-kata. “Iseng aja ini.”

“Ah masa?” Kali ini Mike mulai tertawa, menyenggol lengan Brian pelan.

“Bilang aja nyari junior buat dipacarin.” timpal Gunawan memanas-manasi.

“Enak aja, itu sih lu berdua kali.” Brian sanggah cepat, namun tetap ia tertawa dengan Mike dan Gunawan.

Ketiga sahabat melanjutkan obrolan mereka: mengomentari penampilan beberapa siswa baru dan apa saja yang akan mereka lakukan selama menjalani kelas 12, tahun terakhir mereka di SMA. Setengah jam kemudian upacara penyambutan siswa baru akhirnya berakhir, dan semua siswa dibubarkan. Seorang lelaki yang sedari tadi mondar-mandir mengurusi jalannya acara berjalan ke arah Brian, Mike, dan Gunawan.

“Eh, Rama!” sapa Mike, bergeser untuk memberikan lelaki itu—Rama—tempat untuk duduk disampingnya. “Asik banget, adek kesayangan kita udah jadi ketua OSIS nih, gagah banget.”

Yang dielukan hanya tersipu malu. “Apa sih kak Mike, kan gua cuma nerima jabatan turunan dari lu, kak.”

“Cuma apaan? Ram, lu dapet 95% persen suara, jelas semua percaya sama lu untuk mengemban amanah.” terang Mike sambil menepuk punggung sang ketua OSIS.

“Gimana pun juga, bangga lah kita. Semoga sukses ya.” Brian menimpali, kali ini tangannya jahil mengacak-acak rambut juniornya itu.

“Iya, iya. Makasih lho, abang-abangku sayang,” goda Rama dengan suara dimanis-maniskan. “Doain aja ya, gua kuat ngurusin anak-anak OSIS. Pusing sumpah…”

“Aduh aduh, kenapa nih adek kesayangan abang?” goda Mike balik.

“Ya gitu kak, kurang human resource. Gua ketat buat nyeleksi bawahan, dan sejauh ini dikit yang pas sama kriteria…” keluh Rama. “Apalagi gua masih ribet di urusan diplomasi sama birokrasi kalo keluar sekolah sih, masih rada ngeraba-raba gitu.”

“Santai, gua sebagai mantan ketos bisa bantu ajarin, tenang aja kalo masalah itu.” Mike lantas menyanggupi.

“Kalo gua volunteer di divisi perkap sama keamanan bisa lah,” celetuk Gunawan yang mendapat respon sip! dengan dua jempol dari Rama. “Expertise gua tuh.”

“Emang expertise lu sih, kan lu muka kuli, cocok makanya.” ledek Mike.

Sontak semuanya tertawa mendengar ucapan Mike, sementara Gunawan hanya bisa merengut kesal.

“Sumpah beruntung banget gua punya abang-abang kesayangan nih ya.”

“Nah tinggal satu lagi nih yang dari tadi diem-diem aja,” hitung Gunawan. “Bri, lu juga dong.”

“Yaudah, gua coba bantu dikit-dikit deh,” kata Brian. Sebenarnya dia bukan tipe anak yang suka berorganisasi. Masa bodoh dibilang cuma sekolah-pulang, tapi dia memang enjoy seperti itu. “Tapi gabisa full time ya, gapapa?”

“Asik!” Rama mengepalkan tangannya keatas, senang. “Gapapa banget. Kak Bri kan jago foto ya, bantuin gua jadi crew anak dokumentasi mau nggak kak?”

“Boleh, fee jangan lupa tapi.” canda Brian yang diamini Mike dan Gunawan.

“Itu pasti, kak! Gorengan lima ribuan depan sekolah ya?”

“Malah ngelunjak ya ini anak.” sahut Gunawan, mengerling kepada kedua sahabatnya.

Mike menangkap tatapan tersirat Gunawan. “Hajar lah.”

“Ampun, ampun!” gelak Rama, yang sekarang sedang diserang gelitikan dari ketiga seniornya. “Makasih ya, pokoknya nanti kalo ada event gua kabarin lu pada ya kak.”

“Iya, gampang itu sih, nanti gua seret Gun sama paksa Brian bangun pagi,” sambut Mike cepat, mendapatkan lirikan sinis dari yang menjadi topik pembicaraan. “Oiya, ntar malem jadi kan ya? Kangen nih main futsal sama Monday Knights.”

Monday Knights adalah nama tim untuk klub sepakbola SMA mereka, yang digawangi Brian sebagai kapten, Mike, Gun, Rama, dan teman-teman lainnya. Meskipun memiliki nama yang berarti hari Senin, jadwal main dan tanding mereka fleksibel bisa hari apa saja.

Seruan lantang gas lah, ayo! dari Rama, Gunawan, dan Brian serta bel sekolah yang berdering mengakhiri percakapan keempat sahabat tersebut.

***