Actions

Work Header

fixation

Summary:

Pertama kali Jeongguk biarkan Taehyung duduki jok belakang motornya, dia melakukannya karena terpaksa.

Notes:

brought to you thanks to @monoceroos on twt (230720), elaborasi dari sini.

Work Text:

Pertama kali Jeongguk biarkan Taehyung duduki jok belakang motornya, dia melakukannya karena terpaksa.

Jeongguk beberapa kali bertemu dengan Taehyung di lokasi tongkrongan kawan-kawan satu almamaternya, gedung dua tingkat terbengkalai yang belum rampung dibangun setelah bertahun-tahun lamanya.

Gedung itu berada di pinggir jalan, lima menit dari sekolahnya dengan kendaraan bermotor. Rumput liar tumbuh tinggi di pekarangan tidak terkendali. Lumut merayap di tembok, tak jarang sampai membesar sebagaimana tanaman paku yang dibiarkan mekar tanpa pengawasan.

Saking lamanya ditelantarkan, bangunan itu menjadi tempat strategis untuk mabuk-mabukan sampai lokasi pelacuran saat malam. Jeongguk sering dapati botol-botol miras kosong dan kondom bekas pakai yang dibuang sembarangan di penjuru bangunan, tak terkecuali puntung-puntung rokok yang Jeongguk akui beberapa adalah miliknya.

Jeongguk selalu datang kemari bila ingin merokok sepulang sekolah. Dia tidak bisa melakukannya di rumah. Membakar batang nikotin di area sekolah juga terlalu riskan walau dia lakukan itu di luar jam kegiatan belajar mengajar.

Pemilik warung kecil di sebelah gedung cukup ramah kepada Jeongguk dan kawan-kawannya. Dia tak berpikir dua kali ketika menjual rokok pada mereka. Kadang-kadang bergurau tawarkan amer dan ciu. Dia sengaja tak mengingat nama siswa berseragam yang mampir ke warungnya, menutup mata tentang di mana Jeongguk dan kawan-kawannya bersekolah saat salah satu dari mereka lupa memakai jaket untuk sembunyikan bet lokasi sekolah mereka.

Mingyu, salah satu kawan dekatnya, adalah yang pertama mengajak Jeongguk ke gedung ini. Dia diberitahu oleh kakak kelas mereka yang sudah lebih dulu datangi tempat ini secara rutin. Telah menjadi rahasia umum di antara siswa mereka kalau tempat ini adalah tongkrongan murid-murid nakal di sekolahnya. Jeongguk tidak mau menyebut dirinya sebagai murid nakal. Merokok di tempat ini pun semata-mata karena dia tidak mau ketahuan. Tidak semua yang datang ke tempat ini memiliki tujuan yang sama dengan Jeongguk. Beberapa mampir sekadar ingin berkumpul dengan kawan-kawannya.

Sore itu Taehyung datang dengan Jimin. Jeongguk sudah sampai lebih dulu dengan Mingyu dan Yugyeom, menunggu Eunwoo dan Jaehyun yang masih memiliki urusan di sekolah.

Di sana, angkatan tidak berpengaruh. Kakak kelas dan adik kelas tidak sungkan berbaur bila bertemu. Jeongguk sempat mengira kalau Taehyung dan Jimin, yang berada satu tahun di atasnya, akan bergabung dengan Jeongguk dan dua temannya. Namun mereka hanya sempat saling menyapa, sebelum Jimin lebih dulu naiki tangga menuju lantai dua dan disusul oleh Taehyung. Jeongguk tidak memusingkan tentang apa yang mereka lakukan di atas dan nyalakan rokoknya yang kedua.

Eunwoo dan Jaehyun sampai lima belas menit kemudian. Tak lama setelah itu, Jimin turuni tangga dengan terburu. Langkahnya menggema ke seluruh penjuru gedung. Taehyung menyusul di belakang sembari meraung memanggil Jimin. Dari suaranya dia terdengar kesal. Mau tak mau Jeongguk menoleh ke arah tangga.

Dari yang Jeongguk tangkap saat dengarkan argumen kakak kelasnya, Taehyung mempermasalahkan Jimin yang sudah berjanji akan memberi tumpangan pulang untuknya, namun justru malah berniat meninggalkannya duluan karena panggilan darurat dari sang pacar.

Sebetulnya, masih ada transportasi lain yang bisa Taehyung gunakan untuk pulang. Ojek online beroperasi sampai larut malam. Bila ingin lebih murah, angkot yang berlalu-lalang hingga pukul delapan malam bisa dijadikan pilihan. Tergantung pada Taehyung ingin memilih yang mana. Sekarang baru saja pukul setengah lima sore.

Jimin tak menghiraukan Taehyung. Selesai turuni tangga, dia melihat ke arah Jeongguk dan panggil namanya. Jeongguk angkat tangannya untuk membalas panggilan Jimin sambil rekahkan senyum canggung. Jimin berjalan ke arahnya, diikuti oleh Taehyung yang menghampiri mereka dengan kekesalan yang masih kentara di wajahnya.

“Guk, rumah lu lewat Ciledug, kan? Si Taehyung nebeng boleh ga?”

Karena tidak enak bila menolak permintaan kakak kelas, Jeongguk menyanggupi. Jimin tepuk punggungnya lumayan keras, ucapkan terima kasih sebelum berbalik ke arah Taehyung.

“Nih Jeongguk mau, Tae. Gue cabut duluan, ya? Besok gue beliin Ultramilk deh pas istirahat pertama.”

Taehyung tidak langsung membalas. Air mukanya semakin keruh dengan alis yang menukik tajam. Mulut terbuka namun kembali mengatup. Hela napas yang keluar setelahnya longgarkan emosi di ubun-ubun.

“Ya udah deh, sana.”

Takut kawannya berubah pikiran, Jimin langsung pergi meninggalkan gedung. Taehyung kembali menghela napas, mengambil selembar koran dan menggelarnya di sebelah Jeongguk.

“Kalo lu keberatan, gue bisa balik sendiri sih, sebenernya. Naik angkot.”

“Gapapa, Kak.” Jeongguk meringis. “Udah ngeiyain juga gue sama Kak Jimin.”

“Beneran? Bukan gara-gara terpaksa, kan?” Mingyu di sampingnya tersedak. Jeongguk tidak menyanggah ataupun mengiyakan.

“Tai sih si Jimin,” Taehyung lanjut mendumel, “narik gue ke sini buat curhat, tapi abis ditelepon sama pacarnya malah ninggalin gue gitu aja.”

Kawan-kawannya ikut masuk ke dalam obrolannya dengan Taehyung, berputar pada topik kesetiakawanan teman yang diuji karena eksistensi seorang pacar. Pukul lima lebih dua puluh menit, Jeongguk mengajak Taehyung pulang.

Satu minggu kemudian, Jeongguk dapati Taehyung di seberang sekolah mereka menunggu angkot datang. Dia hentikan motornya di depan Taehyung, angkat kaca helmnya.

“Jeongguk?”

“Mau balik, Kak?”

“Iya.”

“Gak sama Kak Jimin?”

Taehyung mendengus sebal. “Baliknya sama Seulgi dia. Taulah gimana yang pacaran.”

Melihat reaksi kakak kelasnya, Jeongguk terbahak. Dia tepuk-tepuk jok belakang matic-nya. “Nebeng ke gue aja lah sini, Kak.”

“Eh, boleh?” Taehyung miringkan kepalanya. “Gak repotin emang?”

“Santai, Kak. Sejalur ini kan rumahnya. Mau gak?”

“Ya mau, lah.”

Setelah kali kedua Jeongguk berikan tumpangan pada Taehyung, dia jadi tak segan ajak Taehyung pulang dengannya tiap ada kesempatan. Kadang-kadang Taehyung duluan yang meminta ikut, terutama bila mereka bertemu di tongkrongan. Dia juga sempat memaksa untuk membayar bensin sebagai ganti ongkos. Namun Jeongguk hanya membiarkannya sesekali. Uang saku yang diberikan Mama tiap hari sudah termasuk uang bensin. Pulang dengan Taehyung atau tidak, tak akan membuat bahan bakar motornya habis lebih cepat.

“Kalo mau, jajanin gue seblak depan sekolah aja, Kak,” usul Jeongguk. Taehyung dengan senang hati menyanggupi.

*

 

 

Saking seringnya Jeongguk pulang dengan Taehyung, dia sampai sengaja membawa helm cadangan dari rumah. Seokjin bertanya mengenai alasan Jeongguk membawa dua helm ke sekolah ketika adiknya baru sampai di rumah:

“Udah punya pacar nih, sekarang?”

“Mana ada,” timpalnya sinis. Tak menunggu respons kakaknya, atau menjelaskan lebih lanjut tentang siapa yang dia pinjami helmnya, Jeongguk melengos pergi ke kamar untuk mengganti pakaian.

Sesudah dapatkan Sim C saat libur kenaikan kelas menuju tahun keduanya kenakan seragam putih abu, Jeongguk diizinkan Papa membawa motor ke sekolah. Tidak lama setelah itu, Jeongguk membeli helm baru.

Jeongguk tidak pernah menggunakannya. Dia juga tidak membiarkan siapapun meminjam helmnya. Seokjin hafal, adiknya sengaja menyimpannya untuk saat-saat tertentu, berharap kalau suatu hari pacarnya akan memakainya. Makanya, tak aneh bila abangnya ingin tahu apakah Jeongguk sudah punya pacar atau belum.

Tidak ada yang salah dengan pertanyaan Seokjin. Hanya saja Jeongguk merasa sedikit terusik karenanya. Setelah kantongi restu Papa untuk membawa motor ke sekolah, hal pertama yang terpikirkan di benaknya adalah betapa mudahnya ia nanti lakukan pendekatan untuk dapatkan pacar. Motor jadi modal utamanya habiskan kebersamaan dengan gebetan saat pulang dan pergi ke sekolah.

Jeongguk tidak merasa malu saat beberkan kepada teman-teman dekatnya, bila ia suka bayangkan tangan pacarnya melingkar di perutnya ketika dia kencangkan gas dan buat motornya melaju lebih cepat, menunggu pacarnya di depan rumahnya saat mereka hendak berangkat ke sekolah, dan melihat pacarnya menghilang di balik pagar rumahnya ketika Jeongguk antarkan dia pulang sore harinya. Berharap jika helm yang dia beli jauh-jauh hari akhirnya dapatkan pemilik.

Alih-alih dipakai oleh pacar yang masih belum dia miliki sampai sekarang, Jeongguk biarkan Taehyung pinjam helmnya. Jeongguk tidak memusingkan apakah Taehyung memiliki helm sendiri atau tidak. Dia juga tidak meminta Taehyung membawa helmnya sendiri karena mereka hanya pulang bersama. Pikirnya sekarang, siapapun yang dibonceng olehnya bisa menggunakan helmnya. Seakan-akan tujuan awal Jeongguk ketika membeli helm itu pada awalnya menguap begitu saja, rasionalkan pada alasan keamanan berkendara yang jelas lebih utama.

*

 

 

Jeongguk takut membaca terlalu jauh, namun dia merasa interaksinya dengan Chaeyoung selama beberapa minggu terakhir tiap kegiatan paskibra buat mereka jadi lebih dekat dari sebelumnya.

Dia lagi-lagi tak sungkan ceritakan gelisahnya di tongkrongan. Kawan-kawannya tahu perihal cita-cita kecilnya mengantar jemput pacar. Mayoritas dari mereka dorong Jeongguk supaya dia petrus saja kawan satu ekstrakulikulernya itu.

Jimin yang kebetulan datang setelah lama tidak muncul ikut beri dukungan. Dia sampai menawarkan bantuan; pacarnya Seulgi, senior Jeongguk di paskibra. Jimin bisa saja meminta Seulgi bertanya pada Chaeyoung mengenai tanggapannya tentang Jeongguk. Kalau jawabannya positif, Jeongguk tak perlu ragu mengejarnya.

Jeongguk tak tahu mesti bagaimana dia sikapi tawaran Jimin. Dia berikan balasan ambigu, antara mengiyakan dan menolak. Dia butuh masukan lain. Dia lirik Taehyung yang curahkan perhatiannya pada ponsel di tangan. Sepanjang Jeongguk curhat, tidak sekalipun Taehyung berikan komentar.

Setelah berulang kali pulang bersama, Jeongguk dan Taehyung sering bertukar obrolan ringan hingga topik yang lumayan berat. Entah itu mereka lakukan di kios bakso tak jauh dari sekolah, atau ketika mereka hendak mengambil motor Jeongguk di parkiran, dan berlanjut di atas motor dalam perjalanan pulang menuju rumah Taehyung. Kalau percakapan mereka terlalu seru untuk ditinggalkan, Taehyung kadang mengajaknya mampir dulu ke rumahnya. Jeongguk tak pernah menolak.

Tidak berbeda jauh dengan obrolan-obrolan mereka sebelumnya, kali ini, di tongkrongan, Jeongguk berharap dapat mendengar tanggapan Taehyung. Namun dia tidak mendapatkannya sampai mereka bertolak pulang.

Taehyung masih tidak bersuara saat mereka dalam perjalanan menuju rumahnya. Jeongguk putuskan untuk langsung bertanya ketika Taehyung lepaskan helmnya.

“Yang dibilang anak-anak tadi, menurut lu gimana, Kak?”

Jeda diberikan Taehyung sebelum membalas Jeongguk, seolah dia tidak ingin menjawab pertanyaannya.

“Kalo lu emang suka sama dia, ya ... kejar aja.”

*

 

 

Pada pertemuan ekstrakulikuler selanjutnya, Jeongguk beranikan diri tawari Chaeyoung tumpangan pulang. Panas dingin dia saat ajak Chaeyoung bicara tak lama setelah latihan hari itu usai. Beruntungnya Jeongguk, Chaeyoung menerima ajakannya.

Mereka berjalan bersisian menuju parkiran sekolah. Jeongguk merasa situasi mereka terlalu canggung. Dia memutar otak bagaimana memecah sunyi di antara mereka. Kalau dengan Taehyung, Jeongguk tak akan sungkan melempar topik apapun, meskipun itu sesepele kaos kaki sepuluh ribu tiga yang sering Taehyung beli tiap CFD karena dia terlalu malas mencuci kaos kakinya sendiri.

Panjang umur sekali dia. Baru saja Jeongguk memikirkannya, dia malah berpapasan dengan Taehyung di koridor menuju parkiran. Mereka tidak pernah pulang bersama setiap Jeongguk latihan paskibra. Taehyung selalu pulang lebih dulu.

Tentu saja Jeongguk menyapa Taehyung, tanyakan mengapa dia masih berada di sekolah ketika langit di ufuk Barat tumpahkan oranye di atas lembayung. Sedikit lucu bila dibandingkan dengan waktu yang bisa dihabiskan mereka di tongkrongan hingga bintang yang takut dengan matahari memperlihatkan diri.

Taehyung sekilas perhatikan Chaeyoung sebelum kembali pada Jeongguk. Simpul bibirnya tipis. Dia bilang dia habis mengerjakan tugas kelompok, dan kini sedang menunggu teman sekelasnya yang belum juga kembali dari toilet. Dia harus menjaga tas temannya.

Jeongguk tak bertanya apakah Taehyung akan pulang sendiri atau bersama dengan temannya yang dia jagai tasnya. Jeongguk tidak dalam situasi yang bisa menawarkan hal itu. Dia sudah mengajak Chaeyoung lebih dulu.

Jeongguk merasa tak enak, tapi akhirnya dia pamit untuk pulang mendahului Taehyung. Dia tak memberitahu Taehyung secara eksplisit kalau dia akan pulang dengan Chaeyoung, tapi Jeongguk pikir Taehyung menangkapnya dengan baik. Taehyung menyuruhnya untuk tidak ngebut, lagipula.

*

 

 

Semakin ia merasa dekat dengan Chaeyoung, Jeongguk justru melihat dirinya menjauh dari Taehyung. Helm yang semula sering dipakai oleh Taehyung kini digunakan Chaeyoung setiap kali mereka pulang bersama, yang hitungannya sekarang tak bisa hanya gunakan dua tangan Jeongguk.

Ketika ia tidak pulang dengan Chaeyoung, Taehyung tolak ajakannya. Dia juga absen tiap Jeongguk pergi ke tongkrongan. Semakin sulit untuk Jeongguk bertemu dengan Taehyung. Pun chat yang dia kirimkan hanya dibalas seperlunya.

Penghujung semester datang tak lama setelah itu. Sertijab paskibra buatnya terdampar di posisi wakil ketua. Anggota yang berada di kelas tiga resmi turun. Tak akan lagi Jeongguk temui mereka ikut latihan pada pertemuan-pertemuan selanjutnya.

Progres hubungannya dengan Chaeyoung temui titik stagnan yang kemudian merosot jatuh bersamaan dengan dimulainya semester baru. Jeongguk tidak berusaha kejar ketertinggalannya. Ketidakcocokan yang mereka berdua rasakan tak berusaha mereka tutupi. Memaksakan diri untuk melanjutkannya tak akan dapatkan hasil yang bagus. Chaeyoung beritahu dia lewat chat, lebih baik mereka berteman saja. Jeongguk menyetujuinya tanpa kesulitan.

Gagalnya pendekatan dengan Chaeyoung buat Jeongguk berpikir ulang tentang pentingnya eksistensi pacar untuk fase remaja yang sedang dia jalani. Ide tentang miliki pacar cukup menyenangkan, tapi dia lupa kalau keberadaan teman juga sama-sama penting.

Jeongguk ingat Taehyung.

Kelas tiga makin sibuk dengan persiapan ujian kelulusan dan persiapan masuk kuliah. Taehyung makin sulit dihubungi. Tanyakan kabarnya lewat Jimin, yang dia dapatkan adalah ringisan di wajah.

Dia beranikan diri datangi kelas Taehyung, setelah Jeongguk beberapa kali mencoba bertanya kabar Taehyung lewat chat dan tidak ada tanda-tanda kalau mereka bisa kembali seperti sebelum Jeongguk putuskan untuk mengejar Chaeyoung.

Sepertinya dia juga perlu meminta maaf pada Taehyung. Tahun lalu, ketika Jeongguk biarkan Taehyung duduk di jok belakang motornya untuk pertama kali, mereka berbicara mengenai kesetiakawanan teman yang dibuat goyah karena atensi mereka berpindah pada sang pacar. Sore itu Taehyung tidak berhenti mencibir Jimin yang sampai tega meninggalkannya begitu saja karena terlalu senang setelah sempat bertengkar, pacarnya menghubungi untuk meminta berbaikan. Mungkin situasi Jeongguk sekarang tidak begitu berbeda dengan Jimin.

Karena tidak tahu bagaimana dia harus meminta maaf, setelah berhasil mencegat Taehyung di pintu keluar, yang Jeongguk lakukan adalah mengajak Taehyung pulang bersama.

“Sori, Guk. Kayaknya gabisa. Abis ini gue mau ke tempat bimbel sama yang lain soalnya.”

Taehyung menolaknya. Tapi Jeongguk tidak bisa hanya berhenti di titik ini. Tujuannya datang menemui Taehyung adalah untuk memperbaiki hubungan pertemanan mereka yang renggang. Jeongguk harus cepat pikirkan solusi lain.

“Kalo gitu, besok berangkat bareng sama gue mau gak, Kak?”

Saat Taehyung mengambil jarak sebelum membalas, Jeongguk was-was. Ekspresi wajahnya, matanya yang tidak mau temui pasang manik coklat Jeongguk, seakan tidak ingin berikan jawaban yang sesungguhnya. Seperti ketika Jeongguk bertanya apakah ia perlu mengejar Chaeyoung atau tidak. Ketimbang teman-temannya, ternyata Jeongguk lebih menantikan tanggapan Taehyung tentang bagaimana dia harus mengambil keputusan.

“... boleh.”

Jawaban Taehyung membuat dadanya lega seketika.

*

 

 

Tidak ada yang lebih menyenangkan ketimbang dapati Taehyung kembali memakai helmnya. Taehyung sempat terlihat ragu ketika mengambil helm yang Jeongguk sodorkan padanya sesaat setelah dia keluar dari pagar rumahnya.

Sepanjang perjalanan, keduanya diam. Jeongguk seolah meniti pecahan kaca. Apa yang dirasakannya sekarang lebih buruk dari pengalaman pertamanya membonceng Chaeyoung. Taehyung tak menunggunya titipkan helm di koperasi dan meninggalkannya dengan alasan jadwal piket kelas.

Karena itu, Jeongguk menahan diri untuk kembali mengajak Taehyung pulang bersama. Dia juga masih belum yakin bagaimana dia bisa memperbaiki hubungan pertemanannya dengan Taehyung. Namun kekhawatirannya yang dirasa terlalu berlebihan ditepas begitu saja oleh Taehyung yang menunggunya di depan koperasi sekolah, meminta tebengan pulang pada Jeongguk.

Setelah itu, berinteraksi dengan Taehyung menjadi lebih mudah. Jeongguk hampir percaya kalau hubungannya dengan Taehyung kembali seperti semula. Bukan hanya pulang, kini Jeongguk dan Taehyung juga pergi ke sekolah bersama. Minus ketika Taehyung harus pergi bimbel dan hari di mana Jeongguk latihan menggerek bendera, juga tentu saja saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, mereka hampir selalu menempel pada satu sama lain.

Namun jelas ada hal yang berubah dari hubungan mereka. Atau mungkin hanya Jeongguk yang merasakannya.

Jeongguk bandingkan Chaeyoung dan Taehyung, tentang pengalamannya membonceng keduanya. Alih-alih lingkarkan tangan ke perutnya seperti yang pernah Chaeyoung lakukan saat Jeongguk iseng tancap gas dan tak menurunkan kecepatannya ketika lewati polisi tidur, Taehyung lebih suka meremat jaket Jeongguk di bagian pinggang. Istilah yang pernah didengarnya mengenai puluhan kupu-kupu yang kepakkan sayapnya bersamaan dalam perutnya dia rasakan ketika Taehyung melakukannya lagi.

Lalu Jeongguk terbangun di tengah malam dan temukan celananya dalam keadaan basah dengan perasaan campur aduk.

Jeongguk bermimpi. Bukan pengalaman perdananya, tentu saja. Meskipun begitu, objek mimpinya kali ini bukan perempuan yang wajahnya tak akan bisa Jeongguk ingat saat tersadar. Dapati Taehyung di bawahnya melenguh sembari terputus-putus memanggil namanya, otaknya mendadak korslet.

Jeongguk tak bermaksud untuk meminimalisir kontak langsung dengan Taehyung. Tiap mereka tak sengaja bersentuhan, memori tentang mimpinya menyeruak masuk. Jeongguk kesulitan tiap dia berusaha mengusirnya dari kepalanya.

Lama-lama, Taehyung sadar dengan perubahan sikap Jeongguk, yang dia kira tak begitu kentara. Taehyung kemukakan kekhawatirannya. Jeongguk menepisnya dengan halus, membelokkan alur pembicaraan mereka pada kesiapan Taehyung hadapi ujian nasional minggu depan. Taehyung tak yakin bila dia bisa merasa siap dengan apa yang akan dia hadapi nanti.

“Oh, Jeongguk?”

“Yup.”

“Abis UN, ingetin gue ya. Ada yang pengen gue omongin sama lu.”

Taehyung tak memberitahu Jeongguk perihal apa yang ingin Taehyung bicarakan dengan Jeongguk selepas ujian nasional. Tapi Jeongguk yakin kalau dirinyalah yang merasa tidak siap dengan apa yang akan dia hadapi nanti.

*

 

 

Jeongguk mematung. Mulut terbuka lantas mengatup beberapa kali. Dia bingung menggambarkan situasinya. Kepalanya seakan hendak meledak, namun kosong di saat yang bersamaan.

Taehyung baru saja menyatakan perasaannya.

Bukan perasaan platonis yang dibagikan antar teman, namun perasaan mendalam yang jatuh pada sentimen romantis.

Taehyung suka padanya.

“Kalo lu ngerasa jijik sama gue ...,” kedua tangannya terkepal. Lagi, dia tak mau melihat Jeongguk tepat di mata. “Ah, mungkin sekarang lu beneran jijik sama gue. Tapi gue gak bisa ngontrol sepenuhnya siapa yang bisa gue suka. Dan lu bikin semuanya jadi lebih susah. Kalo habis ini lu gak mau ketemu sama gue lagi—”

“Kak.” Jeongguk tidak mau Taehyung melanjutkan ucapannya. Dia butuh memprosesnya dengan kepala dingin. “Kasih gue waktu, ya?”

*

 

 

Setelah melewati ujian nasional, kelas tiga tidak diwajibkan datang ke sekolah sebagaimana dua tingkat di bawahnya. Mereka hanya datang untuk mengatasi kebosanan menunggu pengumuman kelulusan dan persiapan masuk perguruan tinggi.

Jeongguk tak lagi berbelok menuju rumah Taehyung dalam perjalanannya menuju sekolah, pun ketika dia pulang. Dia berhenti berkomunikasi dengan Taehyung, yang juga tidak menghubunginya sama sekali. Jeongguk sempat curiga bila Taehyung memblokir kontaknya, namun dia bernapas lega ketika melihat status Taehyung di antara status teman-temannya di Whatsapp.

Seperti mimpinya tentang Taehyung, memorinya tentang pernyataan Taehyung padanya urung meninggalkan kepala Jeongguk. Berulang kali dia jatuh dalam lamunan, memikirkan Taehyung lagi dan lagi. Jeongguk berusaha mencerna pergolakan batin yang tidak pernah dia sadari ada sedari awal.

Tapi Jeongguk kemudian sadar, Taehyung spesial.

Dia bahkan tidak merasa bersalah ketika dia ingkari janjinya pada Mingyu dan teman-temannya yang lain saat mereka menunggu di tongkrongan. Tapi dia merasa tak enak bila harus menolak ajakan Taehyung.

Taehyung bukan sekadar teman bagi Jeongguk. Dia lebih dari itu.

Tentang bagaimana Jeongguk membiarkan Taehyung gunakan helmnya sejak awal, yang sengaja Jeongguk beli jauh-jauh hari sebelum itu dengan tujuan untuk digunakan oleh pacarnya, siapapun itu.  Tentang bagaimana rutinitas pulang perginya dengan Taehyung adalah yang ia cita-citakan bisa dia lakukan dengan pacarnya ketika Papa izinkan Jeongguk membawa motor ke sekolah. Tentang bagaimana, dua minggu yang dia habiskan tanpa Taehyung sisakan lubang di dadanya.

Sayang sekali, Taehyung bukan pacar Jeongguk. Sama sekali tak terpikir olehnya Taehyung bisa menjadi pacarnya. Namun, Chaeyoung yang diharapkannya akan menempati posisi itu tak meninggalkan impresi kuat seperti Taehyung.

Ah...

Waktu yang diberikan Taehyung sepertinya lebih dari cukup. Jeongguk tak mau membuang-buang waktu lagi setelah dia temukan jawaban untuk membalas konfesi Taehyung.

Jeongguk menghubungi Taehyung saat itu juga. Tak menunggu balasannya datang, dia berlari menuju garasi dan nyalakan motornya. Dia butuh bertemu dengan Taehyung sesegera mungkin.

Dia ingin Taehyung menjadi pacarnya.

[]