Actions

Work Header

Setelah Neraka Berakhir

Summary:

Kehidupan Kyoujurou dengan Tanjirou setelah iblis musnah.

Notes:

Seperti pada part sebelumnya, ini sedikit berbeda dari manga. Part dua ini adalah kelanjutan dari Part satu.

Kimetsu no Yaiba © Koyoharu Gotouge

Chapter 1: Wedding

Summary:

Kamado Tanjirou bersyukur jika Kyoujurou selamat dari pertarungan terakhir, bersama Tomioka Giyuu dan Shinazugawa Sanemi yang turut andil dalam perlawanan mereka melawan Kibutsuji Muzan. Namun, yang benar saja Kyoujurou mengajaknya untuk menikah?

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Tanjirou koma selama satu bulan setelah pertarungannya dengan Muzan, bunga-bunga sakura mulai bermekaran dan memenuhi lingkungan kediaman kupu-kupu. Hal yang pertama ditanyakan adalah apakah Muzan benar-benar musnah atau tidak. Nezuko, yang menunggu kakaknya siuman, mengatakan jika neraka benar-benar berakhir. Iblis telah musnah, kecuali Yushiro dan kucing peninggalan Tamayo, Chachamaru.

Sudah tiga bulan sejak saat itu. Tanjirou menanyakan ke mana perginya Kyoujurou, apakah sang pilar api masih belum bangun dari tidurnya. Nezuko mengatakan jika Kyoujurou, Sanemi, dan Giyuu sedang berada di tempat Oyakata-sama. Menghela napas, syukurlah jika kekasihnya itu telah bangun dari tidur panjangnya.

"Tanjirou!"

"Nezuko-chan!"

Tengen dan istri-istrinya datang menjenguk. Besok Tanjirou diperbolehkan untuk pulang, karena kediaman kupu-kupu ini sudah bukan lagi tempat untuk pemulihan. Lagipula, pemburu iblis akan dibubarkan setelah kematian Muzan. Mungkin, Tanjirou akan berpisah dengan Zenitsu dan Inosuke. 

Suma berteriak dan meminta untuk mampir ke rumah setelah sembuh, yang akhirnya dipukul oleh Makio karena suaranya yang berisik. Mengadu kepada Tengen, berkata jika pria itu tidak melihat Makio memukulnya. 

"Halo! Ayo lah, chichi-ue! Cepatlah!"

"Iya, iya!"

Keluarga Rengoku datang, kecuali sang anak sulung yang masih berada di tempat Oyakata-sama. Kini Shinjurou telah berubah, sikap kasar terhadap anak-anaknya sudah tidak ada lagi. Tengen pergi dengan istri-istrinya untuk bertemu dengan Oyakata-sama, membawa Zenitsu yang merengek karena mengantuk, dan Inosuke yang telah menghilang. Hinatsuru memberikan camilan untuk Tanjirou serta alamat rumah keluarga Uzui, berpesan jika memintanya untuk mampir. 

"Terima kasih, Tanjirou."

"Jangan begitu, Shinjurou-san!"

Tertawa kecil, Shinjurou mengelus rambut Tanjirou seperti anaknya sendiri. Pemuda yang kehilangan mata kanannya itu dapat merasakan sosok ayah, interaksinya dengan Shinjurou membuatnya merindukan sang ayah kandung. Senjurou yang dapat melihat ayahnya kembali seperti dahulu turut senang, Tanjirou telah mengubah Shinjurou. 

"Anak sulungku mungkin akan kemari sebentar lagi." 

Nezuko dapat melihat telinga kakaknya yang memerah. Gadis itu memilih untuk diam perihal hubungan Tanjirou dengan Kyoujurou, ia dapat melihat ketulusan hati sang pilar api kepada kakaknya. Terlebih lagi ketika mengkhawatirkan Tanjirou yang menjadi sosok iblis, Kyoujurou berusaha menyadarkan kekasihnya. 

"Aku dengar jika iblis bulan atas pertama adalah mantan pemburu iblis, leluhur mendiang pilar kabut." 

Suara itu, terdengar dari arah pintu. Pilar api—sekarang sudah menjadi mantan—datang dan duduk di samping Tanjirou. Masih mengenakan haori kebanggaan, dengan penutup mata untuk menyembunyikan mata kirinya yang hancur. Sayangnya, Kyoujurou kehilangan tiga jari tangan kanannya, terpotong ketika melawan iblis bulan atas pertama. Pria itu menyentuh tangan kiri Tanjirou, keriput seperti tidak mempunyai otot.

"Aku bisa menjadi tangan kirimu dan mata kananmu." 

Pipi Tanjirou memerah, mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menghindar. Wangi tubuh Kyoujurou begitu menguar dari jarak satu meter, itu bukan aroma sabun mandi. Shinjurou meledek pemuda Kamado, mengatakan jika Kyoujurou hanya duduk di sampingnya saja dapat membuat pipinya memerah. 

"Shinjirou-san!" rengek Tanjirou.

Kepala keluarga Rengoku itu tahu tentang hubungan anaknya dengan Kamado. Tanjirou ingat, pipinya ditampar oleh Shinjurou setelah mengetahui mereka telah dua kali berhubungan intim. Pria itu memaki-maki Kyoujurou dan mengatakan jika hubungan itu terlarang. Lama kelamaan, Shinjurou melunak melihat Tanjirou yang meminta untuk berpisah, menyebabkan Kyoujurou kehilangan nafsu untuk hidup.

Bahagiakan anak sulungku. Aku masih memiliki Senjurou untuk menjadi penerus keluarga Rengoku, jangan pikirkan hal itu.

Tanjirou tersenyum setelah mengingatnya. Ia bahagia, memiliki teman-teman dan keluarganya yang masih tersisa, Nezuko. Ditambah dengan keluarga Rengoku yang menerimanya seperti keluarga sendiri, ia berpikir jika dirinya tidak sendirian. 

"Ngomong-ngomong tentang iblis bulan pertama, siapa namanya?"

"Kokushibou. Tsugikuni Michikatsu, kakak kembar dari pengguna napas pertama."

"Apa katamu?!" pekik Shinjurou.

Matanya beralih ke Tanjirou, tepatnya ke arah anting-anting yang dikenakannya. Pemuda itu mengatakan, jika itu adalah anting-anting warisan dari keluarganya. 

"Anting-anting itu, milik pengguna napas matahari. Tsugikuni Yoriichi."

 


 

Tanjirou diperbolehkan pulang keesokan harinya. Ia berniat untuk kembali ke rumahnya, setelah dua tahun ditinggalkan. Namun, Shinjurou memintanya untuk menetap di kediaman Rengoku bersama Nezuko. Senjurou akan senang jika rumahnya menjadi ramai karena kedatangan Kamado bersaudara, terlebih lagi Kyoujurou. Tanjirou menolak, mengatakan ia akan tinggal bersama Zenitsu dan Inosuke di gunung. 

"Tidak apa-apa Tanjirou, aku dan Inosuke diminta oleh Oyakata-sama untuk tinggal di rumah kupu-kupu."

"Hah?! Aku akan tinggal bersama Gonpachiro di gunung!"

"Diamlah kau, Inosuke!" teriak Zenitsu sambil memukul kepala Inosuke. 

Pemuda berambut merah itu tersenyum. Ia akan berpisah dengan Zenitsu dan Inosuke, walaupun mereka dapat bertemu di lain waktu, tetapi tetap saja akan jarang. Zenitsu mengusap air matanya karena akan berpisah dengan Nezuko, merengek kencang dan memeluk Tanjirou.

"Zenitsu!"

"Sering-seringlah untuk berkunjung! Akan kupukul jika kalian melupakan kami!"

Pasti. Tanjirou pasti akan sering berkunjung, tidak mungkin ia melupakan teman-temannya yang berjuang dengannya. Kyoujurou datang, ia mengenakan yukata putih dan hakama gelap, seperti Senjurou. Mengantarkan Kamado bersaudara menuju kediaman Rengoku, setelah mengucapkan kata perpisahan kepada Zenitsu dan Inosuke.

"Ayahku pergi belanja bersama Senjurou, kamarmu dengan Nezuko akan kupisahkan. Ini kamarmu, kamar Nezuko ada di sebelah kanan." ucap Kyoujurou sambil menunjukkan di mana kamar Tanjirou dan Nezuko.

Kamar di kediaman Rengoku sedikit jauh dari ruang tengah tempat untuk menerima tamu dan makan. Tanjirou memiliki kamar yang berhadapan langsung dengan pohon sakura jika dibuka pintunya, beserta kolam ikan di bawah pohon. Cukup luas, lebih luas dari kamar kediaman wisteria. 

"Terima kasih banyak Kyoujurou-san!" ucap Nezuko, pergi ke kamarnya untuk beristirahat.

Tanjirou dan Nezuko sebenarnya hanya membawa bungkusan yang diberikan oleh Hinatsuru, serta pedangnya dengan hulu pedangnya sama dengan Kyoujurou. Ia menyimpannya di rak penyimpan pedang yang tergantung di tembok, melihatnya dengan bangga jika akhirnya melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai pemburu iblis.

"Setelah iblis musnah, apa yang kita lakukan?" gumam Tanjirou. 

"Menikah denganmu!"

Jawaban Kyoujurou itu sungguh frontal, disusul gelak tawanya yang menggelegar. Tanjirou menggembungkan pipinya kesal, meninggalkan kekasihnya dan berjalan ke teras depan rumah. Duduk di dahan pohon, sambil menunggu anak dan ayah yang pulang berbelanja. Uh, perutnya sangat lapar. 

 


 

"Enak!"

Nezuko tersentak ketika Kyoujurou berteriak di sampingnya. Sekarang, koki di kediaman Rengoku bertambah dan Senjurou tidak akan kewalahan untuk menyiapkan makanan dengan porsi yang banyak untuk kakaknya. Setiap hari wajib menghidangkan ubi manis khusus untuk Kyoujurou, yang direbus dan dimakan dalam keadaan panas. Tanjirou memakan kare dengan resep Senjurou, mengambil tempura untuk diletakkan di atas piring Kyoujurou.

"Kau juga harus makan yang lain selain ubi manis, Kyoujurou-san."

Pria itu menerima tempura Tanjirou dan melahapnya langsung, setidaknya Kyoujurou tidak hanya memakan ubi manisnya saja. Senjurou menghidangkan sedikit ubi, supaya kakaknya itu dapat memakan menu lain yang dimasaknya. Mata semerah api itu mencari di mana lagi Senjurou menghidangkan ubi, rupanya tidak ia temukan. Mau tidak mau ia harus memakan menu lain seperti salmon dan kare.

"Omong-omong tentang tempura, makanan itu menjadi penyebab rambut keluarga Rengoku menjadi seperti ini."

"Heeehh?! Benarkah?"

Shinjurou tertawa, "Kakekku yang mengatakan itu, leluhur kami terlalu banyak makan tempura hingga keturunannya menjadi seperti ini."

"Seperti Kanroji yang terlalu banyak memakan mochi sakura!"

Nezuko tersenyum sambil mengunyah, beranjak dari tempatnya dan mencuci piring yang menumpuk. Gadis itu membantu Senjurou untuk membersihkan makan siang, kembali ke ruang tengah mencari kakaknya untuk mengepang rambutnya seperti mendiang Kanroji Mitsuri. 

"Nezuko, sepertinya aku harus membelikanmu yukata yang baru.."

"Apa onii-chan memiliki uang?"

"Um, uang yang diberikan oleh Oyakata-sama. Onii-chan akan membelikan pakaian yang bagus untukmu, perhiasan rambut juga perlu untuk gadis, kan?"

Tanjirou tersenyum, mengikat pita merah muda di ujung rambut adiknya supaya tidak lepas. Kini, Nezuko terlihat seperti Mitsuri. Gadis itu beranjak sambil berlari-lari, membiarkan kepangan rambutnya berayun terkena angin. Pemuda itu mengalihkan pandangannya ke belakang setelah mencium aroma Kyoujurou, hidungnya tidak bisa berbohong.

"Mau ikut denganku? Aku akan pergi ke toko pakaian sekarang, Senjurou mengatakan jika ia butuh yukata baru."

"Boleh, kebetulan aku ingin membelikan pakaian untuk Nezuko."

"Kau juga harus membeli pakaian untuk dirimu sendiri, Tanjirou."

Sebenarnya Tanjirou juga membutuhkan pakaian baru, setidaknya ia memiliki pakaian bagus untuk disimpan, siapa tau akan terpakai. Masih tengah hari, Kyoujurou memutuskan untuk berjalan santai karena jaraknya tak jauh.

Toko yang dimaksud adalah toko pakaian dan perhiasan, cukup besar dan tidak terlalu ramai. Kyoujurou memilih lima setel pakaian untuk adiknya dan dua untuk dirinya sendiri, membayarnya tanpa berpikir panjang. Pemilik toko itu berteman baik dengan keluarga Rengoku, dengan senang hati memberikan diskon kepada Kyoujurou karena telah membeli banyak pakaian. 

"Tanjirou, sudah selesai memilih?"

"S-sebentar, Kyoujurou-san!" 

Pemuda itu masih bingung pakaian apa yang cocok untuk Nezuko dan berapa harga pakaian-pakaiannya. Pasti sangat mahal, dilihat dari bahan dan kualitasnya yang bagus mungkin akan menghabiskan setengah uang yang dibawanya. Tidak apa-apa, ini demi Nezuko.

"Pilih pakaian yang kau mau, apa saja!" 

"Eeeh? Mana bisa begitu.." gumam Tanjirou, sambil memilih yukata untuk wanita. 

Ia menyentuh yukata ungu dengan motif bunga merah, teringat dengan pakaian milik Tamayo saat pertama kali bertemu dengannya. Tanjirou mengambil pakaian itu dan berjalan untuk mencari hiasan rambut wanita.

"Kau tidak memilih pakaian untukmu?"

"Tidak, Kyoujurou-san. Aku harus menghemat uangku untuk membeli kebutuhan, bagaimana pun juga aku dan Nezuko menumpang di rumahmu.."

Pria itu menghela napasnya, menjauh dari Tanjirou yang sibuk memilih aksesoris rambut untuk Nezuko. Apapun itu pakaian dan aksesorisnya, adiknya selalu terlihat cantik. Ia memilih jepit bunga dan tusuk konde, menyerahkannya kepada penjual untuk dibayar.

"Aku membeli ini, ini, ini, ini, dan semua ini! Katakan saja berapa total harganya! Oh, aksesoris rambut wanita dan barang yang dibawa oleh pemuda ini!"

"K-Kyoujurou-san! Uangmu akan habis jika kau memborong toko ini!"

"Tenang saja! Gajiku sebagai pilar api bisa membeli toko ini beserta isinya!" 

Tanjirou melihat semua pakaian-pakaian yang dipilihkan oleh kekasihnya, menumpuk hingga sang penjual kewalahan untuk menghitung. Jika gaji seorang pilar dapat didapat sesuka hati, pantas saja Kyoujurou dapat membeli semua pakaian itu dengan mudah. Pria itu mengeluarkan uang dari saku bajunya, menghitungnya sebentar dan menyerahkannya. 

"Ah, iya. Apakah cincin yang kupesan sudah siap?"

"Sudah, Tuan. Sebentar, akan saya ambilkan. Atas nama?"

"Atas nama Rengoku Kyoujurou."

Sang penjual mengambilkan pesanan Kyoujurou, menyerahkannya untuk dicek. Mata api itu berbinar melihat sepasang cincin sederhana, dengan ukiran yang tidak bisa Tanjirou lihat. Diletakkan kembali ke dalam kotak, Kyoujurou tersenyum puas melihat cincin pesanannya.

"Terima kasih telah mampir, Rengoku-san."

"Terima kasih kembali."

Tanjirou ditarik oleh Kyoujurou dan pergi meninggalkan toko. Pria itu menggenggam tangan kanannya, sambil pulang dengan membawa buah tangan. Senjurou menyambut kakaknya, membawakan beberapa barang bawaan dan diletakkan di ruang tengah. 

"Wah, ani-ue! Terima kasih!"

"Umu! Jika ada pakaian yang ukurannya besar bagimu, berarti itu adalah milik Tanjirou!"

"Kyoujurou-san.."

"Tidak apa-apa, ambil saja sebagai hadiah dariku." ucap Kyoujurou, membuat kekasihnya itu menangis bahagia. 

Yukata merah dan hakama hitam dipilihkan oleh Kyoujurou, memintanya untuk menyimpannya dengan baik. Shinjurou datang dari tempat Oyakata-sama, yang ternyata membawa Nezuko bersamanya. Gadis itu berbinar ketika kakaknya menunjukkan yukata putih untuknya, hadiah dari mantan pilar api. Tidak hanya itu saja, Nezuko menerima banyak pakaian dan aksesoris rambut untuk berhias. Tentu saja, semuanya itu adalah hadiah.

"Kyoujurou-san.. Itu.. Cincin yang kau pesan.. Untuk siapa?"

Pria itu tertawa kecil, merapikan pakaian yang baru saja dibelinya. Tanjirou masih penasaran dengan cincin yang dibeli kekasihnya tadi, sepasang pula. Apakah Kyoujurou akan melamar seorang wanita?

"Akan kukatakan nanti malam."

 


 

Malam pertama di kediaman Rengoku, Tanjirou menulis buku hariannya dan menceritakan apa yang terjadi selama lima belas tahun hidupnya. Buku itu nantinya akan diwariskan, supaya generasi baru tidak melupakan sejarah. Mereka akan mengingat nama Kamado Tanjirou sebagai pahlawan era Taisho.

"Onii-chan!" panggil Nezuko, mengenakan yukata putih yang baru saja dibeli tadi dan membawa sebuah chochin. Rupanya adiknya itu menyukai hadiah dari Kyoujurou, langsung dipakai tanpa dicuci terlebih dahulu.

"Nezuko.."

"Onii-chan dipanggil oleh Kyoujurou-san di ruang tengah, aku akan memasang lentera ini di rumah bagian belakang. Nanti aku menyusul."

Adiknya pergi, meninggalkan Tanjirou yang bingung. Tumben sekali kekasihnya memanggilnya untuk datang, biasanya ia akan menghampiri Tanjirou langsung jika ada keperluan. 

"Ada apa Kyoujurou-san?"

"Ah, kau sudah datang! Duduk sini, di sampingku." ucap Kyoujurou sambil menepuk bantal duduk di sampingnya. Di sana, Shinjurou dan Senjurou ikut bergabung, disusul dengan Nezuko yang telah kembali. 

"Chichi-ue, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."

Dada Tanjirou bergemuruh setelah mendengar suara serius dari kekasihnya. Matanya melirik ke arah Kyoujurou yang menatap lurus ke ayahnya—menunggu kelanjutan ucapan Kyoujurou—dan Senjurou yang ikut bertanya-tanya di dalam benaknya.

"Aku ingin.. Mengubah nama Kamado Tanjirou menjadi Rengoku Tanjirou."

Pemuda itu hampir beranjak dari tempatnya karena terkejut. Kyoujurou masih duduk tegap menghadap ayahnya, ucapannya terlihat serius dan meyakinkan seseorang. Shinjurou, menatap anaknya dengan tatapan bingung.

"Maksudmu, ayah mengadopsi Tanjirou dan mengubah namanya menjadi Rengoku?'

"Bukan. Aku ingin menikahinya."

Tersentak, Tanjirou menoleh dan menatap Kyoujurou. Ia ingin sekali berbicara dan protes untuk meminta penjelasan mengapa secara tiba-tiba seperti ini. Shinjurou berdehem pelan, bergantian menatap dua laki-laki di hadapannya, melihat anaknya yang masih duduk tegap karena serius.

"Mau bagaimana lagi.. Jika aku larang pun, kau akan terlihat seperti mayat hidup." 

Kyoujurou reflek menarik tubuh kekasihnya dan mendekapnya erat, menangis terharu hingga membasahi pakaian milik Tanjirou. Pemuda itu masih mencerna apa maksud dari Shinjurou, membiarkan Kyoujurou untuk seperti ini sejenak. Wajahnya memerah, mereka berpelukan di depan Shinjurou.

"A-apa maksudnya, Kyoujurou-san?"

"Kau tidak paham? Kita akan menikah! Menikah, Tanjirou!" 

Nezuko tersenyum melihat kakaknya yang bergeming, mungkin otak Tanjirou sedang lemot. Senjurou, di sampingnya, menangis melihat kakaknya yang bahagia karena akan menikah sebentar lagi. Ah, kehidupan setelah neraka berakhir memang benar-benar indah. 

"Cincin tadi, aku membelinya untuk pernikahan kita. Jangan berpikir macam-macam dan mengatakan jika aku akan menikahi seorang wanita!" dengus Kyoujurou kesal. Tanjirou masih lemot, tidak tahu apa respon yang harus ia keluarkan setelah kekasihnya mengajaknya untuk menikah.

"Terima kasih, Kyoujurou-san."

 


 

Bunga-bunga sakura memenuhi kediaman keluarga Rengoku, dengan dua orang sebagai sorotan utama. Mulai hari ini, Kamado bukan lagi nama keluarganya. Hanya megundang orang-orang terdekat, seperti mantan anggota pemburu iblis dan klan Ubuyashiki, serta orang-orang bertopeng dari desa penempa pedang. Zenitsu turut berbahagia melihat temannya telah menikah, walaupun tak menyangka jika menikah dengan mantan pilar api. 

"Aku ucapkan selamat untukmu."

"Terima kasih, Oyakata-sama."

Ubuyashiki Kiriya, awalnya terkejut dengan undangan yang diberikan langsung oleh Kyoujurou, bukan melalui gagak kasugai. Anak berumur delapan tahun itu mengira jika Tanjirou akan menikah dengan Kanao karena kedekatan mereka, rupanya dugaannya salah. Hubungan mereka telah ada sejak pertemuan pilar dengan Tanjirou yang sedang dieksekusi. 

"Untukmu saja, panggil Kiriya."

Tersenyum, "Baik, Kiriya-sama."

Pernikahannya begitu meriah walaupun tidak banyak yang ia undang. Terkekeh pelan melihat Inosuke yang didorong oleh Zenitsu karena hampir menghabiskan hidangan makanannya. Kyoujurou menyapa Tengen yang datang bersama ketiga istrinya yang menemui Tanjirou. Pria itu mengenakan pakaian terbaiknya untuk menghadiri pernikahan teman sesama pilarnya dahulu.

"Selamat atas pernikahanmu, kawan."

"Terima kasih telah datang. Ngomong-ngomong, di mana Shinazugawa dan Tomioka?"

"Ada di sana bersama Tanjirou. Hoi, Sanemi! Giyuu!"

Suara menggelegar Tengen membuat kedua mantan pilar itu kemari. Mereka baru saja datang, langsung menghampiri Tanjirou dan memberinya selamat. Giyuu mengunyah salmon rebus yang ia ambil bersama Zenitsu, sambil berdiri seperti ini.

"Selamat, Kyoujurou. Maaf tidak menemuimu terlebih dahulu." ucap Sanemi meminta maaf.

"Tidak apa-apa, Shinazugawa! Terima kasih telah datang."

"Sanemi saja."

Kyoujurou berdehem. Matanya menangkap ke arah Tanjirou yang mendekat ke arahnya. Lelaki itu, terlihat dua kali lipat lebih manis jika dipoles dengan riasan. Tidak sadar jika pipinya memerah, seperti ketika memakan ubi.

"Wah wah aku baru tahu jika Kyoujurou dapat bersemu seperti itu." ledek Tengen. 

"Kyoujurou-san ingin ubi manis?" tawar Tanjirou sambil membawa dua potong ubi manis yang dihidangkan di atas piring.

"Umu! Berikan kepadaku!"

"Aku juga ingin mencicip ubi manis. Sanemi, Giyuu, ayo kita makan!" teriak Tengen sambil menyeret kedua temannya, memberi waktu bagi sepasang pengantin untuk menikmati waktu berdua. 

"Tanjirou. Terima kasih atas segalanya."

Pemuda itu tersenyum. Berjinjit untuk menggapai suaminya, mengecup bibirnya sekilas dan memeluknya sebagai jawaban. Air matanya mengalir, membalas pelukan Tanjirou dan membenamkan wajahnya.

 

Bahagia. Ia sangat bahagia.

Notes:

AKHIRNYAAA MENIKAH JUGA

Selanjutnya bakal ada part dua. Ini tentang Tanjirou setelah tujuh tahun menikah, beserta Kyoujurou yang memiliki pekerjaan baru sebagai polisi.

See u! <3