Work Text:
"Dahulu kala ada seorang anak serigala yang bermimpi meraih bintang terterang di dunia."
Ibu mengulang dongeng itu berulangkali sembari menidurkan aku di dalam dekapannya. Kisah seekor anak serigala yang mengejar bintang, berharap akan yang terterang, dan tatkala sebuah bintang terjatuh dia berlari mengejarnya. Selama perjalanan ia bertemu dengan serigala lain, yang memiliki mimpi yang sama dengan dirinya. Mereka pun mulai mengejar bintang jatuh bersama.
Ibu mengusap punggungku, aku menguap, terkantuk. Selalu tertidur sehingga kisah tersebut tak habis. Aku tak tahu apakah anak serigala itu berhasil mendapatkan bintang. Namun, sebagaimana anak kecil pada umumnya.
Aku berharap mereka berhasil mendapatkannya.
.
.
.
"Aku berharap dapat bertemu dengan seseorang yang mampu membuatku tersenyum setiap hari," Texas tersenyum sembari memikirnya, entah siapa yang berada di dalam kepalanya, dia tak memberitahu, "jika aku menemukan seseorang seperti itu, aku akan menyayangi mereka seumur hidup."
Kini, gadis berambut gelap duduk di kursi tinggi, bersandar di meja kauter kedai kopi yang berinterior klasik layaknya pada tahun 90-an. Berbincang pada barista, yang sedang menyediakan kopi hitam yang sedang dipesan olehnya. Name tag barista tertulis Mostima, kakak tingkatnya yang sudah semester 5. Sedangkan Texas masih semester 3.
Mostima tertawa mendengar ucapannya.
"Apa yang lucu?"
"Tidak, kau mengatakan 'berharap bertemu' padahal orang tersebut berada di sisimu selama ini." Mostima memberikan sepiring roti daging sebagai sarapan Texas. "Bukannya itu lucu?"
Texas memandang roti ini penuh tanya, sedangkan Mostima hanya mengedipkan salah satu matanya.
"Kau pasti belum sarapan."
"Tahu dari mana?"
"Matamu berkata kalau kamu lapar."
"Apa-apaan itu." Texas tertawa, mulai menggigit roti yang diberikan, aneh, tapi yang dikatakan Mostima tepat, dia memang belum sarapan. "Dan juga, apa maksudmu orang itu selalu berada di sampingku?"
"Lappland," jawab Mostima singkat.
Texas tersedak rotinya.
"Ini kopinya." Mostima menyodorkan kopi seakan-akan kopi itu dingin dan Texas tinggal meneguknya, sial, kondisinya terdesak. Texas memilih minum kopinya dengan pelan agar tak membakar lidahnya, namun ... sia-sia (ingatkan Texas untuk menyantet kakak tingkatnya nanti). "Makannya pelan-pelan dong."
"Ngapain bawa-bawa dia."
"Kan kesayanganmu."
"Najis." Texas memutar bola matanya.
"Itu dia datang." Mostima menunjuk jendela yang menampilkan mentari cerah khas pagi serta gadis berambut putih keabuan.
Texas menoleh sebentar, lalu kembali menghadap Mostima dengan raut malas. Lappland masuk ke kedai, langsung memeluk Texas dari belakang sembari menyeru namanya keras. Hampir cangkir Texas terjatuh, karena ketidakseimbangan yang tiba-tiba.
"Aku sayang kamu!"
Tiada sehari Lappland tidak berkata seperti itu kepadanya. Kadang Texas mendapatkan Lappland menyusup masuk ke dalam pelukannya tatkala dirinya terlelap--omong-omong mereka satu kosan dan satu kamar. Texas akan memilih bangun dari tidurnya dan kabur dari gadis ini.
"Aku engga sayang kamu tuh," balas Texas.
"Aku tahu kalau kau menyayangiku dari lubuk hatimu yang terdalam," ucap Lappland percaya diri dan Texas menatapnya dengan tatapan: kau-gila?, tentu Lappland mengabaikannya.
"Kau sudah selesai makan?" Lappland menarik kursi di samping Texas.
"Belum." Texas membagi roti dagingnya menjadi separuh, lalu menyodornya ke mulut Lappland. "Makan, aku engga habis."
"Suapin."
Lappland membuka mulutnya dan Texas membagi rotinya menjadi bagian yang lebih kecil lagi.
"Dasar manja," ujarnya geleng-geleng sembari tersenyum.
Sedangkan Mostima hanya memandang mereka, dengan sungging tipis seakan-akan eksistensinya sudah dilupakan. ... hmm ... barangkali emang telah dilupakan.
.
.
.
"Mereka bertemu di hamparan gunung es yang dibaluti oleh malam yang dingin. Seakan mengetahui benak satu sama lain, mereka berlari mengejar bintang jatuh."
Ini adalah bagian kesukaanku. Mereka bertemu, keduanya sesama anak serigala yang ditinggalkan, menyendiri, sebab tiada yang bersama mereka tatkala mereka membutuhkan sandaran. Mereka menyendiri bukan atas keinginan mereka. Ketika mereka bertemu, mereka seakan mampu membaca satu sama lain. Seperti cermin.
.
.
.
"Lagi-lagi kau menyusup ke pelukanku saat mau tidur."
Texas berkata demikian sembari fokus menggoreng telur dadar sebagai lauk makan malamnya dengan Lappland.
"Habis dingiiinnn bangeeettt." Tangannya menulusuri pinggang Texas lalu memeluknya erat.
"Sekarang musim panas dan ... kamu berat, tahu engga?"
"Engga papa dong! Texas 'kan kuat!"
Texas menggeleng-geleng, tiada gunanya berkata lebih kepadanya. Dia tetap akan seenaknya.
"Oke, lepas tanganmu, nanti kena minyak."
"Engga mau, maunya pelukan sama Texas selamanya."
Lappland menggerutu, mencium belakang telinga Texas. Terperajat. Texas melepaskan spatulanya sehingga terbentur ke lantai.
"Hei!"
"Hehehe."
Lappland mengambil kesempatan tatkala Texas menoleh ke arahnya. Mencuri sebuah kecupan singkat.
"Aku menyayangimu!" ucapnya entah keberapakalinya dalam hari ini.
Texas terdiam sebentar, lalu mencubit pipi Lappland. "Duduk sana yang rapi, entar lagi lauknya siap."
"Oke!"
Jadi, hanya sayang ya?
.
.
.
Jikalau kalian menyuruh Texas tuk menceritakan kenangan yang paling membekas di dalam ingatannya. Takkan ragu, dia akan menceritakan pertemuan pertamanya dengan gadis berambut kelabu. Mereka bertemu di rumah duka--Texas masih ingat suara hujan deras, seakan-akan Yang Maha Kuasa mengasihaninya--sebab kedua orang tua mereka meninggal karena kecelakaan ketika mengendarai bus yang sama.
Tatkala Texas berusaha menahan tangisan di depan kedua potret orang tuanya, pamannya membawa Lappland, memperkenalkan dia kepadanya. Lappland mengulurkan tangan, berbisik akan namanya lalu mengucapkan nama Texas berulangkali.
Saat itu dari tangan, berangsur ke wajah, Texas menulusuri jejak-jejak tangisan Lappland.
Tiada.
Yang dia dapatkan hanya sorot mati.
.
.
.
"Texas!"
Lappland memeluk dirinya erat, sehabis dia membuka pintu sebagai tanda dia pulang, baru saja dia akan mengujarkan aku pulang, dan dirinya sudah diterjang oleh Lappland.
"Kangen!"
Lappland mengendus leher Texas.
Geli.
Buru-buru Texas mendorongnya dengan wajah merah.
Lappland tersenyum lebar.
"Sudah kuduga itu kelemahan Texas."
Texas memegang lehernya secara protektif.
"Jangan macam-macam."
"Entahlah ya." Lappland memonyongkan bibir.
Texas meletakkan kantung belanjanya di meja makan, mengambil beberapa kaleng daging.
"Kamu ... engga kuliah?"
"Duh, Texassss, masa lupa sih cuma kamu aja yang ambil semester pendek."
"Bukannya kamu juga ambil?"
Lappland terdiam, mulai bersiul, menyalakan televisi tanpa menghiraukan Texas.
Texas berhenti menyiapkan makan malam. Dia segera bergegas ke samping Lappland dan mencubit pipinya keras-keras.
"Sa-sakit!"
"Kamu bolos ya?"
Texas tersenyum. Sadis.
Lappland merinding. Tampaknya hari ini dia harus tidur di lantai.
.
.
.
"'Kita harus bersama, selamanya!' kata serigala abu-abu, sebab serigala putih terlihat bagai akan menghilang ketika mentari menyinarinya."
Suara ibu mulai terdengar samar.
Ah ... rupanya aku akan terlelap sebentar la--
.
.
.
"Texas."
"Hmm?"
"Dingin."
"Sini naik."
"Peluk aku."
"Iya-iya."
"Aku sayang Texas!"
"Hei! Jangan cium leherku."
"Berarti di sini boleh?"
"Hmm? Ermh!"
"Engga boleh?"
"... kenapa kamu menciumku?"
"Karena aku sayang?"
"Kenapa kamu yang bingung?" Texas terkekeh. "Lappland."
"Iya, Texas?"
"Kau pernah dengar kisah anak serigala yang mengejar bintang?"
"Pernah, kisah itu mama sering ceritakan."
"Kau tahu akhirnya?"
"Tahu dong!"
"Apakah mereka bersama?"
"Tentu saja!"
"Apa mereka berhasil menemukan bintang?"
"Tidak."
"Eh?" Texas terkejut.
"Karena pada akhirnya mereka mengetahui bahwa mereka adalah bintang untuk masing-masing." Lappland menggosok hidung Texas dengan hidungnya. "Seperti Texas untukku."
"Cuma bintang?"
"Yang menyinari hidupku," lanjut Lappland.
"Apa-apaan itu."
"Kenyataan lho."
"Iya-iya ayo tidur."
Lappland tertidur di lengan Texas, tangannya memeluk pinggangnya.
"Texas, kau ingin tahu kapan kau mulai menjadi bintangku?"
"Kapan?"
"Semenjak di rumah duka, kali pertama kita bertemu."
"Memangnya aku ngapain di sana."
"Menahan tangis."
"Terus, kok bisa jadi bintangmu?"
"Kamu cantik."
"Kalau kamu gombal kek gitu lagi, kutendang dari kasur ya."
"Serius!"
Texas menatapnya ragu dan sinis, siap-siap menendangnya.
"Iya-iya, aku kasih tahu alasannya. Tapi biarkan aku menciummu dulu."
"Biasanya juga kamu engga minta ijin."
"Hehe."
Lappland mulai mengecup Texas, lagi, lagi, dan lagi. Menggigit bibir Texas, memperdalam ciuman. Tak lama, ciuman mereka terputus digantikan dengan keduanya yang bernapas tak teratur.
"Aku sayang kamu."
"Aku tahu," balas Texas. "Sekarang kasih tahu alasannya."
"Karena ...," Lappland tersenyum, "kita berbagi kesedihan yang sama."
"Begitu ya ...." Texas terdiam, memeluk leher Lappland. "Ayo tidur," bisiknya lemah.
Lappland mengecup hidungnya sebagai tanda iya.
.
.
.
Akhir serigala abu-abu dan serigala putih mengenaskan.
Serigala putih terjatuh dari gunung es tatkala mencari mencari bintang, meninggalkan serigala abu-abu seorang diri.
Namun, Lappland takkan memberitahu hal tersebut kepada Texas.
Lebih baik dia mengubah akhirnya agar Texas dapat bahagia mendengarnya.
Iya, dia akan melakukan apapun agar Texas bahagia.[]
.
.
.
