Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Language:
English
Stats:
Published:
2021-02-04
Words:
1,576
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
32
Bookmarks:
1
Hits:
535

Kau adalah Anugrah Terindah.

Summary:

Aether dengan qibao dan Xiao dengan kecanggungannya.

Notes:

Akhirnya bisa post ini.
Cerita ringan Xiao dan Aether~
_______________________________

Work Text:

Baju qibao putih bermotif bunga Glaze Lily dengan lis berwarna emas. Potongan rok di atas pinggangnya yang begitu mungil nan ramping, serta potongan blus tanpa lengan yang manis. Leher kerahnya yang sedikit tinggi memberikan kesan jenjang dan tertutup, berpadu dengan tasel putih kebiruan yang manis pada lehernya.

 

Kibasan rok yang melambai kala Aether berlari menjauh dari Kota Liyue. Ia pun berhenti di atas jembatan yang menghubungkan kota ini. 

 

Qibao yang terbuka pada bagian punggung dan memberikan kesan mahal nan indah ini membalut tubuh Aether dengan manisnya. Tubuhnya yang mungil, riasan sederhana dengan warna merah di sekitar matanya, dan rambut kepang yang dirapikan membuat Aether terlihat semakin manis. Tidak lupa, sepatu hak setinggi tujuh sentimeter yang senada dengan pakaiannya.

 

Malam ini, purnama terlihat begitu besar dan berwarna perak yang indah. Udara pun terasa lebih dingin dan sejuk daripada biasanya karena telah memasuki musim gugur. Malam semakin larut, hampir semua orang di Liyue telah kembali ke dalam rumah mereka.  

 

Meski terlihat begitu jelita dalam balutan qibao ini, meski bulan purnama ini begitu indah, air mata Aether membanjiri pipinya. Ia berdiri di sana sendirian, di atas jembatan yang menghubungkan Kota Pelabuhan Liyue dengan dunia luar, dan menatap ke arah laut di kejauhan yang memantulkan indahnya bulan purnama. 

 

Ingin rasanya Aether terjun ke dalam laut ini. Memulihkan isi otaknya yang kacau dan menghapus air mata yang telah mengalir ini. 

 

"Mungkin ini ide yang bagus," gumam Aether sambil berjalan ke pinggir jembatan. Tangannya menggenggam susuran jembatan.

 

Ah . Pantulan di air memperlihatkan wajah dan riasannya yang telah rusak. Semuanya berantakan. Aether mempererat genggamannya. Ingin rasanya segera menghapus semua riasan ini, melepaskan pakaian ini, dan membebaskan kaki dari sepatu ini. 

 

Satu kakinya sudah menaiki susuran jembatan ini. Tinggal sedikit lagi. Satu lompatan lagi. 

 

Segera, seseorang menggapai pinggang Aether dan melesat dengan cepat, membawanya terbang ke udara. 

 

"Xiao?"

 

Gagal sudah rencana Aether untuk terjun ke dalam laut. Meski Aether memohon agar Xiao berhenti dan melepaskannya, Xiao tidak mendengarkan permohonannya sekali pun. Ia meloncat sambil membawa Aether di pundaknya, mendaki ke Gunung Tianheng di belakang Kota Liyue.

 

Xiao menurunkan Aether, tetapi kaki Aether seperti telah kehilangan tenaga, ia pun terjatuh lunglai. Sebelum sempat terjatuh, Xiao segera menangkap pinggang Aether, menariknya ke dalam dekapannya. Tubuh yang lunglai pun segera mencari sandaran pada dada Xiao dengan sendirinya. 

 

Meski lunglai, tubuh itu tidak  dapat menghentikan mulut Xiao yang tajam.

 

"Kau sudah gila?" Xiao bertanya dengan nada yang tajam dan sinis. 

 

Aether hanya terdiam. Mungkin ia butuh istirahat sejenak di dalam dekapan Xiao yang terasa hangat dan penuh candu. Ia menyandarkan dahinya di antara leher dan pundak Xiao. Memang, kelakuannya barusan sedikit di luar nalar dan gegabah. Akan tetapi, ia butuh ketenangan. 

 

"Boleh aku bersandar seperti ini sebentar?" tanya Aether. Ia tidak berani menatap Xiao dan hanya dapat menggenggam erat baju pada dada Xiao. Xiao hanya diam dan membelai pelan kepala Aether. 

 

Aether tersenyum kecil di dalam dekapannya. Meski terlihat dingin, sebenarnya Xiao perhatian. Ingin rasanya memonopoli dirinya seperti ini. Sayangnya, Xiao tidak terlalu peduli dengan yang namanya cinta dan romansa.

 

"Uuh." Aether terisak sedikit. Xiao terkejut dan segera melepas Aether dari dekapannya. Ia menggenggam kedua pundak Aether dan menatap dirinya yang berbalut jubah qibao

 

"Siapa yang membuatmu menangis?!" Xiao tercengang. Wajah dan suaranya menunjukkan sedikit emosi. 

 

"Eh? Eh? Ha. Ha. Ha..." Aether berusaha tertawa. Dengan tergesa-gesa, ia menyeka air mata yang jatuh. Meski ia masih ingin menangis, ia tidak ingin memperlihatkan dirinya yang seperti ini kepada Xiao. Menyedihkan.

 

"Aether." Xiao memanggil namanya dengan tegas dan singkat. Ia memandang Aether yang berusaha menenangkan dirinya. 

 

"Ma-- Maaf. Sebentar." Aether semakin terburu-buru menyeka mukanya. Xiao pasti tidak suka dengan ini semua. Wajahnya yang menangis ini pasti terlihat jelek. 

 

Dengan lembut, Xiao memegang kedua tangan Aether untuk menghentikannya menyeka mata terlalu keras. Aether menatap Xiao dengan perlahan. Tangan kanan Xiao menyeka pipi kiri Aether dengan lembut, jelas terlihat bahwa Xiao tidak senang hingga mengernyitkan dahi. 

 

"Maaf..." Aether berkata lagi sambil tersenyum c anggung, kemudian membuang pandangan ke samping. Ia tidak dapat bertahan karena wajah Xiao yang menatapnya begitu dekat dan sungguh-sungguh.  

 

"Kenapa?" gumam Xiao sehingga Aether menatapnya lagi. "Kenapa kau minta maaf?" 

 

Aether memegang tangan Xiao di pipinya. "Aku memperlihatkan pemandangan yang jelek." kata Aether sambil menundukkan kepala. Baju ini, riasan ini, Xiao pasti berpikir bahwa Aether sedang berpakaian seperti badut. 

 

"Indah." Xiao membalas. "Kamu terlihat manis." bisik Xiao pelan sambil menyandarkan dahinya ke dahi Aether. 

 

"Xi--Xiao?" Aether perlahan menatap Xiao. Ada sedikit rasa takut dan khawatir dalam hatinya saat menatap Xiao. Mungkin saja ia salah dengar, tetapi wajahnya terlanjur merona merah. Ia pun meremas rok qibao-nya. 

 

"Kenapa kamu menangis?" tanya Xiao. 

 

Aether hanya tersenyum dan memalingkan mata dari Xiao. Ia tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana menjelaskannya. 

 

“Aku… kalah taruhan.” Aether menjawab pertanyaan itu dengan jawaban paling klise. Ia tidak seratus persen bohong, setidaknya di bagian taruhannya. Semoga saja Xiao memercayainya.

 

“Kalah taruhan untuk menggunakan pakaian wanita?” Xiao memperjelas pertanyaannya lagi. 

 

“Bukan, tetapi... “ Aether berhenti berkata dan menggenggam baju qibao di bagian pahanya dengan lebih erat. Ia tidak tahu harus dari mana menjelaskan semua ini dan apakah penting untuk dijelaskan kepada Xiao. 

Aether benar-benar tidak tahu harus berkata apa, bahkan menatap mata Xiao pun terasa begitu sulit. Badannya bergetar ringan. Rasa malukah ini? Ataukah kedinginan? 

Xiao segera mengangkat Aether seperti seorang putri. 

“Xiao!” Aether terkejut dan segera melingkarkan tangannya ke leher Xiao. Dengan gesit, Xiao melompat melewati gunung dan lembah di Liyue menuju ke arah Wangshuu Inn.

Pemandangan di Liyue benar-benar indah, sinar purnama menerangi tiap langkah dan pemandangan yang mereka lewati. Baru kali ini Aether bisa menikmatinya dengan santai. Dirinya terlalu sibuk dengan quest di Teyvat hingga tidak bisa melihat betapa indahnya pemandangan di sini.



Ia menatap ke arah Xiao. Tangan kanan Xiao menyangga punggung Aether dan tangan kirinya menyangga kaki-kakinya. Mungkin pemandangan ini terasa indah karena ia bersama Xiao. Tak terlihat sedikit pun senyum pada wajah Xiao yang serius dan kaku.

  

Deg! 

 

Eh? Aether menatap dadanya sendiri. Bunyi itu terdengar dari sana. Saat Aether menatap Xiao lagi, ia bisa merasakan wajahnya mendadak memanas. 

 

Di atas balkon Wangshu Inn, Xiao menurunkan Aether. 

 

“Te-terima kasih…” kata Aether tanpa bisa menatap Xiao. Kali ini, untuk alasan yang berbeda dari yang pertama. 

 

“Aether.” Xiao mendekat. Aether melangkah mundur. Ketika Xiao melangkah maju lagi, Aether pun mundur selangkah lagi. Kali ini, Aether tidak bisa melarikan diri, sebuah susuran kayu menghalanginya. Xiao mendekat dan Aether hanya dapat semakin menundukkan kepala. 

 

“Jangan mendekat!” Aether menjerit sambil mendorong dada Xiao. Ia bisa melihat kaki Xiao yang hanya selangkah darinya. Jika Xiao mendekat, Aether tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padanya. Degub jantungnya sudah tidak karuan seperti ini. 

 

Xiao menggenggam tangan Aether yang diletakkan pada dadanya. Ia  menariknya untuk ditempelkan ke pipi kemudian meninggalkan sebuah kecupan di telapak tangan Aether. Aether terkejut, ia menatap Xiao yang mencium telapak tangan kirinya dengan lembut.

 

Tangan kanan Aether semakin menggenggam erat qibao-nya. Seandainya ini diteruskan, Aether tidak tahu harus bagaimana menenangkan jantungnya yang berdetak dengan semakin kencang. 

 

Xiao meletakkan tangan kiri Aether di pipi kanannya. “Aether.” 

 

Wajah Aether semakin memanas dan detak jantungnya semakin tidak karuan. Jangan-jangan, dia sedang sakit keras. Baju ini terlalu terbuka, mungkin ini masuk angin. Suara Xiao yang memanggil namanya membuat semua ini semakin buruk. 

 

Xiao melangkah maju. Dadanya hanya tinggal satu senti saja dari dada Aether. Xiao lebih tinggi sedikit dari Aether sehingga Aether hanya bisa mendongak dan menatap Xiao dengan wajah merahnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. 

 

Tangan kanannya yang menggenggam qibao ditarik oleh tangan kiri Xiao. Meski Aether berusaha untuk melawan, Xiao membuat jemari Aether mengikuti setiap gerakannya dengan begitu mudah. Seperti sebuah dansa yang gemulai, genggaman itu perlahan menjadi sebuah kaitan antara jari Aether dan jari Xiao. 

 

“Apakah kamu sakit? Wajahmu merah sekali.” Xiao berbisik dan menempelkan dahinya ke dahi Aether.

 

Kali ini, benar-benar dekat, wajah Xiao tepat di depan matanya. Tanpa mengerti apa yang sedang terjadi karena hal itu berlangsung dengan sangat cepat, Aether merasakan kehangatan dan tekanan yang lembut di bibirnya. 

 

“Maaf.” Xiao berbisik pelan. Aether hampir tidak dapat mendengarnya, tetapi jeda ini membuatnya sadar apa yang dilakukan Xiao kepadanya. Sebuah ciuman lembut. 

 

Xiao segera melepaskan tangannya dari Aether dan membalikkan tubuh dengan cepat. Ia seperti ingin melarikan diri dari tempat ini, tetapi Aether tidak ingin Xiao pergi. 

 

“Tunggu!” Aether segera memeluk punggung Xiao seakan berkata ‘Jangan pergi, tetaplah di sini.’ 

 

Xiao terkejut dengan perlakuan Aether, terlebih lagi Aether. Kenapa ia tidak ingin Xiao pergi dari sini? Kenapa tubuhnya bergerak seperti ini? Tubuhnya seperti tersihir, ia ingin bersama Xiao lebih lama. 

 

“Aether.” 

 

“Kumohon, jangan tinggalkan aku.” Aether memohon dengan suara pelan. Ia menyandarkan dahinya ke punggung Xiao. 

 

Xiao membalikkan badannya. Ia segera mengangkat tubuh Aether ke udara dan membopongnya. 

 

“Xiao!”

 

“Kau selalu saja menundukkan kepalamu.” kata Xiao dengan datar. Aether meletakkan tangannya di pundak Xiao untuk mencari keseimbangan. 

 

“Aku hanya…” Aether tidak melanjutkan alasannya. Memang benar apa kata Xiao, tetapi ini karena Aether tidak tahu harus bagaimana melihat Xiao. 

 

Aether meletakkan kedua tangannya di pipi Xiao. Percuma saja berkata dengan Xiao, Xiao bukan tipikal orang yang banyak berbicara, tetapi lebih orang yang beraksi. Aether pun mencium bibir Xiao. 

 

“Karena aku tidak tahu harus menunjukkan wajah yang seperti apa kepadamu, Xiao.” 

 

Mata Xiao melebar. 

 

Indah. 

 

Senyuman Aether berpadu dengan pemandangan sungai dan bulan purnama keperakan yang besar di belakang. 

 

“Aether.” Xiao memanggil lagi dan kali ini sungguh membuat Aether semakin tidak mengerti jantungnya ini. Besok, ia harus bertemu dengan Baizhu karena sepertinya ia telah jatuh sakit. Xiao hanya tersenyum kecil seperti ini, tetapi sudah sanggup membuat jantung Aether berdetak semakin tidak karuan. “Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu.”