Actions

Work Header

Halloween Tiba

Summary:

Terkadang apa yang direncanakan tidak sesuai praktek lapangan. (BakuMono)

Notes:

Bnha © Kohei Horikoshi

Work Text:

Drama sakit kepala yang Neito lontarkan kepada ibunda terkasih dan tersayang tidak digubris satu frasa pun. Urat leher nampak saat mengumumkan, "Mama, kepalaku sakit banget, gak bisa ke pasar beli persiapan halloween. Adek aja yang pergi ya, ma?" Tapi yang didapat lemparan spatula sebagai respon.

Sial sekali. Kepala Neito berakhir sakit betulan. Denyut bagian belakang seolah mencemooh akting yang menurut Neito cukup bagus, tapi, sekali lagi, kenapa ibunda tidak percaya? Apa karena Neito keseringan melempar muslihat hingga sang Ibu sudah kenyang dan muak menyaksikannya? Apapun itu. Kenyataan dilempari spatula bukan hal menyenangkan; bahkan menyakitkan. Hanya seorang ahli yang bisa melakukan. Seorang pemula tanpa bimbingan tidak disarankan meniru adegan ini di rumah.

Neito membuka lemari kamar untuk mencari baju yang cukup layak dikenakan ke mall. Hari ini ia tidak mood mengenakan pakaian terlalu bagus, mungkin sebuah jaket tudung bukan pilihan jelek. Neito senyum jumawa mengambil warna ungu. Apa Neito perlu mengenakan aksesoris? Anting abu-abu lusuh di laci lemari ia ambil. Siapa tahu dapat jodoh di mall? Tampil sedikit tampan bukan kriminalitas.

Omong-omong soal jodoh; Neito nirmaniak pasangan hidup, kekasih sejati, atau apalah sebut semua merek. Serius. Ia adalah individu percaya diri akan penampilan, kecerdasan, dan keterampilan berbicara. Menjadi jomblo tidak mengikis aspek cemerlang yang ia punya, tapi bagaimana pun, ia remaja delapan belas yang ingin merasakan senggam–perasaan romansa, lupakan tadi. Perasaan romansa seperti tubuh mendamba kehangatan melalui pelukan, tangan saling berbagi kasih sayang, serta ciuman membara yang panasnya mengalahkan Brad Pitt.

Sekali lagi Neito bukan pendamba komik shoujo, tapi siapa yang tidak kesal–sekaligus iri yang tentu saja sampai mampus tidak akan Neito akui keberadaannya–melihat teman-teman kampus menebar udara merah jambu penyesak dada di setiap media sosal yang ia punya?

"Neito, kapan belanjanya?" teriak sang Ibu dari bawah. Neito buru-buru menuruni anak tangga; mengambil tas belanja, uang, dan masker sebelum sang Ibu dari dapur ke kamarnya mengecek keberadaan yang belum juga berangkat.

"Ma, kakak baru keluar," kata adik melihat si Kakak memakai sandal milik Bapak lalu keluar rumah. Setengah teriak menjawab panggilan Ibu untuk Neito.

"Ya ampun anak itu."


"Lo ngapain lari-lari gitu kaya dikejar anjing?" sapa tetangga melihat gelagat mencurigakan Neito keluar dari rumah. Motor gede diberhentikannya sebentar setelah mendekat ke sosok ungu kuning.

"Eh, si anjing," tanggap Neito dengan ujung bibir ditarik ke atas.

"Anjing lo," sang tetangga siap menggas motor meninggalkan Neito sesudah remaja bermarga Monoma itu nemplok di jok motor. "Anjing, ngapain lu naik motor gua?" tanya sang tetangga tensi darahnya meninggi.

"Lah, lu tadi nawarin gua?" Neito Monoma mengetuk pelan helem sang pengendara motor. "Ya gue naiklah."

"Lo mau ke mana, anjing? Turun lo, beda tujuan. Gue mau beli bahan masakkan," semprot pemilik motor.

"Lo ke plaza daerah sini 'kan? Santai, gue juga kok," kata Neito.

"Dih? Pede gila! Kagak, anjing. Gue mau ke toko sayur di emperan."

"Beli di supermarket aja sih lebih seger."

"Mana ada!"

"Ayolah, Bakugou. Lo 'kan sibuk jadi pro hero tiap hari, masa nemenin teman masa kecil sesekali pas liburan gini ditolak sih? Ayolah!"

Katsuki Bakugou bersiap menyalakan quirknya hendak meledakkan kepala Neito Monoma. "Bacot," pelipis Katsuki berkedut-kedut murka.

Namun, tangan kekar pemilik nama hero Ground Zero itu dipegang Neito. "Lo mau tangan lo gue ledakkin?" Terhenti. Katsuki bukan takut ancaman, hanya saja di hari libur bersama kekasih enggan ia gunakan untuk ribut bareng teman masa kecil najisnya itu.

"Berhubung gue inget kata-kata Shouto untuk segera pulang, gue gak mau berantem sama lo, Mono," Katsuki menghadapkan badan ke motor kemudian menyalakan mesin. "Gue mau ngebut," katanya.

Neito Monoma bingung pegangan ke mana karena motor Katsuki tidak memiliki pegangan belakang maupun samping. "Shouto temen kelas A lo itu? Masih kontakan lo sama dia udah lulus gini?" Neito memegang ujung kaos hitam Katsuki.

"Jangan pegangan ke gua di situ, anjing, geli. Menjijikan," Katsuki brutal menepis tangan Neito. Membuat pemuda di bangku penumpang iritasi bagian emosi.

"Gila lo? Lo ngebut terus gue jatoh gitu gak pegangan? Lagian motor lo jelek amat sih, anjing," kritik Neito.

"Gue beli pake tabungan sendiri jing. Gampang banget lo ngehina. Gue beli ini sengaja biar Shouto gelondotan terus ke gua–"

Neito memotong ucapan Katsuki. "Shouto pacar lo? Lo gay?"

Katsuki enggak suka dengan intonasi Neito. Ia memberhentikan motor. "Kalo gue iya gay terus kenapa? Lo mau gelut sama gua di sini, sekarang, HAH?" Kepalanya mepet ke hidung Neito. Matanya mengkilat amarah. Tangan mencengkram jaket depan Neito.

"Ya, gak apa-apa lo gay, gue kira aja lo hetero."

"Mau gimana lagi? Shouto cantik."

"Betewe," Neito menepis pelan tangan Katsuki dari jaketnya, "muka lo kedekatan sama muka gue, napas lo bau," senyum tipis ia ulas membuat Katsuki menjauhkan kepala, menarik tangan, dan meredam emosi bak magma miliknya yang nyaris tumpah.

"Lo kenapa?" kata Katsuki. "Naksir gue?" tubuhnya kembali fokus ke depan, menyalakan motor.

"Anjing, pede gila," Neito berusaha tertawa serenyah wafer ratusan lapis. "Pemikiran darimana lo, setan?" tanya Neito.

"Lo kagak menghina pilihan gue kaya biasanya kan gitu," tutur Katsuki.

"Oh, Shouto emang cantik kok gue akuin–"

'–Enggak kayak gue,' sambung monolog Neito.

"Lo kagak boleh rebut ye, Tai."

"Lo yang bau, lo yang ngatai gue tai."

"Janji jangan nikung?"

"Wah, enggak tau tuh?"

"Babi."

Katsuki mengencang kecepatan motor semaksimal mungkin. Membikin Neito terkejut dan mencengkram pinggang Katsuki. "Gila lo?" kata Neito.

"Lo yang gila," balas Katsuki.


Neito turun dari motor. Katsuki mengunci kendaraannya, kemudian menaruh helem ke tempat penitipan. Neito mengikutinya. "Lo ngapain?" heran Katsuki.

"Lo punya mata kagak? Bisa liat gue ngapain 'kan?" 

"Kenapa lo gak langsung ke tempat tujuan lo gitu, aduh," pemilik kaos hitam Aji Fry mengusak muka indikasi frustasi parah dengan kelakuan Neito Monoma. "Kenapa masih ngikutin gua? 'Kan tempat tujuan beda," jelasnya berharap lelaki sedikit lebih pendek dari dia SEMENIT SAJA tidak bikin sakit kepala.

"Ya suka-suka gua lah? Lo bukan Tuhan ngatur-ngatur kehidupan gua," cibir Neito membuat Katsuki menyalakan ledakkannya, tetapi Neito sigap mengkopi quirk Katsuki. Kemudian pinggiran mall tempat yang sedikit jauh dari tempat parkir terjadi ledakan.

"Lo TUH–LO TUH– BISA GAK SIH GAK NYEBELIN?" Urat leher Katsuki seperti meminta putus dari tempatnya berada.

"Lo-nya nanggepin gue biasa aja makanya. Jangan marah-marah mulu," Neito mengendikkan bahu seolah semua ini salah Katsuki.

"BANGSAT."

Neito masuk duluan ke mall meninggalkan Katsuki. Kini Katsuki yang mengekori Neito. "TUNGGU, ANJING. URUSAN KITA BELOM KELAR, BABIK."

Kaki jenjang berbalut jeans melangkah ke arah toko aksesoris wanita. Menarik perhatian Katsuki dari amarah. Pemuda pirang bermata merah itu mengerutkan dahi. "Lo mau ngapain, Mono?" Namun masih mengekori Neito.

"Emak gue nyuruh gue beli perlengkapan Halloween, tapi gue inget gue belom punya kostum Halloween," ujar Neito ke rak lemari tempat bando-bando aneh berada.

"Gue gak tau lo tertarik sama permainan kostum kaya Shouto," ucap Katsuki.

"Lo tau soal apa tentang gue? Kita gak lebih cuma tetangga dari kecil. Kagak usah sok tau, ya nyet. Juga lo sejak kapan peduli sama gue?" Neito mengambil bando serigala dan ekor-ekoran berwarna pirang lusuh. Mengendap-endap memasangkannya ke Katsuki. Berharap Katsuki terdistraksi dengan topik obrolan.

"Gue tau kok makanan kesukaan lo," Katsuki melipat tangan di dada. Memindai ingatan apa saja yang ia tahu perihal Neito Monoma. "Gue juga tau lo suka pake aksesoris aneh-aneh kaya anting," ujar Katsuki enggak sadar diri SAAT INI dia juga pakai aksesoris aneh-aneh yang ia bilang anting dari Shouto.

Neito menyalakan kamera ponsel kemudian memfoto Katsuki. "Hahahaha, iya iya," Neito menyimpan buah keisengannya kembali ke kantong jeans. "Gue pake apa ya buat Halloween~" Ia melihat-lihat isi toko. Katsuki ditinggalkan dengan bando telinga serigala dan kaitan ekor-ekoran di belakang baju.

"Lo cocoknya," Katsuki lihat beberapa tisu di rak bawah dekat kaki. Ia mengambilnya. "Jadi mumi." Cekatan merobek bungkus kemudian membekap Neito dengan gulungan-gulungan.

"Katsuki," Neito impuls menoyor kepala Katsuki keras. "ANJING. GUE GAK BISA NAPAS, MONYET."

Teriakan Neito mengundang pasang beberapa mata, lalu seorang wanita berseragam–yang sudah pasti penjaga toko–mengingatkan mereka berdua untuk tidak berisik dan tidak mengacaukan barang dagangan. Karena malu dan gengsi, mereka berdua segera ke kasir dan membayar barang yang mereka mainkan.

"Gila lo," ucap Katsuki begitu keluar toko. "Gue udah punya kostum Halloween, terus beli lagi gara-gara ulah lo," protesnya menenteng bungkusan.

"Ya udah, buat gue aja," Neito enteng melontarkan saran.

"Tai, lo mah tisu-tisu aja lebih cocok." 

"Lo mau ke mana sih, nyet, ngikutin gue mulu dari tadi," kata Neito meniru dialog Katsuki sebelumnya.

"Gue mau beli bahan masakan. Lo yang jangan ngikutin gue."

"Hmm~" Neito jelalatan ke tempat peralatan rumah tangga. "Ya udah, gue ke sana," tunjuknya masih belum mau membeli apa yang disuruh sang Ibu. Anak kurang ajar.

"Gue ikut dah, ngeri lo ngapa-ngapain terus entar ditahan satpam gak boleh pulang."

"Lo kira gue kleptomania?"

"Ya, enggak gitu."

"Sono belanja lu, entar Shouto lo nyariin lo kok ga pulang-pulang. Gue masih lama. Males di rumah."

"Ye lo siapa? Tuhan? Gak usah ngatur-ngatur gue," tanggap Katsuki meniru Neito.

Fin.