Actions

Work Header

More Than You Know

Summary:

seorang penulis ternama yang menyisakan sebagian waktu kesibukan buat menolongnya : eli clark mengenal laki-laki itu ketika dia yang telah terlalu lama berkecimpung dalam dunia sastra mendapatkan kesempatan melakukan wawancara bersama orang yang diidamkan demi memenuhi penugasan tesisnya. tersebutlah namanya hastur : seseorang yang sama memicu mimpi lain kala eli tanpa sengaja menyelami kedua netranya. ada sesuatu yang terlupakan dan memiliki sangkut paut pula hastur di dalamnya, atas nama tuhan serta dia; garis takdir memang sengaja dibentuk demi sebuah pertemuan di masa depan mereka. / “Aku akan terlahir kembali menjadi setara.”

HasEli, Hastur x Eli Clark, the Feaster & the Seer
setting : Reincarnation!AU, #Lily

Chapter 1: How I Pray

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

“Maaf karena telah bersikap egois. Jika memang diizinkan, saya memiliki sebuah permintaan.”

Tautan jemari di antara, perantara yang menghubungkan ruas-ruas tangan teguh bertalian dan laki-laki yang gemetaran ini : ada asin laut yang menyertai, turun membasuh kedua belah mata kaki, mengecap sampai akhir dasar nadi yang tak lagi sudah memiliki arti. “Bisakah Anda menunggu saya; meski mungkin nanti kita tak bisa lagi mengingat nama dan masa lalu kita?”

“Eli ...”

“Kematian ini menyakitkan. Tetapi kalau dengan begini lingkaran waktu dapat berhenti, inilah yang harus saya korbankan demi kebahagiaan yang ingin saya lihat dari orang lain.”

Garis senyum melintang; khidmat itu pengabaian atas tetes merah yang pula merembes melalui celah luka-luka di perutnya. Lelaki tersebut siap menanggalkan semua duka, demi kebaikan yang dicinta : dan Tuhan menyukai cara penebusannya yang tak memiliki syarat dan kendala.

“Aku akan terlahir kembali menjadi setara.”

“Saya—”

Trrrttt! Trrrrtt!

Eli Clark terbangun dengan degup jantung yang berdetak terlampau kencang, terlonjak mengangkat tubuh tiba-tiba atas tremor yang memberatkan : serta garis jam pendek delapan pagi yang terlewat dari batas pengingat yang biasa dipasang.

Mimpi itu …

Terima kasih kepada dering ponsel yang menamparkannya pada sebuah kenyataan : Eli terlambat bangun di minggu pagi yang seharusnya menjadi waktu senggang menikmati diri dalam rutinitas pribadi. Kalau bukan karena suara ponsel yang tak berhenti meraung-raung ini,  Eli bisa jadi akan bersikukuh menikmati rekaman tidur anehnya lagi— kepalanya berdenyut. Panggilan itu muasalya tak ingin diraih, tetapi nuraninya mengatakan harus atau sesuatu yang buruk akan menimpa nanti. Hal yang juga menjadi alasan mengapa dia paksakan membuka mata dan berkatnya dia tidak harus bersusah payah menarik diri dari beban batin yang menikam ulu hati— walau, nyaring itu nyatanya tetap membuat rasa sakit di kepalanya makin menjadi-jadi.

Eli meraih ponselnya sembari sempat dulu dia melirik pada nama yang tertera. Fiona Gilman. Kalimat paling mentereng itu adalah tanda bahwa firasatnya tidak salah untuk melawan kehendak tubuhnya : Eli mendapatkan panggilan dari seorang sekretaris narasumber tesisnya. Tanpa berkeinginan dulu membasuh muka, Eli yang panik tentu terburu-buru mengangkatnya.

“Ha- halo, Nona Gilman?”

“Halo, Tuan Clark. Anda tahu sudah berapa kali saya mencoba menelfon Anda?”

“Ma- maafkan saya, sebenarnya …”

Helaan napas terdengar. Eli menegup ludah, tak berani menyatakan alasan. “Baiklah, tidak apa-apa. Yang penting, Anda ingat pengajuan meeting yang Anda sampaikan tempo hari?”

“Soal wawancara bersama Tuan Hastur?”

Eli meyakini kalau Fiona berada di sebelahnya, mungkin dia tengah menganggukkan kepala sekarang. “Betul. Tuan Hastur menerima pengajuan Anda. Jadi sudah saya atur jadwal bertemu pada hari Sabtu jam sepuluh pagi. Dimohon untuk tidak terlambat, alamat akan saya kirimkan melalui pesan chat nanti.”

Tidak ada tambahan. Panggilan ditutup.

Sejurus kemudian, Eli merayakannya dengan berteriak kegirangan. Rasa kekhawatiran akibat ketidaksopanannya dalam menjawab panggilan tadi seolah meluap begitu saja. Dengan cekatan, Eli mengambil memo kecil dari atas nakas untuk mencatat hal-hal penting seperti alamat yang disebut sang sekretaris : dia tidak pernah menyangka pengajuannya dua hari lalu akan diterima secepat ini.

Tesis akhir-akhir ini menjadi beban pikir tersendiri yang mau tak mau harus dia hadapi. Penghujung semester menuju kelulusan pascasarjana, Eli harus mengambil kesempatan itu sebagai agenda yang harus diselesaikannya dengan target pengerjaan tak lebih dari setengah tahun. Menyelesaikan studi lebih cepat kedengaran sangat bagus, banyak juniornya yang akan menyayangkan jika si pintar (julukannya) terlambat mengalami kelulusan dan mereka mendahului. Atas beberapa diskusi bersama penjaga gereja, Eli memutuskan untuk menyelesaikan tesisnya dengan mengambil tema yang tak jauh dari analisis penggunaan bahasa pada karya sastra.

Akibat dari seluruh rencana-rencana kelulusan itu, untuk itulah Eli mencari seorang sastrawan apik yang selama ini menjadi perbincangan hangat di antara orang-orang dunia kepenulisan. Sebagai salah seorang penikmat sastra dari karya orang yang bersangkutan, bisa dibilang : Eli beruntung sebab berhasil mendapatkan kesempatan emas dengan melakukan pengajuan wawancara pada sang narasumber bersangkutan. Kendati, termasuk hal sulit mengajaknya untuk melakukan jumpa temu. Dan berkat banyaknya usaha, Eli yang dulunya bersusah payah akhirnya mendapatkan koneksi dengan sang sekretaris penulis yang tersebut : karena kebetulan sekali, sekretarisnya yang menjabat itu adalah salah satu alumni dari jurusan dan uiversitas yang sama dengan Eli. Kontak sudah didapat, detik itu Eli tinggal menyusun proposal dan mempersiapkan perencanaan agenda yang tepat.

Syukurlah, Tuhan melancarkan penugasannya, meringankan salah satu beban pikir yang selama ini menghantui otak dan pikirannya. (Tidak ada alasan baginya untuk tidak mencintai Tuhan, bukan?) Walaupun sejujurnya, Eli tak berniat untuk lulus cepat ... namun pengelola panti memintanya untuk segera menjadi mandiri. Dia harus lepas sepenuhnya dari panti, berhenti dari pekerjaan sampingan yang dilakukannya dari menjadi mentor di sana. Padahal dari uang itu, setidaknya dia sanggup menghidupi dirinya sendiri sampai saat ini.

“Aku akan menyampaikan terima kasih pada Tuan Hastur nanti. Apa yang sebaiknya kusiapkan?”

( “Tunggu aku.” )

Ah … —”

……..

Tetapi kendala tak penting yang tak bisa disebutkan menjadi alasannya adalah : karena entah bagaimana caranya, akhir-akhir ini dia selalu mengalami mimpi buruk yang sama. Sebutannya begitu karena dalam khayalan itu, dia melihat kematiannya sendiri dalam dunia yang entah seperti apa. Rasa perihnya lantas terbayang; darah itu menjadi tanda bahwa dia mati dengan cara tidak menyenangkan. Ada seseorang. Eli tak tahu harus menyebutkannya dengan cara bagaimana. Bukan seseorang; tetapi—

( “Eli.” )

Setiap dia bangun dari mimpi itu, hal yang pertama terjadi tanpa sedikit pun andil dari kehendaknya adalah : dia menangis. Rekaman samar yang selalu muncul tiba-tiba, mengalir tanpa sebab : perasaan yang sayangnya juga menekan-nekan pilu pada dasar hatinya. Tetapi dia tidak tahu apa.  Kehilangan dan bersalah. Seakan-akan, dulu dia pernah merelakan dirinya untuk meninggalkan sesuatu yang lebih berharga dari nyawanya.

“… nah, nanti akan kupikirkan.”

Eli memilih menghapus bayang-bayang itu dengan membasuh wajah dan membenah dirinya yang masih acak-acakan. Seseorang telah menantinya di gereja : barangkali dengan berdoa, Eli dapat mengharapkan lagi kelancaran hidup dan berkah yang lainnya. Kalau memang keberadaan sesuatu itu nyata dan bukan sebatas pada angan; Eli tentunya lebih suka dengan akhir yang menyenangkan. []

Notes:

Identity V © NetEase

.

Day03 : How I Pray
[ Hastur & Eli Clark ]

Reincarnation!AU;
3rd February 2021, 06:38 PM