Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Categories:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2020-12-07
Words:
2,177
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
10
Hits:
117

kenangan hari festival

Summary:

Jimin tidak ingin Yoongi sampai berkata, "Yang kamu cintai itu musikku, bukan aku."

Notes:

komisi dari reinjooniie. terima kasih banyak! :)

Work Text:

Jimin langsung mengenali orang yang berdiri di luar toko. Wajahnya tampak jelas di balik kaca pintu - wajah yang tak berubah sejak masa kuliah. Yoongi hyung. Datang ke toko ini. Kendati itu wajar, sebab Yoongi pecinta musik sejati, tetap saja Jimin berdebar.

 

Cita-cita Jimin adalah jaksa penuntut, maka dia berkuliah di fakultas hukum. Yoongi adalah kakak tingkatnya, satu angkatan di atasnya. Dia pendiam, irit bicara bahkan bila bersama teman-temannya. Jimin pun hampir tak memperhatikan Yoongi - sampai pada suatu festival kampus.

 

Penampilan Yoongi saat ini persis dengan hari festival: jaket hoodie kuning muda, helai-helai rambut mengambang tertiup angin. Di bahunya tersandang ransel hitam; di mata Jimin, tali ransel bersilih dengan imaji tali gitar. Petikan senar dan nyanyian Yoongi mengiang di telinganya, dan dia lagi-lagi berdebar.

 

Yoongi menaikkan tudung hoodie hingga menutupi setengah kepala. Dengan satu tangan, dia mendorong pintu, dan melangkah ke dalam toko. Tanpa melirik ke arah Jimin, yang berjaga dekat deretan drum, Yoongi menghampiri gantungan dinding tempat gitar-gitar dipamerkan.

 

Jimin maju sampai dia berdiri di belakang Yoongi. Walau pasti merasakan kehadirannya, Yoongi tidak menoleh. Dia tetap mengamati gitar dengan kedua tangan terbenam di saku jaket. Ingatan Jimin pun melayang pada hari festival kampus yang tak terlupakan itu.

 

Panitia memberikan jatah dua jam untuk acara musik. Selama itu, band dan solois kampus tampil secara bergantian. Saat giliran Yoongi tiba, Jimin kebetulan melewati panggung - dan terpaku di tempat.

 

Tanpa diberi tahu, dia bisa menerka bahwa lagu Yoongi adalah gubahannya sendiri. Lirik lagunya, tentang kepergian sahabat, begitu jujur, nyaris memilukan. Suara Yoongi naik turun, jemarinya memetik senar dengan sepenuh hati, matanya separuh terpejam karena larut dalam musik. Keramaian di sekitar panggung seolah surut dan menjauh; Jimin menangkap tiap kata yang melukiskan luka jiwa Yoongi.

 

Penampilan Yoongi pada festival begitu membekas di hati dan benak Jimin. Membangkitkan rindu pada penampilan Yoongi berikutnya, serta pada keberaniannya mengungkapkan isi hati paling pribadi. Lambat laun Jimin tersadar: dia jatuh hati pada keberanian itu - pada Yoongi sendiri. Sebuah perasaan yang dia simpan hingga kini, sebab enggan membebani kakak tingkatnya dengan perasaan yang tak mampu dia balas.

 

Kini Jimin tersenyum dan menyapa, "Yoongi hyung, sedang cari gitar baru?"

 

Sesaat Yoongi bergeming. Perlahan dia memalingkan wajah. Ketika tatapan mereka bertemu, alisnya terangkat. "Park Jimin?"

 

"Ya. Apa kabar?"

 

Sebuah emosi memijar di mata Yoongi. Bukan terkejut - gembira? Senang karena berjumpa sesama alumni? Tapi Jimin hanya satu dari sekian adik tingkat, jarang mengobrol dengannya.

 

Emosi tadi meredup, dan ekspresi Yoongi kembali datar. "Baik." Dia menurunkan tudung hoodie. "Kamu kerja di sini?"

 

"Untuk sekarang, iya, sambil kirim-kirim lamaran kerja. Dipanggil wawancara sudah dua kali, tidak lolos dua-duanya."

 

Yoongi mengangguk singkat.

 

"Hyung sehat? Kegiatannya apa sekarang?"

 

"Jadi produser junior di label rekaman."

 

Mata Jimin berbinar. "Wah! Produser? Hebat! Pas sekali dengan minat hyung! Nama labelnya apa?"

 

"Label kecil, kamu tak akan tahu."

 

"Beri tahu saja! Nanti aku follow dan promosikan akun media sosialnya."

 

Kembali Yoongi menaikkan alis, seperti heran mengapa Jimin berminat dengan kantornya. Namun, dia menyebutkan juga nama label rekaman beserta akun media sosialnya. Selagi Jimin mencatat di ponsel, Yoongi menjelaskan, "Yang kami kontrak kebanyakan musisi hip-hop dan R&B. Aku cari gitar baru, soalnya sedang bikin versi akustik lagu-lagu kami."

 

"Gitar lamanya mana? Yang pernah hyung pakai manggung di kampus?"

 

"Sudah kuberikan pada sepupuku."

 

Terasa ada serpihan kecil rontok dari hati Jimin, seolah dialah yang kehilangan gitar. Padahal itu gitar kenangan bagiku. Bunyinya mengiringi nyanyian Yoongi hyung saat festival - dan sejak hari itu aku tak bisa memikirkan orang lain.

 

Berusaha menepis rasa kehilangan, dia menunjuk gantungan dinding. "Ini semua jenis gitar yang toko kami punya. Lihat-lihat saja dulu."

 

Alih-alih memandang gitar, Yoongi ganti mengamati Jimin. Ekspresi kakak tingkatnya itu masih sukar terbaca, tapi tanpa kesan menyelidik. Kecuali Jimin berkhayal, dalam ekspresi itu terkandung peduli - perasaan yang baru kali ini tertuju pada Jimin.

 

Sekadar senang karena berjumpa sesama alumni? Jimin semakin tidak yakin.

 

"Kamu ingat, aku pernah mangggung di kampus pakai gitar lama?" tanya Yoongi. Jimin mengiakan, dan Yoongi berkata, "Aku juga ingat, kamu tepuk tangan paling keras. Sampai teriak, 'Min Yoongi!' segala."

 

Kontan wajah Jimin memerah. "Ah... hmm, norak, ya?"

 

"Tidak. Beberapa kali manggung di kampus, itu sambutan paling positif atas laguku. Aku menggubahnya dengan mencurahkan segenap jiwa, makanya senang sekali ada yang suka. Terima kasih banyak, Jimin."

 

Di luar dugaan, Yoongi tersenyum lebar. Sinar matanya memancarkan gembira yang tulus, hingga Jimin terkesima. Selama Jimin mengenal Yoongi, kakak tingkatnya itu selalu berwajah serius. Menurut teman-temannya, dia bisa bercanda, tapi jarang.

 

Kini Yoongi tersenyum - berkat apresiasi Jimin atas karyanya. Jantung Jimin berdebar untuk kali ketiga, jauh lebih kencang daripada sebelumnya.

 

Hyung tersenyum seperti ini, sebahagia ini, karena aku. Hyung, kalau aku bersamamu, akan kupastikan hyung selalu bahagia. Bukan hanya tentang karya - juga karena ada aku yang menyayangi dan menjaga hyung.

 

Tiba-tiba jengah oleh angannya yang ketinggian, Jimin bergegas menuju meja toko. Dia membuka laptop dan menyibukkan diri, memeriksa ulang arsip pembukuan. Yoongi tak berkomentar, rupanya tidak merasa bahwa sikap Jimin janggal.

 

Dia mendatangi gitar yang dipajang satu persatu. Sesekali dia menurunkan satu gitar dan memeriksanya. Gerakan Yoongi pelan dan sabar; bahkan jaketnya tak bekersik dan sol sepatunya tak menggesek lantai. Keheningan ini nyaman, damai; keheningan yang Jimin harapkan berlangsung lama.

 

Ini kali pertama mereka hanya berdua saja. Setiap mereka berpapasan di kampus, suasana sekitar selalu hiruk pikuk. Teman-teman mereka, mahasiswa jurusan lain, dosen dan pegawai kampus berlalu lalang - sedetik pun tak ada sepi. Keramaian itu memadamkan nyali Jimin bahkan untuk sekadar bertanya: Halo, hyung. Sudah bikin lagu baru? Genre-nya apa?

 

Dulu Jimin sempat lega tak pernah bertanya. Salah-salah, dia dikira adik tingkat sok cari perhatian. Sekarang, setelah tahu betapa gembira Yoongi bila karyanya dihargai, dia menyesal.

 

Yoongi tiba di ujung gantungan dinding. Dari sana, dia berbelok menuju meja. Jimin mendongak dari laptop dan menutupnya. "Ketemu yang cocok?".

 

"Mungkin. Kupikir-pikir dulu." Suara Yoongi lirih dan pandangannya terarah ke lantai. Karena kenal watak Yoongi, Jimin tahu dia bukannya tidak sopan, melainkan sedikit sungkan sebab tidak bisa segera memutuskan. "Boleh aku ke sini lagi besok?"

 

"Silakan," jawab Jimin, dan dalam hati menambahkan: Besok dan seterusnya, aku selalu menanti hyung.

 

*

 

Sehari sebelum Yoongi diwisuda, Jimin sempat nekat ingin menyatakan perasaannya.

 

Malamnya dia berlatih di depan cermin. Menghafal kata demi kata sambil menaksir respons Yoongi. Latihannya begitu lama sampai-sampai terbawa mimpi, menjadi satu adegan lengkap: di tengah acara wisuda, Jimin menghampiri Yoongi yang mengenakan baju toga.

 

Hyung, ujarnya tegas, aku suka hyung. Musik, suara, sifat hyung yang pendiam tapi jeli memperhatikan - semua hal tentangmu aku suka. Mau tidak jadi pacarku?

 

Senyap. Seisi balairung berpaling ke arah mereka. Dekan fakultas hukum tampak jengkel karena prosesi wisuda tertunda. Mata Yoongi mengedip satu kali, wajahnya serius seperti biasa.

 

Coba aku tanya, cetusnya. Kamu nembak di tengah orang banyak begini. Kalau ditolak, apa kamu siap?

 

Menolak aku? balas Jimin. Memangnya hyung tega? Hyung, kan, hatinya baik. Biarpun tidak cinta aku, minimal hyung bersedia beri aku kesempatan. Ya, kan? Jadi, apa jawabannya?

 

Ekspresi geli melintas di wajah Yoongi. Park Jimin, katanya, kamu ini minta orang jadi pacarmu tapi seperti menagih utang. Bisa-bisa kabur orangnya nanti.

 

Di dalam mimpi, Jimin berkacak pinggang. (Dalam kehidupan nyata, mungkin dialah yang kabur karena malu) Apa artinya itu? tanyanya dengan nada menantang. Aku ditolak? Atau cuma disuruh latihan nembak?

 

Artinya, aku pikir-pikir dulu, sahut Yoongi. Beri aku waktu. Kamu juga, sana - berpikir yang matang. Jangan-jangan yang kamu cintai itu musikku, bukan aku.

 

*

 

Mimpi kerap lahir dari rasa cemas, asa, dan emosi meluap-luap lainnya. Dan mimpi Jimin itu jelas hasil kecemasannya. Lebih daripada takut ditolak, dia cemas Yoongi benar-benar akan berkata: Yang kamu cintai itu musikku, bukan aku.

 

Dalam bus menuju tempat kerja, dia membayangkan dirinya membantah ucapan itu. Hyung keliru! serunya. Aku sungguhan suka hyung! Lebih besar dibandingkan rasa sukaku pada musikmu.

 

Yoongi, si rasional (Jimin sempat mengintip profil Facebook-nya - Yoongi termasuk golongan INTP), tak akan percaya begitu saja. Barangkali dia malah manyamakan perasaan Jimin dengan pemujaan pada musisi favorit. Gemar karyanya, lalu menyangka suka si pencipta karya juga. Jimin harus punya cara meyakinkan Yoongi bahwa, walau tanpa musik, dia tetap menyukai Yoongi.

 

Kemungkinan lain: Yoongi menolaknya karena sudah punya pacar. Mustahil Jimin menawarkan diri jadi orang ketiga. Sebaliknya, jika rasa sukanya melulu dipendam, dia tak akan pernah tahu jawaban Yoongi. Secepatnya dia akan menyatakan rasa suka itu; ditolak sekalipun, dia tak lagi penasaran, hanya bersedih.

 

*

 

Seperti kemarin, Jimin seorang diri menjaga toko musik. Toko ini terletak jauh dari area bisnis, berdesakan dengan tempat-tempat usaha kecil lainnya. Pemilik toko, seorang kenalan ibu Jimin, sedang pergi ke kota lain. Satu-satunya pegawai cuti melahirkan, maka Jimin mengisi posisi kosong itu.

 

Hari ini Yoongi datang lebih awal daripada kemarin. Dia masih memakai jaket hoodie, membawa ransel, dan rambutnya belum disisir. Tebersit di benak Jimin bahwa Yoongi bermalam di kantor, bekerja sepagian, lalu dari sana pergi ke toko musik.

 

"Hyung tahu soal toko ini dari mana?" tanya Jimin selagi Yoongi menutup pintu. "Maksudku, toko-toko besar yang koleksinya lebih lengkap, kan, banyak. Kenapa hyung sampai tersasar ke sini?"

 

Yoongi mengangkat bahu. "Takdir? Niatku awalnya ke toko buku di depan sana. Rekanku di kantor pesan buku sejarah seni. Pesanannya sudah tiba - karena dia sibuk, aku ambilkan mumpung lewat daerah ini. Ternyata ada toko musik, sekalian saja mampir."

 

Takdir. Ya, boleh jadi. Takdir mempertemukan Jimin dengan Yoongi - untuk kali terakhir, sebelum mereka menempuh hidup masing-masing. Seperti kemarin pula, seserpih kecil hati Jimin rontok oleh rasa kehilangan.

 

Sementara itu, Yoongi mengambil gitar yang digantung paling kiri di deretan terbawah. "Kemarin aku paling suka yang ini," ujarnya. "Kucoba lagi saja sebentar."

 

Dengan sigap, Jimin mengambilkan bangku untuk tempat Yoongi duduk. Yoongi memangku gitar, lalu memetik senar, mengetes bunyi dan nada yang dihasilkan. Dia diam sejenak, lalu mengangkat muka.

 

"Jimin. Masih ingat lagu yang kubawakan waktu festival?"

 

"Masih. Genre-nya rock ballad, kan? Liriknya tentang sahabat hyung."

 

"Betul, rock ballad. Waktu itu aku lagi senang-senangnya bereksperimen dengan genre." Yoongi meletakkan gitar di pangkuan. "Bagimu, apa yang paling berkesan dari lagu itu?"

 

Agak terkejut oleh pertanyaan ini, Jimin menyahut, "Kejujurannya. Hyung terbuka sekali soal sahabat hyung - marah karena dia merusak masa depannya sendiri, tapi kangen juga. Perasaan pada orang yang kita sayangi memang selalu kompleks. Itu yang berhasil hyung sampaikan lewat liriknya."

 

Yoongi menyimak ucapan Jimin tanpa menyela. Lalu dia kembali memosisikan gitar dan menggumam, "Aku baru selesai bikin lagu baru. Mau dengar?"

 

Kejutan kedua ini makin mengherankan Jimin. "Mau, tapi... apa boleh? Kalau lagu ini bakal dirilis label rekaman, mestinya bukan untuk konsumsi orang luar."

 

Yoongi menggeleng. "Ini laguku sendiri, bukan untuk label. Pendek saja, kurang dari dua menit. Bagaimana? Kalau ada pelanggan, aku berhenti dan langsung beli gitar."

 

Jangan ada pelanggan dulu, Jimin berdoa. Yoongi hyung memberiku kehormatan sebagai pendengar pertama - aku ingin dengar lagu ini seutuhnya. "Silakan, hyung."

 

Nada-nada intro berdenting di udara, memukau Jimin, menyerap seluruh konsentrasinya. Yoongi mulai bernyanyi, suaranya yang rendah berselang-seling harmonis dengan bunyi gitar. Sebuah lagu balada murni, tentang dambaan pada seseorang yang tak terjangkau. Begitu mirip dengan yang dialami Jimin, hingga dia tertegun di sepanjang lagu.

 

Aku satu dari jutaan manusia, Yoongi bernyanyi. Hanya bayangan berlalu, tanpa jejak dalam dunianya. Walau dia tetap punya kenangan tentang kami berdua....

 

Nada terakhir mengalun dan memudar. Yoongi menurunkan tangan dari senar dan menunduk. Tergugah, Jimin bertepuk tangan, sekeras saat di festival dulu.

 

"Bravo!" serunya, lalu berhenti bertepuk akibat telapaknya pedas. "Betul tidak mau dirilis? Pasti banyak yang suka!"

 

"Mungkin?" Suara Yoongi selirih kemarin, saat bertanya bolehkah dia kemari lagi. "Banyak yang suka atau tidak, terserah saja. Yang kumaksud dalam lagu ini hanya seorang. Dialah yang aku ingin mendengarkan lagunya."

 

"Eh?" Jimin mengerjap. "Hanya seorang? Tapi kenapa hyung memainkan lagu ini untukku - "

 

Suara Jimin terputus. Sinar lampu bagai menerangi isi kepalanya; gema kata-kata Yoongi menerpanya sederas gelombang laut. Lalu dadanya menghangat sampai ke wajah, menciptakan rona bahagia.

 

Lagu ini untukku. Orang yang didambakan hyung itu aku. Tapi sejak kapan- ?

 

Masih sambil menunduk,  Yoongi berkata, "Dia bukan sekadar menghargai laguku. Pernah aku demam di kampus, dia mengantar aku ke klinik. Padahal dia sendiri ada kuliah. Sesudahnya dia menanyakan kondisiku sampai aku sembuh. Mulai saat itu aku suka padanya. Berkali-kali aku ingin bilang, tapi batal terus, sampai aku diwisuda."

 

Jarum jam seakan mundur ke hari sebelumnya, pada keheningan saat Yoongi memilih-milih gitar. Keheningan itu membawa nyaman - karena mereka berdua, bersama-sama. Karena mereka menghantarkan bahagia pada satu sama lain. Mereka telah menginsafi hal ini sendiri-sendiri, maka kini saatnya saling menyadarkan. Kadang, pikir Jimin, kenyataan lebih indah daripada mimpi.

 

"Hyung," kata Jimin, dan Yoongi mengerling padanya. "Terima kasih lagunya. Indah sekali. Kekurangannya cuma satu - liriknya salah."

 

"Salah?" Yoongi menegakkan badan dengan wajah tegang. "Salah di mananya?"

 

"Hyung bukan sekadar bayangan dalam dunia orang itu." Membungkuk sedikit di depan bangku, Jimin menatap lurus mata Yoongi dan tersenyum. "Hyung sangat berharga bagi dia yang amat menyukaimu - menyukai segala hal tentangmu. Bila bersamamu, dia bertekad jadi versi terbaik dari dirinya. Demi kalian berdua."

 

Ketegangan sirna dari wajah Yoongi. Tangannya memegangi gitar erat-erat, dan dia balas memandang mata Jimin, seperti mencari jawaban di sana. "Benar begitu?"

 

Suaranya mengandung sangsi, tapi juga harapan. Persis yang dirasakan Jimin sejak hari festival. Ternyata selama ini hati mereka selaras, sampai akhirnya takdir, seperti kata Yoongi, menuntun mereka ke momen ini.

 

"Benar," sahut Jimin. "Lewat lagu barusan, hyung membuatku jadi laki-laki paling beruntung - paling dicintai - di dunia." Senyum Jimin makin mengembang. "Sekarang, izinkan aku membalasnya."