Chapter Text
Awal September mungkin bukan menjadi tanggal yang menyenangkan bagi sang Pembalsem.
Hal pertama yang membangunkannya ketika kabut masih menyelimuti pagi, gemercik sisa embun yang menetes mengendap di jendela ruangannya yang tertutupi— adalah ketukan pelan dari balik pintu yang bahkan tak mampu membuatnya berpaling kepala sama sekali. Laki-laki itu tak mengingat hal apapun yang terjadi, apa yang dilakukannya di tempat tidur ini, di mana keberadaannya sekarang ini : pula apa yang sebenarnya membuat dia duduk bersandar setelah remang cahaya mentari memaksakannya untuk terjaga dan tidak ingin terpejam lagi. Pun dengan nuansa sekitar yang terasa asing, ruang kedap udara nan gelap itu mendentingkan jam dinding penunjuk angka pukul tujuh pagi— Aesop menyentuh tengkuknya. Ada sesuatu yang tertutupi kejelasannya. Perban dan kemungkinan ruam itu menjadi alasan mengapa dia berada di sana.
“Ah—”
Ketukan beralih menjadi derit pintu yang terdengar mencoba pelan-pelan terbuka; Aesop memutar lehernya. Sama terkejutnya dengan Aesop, seorang pria berjas putih yang baru masuk itu tampak segan menetralkan dirinya dengan memasang senyum tipis sembari entah-dia-membawa apa ke hadapannya. Semangkuk sarapan masih disediakan hangat, dibarengi sepucuk surat, tetapi baunya pahit obat : Aesop meyakini indera penciumannya masih berfungsi baik dan itu adalah aroma yang dapat dibauinya dari laki-laki yang kini memilih duduk di bangku yang tersedia itu sendiri. Joseph Desaulnier. Seorang dokter spesialis. Kata yang tertera di atas tanda pengenal.
“Selamat pagi, Tuan Carl. Maaf karena saya masuk tanpa izin karena sebenarnya pun saya sudah mengetuk pintu beberapa kali. Saya pikir Anda masih—”
“Apa yang terjadi pada saya, Dokter?”
Aesop segera bertanya tanpa menunggu Joseph melakukan penjabaan terhadap keadaannya, memotong sapaan Joseph yang masih berusaha untuk bersikap tenang atas dasar keprofesionalitasannya. Surat yang digenggam minta dibukakan, tanpa isyarat pun Aesop segera melakukan. Meski segala sesuatunya itu masih membuat kepalanya berdenyut lagi pandangannya berputar : satu kali sempat Aesop menarik napas dalam karena tak sanggup membaca kendati matanya pun tiba-tiba terasa berkunang.
“Tuan Carl,”
Sadar Aesop mulai lepas dari kesadarannya; kendali psikisnya atas kekhawatiran yang membuncah pecah dan Aesop mengerti dia takut yang terjadi kemarin itu adalah kenyataannya. Ditambah Aesop yang sayangnya tak mengingat apapun yang terjadi belakangan, hanya; hanya saja rasa sakit di tengkuknya itu yang menjadi bekas dalam ingatan pudar— saat napasnya mendadak terburu : sesuatu membuka tabir ingatannya dan pengalaman malam itu seharusnya menjadi sesuatu yang tak bisa dia semudah itu lupakan.
“Saya ingin Anda mendengar ini baik-baik. Namun pertama-tama, tenangkan dulu diri Anda,” Joseph menggenggam kedua tangannya lamat, berupaya agar Aesop tenang, tapi laki-laki itu tak bisa menghilangkan rasa cemas di hatinya.
( Mereka sudah— )
“Anda—”
Jangan katakan.
“… — hamil.”
Surat resmi itu bisa dibilang datang jauh dari luar dugaan, apalagi permintaan yang tertera mempersilakan Aesop buat segera berbenah; rumah sakit yang sejak tempo lama itu dikunjungi untuk diagnosa terakhir ayahanda sebelum kematian. Mayat diantarkan dari sana, Aesop yang melakukan pelayatan terakhir selayaknya pekerjaannya yang biasa. Kemudian rutinitas Aesop adalah melakukan pemeriksaan berkala terhadap keadaannya— sebab terlahir sebagai seorang Omega tentu menjadi alasan Aesop membutuhkan orang yang dapat menanganinya. Sesungguhnya sampai kemarin tadi segalanya dapat teratur, jadwal di mana dia harus meminum obatnya diawasi dengan benar, dan—
Pertemuan pertamanya dengan Joseph, seorang dokter yang kebetulan perdana menangani dan bertanggung jawab atas keadaannya. Tapi hormon dan perbedaan status itu memang tidak dapat banyak membantu : kembali lagi yang terlanjur terjadi memang semuanya karena kecerobohan mereka sendiri.
“……”
“……….—”
“— lalu ayahnya …?”
Joseph menatapnya dengan pandangan mengiba. Antara dia merasa kasihan dengan keadaan yang menimpa Aesop, pun dengan menghardik dirinya setelah menjadi pihak terkait yang sesungguhnya paling bersalah dan mestinya bertanggung jawab di sini. Aesop kentara tak menunjukkan ekspresi, hasil pemeriksaan dalam bentuk kertas itu diremat tanpa dilihatnya kembali. Bukti diperkuat dengan hasil test pack positif yang Aesop pun tidak tahu kapan dia sudah menggunakannya. Semua itu disingkirkan dari atas pangkuan, enggan menggenggam apalagi menghadapi lebih jauh soal kenyataan. Sekarang setelah semua pengakuan mengejutkan itu posisinya menjadi runyam : untuk seorang Omega yang awalnya menjalani kehidupannya baik-baik saja, ini bagaikan kejatuhan bertubi-tubi tangga. Dia tidak menangis, hanya saja; dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya mulai detik ini juga.
“Apa yang terjadi … antara kita malam itu, Dokter?”
Joseph tak berani berbicara banyak, dia telah bertanya hal yang sama dua kali. Tanpa mengutarakan isi pikiran pun sudah jelas jawabannya dan tidak pula perlu Joseph jabarkan apa-apa lagi. “Bisakah … setidaknya; A-Anda bertanggung jawab, Tuan Desaulnier?”
Terlahir menjadi Omega saja sudah berupa dosa dan kesalahan. Aesop dengan jelas mengingat ketidaksengajaan itu— memorinya menari-nari di sela tuntutannya buat tetap bersikap denial, masih berharap yang terjadi cuma sisa-sisa dari serpihan mimpi buruknya belaka. Yang terjadi bukan karena kehendak Aesop apalagi orang di hadapannya, tetapi pun sebagai manusia biasa dengan status Alfa dan Omega elakan itu tak menjadi alasan menghentikan hormon yang memicu perkara. Jawabannya jelas : Joseph yang memperkosanya. Heat yang tak disangka dan diminta untuk datang meski Aesop sudah berusaha menahan dengan bergantung pada pil-pilnya.
“Saya akan memikirkannya. Walaupun saya tidak bisa menjawab hal itu sekarang tapi— saya punya suatu kesepakatan yang lebih baik untuk kita berdua,”
Aesop tidak ingin mendengar apapun lagi : sudah pasti tak bercela persis penyelesaian apa yang mereka sama-sama pikirkan, dan dasar perlakuan itu bukan karena mereka saling mencintai dari awal. Suaranya menyangkut di pangkal kerongkongan; apapun yang diucapkan, tidak akan ada lagi kata-kata pembenaran.
( Napasnya memberat. Jalan keluar itu tidak didapat. Ada sesuatu yang tak dapat terkatakan dari mulutnya, setumpuk beban yang tidak pernah diharapkan datang menjadi alamat : kesiapan mental maupun hatinya. ) []
