Chapter Text
20 Desember, 17:24
Rasanya aneh.
Keduanya hanya bisa terdiam di dalam taksi yang membelah kemacetan jalanan kota Seoul dengan kecepatan sedang. Cuaca memang sangat dingin, mengingat ini adalah bulan Desember, tapi yang dirasakan oleh dua orang di dalam taksi tersebut berbeda dengan hembusan angin dingin bulan Desember. Atmosfer yang mengungkung mereka terasa berat, menyesakkan dada, bahkan topik pembicaraan paling ringan pun tidak akan bisa meluluhkan atau menghangatkan suasana di dalam taksi.
Sejenak, sembari melayangkan pandangannya pada pemandangan di pinggir jalan, dengan mall-mall besar di tengah kota dan gedung-gedung pencakar langit, Doyoung merenungkan apa yang sudah terjadi sejauh ini. Benaknya terlempar kepada banyak kejadian yang terjadi beberapa bulan terakhir. Bisa dikatakan, bukanlah sesuatu yang ingin Doyoung ingat. Tapi udara di sekitar mereka seolah menjadi tangan yang menekan tombol kilas balik di kepala Doyoung.
Entah apa alasan utamanya. Entah kapan tepatnya semuanya mulai terasa tercerai berai. Ingatan Doyoung tak cukup kuat untuk mengingatnya. Yang ia rasakan hanyalah bagaimana hatinya akhir-akhir ini sering kali teriris karena kata-kata yang mengalir keluar lewat bibir Johnny, setiap perilakunya, setiap gerak-gerik pria itu, dan keputusan-keputusan yang diambil membuat Doyoung sering kali jengkel dan hampir meledak marahnya.
Ia masih ingat betul janji pernikahan yang diikrarkan. Untuk selalu bersama baik dalam suka maupun duka, senang maupun sakit, kaya maupun miskin, terus menghormati apapun setiap keputusan, dan masih banyak lagi janji. Janji-janji yang perlahan mulai diingkari, satu per satu, secara sadar maupun tidak. Tidak ada lagi kata damai di dalam rumah mereka, hanya caci maki dan amarah yang terus memuncak setiap harinya.
Doyoung tidak suka itu. Doyoung tak pernah menginginkan kehidupan pernikahan yang seperti ini. Yang selalu ada di bayangannya adalah sebuah kehidupan yang damai dengan Johnny. Bangun di hari Minggu pagi sambil menyesap cangkir kopi masing-masing lalu bersantai di ruang tamu sambil menonton High School Musical sampai selesai. Atau, jika di hari biasa, hanya sapaan pagi dan kecupan singkat sebelum berangkat kerja cukup untuk membuat Doyoung tersenyum, senang.
Pada kenyataannya, selama beberapa bulan terakhir, hari Minggu mereka lebih terasa canggung. Rumah mereka diisi dengan ucapan-ucapan kesal bernada tinggi. Hanya ada perlakuan dingin di sisa hari mereka. Tak ada ucapan selamat pagi dengan senyum merekah. Jika tidak dengan nada bicara dingin, keduanya sebisa mungkin bahkan berangkat kerja saat pasangan mereka masih pulas di dalam mimpi. Tidak ada kecupan singkat. Bahkan kontak mata jarang sekali terjadi.
Semua yang terjadi sudah menguras emosi keduanya. Mungkin semuanya sudah melampaui kemampuan mereka untuk bertahan. Setiap argumen yang mereka lontarkan, semuanya tidak membawa mereka pada satu jalan penyelesaian yang pasti. Tak ada lagi yang tahan dengan semuanya. Terutama Doyoung.
“Ayo cerai.”
Kata yang terucap itu sungguh dingin, keluar dari mulut Doyoung. Meskipun rasanya pahit di lidah, meskipun hatinya seperti diiris pisau, tapi mempertahankan pernikahan seperti ini hanya akan membawanya ke sebuah jurang yang lebih gelap dan seram. Doyoung tak pernah menjamin dirinya bisa melewati jurang itu. Apalagi, kini, Johnny tampak tak pernah ada di pihaknya.
Doyoung ingat betul ekspresi Johnny yang dingin, saat menoleh ke arah Doyoung setelah sebuah deklarasi mengejutkan itu. Hanya ada desahan pelan yang keluar dari bibir itu, yang dahulu lebih sering menyanyikan berbagai macam pujian bagi Doyoung.
“Aku..” Johnny tak langsung menjawab, membiarkan sisa kalimatnya menggantung sejenak di lidahnya, “..pikir-pikir dulu.”
Sampai saat ini, sampai mereka kini ada di dalam taksi, masih belum ada perkembangan diskusi mengenai ide Doyoung waktu itu. Alasan pertama adalah karena mereka berdua menenggelamkan diri salam pekerjaan mereka, mendistraksi pikiran mereka tentang topik perceraian dengan paper work yang harus mereka kerjakan. Alasan kedua, alasan utama mereka, adalah sebuah telepon mendadak dari orang tua Johnny di Chicago.
“Ayo ke sini,” ucap ibu Johnny dengan cerianya, sepasang mata yang berkerutan halus di sampingnya itu menyipit, membentuk bulan sabit, senyum lebar terpasang di wajahnya. “Mama kangen sama kalian.”
Tawa yang Johnny keluarkan sangatlah canggung. Doyoung tahu. Terima kasih pada waktu 6 tahun yang mereka habiskan bersama. “Tapi Johnny sama Doyoung lagi sibuk ma, kerjaan kita lagi numpuk.”
Ya, pikir Doyoung, kita sendiri yang memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan, Johnny.
“Kalian pasti belum ambil cuti buat akhir tahun ini kan?” todong Ibu Suh pada kedua anaknya itu. “Mama gamau tau. Pokoknya ambil cuti kalian. Kalian natalan di sini, OK? Mama udah kangen banget sama kalian.”
Jika bukan karena kekeraskepalaan mertua Doyoung yang satu itu, ia tidak akan pernah mau menghabiskan 13 jam penerbangan dari Seoul ke Chicago dengan Johnny. Tidak saat topik terakhir yang mereka bicarakan adalah tentang perceraian.
“Janji sama aku,” kata Johnny, selembut yang ia bisa, “kalau kita nggak boleh bawa topik-topik yang bisa memicu emosi.”
Doyoung mendengarkan dengan seksama, begitu mereka berdua menyelesaikan sesi video call mereka dengan orang tua Johnny. Setelah dengan terpaksa, mereka harus menaati ibu mereka itu.
“Kita harus pura-pura baik-baik aja di depan mama aku. OK? Jangan bikin beliau mikir yang nggak nggak. Kita buat mama aku seneng. Setuju?”
Perjanjian ini berarti mereka harus memasang sebuah topeng senyum mereka. Mereka harus berlaga seperti pasangan yang baru saja menikah. Sebuah ironi, Doyoung pikir, padahal di otaknya sudah ada rencana jangka panjang setelah mereka resmi bercerai nanti.
“OK. Hanya selama kita di Chicago.”
Mereka berjabat tangan. Terlalu formal. Terlalu kaku. Tapi dengan hubungan mereka yang semakin rusak akhir-akhir ini, ini adalah sebuah perkembangan yang cukup baik. Walau sangat sedikit, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan?
Permohonan ibu Johnny dan perjanjian itu akhirnya membawa mereka ke dalam taksi ini, yang kini berhenti di depan gerbang keberangkatan. Keduanya turun setelah Johnny membayarkan jasa taksi itu, dan Doyoung membiarkannya. Koper dan berbagai macam barang yang mereka bawa dikeluarkan dari bagasi taksi. Sekali lagi dalam diam. Tak ada yang berinisiatif memulai pembicaraan sama sekali. Keduanya takut setiap ucapan yang keluar hanya akan membawa mereka pada argumen kecil. Atau besar, Johnny dan Doyoung tak tahu pasti.
Di dalam imajinasi Doyoung, ada sebuah skenario yang terputar. Di mana mereka berbicara tentang banyak hal di dalam taksi selama perjalanan. Di mana Doyoung akan bertanya tentang Chicago, bagaimana Johnny tumbuh di sana, tempat apa saja yang sering Johnny kunjungi, di mana Johnny bersekolah, apakah ia masih menjaga hubungannya dengan teman sekolahnya sebelum ia pindah ke Korea. Semuanya itu sesungguhnya sudah ada di ujung lidah Doyoung, siap untuk ditanyakan dan diutarakan. Karena, bagaimana pun juga, Doyoung ingin tahu Johnny lebih lagi.
Tapi hatinya risau, gelisah, cemas, takut jika pertanyaan yang ingin ia ketahui itu tidak disambut dengan baik oleh suaminya itu. Jadi, yang bisa Doyoung lakukan hanyalah mengunci mulutnya, membuang kunci itu jauh-jauh, dan mencoba menyesuaikan diri dengan atmosfer canggung di sekeliling mereka. 13 jam penerbangan. Hanya 13 jam saja.
21 Desember, 09:12
Begitu mereka keluar gerbang kedatangan bandara, ada sepasang suami istri setengah baya yang terus menoleh-noleh ke sekeliling mereka. Sebuah kertas karton besar bertuliskan nama Johnny dan Doyoung diangkatnya tinggi-tinggi, menarik perhatian banyak sekali orang. Begitupun dengan kedua orang yang dimaksud, Johnny dan Doyoung.
Senyum ibu Suh langsung tersungging di wajahnya, raut mukanya yang semula gelisah kini berganti menjadi ekspresi bahagia. Kertas karton itu diberikan pada suaminya, sedangkan sang ibu melambai-lambaikan tangannya penuh tenaga. Gestur itu mengundang senyum tipis di wajah Doyoung, sekali lagi mengingat ironi yang terjadi saat ini. Tapi, seperti yang sudah ia dan Johnny ikrarkan, mereka harus berpura-pura di hadapan mereka berdua. Setidaknya, walaupun mereka pada akhirnya betulan bercerai, mereka masih membuat kenangan manis dengan kedua orang tua Johnny.
Yang ibu Suh lakukan seketika anaknya ada dalam jangkauannya adalah memeluk pria tinggi itu. Sedikit terisak, mungkin sebuah tumpahan atas rasa rindu yang dipendam sejak beberapa tahun terakhir. Cukup lama. Johnny membalas pelukan ibunya, mengelus punggung sang ibu dengan lembut, berusaha tersenyum selebar mungkin. Sesekali, ia terkekeh, menunjukkan bahwa ia pun bahagia bertemu dengan ibunya lagi.
“Kapan terakhir kamu pulang, hah?” ibu Suh memukul pelan badan bongsor anaknya itu, diiringi dengan tawa kecil Johnny.
“3 tahun apa ya? Hehe. Maaf, Ma. Johnny sibuk banget akhir-akhir ini.”
Pandangan yang tulus dan lembut diarahkan pada Johnny, terlihat jelas jejak air mata yang mengering di pipinya yang mulai berkerut. “Welcome home, Johnny.”
Begitu sesi berpelukan Johnny dan ibunya selesai, ibu Suh langsung menatap Doyoung dengan tatapan yang tak kalah lembut, senyuman yang tak kalah lebar, dan kata-kata yang keluar dari bibir sang ibu tak kalah menyentuh hati Doyoung. Ibu Suh melingkarkan tangannya pada leher Doyoung, menariknya lebih dekat lagi. Otomatis, tangan Doyoung membalas pelukan itu, mengelus punggung wanita itu sepelan mungkin.
“Mama udah kangen banget loh, Young,” ibu Suh setengah berbisik. Mau tak mau, Doyoung mengembangkan senyumnya, karena jauh di dalam hatinya, ia pun merindukan ibu mertuanya itu.
Atau mungkin, calon mantan ibu mertua untuk saat ini.
“Gimana penerbangannya? Capek?” tanya ibu Suh dengan lembut, memegang lengan Doyoung dengan cukup kuat.
Senyum Doyoung lebarkan ke arah ibu mertuanya, menjawab dengan nada selembut pertanyaan tadi. “Capek lah, Ma. 13 jam kurang lebih di pesawat. Agak jet lag juga ini.”
Tawa membuncah dari ibu Suh. Tawa yang hangat. “Kalau gitu ayo kita cepet-cepet pulang. Mama udah bikinin masakan kesukaan kalian loh.”
Jauh di dasar hati Doyoung juga, ia merasa sedih dan bersalah, mengingat semua kejadian yang terjadi selama beberapa bulan terakhir ini. Apakah ibu Suh akan mengetahui tentang semua pertengkarannya dengan Johnny? Apakah beliau akan mencium gelagat-gelagat aneh dari mereka? Apakah diskusi perceraian mereka akan terendus oleh sang ibu? Doyoung gelisah, takut, cemas. Memasang sebuah senyum yang tulus rasanya sangat susah dan berat.
Ia paling benci berbohong, ia tak suka dengan rencana ini. Tapi, Doyoung lebih tidak suka lagi menghancurkan harapan yang besar dari orang tua Johnny pada mereka. Melihat senyum tadi berubah menjadi senyum dengan rasa sedih rasanya lebih menyakitkan lagi. Ia harus tahan semuanya. Setidaknya sampai mereka harus kembali ke Korea.
Semuanya bakalan baik-baik aja, ujar Doyoung pada dirinya sendiri, semuanya bakalan baik-baik aja.
Rumah orang tua Johnny di Chicago tidak banyak berubah sejak terakhir kali Doyoung mengunjunginya. Temboknya seperti baru saja dicat kembali, terlihat bersih seperti rumah baru. Di pintu rumahnya, tergantung sebuah mistletoe sederhana dengan beberapa pernak-pernik natal kecil. Yang mengejutkan bagi Doyoung begitu ia menginjakkan kakinya di halaman rumah itu adalah bagaimana salju menumpuk cukup tebal. Rerumputan yang biasa menyapa Doyoung kini ditutupi lapisan es putih. Terlihat sangat dingin, namun cantik sekaligus.
Mobil yang membawa mereka berhenti di depan garasi. Semua personil yang ada di dalam segera keluar, serempak berjalan ke arah bagasi mobil. Pintu bagasi segera dibuka, menampilkan berbagai macam koper dan barang lain yang Johnny dan Doyoung bawa. Tangan Doyoung dengan sigap terulur, berusaha meraih koper besarnya yang agak di dalam. Namun terhenti, dibiarkan menggantung di udara saat mata Doyoung mendapati tangan lain sudah menggapainya lebih dulu.
Meskipun Doyoung tahu persis pemilik tangan itu, tidak aral ia menoleh ke arah pemilik tangan itu. Dengan susah payahnya, Johnny menarik koper itu mendekat ke arahnya, mengangkatnya untuk dikeluarkan dari bagasi. Di satu sisi, Doyoung agak malu, karena di dalam koper itu terdapat banyak sekali barang. Effective packing yang sering Johnny ajarkan padanya tidak ia praktikkan lagi, faktor gengsi dan kawan-kawannya. Namun di satu sisi, Doyoung pun terkagum, ingatannya disegarkan kembali bahwa Johnny memang sekuat itu. Itu adalah hasil kerja kerasnya selama beberapa tahun pergi seminggu tiga kali ke gym di dekat rumah mereka.
“Biar aku bisa bawain barang-barang kamu kalau kita travelling,” adalah jawaban Johnny saat Doyoung menanyakan alasannya begitu rajin melatih badannya waktu itu. Doyoung ingat membalasnya dengan gelak tawa, karena walaupun barisan kata itu sangat menggelikan, tapi Doyoung tak membencinya.
Senyum terkembang, tipis saja, di wajah Doyoung. Mengingat-ingat masa-masa di mana mereka masih belum seperti sekarang, dimana di rumah mereka hanya ada tawa dan cerita romantis di kantor mereka masing-masing, rasanya menyenangkan. Tapi, rasanya juga ironis.
Setelah beberapa barang lain keluar, Doyoung bersiap menarik pegangan kopernya, berniat untuk menariknya sendiri ke dalam rumah. Yang lagi-lagi didahului oleh suaminya, yang kini sudah beberapa langkah di depannya. Menghela napas, menyaksikan sebentar uap tipis yang keluar dari bibirnya, Doyoung langsung berjalan cepat hendak menyusul Johnny dengan beberapa barang yang ia bawa sendiri. Dengan mata kepala Doyoung sendiri, ia melihat bagaimana Johnny bisa mengangkat koper itu dengan leluasanya.
“Johnny,” panggil Doyoung, setelah entah berapa lama nama itu tak disebutnya. Yang terpanggil menoleh, dengan mata membulat, walaupun raut wajahnya tidak menunjukkan keterkejutannya.
“Kenapa?” jawab Johnny, dengan nada suara yang sangat lembut. Sungguh jauh berbeda dengan nada bicaranya saat mereka masih di rumah mereka. Tak urung Doyoung terkejut, tertegun, rasa rindu dengan suara itu tiba-tiba menyeruak.
“Aku bisa bawa koper aku sendiri padahal,” keluh Doyoung. “Kamu udah bawa yang kamu. Pasti berat banget.”
Di wajah Johnny kini terkembang senyum, sangat mirip dengan senyum ibu Suh saat di bandara tadi. Lembut, dan hangat. “Gapapa, sayang. Kamu kan tamu di sini.”
Doyoung bisa merasakan pipinya perlahan menjadi lebih hangat. Sepertinya, sebagian besar darah yang dipompa lari ke kedua pipinya. Hatinya sontak bertanya-tanya. Kapan terakhir kali Johnny memanggilnya “sayang”? Rasanya sudah bertahun-tahun yang lalu, sudah lama sekali. Kupu-kupu di perut Doyoung langsung berterbangan, seolah ingin keluar dari sana.
“Kamu juga tamu kali, sayang,” ucap Doyoung pada akhirnya. Kata terakhir itu terdengar sangat canggung. Tapi efeknya luar biasa. Johnny memberikan reaksi yang sama dengan Doyoung, dengan guratan merah muda di pipi, ekspresi terkejut yang tidak bisa disembunyikan.
“Tetep aja ini rumah masa kecil aku. Jadi yang bener-bener tamu cuman kamu.”
Johnny tergelak, mencubit hidung Doyoung pelan. Tidak lama, hingga Johnny segera berbalik dan menarik koper mereka berdua masuk ke dalam rumah. Doyoung masih mematung, memproses rentetan peristiwa yang baru saja terjadi 10 menit sebelumnya.
Yang timbul di hati Doyoung adalah rasa rindu, pada masa-masa awal pernikahan mereka. Di mana banyak sekali hal yang bisa membuat mereka berdua otomatis tersenyum. Di mana mereka sering menghabiskan waktu berdua, baik di dalam rumah, maupun saat mereka berjalan mengelilingi taman di sore hari setelah bekerja. Di mana mereka sering berada di dapur, mencoba memasak bersama, walaupun pada akhirnya 80% pekerjaan dilakukan oleh Doyoung ditemani Johnny yang terus menempel padanya.
Argh, Doyoung mengerang dalam pikirannya, nggak usah diinget-inget lagi.
Kakinya melangkah memasuki rumah, menutup pintu yang ada di belakangnya. Hidungnya, yang Doyoung kira hampir mati rasa karena kedinginan, menangkap wangi khas Korea memenuhi seluruh rumah. Ia tak dapat menahan senyumnya setelah mencium aroma yang mengingatkannya pada rumah. Tak dapat menyembunyikan kesenangannya, Doyoung langsung menaruh coat yang ia pakai di sebuah gantungan di dekat pintu, berjalan ke arah dapur.
Di dapur, di depan kompor yang menyala, ibu Suh sedang berdiri memperhatikan panci yang berisi makanan berkuah di dalamnya. Sesekali diaduk isinya agar tidak mudah gosong. Sepertinya, ibu Suh punya sedikit insting seperti hewan, karena beliau langsung menoleh begitu Doyoung hampir dekat dengannya. Senyum terpasang di wajahnya, menyambut Doyoung di dapur kesayangannya.
“Kamu kenapa ke sini? Udah kamu istirahat aja dulu. Mama bentar lagi selesai kok,” ujar ibu Suh.
“Doyoung mau liat mama masak dulu,” Doyoung terkekeh, berdiri di samping ibu mertuanya yang masih tersenyum sembari memperhatikan masakannya.
“Oh iya, Young,” ibu Suh berkata tiba-tiba, “Johnny akhir-akhir ini gimana? Dia baik kan sama kamu?”
Kepala Doyoung menoleh dengan cepat. Matanya terbelalak, jantungnya berdegup kencang, ia gugup dan bimbang.
“Baik kok, Ma,” jawab Doyoung, setelah berpikir keras beberapa saat, menyampaikan sebuah kebohongan. “Nggak ada masalah apa-apa.”
“Beneran?”
Doyoung menelan ludahnya sendiri. “Bener, Ma. Johnny baik kok.”
Ibu Suh menyunggingkan senyum lembutnya lagi, membuat Doyoung semakin merasa bersalah pada mertuanya itu. “Kalau misalkan Johnny keras kepala, tolong dimaafin ya. Kadang kalau udah ngerasa bener banget tuh dia nggak bisa banget dibilangin.”
“Oh ya?” Doyoung berusaha terdengar tertarik dengan apa yang diucapkan ibu Suh, meski ia sudah merasakannya secara langsung beberapa bulan terakhir ini. “Contohnya kayak gimana, Ma?”
Ibu Suh tekekeh sebentar, sebelum ia akhirnya menjawab pertanyaan Doyoung. “Dia pernah waktu SMA pengen banget pindah ke Korea. Apalagi setelah tau ada keluarganya di sana. Ya karna masih kelas 11, mama nggak ngijinin lah. Seenggaknya dia lulus dulu, baru mama rela dia pindah.”
Untuk pertama kalinya, Doyoung mendengar cerita tentang Johnny yang seperti ini. Sedikit terkejut, namun sedikit memakluminya juga. Entah mengapa, Johnny yang ada di benak Doyoung mampu berbuat seperti itu.
“Terus gimana, Ma?” Doyoung cukup penasaran.
“Akhirnya, mama sama papa waktu itu ngunci dia di kamar, terus kita obrolin itu lamaaaaa banget. Sampe sekitar 3 jam mungkin? Karna susah banget bujuk Johnny waktu itu buat nggak pindah ke Korea sebelum lulus SMA. Tapi akhirnya dia setuju buat ke sana buat kuliah.”
“Apa yang bikin Johnny akhirnya mutusin buat nunda pindah, Ma?”
Ibu Suh berhenti mengaduk masakannya sejenak, berusaha mengingat-ngingat percakapannya dengan anaknya itu beberapa tahun silam. “Apa ya? Kayaknya karna dia denger bujukan papanya. Katanya, 'Papa bakal ijinin kamu pergi kalau kamu udah paham betul budaya di sana. Papa nggak mau imigran Korea di sini kena imbasnya karna kamu bertingkah yang aneh-aneh'. Agak aneh alesannya, tapi masuk akal juga.”
Doyoung ikut terkekeh bersama dengan ibu Suh. Di pikirannya, Doyoung bisa membayangkan ekspresi Johnny yang masih remaja itu cemberut dan berusaha menentang. Ada gambaran kasar ekspresi itu di benak Doyoung, yang membuatnya terkekeh lagi.
“Kalau Johnny udah mulai keras kepala lagi, bilang ke mama ya,” ibu Suh menyenggol Doyoung pelan.
Sambil tersenyum, Doyoung menjawab ibu mertuanya. “Iya, Ma. Pasti.”
Tapi, kata-kata itu meninggalkan jejak rasa pahit di lidahnya.
Makan malam hari itu sangatlah besar. Berbagai macam lauk disediakan. Meja makan itu didominasi oleh makanan Korea, sesuatu yang sudah Doyoung rindukan walaupun ia baru ada di Chicago kurang dari satu hari. Suasana canggung yang Doyoung pikir akan memenuhi ruangan nampaknya tidak terjadi. Terima kasih kepada jiwa bersahabat Johnny dan kemampuan bersosialisasi yang jauh di atas kemampuan Doyoung, selalu saja ada topik baru di atas meja makan. Tentang teman-teman kantornya, tentang hobi memotretnya yang kembali ia tekuni, dan banyak lagi.
Banyak sekali cerita yang belum Doyoung dengar, seperti perkembangan hubungan teman satu tim Johnny, Taeil, dengan juniornya, Jungwoo. Doyoung terkejut mendengar Taeil yang kini rupanya sudah pindah ke kantor cabang lain sebagai manajer, dan Jungwoo yang sudah mendapatkan penggantinya, sahabat Johnny sendiri, Jaehyun. Atau cerita tentang hobi memotretnya. Doyoung bahkan tak pernah melihat Johnny mengambil kameranya yang tersimpan rapi di dalam lemari kaca di tengah ruang tamu.
Semua cerita itu terdengar asing. Semuanya baru di telinga Doyoung. Meski begitu, ia berpura-pura sudah mengetahui setiap detil cerita yang mengalir lancar dari bibir Johnny. Sesekali, gelak tawa memenuhi ruang makan, sesekali pula suasana agak serius. Tidak ada orang di meja makan itu yang bosan mendengar Johnny yang sudah bercerita. Ada magnet tersendiri, yang selalu berhasil menarik pendengar. Johnny adalah a pure story teller, penyampai cerita sejati.
Tapi Doyoung tidak mau peduli sekarang.
Setelah membujuk sedemikian rupa, akhirnya Doyoung berkesempatan untuk membalas makan siang kali itu dengan mencuci semua piring. Mungkin, dengan melakukan pekerjaan rumah, pikiran Doyoung bisa lebih jernih, ia bisa berpikir dengan lebih leluasa.
Tapi, sepertinya, Tuhan ingin membuatnya menderita.
Di tengah-tengah pekerjaannya, Doyoung merasakan kehadiran seseorang di sampingnya. Kembali, tangan yang sama yang menggapai kopernya beberapa jam lalu kini meraih piring yang belum Doyoung sentuh. Doyoung mengangkat wajahnya, mendapati Johnny yang sedang terfokus kepada piring kotor yang dipegangnya. Rasanya aneh, canggung, namun juga ada sepercik rasa nostalgia di sana.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Doyoung, keheranan melihat Johnny yang kini ada di sampingnya.
“Mama nyuruh aku. Ya kali aku nolak,” ujar Johnny, melirik ke arah Doyoung sebentar, lalu kembali fokus kepada cucian piringnya. “Kalau aku nolak, nanti mereka curiga juga. Jadi aku ke sini.”
Doyoung terkekeh sambil menggosok piring-piring itu, berusaha keras menghilangkan lemak yang menempel di atasnya. “Kamu anaknya penurut juga ternyata.”
Komentar itu sebenarnya sangat tidak direncanakan oleh Doyoung, hanya ia rencanakan untuk simpan dalam hati. Entah apa yang sedang otaknya pikirkan hingga kata-kata itu terucap begitu saja. Untungnya, Johnny tak memberikan balasan yang dingin, malah ikut terkekeh bersama dengan Doyoung. Tawa kecil yang sudah lama tak berdenging di telinga Doyoung.
“Namanya juga anak, Young.”
Tanpa disadari, sebuah senyum tersungging di wajah Doyoung. Sudah lama rasanya mereka tidak berbicara normal seperti ini. Sudah lama Doyoung tak mendengar suara bicara Johnny yang lebih hangat seperti sekarang. Bukankah lebih baik seperti ini? Daripada mereka berbulan-bulan terus berargumen, bertengkar, saling menjauhi satu sama lain.
Dalam petikan jari, sebuah penyadaran menghampiri Doyoung, hampir di ujung pekerjaan rumahnya. Bahwa sikap yang seperti ini sebenarnya tidaklah jauh dari perjanjian mereka sebelum ke bandara. Hanya rangkaian aksi yang dilakukan untuk meyakinkan kedua orang tua Johnny jika mereka tidak punya masalah besar.
Seperti diiris, Doyoung menyelesaikan piring terakhirnya dengan rasa sakit di hatinya, luka yang terbuka, ditaburkan sedikit garam di atasnya.
