Work Text:
Purnama ialah kamu
Cinta semesta yang dianugerahkan kepada bumi
Melengkapi dalam takdir mengarungi ruang
Bersama waktu….
…..
“Namjoon-ah!”
“Ya, Hyeong?”
“Lihat! Lihat! Ayo cepat!”
Tanganku digenggamnya erat dan tubuhku terseret mengikuti langkahnya.
“Hyeong, pelan-pelan!”
Dia tak mau mendengarkanku. Kami menuju ke atap apartemen. Dingin angin malam yang mengigit seketika menerpa begitu pintu—yang menuju ke atap—dibuka. Seokjin-hyeong kembali menyeretku hingga ke tengah-tengah, lalu melepaskan genggaman untuk membentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
“Purnamanya cantik!!” Lalu dia mengoceh banyak soal keindahan sang rembulan. Aku suka.
“Namjoon-ah? Hei, kamu tidak mendengarkanku?!" serunya dengan nada jengkel.
Aku terkekeh. “Maaf, Hyeong. Aku hanya terlalu terpesona.”
“Hah? Ya jelaslah, ‘kan sudah kubilang bulannya cantik sekali malam ini karena sedang purnama!”
Aku kembali terkekeh. “Bukan. Bulannya memang cantik, tapi Hyeong jauh lebih mempesona.”
Lalu Seokjin-hyeong memukulku dengan telinga yang memerah sambil mengomeliku.
…..
Kamulah senja
Hangat mentari yang tersimpan di cakrawala
Biaskan kemilaumu dalam berkas merah, nila dan jingga
Manjakan mata dan tentramkan jiwa
…..
Sore itu, sepulang dari kampus, Seokjin-hyeong mengajakku ke tepi Sungai Han. Kami menyewa sepeda dan berkeliling hingga puas. Kami berhenti di sejenak. Aku menawarinya es kopi, dia setuju. Lalu kami membiarkan sepeda kami rebah di rerumputan sementara kami duduk berselonjor dan menikmati riak-riak air sungai yang keemasan terbias senja.
Matahari telah tergelincir ke ufuk barat bias cahayanya terdispersi dalam spektrum warna yang begitu indah mewarnai langit. Seindah Seokjin-hyeong. Agaknya dia tersadar bahwa aku memperhatikan dirinya sedari tadi. Merah senja seolah menulari leher hingga ke telinganya.
“Jangan memandangku. Pemandangan yang bagus di sebelah sana, Namjoon!” ujarnya dengan bibir yang mengerucut lucu.
Aku tersenyum. “Senjanya memang indah, Hyeong. Tapi keberadaanmu di sinilah yang menghangatkan hatiku.”
Aku diomeli. Lagi. Tak mengapa, aku suka. Itu hanya caranya untuk bersembunyi karena kugodai.
…..
Pelangi ialah kamu
Semburat cahaya yang menjelma warna
Hiasi dunia dengan gemerlap pesona
Mengisi kalbu dengan harmoni syahdu
…..
Wajahnya sesendu langit yang temaram. Resah dan gelisah dengan ekspresi khawatir yang begitu kentara. Sekilas tampak menggemaskan, tapi Seokjin-hyeong memang sedang gundah gulana.
Hujan datang tepat ketika kelas terakhir usai. Dan kami lupa membawa payung. Menantang hujan saat musim dingin adalah kebodohan yang tak akan pernah mau kami ulang. Meskipun jarak dari gedung kampus ke halte depan tak begitu jauh. Jadi di sinilah kami, di kantin kampus, menunggu.
Seokjin-hyeong kembali terlihat gelisah, meski yang di hadapannya sekarang adalah kudapan kesukaan. Pikirannya sedang tidak di sini, tapi biarkan aku menebak kalau sekarang dia tengah memikirkan Merong. Kucing kecil bermata hijau dengan bulu agak panjang berwarna abu kecokelatan. Seokjin-hyeong bercerita kalau dia menemukannya mengeong di bawah siraman hujan di jalan menuju rumahnya. Tak tega, Seokjin-hyeong pun memboyong pulang dan menamainya Merong.
Merong mendadak tidak mau makan, sudah dua hari dan Seokjin-hyeong sangat khawatir dengan keadaan Merong. Meski sudah ditangani oleh dokter tapi kondisi Merong masih belum begitu pulih. Aku memahami perasaannya. Kuraih tangannya dan kugenggam erat. Sepasang bola mata yang tadi tak fokus kini menatapku dalam.
“Jangan khawatir, Hyeong. Merong pasti baik-baik saja.”
Dia mengangguk. “A-Apa sebaiknya kita naik taksi saja pulangnya, Namjoon-ah? Eh tapi taksinya juga bakal menunggu di depan gerbang. Naik bus saja?”
“Aku bisa pesankan taksi untuk kita, Hyeong. Tunggu sebentar lagi ya? Paling tidak sampai reda sedikit ya, Hyeong?”
Seokjin-hyeong mengangguk lemah. Lalu menikmati kudapan yang sudah tersedia tanpa minat. Agaknya semesta memang selalu berpihak padanya. Tak lama hujan pun berhenti. Kami segera pulang, menggunakan taksi tentunya. Kami tiba dalam waktu singkat. Bibi Kim, ibunda Seokjin-hyeong menyambut kami. Seokjin-hyeong menanyakan kabar Merong. Bibi Kim tersenyum lalu member tahukan kami kabar baik.
Kondisi Merong sudah lebih baik dan mulai mau makan. Sementara Seokjin-hyeong terburu untuk melihat keadaan Merong, Bibi Kim memintaku untuk tinggal dan makan malam bersama mereka. Aku hendak menolak, tapi Bibi Kim sudah lebih dulu menelepon keluargaku untuk memintakan izin untukku. Melihat senyumnya yang sumringah membuatku yakin, ibuku pasti sudah setuju.
Bibi Kim mengantarku untuk menemui Seokjin-hyeong dan Merong. Di salah satu sudut dapur Seokjin-hyeong berlutut. Sementara Bibi Kim kembali sibuk dengan peralatan dapur untuk menyiapkan makan malam, aku menemui Seokjin-hyeong.
Mendung di wajahnya berganti dengan senyum lebar secerah mentari yang muncul dari balik awan hitam. Menerbitkan secercah raut bahagia bagai pelangi yang melengkung di cakrawala. Lalu Seokjin-hyeong tampak tersadar saat melihatku membalas senyumnya. Ah aku mengerti, mungkin dia merasa bersalah karena sedikit mengabaikanku.
“Maaf, Namjoon-ah.”
Aku bergeleng. “Tidak apa, Hyeong. Merong sedang membutuhkan perhatian Seokjin-hyeong saat ini.”
“Tapi—”
Telunjukku mengarah ke luar jendela. “Lihat! Pelanginya muncul, Hyeong! Ayo kita buat permohonan supaya Merong cepat pulih lagi!”
Seokjin-hyeong serta merta memelukku, kepalanya terasa merangsek pada ceruk leherku dan sebelah lengannya melingkari punggungku. Dia berbisik lirih. “Terima kasih, Namjoon-ah.”
…..
Kamulah cinta
Sejuta keindahan dunia
Berkah terindah, harta semesta
Kamulah cinta
Permata mulia yang akan selalu kujaga
Hingga nanti saatnya tiba,
Kita menuju keabadian bersama…..
…..
Pemiliki sepasang netra cantik itu terlelap. Dalam pelukanku. Deru napasnya menggelitik, buatku kembangkan senyum. Aku patut menaikkan syukurku sebab semesta telah memberikanku izin untuk menjadi bahagianya. Cinta kami bersatu dalam ikatan suci nan syahdu. Aku miliknya, dia milikku.
“Namjoonie?” suara seraknya menyapa gendang telingaku.
Kucium pucuk kepalanya. “Ya?”
“Belum tidur?”
“Masih belum puas memandangi wajah tampan Seokjin-hyeong.”
Cubitan kecil bersarang di lengan atasku. Seokjin-hyeong menyembunyikan wajahnya di dadaku, telinganya memerah lagi. Aku mengeratkan pelukanku, lalu menghujani wajahnya dengan kecupan sayang. Lengannya yang melingkari pinggangku dieratkannya.
“Sayang Namjoonie.”
“Sayang Seokjin-hyeong juga.”
…..
End
…..
