Work Text:
Ini bermula pada suatu malam ketika Giyuu terseret menghadiri sesuatu yang mereka sebut sebagai pesta kemenangan. Entah kebetulan atau bukan, sore itu mereka bersembilan tiba membawa laporan misi solo masing-masing, secara serentak di Rumah Wisteria.
Giyuu sudah memikirkan sejuta alasan untuk menolak, tetapi ia dipaksa oleh seseorang yang menarik tangannya dan menyeretnya turut serta.
Dialah gadis itu, yang tengah duduk tepat di seberangnya. Ada nyala api unggun yang meretih-retih, memisahkan mereka berdua. Cahaya merah menyapu wajah-wajah yang mengitari api. Sembilan pasang mata dengan bayang-bayang kegembiraan jatuh dalam rona lembut ketika botol-botol shake digilir dari satu tangan ke tangan berikutnya.
Giyuu sudah kehilangan fokus ketika ada yang melontarkan seruan'ayo main putar botol!'
Tahu-tahu ia sudah berhadapan dengan Uzui. Mulut botol yang berhenti berputar di atas gelondongan kayu itu mengarah padanya.
“Nah, kawan. Jadilah gentleman! Kebenaran atau tantangan?”
“Kebenaran.”
“Pilihan yang bagus, Giyuu.” Sanemi menyela.
“Adakah sesuatu yang baru-baru ini sangat kau sukai dan begitu ingin untuk kau miliki?” Kembali Uzui bertanya.
Pertanyaan macam apa itu?
Terlintas beberapa hal dalam benak Giyuu, tetapi ia belum yakin. “Mmm, salmon daikon?”
“Hah? Apa?”
“Aku sangat suka salmon daikon, dan sangat ingin memilikinya di hadapanku saat ini.”
“Oh, ya ampun. Seharusnya tadi kita membeli semangkuk salmon daikon juga untuk Giyuu-san.” Mitsuri menatapnya prihatin.
“Kau ini tolol atau apa, Giyuu? Perhatikan pertanyaannya.” Suara Sanemi terdengar marah. “Kau ditendang dari permainan.”
Kenapa sih dia? Apa yang salah dari jawaban ini?
Terdengar kekeh tawa di seberangnya.
“Eh, Tomioka-san. Itu tidak terdengar seperti sesuatu yang baru kau sukai, bukan? Kami semua tahu rasa cintamu pada makanan salmon, tapi bukan itu maksudnya.”
Giyuu tidak paham kenapa gadis itu melempar tatapan geli. Keheranan memantul di raut wajahnya.
“Baiklah. Tolong pikirkan lagi, Tomioka-san. Carilah jawabannya sendiri ya.” Gadis itu berkata lagi. Nada final dalam keputusannya. Seolah persetujuannya tak dibutuhkan di sini.
“Seperti kata Sinazugawa-san, kau ter-eliminasi. ”
Bagaimana mungkin? Apakah jawaban dari pertanyaan main-main itu memang seserius ini?
Akhirnya yang Giyuu lakukan di sisa pesta itu hanyalah menyesap shake sebanyak mungkin hingga dunia di matanya menjadi kabur dan berbayang. Kekeh tawa dan suara obrolan teman-temannya memudar di latar belakang saat ia merasa tersingkir lagi.
*
Pertanyaan Uzui itu terngiang dalam benaknya, begitu pula dengan pernyataan gadis itu. Memikirkan bahwa ia masih belum menuntaskan jawaban, rasanya seperti berhutang. Atau, seperti saat pedangnya terayun ketika ia berusaha menekan tusukan mematikan di tubuh iblis, mengira tikaman itu sudah mengenai titik vitalnya, tetapi ternyata iblis itu bangkit di saat lengah dan menikamnya balik.
Detik ketika pemikiran-pemikiran itu mengambil kilas balik, saat itulah ia menyadari darah busuk yang menetes di ujung pedangnya. Rasa nyeri luar biasa menghantam bahu kiri. Ada yang memudar dalam butiran abu ke udara, seiring geraman putus asa yang perlahan lenyap tak bersisa.
Yang Giyuu ingat berikutnya, ia berjalan dengan langkah tertatih, menahan rasa sakit akibat luka. Ketika ada Kakushi yang menghampirinya, ia menerima perawatan pertama tanpa banyak bicara, lalu diangkut menaiki kereta kuda menuju Wisma Kupu-Kupu.
*
Setiap kali Giyuu dibawa memasuki bangsal Wisma itu untuk perawatan, ia selalu ditempatkan di sebuah kamar terpisah, dengan hanya satu ranjang pasien. Mulanya ia tidak begitu peduli dan tidak ingin ambil pusing━sementara sebagian besar pasien berbagi kamar dengan yang lain, ia mendapat keistimewaan menempati kamar sendiri. Hingga Kakushi yang mengantarnya itu mengatakan sesuatu yang membuatnya tergelitik.
“Tempat istirahat Anda di kamar ini seperti biasa, seperti yang diperintahkan Shinobu-sama.”
Sepertinya Kakushi itu kelepasan bicara, sebab ketika Giyuu menatapnya dengan kerutan alis yang menunjukkan rasa ingin tahu, Kakushi itu buru-buru memalingkan muka, sorot mata panik yang kentara di celah tudung cadarnya.
*
Salah satu yang Giyuu sukai tentang kamar ini adalah ketenangan. Juga jendela besar di samping ranjang. Jendela itu menghadap taman bunga. Ia bisa melihat rupa-rupa bunga aneka warna. Biru, ungu, merah, pink, dan oranye. Warna-warna itu menyatu dengan hijau dedaunan yang menopangnya. Cahaya matahari pagi menyiram bedeng bunga itu seperti peragaan visual yang sangat cantik.
Akan tetapi, kupu-kupu yang berputar-putar dan melayang-layang di sekitar bunga itu menambah aura kuat yang semakin semarak.
Serangga bersayap cantik itu melayang-layang mengitari bunga. Beberapa kupu tampak sudah menentukan pilihan hinggap di kelopak bunga yang menarik mereka. Mulai menghisap nektarnya. Giyuu mencoba menghitung jumlahnya, tetapi karena kupu-kupu itu beterbangan dalam pola acak, dari satu bunga ke bunga yang lain, fokusnya buyar dan ia kesulitan mengira-ngira jumlah mereka.
Gelombang rasa takjub memenuhi hatinya. Bagaimana ia baru menyadari pemandangan di balik bingkai itu; jendela kupu-kupu yang seindah ini?
Tanpa sadar, sebentuk senyum samar terbit di bibir. Sepertinya beberapa kupu-kupu kecil melompat masuk dan hinggap dalam dirinya lalu meninggalkan gelitikan senang di sana.
Tiba-tiba Giyuu teringat. Seseorang yang mematenkan kamar ini khusus untuknya. Tepat ketika suara lembut itu menyentak lamunan.
“Tomioka-san? Bagaimana kabarmu?”
Tahu-tahu Giyuu sudah tidak sendirian. Shinobu sudah duduk di kursi dekat kepala ranjangnya. Membawa kotak berisi botol antiseptik, kain kasa, dan beberapa peralatan medis lain yang tidak asing.
“Sedikit lebih baik. Bekas lukanya sudah mulai terasa gatal.”
Shinobu tersenyum simpul. “Bagus, Tomioka-san. Artinya lukamu hampir mengering. Kalau kau beristirahat sehari lagi, dan menghabiskan obatnya, pemulihanmu akan berjalan lebih cepat dan kau bisa segera keluar meninggalkan kamar ini.”
Ada perasaan tidak rela saat memikirkan bahwa ia harus (dan akan) meninggalkan kamar ini.
Giyuu kembali fokus ketika Shinobu meminta izin mengganti perban di bahunya.
Perhatiannya tak luput dari setiap gerakan tangan Shinobu sejak gadis itu melucuti perban kotor di lengannya, lalu mensterilkan bekas luka sebelum mengikatnya dengan perban baru. Shinobu melakukannya dengan perlahan dan hati-hati, tetapi sangat cekatan dan teliti.
Pandangan Giyuu beralih ke jendela dan terpaku di sana. Ada kupu-kupu besar seukuran telapak tangan, hinggap di pucuk bunga yang menyembul dari bawah kusen jendela. Sayap kupu-kupu itu berwarna hitam di bagian tepi, di tengahnya ada corak ungu dan biru. Berkilau dalam pola simetris yang membias dalam gradasi penuh. Sangat indah dan memesona.
Apakah kupu-kupu itu cantik dengan sendirinya atau karena bunga di bawahnya, atau bahkan kerana perpaduan keduanya?
Jawaban itu Giyuu temukan ketika pandangannya teralih kembali pada Shinobu. Tatapan jatuh memindai wajah cantiknya. Ia tercenung. Potongan-potongan puzzle pikirannya segera tersusun membentuk corak seperti dalam sayap kupu-kupu di jendela itu.
Adakah sesuatu yang baru-baru ini sangat kausukai?
Giyuu tak pernah memikirkan tentang dirinya sendiri. Ia tak mengenali sesuatu yang disebut menyenangkan diri sendiri. Hidup dan napasnya didedikasikan untuk membasmi iblis dan melindungi umat manusia. Mungkin mereka benar. Ia sangat buruk karena sering meluputkan momen kecil yang berarti.
Giyuu masih ingat pendar cahaya api unggun yang menyapu wajah Shinobu malam itu. Gambaran itu satu-satunya yang melekat dalam memori, di antara potongan wajah-wajah buram yang mengabur di latar belakang. Kini, menyaksikan gadis itu berada sedekat ini, cahaya pagi yang menerabas jendela, menyiram hangat wajahnya. Jantungnya berdegup kencang.
Merasa diperhatikan, Shinobu menatap balik. Kernyitan terbentuk di dahinya. Tangan lentik itu menekan tempat kain kasa yang sudah merekat kencang di bahunya.
“Apakah terasa sakit, Tomioka-san? Apa ikatanku terlalu kencang?”
Giyuu terdiam oleh sentuhan itu. “Tidak apa-apa. Rasanya sudah baik begini.”
Tangan Giyuu terangkat mengusap perban yang melewati lengan atasnya.
“Kau yakin?”
“Tentu. Terima kasih, Kochou.”
Itu hanya ucapan terima kasih biasa, tetapi ada ketulusan menyenangkan yang terselip di dalamnya. Tanpa sadar, bibirnya menyimpul senyum tipis.
Sepertinya Shinobu bisa melihat gerakan singkat di bibir Giyuu, sebab kemudian gadis itu mengerjapkan mata. Sekilas ekspresi terkejut lewat di matanya, tetapi segera berganti dengan tatapan lembut yang sulit dibaca.
“Terima kasih kembali, Tomioka-san.”
Kupu-kupu gradasi biru-ungu itu masih hinggap di jendela, melenturkan kaki-kaki mungilnya seolah terlarut dalam bunga miliknya tanpa memedulikan yang lain.
Giyuu merapalkan gagasannya dalam bisikan hati. Sesuatu (atau seseorang) yang baru disukai dan sangat ingin untuk dimiliki. Mungkin ia sudah menemukan jawaban itu di sini.
