Actions

Work Header

Good Night

Summary:

“Bukankah seharusnya kau berada di Snezhnaya?”

“Aku baru saja kembali.”

Seringaian jahil seketika tercipta tanpa bisa Kaeya cegah, “Dan kau memilih untuk kemari ketimbang kembali ke Winery?”

 

Note: Selamat Hari Valentine

Notes:

Setelah begitu banyak perdebatan batin akhirnya aku benar-benar up ini cerita
Special untuk merayakan hari valentine

Selamat membaca ;)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Good Night

KaeLuc

 

 

Ketukkan pelan pada pintu depan rumah berhasil membangunkan Kaeya dari tidur sesaatnya. Ia bedecak kesal, lalu menoleh malas pada jam kecil yang terletak di atas perapian yang apinya masih menyala, kemudian mengernyit. Orang tidak tahu diri macam apa yang bertamu di jam dua belas malam?

Awalnya Kaeya berniat untuk mengabaikannya begitu saja lalu kembali mencoba untuk tidur, namun tiga ketukan berikutnya yang terdengar tidak sabaran akhirnya berhasil membuat Kaeya bangkit dari sofa lalu berjalan setengah hati ke pintu depan. Ia besumpah akan menendang pergi siapa saja yang berani mengganggu waktu istirahatnya jika ternyata bukan hal penting.

Ketukan pada pintu depan untuk yang ketiga kalinya kembali terdengar, kali ini terdengar cukup kasar. Sepertinya orang di depan sana benar-benar ingin bertemu dengannya.

Kaeya mendengkus, “Oke, oke, tunggu sebentar, aku datang.”

Ia menggeser selot kuncinya ke samping lalu dengan setengah kesal menarik pintunya ke dalam hingga menciptakan derit menyeramkan di keheningan malam akibat dari engsel yang berkarat. Setelah itu ia mematung dengan tatapan tidak percaya. Sindiran menyakitkan dengan senyuman menyeramkan yang sudah ia siapkan sejak dari dalam kamarnya pun lenyap tanpa bekas.

Rambut merah menyala dengan sepasang mata merah yang menatap Kaeya bosan setengah kesal berhasil membuatnya menganga konyol.

Dan seketika itu juga Kaeya gelagapan. “Ma-Master Diluc?!”

“Apa yang membuatmu begitu lama hanya untuk membuka pintu?”

Tentu saja tidur. Lagi pula ini bukan waktu yang tepat untuk bertamu, jawab Kaeya geli dalam hati. Entah kenapa, lucu rasanya mendengar pertanyaan Diluc barusan hingga berhasil mengundang tawa kecil yang pada akhirnya membuat Kaeya kembali tenang.

Diluc memutar matanya kesal namun tidak bertanya.

“Jadi…” Kaeya bedehem pelan. Ia tersenyum miring sambil melipat kedua lengannya di dada, “…apa yang membuat seorang Master Diluc yang terhormat repot-repot datang bertamu dilarut malam yang dingin ini?” Ah, sungguh kejutan yang luar biasa di tengah malam. Kaeya sama sekali tidak mengira jika orang yang membuatnya bersumpah untuk ia tendang karena mengganggu itu adalah seorang Diluc.

Menghela napas, Diluc menatap Kaeya dengan lebih datar, jelas dia tidak ingin meladeni Kaeya lebih jauh. “Berhenti berbicara omong kosong. Apa kau akan mempersilahkanku masuk atau mengusirku pergi. Katakan sekarang.”

Kaeya berkedip. Ia menatap lekat tubuh kecil Diluc yang terbalut dengan coat tebal dan sarung tangan menggigil kecil kemudian terkekeh. Mengusir Diluc adalah hal yang mustahil untuknya apalagi dengan kondisinya saat ini. Ia lalu mundur kebelakang hingga menciptakan celah lebar di pintu, “Masuklah.” katanya.

Tanpa mengatakan apapun lagi Diluc melenggang masuk ke dalam melewati Kaeya.

Kaeya yang hanya mengenakan pakaian tipis itu mengigil saat semilir angin malam berembus pelan. Rasanya tidak heran jika Diluc menggigil kedinginan meski dia mengenakan pakaian tebal serba tertutup. Ia dengan segera kembali menutup pintu rumahnya lalu menguncinya.

“Hei, Diluc.”

“Hm?”

Kaeya menoleh kemudian memperhatikan Diluc yang berdiri tidak jauh dari kursi kayu sambil membersihkan lengan coatnya yang sedikit kotor. Keningnya otomatis mengernyit heran saat ia melihat benda putih yang tidak asing di kepala Diluc. Ia berjalan mendekat, dengan lembut menyingkirkan sisa salju di puncak kepala Diluc lalu bertanya, “Bukankah seharusnya kau berada di Snezhnaya?”

Dengan gerakan halus Diluc melepas coatnya lalu menyampirkannya asal pada sandaran kursi di dekatnya. “Aku baru saja kembali,” jawabnya tak acuh.

Seringaian jahil seketika tercipta tanpa bisa Kaeya cegah, “Dan kau memilih untuk kemari ketimbang kembali ke Winery?”

“Iya,” Mata merah Diluc menatap langsung tepat ke mata Kaeya, “Apa kau keberatan dengan kedatangannku?”

Jawaban yang sungguh diluar dugaan dan itu sukses membuat Kaeya bungkam.

“Jika kau keberatan dengan kedatanganku…” Diluc meraih coatnya, “…aku bisa—"

Dengan cepat Kaeya meraih pergelangan tangan Diluc lalu mencengkramnya erat, “Tidak—tidak, tetap disini, Luc.” dan menahannya untuk tetap tinggal.

Untuk beberapa saat mereka saling bertatapan dalam diam sebelum akhirnya Diluc mengembuskan napas lalu menyimpan kembali coatnya pada sandaran kursi.

Tanpa sadar Kaeya menghela napas lega. Ia meraih kedua lengan Diluc, melepas sarung tangannya lalu meremas jemarinya lembut. “Kulitmu dingin sekali.”

“Aku baru saja dari luar, ingat.”

“Kalau begitu, mau aku buatkan sesuatu yang hangat? Jika kau tidak keberatan aku bisa membuatkanmu secangkir coklat panas.”

Diluc tidak menjawab namun dia mengangguk.

Dan sekali lagi respon dari Diluc yang diluar dugaan.

Kaeya sempat mengamati Diluc dengan lekat untuk beberapa detik sebelum akhirnya ia melepaskan genggamannya dan pergi ke dapur dengan banyak sekali pertanyaan bermunculan di kepalanya. Malam ini Diluc benar-benar terasa lain, tatapan matanya yang malas dan responnya yang dingin tetap seperti biasanya namun Kaeya yakin ada yang salah dan entah kenapa itu membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. Karena aneh sekali rasanya menghadapi Diluc yang tanpa sindiran-sindiran menyakitkannya, rasanya seperti sedang menghadapi orang lain dan bukan Diluc Ragnvindr.

Jika diingat kembali ke beberapa hari yang lalu sebenarnya mereka ini tangah dalam pertengkaran, meski hanya masalah sepele namun tetap saja mereka belum berbaikan. Bukan berarti hubungan mereka selalu baik-baik saja, hanya saja pertengkaran kali ini sedikit menyangkut hal sensitif yang membuat mereka berdua saling membentak satu sama lain. Pertengkaran yang buruk menurut Kaeya, karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun ia hilang kesabaran dan balik membentak Diluc dengan keras.

Kaeya meletakkan sendok kecilnya begitu saja di wastafel lalu membawa dua gelas coklat panas di tangannya keluar dari dapur. Ia yang tidak menemukan Diluc di ruang tengah dengan segera masuk ke kamarnya dengan panik. Dalam hati Kaeya mengumpat karena tidak sempat merapihkan kekacauan yang dibuatnya beberapa jam yang lalu. Dan benar saja, ia mendapati Diluc berdiri diantara kertas-kertas yang berserakan di lantai dengan dua botol wine kosong.

“Di-Diluc,” Ia berjalan mendekat, menaruh dua gelas coklat panas di tangannya itu di meja kecil di depan perapian, “Aku bisa jelaskan.”

Tanpa memperdulikan Kaeya yang berjalan mendekat dengan panik Diluc mengambil dua botol wine kosong di bawah kakinya lalu berbalik menatap Kaeya tepat di mata, “Aku sedang tidak ingin mendebatkan apapun denganmu jadi aku akan berpura-pura tidak melihat kekacauan yang kau buat malam ini,” katanya. Dia meletakkan dua botol kosong wine di tangannya itu di sudut ruangan lalu menghampiri Kaeya dan mengambil satu gelas coklat panasnya di meja. “Aku sedikit terkejut kau yang seorang alcoholic memiliki stock susu coklat,” gumam Diluc pelan. Ia kemudian duduk dengan nyaman sambil menghirup aroma hangat susu coklat.

Kaeya tersenyum canggung. Ia meraih gelas miliknya lalu duduk di samping Diluc, “Klee sering datang kemari dan bermain, terkadang dia memintaku untuk membuatkannya coklat panas saat sedang menggambar. Jadi, mau tidak mau aku harus menyetok coklat khusus untuknya.”

“Begitu,” gumam Diluc pelan, dia mengangguk satu kali kemudian menikmati coklat panasnya dalam diam.

Suasana canggung seketika tercipta diantara mereka berdua. Kaeya merutuk dalam hati, tidak tahu harus mengatakan apa untuk mencairkan suasana, padahal biasanya ia pintar sekali mencari topik apalagi jika sedang berdua bersama Diluc. Meskipun kebanyakan hanya godaan yang keluar dari mulutnya, tapi setidaknya suasanya tidak sedingin dan secanggung ini.

Dan seketika ingatan tentang pertengkaran hebat mereka beberapa hari yang lalu melintas cepat di kepalanya. Ah, mungkin ia harus meminta maaf terlebih dahulu untuk mencairkan suasana. Ia meletakkan gelasnya di meja lalu mengubah posisi duduknya menghadap Diluc. Kaeya berdehem, “Diluc, aku—”

“Aku pinjam kamar mandimu,” potong Diluc cepat. Dia meletakkan gelas coklat panasnya yang isinya tinggal setengah di samping gelas Kaeya, lalu melenggang pergi begitu saja ke kamar mandi meninggalkan Kaeya yang mematung dengan mulut yang masih terbuka.

Luar biasa, pikir Kaeya, sepertinya dia memang masih kesal padanya.

Tidak lama setelah itu terdengar suara air mengalir dari kamar mandi.

Kaeya mengusap wajahnya sambil menghela napas kemudian tertawa kecil. Diluc yang pergi tanpa mau mendengarkannya bicara itu sudah bukan hal baru jadi ia tidak terkejut, sudah biasa, pikirnya, sudah terlalu terbiasa. Ia berdiri dari sofa lalu berjalan ke arah lemari baju, “Mau aku pinjamkan baju ganti?”

“Tidak perlu!” seru Diluc dari dalam kamar mandi.

“Ayolah, setidaknya kau perlu untuk mengganti pakaian bukan.”

“Aku bilang Tidak Perlu!”

Oke, Kaeya mengalah. Ia tidak ingin memaksakan usulannya lebih jauh lagi atau Diluc akan benar-benar marah. Benar kata Diluc sebelumnya, ia juga tidak ingin mendebatkan apapun malam ini. setidaknya malam ini ia ingin malam yang tenang dan damai.

Pada akhirnya Kaeya memilih untuk mengumpulkan satu persatu kertas yang berserakan di lantai, merapihkannya, kemudian meletakkannya di meja. Ia menoleh pada jam kecil di atas perapian, sudah jam satu malam. Sepertinya ia sudah harus pergi tidur, pekerjaan menunggunya esok pagi.

Suara dari dalam kamar mandi berhenti di susul Diluc yang keluar dengan hanya mengenakan kemeja hitam yang kancing teratasnya terbuka, memperlihatkan leher putih yang menggiurkan untuk digigit. Dia berjalan ke arah sofa menyampirkan ikat pinggangnya dan menaruh vision pyronya di meja tepat di samping dua gelas coklat panas mereka yang mulai mendingin, setelah itu Diluc menoleh pada Kaeya.

Kedua mata merahnya menyipit tidak senang, “Apa lihat-lihat?”

Kaeya meneyringai jahil, “Tidak,” jawabnya. Ia kemudian mengernyit, apa perasaanya saja atau Diluc memang terlihat semakin pucat, rasanya seperti sedang melihat orang mati.

Diluc mendengkus tidak terarik. Dia berjalan keluar dari kamar sebelum kembali lagi dua detik setelahnya dengan coat di tangannya. “Aku pinjam sofamu.”

Sofa?

Kaeya perlahan mendekati Diluc lalu dengan lembut meraih jemarinya dan menciumnya lembut. “Tidur bersamaku.”

Sepasang bola mata merah Diluc kembali menyipit. Dia tidak menolak tapi juga tidak mengangguk. Ekspresinya terlihat sangat jelas ragu-ragu.

Jadi dengan pelan dan hati-hati Kaeya meyakinkan Dilucnya. Ia tertawa kecil, “Aku janji tidak akan melakukan apapun padamu malam ini.”

“Kau janji?”

Kaeya mengangguk. Ia tahu itu sulit, apalagi setelah melihat Diluc yang tanpa pertahanan. Tapi yah, untuk malam ini ia akan berusaha menahan diri. Lagi pula mereka itu belum baikan.

Diluc menghela napas, membiarkan Kaeya menuntunnya ke arah ranjang tidur di dekat jendela yang berukuran cukup untuk dua orang, “Biarkan aku tidur dengan tenang malam ini,” gumamnya pelan.

“As you wish, Sunshine.”

 

 

Seperti yang sudah Kaeya janjikan, tidak ada yang terjadi. Mereka hanya tidur bersisian bahkan tidak berpelukan atau saling berhadapan. Kaeya melirik Diluc di sampingnya sekilas dan yang didapatinya bahkan hanya punggung dingin Diluc yang tertutup dengan rambut merahnya yang panjang. Ia menghela napas lalu membelakangi Diluc.

Ia mendesah kesal. Mencoba untuk tidur terasa mustahil untuknya malam ini, pikiran tentang sikap Diluc yang aneh sepertinya menjadi pemicunya untuk tetap terjaga. Setelah sekian tahun sejak pertengkaran hebatnya saat hujan lebat selepas kematian Master Crepus ini adalah kali pertama Diluc mau menurutinya tanpa perlawanan ataupun sindrian-sindiran menyakitkan yang disertai tuduhan, dan entah kenapa itu membuat Kaeya sedikitnya merasa tidak nyaman.

Tiba-tiba pikirannya buyar saat ia merasakan sesuatu menekan punggunya.

“Diluc?”

Ia menoleh sedikit kebelakang dan menemukan Diluc menyembunyikan wajahnya di punggungnya. Ada apa dengannya sebenarnya? Pikiran yang tidak menyenangkan mengganggu kepalanya dan itu semakin membuatnya frustrasi karena ia tidak tahu apa penyebab Diluc jadi seperti ini.

“Kaeya.”

“Hm?”

“Cobalah untuk mengontrol kebiasaanmu bermabuk-mabukkan, terutama jika kau sedang berada di Angel’s Share. Kau tahu, aku tidak akan selalu ada di sana untuk menendangmu keluar dan Charles pastinya tidak akan berani mengusirmu dengan kasar.”

Dengan hati-hati Kaeya mengubah posisi tidurnya, ia berbalik untuk menghadap Diluc langsung.

Sesaat Kaeya bisa melihat sorot mata Diluc yang meredup dari balik galapnya kamar sebelum dia menutup matanya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Kaeya yang hangat.

Ia mengirup dalam-dalam aroma lembut rambut Diluc yang khas lalu mencium puncaknya. “Kau tidak perlu khawatir, Sunshine, aku tidak pernah bermabuk-mabukkan disana jika kau tidak ada.” Kaeya kemudian melingkarkan kedua lengannya di pinggang Diluc lalu menariknya mendekat, memeluknya dengan erat, “Apa sesuatu terjadi saat kau berada di Snezhnaya?” tanyanya pelan.

Dan sentakkan kecil pada bahu Diluc menjadi jawaban yang cukup untuk Kaeya.

“Maukah kau menceritakannya padaku apa yang terjadi disana?”

Untuk waktu yang sedikit lama tidak terdengar jawaban apapun dari Diluc, dia malah semakin menenggelamkan wajahnya di dada Kaeya sebelum akhirnya Kaeya mendengar pelan isakan dari Diluc.

Seketika panik menyerang, “Luc?” Ia dengan segera mencoba melepaskan Diluc dari pelukkannya namun gagal. Diluc mencengkram baju depannya dengan erat. “Demi Barbatos, apa yang sebenarnya terjadi?”

Tidak ada jawaban, namun Kaeya masih mendengar isakan pelan.

Setelah tiga kali ia mencoba untuk melepaskan Diluc dan semuanya gagal akhirnya Kaeya menyerah. Meskipun panik menyerangnya ia tidak serta merta menarik Diluc dengan kasar hanya untuk menanyainya kenapa dia menangis, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan selama hampir bertahun-tahun lamanya.

Kaeya menghitung dalam hati, dan saat hitungannya mencapai sepuluh ia merasakan Diluc mulai tenang. Lelaki berambut merah itu menarik napasnya dalam-dalam lalu mengatakan sesuatu dengan suaranya yang parau.

“Maafkan aku.”

Matanya yang berwarna biru itu membulat, “Tidak, jangan meminta maaf, Luc.” Kurang lebih ia tahu kemana topik ini akan berlanjut dan Kaeya benar-benar merasa takut untuk mendengaranya. Karena tidak seharusnya Diluc yang meminta maaf.

“Aku menyakti perasaanmu beberapa hari yang lalu.”

Kaeya menggeleng, ia mengusap pelan kepala belakang Diluc, mencium puncak kepalanya dengan penuh perasaan, “Seharusnya aku yang meminta maaf”

“Dan maafkan aku karena meninggalkanmu.”

Kaeya menggeleng dengan kuat. Kali ini ia dengan hati-hati namun sedikit menuntut menarik Diluc menjauh dari dadanya. Ia sedikit bersyukur karena Diluc menurut dan akhirnya melepas cengkraman kuatnya pada baju depan Kaeya. Setelah tercipta jarak beberapa senti barulah Kaeya bisa melihat (meski samar karena gelap) wajah Diluc yang sedikit tersisa air mata di sudut matanya. Ia dengan lembut mencium mata kiri Diluc, lalu mencium mata kanannya, hidungnya, keningnya, sebelum akhirnya mencium bibirnya lembut cukup lama tanpa menuntut lebih.

Ia melepas ciumannya pada Diluc lalu mengusap pipinya dengan hati-hati, takut jika sentuhan tangannya itu bisa menghancurkan sosok yang saat ini terlihat begitu rapuh di hadapannya. “Aku mohon padamu, Luc, tolong jangan meminta maafku. Sejak awal akulah yang salah, aku tidak mendengarkanmu dan aku malah balik membentakmu lebih keras. Sungguh, aku menyesal, maafkan aku. Dan kau tidak perlu meminta maaf,” katanya penuh penyesalan. Ia menyatukan keningnya dengan kening Diluc, kembali mencium Diluc lembut lalu berbisik, “Tapi tolong, jangan tinggalkan aku lagi tanpa mengatakan apapun. Tetaplah disisiku.”

Diluc terpana. Dia menatap Kaeya lekat tepat di mata untuk sesaat sebelum akhirnya menunduk dan berbisik pelan, “Itu mustahil.” Setelah itu isakan kembali meluncur dari mulutnya yang bergetar.

Dengan perasaan yang campur aduk Kaeya mencium kening Diluc lama sebelum Diluc kembali menenggelamkan wajahnya kedalam pelukan.

“Dingin,” isaknya pilu, “Aku kedinginan, Kae.”

Kaeya tidak tahu kenapa Diluc berkata begitu, ia juga tidak tahu kenapa tubuh Diluc perlahan tapi pasti mengigil dan berubah dingin, namun meski begitu ia semakin membenamkan Diluc kedalam pelukannya dan menyelimuti tubuhnya. “Aku akan menghangatkamu,” bisiknya pelan.

 

 

 

Kaeya terbangun dengan sedikit tersentak saat suara ketukan pintu depan rumanya terdengar begitu keras. Ia mengerang sambil melirik jendela kamarnya, gelap.

Berapa lama aku tertidur, pikirnya. Ia mengerang kemudian mengusap matanya sambil berusaha duduk di kasur dengan setengah hati. Jemarinya tanpa sadar bergerak ke tempat dimana Diluc seharusnya berbaring semalam dan…kosong. Ia menoleh cepat, panik dengan segera menyerang saat ia sadar Diluc tidak ada di sampingnya, namun tidak lama setelah itu rasa paniknya berubah tenang saat ia masih mendapati coat yang tersandar di sofa dan juga pintu kamar mandi yang tertutup.

Kaeya mendesah lega, ingatan tentang apa yang terjadi semalam membuatnya sedikit dilanda ketakutan berlebih. Baru saat ia akan memanggil Diluc suara keras pintu yang di ketuk di depan rumanya kembali menyela. Kaeya berdecak, ia lupa. Dengan berat hati ia berdiri dan berjalan ke arah pintu depan, kali ini orang sialan mana yang mengganggunya sepagi ini.

“Kaeya!”

Keningnya mengernyit, Jean? Apa yang membuatnya datang di pagi buta begini.

Dengan segera Kaeya membuka selot kunci pintu rumahnya lalu menariknya hingga terbuka lebar. Ia seketika mematung di ambang pintu saat mendapati Jean berdiri dengan masih mengenakan gaun tidur bersama dengan Adelinde di belakangnya. Kepala maid Dawn winery itu menunduk dengan berurai air mata.

“Apa yang yang terjadi?” Firasat buruk dengan segera menyerang. Jantungnya bahkan tiba-tiba berdetak seperti sedang berlari.

Jean di hadapannya bergeser ke samping, matanya yang biasa menatap tajam kini meredup.

Tanpa sadar Kaeya menelan ludah. Ia tahu betul apa maksud dari tatapan Jean yang tidak seperti biasanya ini, meskipun ia berusaha untuk mencoba mengabaikannya tetapi Adelinde yang melangkah maju ke hadapannya dengan masih berurai air mata itu membuatnya tidak bisa lari.

Lengan kecil Adelinde gemetaran saat dengan perlahan meraih kedua jemari Kaeya. Dia meremasnya dengan erat, menahan isakannya dengan susah payah saat akan berbicara, “Ma-Master Diluc, dia—” meski begitu nada bicaranya tetap terbata-bata.

“Apa yang terjadi, Adelinde, katakan dengan jelas.”

Susah payah Adelinde menelan ludah, “Sir Kaeya, Ma-Master Diluc, dia…dia meninggal…” Lalu tangisnya pecah.

Seketika isi kepala Kaeya kosong sebelum ia tertawa tidak senang, “Jangan bercanda, ini tidak lucu.”

Adelinde menatap Kaeya cepat, air mata masih meluncur saat dia terpana menatap Kaeya sebelum menoleh pada Jean di sampingnya yang juga terpana dengan kening mengerut.

Dengan perlahan Kaeya melepas remasan jemari Adelinde lalu mundur selangkah.

“Apa maksudmu Kaeya?” tanya Jean.

“Diluc tidak mungkin meninggal, dia baru saja menghabiskan malamnya disini, bersamaku.”

Seketika wajah Jean dan Adelinde memucat.

Adelinde mundur teratur sambil menutup mulutnya dengan tangannya. Dan Jean tidak ada pilihan selain maju untuk menjelaskan semunya menggantikan Adelinde.

“Dengar Kaeya, aku tahu ini sulit untuk diterima, untukkmu juga untukku. Tapi percayalah saat aku mengatakan jika Diluc-senpai sudah meninggal. Aether dan Paimon menemukannya di Snezhnaya dengan salah satu Harbinger Fatui. Mereka sudah tidak bernyawa dan hampir sepenuhnya tertutupi badai salju saat Aether dan Paimon menemukannya.”

“Omong Kosong!” seru Kaeya. Ia kembali mundur, “Jika benar begitu lalu siapa yang semalam mengetuk pintu rumahku, menghabiskan secangkir coklat panas denganku, dan tidur disampingku, Jean?!”

“Aku tidak tahu! tapi ini bukanlah omong kosong! Saat ini Diluc-senpai sudah berada di Winery di kamarnya dan napasnya benar-benar sudah tidak ada, jantungnya sudah berhenti total! Aku mengatakan ini padamu karena aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Barbara bahkan masih disana, di Winery!”

Kaeya mundur lagi lalu masuk ke dalam rumahnya, ia melangkah lebar-lebar masuk ke kamarnya, mencari sesuatu, mencari Diluc.

“Luc! Diluc!”

Matanya kanannya bergerak liar menyisir seluruh kamarnya dan seketika ia membeku. Coat dan ikat pinggang yang seharusnya tergelatak asal di sofa lenyap tanpa bekas, bahkan pyro vision yang seharunya tergeletak di meja pun lenyap dengan hanya menyisakan dua gelas coklat panas sisa yang sudah lama mendingin dan juga setumpuk kertas kerjanya. Jantungnya seketika berdetak lebih kencang hingga membuat dadanya sakit. Panik menyerangnya dengan lebih hebat kali ini. Ia berjalan ke kasurnya, menyibakkan selimut di sisi yang Diluc pakai semalam untuk tidur, dingin. Ia lalu mundur dan berlari ke arah kamar mandi, membuka pintunya yang tertutup hanya demi mendapati kekosongan, seolah tidak pernah ada yang memakainya.

Hati Kaeya mencelos. Buru-buru ia berlari keluar tanpa sempat mengenakan alas kaki, melewati begitu saja Jean juga Adelinde yang masih berdiri di depan pintu rumahnya. Tujuannya hanya satu, Dawn Winery.

Tidak mungkin, tidak mungkin, ini sangat tidak masuk akal.

 

“Bukankah seharusnya kau berada di Snezhnaya?”

“Aku baru saja kembali.”

 

Ia ingat bagaimana ia menyentuh kulit Diluc yang terasa sangat dingin padahal dia mengenakan pakaian tebal. Kemudian kulitnya yang pucat tidak normal, seolah darah tidak pernah mengalir di nadinya.

 

“Kulitmu dingin sekali.”

 

Sifatnya yang lain dari biasanya.

 

“Cobalah untuk mengontrol kebiasaanmu bermabuk-mabukkan, terutama jika kau sedang berada di Angel’s Share. Kau tahu, aku tidak akan selalu ada di sana untuk menendangmu keluar dan Charles pastinya tidak akan berani mengusirmu dengan kasar.”

 

Kalimat panjangnya yang terdengar seperti pesan terakhir.

 

“Maafkan aku.”

 

“Dan maafkan aku karena meninggalkanmu.”

 

Kaeya berlari lebih cepat. Tidak peduli dengan peluh yang mulai membasahi keningnya atau rasa sakit di kakinya yang lecet dan mulai mengeluarkan darah karena tidak mengenakan alas, napasnya bahkan mulai terasa berat.

Diluc.

 

“Tapi tolong, jangan tinggalkan aku lagi tanpa mengatakan apapun. Tetaplah disisiku.”

“Itu mustahil.”

 

Jantungnya terasa seperti akan meledak saat akhirnya ia sampai di depan Dawn Winery.

 

“Dingin. Aku kedinginan, Kae.”

 

Kaeya mendorong kasar pintu depan Winery, mengabaikan Elzer yang berdiri dari balik pintu depan seperti sedang menunggunya. Ia kemudian kembali berlari ke lantai atas.

Napasnya naik turun tidak teratur saat ia tiba-tiba berhenti di anak tangga teratas. Pandangnya dengan segera bertemu dengan mata sembab Aether.

“Ka-Kaeya.”

Aether kemudian bergerak ke samping. Dia membuka pintu kamar di belakangnya pelan-pelan lalu kembali menatap Kaeya. Senyum yang biasa terlihat begitu hangat itu berubah kacau. Tanpa mengatakan sepatah katapun Aether mempersilahkan Kaeya untuk masuk.

Dengan langkah pelan Kaeya masuk ke dalam, melewati Aether, Paimon dan Barbara tanpa mengucapkan sepatah katapun. Langkahnya otomatis berhenti di depan tempat tidur yang di atasnya terbaring sosok yang semalam tadi menemaninya, menangis dan meminta maaf berkali-kali padanya.

Diluc terlihat seperti sedang tertidur lelap dimatanya, seolah dia akan terbangun kapan saja dan mengumpat kesal karena mendapatinya pertama kali saat dirinya membuka mata. Dengan hati-hati Kaeya menyentuh lengan kanan Diluc, dan seketika itu juga permukaan kulit yang dingin dan pucat juga napas yang tidak lagi ada menampar Kaeya dengan keras hingga membuatnya jatuh berlutut sambil menggenggam jemari dari sosok yang dicintainya setengah mati.

Dan detik itu juga seluruh dunianya hancur berkeping-keping.

 

 

 

 

 

Uap yang keluar dari embusan napasanya itu melayang-layang di udara menciptakan kabut tipis sesaat di depan mata sebelum akhirnya menghilang tersapu angin. Dingin, pikirnya. Lalu seketika ia terkejut, ah, ternyata aku masih bisa merasakan sesuatu. Namun selang dua detik ia berpikir begitu tubuhnya perlahan terasa kaku, lalu sebuah senyuman tipis terulas setelahnya. Ia sudah menduganya, mungkin bisa dikatakan jika ia sedang menunggu saat-saat ia tidak lagi bisa merasakan apapun, menunggu saat semuanya terasa kebas dan mati rasa.

Dengan susah payah ia menoleh ke samping kirinya tepat dimana sosok lain terdiam tidak bergerak.

Dia sudah lebih dulu pergi, batinnya, lebih cepat dari yang ia perkirakan.

Ia kemudian mengalihkan kembali fokusnya ke depan sana, pada langit malam tanpa awan yang penuh dengan bintang-bintang. Sekilas tatapan hangat dan senyuman panuh cinta dari seseorang melintas cepat di kepalanya, menciptakan rindu juga rasa bersalah secara bersamaan.

Ia ingat, ia belum meminta maaf, bahkan hal terakhir yang ia katakan pun bukanlah kata-kata yang menyenangkan untuk di ingat.

Senyumnya terulas tipis, pilu. Untuk yang terakhir, setidaknya aku ingin bertemu dan meminta maaf.

Tiba-tiba kantuk menyerang. Tubuhnya yang menggigil pun perlahan tapi pasti berhenti. Kali ini gilirannya untuk pergi.

Mulutnya bergerak tanpa suara,

 

Selamat malam,

 

Tatapannya perlahan meredup dan semuanya terlihat buram,

 

Kaeya.

 

Sebelum akhirnya gelap sepenuhnya.

 

Dan setelah itu salju turun dengan lebat.

 

 

 

 

You are my sunshine

My only sunshine

You make me happy when sky are grey

You never know dear how much I love you

Please don’t take my sunshine away

 

Notes:

Jujur saja, awalnya aku ragu karena yaaah ini cerita Kaeluc pertamaku untuk merayakan valentine masa iya angst hahahaha
tapi yah, daripada aku biarkan begitu aja di laptop jadi aku up aja
aku sengaja tidak menaruh Archive warning tentang character death di awal karena ingin memberi kejutan, meski pastinya ini sudah ketebak pas pertengahan cerita.
Dan lagi maaf jika pada akhirnya mereka berdua ooc terutama untuk Diluc

Saran
Coba deh baca ini pas pertengahan sambil denger lagu Song for Sienna dari Brian Crain dan rasakan sensasinyaa
 

ngomong-ngomong terima kasih sudah membaca ;D