Work Text:
“ Kau memungut kucing. ”
“Aku memungut kucing.”
Kugisaki Nobara mengacak rambut pendeknya frustrasi, jari telunjuk dengan kuku yang dicat kuteks berwarna soft pink miliknya menunjuk pemuda dengan helai rambut sewarna cat kukunya—tepat di depan hidungnya.
“Itadori! Kau memungut kucing!”
Pemuda yang dipanggil Itadori—lengkapnya Itadori Yuuji—memiringkan kepalanya, “Aku memang memungut kucing, lalu apa yang membuatmu marah begitu, Kugisaki?”
Nobara menarik kembali jarinya yang kini pindah memijat pelipisnya. Matanya menatap tajam ke arah Yuuji yang duduk manis dengan kucing gemuk berbulu seputih salju di pangkuan.
Sekali lihat, entah kenapa Nobara langsung tidak menyukai kucing tersebut. Sepasang mata biru itu menatap mengejek ke arah Nobara. Katakanlah Nobara gila karena ia baru saja mengatakan tatapan seekor kucing seolah mengejeknya, tapi demi Tuhan Nobara berani bersumpah tatapan kucing itu memang mengejeknya!
“Kau sibuk dengan kuliahmu dan juga kerja part time. Memangnya kau sanggup merawatnya?” lanjut Nobara, kembali pada topik yang membuatnya naik darah.
Jemari Yuuji mengelus bulu kucing tersebut, membuat kucing gemuk itu semakin menempel padanya. Pemuda manis itu tersenyum, “Sanggup kok. Lagipula Satoru kucing pintar. Iya ‘kan Satoru?”
Seolah mengerti bahwa sedang dipuji, kucing putih tersebut mengeong cukup kencang. Kaki pendeknya kemudian naik ke bahu Yuuji, dengan lucunya kucing tersebut menjilat pipi Yuuji, membuat empunya tertawa kecil sekali meringis sakit karena demi apa pun lidah kucing itu kasar.
Ew.
Nobara mengernyit jijik melihat tingkah kucing putih itu yang sedang menjilat Yuuji—maksudnya menjilat dalam arti mencari muka di hadapan Yuuji. Sekali lagi, Nobara juga tidak paham mengapa ia bisa membenci kucing gemuk itu padahal sebelumnya ia bukan tipe orang yang membenci hewan. Hanya pada kucing itu ia begini. Kucing di pangkuan Yuuji terlalu mencurigakan, hawanya terlalu buruk untuk ukuran kucing liar yang dipungut oleh pemuda baik hati.
“Aku tetap tidak mengizinkanmu memelihara kucing liar itu!” ucapnya bertingkah seolah ia adalah orang tua Yuuji. Jarinya menunjuk buntalan putih itu tepat di depan hidungnya.
Yang kemudian—
Krauk!
“ARGH! ITADORI, KUCINGMU MENGGIGITKU!”
Sepeninggal Nobara, Yuuji kembali duduk manis di sofa abu-abu miliknya. Satoru—si kucing putih yang baru saja diadopsi oleh Yuuji itu langsung menempatkan diri di pangkuan Yuuji, menggulung tubuhnya dengan kepala menghadap ke arah Yuuji.
Jemari Yuuji langsung mengelus kepala Satoru, membuat kucing itu mendengkur nyaman dan semakin bersandar padanya.
“Satoru, jangan menggigit orang sembarangan. Kasihan Kugisaki tadi sampai menangis,” ucap Yuuji, mengingat kejadian beberapa waktu lalu ketika Nobara menitikkan air matanya sebab Satoru tidak mau melepaskan jari Nobara dari mulut kecil itu.
Padahal sebenarnya Nobara menangis karena tidak sanggup menahan hasrat ingin membuang Satoru ke luar dari apartemen studio milik Yuuji.
“Miaw…”
Yuuji tertawa mendengar jawaban Satoru yang seolah mengiyakan ucapannya. Ia pun mengangkat tubuh gemuk Satoru dan mencium pipinya gemas.
“Satoru menggemaskan!” girang Yuuji sambil menciumi pipi kucing putih itu yang disambut dengan suara meong bahagia.
Sedikit kisah tentang Satoru, Yuuji menemukannya dua hari yang lalu ketika ia sedang dalam perjalanan pulang dari kerja paruh waktunya. Kucing putih itu tertidur melingkar di atas kardus bekas buah jeruk yang diletakkan begitu saja di samping tempat sampah area sekitar taman. Yuuji tadinya tak berniat untuk memungutnya mengingat jadwal kuliahnya yang cukup padat juga shift kerja paruh waktunya—membuatnya jarang berada di rumah.
Ia berniat hanya meletakkan sosis siap makan dan susu kotak rasa vanila yang sempat ia beli di minimarket—yang tadinya untuk menu makan malamnya hari ini—di samping kardus kucing itu, jaga-jaga kalau kucing tersebut bangun dan kelaparan. Tapi rupanya suara berisik dari plastik pembungkus sosis membuat kucing itu terbangun, Yuuji meringis meminta maaf sambil mengelus kucing itu, lalu menyuapinya makan sampai sosis di tangannya habis.
Saat ia beranjak, kucing itu ternyata juga ikut beranjak dari kardusnya, mengekori Yuuji dalam diam. Jika Yuuji memutar badannya ke belakang, kucing itu akan duduk dan menatapnya lekat dengan sepasang mata biru yang berbinar indah dalam temaram lampu jalan.
Yuuji menghela nafas, ia sudah berusaha mengusir kucing itu, namun yang terjadi malah kebalikannya, dengan kukunya yang tajam kucing itu memanjat celana jeans Yuuji sampai ke selangkangannya—yang kemudian diangkat oleh Yuuji untuk dibawa dalam gendongan.
Mau tidak mau, Yuuji membawa kucing tersebut pulang ke apartemennya. Sedikit bersyukur, setidaknya ia tidak akan lagi sendirian di apartemennya.
Tentang nama Satoru, sebenarnya kucing yang dipungut oleh Yuuji sedikit nyentrik. Maksudnya, ketika Yuuji menyebutkan segelintir nama manis nan menggemaskan, kucing tersebut memasang wajah masam bahkan menjulurkan lidahnya. Kucing tersebut bahkan langsung meloncat ke arah laptopnya yang menyala dan kaki-kaki pendek itu menunjuk huruf yang menyusun nama Satoru. Lihat, aneh sekali bukan?
Kembali pada keadaan saat ini dimana Yuuji sedang larut dalam tayangan film di televisinya dan Satoru yang bergelung nyaman di pangkuannya—ehm, lebih tepatnya tepat di atas itu nya.
Sesungguhnya Yuuji tak mengerti mengapa kucingnya itu sangat suka bergelung di pangkuannya. Aneh? Entahlah, Yuuji tak mau ambil pusing, mungkin itu memang sifat alami kucing.
Mungkin.
Sudah satu minggu lamanya Yuuji tinggal satu atap dengan Satoru—atau yang sekarang dipanggil Nyatoru olehnya, lebih menggemaskan katanya.
Kini tiap sarapan dan makan malam, Yuuji tak lagi sendirian, ada Satoru yang menemaninya meski kucing itu sibuk dengan makanannya—yang anehnya tidak doyan makanan kucing instan.
Yuuji ingat betul Satoru pernah memuntahkan makanannya di atas paper miliknya karena tak suka dengan makanan kucing kalengan yang ia beli di minimarket.
Tiap mandi juga Yuuji tak pernah kesepian, ada Satoru yang setia menemaninya di dalam kamar mandi, ikut berendam bersamanya. Yuuji awalnya bingung, bukankah kucing benci air? Tapi Satoru kebalikannya, kucing itu malah senang berendam bersamanya. Kalau pun Yuuji tidak mengizinkan Satoru ikut berendam—pemuda manis itu takut kucingnya masuk angin jika terlalu sering berendam—Satoru akan duduk manis di atas kloset milik Yuuji dengan sepasang mata menatapnya lekat. Aneh?
Tidur pun Satoru tidak mau jauh-jauh dari Yuuji. Satoru selalu menggulung tubuhnya di samping Yuuji, atau kalau sedang kurang ajar ia akan tidur di atas dada hangat Yuuji. Satoru tidak pernah mau tidur di ranjang buatan yang sudah susah payah Yuuji buat. Mungkin ranjang buatan Yuuji tidak nyaman jadi ia memilih untuk tidur di ranjang bersama tuannya. Bisa jadi? Bisa jadi.
Seperti malam ini, dimana Yuuji yang sisa tenaganya tinggal 1% harus berdebat dengan Satoru yang keras kepala menguasai ranjangnya. Hanya malam ini, sungguh, hanya malam ini saja Yuuji ingin tidur dengan damai di ranjang nyamannya tanpa diganggu oleh buntalan bulu putih itu. Tenaganya sudah dikuras habis oleh pekerjaan paruh waktu dan tugas kuliahnya yang menggunung. Demi Tuhan, hanya hari ini saja Yuuji ingin tidur tanpa gangguan.
“Nyatoru, ayolah, tidur di ranjang kecilmu ya?” bujuk Yuuji sambil berusaha menangkap Satoru yang masih menguasai kasurnya bak raja.
“Miaw.”
“Nyatoru?”
“Miaw!”
Satoru kembali melompat ke sisi ranjang ketika Yuuji hendak menangkapnya, membuat pemuda itu menghela nafas lelah, “Terserahmu, Nyatoru. Aku menyerah.”
Yuuji mengabaikan Satoru yang mengeong keras—mungkin kucingnya itu senang karena tak jadi diusir dari ranjang nyaman, ia menjatuhkan dirinya dengan posisi tengkurap pada ranjang empuk, tangannya meraih bantal dan mendekapnya erat, tak sampai semenit, Yuuji telah tenggelam dalam alam mimpinya.
Meninggalkan Satoru yang melompat ke pantat Yuuji dan melingkar nyaman disana, menyusul sang majikan menuju alam mimpi.
Dan sejak saat itu, Satoru lebih senang untuk tidur di pantat Yuuji.
Satoru sedang menikmati makanannya dengan damai di atas meja makan—iya, secara eksklusif ia makan di meja yang sama dengan tuannya—ketika Yuuji yang baru selesai mengerjakan tugasnya menginjakkan kaki di area dapur. Pemuda manis itu mengambil sebuah kotak berwarna merah muda dari kulkas sebelum duduk di hadapan Satoru.
“Oh strawberry shortcake , kupikir Fushiguro membelikanku apa,” ucapnya setelah membuka kotak itu dan mengeluarkan satu slice kue berhias krim putih dan potongan stroberi segar.
Ia pun memakannya dengan tenang, tak menyadari Satoru yang mengabaikan makanannya sendiri dan memilih untuk duduk menonton Yuuji menikmati kuenya.
“Nyatoru mau?” tanya Yuuji saat menyadari kucing manisnya itu menatapnya lekat.
“Miaw.”
Pemuda manis itu menggigit garpunya, wajahnya memasang ekspresi berpikir dengan mata sewarna madu menatap lekat Satoru yang juga menatapnya dengan pandangan serupa.
Ia menarik garpu dari giginya, menusuk irisan stroberi yang sudah ia gigit setengahnya dan menyuapkannya pada Satoru, “Kupikir stroberi tidak berbahaya untuk kucing.”
“Meow!” Satoru mengeong kencang, Yuuji mengerti bahwa kucingnya itu protes tak terima hanya mendapatkan stroberi alih-alih kue, hanya saja Yuuji tempo hari sudah berkonsultasi dengan dokter hewan dan mendapat jawaban bahwa makanan manis tidak baik bagi kesehatan kucing.
Ia menyentuh hidung Satoru, memancing suara lagi darinya, “Dokter bilang kucing tidak boleh makan manis-manis, jadi tidak ada kue untukmu. Sebagai gantinya makan ini saja ya, Nyatoru!”
“Meow~”
Satoru membuka mulutnya, mengambil potongan kecil stroberi yang disuapkan oleh Yuuji dan memakannya dengan pasrah.
Selama ia mengunyah buah asam itu, matanya tak lepas dari Yuuji yang kembali memakan kuenya sampai habis.
“Kenyangnya. Kuenya enak, lebih enak dari kafe tempatku bekerja. Fushiguro beli dimana ya?,” celoteh Yuuji. Ia membereskan kotak dan garpu plastik yang ia gunakan.
“Meow meow!”
“Ada apa Nyatoru?”
Satoru mendekat, ia meletakkan kaki depannya pada dagu Yuuji. Mata Yuuji melebar penuh kejut ketika merasakan kasarnya lidah Satoru yang menjilat bibirnya. Ia mematung beberapa saat sebelum mengangkat Satoru menjauh dari wajahnya.
Matanya menatap tajam Satoru yang kini asyik menjilat kakinya yang digunakan untuk menyentuh dagunya.
“Dasar kucing nakal. Sudah kularang pun tetap nekat mengambil sisa krim di bibirku ya!” gerutu Yuuji sambil menciumi pipi Satoru—gemas sekaligus kesal.
“Meow!”
Kelanjutannya tentu sudah bisa ditebak dengan mudah, yaitu bertambahnya hobi Satoru—menjilati bibir Yuuji.
“Nyatoru! Nyatoru! Lihat apa yang kubawa!” heboh Yuuji suatu hari sambil menghampiri Satoru yang bergelung nyaman di atas sofa miliknya.
Satoru yang melihat kedatangan sang majikan pun bangun dari posisinya. Ia duduk manis dan memandang bingung Yuuji yang mengangkat sebuah kantong kertas di hadapannya, “Miaw?”
Yuuji tertawa kecil, ia lalu duduk bersila di lantai. Tangannya merogoh kantong tersebut, menarik keluar sebuah kacamata hitam berukuran kecil dan memakaikannya pada Satoru, “Wow, kau jadi tambah tampan, Nyatoru! Tunggu, jangan banyak bergerak, biar aku memotretmu dan kutunjukkan pada Fushiguro!”
Seolah mengerti dirinya sedang dijadikan model dadakan, Satoru langsung duduk tegap. Matanya mengarah pada Yuuji yang sibuk memotretnya sambil melempar pujian. Tak hanya itu, Satoru bahkan beberapa kali mengganti pose, membuat sepasang manik madu milik Yuuji berbinar ceria.
Puas mengambil foto dan mengirimkannya pada sang teman, Yuuji membawa tubuh gemuk Satoru ke kamarnya. Ia duduk lesehan di depan cermin tinggi dengan Satoru di antara celah paha. Tangannya meraih dia kaki depan Satoru, lalu meletakkannya di dada, membuatnya seolah berpose.
“Lihat, tampan kan?” ucap Yuuji ceria.
“Miaw!” jawab Satoru, ia tidak mengalihkan pandangannya dari cermin, menatap pantulan dirinya yang berada di pangkuan Yuuji.
Serasi.
Ngomong-ngomong, Satoru begitu menyukai kacamata pemberian Yuuji, ia selalu memakainya kapanpun. Bahkan ia berniat untuk memakainya ketika tidur dan mandi bersama Yuuji kalau saja tuannya itu tak melepaskannya dan menyimpannya di tempat aman.
Yuuji yang melihat tingkah Satoru satu itu hanya bisa tertawa dan menciumi Satoru saking gemasnya, menganggapnya begitu lucu karena menyukai hadiah kecilnya.
Jadilah kacamata hitam itu ciri khas Saroru—yang membuat Nobara mendecakkan lidah kesal ketika gadis itu mampir ke apartemen Yuuji dan menemukan Satoru melenggang tampan dengan kacamata hitam di pangkal hidung.
Satoru, resmi merasa dirinya menjadi kucing paling tampan sedunia.
Semakin waktu berlalu, semakin Yuuji sadari bahwa ia sudah terlalu menyayangi Satoru—seperti anak sendiri. Ia merasa harinya tak lengkap jika tidak melihat ekor putih yang bergoyang di depan matanya atau mendengar suaranya yang mengeong manja.
Pernah suatu ketika Satoru sakit, akibat terlalu sering berendam bersamanya dan berakhir dirawat di vet selama dua hari karena Yuuji terlalu sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya, tak sempat jika harus merawat Satoru sepenuhnya.
Selama dua hari itu juga Yuuji merasa kesepian. Tak ada suara meong Satoru, tak ada yang mencakar-cakar kertas bekas paper nya, tak ada yang suka meloncat ke dadanya dan menjilati bibirnya, tak ada juga yang bergelung manja di pantatnya.
Baiklah, dua poin terakhir terlalu tidak normal untuk dirindukan, tapi tetap saja.
Ketika Satoru resmi sembuh, Yuuji benar-benar memanjakan Satoru. Ia menyuapinya makan, memberikan camilan, mengajaknya jalan-jalan di sekitar apartemennya, menggendongnya setiap saat, dan membiarkannya untuk bergelung di pantatnya atau menjilati bibirnya.
Contohnya seperti saat ini, dimana Satoru bergelung nyaman di pantat Yuuji yang tengah tengkurap—sibuk bertukar pesan dengan temannya.
Satoru bergelung nyaman di pantat—ehm, seksi, ehm—tuannya, menyamankan dirinya, menempatkan kepalanya di pantat empuk sang tuan, terkadang menggigitnya—yang berakhir dengan di tepuk oleh Yuuji, kakinya pun tak kalah aktif, ia memijat pantat Yuuji membuat empunya tertawa kecil.
Bosan bermain dengan pantat Yuuji, Satoru berpindah tempat. Ia melangkahkan kakinya menuju wajah Yuuji, bergelung nyaman dengan wajah menghadap tepat di depan wajah manis sang tuan. Satoru mengangkat kaki depannya, menyentuh dagu Yuuji sebelum ia memajukan kepalanya guna menjilati bibir Yuuji.
“Ahaha—Nyatoru minta diperhatikan ya? Baiklah.”
Ponsel kuning yang semula menjadi perhatian Yuuji dilempar ke samping. Ia meraih Satoru dalam genggamannya dan merubah posisinya menjadi telentang. Ditempatkannya Satoru pada dadanya, tangannya mengusap lembut kepala Satoru sementara kaki kucingnya itu kembali sibuk memijat dadanya. Ia pun berceloteh, menceritakan berbagai hal yang kemudian dijawab dengan meongan dari Satoru.
Sungguh hari yang indah — bagi Satoru.
Sore itu, apartemen Yuuji kedatangan tamu, Fushiguro Megumi, teman Yuuji. Pemuda tampan dengan rambut hitam dan mata seindah batu emerald.
Satoru menatap tajam tamu tuannya itu dari singgasananya—sofa abu-abu. Sepasang mata birunya menatap tajam Fushiguro, mengawasi tiap gerak-geriknya.
“Oi Itadori, kucingmu…”
Yuuji yang baru kembali dari kamarnya dengan laptop silver dan dua tumpuk buku tebal memiringkan kepalanya bingung, “Ada apa dengan Nyatoru?”
Fushiguro mengabaikan nama aneh kucing tersebut, telunjuknya menunjuk Satoru yang masih betah menatapnya tajam, “Aneh.”
“Karena Nyatoru pakai kacamata?” tanya Yuuji lagi.
Sebenarnya iya, mana ada kucing yang betah lama-lama memakai aksesoris begitu? Tapi bukan itu permasalahan utama Fushiguro, melainkan, “Kupikir dari tadi kucingmu menatapku?”
“Mungkin Nyatoru ingin bermain denganmu,” ucap Yuuji. Ia meletakkan barang-barang yang tadi dibawanya di meja rendah, lalu menggendong Satoru, “Main dengan Fushiguro nanti saja ya, Nyatoru. Kami harus mengerjakan tugas dulu.”
“Miaw miaw miaw!” Satoru memberontak ketika Yuuji beranjak ke dapur, mengambil tempat makan dan minumnya dan membawanya ke kamar pemuda manis itu.
Sayang seribu sayang, tenaganya kalah dengan pelukan maut Yuuji, membuatnya pasrah digendong dan di kunci di dalam kamar.
“Kau yakin meninggalkannya di kamar sendirian begitu?” tanya Fushiguro ketika Yuuji kembali dari acara mengunci Satoru.
Pemuda manis itu mengangguk, “Daripada mengganggu. Nyatoru suka bermain dengan laptopku.”
“Baiklah. Tentang tugas—“
Keduanya kemudian sibuk dengan kegiatan mereka sendiri. Fushiguro yang duduk di sofa mengambil buku cetak milik Yuuji, membalik halaman demi halaman untuk mencari referensi tugas presentasi mereka, sementara Yuuji memilih untuk duduk lesehan dan bersandar pada sofa; menyamankan diri di antara kaki Fushiguro dengan laptop di pangkuan. Mereka mengerjakannya dengan tenang dan damai, sampai—
Scratch! Scratch! Scratch! Buk!
Fushiguro menaikkan sebelah alisnya, kemudian melirik ke arah Yuuji yang sibuk dengan laptopnya. Ia menghela nafas panjang, “Lebih baik kau keluarkan saja kucingmu sebelum kamarmu hancur.”
Pemuda manis itu mendongak, “Kau tidak keberatan?”
“Selama dia tidak mengganggu,” jawabnya.
Ketika Yuuji ingin menyakinkan temannya itu bahwa Satoru tak mungkin menghancurkan kamarnya, suara barang jatuh kembali terdengar. Pemuda manis itu pun menghela nafas dan beranjak untuk menyelamatkan kamarnya dari amukan kucing tersayangnya.
“Nyatoru, apa yang—“ ucapan Yuuji terpotong, Satoru langsung berlari ke arah Yuuji, memanjat badan pemuda itu sampai bahu begitu pintu kamar terbuka.
Yuuji menepuk-nepuk pantat kucing gemuknya itu, ia membawa langkahnya kembali ke tempat Fushiguro yang tenggelam dalam bacaannya. Ditempatkannya Satoru pada singgasananya—tepat di samping Fushiguro.
“Aku mengerjakan tugasku dulu, setelah itu kami akan bermain denganmu, oke, Nyatoru?” bujuk Yuuji.
Satoru lempar muka, ngambek .
Yuuji tertawa melihatnya, ia mengelus kepala Satoru hingga kucing itu luluh—mendengkur pelan dalam sentuhannya dan beranjak kembali pada laptopnya begitu merasa Satoru sudah lebih jinak.
Ia memangku laptopnya, kembali ke posisi semula dan mengetik apa yang Fushiguro terangkan. Terkadang, Fushiguro akan meletakkan dagunya pada bahu Yuuji sambil menunjuk bagian yang sekiranya perlu direvisi.
Pemandangan yang cukup intim dan mengganggu—bagi Satoru.
Jengah, Satoru pun melompat dari tempatnya. Melangkah kaki kecilnya menuju Yuuji, menyusup ke pantat Yuuji yang terekspos karena pemuda manis itu duduk dengan posisi menekuk kedua lututnya sebatas dada dengan laptop di antara paha juga dadanya sendiri.
“Nyatoru, apa yang kau lakukan?” heran Yuuji oleh kucingnya yang asik bergelung di sana—membuat parasnya sedikit memerah malu karena teman nya harus menyaksikan adegan seekor kucing bermain dengan pantatnya.
Sebenarnya sudah sering terjadi, tapi Yuuji malu ketika tingkah aneh kucingnya terbongkar ke orang lain.
Fushiguro? Oh, dia terlalu shock untuk berkomentar.
Ia meletakkan kembali laptopnya. Tangannya kembali mengangkat Satoru dan mendudukkannya di atas meja. Jari telunjuk Yuuji menyentuh hidung merah muda Satoru. Wajah manisnya memasang ekspresi galak, “Nyatoru, tolong jangan ganggu aku dulu. Sebentar saja, setelah itu kau bebas bermain bersama kami. Oke?”
“Miaw!” Satoru kembali membuang muka, ia memutar badannya membelakangi Yuuji dengan dagu terangkat tinggi.
Yuuji tentu saja tak habis akal. Ia mengelus dagu Satoru, membuatnya kembali menoleh ke arahnya dengan dengkuran halus, “Anak pintar. Duduk manis disini ya.”
Ia menepuk-nepuk kepala Satoru, lalu menciumnya gemas sebelum kembali ke tempatnya semula. Satoru diam membeku beberapa saat, sebelum sepasang mata birunya menatap tajam posisi tuan dan teman nya yang kembali ke posisi semula. Terlalu dekat.
“Kau menciumnya?” heran Fushiguro ketika Yuuji kembali menyusup di antara kedua kakinya.
Pemuda manis itu mengulas senyum lebar, ia mendongak ke arah Fushiguro, “Nyatoru bersih kok, aku sering memandikannya.”
Fushiguro mendengus, buku tebal yang semula berada di tangan dihempaskan begitu saja, tangannya berpindah menangkup pipi Yuuji, membuatnya bertahan dalam posisi mendongak. Tanpa mengucap kata, ia menghapus jarak, mengecup singkat bibir Yuuji yang baru saja mengecup makhluk berbulu putih di hadapannya.
“Jangan lakukan itu lagi,” bisiknya ketika ia kembali membentang jarak. Ibu jarinya mengusap lembut bibir Yuuji, sementara matanya menatap lekat paras manis yang bersemu merah.
Keduanya bertahan dalam posisi tersebut selama beberapa detik. Hingga—
“Miaw! Grr! GRRRRR! KRAUK!”
“ ITTAI! ”
Fushiguro berteriak kesakitan akibat diterjang secara brutal oleh kucing gemuk berbulu putih bernama Satoru.
Sejak saat itu, setiap Fushiguro datang berkunjung, Satoru selalu berdiri di tengah genkan , menghadang Fushiguro menginjakkan kaki di teritori miliknya.
Atau jika Yuuji sudah menggendong tubuhnya, ia akan menodongkan paw nya ke arah Fushiguro, wajahnya memasang ekspresi sangar, belum lagi ekornya yang berdiri tegak mengancam, sambil mengomel, “Miaw miaw miaw miaw miaw!”
Yang tentu saja diabaikan oleh Fushiguro yang tidak paham tentang bahasa kucing.
Kasihan Satoru.
