Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Radio Romance
Stats:
Published:
2021-02-13
Words:
3,685
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
88
Bookmarks:
7
Hits:
1,388

i'm thinking of ending things

Summary:

doyoung belajar memaknai cinta dari surat-surat yang dikirimkan oleh para pendengarnya.

Notes:

1. Narasi dalam italic diperuntukkan ketika Doyoung sedang mengudara sebagai penyiar radio
2. Narasi dalam bracket dan non-italic adalah tulisan dalam surat pendengar yang Doyoung bacakan untuk sesi Pandora's Box

Cerita ini murni fiksi dan mengambil latar belakang lokal. Sebagai catatan, hubungan bxb di dunia pada cerita ini dianggap sebagai suatu hal yang biasa ya.

Akhir kata, semoga suka.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Jung Jaehyun 
Pesawatku baru landing

 

Me
Ok
Aku juga baru mau mulai siaran

 

Jung Jaehyun
See you tomorrow morning, i guess

 

Me
Alrite
Welcome home, Jae

 

Jung Jaehyun
*read*

 

Me
I love you ❤️

 

 

 

Doyoung menekan tombol off yang terletak di sisi kiri benda hitam berbentuk persegi panjang itu dan seketika layar ponsel yang semula terang berubah menjadi gelap.

Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.

Doyoung menyadari ada sesuatu yang tiba-tiba menjadi dingin dan hambar dalam hubungan sepuluh tahun yang dijalinnya dengan Jaehyun. Ia hanya belum berani untuk melayangkan pemikiran itu secara terbuka karena takut akan memancing pertengkaran diantara mereka.

Sudah cukup jarak ratusan kilometer yang terbentang antara Jakarta dan Balikpapan yang memisahkan keduanya. Doyoung tidak mau menambah batu kerikil dengan membuat kekasihnya merasa bahwa ia meragukan kepercayaannya.

 

Tok tok

 

Doyoung menoleh ke sumber suara.

Dari balik kaca ruang siaran tempatnya berada, Johnny mengacungkan lima jari tangan. Tanda bahwa ia hanya punya sisa waktu lima detik sebelum mengudara. Doyoung bergegas memakai kembali headphone miliknya, lalu menunggu aba-aba hitungan mundur yang biasa diberikan oleh produsernya itu.

 

5...4...3...2..1.

 

Dan lampu merah bertuliskan ON AIR pun menyala.

 


 

selamat malam

besok hari valentine loh

terus kenapa, doyoung?

hehehe gapapa

saya hanya sedang terlalu bahagia malam ini

selain valentine, besok juga hari spesial untuk seseorang yang penting bagi saya 

 

anyway

welcome to neo zone

and this is your dj for tonight, kim doyoung

 

apa kabar?

semoga kalian selalu sehat dan bahagia yaa

malam ini adalah pertama kalinya saya akan membacakan tulisan yang masuk ke segmen pandora's box

and i'm so excited for that!

 

for your information

sebelum siaran dimulai, produser neo zone benar-benar tidak memperkenankan saya untuk mengintip barang sedikit pun tulisan yang terpilih untuk dibacakan malam ini

katanya sih supaya saya bisa memberikan respon yang lebih jujur

 

ah

saya jadi deg-degan

kalau ceritanya begitu sedih hingga saya menangis sesengukan

tolong dimaklumi ya 

hehehe

 

tanpa membuang waktu lagi

saya mulai sesi pandora's box malam ini

 

 

 

 

halo doyoung

kenalin, gue jeffrey

 

 

hi jeffrey, salam kenal juga ya!

 

 

 

saat ini gue menjalin long-distance relationship sama pacar

kami ldr karena kerjaan mengharuskan gue untuk pindah ke kota lain

 

sebuah keputusan yang berat

karena bukan cuma dia yang harus gue tinggalkan, tapi juga keluarga

but, i don't have much choice back then

perusahaan ini punya nama beken buat seluruh anak teknik industri di universitas manapun di negeri ini

mereka hanya menerima sedikit fresh grad, itupun tidak setiap tahun

kalau gue tolak, kesannya gue sombong dan ga tau berterima kasih

 

singkat cerita, ini tahun ketiga gue bekerja disini

beban fisik dan mentalnya emang ga main-main, tapi begitu pula dengan gajinya

dua tahun lalu, sempat terbersit pikiran untuk mengajak pacar ke jenjang yang lebih serius

membawa dia kesini emang ga memungkinkan, tapi seenggaknya mungkin gue bisa beli rumah di pulau terdekat sehingga dia bisa tinggal disana

toh kita udah pacaran lama dan uang ga jadi masalah dengan gaji gue saat ini

gue juga yakin kalau he's the one

 

gue mau dia berada lebih dekat 

bukan beratus-ratus kilometer jauhnya kayak sekarang

 

tapi takdir berkata lain

 

belum sempet gue sampaikan niat ini

pacar gue diterima kerja di posisi yang jadi impiannya sejak dulu

 

waktu menyampaikan berita itu ke gue via telepon

dia kedengeran bahagia banget, doyoung

 

dan akhirnya 

gue pun mengurungkan niat untuk melamar dia

because he deserved this chance

dan gue ga mau menjadi orang jahat yang merebut kebahagiaan itu 

 

toh kita bisa mempertahankan hubungan ini dengan begitu baik

walau cuma ketemu dua bulan sekali

jadi gue pikir

tidak ada salahnya untuk mengulur waktu

 

sayangnya—

ketika gue pikir segalanya akan baik-baik saja

nyatanya disitulah letak kesalahannya

 

people tend to take things for granted

kita berdua seperti penerbang yang mengandalkan mode autopilot dalam mengendalikan laju pesawat

harusnya gue tau bahwa cuaca ga pernah bisa diprediksi secara akurat

 

for your information

di tempat kerja gue, semua orang harus siaga 24 jam

karena pintu kamar kita bisa digedor kapan pun saat diprediksi akan ada badai yang datang

 

dan bodohnya, gue malah kecolongan

 

 hubungan kita berdua semakin merenggang seiring berjalannya waktu

 

we never fight

 

tapi bukan berarti masalah itu ga pernah ada

 

kita berdua cuma terlalu pandai menekan dan menyembunyikan rasa

so we never laid it out in front of each other

 

setiap gue pulang ke jakarta

kita akan bersikap saling sayang

selama tujuh hari penuh waktu libur gue

kita lengket tak terpisahkan

 

tapi begitu gue balik kerja

semua kembali lagi ke awal

dan siklus itu terulang lagi 

dan lagi

 

kita udah keseringan bersikap bodo amat

acuh pada guratan retak yang mulai muncul menghiasi dinding hubungan

lupa kalau lama kelamaan dia bisa runtuh karena dimakan waktu

atau hancur lebih cepat karena hantaman dari luar

 

 sialnya lagi, hantaman itu datang dalam bentuk orang ketiga

yang entah kenapa gue yakin sedang mencoba merangsek masuk dalam potret hubungan kami

 

laki-laki itu memperkenalkan diri sebagai teman

what a big fat liar

 

waktu menjabat tangan itu pertama kali, gue bisa langsung tau intensinya lebih dari sekedar itu

 

harusnya gue ga perlu takut 

karena gue punya segalanya yang laki-laki itu punya

bahkan lebih

posisi gue jauh di atas

 

meski gue kalah dalam satu hal

 

gue ga bisa selalu ada saat pacar butuh gue

 

gue ga bisa jemput dia kalau pulang malam

gue ga bisa peluk dia saat dia ulang tahun

gue ga ada di samping ranjangnya saat dia terbaring lemah di rumah sakit

gue ga bisa hapus air mata di pipinya saat dia sedih karena sahabatnya meninggal

 

satu hal 

yang ternyata punya banyak cabang

 

dan yang paling menyebalkan

 laki-laki itu selalu bisa menggantikan gue di momen-momen tadi

 

so i'm thinking to ending things

 

ya, gue mau minta putus, doyoung

 

sekarang gue masih mengumpulkan keberanian

but i'll do it di jadwal kepulangan gue selanjutnya

 

which is

 

minggu depan

 

 

Doyoung melirik ke arah kalender meja yang berada tak jauh dari layar komputer. Kolom pandora's box di website NCT Radio dibuka sekitar sepuluh hari yang lalu. Itu berarti pengirim surat yang dibacakannya tadi akan pulang dalam minggu ini. Pikirannya jadi sedikit berkelana, bertanya-tanya apakah Jeffrey sudah melaksanakan niatnya.

 

 

 

 

it hurts me to realize that

gue bukan ngelakuin itu karena ga lagi cinta

 

justru gue melakukannya untuk mencegah sebelum kita makin membenci satu sama lain

 

setidaknya kalo gue akhiri sekarang

mungkin kita tetap bisa balik sebagai teman?

 

gue ga mau kita saling menghindar setiap kali ga sengaja ketemu

 

keluarga kita uda terlalu saling kenal baik

rumah kita pun deketan

mustahil untuk ga ketemu dia setiap kali pulang

 

dan dengan ngomong langsung

 gue mungkin bisa punya kesempatan meluk dia

untuk yang terakhir kali

sebagai pacar

 

 

Doyoung memberi jeda sejenak untuk mengambil napas dalam-dalam. Mata dan hidungnya mulai merasakan sensasi aneh yang biasanya hanya terjadi jika ingin menangis. Ia melihat Johnny sudah berdiri dari kursi, salah satu alisnya terangkat ke arah Doyoung. Jadi ini perasaan yang dimaksud produsernya itu tadi?

 

 

 

 

doyoung

 

deep down, i know this will hurt as fuck

 

gue masih sayang

banget

 

 

Satu bulir air mata tak ayal lolos dari kelopak mata Doyoung.

 

 

 

 

apa menurut kamu aku egois?

 

 

Doyoung tersentak. Tidak menyangka akan dimintai pendapat di akhir surat.

Dari posisinya berdiri, Johnny memberi aba-aba untuk langsung melakukan transisi ke pemutaran lagu.

Tapi entah kenapa kedua tangan justru Doyoung refleks membentuk tanda silang di depan dada.

Ia merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan segmen ini dengan baik karena mungkin saja di luar sana ada seseorang yang sedang menantikan jawaban darinya.

 

 

hi jeffrey

terima kasih ya sudah berkenan membagikan cerita ini ke kami

 

it must be hard on you to keep this thought for so long

 

saya sependapat denganmu

long-distance relationship memang tidaklah mudah

karena saya juga sedang mengalaminya sekarang

 

maaf kalau saya tidak bisa memberi saran

karena walaupun sudah menjalani ldr tiga tahun seperti kamu

saya tetap belum menjadi ahli dalam bidang ini

 

jeffrey

 

kamu tadi meminta pendapat

saya sadar kamu merubah penggunaan kata ganti orang di pertanyaan terakhir

bukan lagi gue

melainkan kamu

 

maaf kalau saya salah tangkap

 

tapi entah kenapa saya seolah merasa kamu ingin saya menjawab dari sudut pandang pacar kamu

benar begitukah pemahaman saya?

 

jika benar iya, maka—

lagi-lagi maaf

 

saya harus menjawab

 

iya, kamu egois

 

jeffrey—

relationship is a work of two

entah itu cinta atau bukan

 

kamu bilang ingin mengakhiri hubungan ini karena tidak ingin menyakiti pacar kamu lebih jauh

tapi— apa kamu sudah bertanya tentang perasaannya?

 

bukankah suatu hubungan baru bisa dimulai saat ada perasaan sayang satu sama lain?

lalu kenapa kita seolah melegalkan bahwa perpisahan itu bisa dilakukan secara sepihak?

 

dalam proses perceraian saja ada yang namanya proses mediasi

suami dan istri akan kembali ditanya di peradilan apakah ada yang bisa membuat mereka untuk rujuk kembali?

 

pacar saya sering bilang kalau dia tidak pernah bisa mengerti jalan pikir saya

menurutnya, saya punya pikiran dan emosi yang kompleks

 

dan saya tidak pernah marah saat dia mengatakannya

 

walaupun, saya akui kadang saya memang sedikit mencubit pipi gembilnya

 

buat apa kesal?

toh memang benar itu realitanya

 

tapi jeff,

kemampuan membaca pikiran itu hanya ada dalam cerita fiksi

 

kalau kamu ga ngomong, bagaimana pacarmu bisa tahu apa yang sedang kamu rasakan?

 

mana bisa dia tahu apa yang sebenarnya menjadi kegelisahan kamu kalau kamu tidak pernah mengatakannya

 

saya cuma mau bilang

 

yuk coba bicarakan terlebih dahulu secara baik-baik

 

jangan sampai kamu menyesal karena bertindah gegabah dengan melepas orang yang masih sangat kamu sayang

jangan sampai kamu jadi orang yang justru menghancurkan dinding tadi

 

cuma itu yang bisa saya sampaikan

 

dimana pun kamu berada sekarang

semoga hatimu merada sedikit lebih ringan sekarang ya, jef

 

lagu berikutnya yang akan diputar

saya dedikasikan khusus untuk kamu

 

please welcome

khalid - talk

 


 


"John, langsung balik yuk," ajak Doyoung.

Jam dinding menunjukkan pukul sebelas lewat lima menit dan sesi siarannya baru saja selesai.

Biasanya Doyoung memang akan selalu menumpang mobil Johnny saat pulang karena kebetulan rumah mereka searah.

"Duluan deh, Doy. Masih ada yang mau gue kerjain."

Hng? Alis Doyoung mengernyit heran. Tidak biasanya Johnny tega meninggalkannya untuk pulang sendirian malam-malam. Bahkan biasanya kalau Doyoung sedang ingin lembur dan menginap di kantor pun, produsernya itu pasti akan bersikeras untuk menemaninya sampai selesai.

"Yaaah kok ga bilang kalau mau lembur? Tau gitu kan tadi gue bawa mobil pas berangkat." Bibir Doyoung mengerucut sebal. Pasalnya, dia paling tidak nyaman untuk naik taksi tengah malam. Sendirian pula. Kalau bersama Johnny kan ia tidak perlu merasa waswas seandainya tidak sengaja ketiduran di mobil. Pemuda itu tetap akan mengantarkannya ke tempat tujuan dengan selamat, tak kurang satu pun.

Dan lagi, Doyoung butuh untuk sampai di rumah sebelum jam dua belas malam. Ia harus menyiapkan beberapa hal sebelum menjalankan misi rahasia yang sudah dipersiapkannya selama seminggu belakangan.

Mendengar nada merengek di kalimat Doyoung membuat Seulgi, sang scriptwriter, memandangnya keheranan. "Loh, Doy? Bukannya ada yang udah jemput lo di bawah," ujarnya santai.

"Hah?!"

Kali ini gantian Doyoung yang terperangah.

 


 

Suara derap kaki Doyoung yang menuruni tangga bergema di lantai dasar yang telah sepi penghuni. Radio mereka memang mengudara sampai tengah malam, tapi biasanya hanya ada segelintir orang yang memang bertugas saja yang wajib hadir di kantor hingga siaran terakhir selesai. Semuanya lebih sering berkumpul di studio yang terletak di lantai dua, sehingga wajar jika tidak ada orang di lantai satu saat ini.

Kecuali seorang laki-laki dengan jaket kulit warna hitam dan beanie yang sedang duduk di deratan sofa empuk yang sengaja diletakkan di area lobi.

"Jae— hyun?"

Merasa namanya dipanggil, pemuda itu mengalihkan perhatian dari layar ponsel di genggaman. Senyuman merekah dari balik masker putih yang ia gunakan, lantas cepat berdiri untuk menyambut sang kekasih yang berlari mendekat. Kedua tangannya terbuka lebar.

Doyoung sedikit melompat sebelum menubruk tubuh Jaehyun dan memeluknya erat. Ia menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari tubuh pemuda itu.

Wangi.

Bau khas sabun mandi yang segar tercium dari tubuh Jaehyun. Ia sama sekali tidak kelihatan lusuh untuk ukuran seseorang yang baru saja menghabiskan lima jam perjalanan darat, laut, dan udara untuk sampai kesini.

"Kamu kok disini?" Lengan Doyoung masih bergelantung di leher kekasihnya, namun wajah mereka kini bertatapan langsung dalam jarak yang sangat dekat karena lengan kekar Jaehyun yang masih melingkar di pinggang Doyoung. "Katanya tadi ketemu besok pagi."

Dalam satu gerakan cepat, Jaehyun melepas masker yang menutup bagian hidung dan mulutnya. "Aku keburu kangen," balasnya singkat sebelum bibirnya bergerak mengecup milik Doyoung.

Ia melumat perlahan bagian kenyal yang telah lama dirindukan. Rasa buah persik yang familiar seketika menyeruak di indera perasa.

Pelembab bibir Doyong masih selalu sama, pikirnya. 

Awalnya Jaehyun hanya ingin bermain-main sebentar, tapi tak disangka bibir Doyoung langsung terbuka setelah lumatannya yang ketiga. Seolah memberi akses sukarela bagi lidahnya untuk masuk dan menjelajah setiap jengkal gua yang sudah dua bulan tak dikunjunginya. Tanpa menunggu waktu lama, bagian tubuh tak bertulang itu pun langsung merangsek ke dalam, seiring dengan kedua tangannya yang kini berpindah menangkup masing-masing pipi Doyoung.

Ini bukan ciuman yang dipenuhi dengan gairah hingga mampu untuk membuat mereka menanggalkan pakaian yang membungkus badan. 

Hanya ciuman untuk saling melepas penat kerinduan. 

Di alam bawah sadarnya, Doyoung tahu aktivitas mereka saat ini pasti terekam kamera CCTV yang dipasang di sudut atas ruangan. Tapi hati kecilnya ternyata mampu mengalahkan sang logika. 

Dia rindu Jaehyun-nya. 

Persetan dengan CCTV. Besok, ia akan meminta petugas penjaga untuk menghapus rekaman kegiatan gila mereka saat ini, dan mungkin juga membawa beberapa bungkus rokok dan ayam KFC sebagai sogokan.

Napas Doyoung mulai sedikit tersengal-sengal. Sejak mereka kecil, Jaehyun selalu keluar sebagai pemenang dalam adu ketahanan menahan napas paling lama di dalam air saat mereka berenang. Tidak heran kalau kemampuan paru-parunya itu banyak membantu sekarang.

Tapi ciuman mereka kali ini bukan terlepas karena Doyoung yang kehabisan napas, melainkan karena bunyi kriuk panjang yang berasal dari perut Jaehyun. Keduanya lantas tertawa bersamaan. Bekas air liur mengecap berantakan di sekitar mulut dan dagu masing-masing.

"Kita makan dulu sebelum pulang ya," ajak Doyoung sambil membersihkan dagu Jaehyun dengan jempol tangannya. Setelahnya, ia membantu mengaitkan kembali masker di daun telinga Jaehyun, lalu menggamit lengannya menuju pintu keluar.

 


 

Keduanya berakhir makan nasi goreng pinggir jalan. Hanya butuh berjalan kaki dua menit untuk sampai ke warung tenda tersebut. Doyoung, Johnny, dan Seulgi sering melipir kemari bila mereka kelaparan seusai siaran karena kedai ini memang biasanya baru buka malam hari hingga subuh menjelang.

Sepiring nasi goreng dan mie goreng tersaji di meja depan mereka. Tidak banyak pembeli yang makan di tempat malam ini. Hanya ada beberapa yang duduk sebentar sambil menunggu pesanan mereka selesai dimasak. Jaehyun dan Doyoung memilih duduk di meja paling sudut.

"Capek ya pulang jam segini terus tiap hari?" tanya Jaehyun. Tangan kirinya yang tidak memegang sendok terulur untuk merapikan poni Doyoung yang menjuntai kembali ke balik daun telinga. Mencegahnya agar tidak jatuh mengenai piring berisi mie goreng yang tengah disantap.

Sambil tetap mengunyah makanan di dalam mulutnya, Doyoung menggeleng. Satu bulan pertama memang cukup berat, tapi kini tubuhnya sudah benar-benar beradaptasi dengan siklus tidurnya yang baru. Doyoung baru akan tidur lelap setelah subuh, lalu bangun tepat sebelum adzan zuhur berkumandang.

"Pasti kamu jauh lebih capek." Doyoung balas memandang Jaehyun. Memperhatikan setiap lekuk detail wajah sang kekasih. Bibirnya mengerucut saat menyadari pipi Jaehyun yang semakin tirus. Ia pun lantas berinisiatif mengambil satu sendok besar mie goreng dan memindahkannya ke piring Jaehyun. "Nih, harus makan yang banyak ya pokoknya." 

Doyoung terus-menerus memindahkan mie goreng miliknya ke piring nasi goreng Jaehyun. 

"Sayang— udah dong, nanti kamu ga kebagian makan, hm." Jaehyun memandangi piringnya yang kini seperti porsi kombo nasi goreng gila. Rasanya tadi dia sudah menghabiskan hampir setengah porsinya, tapi kini piringnya kembali terisi penuh dengan setengah bagian nasi goreng, dan setengahnya lagi terisi mie goreng.

Doyoung tersenyum puas setelah melihat mie goreng di piringnya yang mungkin hanya tinggal tersisa tiga suapan. Sebenarnya, dia sudah pesta pizza dengan Johnny dan Seulgi sebelum siaran tadi, dan perutnya masih cukup kenyang saat ini. Tapi ia merasa tidak sopan bila hanya melihat dan membiarkan Jaehyun makan sendirian.

"Wek, biarin!" Doyoung menjulurkan lidah ke arah Jaehyun, mengejek. "Abis pipi kamu ga gembil lagi, pasti makannya ga bener selama di rig," tuduhnya. 

Doyoung menghentikan acara makannya. Hanya tersisa satu suapan di piring, tapi perutnya rasanya sudah mau meledak jika terus dipaksakan. Ia lebih memilih untuk bertopang dagu sambil memperhatikan Jaehyun yang masih sibuk melahap makanan. Jika diperhatikan dengan seksama lagi, Doyoung bisa melihat siluet hitam bertengger di bawah kelopak mata sang kekasih. 

Apa Jaehyun kurang tidur? tanyanya dalam hati. 

Menurut ramalan, cuaca sedang tidak bersahabat akhir-akhir ini. Bila di daerah perkotaan seperti Jakarta saja hujan bisa turun layaknya badai, Doyoung tak bisa membayangkan seperti apa suasana di tengah lautan sana. Apa Jaehyun kerap dibangunkan tengah malam dan harus berjuang menerjang badai yang melanda lokasi pengeboran minyak lepas pantai tempatnya bekerja?

Sebuah sentilan kecil yang tak menyakitkan mendarat di pucuk hidung Doyoung, membawanya kembali dari lamunan. 

"Udah ngantuk, ya?" tanya Jaehyun.

Doyoung kembali menggeleng sembari tersenyum. "Kamu kangen makan apa? Besok kan aku libur, kita bisa jalan-jalan seharian," tawarnya.

Bola mata Jaehyun bergerak ke atas, terlihat sedang berpikir. "Mmm, aku kangen nasi goreng buatan kamu," jawabnya dengan serius.

Doyoung terkekeh. "Ini kan juga lagi makan nasi goreng, Sayang."

"Iya, tapi tetep lebih enak bikinan kamu." Jaehyun seolah tak mau kalah.

Tangan Doyoung terulur untuk merapikan poni Jaehyun yang sedikit keluar dari beanie hitam yang ia kenakan. "Iya..iya.. besok aku masak spesial buat kamu. Awas kalau ga dihabisin," ancamnya.

Jaehyun meraih tangan Doyoung yang masih sibuk di rambutnya. Mengenggam dan mengecup buku jari kekasihnya dengan lembut. "Makasih ya, Sayang," ungkap Jaehyun dengan tulus. 

Seketika, rasanya Doyoung kembali jatuh pada jurang cinta bernama Jung Jaehyun.

 


 

Mitsubishi Pajero hitam keluaran terbaru terlihat perlahan memasuki carport sebuah rumah tingkat bercat putih. Jaehyun mematikan lampu sorot setelah mobil terparkir lurus.
Di kursi penumpang sebelahnya, Doyoung telah melepas seatbelt dan hendak membuka pintu mobil. Namun, tangan Jaehyun dengan cepat menahan gerakannya.

Doyoung tak jadi keluar. Melirik sekilas ke arah jam digital di dashboard mobil yang menunjukkan pukul 23:55, lalu beralih menatap Jaehyun.

"Bisa kita bicara sebentar?"

Alis Doyoung bertaut kebingungan. Loh bukannya semenjak tadi juga mereka terus bercakap-cakap. Kenapa sekarang mendadak minta ijin? batinnya. Tapi Doyoung toh tetap memiringkan posisi duduknya agar ia bisa berhadapan dengan figur Jaehyun.

"Apa ada masalah, Jae?" tanya Doyoung hati-hati. Wajahnya dihiasi sedikit kecemasan.

"Menurut kamu, hubungan kita gimana?"

Dahi Doyoung kini ikut mengernyit setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jaehyun. "Maksudnya?"

"Ya— aku mau tahu pendapat jujur dari kamu, tentang hubungan ldr yang kita jalani saat ini."

Oh.

Tadinya, Doyoung belum mau membicarakannya secepat ini. Jaehyun baru saja pulang, jadi ia pikir topik ini bisa dibahas lain kali, mungkin beberapa hari sebelum kekasihnya itu kembali ke Balikpapan.

"Kalau mau bicara jujur, well— being away from you is sucks," tandas Doyoung. "Both of us is like...attached at the hip since child, so— yeah i missed you freaking much when you are away."

Tatapan Jaehyun melunak mendengar pengakuan Doyoung.

"Tapi aku ga mau jadi pacar posesif yang ga mendukung karir pasangannya. Look at you! You're doing really well dan aku ikut bangga melihatnya. My baby is working as an engineer in one of the best oil and gas company in the world!"

Jaehyun kini tersenyum hingga Doyoung bisa melihat jelas lesung pipi milik pemuda itu.

"Walaupun ya— aku kadang cuma bisa gigit jari kalau lagi ngumpul sama teman kantor atau temen kuliah dulu dan mereka pas lagi bawa pacar masing-masing. Atau— kalau aku lagi dateng ke kondangan sendirian.

But, that's okay! Aku kan bukan tipe yang jadi sentimental cuma karena gitu doang.

Kalau kamu tiba-tiba bertanya hal ini karena khawatir, Jae— I'm doing fine. I'm more worried about you, tho. Kamu literally ada di tengah lautan, kerja ga kenal waktu, dengan beban kerja dan bahaya yang selalu mengintai kapan aja. Kamu senang sendirian, sedih sendirian, bahkan sakit juga masih sendirian. Siapa yang bikinin kamu bubur kalau asam lambung kamu lagi kumat? Siapa yang ngompres kening kamu kalau lagi demam? Siapa yang—"

"Sshh—" Jaehyun membungkam racauan Doyoung dengan sebuah pelukan.

Doyoung sendiri tidak sadar kalau pipinya telah basah dengan buliran air mata. Ia pun membenamkan wajahnya di dada Jaehyun sambil terisak pelan. Rasanya seperti baru saja meledakkan bom perasaan dan entah kenapa hatinya terasa lebih lega sekarang.

Setelah merasa kekasihnya sudah sedikit lebih tenang, Jaehyun melonggarkan pelukannya. Namun setelah lepas, ia justru mendapat hujanan pukulan pelan yang bertubi-tubi dari Doyoung.

"Kamu. Jahat. Baru pulang tapi udah bikin aku nangis sesengukan."

Jaehyun menangkap pergelangan tangan Doyoung yang masih memukuli pundaknya dengan satu tangan, sedang tangan satunya bergerak ke arah dagu sang pacar, membawa Doyoung untuk balik menatapnya. Masih ada sedikit air menggenang di bola mata hitam milik Doyoung, maka ia merangsek maju dan mencium kelopak mata itu perlahan. 

Mata kiri. Mata kanan. Dahi. Pipi. Bibir. 

Jaehyun mengecup semua bagian wajah Doyoung tanpa tersisa, sebagai bentuk permintaan maaf. Dia bahkan baru mengeluarkan satu kalimat pertanyaan, tapi rasanya Doyoung sudah memberinya ribuan jawaban yang mampu menghapus segala keresahan yang dirasakannya selama ini. 

"Mmmphh Jae—" 

Doyoung menggeliat ketika ciuman-ciuman Jaehyun mulai turun ke bagian lehernya yang jenjang. Masalahnya, ia tahu Jaehyun tadi memakai masker karena belum sempat bercukur. Dan rambut-rambut kecil nan tajam itu kini membuat kulit lehernya yang sensitif menjadi terasa geli karena terus bergesekan. 

Saat merasa tak tahan lagi, Doyoung akhirnya terpaksa menggunakan sedikit kekuatan untuk menjauhkan wajah Jaehyun dari dirinya. "Ish! Shaving dulu sana, ih! Aku geli tau!" 

Jaehyun terkekeh melihat raut wajah Doyoung yang mengerut lucu. Ia lupa kalau ini bukan lagi di rig dimana tidak bercukur adalah suatu hal yang biasa bagi mayoritas kaum adam penghuninya. Sepertinya Jaehyun harus kembali rajin shaving setiap hari agar ia bisa bebas menghujani Doyoung dengan ciuman tanpa disambut dengan elakan.

Pemuda itu hendak membuka pintu mobil ketika tangan Doyoung ganti menahannya. Jaehyun seketika berbalik dan sedikit kaget ketika telapak tangan Doyoung langsung menangkup kedua pipinya. 

Juga bibir lembut rasa buah persik milik Doyoung yang kini mencium bibirnya dengan manis.

"Happy birthday, Jung Jaehyun."

Jaehyun melirik jam di pergelangan tangannya.

Ah, ternyata sudah tanggal 14 Februari.

"Selamat ulang tahun yang ke-25 ya, Sayang." Jemari Doyoung mengelus pipi kekasihnya dengan penuh kasih sayang. "Sebenernya aku udah siapin surprise, tapi kamu daritadi ga ngijinin aku masuk ke rumah untuk ambil kuenya. Padahal aku udah bikin chocolate cake kesukaan kamu. Jadi, ciuman tadi sebagai ganti hadiahnya yah."

Doyoung tersenyum lebar hingga menampilkan deretan gigi dan gusi miliknya.

Arrghhh!!!

Rasanya Jaehyun ingin cepat-cepat ke kamar mandi untuk bercukur kilat. Karena rasanya ia sungguh tidak bisa lagi berlama-lama menahan untuk tidak menerkam Doyoung-nya.

 

Notes:

Pengirim surat yang dibacakan oleh Doyoung di siaran radionya sebenarnya adalah Jaehyun., cuma dia memakai nama samaran Jeffrey — or his English name while working on the rig. Jaehyun disini berprofesi sebagai Petroleum Engineer di Halliburton, kerjanya di rig di tengah lautan dan bos-bosnya orang Amerika tulen jadi biar gampang pas manggil jadi Jeffrey gitu ceritanya hehehe.

Pacar yang (niatnya) mau diputusin ssama Jeffrey disini, ya of course Doyoung. Tapi gak jadi dilakuin karena dia udah dapet jawabannya secara implisit dari Doyoung sendiri pas meminta saran di akhir cerita. Semoga tidak membingungkan wkwkwk.

Last but not least, happiest birthday to my ball of sunshine, Jung Jaehyun! Sehat-sehat terus ya, semoga syuting drama Dear M lekas selesai, jadi bisa segera istirahat dan senang-senang!

You can find my other works on wattpad.

Series this work belongs to: