Work Text:
Sudah sekitar lima belas menit pemuda berkaos kuning bergambar chihuahua berdiri memegang ponsel, bersandar di pohon pinggir jalan, celingak-celinguk mencari sosok pemuda pendek berambut biru dongker yang janji mau main ke kosan, tapi tak kunjung datang hingga pemuda kaos kuning itu bosan menunggu di kos.
"Tau tadi sebelum keluar kosan mandi dulu," gumamnya risih keringat melekati tubuh.
Toh celana abu-abu, kaos kedodoran, dan sandal jepit hitam tidak mengurangi kadar manis wajah sang Pemuda. Sebab pemuda itu terus-terusan senyum ke arah ponsel, kena gombal jayus lawan bicara. Siapapun yang melihat tingkah pemuda itu pasti gemas. Rambut coklat acak-acakan penanda belum mandi merupakan poin tambahan memikat siapa saja yang melihat.
Sang Pengamat, yang daritadi mengobservasi Si Pemuda kuning, karena kurang kerjaan, ikut tertawa tiap kali si Pemuda senyum-senyum sinting ke ponsel. Namun, sekon merambat, senyum itu luntur.
Selesai sang Pemuda menggulung ke bawah layar ponsel beberapa lama, senyum itu terganti aura suram dengan awan kelabu mengguyur titik-titik air ke kepala si Pemuda. Entah kenapa si Pemuda kuning bersedih, sang Pengamat tak acuh, ia malah menunggu momen ini. Momen ia dapat caper.
Dengan senyum dibuat seganteng mungkin, Luz percaya diri mendekati target pelototan 20 menitnya. Kacamata yang nyaris menutup seluruh muka, dibuka guna menampakkan manik yang kata gadis kekinian, "Raawr ganteng, mau kemana?"
Siapa tahu si Lelaki berbaju kuning terpikat, seperti Luz napsu wajah manis geulis meringis pemuda ini, bukan? Luz demen melihat manusia manis bersedih. Kayak ada rasa-rasa, "Hei hibur aku sini, Jodohku!"
Luz terkikik sendiri berimajinasi tentang jodoh. Baju merah garis-garis kusut dibetulkannya. Bibir ranumnya merekah. "Sendirian saja? Lagi nungguin orang, atau gimana?" ia memulai obrolan.
Si Pemuda kuning baru nengok setelah disentuh-sentuh pundaknya oleh Luz, Luz sempat keki di sini lantaran doinya tidak peka diajak berbincang.
"Aku? Aku nungguin pacarku. Katanya dia mau ke sini, tapi gak jadi," ia menjawab acuh.
"Kamu kesepian?" tanya Luz.
"Enggak, udah diajak ngobrol sama orang baju merah garis-garis, soalnya."
"Bisa aja," Luz mengeluarkan tawa sewibawa mungkin. "Nama saya Luz."
"Sayangnya, aku gak nanya," tanggap si Pemuda sambil senyum ramah.
Oh? Tanggapan tidak biasa. Masih manis si Pemuda saat ngomong frontal gitu, ternyata. Senyum ramahnya tidak mengintimidasi Luz sama sekali.
"Kamu punya Line?"
Begitu Luz nanya, si Pemuda langsung mengunci ponsel dan menaruhnya di saku celana. "Enggak, khusus buat kamu. Kenapa?"
Luz tidak kesal, kawan-kawan.
"Ah, jangan begitu," dari kantong celana, Luz mengeluarkan buku catatan kecil, dan pulpen. Kertas ukuran jarak jempol dan telunjuk dicoret-coret pulpen merah. "Nih, nomor WA kalau kamu gak punya Line. Atau, bisalah SMS, kalau paketan internetan kamu habis."
Muka si Pemuda kuning keheranan menerima sodoran paksa secarik kertas punya Luz. "Buat apaan? Kamu host? Aku gak tertarik–"
Bibir mungil pemuda berambut coklat itu dihadang Luz dengan telunjuk. Lumayan, ngerasain sensasi empuknya.
"Hanya karena saya menawan, bukan berarti saya host. Saya lagi nyari pendamping sehidup semati, dan saya tertarik wajah manis kamu. Barang kali setelah putus sama pacar yang gak nepatin janji itu kamu mau jadi pengantin wanita saya, betul?"
Tamat.
Maaf kalau OOC.
