Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-01-20
Words:
3,126
Chapters:
1/1
Kudos:
10
Hits:
213

éternel

Summary:

Jungkook tau dirinya berbeda dari yang lainnya. Tapi siapa yang sangka kalau dibalik perbedaan itu, ada orang yang diam-diam mencintainya?

Notes:

Special thanks to: @crsl_dmna yang udah commis cerita ini. semoga kalian suka juga sama ceritanya!

Work Text:

Ada banyak kisah di dunia ini yang belum kita ketahui secara pasti. Mitos-mitos zaman dahulu tentunya masih sering kita dengar. Cerita legenda tentang seseorang atau suatu benda masih banyak berseliweran dari telinga ke telinga. Kita ambil contoh dari kisah sang “gumiho”—aku menyebutnya dengan sebutan ‘sang’ karena aku tidak tahu pasti apakah dia seorang hewan atau manusia—yang konon katanya ia adalah seekor rubah berekor sembilan yang sangat anggun dengan bulu-bulu halus berwarna putih menutupi seluruh tubuhnya. Tapi siapa sangka bahwa ia adalah suatu makhluk yang bisa merubah wujudnya menjadi wanita cantik untuk mengelabui manusia lainnya dengan tujuan agar ia bisa menghisap darah dan memangsa hati tiap manusia yang ia dekati. Atau ada juga kisah tentang makhluk bernama “bulgae” yang dipercaya masyarakat bahwa ia adalah seekor anjing yang bisa menyemburkan api dari mulutnya. Dan konon katanya, sang bulgae mendapat perintah dari raja setempat untuk mengejar bulan dan matahari. Lalu saat sang bulgae tersebut berhasil menangkapnya, maka terjadilah gerhana di daerah itu.

Namun aku katakan sekali lagi, ada banyak kisah yang bahkan bukan hanya di korea saja, tapi juga di seluruh dunia ini yang belum kita ketahui secara pasti kebenarannya. Mungkin saja itu hanyalah cerita belaka atau hanya akal-akalan manusia saja untuk menakut-nakuti seseorang yang akan berbuat jahat agar ia selalu dapat berbuat baik pada sesamanya. Entah, aku pun tidak tahu pasti apa motif dibalik tersebarnya cerita dan mitos-mitos seperti itu. Sama sepertiku, yang tidak mengetahui cerita mendetail tentang bagaimana kehidupan keluargaku sebenarnya. Ibuku hanya memberi tahuku sebelum kepergiannya belasan tahun silam, bahwa aku adalah manusia yang terlahir tanpa ayah. Dan aku pun tidak tahu siapa dan dimana keluargaku berada. Namun satu hal yang aku tahu pasti, bahwa kemungkinan terbesar diriku sesungguhnya memang bukan keturunan manusia.

Semua itu berawal dari kejadian aneh beberapa tahun lalu saat aku menginjakkan usiaku yang kedua puluh. Aku merasakan sesuatu yang sangat gatal dan panas di bagian leherku, ketika aku sedang berada di luar rumah untuk pergi berbelanja kebutuhan bulananku yang menyebabkanku membatalkan kegiatanku siang itu padahal mobilku sudah terparkir manis disudut parkiran mall. Aku beranjak kembali menuju mobilku dan menancap gas untuk memutar arah menuju rumahku. Dan benar saja, aku mendapati leherku dengan ukiran-ukiran mirip sisik naga yang entah dari mana asalnya, aku pun tidak tahu. Yang aku tahu, ukiran-ukiran itu membuat tubuhku panas dan gatal saat terkena sinar matahari dan mulai membaik ketika aku menginjakkan kakiku kembali dirumah.

Aku yang saat itu bingung lantas mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi padaku beberapa waktu belakangan ini. Berhari-hari aku memikirkan hal itu, namun aku tidak juga kunjung menemui jawabannya. Ukiran itu kian menebal seiring waktu, meski tidak lagi terasa panas sebab aku yang berdiam diri didalam rumah. Dan setiap kali aku pergi keluar rumah walau sebentar, walau hanya sekedar menjemur handuk bekas mandiku, aku mulai merasakan panas itu lagi. Rasa panas yang sama saat pertama kali aku merasakannya di parkiran mall siang itu.

Waktu berlalu. Aku mulai menerbiasakan diri dengan kondisi yang sekarang aku miliki. Perlahan aku memahami diriku, dan apa saja yang seharusnya aku lakukan untuk melindungi dan merawat diri. Aku tidak lagi pergi ke kafeku—kafe yang aku rintis perlahan saat usiaku jalan delapan belas tahun dulu—di siang hari dan lebih memilih mengontrol pekerjaanku dari rumah. Malah dalam waktu beberapa bulan saja, dengan entah mengapa kafeku lebih sering kedapatan ramai pengunjung—karena biasanya, kafe milikku tidak pernah seramai ini bahkan hampir lebih dari dua tahun lamanya. Dan menjelang usiaku yang menginjak kedua puluh satu, kafeku bertambah ramai lagi. Seperti ada magnet atau daya tarik sendiri yang membuat para pengunjung betah hingga memilih untuk makan di tempatku. Bukannya aku tidak bersyukur, hanya saja semua ini terlalu tiba-tiba. Atau mungkinkah semua ini ada hubungannya dengan tulisan ibuku—yang beliau tulis dalam buku yang ku temukan di gudang saat aku sedang mencari alat untuk memperbaiki keran airku yang rusak—yang menjelaskan bahwa sebenarnya aku ini memiliki seorang ayah. Hanya saja, hal yang membuatku sangat terkejut adalah kenyataan bahwa ayahku adalah seorang siluman naga.

Jangan tanya aku bagaimana bisa ayahku seorang siluman naga, karena nyatanya aku pun tidak mengerti. Bahkan saat pertama kali aku membaca tulisan itu, aku seperti telah dibohongi. Aku pun tidak percaya akan fakta itu, sama seperti aku yang tidak percaya dengan legenda-legenda atau mitos-mitos yang orang-orang katakan dahulu. Namun untuk apa ibu dengan niat sekali menulis itu jika beliau hanya ingin membohongiku? Dan aku pun percaya bahwa ibu bukanlah orang yang seperti itu. Ibu bukan tipe orang yang senang berbohong atau membuat suatu hal seakan-akan nyata padahal tidak sama sekali. Karena ibu yang aku kenal adalah ibu yang selalu berkata dan berbuat jujur. Ketika ia menemukan dompet yang terjatuh di jalan saja langsung ibu laporkan pada pihak berwajib bahwa ia menemukan dompet milik seseorang tanpa mengambil sepeserpun uang atau barang berharga sang pemilik. Apalagi hal yang besar seperti ini, aku yakin ibu tidak sedang berbohong saat menulisnya. Karena aku tahu, ibu menyayangiku dan akan selalu seperti itu. Maka aku percaya padanya akan segala sesuatu yang dikatakannya.

Awalnya aku tidak bisa menerima diriku—setelah aku membaca tulisan ibu—yang merupakan keturunan seorang siluman naga. Namun mau tidak mau, aku harus bisa menghadapinya. Karena tidak ada lagi hal yang bisa aku sanggah, semua tanda yang terukir jelas di leherku bahkan memperjelas semuanya. Aku meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa tidak apa-apa menjadi tidak sempurna, atau bahkan menjadi manusia keturunan sang naga, semuanya akan baik-baik saja. Dunia tidak akan kiamat hanya karena aku mengetahui identitasku yang sebenarnya—meski tidak dapat aku pungkiri, aku takut menerima respon orang-orang sekitarku tentang diriku dan memilih untuk merahasiakan hal ini dari siapapun.

Setahun berikutnya aku berhasil mengembangkan kafeku dan mendirikan cabangnya dibeberapa titik sudut kota. Hingga pada suatu malam dimana aku menyempatkan diri untuk mengotrol salah satu kafe milikku—apakah semuanya berjalan lancar atau terdapat beberapa kendala—yang berada di pinggiran kota, sudut mataku menemukan seorang pria yang tersungkur lemah di dekat tangga jembatan trotoar penyebrang jalan seperti habis di keroyoki, re: saat aku berada di jalur pulang menuju rumah. Entah siapa yang melakukan hal itu padanya, aku tidak peduli. Yang aku pikirkan hanya bagaimana keadaan pria itu yang tersungkur ditengah dinginnya malam. Maka aku buru-buru menepikan mobilku untuk menghampirinya.

Aku tahu ini sedikit aneh. Bukan, bukan pria itu yang aneh. Maksudku, responku kepada pria itu sangat aneh. Kenapa bisa aku mau menghampiri seseorang—yang bahkan aku saja tidak mengenalnya—dan menolongnya, jika dengan karyawan sendiri saja aku menjaga jarak—karena aku takut orang-orang yang berada didekatku menyadari ukiran yang ada di leherku. Bahkan aku rela melepaskan jaketku dan membiarkan ukiran itu samar terlihat, hanya demi melindungi tubuhnya yang lemas dan menggigil. Ini musim dingin dan darah yang keluar dari sudut bibirnya pun telah mengering. Lalu sesegera mungkin aku menuntunnya kedalam mobil dan membawanya pulang ke rumahku.

Aku merawat pria yang bernama Hoseok itu—aku mengetahui namanya setelah aku bertanya tentang identitas dirinya—dirumahku malam itu. Aku bertanya tentang apa yang sebenarnya telah terjadi padanya. Dan akupun bertanya mengenai alamat tempat tinggalnya—tentu saja yang ini agar aku bisa mengantarnya pulang besok pagi sekali sebelum matahari terbit. Lalu aku membiarkannya tidur bersamaku di kamarku.

Memang berat ternyata menjadi diriku yang baru. Ukiran yang ada di leherku membuatku merasa berbeda dari manusia lainnya meski memang kenyataannya seperti itu. Jangankan Hoseok yang melihatnya malam itu, aku pun selalu tidak percaya bahwa diriku memiliki ukiran mirip sisik ini di leherku. Namun untungnya, sejak malam dimana aku menolong pria itu, ia tidak pernah bertanya tentang hal-hal yang aneh atau merasa risih karena ia mengetahui ukiran ini. Dan hal itu membuatku mampu menghembuskan nafas lega. Bahkan hubunganku dengan Hoseok kini terjalin semakin baik. Dan aku tidak lagi takut untuk menjalin pertemanan dengannya.

Pernah pada suatu malam—saat ia menginap dirumahku untuk entah keberapa kalinya—aku iseng bertanya padanya mengenai bagaimana ia merespon jika seandainya ia tahu bahwa aku bukanlah manusia normal, bukanlah seperti manusia pada umumnya. Dan lagi-lagi, jawabannya jelas selaras dengan sikapnya yang ia tunjukkan padaku. “ga masalah. Mau kamu alien, mau kamu macan, mau kamu ular jadi-jadian, atau siluman naga sekalipun, aku tetap ingin bersama kamu. Karena kamu yang telah menolongku malam itu disaat tidak ada satupun orang yang menolongku.” Ucapnya.

Memang beberapa bulan terakhir ini aku menjadi semakin dekat dengan Hoseok. Malah sepertinya kini aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersama Hoseok. Terkadang aku berjalan-jalan keliling kota bersamanya dimalam hari—karena Hoseok mengetahui bahwa aku tidak bisa keluar di siang hari atau aku akan merasa panas dan gatal lagi di bagian leherku. Melihat festival kembang api bersamanya sambil meminum beberapa botol soju dari balkon rumahku. Menonton film apapun yang bisa di tonton bersama setiap weekend tiba—dengan posisi kami yang terbaring di sofa dan saling memeluk satu sama lain—di rumahku.

Hingga tak sadar, lambat laun aku turut merasakan getaran di hatiku yang kian menggebu seiring waktu. Aku begitu mencandu aromanya saat memelukku. Jantungku ikut meluap kala ia menatap lurus kearah manikku. Aku tahu aku menginginkan lebih. Aku mencintainya. Dan jelas, aku mendambakan hadirnya selalu dihari-hariku.

Hampir saja aku menyerah karena Hoseok yang tidak kunjung mengerti perasaanku padanya, namun kalian tau apa yang paling tidak ku sangka?

Kenyataan bahwa ternyata, selama ini ia mencintaiku juga dan merasakan getar yang sama ditiap tatap antara aku dan dia, membuatku begitu bahagia. Dan lebih gilanya lagi, dengan dekorasi sederhana yang Hoseok hias di ruang makanku dan setangkai mawar yang ia beli sendiri di pinggiran jalan, ia melamarku di ulang tahunku yang kedua puluh tiga, merupakan kejutan terindah yang pernah aku dapatkan selama aku hidup. Tidak ada yang pernah mencintaku sebelumnya selain ibuku—atau mungkin ada, namun tidak mengatakannya padaku. Tidak pernah rasanya aku mendapat cinta sebelumnya, selain cinta ibuku. Dan sekarang, dengan gagahnya Hoseok memintaku menjadi pendampingnya.
Ah, pasti dikehidupan sebelumnya aku pernah menyelamatkan seorang yang penting sampai-sampai orang yang aku cintai, pria yang bernama Hoseok itu melamarku.

Siapa yang tau bahwa akhirnya seorang keturunan siluman naga pun bisa bahagia. Sama sepertiku, yang juga tidak pernah menyangka bisa merasakan bahagia yang teramat karena bisa mendapat manusia sebaik dan setulus Hoseok. Bahkan saking tidak percayanya, aku menepuk-nepukkan pipiku berkali-kali. Namun Hoseok yang berada di hadapanku dan mencubit pipiku pelan, membantuku menyadarkan bahwa ini semua bukanlah mimpi semata, membuat semuanya semakin terasa nyata. Dan ya, sesuai ekspetasi kalian. Sebulan setelahnya, kami benar-benar mengikat hubungan kami dengan menyatakan janji dihadapan pendeta.

Ah, akhir kisah yang manis bukan? Yang awalnya ku kira, aku tidak akan pernah bisa mendapat pasangan hidup sebab identitasku, ternyata malah sebaliknya. Hoseok berhasil membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya kedalam pelukannya.

Setelah menikah, aku membiarkan Hoseok mengelola kafeku beserta semua cabangnya. Meski ada beberapa temannya yang iri—karena bagaimana bisa seorang guru tari panggilan bisa sukses menjadi pemilik kafe dengan cabang banyak yang tersebar di penjuru kota?—dan perlahan mereka mulai membicarakannya dibelakang Hoseok. Membicarakan hal-hal yang bukan menjadi urusan mereka dan menggunjing Hoseok dengan bangganya. Ingin rasanya aku marah pada teman-teman Hoseok yang bajingan seperti itu, namun Hoseok menahanku. Ia lebih memilih memelukku disaat amarahku berada pada puncak tertingginya.

Bagaimana bisa aku tidak begitu menyayanginya jika ia saja bersikap seperti ini?

Maka yang bisa aku lakukan hanya memendamkan kepalaku di dadanya dan ikut memeluknya erat. Ia mengendus rambutku seperti biasanya ketika sedang meredam marahku dan mengecup keningku. “Sabar, sayang” Ucapnya saat menenangkanku dan selalu seperti itu.

Hingga tiba saatnya aku tidak lagi mampu menahan emosiku ketika mendengar suara Hoseok—yang sedang pergi sebentar ke supermarket terdekat untuk membeli sesuatu dengan berjalan kaki karena jaraknya yang lumayan dekat dari salah satu cabang kafe yang dikontrolnya saat itu—yang tiba-tiba terputus sebab teman-temannya yang iri itu, mengeroyoknya (lagi) seperti terakhir kali mereka mengeroyok Hoseok di malam itu, malam saat aku pertama kali menemui Hoseok tidak berdaya di sudut tangga jembatan trotoar. Hoseok terlalu baik, sumpah menurutku ia terlalu baik bahkan sampai ia tidak bisa melawan—lebih tepatnya tidak tega—teman-temannya. Padahal bisa saja ia balik meninju mereka kan? Atau bisa saja ia berlari sekencang mungkin kembali ke kafe? Tapi ia memilih tidak melakukannya.

Aku melajukan cepat mobilku menuju lokasi dimana Hoseok dikeroyok oleh para brandal bangsat itu. Aku tidak bisa lagi menahan amarahku. Mereka menghabisi Hoseok-ku. Mereka memukuli belahan jiwa-ku yang sudah aku tunggu-tunggu kedatangannya. Belahan jiwaku, Hoseok, satu-satunya orang yang bisa memahami diriku dan mengertiku lebih dari diriku sendiri. Tidak peduli apakah siang atau malam ia dipukuli, aku akan tetap melindunginya. Bahkan jika matahari harus membakar kulitku. Bahkan jika matahari harus membuatku hangus sekalipun, aku akan tetap melindungi Hoseok-ku.

Apa aku salah? Aku hanya ingin menolong Hoseok dari para bajingan itu, karena aku tau Hoseok tidak akan tega meninju balik mereka. Apa berdosa jika aku melindungi suamiku sendiri? Bagaimana jadinya jika Hoseok benar-benar tidak sadarkan diri setelah dipukuli? Bagaimana jika itu adalah kali terakhir aku memandangnya? Maka aku harus bertindak cepat sebelum menyesali semuanya.

Maaf, kak. Maafkan aku menentang siang dan memilih menghampirimu ditengah teriknya matahari. Aku hanya mengkhawatirkanmu, kak. Aku sangat mencintaimu.
Aku buru-buru memarkirkan mobilku di pinggiran jalan dan berlari kecil mencari dimana Hoseok berada. Aku merasakan kulitku seperti terbakar. Panas dan gatal bisa aku rasakan bersamaan sekarang. Namun aku tidak peduli. Tujuku hanya satu: Hoseok. Kemudian ujung mataku menangkap sosok tubuh yang sangat ku kenal membelakangiku. Ia terduduk lesu dengan dasi dan kerah baju yang ditarik oleh salah satu pria yang tubuhnya sangat besar dan memiliki mata setajam elang. Aku tidak mengenali pria itu, namun sepertinya aku ingat wajahnya seperti pernah aku lihat sebelumnya secara samar. Ah, pantas saja. Fotonya jelas terpampang selalu dalam dompet milik Hoseok. Ia adalah pria bernama Namjoon, sahabat dekat kekasihku dari kecil. Tapi? Kenapa teganya ia memukuli sahabatnya sendiri? Apakah keirian telah mendarah daging dalam dirinya? Apakah Egonya lebih tinggi dari pada rasa kasihnya sendiri kepada sahabatnya?

Aku marah. Marah sekali. Namun ketika aku mencoba melangkahkan kakiku lagi untuk berlari sesegera mungkin untuk memukuli wajah pria bernama namjoon itu, kakiku seperti terpaku ditempat. Lalu hal aneh mulai terjadi. Hal aneh yang tidak pernah aku alami sebelumnya.

Rasa gatal dan panas seperti terbakar dari kulit leherku kini menjalar keseluruh tubuhku. Lalu tumbuh kuku-kuku panjang dengan bentuk sangat besar dan tajam seketika dari jari-jari kakiku. Pun dengan jari-jari tanganku yang mengalami hal serupa. Kepalaku sakit sekali. Dan sedetik kemudian aku merasakan sesuatu mulai tumbuh dari ubun-ubunku. Dua buah tanduk yang runcing membentuk bayangan di trotoar jalan. Aku lemas. Aku merasakan tubuhku seperti terbelah dua.

Tidak hanya berhenti disana. Setelah apa yang muncul pada jari tangan dan kakiku, lalu tanduk di kepalaku, aku kini merasakan sakit yang teramat yang bersumber dari tulang belakangku. Aku merasakan sakit disana semakin menjadi sebelum akhirnya dua sayap berisisik mencuat dengan darah yang mengalir dari punggungku. Oh Tuhan, apalagi yang terjadi kali ini? Ku mohon, aku hanya ingin melindungi kekasihku. Hentikan sakit ini dan biarkan kakiku melangkah untuk melawan mereka yang menindas separuh nafasku.

Namun bukannya kakiku yang bisa ku gerakkan, kini sayapku yang mengambil alih semuanya. Perlahan aku memandangi kakiku yang tidak lagi menapaki tanah. Sayapku membawaku terbang cepat kemudian dengan amarahku yang bercampur dengan tenaga yang entah dari mana datangnya, aku menubruk tubuh manusia bernama Namjoon lantas mencakarnya habis menggunakan kuku-kuku tajamku. Darah mengalir dari pelipis dan pipinya akibat cakaranku. Dari wajah, tanganku tidak terkontrol mencabik dada orang itu hingga kesadarannya menghilang. Lalu aku berbalik badan menghadap gerombolan yang mengerubungi kekasihku.

Tuhan, aku memang ingin marah. Tapi bukan marah yang seperti ini yang aku maksud. Bukan marah yang bahkan aku sendiri tidak tahu siapa yang mengendalikan emosiku.

Orang-orang yang berada disekitar Hoseok—yang kemungkinan besar adalah teman Namjoon—bergerak menjauh darinya. Mereka mengangkat tangan bersamaan tanda mereka menyerah dan tidak lagi ingin memukuli kekasihku. Manusia yang berseliweran sambil berkendara pun terkaget melihat wujudku dan apa yang baru saja aku lakukan. Hingga tiba saatnya mereka semua, manusia-manusia disini mengetahui identitasku yang sesungguhnya. Bahkan ada beberapa diantara mereka yang melihat kejadian barusan, diam-diam menelepon polisi dengan rasa takut.

Kemudian mataku menangkap sosok Hoseok yang menatapku balik dengan isak yang tersisa. Hoseok menangis. Hoseok-ku menangis. Ya Tuhan, ingin sekali rasanya aku memeluk Hoseok. Namun aku tidak bisa. Aku takut melukainya sama seperti aku yang melukai Namjoon jika berada didekatnya. Karena aku tidak tahu siapa kini yang menguasai tubuhku. Tapi kenyataan Hoseok yang memandangku lamat dengan mata yang berkaca kian mengiris hatiku. Tatapannya menyayat jiwaku.

Tidak lama, polisi datang berbondong ke tempat lokasi. Aku seperti tertangkap basah. Atau mungkin ini adalah kali terakhir aku berada didunia. Dan benar saja. Saat polisi-polisi itu turun dari mobil-mobil mereka, mereka telah bersiap dengan senapannya yang diarahkan ke arahku. Aku berusaha menjelaskan apa yang terjadi, namun mereka tidak ingin mendengarkan. Dan kini, aku pasrah.

Aku tahu mereka takut padaku, jika seandainya aku dibiarkan tetap ada disini. Takut aku akan menghabisi dan menyakiti lebih banyak orang lagi. Tapi percayalah. Aku hanya ingin melindungi bagian dari jiwaku. Tidak ada niat dalam diriku menyakiti orang lain. Semua ini bukan kehendakku. Membuat seseorang tewas pun bukan keinginanku. Itu semua diluar kendaliku.

Dan aku katakan sekali lagi, itu semua diluar kendaliku.

Manusia mana yang ingin terlahir sebagai keturunan dari siluman naga? Jika aku boleh memilih, aku pun tidak ingin. Tapi bagaimanapun juga, itu semua sudah kehendak Tuhan. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa merubah masa lalu dan tidak bisa memilih dari, dimana dan di keluarga apa aku akan dilahirkan. Aku tidak punya kuasa akan hal itu.

Sedetik kemudian aku merasakan tubuhku dihantam oleh peluru bertubi-tubi. Sakit. Rasanya sangat sakit. Peluru-peluru itu berbondong-bondong menyerbuku. Dan perlahan aku merasakan luka dibeberapa bagian tubuhku. Sebelah sayapku bahkan terputus hingga membuatku jatuh tersungkur. Tetapi tetap saja, mereka tidak berhenti menembakiku. Atau mungkin tidak akan pernah berhenti sampai aku benar-benar lenyap dari bumi.

Lalu suara lirih mengambil perhatianku.

“Jungkook, kakak sayang kamu sampai kapanpun.” Ucap Hoseok sambil perlahan berjalan kearahku yang tersungkur lemah. Air matanya mengalir deras, sama sepertiku. Dan kini ia beranjak memelukku.

“Kakak ga peduli siapa kamu, dari mana kamu berasal, atau bagaimana wujud asli kamu, kakak tetap cinta kamu. Kakak—“

“Cukup kak, kakak gaboleh deket-deket Jungkook sekarang. Bahaya, kak. Biar Jungkook yang sakit ya, kakak harus baik-baik aja” Kataku memotong pembicaraannya. Aku menggunakan sayapku yang lainnya untuk melindungi Hoseok yang sedang memelukku. Namun, Hoseok tidak melepaskanku.

“Aku cinta kamu, Jungkook. Jangan paksa aku pergi, aku gabakal pergi. Aku mau temenin kamu terus.”

“Kak—“

“Aku cinta kamu, kook. Selalu. Hadapi…bersama…ya?”

“I love you too, kak. Soo much. Jungkook sayang kakak. Jungkook cinta kakak, Jungkook—“ lalu sebuah peluru menghantam tepat kearah dada Hoseok dari belakang punggungnya, juga menembus sayapku hingga membuatnya patah.

Namun bukan itu poin intinya. Aku sungguh tidak peduli bagian tubuhku yang mana lagi yang akan patah atau rusak. Tapi, Hoseok-ku. Fakta tentang Hoseok-ku yang tidak lagi bisa ku rasakan lagi hembusan napasnya dan masih memelukku, perlahan memejamkan matanya.

“KAKAKKKKK—“

Kemudian satu peluru pun sukses menembus dadaku. Pun… sukses menghentikan napasku. Tapi aku masih bersyukur bisa berakhir dengan seperti ini. Setidaknya, aku masih bersama separuh nafasku hingga akhirku. Sebelum akhirnya aku benar-benar kehilangan sadarku dan jiwaku sepenuhnya. Dan pergi untuk selamanya.