Work Text:
“YUUJI!” seorang pemuda berpostur tinggi dan tegap berteriak dari depan pintu kelas 11 A. Kelas dari seorang pemuda berwajah manis, Itadori Yuuji.
“Heh Itadori, tuan populer mencarimu tuh.” senggol Nobara, gadis teman sebangku Yuuji. Yuuji hanya melirik malas kearah pintu kelasnya dan kembali membaca komik kesukaannya lagi.
Gojo masih setia berdiri bersandar di pintu kelas dengan wajah polosnya. Jengah dengan Gojo yang seolah masa bodoh dengan dirinya yang sedari tadi tidak peduli, tak lupa tatapan ‘Ayo cepat kau temui dia’ dari teman-teman sekelasnya pun akhirnya dengan terpaksa membuat Yuuji berjalan mendekati salah satu senior populer di sekolahnya itu.
Yuuji menghela napas.
“Ada apa, senpai?” tanya Yuuji pelan.
"Sudah kubilang panggil Satoru saja, Yuuji."
"Ini di sekolah. Aku tidak mau dianggap tak sopan dengan senior."
"Baiklah baiklah." Gojo tersenyum lembut.
“Oh iya, pulang sekolah nanti kau pulang denganku ya?” lanjut Gojo.
“Aku sudah janji akan pulang dengan Fushiguro.”
Tanpa Yuuji sadari, Gojo mengepal kedua tangannya menahan marah.
“Ah begitu? Tidak bisakah kau katakan padanya kalau kau tidak bisa pulang bersamanya?” Gojo meruntuk dirinya sendiri karena kalimatnya yang berbelit-belit dan terlalu kaku.
Yuuji menggeleng.
“Tidak bisa, aku sudah berjanji untuk menemaninya ke toko buku.”
“Ah baiklah. Ya sudah aku kembali ke kelas dulu ya. Jangan pulang terlalu sore, Yuuji.”
Setelah mengusap rambut Yuuji, Gojo berjalan meninggalkan kelas Yuuji.
Yuuji hanya diam namun matanya terus memandang kearah Gojo sampai sang senior tak terlihat lagi.
“Itadori itu bodoh atau apa sih? Aku saja yang melihat Gojo-senpai saat bersama Itadori sudah tahu kalau si tampan itu menyukai Itadori.” celetuk Aoi.
“Bukan bodoh. Kau tahu kalau Itadori itu salah satu anak emas di sekolah. Kalau bicara masalah bodoh, kau itulah orangnya.” ejek Nobara.
“Apa kau bilang??!!” Aoi melotot kesal.
“Itadori-kun tahu itu. Dia tidak bodoh. Dan dia terlalu pintar untuk dikatakan tidak peka.” Kasumi dengan tenang menjelaskan.
Aoi menatap Kasumi bingung.
“Lalu kenapa Itadori tidak membalas perasaan Gojo-senpai? Apa jangan-jangan dia tidak—“
“—berisik.” tiba-tiba Yuuji sudah berdiri di dekat mereka dan menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Yuuji menunduk dan meremas erat celananya.
Tanpa perlu dijelaskan semua tahu kalau itu ekspresi sedih Yuuji. Nobara langsung berdiri dan mengusap pelan bahu Yuuji.
Dan yang lain hanya bisa diam.
Gojo melambai dari luar jendela kamar Yuuji yang ada di lantai dua.
Yuuji yang sedang asyik membaca komik di ranjangnya terlonjak kaget. Ia pun bergegas mendekati jendela kamarnya.
“Sore, Yuuji.” Gojo menyunggingkan cengir lebarnya.
“Kau memanjat lagi, senpai?”
"Satoru, Yuuji. Kita sedang tidak berada di sekolah."
Yuuji menghela napas lelah.
“Masuk, Satoru.”
Yuuji berjalan menuju kasurnya lagi diikuti oleh langkah lebar Gojo yang menoleh kesekeliling kamar Yuuji. Tak pernah bosan rasanya memperhatikan kamar Yuuji walaupun ia sudah tahu jelas isi kamar dari sang pujaan hati.
Sejak ketahuan oleh ayah Yuuji sebelumnya, Gojo harus ekstra hati-hati jika ingin menyelinap ke kamar Yuuji. Sesaat sebelumnya, ia butuh waktu satu jam lebih hanya untuk mengelabui para penjaga suruhan ayah Yuuji di halaman rumah.
Yuuji duduk di pinggir ranjangnya. Tanpa diminta Gojo duduk disampingnya.
“Bagaimana kalau ketahuan orang tuaku? Kau mau dipukuli ayahku lagi?” Yuuji melirik pintu kamarnya sekilas dengan was-was. Memang sudah terkunci, tapi tetap saja mengundang khawatir.
Gojo menatap sendu Yuuji lalu menggenggam tangan Yuuji.
Tangan Yuuji begitu mungil dan hangat. Kenapa terasa pas sekali ketika digenggamnya?
“Kenapa terus seperti ini, Yuuji? Apa aku benar-benar tidak bisa memilikimu?”
“Cukup, Satoru. Kau tahu kenapa.”
Yuuji perlahan melepas genggaman Gojo dari tangannya. Gojo nampak terluka. Yuuji tahu, hanya berusaha tak peduli.
Keheningan melanda kamar Yuuji setelahnya.
“Ah, bagaimana kencan tadi dengan Fushiguro?” Gojo akhirnya mengalihkan pembicaraan karena tak tahan dengan suasana yang terasa canggung.
Yuuji reflek menoleh kearah Gojo.
“H-Hah??!! Kencan?! Kami tidak kencan!!” pekik Yuuji tak terima.
“Lalu?” Gojo menyeringai jahil. Ia sangat suka melihat ekspresi junior sekaligus teman sejak kecil itu disaat sedang kesal.
Lebih baik daripada melihatnya hanya diam menahan tangis.
“Aku kan sudah bilang kalau aku hanya menemaninya ke toko buku. Fushi itu temanku. Kalau dia butuh bantuan, tentu aku harus membantunya.”
“Tapi aku cemburu, Yuuji.” balas Gojo serius.
Yuuji terdiam lalu secepat kilat mengalihkan pandangan ke arah lain. Ia tak mau si pemuda bersurai perak itu melihat wajahnya yang kini memerah bak kepiting rebus.
“Yuuji, kau tahu kan? Aku bisa minta orang tuaku untuk menemui orang tuamu. Orang tua kita memang bermusuhan satu sama lain. Tapi aku sudah memohon pada ayahku. Ia tahu."
“Ia tahu kalau aku benar-benar mencintaimu.” Gojo kembali memegang erat kedua tangan Yuuji.
“Kumohon, Satoru. Hentikan.” Yuuji memejamkan matanya erat. Mencoba menahan sakit yang ada di dadanya saat ini.
“Yuuji—“
Terdengar suara ketukan dari luar kamar Yuuji.
Yuuji membuka mata lalu menatap takut kearah Gojo.
“Sayang, kau didalam?” suara lembut seorang wanita terdengar dari luar.
“Itu ibu. Pergi, Satoru. Cepat.” bisik Yuuji sembari mendorong pelan bahu Gojo.
“Aku tidak akan pergi.”
Yuuji tak lagi bisa menghentikan tangannya yang mulai tremor. Kejadian seminggu yang lalu saat ayahnya memukuli Gojo masih terbayang jelas di ingatannya.
Yuuji tidak mau melihatnya lagi.
“Biar aku temui ibumu. Hanya ayahmu dan ayahku yang bermusuhan. Aku tahu ibumu baik.” Gojo mengelus tangan Yuuji penuh kelembutan lalu mencium pelipis Yuuji.
Setelahnya Gojo beranjak dari ranjang Yuuji.
“Satoru.” Yuuji menarik tangan Gojo.
“Percaya padaku, Yuuji.”
Gojo membuka pintu kamar Yuuji. Yuuji mengikutinya lalu berdiri tepat di belakang Gojo, berusaha menyembunyikan diri.
“Selamat sore, tante.” Gojo tersenyum. Berbanding terbalik dengan wanita paruh baya di hadapannya yang balas memandangnya dengan pandangan terkejut.
“Satoru-kun? Kenapa kau bisa di kamar Yuuji?”
“Saya memanjat balkon, tante. Kalau lewat pintu depan pasti penjaga-penjaga di rumah anda akan langsung mengusir saya.”
“N-Nak, aku tahu kau anak yang baik. Tapi harusnya kau tahu kalau—"
“—APA YANG ANAK KURANG AJAR SEPERTIMU LAKUKAN DI KAMAR YUUJI?!” tiba-tiba seorang pria, ayah Yuuji, tanpa diduga sudah berdiri disamping ibu Yuuji dan menatap marah kearah Gojo.
“Ayah—" cicit Yuuji takut.
Gojo melirik sekilas kearah Yuuji yang ketakutan lalu beralih menatap ramah kearah ayah Yuuji.
“Selamat sore, om.”
“Aku bertanya apa yang kau lakukan disini, bocah!!!”
“Sayang, jangan membentaknya. Kau membuat Yuuji kita ketakutan.” ibu Yuuji meremas pelan lengan ayah Yuuji. Bermaksud menenangkan setelah melihat raut anak semata wayangnya yang sedari tadi menahan tangis di belakang Gojo.
"Saya mohon, om. Hina saya sepuasnya. Benci saya sepenuh hati. Tapi saya mohon—"
“—Biarkan saya memiliki anak anda.” Gojo bersimpuh ke kaki ayah Yuuji.
Ayah dan ibu Yuuji menatap nanar kearah Gojo. Tak menyangka jika ia akan merendahkan dirinya seperti itu.
“Hiks— berdiri, Satoru. Jangan seperti ini.” Yuuji jatuh terduduk, lalu mencengkram erat kaos Gojo sembari menyembunyikan wajahnya ke punggung lebar Gojo.
Ayah Yuuji menatap tajam anaknya yang terus menangis. Gojo memutar badan menghadap kearah Yuuji lalu memeluk erat dan mencium puncak kepala Yuuji.
"Jangan menangis, Yuuji. Melihatmu menangis aku nanti ikutan menangis juga lho. Sudah ya?" Gojo mengusap punggung Yuuji berusaha menenangkan.
Ayah Yuuji perlahan menghilangkan ekspresi marah dari wajahnya. Ia mulai nampak tenang, namun tetap memandang kaku kearah kedua pemuda di hadapannya.
“Besok malam, datang dengan orang tuamu.” setelahnya ayah Yuuji pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.
“O-Om?” Gojo menoleh kebelakang. Kaget dengan ucapan ayah Yuuji.
Ibu Yuuji menatap kepergian suaminya dengan tatapan tak percaya. Lalu balik memandang Gojo.
Ibu Yuuji menghela napas lalu perlahan tersenyum.
“Kau dengar kan tadi, nak? Datanglah besok dengan orang tuamu. Akhirnya tante bisa bertemu lagi dengan ibumu setelah sekian lama.” ibu Yuuji tersenyum senang.
Gojo kembali menatap kearah Yuuji. Masih menyembunyikan Yuuji di pelukannya, namun kini dengan ekspresi separuh senang, separuh tak percaya.
Keheningan melanda ruang tamu kediaman keluarga Yuuji. Nampak masing-masing keluarga duduk di sofa yang terpisah. Ayah Yuuji dan ayah Gojo terlihat saling mengalihkan wajah kearah lain, sedangkan ibu Yuuji dan ibu Gojo tersenyum senang satu sama lain.
Lalu bagaimana dengan Yuuji dan Gojo?
Gojo hanya menatap dalam kearah Yuuji yang nampak terus menunduk diam sembari meremas kedua tangannya.
Ayah Yuuji berdehem kecil.
“Baiklah, sekarang lupakan masalah antara kau dan aku. Saat ini kita bicarakan masalah antara anakmu dan anakku.”
“Terserah kau.”
“Jadi—"
“—Saya mencintainya, om.” tiba-tiba Gojo bersuara. Ia tak mampu menahan diri lagi.
Semua yang ada disana menatap kaget Gojo lalu kemudian kearah Yuuji yang menunduk malu dengan wajahnya yang memerah bahkan sampai ke telinga karena ucapan Gojo yang memotong ucapan ayahnya.
“Ah imutnya.” ibu Gojo menatap Yuuji dengan tatapan gemas.
Ibu Yuuji tertawa bangga.
"Tentu saja. Kau tahu kalau dia terlahir dari wanita imut sepertiku.” balas ibu Yuuji narsis.
“Maaf, tante—” Yuuji menantap takut-takut kearah ibu Gojo.
“Ada apa, Yuuji-kun?”
“Saya seorang pria juga. Dan pria tidak cocok disebut imut.” cicit Yuuji malu sembari meremas kain celananya.
“Ah, Yuuji-kun makin imut kalau seperti itu!” ibu Gojo justru makin gemas dengan pemuda yang lebih mungil dari anaknya itu.
“Satoru, jangan lupa berkedip.” ayah Gojo melirik kearah anaknya yang terus menatap Yuuji tanpa berkedip. Gojo tersadar dan segera berkedip.
“I-Iya, ayah.”
Ayah Gojo kembali menatap ayah Yuuji untuk melanjutkan pembicaraan.
“Aku tahu jika anakku mencintai anakmu sedari dulu. Sudah bertahun-tahun lamanya kita bersikap egois dan menyakiti anak kita sendiri. Aku memprioritaskan kebahagiaan anakku. Dan aku menyetujui hubungannya dengan Yuuji. Jika itu membuatnya bahagia, dan dia bisa membahagiakan pasangannya, sebagai orang tua aku hanya bisa memberikan kepercayaanku.” jelas ayah Gojo.
“Ah, dua puluh tahun lebih aku mengenalmu, sepertinya ini pertama kalinya kau mengatakan sesuatu yang benar, Gojo.” sindir ayah Yuuji.
“Dan selama dua puluh tahun lebih aku mengenalmu, sepertinya sikap kolotmu sedikit terkikis, Itadori.” balas ayah Gojo tak mau kalah.
“Begitu?” keduanya kini malah saling menantap tajam satu sama lain.
“Kalian berdua, hentikan. Ingat kalau kita sedang membahas masalah penting disini.” lerai ibu Gojo.
“Benar. Lagipula kenapa kalian tidak saling memaafkan saja sih? Aku yakin pasti hanya masalah sepele. Dasar sama-sama keras kepala.” ibu Yuuji ikut menimpali dan dibalas dengan anggukan sepaham oleh ibu Gojo.
Kedua pria paruh baya tersebut terdiam tak bisa menjawab.
“Jadi bagaimana?” ayah Gojo mengalihkan pembicaraan.
“Ya. Kapan kita membahas masalah pernikahan?” balas ayah Yuuji.
“A-Ayah!!” pekik Yuuji malu.
“Sayang, kau ini— paling tidak tunggu mereka lulus SMA dulu.” ibu Yuuji memukul pelan lengan suaminya.
“Kau bagaimana?” ayah Yuuji menatap kearah Gojo yang sedari tadi masih diam.
“Saya? Saya tak masalah jika menikah secepatnya. Selama itu dengan Yuuji.” Gojo menjawab cepat.
“SATORU!” Yuuji melotot kearah Gojo. Gojo balas dengan cengiran lebar.
Namun setelah itu Gojo menatap serius kedua belah pihak orang tua yang ada disana.
Tidak sekarang. Belum.
“Tapi saya tahu itu terlalu cepat. Lulus sekolah nanti saya masih perlu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tentu saya harus punya penghasilan jika ingin menikahi Yuuji. Saya tidak mungkin bisa memiliki anak seseorang, jika saya tidak bisa menghidupinya kelak.” Gojo tersenyum lembut kearah Yuuji.
Ibu Yuuji dan ibu Gojo tersenyum. Tersentuh dengan ucapan tulus dari Gojo.
“A-Aku juga akan kerja. Aku juga seorang pria.” Yuuji ikut menimpali.
“Tapi nantinya kan aku yang memerankan peran suaminya, Yuuji.”
“Aku juga!” Yuuji tidak terima.
“Tapi—“
“Kalau begitu lebih baik kita tidak usah menikah saja!” bentak Yuuji kesal.
“HAH?! MANA BISA BEGITU!” Gojo melongo tak percaya.
Enak saja, yang boleh menikahi Yuuji itu hanya ia seorang.
“TERSERAH!!” Yuuji berdiri lalu sembari menghentakkan kaki berjalan kearah kamarnya.
“YUUJIIIII!!!” Gojo pun segera menyusul calon suaminya.
Orang tua Yuuji dan Gojo hanya mampu menghela napas melihat tingkah anak mereka.
