Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2020-10-25
Words:
1,302
Chapters:
1/1
Kudos:
3
Bookmarks:
1
Hits:
140

end of the road

Summary:

pergelangan tangannya ditangkap jeongguk. cengkeramannya mengendur perlahan. ia berucap, terseok-seok; "la-lari, t-tae—"

Notes:

brought to you thanks to @kakavnda on twt :D

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

 

desing senapan menggema. jeongguk tersungkur, merah merembes pada sisi kiri kemeja yang tragisnya berwarna cerah. namanya didengungkan pilu. suaranya berasal dari mulut taehyung.

hati semrawut. cemas yang meroket bercampur dengan adrenalin yang terus dipacu. tangan taehyung tremor, tak tahu harus berbuat apa demi hentikan luka tempat peluru bersarang. dia menekannya ragu-ragu, takut menyakiti lebih jauh.

"jeongguk—"

pergelangan tangannya ditangkap jeongguk. cengkeramannya mengendur perlahan. ia berucap, terseok-seok;

"la-lari, t-tae—"

tak sempat selesaikan ucapannya, tembakan selanjutnya menyusul.

kali ini tepat sasaran.

 

 

 

 

 

taehyung buka matanya tergesa. pelupuknya terasa berat. lenguh keluar dari mulutnya ketika dia topang tubuhnya agar terbangun. seolah baru saja lalui mimpi buruk, badannya terasa remuk. rambutnya lepek. dahi dan pipinya dingin juga lembab.

bedcover terlipat di ujung kasur, tak dipakai taehyung tutupi badannya ketika kantuk datang. dia bahkan tak ingat kapan dirinya jatuh terlelap.

kepalanya berat. denyut nyeri hilang timbul. taehyung beringsut tinggalkan kasur. pelan-pelan. tak mau buat pandangannya semakin berputar.

lantai yang dipijaknya tampar epidermisnya dengan suhu yang rendah. tanpa alas kaki yang tak ditemuinya di kamar, taehyung keluar ruangan.

langit di balik jendela yang gordennya tak tertutup dengan baik perlihatkan gulungan awan keabuan. gerimis di luar tampak pada titik-titik air yang berkumpul pada kaca jendela lalu jatuh ke bawah. makin lama titik-titik itu semakin deras.

ambil kotak obat yang disimpannya di bawah meja kopi di ruang tengah, taehyung keluarkan obat sakit kepala lantas menelannya dibantu teguk air mineral. pahit yang tercecap jauh lebih kentara dari biasanya.

 

 

 

 

 

gerimis di balik jendela lama-lama membesar menjadi badai. kelebat kilat datang bersahut-sahutan dengan gemuruh petir. taehyung tak dapat lihat apa-apa kecuali gedung-gedung yang basah dan mengabur karena lebatnya hujan di luar.

taehyung putuskan buat coklat panas.

sebelum bertemu jeongguk, taehyung tak pernah terpikir seduh coklat panas sendiri. walau tak suka rasanya, taehyung rutin minum kopi. agar terjaga dari kantuk yang dapat distraksi konsentrasi, ia beralasan.

jeongguk yang datang ke rumahnya atas perintah bos mereka buang semua kopi kalengan yang taehyung punya ke dalam wastafel, mengosongkannya satu per satu. tak peduli dia pada protes taehyung si tuan rumah.

dia pergi keluar sebentar setelah memarahi taehyung yang sehari-harinya hanya dapatkan energi dari ramyeon instan.

"elit memintaku mengawasimu. tapi kalau yang kau makan setiap hari adalah ini, kau bisa cepat mati."

taehyung balas mencibir, "sebelum aku mati gara-gara pola makanku yang katamu tak sehat itu, mungkin kau duluan yang mati karena sikapmu yang sok peduli."

jeongguk mendengus sebelum bertolak pergi.

dia kembali dengan dua kresek belanjaan dan sekujur tubuh yang basah karena air hujan. tetesan air yang jatuh dari ujung rambut dan pakaiannya mengekor membentuk jejak.

taehyung ingin balas memarahi jeongguk yang kotori lantai rumahnya. namun tutup mulut saat mug yang terlihat baru disodorkan ke hadapannya. uap mengepul, aroma cocoa gelitik hidungnya.

jeongguk, dengan handuk kecil di puncak kepalanya—handuk milik taehyung, dia mengambilnya tanpa bilang-bilang lebih dulu—berikan senyum simpul;

"cobalah. kau pasti suka."

taehyung duduk menyender pada sofa. mug keramik yang sudah berkali-kali dipakainya terisi penuh oleh coklat panas yang dibuatnya. dia hanya meneguknya sekali. rasanya tak pernah sama seperti coklat panas yang dibuat jeongguk, walau taehyung ikuti langkah-langkahnya persis seperti bagaimana jeongguk menyeduhnya.

dia beranjak ke dapur dan buang likuid coklat dalam mug ke wastafel.

 

 

 

 

 

ponselnya sunyi. notifikasi yang biasa berhamburan sewaktu-waktu absen hadir. periksa apa yang salah, jaringan internetnya lancar tanpa gangguan.

taehyung gugup bila bosnya tiba-tiba beri perintah dan dia tak dapat lakukan apapun. laptopnya sudah remuk dan tenggelam di dasar sungai han beberapa hari yang lalu. misi terakhirnya kacau dan taehyung terpaksa hancurkan semua barang bukti. dia belum dapatkan penggantinya.

jeongguk menyuruhnya untuk bersembunyi dan tak menarik perhatian sementara waktu. polisi-polisi sialan itu bekerja sama dengan agen intelijen, menggelitik organisasi mereka yang terlanjur berjalan di atas pecahan kaca.

satu hal yang paling taehyung benci; para elit tak akan segan memotong ekor mereka. baginya yang tak miliki posisi apapun selain sebagai kacung organisasi, sangat mudah menjadikannya kambing hitam.

bila taehyung enggan tutup mulut dan berniat beberkan informasi yang diketahuinya pada polisi dan intel, sebelum dia melakukannya, nyawanya akan hilang lebih dulu.

sejak awal situasinya tak menguntungkan. mati sudah menjadi ancaman sejak dia diseret masuk dan bekerja di organisasi. menaruh jeongguk sebagai pengawasnya; pria itu selalu siap tarik pelatuk pistolnya bila sewaktu-waktu taehyung perlihatkan gelagat membangkang.

tak ada bagusnya taehyung berikan kepercayaannya pada jeongguk walau sikapnya selalu membuatnya salah paham.

pacu jantungnya melonjak ketika ponselnya berdering. layar tampilkan nama jeongguk. tak menunggu dering kedua, taehyung menjawab.

"halo?"

 

 

 

 

 

segmen cuaca pada program berita sampaikan himbauan untuk tak keluar rumah dan lakukan perjalanan. amuk badai masih belum juga surut. bingkai jendela berderak ribut digedor angin yang membawa serta air hujan, mengamuk.

kurang lebihnya, taehyung tak dapat pergi dari rumahnya. bukan berarti dia butuh langkahkan kakinya ke luar. payung yang disimpannya di dekat rak sepatu raib entah kemana, lagipula. taehyung tak ingat siapa yang mengambilnya. mungkin jeongguk. hanya dia yang sering kunjungi kediamannya.

langit menghitam. malam tiba. kantuk tak mau menghampirinya dan taehyung terjaga sepanjang waktu.

televisi masih tayangkan himbauan serupa, didengungkan berulang-ulang hingga taehyung hapal dengan baris kalimat yang diucap pewarta.

seolah disengaja, taehyung diseret pada stagnasi.

pagi tak pernah datang.

 

 

 

 

 

jeongguk tak jelaskan apapun di telepon selain menyuruh taehyung bersiap dan tunggu dia datang setengah jam lagi. dia tak menunggu respons taehyung dan menutup panggilannya sepihak.

kurang dari setengah jam dari waktu yang dia janjikan, jeongguk tiba di depan kamar motel yang taehyung jadikan tempat menetap sementara. rupa jeongguk yang kacau menarik perhatian taehyung. namun lagi-lagi dia tak mau beritahu taehyung. entah apa yang dilaluinya selama tiga hari tak memberi kabar.

"aku sudah mengurus semuanya," ungkapnya diselipi ambiguitas. "malam ini kita ke pelabuhan," lanjutnya, tak membantu sama sekali. taehyung ingin bertanya. rautnya yang tampilkan itu tak digubris jeongguk.

gestur jeongguk rigid dan terburu. dia berkeliling kamar, mencari sesuatu.

"ponselmu—di mana kau meletakkannya?"

taehyung yang sedari tadi menyakukan ponselnya memperlihatkannya pada jeongguk; yang langsung merebut ponselnya dan membantingnya ke lantai, lantas menginjaknya hingga tak berbentuk.

"sialan—hei! apa yang kau lakukan?!" ponselnya aman. ponselnya baik-baik saja. intel siapapun itu tak akan bisa melacaknya lewat ponselnya. taehyung semakin tak mengerti sikap yang diambil jeongguk.

dia menahannya turun ketika taehyung hendak meraih ponselnya yang kini berubah menjadi bangkai.

"berhenti—kita—kau harus bersiap. malam ini menuju pelabuhan, mereka tak akan tinggal diam. elit sudah membuat keputusan. mereka—mereka ingin kau mati, taehyung! nyawamu dalam bahaya!"

 

 

 

 

 

gelegar petir sadarkan taehyung seolah disengaja. dia merosot jatuh, tungkai kaki kehilangan energi untuk topang tubuhnya. gelenyar pening dirasakannya kembali. lagi. lagi. lagi. tak terhitung sudah berapa tablet aspirin ditelan olehnya.

matahari tak pernah terlihat lagi semenjak pagi tak lagi datang padanya. taehyung rindu langit membiru. yang dilihatnya ketika petir menyambar puncak-puncak gedung tinggi adalah gulungan awan keabuan yang dikaburkan rinai hujan.

taehyung kembali memandang jendela; kilat menyambar berbarengan dengan petir ke arah taehyung.

suaranya tulikan gendang telinga.

(taehyung tak dapat dengar apapun bahkan pacu jantungnya sendiri.)

 

 

 

 

 

mengikuti gema desingan peluru yang ditembakkan;

"—taehyung!"

ada seseorang yang tumbang.

 

 

 

 

 

malam itu, di antara kargo-kargo di pelabuhan, taehyung mati.

tidak ada pemakaman untuknya. mereka membawa mayatnya ke tengah laut dan tenggelamkan dia di sana.

bukan itu yang jeongguk inginkan. dia mau taehyung hidup dan melintas laut dengan selamat sampai ke cina. bukan mati dan terbawa arus air laut lalu menjadi santapan penghuni habitat di sana.

seharusnya, lebih baik apabila jeongguk ikut menemani agar taehyung tak merasa sendiri. namun mereka—orang-orang sialan itu, yang pernah jeongguk anggap sebagai saudara dan rekan kerja—berani-beraninya selamatkan nyawanya.

jahitan di perutnya masih belum kering. rasa sakit yang datang seperti ombak laut; mampir dan pergi.

jeongguk tak butuh nyawanya selamat. harusnya taehyung yang masih bisa bernapas bukan dirinya. harusnya dia bisa melindungi taehyung lebih keras lagi. harusnya. harusnya. harusnya.

kemeja yang dikenakannya kali ini hitam. langit cerah tak berawan seolah merasa tak bersalah ketika tonton banyak peluru disarangkan ke tubuh taehyung. deru angin kencang membawa cecap laut. jeongguk sampaikan rindu pada bentang biru di hadapannya dari sisi pelabuhan.

[]

Notes:

i had mixed feeling while writing this fic. gatau kalo diseriusin nulis emsidi ternyata hdhdbdkd wow transendental. pake narasi non-linear alias plot loncat-loncat sebenernya agak ragu kupake. entah jadinya enak atau engga ke flow ceritanya tapi habis selesai proofreading ternyata lumayan. mungkin kapan-kapan mau pake lagi hihi

terima kasih buat @kakavnda yang udah ngizinin aku nulis ini sampe nunggu lama karena pengerjaannya molor dari target u,u

terima kasih juga buat kamu yang sekarang membaca work ini. feedbacks are all appreciated bila ada yang ingin disampaikan!

xoxo;
mar