Work Text:
And the summer breeze blows away the heat, and he took away my heart.
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
Di dunia ini, ada dua hal yang paling Park Jimin benci. Hal pertama adalah pelajaran Ramuan Profesor Slughorn. Jimin bukannya benci kelas Ramuan, hanya saja cara mengajar Profesor Slughorn benar-benar tidak cocok dengan gaya belajarnya. Seandainya bisa, Jimin ingin sekali tidak mengambil kelas Ramuan sejak tahun kedua. Sebab tidak peduli seberapa keras ia mencoba, ia tidak pernah bisa mengerti isinya. Ia sudah berkali-kali meminta kakak tingkatnya, Min Yoongi (yang sedikit pemalas tapi lumayan pintar itu) untuk membantunya belajar. Tapi di tahun kedua, Jimin dengan sukses menggunduli Lee Taemin dengan ramuan penumbuh rambut yang dibuatnya. Yoongi bilang kegagalan itu terjadi karena Jimin memasukkan ekor tikus yang sudah tua, bukan tikus berumur lima minggu seperti yang ditulis dalam buku.
Jimin tidak peduli. Akhirnya tetap saja terbaca, dia gagal total.
Hal kedua yang Jimin benci adalah Jeon Jeongguk. Kalau ditanya kenapa Jimin benci Jeongguk, jawabannya adalah; dia tidak tahu. Dia hanya benci saja pada Jeongguk tanpa alasan. Mungkin karena Jeongguk adalah bintang di kelas Ramuan yang Jimin benci, karena itu ia benci Jeongguk karena Jeongguk bisa menguasai hal yang tidak bisa Jimin mengerti. Tapi Jimin juga benci kelas Transfigurasi, kok, kadang-kadang. Dan dia tidak membenci Daniel karena Daniel jago di Transfigurasi dan jadi kesayangan Prof. Winger.
Mungkin Jimin kesal pada Jeongguk karena Jeongguk pernah mengalahkan asramanya di pertandingan Quidditch tahun kedua. Jimin jadi beater, waktu itu, dan Jeongguk adalah seeker. Kalau saja Jeongguk tidak mendapat snitch itu, Slytherin pasti menang!
Tapi Jimin berkali-kali dikalahkan Ong Seongwoo dari Gryffindor, dan dia tetap tidak keberatan berbagi kompartemen kereta dengan Seongwoo setiap kali mereka naik dari King's Cross.
Atau mungkin karena Jeongguk populer? Tapi dibanding Jeongguk, sahabatnya Taehyung dari Hufflepuff jauh lebih populer lagi, dan Jimin tidak pernah iri karena kepopuleran itu. Toh ia sendiri bukan orang yang mudah beramah-tamah dengan orang lain, dan mudah sekali merasa malu kalau disanjung terlalu tinggi.
Yah, mungkin Jimin hanya benci saja pada Jeongguk. Tanpa tapi dan tanpa karena.
"Seperti yang kuharapkan, Mr. Jeon. Rasa-rasanya kau tidak perlu lagi menghadiri kelasku, sebab aku tidak tahu lagi apa yang harus kuajarkan padamu, mengingat kau sudah menghafal semuanya dengan sempurna."
Lagi, pujian Slughorn seperti petir yang menggelegar di telinga Jimin. Tidak pernah ada satu pekan pun berlalu tanpa Jimin alpa mendengar pujian bagi Jeon Sialan Jeongguk meluncur bebas dari mulut Slughorn. Minggu ini, laki-laki yang sedang duduk di barisan ketiga itu mendapat pujian lantaran berhasil membuat ramuan Skele-Gro. Ralat, satu-satunya yang berhasil membuat Skele-Gro dari dua puluh orang siswa di kelas ini.
"Kau hampir membolongi kepala si Jeon kalau melotot begitu, Jim." Suara husky Taehyung membangunkan Jimin dari lamunannya (yah, dia menganggap dia sedang melamun, bukan memelototi Jeon Jeongguk) yang panjang. Jimin mendengus, mengabaikan teguran Taehyung untuk entah-ke-berapa kalinya.
Taehyung memangku wajahnya dengan telapak tangan, ikut memperhatikan Jeongguk yang sekarang sedang sibuk menulis sesuatu di buku catatannya. Jimin memaki dan mengatai Jeongguk 'aneh' berkali-kali di dalam hati. Ingin sekali menarik tongkatnya dan melayangkan mantra botak ke kepala Jeongguk. Berada di dalam ruangan yang sama dengan Jeon Jeongguk membuat Jimin muak setengah mati (dan sayang sekali dia punya empat kelas bersama Jeongguk).
"Dia menyebalkan sekali," kata Jimin dengan suara pelan nyaris setipis udara. Ia menggenggam pena bulunya seolah benda tajam itu hendak digunakannya untuk menusuk kepala Jeongguk. "Lihat wajahnya! Dia seolah-olah bersikap kalau pujian barusan tidak penting buatnya!"
Sejujurnya Taehyung agak kurang paham kenapa Jimin tampak sangat membenci Jeongguk. Mereka sudah tahun kelima sekarang, dan kebencian itu bukannya semakin surut malah semakin besar sampai rasanya Taehyung tidak lagi mampu membendung semua gerutuan Jimin. Jeon Jeongguk tidak pernah bersikap menyebalkan, kok. Malah sebaliknya, dia jarang sekali bersosialisasi karena sedikit pemalu (Taehyung tahu dari adik sepupunya Mingyu yang kebetulan akrab dengan Jeongguk).
"Mungkin saja buatnya itu memang bukan hal besar?" Taehyung memainkan poninya, berbisik menimpal pada Jimin. "Dan aku masih tidak mengerti kenapa kau benci sekali padanya. Memangnya Jeon Jeongguk pernah menolakmu atau apa?"
Jimin berdecih. "Mana mungkin aku suka dia!" serunya, kesal.
Hanya saja seruan itu rupanya tidak cukup pelan untuk bisa luput dari telinga tajam Prof. Slughorn. Lelaki yang sedang menjelaskan mengenai fungsi kumbang tanah dalam pembuatan ramuan Skele-Gro dan ramuan penajam-otak itu langsung menghentikan ceramah pendeknya saat suara Jimin memotong penjelasannya. Seisi kelas menoleh ke arah mereka. Taehyung sibuk menyembunyikan wajahnya di bawah buku yang terbuka (takut ketahuan kalau sebenarnya ia tidak tergabung dalam kelas ini), dan Jimin menutupi wajahnya yang merah dengan tangan.
"Suka siapa, Mr. Park?" Slughorn bertanya. Wajahnya yang mirip dengan kucing tua menatap Jimin dengan pandangan penuh tanya. Satu hal yang tidak Jimin suka darinya, adalah bahwa profesor satu ini selalu tampak seperti orang bodoh tidak peduli seberapa jenius dia sebenarnya.
Jimin menggigit bibir. Berani bertaruh wajahnya sudah sangat merah sekarang. "Tidak ada, Profesor," kilahnya dengan suara mencicit.
Slughorn menarik napas pendek. "Mungkin kau bisa belajar dari Mr. Jeon untuk memperhatikan kelas? Mengingat nilaimu tidak terlalu bagus sejak tahun pertama, aku khawatir kau tidak akan bisa mengambil Ramuan di ujian N.E.W.T dengan nilaimu yang sekarang. Kau tentu tahu apa akibatnya bukan, Mr. Park?"
"Ya, Profesor."
Slughorn berkedip dua kali. "Bagus. Kuharap sepanjang sisa tahun ini, kau bisa lebih banyak memperhatikan dan tidak membicarakan cinta monyetmu di dalam kelasku."
Beberapa siswa Ravenclaw terkikik, diikuti oleh teman-teman Jimin dari Slytherin yang membuat wajah lelaki itu semakin matang. Matanya menangkap Jeon Jeongguk memandangnya dengan pandangan meremehkan (percayalah Jeongguk tidak menatapnya seperti itu, Jimin hanya parno) sebelum kembali fokus pada buku tebal di genggamannya.
Dasar aneh! Dan kalau bukan karena si aneh itu, Jimin tidak mungkin ditegur di dalam kelas seperti ini!
Mood Jimin buruk sepanjang hari itu. Dia memakan makan siangnya tanpa hasrat dan terus menggerutu sepanjang siang. Taehyung yang tidak tahan beranjak pergi, merapat pada Gryffindor tempat dimana pacarnya Seokjin duduk untuk makan siang. Barangkali kelelahan menghadapi gerutuan Jimin yang begitu-begitu saja. Tapi lelaki yang sedang memotong daging kalkun dengan wajah tertekuk itu sama sekali tidak suka ditinggalkan, dan pengabaian Taehyung hanya membuat emosinya semakin menyala.
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
"Dasar bajingan."
"Gara-gara dia sekarang aku tidak bisa lulus O.W.L."
"Brengsek sialan."
Makian-makian itu meluncur tanpa henti dari mulut Jimin yang sibuk mengunyah. Yoongi sudah bergeser menjauh, tidak mau terkena cipratan saus dari mulut Jimin yang terus bersungut-sungut. Gerakan itu lagi-lagi berkontribusi terhadap emosi Jimin yang tidak kunjung surut.
"Kenapa, sih!? Memangnya aku sejenis virus sampai kau harus menjauh begitu?" Jimin berseru, wajahnya merah menahan marah. "Sana, pergi saja ke meja Gryffindor dan hampiri pacarmu!"
Pacar Yoongi yang dimaksud Jimin adalah Namjoon, prefek dari Gryffindor sekaligus bintang di tahun keenam. Orang yang digadang-gadang akan mendapatkan skor sempurna untuk N.E.W.T setelah membabat O.W.L dengan nilai O di seluruh mata pelajaran. Bajingan yang kelewat sempurna, kalau Yoongi menyebutnya. Jimin seringkali mendengar kalimat itu keluar dari bibir Yoongi, tapi tahu kalau Yoongi bisa berubah jadi kucing yang hanya jinak di hadapan pacarnya.
"Sensi banget, kau," Yoongi mendengus, tidak ambil pusing pada ledakan emosi Jimin yang tiba-tiba. Tapi Yoongi tidak menghindar, ia melanjutkan makan siangnya seolah gerutuan Jimin yang sangat keras tadi sama sekali tidak pernah ada. Jimin sejujurnya benci diabaikan, tapi Yoongi akan selalu punya seribu satu alasan untuk mengabaikannya, jadi ia menelan bulat-bulat protesnya.
O.W.L atau Ordinary Wizarding Level akan dimulai empat minggu lagi, dan Jimin masih saja bodoh di mata pelajaran Ramuan. Ia sudah berusaha memohon agar Yoongi mau meminta Namjoon menjadi tutornya, tapi sebaik apapun Namjoon menjelaskan, Jimin tetap tidak bisa mencerna apapun. Yoongi sendiri bukannya bodoh, tapi belajar dengan Yoongi sama sekali buruk bagi kesehatan mentalnya dan Jimin tidak ingin lebih depresi dari ini.
Seorang murid berambut coklat magnum mendekati Jimin sambil menggigit bibir. Di dalam kepala, anak itu mungkin sedang menimbang-nimbang apakah mendekati Jimin saat ini adalah keputusan yang tepat mengingat suasana hati laki-laki itu agak sedikit kurang baik. Jimin kenal anak ini, dia seorang keeper dari asrama Slytherin. Choi Yeonjun, kalau ia tidak salah ingat?
"Ada apa?" Jimin bertanya, sebisa mungkin berusaha agar tidak terdengar sinis. Yang mana berakhir dengan kegagalan total karena ia adalah orang yang paling tidak bisa menyembunyikan emosi.
Anak tingkat dua itu berjengit, barangkali kaget karena disemprot oleh kakak kelasnya. Jimin seketika merasa bersalah. Ia baru saja membuat seorang anak dua belas tahun ketakutan, demi Merlin! Ini semua karena Jeon Jeongguk dan setiap keanehannya yang mengganggu. Rasa-rasanya seluruh permasalahan Jimin selama bersekolah di Hogwarts berasal dari orang sialan itu.
"Sorry," Jimin mengusap wajahnya. "Ada apa?"
Yeonjun, yang semula melangkah mundur karena disemprot emosi Jimin yang meledak-ledak, menelan ludah. Ia tidak tahu dosa apa yang sudah diperbuatnya selain memasukkan siput ekor api ke mangkuk sup sarapan milik Beomgyu dari Hufflepuff tadi pagi. Atau mencuri catatan Sejarah Sihir Soobin yang tidak sengaja ia tinggalkan di perpustakaan. Kedua sepupunya tidak akan merasa keberatan mengingat Yeonjun sudah terlalu sering mengusili mereka selama ini.
"Profesor Slughorn memintaku memanggilmu. Dia minta kau datang ke kantornya setelah makan siang." Pada akhirnya Yeonjun yang gugup berhasil mengeluarkan pesan yang dititipkan kepala asrama. Jimin diam tidak menimpal, tapi Yeonjun seolah bisa merasakan kalau rasa kesal lelaki itu sudah meningkat berkali-kali lipat dibanding sebelumnya.
Tidak mau menghadapi ular yang sedang marah, Yeonjun berderap pergi. Ia berdoa dalam hati agar Jimin tidak mengingatnya, atau berniat melampiaskan emosi padanya. Saat Yeonjun hampir melangkahkan kaki keluar dari aula besar, teriakan Jimin terdengar bergaung di belakang punggungnya. Anak itu menghela napas. Yoongi pasti memotong beberapa poin lagi dari Slytherin setelah ini.
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
Jimin pikir ia bisa menyudahi O.W.L. dengan baik sekalipun Ramuan adalah kelas yang paling ia benci. Jimin membenci kelas Transfigurasi, tapi Profesor Winger selalu dengan murah hati memberinya tiket lulus di setiap ujian kenaikan tingkat meski nilainya pas-pasan. Jimin pikir mengingat Slughorn tidak separah Snape (profesor yang mengajar Ramuan, salah satu pengajar paling legendaris di Hogwarts), lelaki tua itu akan minimal memberinya nilai yang lebih baik di tes mingguan menjelang O.W.L.
Nampaknya Jimin berekspektasi terlalu tinggi.
"Tidakkah kau tahu kalau bulu porcupine digunakan untuk membuat obat penyembuh bisul dan bukan untuk tegukan kedamaian, Mr. Park?" Slughorn memandang Jimin dengan kedua alis yang melengkung ke bawah. Lelaki itu itu sepertinya sudah kehabisan akal menghadapi kebodohan Jimin dalam mata pelajaran Ramuan. "Aku sungguh tidak bisa membiarkan kau mengambil mata pelajaranku di N.E.W.T kalau nilaimu masih belum berkembang. Kudengar kau bercita-cita untuk bekerja di Kementerian? Kau tentu tahu apa akibatnya kalau tidak bisa lulus dari kelas Ramuan bukan, Mr. Park?"
Serius, Jimin tidak tahu harus marah pada siapa. Apakah pada kebodohannya atau pada ceramah Slughorn yang tidak juga berhenti. Ia sudah pegal duduk di sofa gelap ruang kerja Slughorn yang keras dan lembap, dan ingin sekali makan kalkun panggang hangat di rumah orangtuanya saat ini juga. Bunyi berisik dari anak-anak tingkat lima yang sedang berbondong-bondong menghabiskan akhir pekan ke Hogsmade membuat Jimin iri setengah mati.
"Aku yakin kau dan aku mengharapkan hal yang sama," Slughorn tersenyum ramah pada Jimin, yang susah payah menahan diri untuk tidak menangis. "Untuk itu aku sudah memberitahu Mr. Jeon untuk memberimu tutor singkat mengenai kelas Ramuan sampai O.W.L selesai."
Rahang Jimin sukses jatuh saat Slughorn menutup mulut. Ia yakin ia pasti salah dengar. Akan lebih baik menganggap kalau telinganya tidak berfungsi dengan baik ketimbang mengakui bahwa apa yang dikatakan Slughorn barusan bukanlah ilusi. Tapi akal sehat Jimin hari ini tidak bisa dibuat sinting, tidak peduli seberapa keras ia mencoba. Akal sehatnya terus membisik bahwa apa yang ia dengar adalah benar, sebesar apapun Jimin ingin menyangkal.
"Pardon, Sir?" Jimin terbata.
Slughorn memberi Jimin senyum menenangkan. "Aku sudah meminta Mr. Jeon menjadi tutor untukmu selama satu bulan sebelum O.W.L dimulai. And lucky for you, he agreed!"
Jimin ingin bumi terbelah dan menelannya sekarang juga. Ia tidak tuli, ia juga tidak sedang sinting untuk salah menerjemahkan kalimat Slughorn. Ia mengerti dengan sempurna dan mencerna dengan baik suara bersemangat lelaki itu. Ia hanya tidak ingin mengakui bahwa perkataan itu benar dan akan terjadi.
Jimin tidak bisa membayangkan satu bulan bersama orang yang paling ia benci. Sayangnya, hari-hari itu nampaknya akan datang sebentar lagi.
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
Jeongguk datang tepat waktu di hari pertama kelas belajar mereka di perpustakaan. Dia memakai kacamata berbentuk kotak besar yang tersangkut dengan sempurna di hidungnya yang bangir dan tinggi. Satu lagi hal yang membuat Jimin iri, mengingat hidungnya kecil dan kacamata jenis apapun akan selalu merosot dengan mudah. Bukan berarti Jimin ingin menggunakan kacamata, ia hanya butuh alasan untuk semakin membenci Jeongguk.
Jimin ingin sekali marah dan kesal pada Jeongguk, tapi Yoongi berkali-kali mengingatkannya bahwa Jimin harus bersikap dewasa. Jadi Jimin mencoba menjadi dewasa seperti yang Yoongi pinta, dan prosesnya benar-benar sulit luar biasa. Saat Jeongguk menarik kursi perpustakaan dan duduk di depan Jimin, Jimin ingin sekali mengata-ngatai Jeongguk atau menarik rambut-rambutnya sampai kepalanya botak; tapi sekali lagi biar Jimin tegaskan, ia sedang menahan diri.
Pertahanan dirinya rupanya lumayan juga.
"Ini ada rangkuman kisi-kisi ujian O.W.L yang aku dapat dari Namjoon-hyung. Coba kau review dulu, lalu beri tahu aku bagian mana yang tidak kau mengerti."
Suara Jeongguk seperti madu, lembut dan manis. Jimin benci pada fakta kalau suara laki-laki itu menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi, sesuatu yang tidak Jimin miliki saat ini. Ia melirik pada perkamen yang diserahkan Jeongguk ke hadapannya dan mulai mengetatkan rahang. Si sialan Jeongguk itu, tidakkah ia sedang meremehkan Jimin dengan membuatnya secara gamblang mengatakan bahwa ia tidak menguasai semuanya?
Bukankah seharusnya Jeongguk mengajarinya dengan baik dan bukan membiarkannya belajar sendiri? Lalu apa poin dari tutoring ini kalau Jimin tetap saja dipaksa mengerti semuanya dengan caranya sendiri?
"Memangnya kau masih perlu bertanya?" Jimin mendesis tak suka.
Jeongguk, yang baru saja mengambil buku Teori Transfigurasi Transubstansial mengangkat alisnya. Barangkali bingung sebab ia tidak melakukan atau mengatakan apapun yang dirasa kurang sensitif selain meminta Jimin me-review materi ramuan yang diberikannya. Jeongguk melirik ke kanan dan kiri, seolah mencoba meyakinkan diri kalau Jimin baru saja bicara padanya, bukan pada Baron Berdarah yang mungkin saja melayang di belakangnya.
"Kau bicara padaku?" Jeongguk bertanya, meyakinkan diri sendiri kalau salakan Jimin tadi benar-benar ditujukan padanya. Benar-benar, deh. Kalau Namjoon dulu berkata bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki batas kecuali ketiadaan, maka kebencian Jimin padanya barangkali adalah pengecualian nomor dua.
Jimin mendengus. "Memangnya ada siapa lagi di sini selain kau, Jeon?"
Oke, kalimat barusan itu menyakitkan untuk didengar. Sudah sejak tahun pertama Jeongguk tahu Jimin punya kebencian yang tidak beralasan padanya, dan berusaha mengabaikan itu. Tapi disemprot begini tepat di depan wajahnya rasanya tidak menyenangkan juga.
"Dengar, Park," Jeongguk berujar dengan nada rendahnya yang penuh dominansi. Jimin terhenyak, tidak mengira Jeon Jeongguk akan pernah memiliki sisi seperti ini. Well, ia sejujurnya sadar, tapi memilih untuk tidak percaya. Jimin enggan mengakui kalau Jeon Jeongguk punya satu lagi keunggulan yang mengekori sederet prestasi yang ia punya.
"Jika kau keberatan dengan kegiatan tutor ini, maka kau bisa membatalkannya kapanpun kau mau. Aku sungguh tidak masalah, dan kalau kau gagal di mata pelajaran ramuan dalam O.W.L-mu, ketahuilah itu bukan kesalahanku," Jeongguk menutup buku transfigurasinya dengan wajah yang kaku dan dingin. "Sekarang, ambil saja rangkuman materi itu dan kau bisa pakai sesuai kebutuhanmu. Besok aku akan ada di sini lagi selepas makan siang, dan kau bisa datang ataupun mangkir; terserah padamu."
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
Yoongi hampir menjambak rambut Jimin saat ia berkeluh-kesah mengenai hari pertama tutoringnya bersama Jeongguk. Yah, ia hampir saja sungguhan melakukannya kalau saja Namjoon tidak menengahi dengan memeluk lelaki itu dan mengusap-usap kepalanya penuh afeksi. Mereka sedang duduk di sofa empuk dalam Ruang Rahasia yang ditemukan Namjoon tanpa sengaja, sambil minum es coklat dingin yang secara ilegal diambil Yoongi dengan mantra accio.
"Bisakah kalian lovey-dovey di tempat lain saja dan berhenti mengganggu mataku?" Jimin menggerutu.
Yoongi bersungut-sungut. "Berhentilah menekuk wajah seperti seekor grumpy cat, Jimin. Selama lima tahun ini kau terlalu memperhatikan Jeon Jeongguk sampai lupa mencari pacar."
"Aku tidak begitu!" Jimin berseru. "Berhenti mengait-ngaitkan segala hal yang kulakukan dengan si sialan Jeon, okay?"
Namjoon meringis mendengar perdebatan dua orang terdekatnya itu. Ia membawa Yoongi tenggelam dalam pelukan, meredakan keinginan kekasihnya untuk membalas setiap ucapan Jimin. Namjoon mengerti mereka berdua tidak sedang dalam suasana hati yang baik, mengingat Jimin terus saja terbakar kebenciannya pada Jeongguk dan Yoongi berkali-kali berkata bahwa ia sudah terlalu muak mendengar gerutuan Jimin yang tidak beralasan.
"Tapi menurutku, kau benar-benar menghabiskan waktumu dengan memperhatikan Jeongguk, Jimin--"
"Bahkan Hyung juga!" Jimin merajuk. "Harus berapa kali aku tegaskan kalau aku--"
Namjoon memotong, "Iya, kau benci Jeon Jeongguk. Kami sudah mendengar kata itu ribuan kali selama tinggal di sini. Aku juga tidak sedang ingin mendebat itu. Yang ingin aku perdebatkan adalah caramu menunjukkan kebencian. Kau terlalu sibuk membenci Jeongguk untuk sampai hati mengabaikan orang-orang di sekitarmu yang juga ingin diperhatikan."
Jimin menggigit bibir.
"Kau ingat Lee Taemin? Hufflepuff tahun keenam? Dia sudah berusaha mendekatimu sejak kelas satu dan ketika kalian pacaran di kelas dua, segala sesuatu yang dia lakukan mengingatkanmu pada Jeongguk dan kalian akhirnya putus," Namjoon mengusap rambut depan Yoongi, membuat yang berdiam dalam pelukan beringsut masuk lebih dalam ke rengkuhannya. "Atau Jongin dari Gryffindor yang kau putuskan karena kalah dari Jeongguk di kelas tiga? Atau Donghyuk, Hyunjae, dan anak-anak dari Ravenclaw yang kau tolak karena mereka berada di asrama yang sama dengan Jeongguk?"
Yoongi menggumam, "Sejujurnya yang terakhir adalah alasan paling buruk yang pernah aku dengar darimu, Jimin."
Jimin menggigit bibir, tidak menemukan kata apapun yang bisa ia pakai untuk menyanggah sebab semua yang Namjoon katakan adalah benar. Hanya saja sudut kecil di dalam hatinya menolak mengakui kalau ia memang menginvestasikan banyak waktu untuk memperhatikan Jeongguk lebih dari yang ia duga.
"Aku membenci Jeon Jeongguk," kata Jimin, entah berusaha meyakinkan siapa.
Namjoon dan Yoongi bertukar pandang, lantas memutuskan untuk abai. Mereka tahu Jimin hanya sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Mereka hanya tidak yakin kenapa Jimin merasa harus membenci Jeongguk. Lima tahun sudah berlalu sejak Jimin dan Jeongguk naik Hogwart's Express di King's Cross pertama kali, dan kebencian itu masih ada.
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
Jeongguk terus datang seperti janjinya pada Jimin. Di hari kedua sampai hari kelima, Jeongguk tidak menemukan Jimin di manapun di perpustakaan. Ia juga bukannya mencoba mencari, tapi Jeongguk tidak bisa berbohong kalau hatinya sedikit berharap jadwal tutoring mereka tidak akan sia-sia. Sepanjang lima hari absennya Jimin, beberapa orang bergabung dengan Jeongguk di beberapa kesempatan. Cha Eunwoo dari Hufflepuff dan Kim Mingyu dari Gryffindor bertanya padanya mengenai Mantra Menghilang di kelas Transfigurasi. Di hari ketiga dan keempat, Kim Yugyeom datang padanya bertanya mengenai Sejarah Sihir dan Jeongguk harus menghabiskan nyaris empat jam mengulas kembali Pemberontakan Goblin di Abad Ke-18.
Di hari keenam, Jimin datang dengan wajah ditekuk. Jeongguk sedang duduk membaca catatan Seokjin mengenai hal-hal apa saja yang menyebabkan kegagalan selama pembuatan ramuan Polijus. Ia tidak memakai kacamatanya hari itu, satu alasan bagi Jimin untuk tidak membesar-besarkan kebenciannya dibanding yang sudah ia punya kini. Buku ramuan milik Yoongi ia peluk bertumpukan dengan miliknya sendiri. Kedua buku itu menimbulkan bunyi debam keras saat Jimin meletakkan (bisa dibilang hampir melemparkan) keduanya di atas meja.
"Bagaimana hasil reviewmu selama hampir seminggu?" Jeongguk menyangga dagu dengan kedua tangan yang ditautkan, memandang Jimin engan pandangan intens. "Aku berharap kau sudah membuat list mengenai apa saja poin yang tidak kau kuasai."
"Senang sekali dengan hal-hal yang mudah, bukan begitu, Jeon?" Jimin menimpal dengan nada sarkastik. Ia meletakkan selembar perkamen dan mendorongnya ke arah Jeongguk. Mata hitam Jeongguk menelisik kata demi kata di dalam catatan yang Jimin buat, berusaha membaca tulisan lelaki itu yang tampak agak sulit dibaca. Barangkali Jimin sengaja, mengingat selama ini tidak ada satupun hal dalam diri Jeongguk yang memantik ketertarikannya.
Jeongguk mengangguk. "Lebih cepat lebih baik. Bukankah kau sendiri yang paling tidak ingin terlibat denganku dari semua murid di sini, Park?"
Jimin tidak menimpal lagi. Ia belajar dari banyak pengalaman bahwa menimpali Jeon Jeongguk tidak pernah menguntungkan untuknya. Jeon Jeongguk selalu (entah kenapa) menemukan celah untuk membuatnya merasa buruk, dan Jimin tidak menyukai itu.
"Materi soal dan praktik untuk setiap tahun agaknya akan berbeda, tapi pertanyaan soal Ramuan Polijus akan selalu ada. Kita akan mengulasnya bersama-sama di akhir tutoring nanti karena materinya belum banyak dijelaskan di tahun kelima. Lalu untuk ramuan yang lain..." Jeongguk melirik Jimin. "Kita akan membahas satu-persatu dengan metode tanya-jawab. Bagaimana menurutmu?"
Penjelaskan Jeongguk terdengar sederhana, adil, dan mudah dipahami. Jimin harus mengakui kalau Jeongguk menawarkan metode yang paling cocok untuknya, mengingat Jimin paling mudah melupakan sesuatu seandainya tidak ia temukan sendiri. Hatinya terus-menerus berkata untuk membalas pertanyaan Jeongguk dengan nada paling sinis yang ia bisa, tapi Jimin akan jadi orang dewasa hari ini dan ia akan bersikap seperti orang dewasa pada umumnya.
"Aku tidak masalah. Kau punya rekomendasi buku?" Jimin bertanya.
Jeongguk mengulas senyum tipis. "Kita mulai dari Draft Sihir dan Ramuan saja. Bagaimana menurutmu?"
Jimin mengangkat bahu. "Call."
Jeongguk memutar-mutar pena bulu di tangan kanannya saat Jimin menyebutkan satu demi satu bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat Ramuan Pelupa. Sudah tujuh hari berlalu dan buku Draft Sihir dan Ramuan sudah rampung mereka bahas berdua. Sepanjang minggu, Jimin terus mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak termakan kemarahan karena hal-hal kecil yang tidak bisa Jeongguk kendalikan. Seperti bagaimana hidung Jeongguk mengerut saat ia sedang berpikir atau tertawa, suara yang timbul saat Jeongguk mendengus, atau kebiasaan Jeongguk memutar-mutar pena bulu di tangannya saat sedang bosan.
Jangan tanya bagaimana Jimin bisa tahu. Ia hanya tahu saja.
"Jadi bahan yang paling penting dari ramuan pelupa adalah air sungai Lethe," Jimin menutup ocehan panjangnya dengan sebuah kesimpulan pendek.
Jeongguk mengangguk-angguk, memasang wajah bangga. "Lalu efek samping dari ramuan pelupa adalah..."
Jimin menggigit bibir, sembari bergerak-gerak gelisah di tempatnya duduk. Seingatnya mereka pernah membicarakan perihal efek samping dari setiap ramuan di buku Draft Sihir dan Ramuan dua hari lalu, tapi ia sungguh lupa.
Jeongguk menghela napas. "Ramuan Pelupa tidak memiliki efek samping selain tidak membuatmu melupakan apapun, Jimin."
"Seharusnya kau tidak usah bertanya kalau jawabannya tidak ada," keluh Jimin.
Jeongguk tertawa. "'Tidak ada' juga adalah sebuah jawaban. Kuis kadang bisa begitu menjebak dan kau hanya harus menjawab dengan benar," katanya. "Selanjutnya, pada pembuatan Ramuan Penyembuh Bisul, apa yang harus kau lakukan setelah menuangkan lendir siput bertanduk?"
Jimin menjentikkan jari. "Ah, ini mudah. Kita menambahkan duri landak."
"Salah," potong Jeongguk. "Ingat kembali, Jimin. Kita membahas Ramuan Penyembuh Bisul tiga hari yang lalu."
Alis Jimin berkerut-kerut. Jemarinya yang pendek dan gemuk mengusap wajah dengan kasar, berharap gestur itu bisa membantunya mengembalikan ingatan. Tiga hari lalu, saat mereka duduk di sisi danau hitam dengan bekal camilan dari Seokjin, Jeongguk membantunya mengingat beberapa hal krusial yang perlu diperhatikan selama pembuatan ramuan. Juga soal kecelakaan-kecelakaan yang timbul saat salah melakukan langkah pembuatannya.
"Ah!" Jimin berseru. Wajahnya yang semula tertekuk karena fokus mengingat kembali bersinar penuh semangat. "Tentu saja harus mengangkat kuali dan mendinginkan ramuan dulu."
Jeongguk tersenyum. "Benar. Menambahkan duri landak pada saat kuali masih memiliki kontak dengan api akan membuat ramuan mengeluarkan bau busuk dan menjadi sangat panas sampai kualinya meleleh."
"Dan kita bisa bisul-bisul kalau saja terkena cairannya," Jimin mengernyit jijik.
"Pada dasarnya setiap ramuan punya fungsi. Jika muncul pertanyaan mengenai efek samping yang terjadi karena kegagalan pembuatan, kau cukup menjawab kebalikan dari fungsi yang disebutkan."
"Dan kenapa bisa terjadi efek samping seperti itu?" Jimin bertanya.
Jeongguk mengusap rambut Jimin dengan gemas. "Itu adalah pertanyaan yang akan kita simpan untuk nanti."
Tawa Jeongguk saat jemarinya terselip di antara helai-helai rambut Jimin terdengar begitu renyah. Tapi telinga Jimin mendadak terasa tuli, sebab tidak ada suara apapun yang mengetuk gendang telinganya setelah tangan besar Jeongguk yang hangat hinggap di puncak kepalanya. Jimin merasa waktu berhenti hanya untuknya, dan gerakan tangan Jeongguk yang pelan mengacak rambutnya. Jimin bisa mendengar debaran jantungnya yang bertalu-talu dengan berisik, dan ia terlalu hanyut dalam keterkejutannya sendiri untuk kembali mendengarkan Jeongguk bicara.
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
Taehyung duduk dengan nyaman di atas sofa hijau di ruang rekreasi Slytherin dengan sebungkus Fizzing Whizzbees di pangkuannya. Tatapannya terpaku pada buku Transfigurasi Tingkat Menengah, mengasah kembali pemahamannya soal animagus yang diajarkan Profesor Winger di tahun ketiga mereka di Hogwarts. Transfigurasi adalah mata pelajaran yang paling tidak Taehyung kuasai dan ia sudah menghabiskan hampir tiga minggu belajar bersama Namjoon demi mendapat minimal A di O.W.L nanti.
"Aku tidak berminat mengulang. Lagipula aku tidak ingin jadi kepala departemen di Kementerian, Jimin. Jadi A tidak masalah buatku." Kata Taehyung suatu hari.
Jimin mengerucutkan bibir kala mendengar pernyataan itu. Kadang waktu, Jimin merasa iri pada Taehyung dan kebebasannya untuk merencanakan masa depan. Sedang dirinya terperangkap dalam bayang-bayang masa depan brilian yang dirancang orangtuanya. Jimin juga bukannya tidak terima kalau ayahnya berharap dia bisa masuk ke Kementerian nanti. Jimin hanya berharap ia bisa berpikir seluas Taehyung. Setidaknya ada satu tujuan lain yang bisa ia kejar seandainya ia tak kesampaian duduk sebagai pegawai Kementerian nanti.
"Jadi kau dan si Jeon sudah gencatan senjata?" Taehyung bertanya, sembari memasukan beberapa buah permen ke dalam mulutnya yang terus berkomat-kamit menghafalkan teori dasar tentang animagus.
Jimin memilih dengan teliti Kacang Segala Rasa Bertie Bott yang sedang bersandar dalam pelukannya sambil mendengus. "Tid--"
"Ah, aku lupa. Sejujurnya si Jeon memang sejak awal biasa saja padamu. Kau saja yang memusuhinya selama ini, kan? Jadi apa namanya, ini? Gencatan senjata satu pihak?"
"Ngomong apa, sih?" Jimin menggerutu. "Kami cuma kebetulan terjebak dan belajar bersama. Tidak ada yang istimewa."
"Tentu saja istimewa, bodoh," Taehyung menimpal.
Alis Jimin terangkat, menampilkan ekspresi tanya.
"Kau tidak ingat seberapa sering kau mengeluh padaku soal kebencianmu yang tidak tertahankan pada Jeon Jeongguk? Hampir setiap hari. Rasa-rasanya setiap Jeongguk menarik napas, aku khawatir kau akan langsung memotong lehernya dengan pisau dapur saking bencinya."
"Kau berlebihan--"
"Lalu sekarang kau duduk di sini makan camilan setelah hampir dua minggu kau menghabiskan sore dengannya di perpustakaan, atau di pinggir danau hitam, atau sambil minum teh di pondok Hagrid. Kalau ini bukan campur tangan keajaiban, lantas apa namanya?"
Jimin mengernyit. Separo karena mendengar penjabaran berlebihan Taehyung, separo lagi karena ia baru saja mengunyah kacang rasa sabun. Ia sendiri kadang merasa sedang bermimpi (meskipun Jimin tidak bisa mengategorikan apakah ini mimpi buruk atau baik), sebab baru lewat dua minggu yang lalu ia bersikeras lebih baik gagal O.W.L dan melupakan mimpinya jadi kepala Departemen Kerjasama Sihir Internasional yang dikejarnya selama ini ketimbang menghabiskan waktu dengan si sialan Jeon Jeongguk selama empat pekan.
Lalu ia dengan kesadaran sendiri datang pada Jeongguk, melupakan sejenak kebenciannya yang menyala-nyala selama bertahun-tahun, dan anehnya semuanya berjalan begitu saja. Seolah semua kebencian Jimin selama ini tidak pernah ada, tidak pernah penting.
"Aku penasaran bagaimana kau akan memandang si Jeon setelah O.W.L nanti. Maksudku, kalian sudah pernah berdamai. Kau sudah pernah berdamai dengannya. Aku penasaran apakah kau akan balik memusuhinya seperti dulu atau hubungan kalian berkembang ke hal yang lebih serius lagi."
Jimin mengerutkan dahi, tampak tidak terima pada apapun yang diucap bibir Taehyung. Ia melemparkan sebuah kacang rasa kotoran telinga ke wajah Taehyung dan berseru dengan marah, "Aku tidak akan menyukai Jeon Sialan Jeongguk!"
Taehyung gantian mengerutkan dahi, kini. "Aku tidak pernah bilang kau akan menyukainya. Aku cuma bilang hubungan kalian akan berkembang ke sesuatu yang lebih baik dari musuh."
Jimin diam lagi, memusatkan kembali perhatiannya pada kacang dalam pelukan meski pikirannya dengan nakal berlarian kesana kemari. Ia tidak menyukai percakapan ini, juga tidak menyukai nada suara Taehyung yang menegaskan kalau lelaki itu benar; ialah pihak yang salah di sini.
"Kenapa kau sampai berpikiran ke sana?" Taehyung bertanya. Jimin tidak menyukai senyuman yang terpatri di bibir sahabatnya yang penuh. Senyuman yang seolah bicara pada Jimin kalau Taehyung tahu sesuatu yang Jimin tidak ketahui; atau tidak ingin Jimin akui.
Jimin tidak menjawab, dan Taehyung sesungguhnya tidak mengharapkan jawaban. Ia seolah sudah tahu apa yang akan Jimin katakan, juga tahu bahwa jawaban Jimin akan selalu berlawanan dengan kenyataan. Sesuatu yang sampai mati pun tidak akan pernah Jimin akui. Mereka membiarkan topik itu berlalu begitu saja ditelan kesunyian yang mendadak merebak di ruang rekreasi Slytherin hari itu. Tidak ada yang bicara mengenai hal itu lagi di hari berikutnya, atau hari berikutnya lagi. Tapi Jimin tidak pernah bisa mengenyahkan pertanyaan Taehyung selama berhari-hari setelah siang itu.
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
Untuk pertama kalinya setelah dua minggu yang tenang belajar bersama Jeongguk, Jimin kembali merasa terganggu. Mereka duduk seperti biasa di perpustakaan, di bagian dekat dengan jendela karena Jeongguk bilang ia tidak terlalu suka belajar di tengah lalu-lalang manusia. Ada beberapa orang yang mampir ke tempat mereka duduk demi mencari referensi buku transfigurasi (karena keduanya kebetulan duduk di barisan rak transfigurasi sore itu) dan melemparkan pandangan penuh tanya pada Jimin dan Jeongguk yang tidak biasa tampak akrab meski sudah lima tahun menempuh pendidikan di tempat yang sama.
Jimin merasa terganggu dengan helai-helai rambut berantakan Jeongguk yang mengikal dan jatuh menghalangi dahinya. Ia perlu meremat jemarinya demi menahan diri agar ia tidak menyingkirkan rambut Jeongguk dan--entahlah, menyelipkan mereka di belakang telinganya, mungkin? Jimin juga merasa terganggu dengan alis Jeongguk yang kerap berkerut-kerut saat ia menemukan beberapa kosakata rumit dalam buku Seribu Tanaman Obat dan Jamur Sihir. Atau saat Jeongguk menyisir rambutnya yang terus-terusan jatuh karena merasa pusing.
Ia sungguh-sungguh terganggu, dan jantungnya bekerja sangat ekstra sore itu.
"Hentikan itu." Tidak tahan, Jimin akhirnya angkat bicara.
Jeongguk, merasa bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang tinggal di bagian ini bersama Jimin, mendongak. Sejenak melupakan Tentakula Beracun yang sejak tadi menyedot perhatiannya. Ia melirik ke kanan dan kiri, memastikan bahwa Jimin benar-benar bicara padanya dan bukan seorang siswa yang melakukan hal menjengkelkan di depan lelaki itu. Sebab tentu saja ia tidak melakukan hal yang menjengkelkan sampai Jimin harus memintanya berhenti. Ia hanya membaca!
"Kau bicara padaku?" Jeongguk bertanya.
Jimin memutar bola matanya. "Memangnya kau lihat ada orang lain di sini?"
"Hentikan apa?" Jeongguk bertanya lagi. "Aku 'kan sejak tadi hanya membaca."
Jemari Jimin yang pendek dan kecil menyisir rambutnya ke belakang dengan gerakan frustasi. "Itu, mengerutkan dahimu atau membiarkan rambutmu menggantung di depan dahi begitu. Kuncir saja mereka atau apa, mengganggu sekali."
Jeongguk mengerutkan dahi lagi. Park Jimin ini tidak sedang serius, 'kan? Ia sungguh baru saja mengomentari (dan meminta Jeongguk menghentikan) caranya mengerutkan dahi. Siapa pula yang bisa menahan refleks semacam itu? Apa ia harus memotong urat sarafnya atau bagaimana?
"Tapi itu gerakan refleks, Park. Atau kecuali kau mau aku memotong sarafku."
"Kalau begitu potong saja!" Jimin berseru frustasi.
Rahang Jeongguk terbuka, terlalu terkejut pada jawaban yang Jimin berikan. Tidak habis pikir, tepatnya. Mulut Jeongguk terbuka dan tertutup bergantian, hendak menimpali seruan Jimin tapi ia tidak menemukan kata yang tepat untuk diucapkan.
Tangan Jeongguk menutup buku Seribu Tanaman Herbal dan Jamur Sihir yang berada dalam genggamannya, meletakkannya di atas meja dan sepenuhnya menghadapkan tubuh pada Jimin. Lelaki yang disebutkan masih duduk dengan tidak nyaman di atas kursinya seolah sedang terganggu akan sesuatu. Jeongguk tidak percaya kalau hal yang membuat Jimin terganggu adalah caranya mengerutkan dahi.
"Jujur padaku, Park. Kenapa kau sangat benci aku?" Mata hitam Jeongguk menghujam Jimin dari berbagai sisi, membuatnya seolah mengecil di tempat duduknya sendiri. "Jujur saja aku merasa tidak pernah melakukan apapun yang berpotensi membuatmu membenciku. Tapi kau terus-terusan memusuhiku tanpa sebab sejak tahun pertama. Kenapa?"
Sejujurnya Jimin selalu mempertanyakan hal yang sama selama ini. Perihal kenapa ia begitu membenci Jeongguk meski Jeongguk--seperti kata lelaki itu--tidak pernah melakukan hal tidak menyenangkan untuknya. Namjoon, Yoongi dan Taehyung juga berkali-kali mempertanyakan hal yang sama, dan hingga kini kesimpulan yang Jimin punya hanyalah; ia membenci Jeongguk dan itu terjadi begitu saja. Sebuah alasan yang menyedihkan, dan Jeongguk mungkin akan menonjok hidungnya kalau Jimin berkata jujur, tapi begitulah adanya.
Bibir Jimin bungkam. Matanya bergerak kesana kemari demi menghindari tatapan Jeongguk yang menyorot padanya seperti sepasang mata elang. Gerak-gerak kecil yang ia lakukan di atas kursi masih berlanjut, seolah berusaha meneriakkan ketidaknyamanan pada Jeongguk. Lelaki itu menarik napas, mencoba meredam segala emosi yang hampir tumpah ke permukaan. Ia tidak berniat melampiaskan rasa frustasinya pada Jimin saat ini. Tidak di tempat ini.
"Baiklah kalau kau tidak mau menjawab," Jeongguk berujar lagi. Ia bangkit dari kursinya, menarik buku Seribu Tanaman Herbal dan Jamur Sihir yang tadi di bacanya dan hendak melangkah pergi. "Sampai ketemu lagi lusa nanti. Kuharap kau sudah menghafal langkah-langkah pembuatan Ramuan Polijus saat itu."
"Kau tidak akan ada di sini besok?" Jimin bertanya.
Jeongguk diam sebentar sebelum menjawab. "Aku punya urusan," katanya singkat, sebelum melangkah lebar-lebar meninggalkan Jimin dan rasa gamang yang menjalari hatinya seperti virus.
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
Di minggu tenang sebelum ujian, hampir semua siswa Hogwarts tidak merasa tenang. Perpustakaan selalu penuh di jam-jam belajar, sebelum makan siang dan menjelang makan malam, semua orang akan memenuhi perpustakaan dan meminjam bertumpuk-tumpuk buku demi bisa dengan aman melalui ujian akhir tanpa kesulitan berarti. Jimin dan Taehyung sore itu memutuskan untuk belajar soal Ramuan Polijus bersama di bagian buku ramuan. Sesuatu dalam diri Jimin mendorongnya untuk belajar dengan keras agar Jeongguk tidak kecewa. Ia ingin menertawai isi kepalanya sendiri, sungguh. Sebab sejak kapan dirinya begitu peduli pada apa yang Jeon Jeongguk pikirkan?
"Bukan begitu, Ji."
Jemari Jimin yang semula menyusuri sampul-sampul kulit buku ramuan berhenti, menggantung begitu saja di udara saat pemiliknya terpaku. Ia tidak pernah gagal mengenali suara itu, suara yang sudah berhari-hari menemaninya setiap hari di sini, di tempat berbau perkamen ini. Itu suara Jeongguk, dan kepada siapapun Jeongguk bicara, Jimin tahu lelaki itu tidak sedang berbicara padanya. Suara Jeongguk terdengar pelan dan sabar, membuat Jimin mau tak mau merasa penasaran pada lawan bicaranya. Siapa? Siapa yang bersama Jeongguk hari ini sampai-sampai ia tak bisa datang membantunya belajar seperti biasa.
Dengan kaki berjinjit, berusaha setengah mati menyembunyikan suara langkah kakinya, Jimin mendekati suara Jeongguk yang terus mengalun. Ia mendengar lelaki itu menjelaskan beberapa teori Transfigurasi rumit yang Jimin sendiri kurang kuasai. Beberapa bagian belum pernah mereka pelajari, dan sebersit kekaguman mekar di hati Jimin saat tahu Jeongguk sudah menghafal mereka semua. Sungguhkah? Si pentolan asrama Ravenclaw itu rupanya memang benar-benar Si Segala Bisa.
"...penggunaannya harus berdasarkan izin dari Kementerian, karena ada beberapa hal yang harus dipastikan sebelum mereka melakukan transfigurasi. Kita membahasnya minggu lalu, kau ingat?"
Hanya satu rak lagi sampai Jimin bisa mengintip dengan leluasa Jeongguk dan siapapun yang ia panggil 'Ji' dengan begitu kasual. Bibir Jimin terselip di antara kedua baris giginya, entah bagaimana benci memikirkan bahwa Jeongguk bisa menyingkirkan dirinya untuk bertemu orang lain yang Jimin tak tahu siapa. Taehyung akan menjatuhkan rahangnya ke atas tanah kalau tahu apa yang Jimin rasakan kini, dan Yoongi akan menertawainya dengan sepenuh hati sambil membual mengenai karma dan sebagainya. Tapi Jimin tidak ingin memikirkan mereka saat ini. Ia hanya ingin mendatangi Jeongguk, menyeretnya pergi dan menyimpan semua perhatian lelaki itu hanya untuk dirinya sendiri.
"Ah, ya, ya. Aku ingat. Kau juga menjelaskan padaku rangkaian tes macam apa yang dilakukan Kementerian kalau-kalau pertanyaan semacam itu keluar, kan?"
Jimin mengerutkan hidung mendengar suara feminin mengalun menyahuti pertanyaan Jeongguk. Suara itu memantik amarah Jimin menggelegak ke puncak kepala, mendorongnya untuk mempercepat agenda mengintip Jeongguk demi tahu siapa yang sedang bicara.
Itu Park Jihyo, duduk dengan rambut sebahunya tergerai manis menutupi separuh wajah saat ia menunduk melihat buku cetak yang Jeongguk pakai sebagai bahan acuan belajar. Senyuman manisnya saat ia dan Jeongguk beradu pandang membuat dada Jimin berdenyut nyeri tanpa alasan. Jimin melihat bagaimana sorot mata Jeongguk yang biasanya tajam dan lurus menatap Jihyo dengan lembut dan penuh afeksi. Tidak peduli betapa keras nalurinya mengetuk kesadaran Jimin, ia sendiri enggan mengakui kalau pemandangan itu membuat sesuatu bergerak tak nyaman dalam pembuluh darahnya.
Jimin menahan napas saat Jeongguk mendekatkan bibirnya pada telinga Jihyo, membisikkan sesuatu. Ia melihat dengan matanya sendiri bagaimana wajah Jihyo berubah menjadi semerah tomat, sebelum perempuan itu menghadiahkan pukulan ringan di bahu Jeongguk; membuat lelaki itu tertawa. Itu dia, Jimin menyerah. Ia mengambil langkah mundur, membiarkan pandangannya mengabur karena air mata dan lari dari perpustakaan tanpa pernah menoleh lagi.
Sial. Sial. Sial.
Jeon Jeongguk sial.
Sialan benar dia. Setelah membuat hidup Jimin terasa sulit, sekarang dengan seenaknya ia menempati tempat di hati Jimin tanpa aba-aba. Jimin enggan mengakui ini, tapi air matanya tidak bisa berbohong lagi.
Ia sudah jatuh untuk Jeon Jeongguk, dan demi Merlin, Jimin tak suka perasaan ini.
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
Jimin tidak datang esok harinya, atau esoknya lagi. Ia tidak lagi menampakkan diri di perpustakaan selama berhari-hari setelah itu, dan menghindari ketidaksengajaan berpapasan dengan Jeongguk di setiap kesempatan. Jimin tidak bisa menghapus bayang-bayang Jeongguk dan Jihyo sore itu di perpustakaan, dan apapun yang ia lakukan hanya membawanya pada lamunan panjang dan hela napas yang tidak pernah putus. Yoongi dan Taehyung berulang kali bertanya padanya ada apa, tapi Jimin tidak bisa bilang pada mereka. Selain karena ia tidak tahu bagaimana membahasakan perasaannya ("hei, aku jatuh cinta pada si sialan Jeon" atau "news flash! Aku sekarang menyukai Jeon Jeongguk" terdengar terlalu berlebihan), Jimin juga tidak ingin mengakui kalau ia sudah jatuh lebih dulu untuk orang yang bertahun-tahun dibencinya.
Taehyung dan Yoongi bertukar pandang bingung sebab untuk yang entah ke berapa kalinya, Jimin mengela napas. Ia sudah menghela napas sepanjang pagi, dan Taehyung pikir moodnya akan jadi lebih baik setelah makan siang, tapi ia tetap memasang wajah masam yang sama. Sudah berhari-hari, menurut penuturan Yoongi, Jimin berada dalam fase gundah gulana yang belum pasti pemicunya apa.
"Sekali lagi aku dengan kau menghela napas, aku bersumpah akan menyihirmu jadi kaku, Park Jimin." Suara Taehyung beresonasi di telinga Jimin, terdengar menahan kesal.
"Tidak bisakah aku bersedih dengan tenang, Kim Taehyung?" Jimin balas bicara. Malas sekali ia tanpa henti mendengar 'kenapa' sejak pagi. "Kau kan bisa pergi ke meja lain kalau malas mendengar helaan napasku."
Taehyung menelan kembali semua protesnya dan duduk dengan patuh di sisi Jimin; sekali lagi membiarkan mereka diliputi keheningan panjang. Di dalam kepala, anak pertama dari pasangan Kim itu tidak henti bertanya kenapa sahabat berisiknya bisa mendadak diam seribu bahasa selama berhari-hari. Apa ia baru saja dimarahi McGonagall lagi? Atau mungkin ia gugup karena O.W.L sudah tinggal menghitung hari? Atau Jimin lagi-lagi berada dalam hubungan yang buruk dengan Jeongguk setelah beberapa hari gencatan senjata?
"Kau ada masalah lagi dengan si Jeon?" Taehyung mendadak bertanya. Ia melirik Jimin yang membeku lewat sudut matanya. Nah, benar, kan. Pasti ada hubungannya dengan si prodigi Ravenclaw itu mengingat Jimin hanya menghabiskan waktu bersama Jeongguk sepanjang bulan ini (tentu Taehyung tidak masuk hitungan karena mereka tidak sedang marahan).
Taehyung menggeser tempat duduknya mendekat. "Ada masalah apa lagi? Bukannya kalian kemarin sudah berdamai, minimal sampai O.W.L selesai?"
Jimin menggigit bibir. Tidak tahu bagaimana harus membahasakan masalahnya dengan Jeongguk pada Taehyung. Ia hanya marah dan kecewa karena Jeon Jeongguk bisa membina hubungan dekat dengan orang lain selain dirinya. Tapi bukankah mereka sejak awal memang tidak akrab? Justru kontras dengan keakraban, hubungan mereka berdua dingin sekali sebab Jimin sejak awal sudah mendeklarasikan kalau ia benci Jeongguk secara sepihak.
"Yah, aku hanya tidak lagi suka dia. Lagipula tutoringnya sudah hampir selesai. Aku tidak perlu berdekatan dengannya lagi," Jimin berujar sambil tertawa kecil, setengah mati menyembunyikan kegugupannya.
Taehyung diam sebentar, sebelum mengangkat bahu. "Well, terserah apa kata—"
Sahabatnya itu belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat seseorang meletakkan beberapa lembar kertas perkamen di depan Jimin. Samar-samar Jimin bisa mencium bau sitrus dan laut dari tubuh orang yang berdiri di belakangnya itu. Wangi-wangian yang membuat bulu di tengkuknya meremang; wangi tubuh yang ia hafal di luar kepala.
"Aku tidak tahu kau sebenci itu berdekatan denganku," suara Jeongguk yang biasa terdengar lembut melantun rendah, membuat Jimin langsung menoleh.
Jeon Jeongguk berdiri dengan seragam musim panas di belakangnya, memasang wajah datar. Jimin merasa hatinya mendingin melihat betapa sinis Jeongguk memandang padanya. "Itu adalah rangkuman terakhir dari sesi tutoring yang kau lewatkan. Good luck untuk O.W.L-nya, Park," kata Jeongguk sebelum ia berjalan menjauh dari Jimin.
Punggung Jeongguk yang bidang perlahan-lahan menghilang di balik rak-rak perpustakaan; menghilang dari hidup Jimin.
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
O.W.L berlalu tanpa satu kalipun Jimin berhasil mengajak Jeon Jeongguk bicara. Jeongguk juga tampak bersikap dingin padanya. Bukan berarti laki-laki itu bersikap hangat juga padanya selama ini, hanya saja Jeongguk menatapnya dengan berbeda. Ada kekecewaan di kedua mata hitam yang Jimin suka itu, sesuatu yang membuat hati Jimin berdenyut nyeri karena tahu ia adalah alasan di baliknya. Taehyung berkali-kali bilang padanya untuk meminta maaf saja pada Jeongguk, tapi semua tidak semudah kedengarannya. Harga diri Jimin melarangnya melakukan itu. Lagipula, sudah bertahun-tahun dan semua orang tahu kalau ia membenci Jeongguk sampai ke tulangnya.
"Ya, ya. Terus saja pertahankan harga dirimu yang tidak penting itu," kata Yoongi di sore hari setelah Jimin menyelesaikan ujiannya. "Aku kaget Jeon Jeongguk masih mau mengajarimu setelah bertahun-tahun kau benci sepihak begitu."
Jimin benci mengakui bahwa Yoongi benar, bahwa selama ini hanya ia sendiri yang sibuk membenci sedang Jeongguk memperlakukannya dengan baik sekali. Mendengar itu, Jimin sadar betapa konyol sikapnya selama ini dan itu membuat perasaannya menjadi semakin buruk.
"Jangan cemberut begitu," Yoongi bicara lagi. Ia banyak bicara sekali hari ini, di saat Jimin benar-benar tidak mau mendengar siapapun menceramahinya. "Kupikir sudah saatnya kau mulai mengaku kalau kau suka dia."
"Siapa!?" Suara Jimin meninggi, memancing kerutan di dahi Yoongi. Taehyung sampai meloncat kaget di tempatnya duduk.
Yoongi memutar bola matanya. "Oh, ayolah. Tentu saja kau, pada Jeongguk."
"Aku tidak menyukainya!"
"Dengar, aku sudah bosan dengan kekeraskepalaanmu. Kalau kau suka, bilang padanya! Jeongguk adalah orang yang baik. Dia tidak akan mencampakkanmu dengan kejam meski kau bertahun-tahun bersikap seperti kotoran terhadapnya."
"Aku sangsi, deh," Taehyung menimpal. "Kalau aku jadi Jeongguk, aku tidak akan mau melihat wajahmu lagi, Jimin."
"Wow, trims, Tae. Kau baru saja menambahkan garam di atas lukaku." Jimin berkata sinis. "Dan aku tidak suka Jeongguk."
Yoongi mengacak rambutnya frustasi. Sungguh, ia sudah hampir mengambil tongkat sihir dalam saku jubahnya dan mengutuk Jimin saking frustasinya. Bagaimana bisa ada manusia sekeras kepala ini hidup di dunia?
"Kalau begitu kau tidak masalah, ya, kalau Jeon Jeongguk berkencan dengan orang lain?"
Ada jeda janggal yang membuat Jimin tidak nyaman. Iya hanya harus berkata 'iya', tapi lidahnya seperti ragu-ragu mengeja.
"Tentu saja!" Jimin berkata dengan lantang setelah hening cukup lama.
Yoongi mengangkat bahu. "Bagus, kalau begitu. Dua hari lalu Irene memintaku mengenalkannya pada Jeongguk. Tadinya kupikir kau akan keberatan, tapi sekarang kurasa tidak ada salahnya."
Taehyung menyaksikan interaksi itu dalam diam sambil membuka kotak-kotak coklat kodok miliknya yang sudah diberi mantra agar tidak melumer di musim panas. Jimin tidak bicara lagi, dan Yoongi memutuskan untuk beranjak ke dalam kamarnya dan membaca buku.
Irene Bae. Jimin tidak bisa tertidur karena terus berusaha mengingat pemilik nama itu.
Irene Bae adalah siswi tahun ketujuh di Hufflepuff. Jimin berkali-kali mendengar namanya disebut sebagai orang paling cantik di Hogwarts, tapi tidak pernah benar-benar peduli. Di pagi hari, saat sarapan di aula besar, Jimin bertanya pada teman-temannya perempuan mana yang bernama Irene Bae, dan semua orang dengan senang hati memberitahunya. Bisa-bisanya Taehyung tidak memberitahunya, pikir Jimin pada awalnya. Tapi bukankah ia sendiri yang bilang dirinya tidak tertarik pada Jeongguk? Buat apa ia ingin tahu sekarang?
"Perempuan secantik itu suka pada si Jeon?" Jimin menggumam, memandang Irene yang sedang mengobrol di meja Hufflepuff dengan tatapan intens. Ia menusuk-nusuk kacang di piringnya tanpa selera. Sial, pikir Jimin. Ia tidak bisa terus begini.
Harus Jimin akui, Jeongguk memang menarik. Ia pendiam, tidak banyak tingkah, cerdas, sopan, dan punya tubuh dan wajah yang bagus. Rasa-rasanya dengan kriteria semacam itu, bukan perkara sulit untuk jatuh cinta padanya. Aneh sekali Jimin baru menyadari nilai-nilai ini sekarang. Barangkali rasa benci sudah menghalangi poin-poin tambah Jeongguk di matanya.
"Mungkin kau tidak peduli, tapi Jeongguk punya banyak penggemar di sini," Taehyung berkata di tengah kegiatannya mengunyah sosis.
Inginnya, Jimin tidak peduli. Tapi matanya dengan otomatis bergerak memandang Irene setiap satu menit sekali. Gadis itu sesekali tertawa bersama beberapa teman Hufflepuffnya, dan Jimin enggan sekali mengakui ini, tapi ia ikut terpesona pada setiap senyum yang Irene bagikan. Kalau dirinya jadi Jeon Jeongguk, Jimin pasti sudah mendekati Irene tanpa perlu berpikir dua kali.
Tunggu. Bukankah Jeon Jeongguk ada sesuatu dengan Park Jihyo?
"Hei, bukankah Jeongguk pacaran dengan Jihyo?"
Taehyung mengangkat alis. "Apa maksudmu?"
"Huh?" Jimin mengernyit bingung. Mendadak, sarapannya tidak lagi menggugah selera bahkan untuk dijadikan objek pemuas bosan. Ia memutar tubuh menghadap Taehyung, tampak kebingungan. "Aku melihatnya dengan Park Jihyo pacaran di perpustakaan beberapa hari yang lalu."
Taehyung mendadak tertawa. "Tidak mungkin!" tangannya mengibas tak percaya. "Jihyo itu sudah hampir setahun pacaran dengan Kang Daniel dari Gryffindor. Kau pasti salah."
Hah?
HAH?!
Untuk beberapa detik yang terasa panjang, Jimin hanya membuka mulutnya tidak percaya. Jadi pertemuan Jihyo dan Jeongguk berhari-hari lalu bukan karena mereka sedang pacaran? Jadi Jeongguk dan Jihyo tidak ada hubungan apapun?
Jimin tertawa keras setelahnya, menertawai kebodohannya sendiri. Ia sudah membuang kesempatan me-review kembali pelajaran singkat Ramuannya dengan Jeongguk. Dirinya yang dimakan cemburu terlanjur sudah membuat Jeongguk marah tempo hari karena bicara sembarangan. Dan semua itu karena sebuah kesalahpahaman saja?
Sial. Jimin bodoh sekali.
Tanpa membuang satu detikpun, Jimin beranjak dari tempat duduknya. Taehyung hampir melompat kaget karena gerakan Jimin menimbulkan bunyi 'duk' yang cukup keras saat kakinya terantuk dengan pinggiran meja. Beberapa orang di meja Slytherin memandang Jimin dengan aneh, barangkali ingin tahu penyebab tindakan ajaibnya selama berminggu-minggu ke belakang yang tidak bisa mereka lupakan.
"Hei mau ke—hei!" Taehyung baru saja hendak memprotes tindak tanduk Jimin yang ajaib sekali pagi ini saat Jimin melesat pergi tanpa menoleh lagi. Kaki-kakinya melangkah dengan cepat menuju meja Ravenclaw, mencari siluet Jeongguk di antara anak-anak yang sedang sarapan pagi itu.
"Hei," Jimin memanggil, baru sadar dua detik kemudian kalau lelaki yang ia pegang bahunya adalah Donghyuk. Anak Ravenclaw itu cegukan gugup, mungkin tidak menyangka kalau Park Jimin yang pernah menolaknya dengan sadis di tahun ketiga akan memanggil namanya tiba-tiba.
Beberapa teman Donghyuk terkikik, dan Jimin merasa seperti baru saja menginjak kotoran thestral (meski ia tidak yakin apa mereka pernah buang kotoran karena Jimin tidak bisa melihat mereka). "Kau lihat Jeongguk?" tanyanya, menelan rasa malu yang mulai mengakar di dalam hatinya.
Donghyuk, meski masih cegukan sesekali, mencoba menjawab Jimin. Suaranya sedikit bergetar. Sudah bagus ia tidak gagap. "Jeongguk ada di asrama. Kudengar dia demam setelah semalaman mencoba membuat ramuan netralisir untuk Amortentia."
"Amortentia? Tapi kita belum belajar soal itu," kata teman Donghyuk.
"Kau tahu lah, Jeongguk. Kudengar seorang anak cewek di tahun keenam mau memberikannya pada Jung Hoseok dan berhasil. Jadi Jeongguk membuat netralisirnya karena Slughorn sedang tidak di kastil."
"Kau bercanda? Tidak heran Kak Hoseok kelihatan siap mengutuk siapa saja saat kami berpapasan di koridor lantai dua tadi."
Jimin menggigit bibir. Ia harus bertemu Jeongguk sekarang atau semua kesalahpahaman ini akan terus berlanjut. "Thanks," katanya, sebelum berlari ke luar aula besar dengan terburu-buru.
Ya, Park Jimin. Beranilah dan akuilah kesalahanmu. Kau tentu tidak mau lihat punggung itu menjauh untuk yang kedua kalinya, kan?
"Uhm, Jeongguk, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud—ugh, aku bicara apa!"
"Hai, Jeongguk? Hari yang cerah—sial, bukan itu!"
"Hei sialan, kau kelihatan baik—Park Jimin!"
Selagi kakinya berderap menyusuri koridor, menaiki tangga dan menyalip di antara barisan siswa, Jimin terus mencoba menyusun kata-kata. Hanya memint maaf saja, pikirnya, tidak akan sesulit itu.
"Kau tidak bisa masuk," patung Rowena Ravenclaw bicara. Suaranya terdengar berat dan keibuan, membuat Jimin sontak menghentikan langkah sebelum hidungnya mencium permukaan pintu. "Hanya Ravenclaw yang diizinkan masuk."
Tentu saja. Mana bisa Slytherin sepertinya diizinkan masuk ke asrama Ravenclaw. Sial. Kenapa pula Jeon Jeongguk tidak beristirahat di rumah sakit saja, sih?
Dengan bibir mengerucut ke depan, Jimin berbalik dan melangkah menjauh. Beberapa anak Ravenclaw lagi-lagi memandangnya dengan tatapan aneh, sebab jarang sekali menemukan seorang Slytherin pergi ke menara Ravenclaw sendirian. Apalagi ini Park Jimin; semua orang tahu Park Jimin tidak menyukai Ravenclaw atau orang yang berafiliasi dengan asrama itu.
"Accio, sapu!" tongkat berbahan kayu ek dengan bulu unicorn miliknya terayun di udara, dan hanya perlu satu menit sampai sapunya melayang mendekat. Jimin menarik napas. Baik, pikirnya, kalau masuk lewat depan tidak bisa ia lakukan, ia hanya harus menghampiri Jeongguk seperti seorang Slytherin.
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
Keringat Jeongguk membanjir di dahi dan lehernya saat ia menendang selimut menjauh dari kakinya. Tidak ada siapapun di kamar asrama dengan enam ranjang ini selain Jeongguk. Barangkali teman-temannya sudah pergi ke aula besar untuk sarapan. Beberapa sudah pulang ke rumah untuk menikmati sisa musim panas setelah O.W.L selesai. Jeongguk mengusak rambutnya yang lepek, lantas berjalan lunglai ke lemari kecilnya di sudut ruangan.
Ingatkan Jeongguk untuk mengutuk Ms. Rowen setelah ia sembuh nanti karena sudah membuatnya bekerja dua malam tanpa tidur untuk menyembuhkan Hoseok. Perempuan itu pikir karena Slughorn sedang pergi ke luar kastil selama dua minggu, ia bisa dengan bebas mencampurkan amortentia di minuman Hoseok saat makan malam. Jeongguk tidak bisa tahan untuk tidak merinding mengingat sikap Hoseok setelah diberi ramuan cinta itu.
Jeongguk meraih pinggiran kausnya, bersiap mengganti pakaian saat ia mendengar teriakan nyaring tepat saat ia melepas kaus melewati kepala. Jantung Jeongguk hampir berhenti, sebab seingatnya tidak ada siapapun di ruangan ini selain dirinya sendiri. Mungkinkah hantu? The Grey Lady? Atau Peeves memutuskan untuk mencari suasana baru dan pindah ke menara Ravenclaw? Atau Myrtle Merana sudah bosan terus diam di toilet perempuan?
Semua dugaan itu patah saat ia melihat Park Jimin dengan punggung menghadapnya sedang sibuh menutupi wajah.
"Wah, gila. Baru demam dua hari aku sudah bisa berhalusinasi," Jeongguk bergumam, lekas memasang kaus bersih di tubuhnya dan hendak merangkak kembali ke atas ranjang.
"Kau memang gila!" Jimin menimpal, masih enggan membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya. "Bagaimana bisa kau telanjang dada begitu di depanku!"
Bibir Jimin baru mengatup saat Jeongguk sadar ia tidak sedang berhalusinasi. Park Jimin benar-benar ada di kamar asramanya saat ini, dengan dasi hijau-perak, warna kebanggaan Slytherin di tengah-tengah dinding biru tua Ravenclaw. Rambutnya yang pirang mengikal berantakan, membuatnya tampak menggemaskan. Duh, Jeongguk benci bagaimana ia selalu melihat Jimin sebagai sosok mungil yang lucu bahkan saat lelaki itu memaki di depan wajahnya.
"Park Jimin?" Jeongguk memanggil. Bahu Jimin berjengit merespon panggilan itu. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku... aku..." Jimin bergerak-gerak gelisah. Lupa pada kata-kata yang sudah ia hapalkan di perjalanan tadi. "Aku ingin bicara padamu."
"Oh ya?" Alis Jeongguk terangkat tinggi. "Memangnya sepenting apa sampai kau menyelinap masuk ke menara Ravenclaw di bawah terik matahari begini?"
Jimin menggigit bibir. "Penting sekali."
"Bukankah kau muak melihatku, Park?" Jimin hampir menangis mendengar bagaimana Jeonggguk memanggilnya dengan nama keluarga. "Kau sendiri yang bilang begitu."
"Harusnya!" Suara Jimin mendadak meninggi. Jeongguk berjengit kaget mendengar nada yang lelaki itu gunakan; seolah ia sedang terluka meski Jeongguk tak yakin betul mengapa.
"Harusnya aku benci kau. Aku sudah benci kau sejak tahun pertama. Kau menyebalkan, sok pintar, kau selalu merasa dirimu hebat dan aku selalu ada di bawahmuㅡ"
"Wow, senang sekali mendengar kau menjabarkan betapa bencinya kau padaku," Jeongguk tertawa miris.
Mendengar itu, Jimin memberanikan diri berbalik.
Jeongguk selalu melihat Jimin sebagai sosok yang kuat. Meski ia tidak begitu menyukai cara Jimin menunjukkan rivalitas di antara mereka berdua, Jeongguk tetap menghormati Jimin sebagaimana ia menghormati semua orang yang dikenalnya. Jimin selalu nekat, berani, sekaligus tahu cara mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.
Jimin yang sama, yang selalu nekat dan berani itu, kini menangis di hadapannya.
Jeongguk kesulitan menemukan respon yang tepat melihat Jimin terisak di hadapannya. Bahu lelaki itu berguncang-guncang, seiring dengan suara halusnya membahasakan tangis dalam baris yang Jeongguk sulit terjemahkan. "Aku... aku harusnya benci kau! Harusnya aku senang kau tidak menegurku di ujian Transfigurasi. Aku harusnya lega sewaktu kau bersikap seperti tidak mengenalku di lorong atau memanggil namaku untuk memberikan kertas ujian sewaktu kau duduk di depanku. Tapi aku malah... hiks, merasa terganggu!"
Jeongguk beranjak turun dari ranjangnya. Ia tampak sangat gugup dan bingung saat mendekati Jimin, berusaha menenangkan tangisnya. "Hei, hei. Kau kenapa menangis begini!"
"Diam!" Jimin menghardik, lebih mirip merajuk, sebenarnya. "Aku kesal sekali karena kau mengacuhkan aku, tahu!"
Jeongguk tertawa. Pemandangan Jimin menangis sambil mengeluh padanya begitu lucu sampai ia kesulitan menyembunyikan senyuman. "Bukankah kau tidak mau aku dekat-dekat denganmu?"
Jimin memandang galak padanya. "Berisik!"
"Iya, iya," Jeongguk terkekeh, membawa Jimin dalam pelukan yang canggung namun hangat. "Sudah, berhentilah menangis."
Tapi bukannya mengikuti titah Jeongguk, isakan Jimin malah bertambah hebat. "Ma-maafkan aku..."
Kedua sudut bibir Jeongguk tertarik membentuk senyuman lebar yang nyaris menyentuh matanya. Demamnya masih tersisa, dan peluhnya belum sepenuhnya kering, tapi Jimin menyembunyikan wajahnya di dada Jeongguk dengan nyaman. Ia menyukai perasaan hangat ini, dan berpikir bahwa seharusnya sejak dulu mereka sudah berbagi pelukan.
"Bagaimana ini, Park Jimin," Jeongguk menyandarkan dagu di puncak kepala Jimin. "Aku benar-benar tidak bisa benci padamu."
Jeongguk mendorong tubuh Jimin, memberi celah agar ia bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas. Jemari Jeongguk mengusap air mata yang menganak sungai di pipi Jimin dengan lembut. Jeongguk tidak tahu apakah itu karena angin musim panas yang berhembus lewat jendela, atau karena matahari siang ini yang membuat wajah Jimin berkilauan, Jeongguk menarik dagu Jimin mendekat.
"Boleh aku menciummu?"
Jimin tertegun. Belum sempat ia bereaksi, Jeongguk sudah berbisik maaf dan menyentuhkan bibir mereka berdua.
Bagi Jimin, bibir Jeongguk terasa lembut dan panas. Mungkin karena ia sedang demam. Lidah yang menyapu permukaan bibirnya terasa membakar, tapi Jimin tidak keberatan membuka mulut untuk membiarkan lidah itu masuk. Kaki Jimin terasa lemas saat Jeongguk memperdalam ciuman mereka. Kepalanya terasa pening saat lidah itu meraih lidahnya, mengajaknya beradu.
Menit berlalu, dan Jimin dan Jeongguk berharap baik ciuman maupun sentuhan yang mereka bagi tidak pernah ada ujungnya.
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
Kamar Rahasia menyala terang di bawah lilin-lilin gantung berbau lili, memberi suasana nyaman bagi tujuh orang remaja yang sedang beristirahat di tiga sofa berbeda. Namjoon dan Yoongi bersandar ke bahu masing-masing dengan tangan menggenggam buku; hilang dalam dunia mereka sendiri. Taehyung dan Seokjin menonton liga Quidditch dunia dengan khusuk bersama Hoseok, sedang Jeongguk dan Jimin sibuk mendengarkan musik dengan jemari saling bertaut. Sesekali Jeongguk akan memberikan ciuman kecil di punggung tangan Jimin, dan Jimin akan memukul dadanya karena malu.
"Ish, bisakah kalian berhenti melakukan itu?" Seokjin berdecih, merasa gemas karena harus disajikan pemandangan semacam itu setiap dua menit sekali.
"Biarkan saja, Kak," Taehyung tertawa. "Mereka melakukan itu hampir setiap waktu sampai aku sudah merasa terbiasa."
"Aku hampir pingsan saat Jeongguk dan Jimin datang ke aula baru sambil tertawa di depan satu sama lain, serius," kata Hoseok. "Membayangkannya saja membuatku merinding."
"Hei!" Jimin berseru. "Tidak baik membicarakan seseorang di depan mereka."
Jeongguk hanya menyumbang tawa, sambil tangannya dengan lihai membelai rambut Jimin guna membantu pacarnya itu menenangkan diri. Benar, pacar, begitulah Jeongguk dan Jimin mengakhiri musim panas mereka.
"Tapi aku masih penasaran, bagaimana kalian berdua mulai berkencan?" Hoseok bertanya.
Jeongguk dan Jimin bertukar pandang, lantas melempar tawa seolah pertanyaan itu adalah pertanyaan paling lucu yang pernah mereka dengar.
Dalam satu tarikan napas, Jeongguk dan Jimin menjawab; "Rahasia."
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
⠀ ⠀⠀ ⠀
reminiscence of summer - end.
