Work Text:
***
“Kak?”
Suara bariton milik Taehyung membelah udara, menarik perhatian Min Yoongi yang tengah berkutat dengan laptopnya, entah menulis laporan organisasi atau mengerjakan tugas, mungkin keduanya secara bersamaan.
“Ya?” Jawaban Yoongi datang hanya dalam bentuk suara, pelan, tanpa diikuti atensi karena masih sibuk menggerakkan jarinya dengan lihai, kedua bola mata terus mengikuti setiap kalimat yang terpampang jelas di layar. Sedang banyak inspirasi, sepertinya.
“Udah jam sembilan malem, aku harus pulang.” Taehyung mengingatkan, kembali melirik jam di pergelangan tangan. Benar saja, sudah terlewat beberapa menit. Itu berarti setidaknya Taehyung akan sampai di rumahnya lebih dari pukul sebelas malam.
Menyadari apa yang Taehyung ucapkan, barulah Yoongi memindahkan pandangannya pada sudut layar laptop, menatap jam yang berubah menit menjadi 9.06.
Sialan. Dia terlalu fokus hingga lupa dengan tanggung jawabnya untuk mengantar Taehyung ke stasiun.
“Shit. Sorry, Tae. Aku kira masih jam delapan.”
Suara kekehan Taehyung memberitahu Yoongi bahwa pemuda itu sama sekali tidak keberatan. Justru, jika bukan karena Yoongi yang bersikukuh untuk mengantarnya ke stasiun, Taehyung tidak perlu mengganggu kekasihnya yang sibuk mengerjakan tanggung jawabnya.
Beberapa kali Taehyung mencoba untuk pulang tanpa harus repot-repot lelakinya antarkan ke stasiun, Yoongi selalu menolak. Ketika ia bertanya, mengapa, pria itu tidak pernah menjawabnya dengan kata-kata. Hanya sebuah tatapan panjang dalam keheningan, lantas sebuah tepukan di lengan bagian atas, dan tersenyum simpul. Setelahnya, ia menyuruh Taehyung segera menaiki kereta yang akan membawanya pulang, dan berkata, ‘Hati-hati, Tae. Text me when you arrived.’
Begitu juga yang terjadi malam ini. Yoongi jelas tidak bisa mengikuti Taehyung ke peron, mereka berdiri di dekat mesin tiket, saling berhadapan. Yoongi dengan jaket denimnya yang Taehyung pikir sama sekali tidak akan bisa menghalangi dinginnya udara malam. Sedangkan Taehyung, lengkap memakai jaket tebal, kaus kaki hingga di atas mata kaki, celana jeans yang agak kebesaran juga topi hitam di kepala. Ia tidak terlalu tahan dengan udara dingin. Dan pendingin di dalam kereta kerap kali membuatnya ingin buang air dan berakhir menahannya sepanjang jalan. Untuk itulah, ia tidak pernah lupa mambawa jaket tebal meski sering kali membuatnya kesusahan.
“Kak… kenapa?” Taehyung membuka mulut, menatap kekasihnya penuh harap. Menolak untuk buru-buru melangkah masuk menuju peron.
Pertanyaan yang diajukan mengarah pada satu hal. Yoongi tahu betul maksud dari hal itu. Ia sudah menerimanya berkali-kali, tetapi hingga sekarang, hingga usia hubungan mereka menginjak satu tahun, Yoongi tidak pernah menjelaskan.
Mungkin, hari ini ia harus mengatakannya. “So I can be with you longer.” Adalah yang Yoongi ucapkan pada akhirnya. Ia tidak mengatakan secara keseluruhan. Kalimat pelengkapnya tertahan di tenggorokkan tepat ketika melihat binar kebahagiaan di kedua mata lelakinya.
Yoongi tidak bohong. Tetapi, tidak sepenuhnya jujur.
Rutinitas menjemput Taehyung di stasiun, juga mengantarnya pulang hingga stasiun terus berlangsung hingga pemuda Kim itu menyelesaikan pendidikan strata satu. Yang berarti, hubungan keduanya sudah beranjak lebih dari tiga tahun. Yoongi bekerja selama satu tahun setelah kelulusannya, yang lantas memilih melanjutkan pendidikan lanjutan di universitas yang sama dengan kekasihnya.
Hanya saja, ketika Taehyung berhasil menyelesaikan pendidikannya, Yoongi masih belum bisa melepaskan diri dari belenggu penelitian yang terus berlanjut setiap siang dan malam. Yang menghalanginya untuk menghabiskan waktu dengan kekasihnya, dan hanya memberi sedikit keleluasaan bagi Yoongi menjemput dan mengantar Taehyung ke stasiun. Namun kali ini, berbeda. Keduanya saling pandang, tak lagi penuh dengan rasa kebahagiaan atau gairah tak sabaran menyongsong hari esok di mana Taehyung akan menemukan sosok Min Yoongi di sisi kiri dari pintu keluar peron, menunggunya, tetap dengan jaket yang terlalu tipis.
“You make it seems it’s actually not too hard for you to say goodbye to me, Kak. Watching me walk away.” Taehyung menunduk, Yoongi tetap menatapnya tanpa berkedip. Menahan kata yang tertahan tiga tahun lalu agar tidak keluar dari bibirnya. Ia tidak ingin Taehyung tahu, jikalau selama ini, rutinitas yang Yoongi lakukan untuk mengantar Taehyung ke stasiun adalah untuk menyiapkan dirinya sendiri. Melihat kekasihnya melangkah menjauh, masuk ke dalam kereta yang membawa lelaki itu pergi jauh dari Min Yoongi. Ia melatihnya selama tiga tahun, tetapi hatinya tetap tidak sekuat yang Yoongi perkirakan.
Ketika keheningan semakin berat, Taehyung kembali membuka mulut.
“Kak… do you know why I like this place so much?” Mendongak, Taehyung mengambil satu langkah mendekat. Yoongi tetap di tempat. “Karena di tempat ini hariku mulai, pas liat kakak nunggu di sisi kiri pintu keluar, orang yang pertama aku ajak ngobrol, tempat pertama pas kita engga sengaja kenalan. Kita yang sama-sama lagi nunggu temen, akhirnya kenalan,” Taehyung mengambil napas panjang, “di sini, ka. Titik temu kita. Di stasiun. Engga romantis banget, ya? Tapi aku seneng banget bisa kenal sama kakak di sini. Aku seneng banget bisa ketemu kakak setiap hari di sini sebelum aku mulai aktivitas terberatku. Aku seneng, karena sebelum istirahat dan pulang, orang terakhir yang aku liat itu kakak.”
Hebusan angin dengan kejamnya menampar tubuh Yoongi yang tidak terbalut sempurna. Seperti ucapan Taehyung yang kini membuat Yoongi tertegun, menyadari bahwa apa yang selama ini ia lakukan tidaklah adil bagi kekasihnya.
Ketika ia mempersiapkan diri untuk sebuah perpisahan, Taehyung menemukan kehangatan dan kebahagiaan dari rutinitas yang Yoongi lakukan setiap harinya.
“Tae…” Suara Yoongi tercicit. Menyedihkan sekali, ia hampir menangis di tempat umum. Bukan seperti seorang Min Yoongi yang dikenal dengan wajah garangnya. “Do you feel like to wait? To wait until I graduated and wait for me? Di stasiun, tungguin kaka dateng, kamu mau?”
Taehyung menangkap maksud kekasihnya. Lelaki ini tidak menjelaskan stasiun mana, tetapi Taehyung mengerti. Keputusan yang semula Yoongi ambil, kini sudah tidak lagi menempati ujung lidahnya yang siap untuk diucapkan. Dan seolah Taehyung tahu bahwa kemungkinan hari ini adalah hari terakhir ia bisa melihat lelakinya, memanggil Min Yoongi kekasihnya, untuk itulah Taehyung berusaha untuk menghentikannya. Karena itu pula, kedua bola mata Kim Taehyung kini berkilat penuh dengan antuiasme.
Titik temu mereka tidak harus di tempat yang sama. Taehyung akan menunggu. Menunggu dengan sabar untuk kekasihnya datang dari kereta berkecepatan tinggi, keluar saat pintu terbuka, dan melihat Taehyung di ujung sisi kiri pintu keluar lengkap dengan senyumannya.
Pria jangkung itu mengangguk. “Sure. I’ll wait. Aku bakalan nunggu buat ketemu kakak lagi, di stasiun.”
***
