Chapter Text
Shinobu adalah pembimbing yang alami. Bahkan dalam aturan dansa, yang posisinya lebih sebagai pihak yang dituntun oleh pasangan prianya. Tetapi dia selalu melampaui batasnya. Itulah yang Giyuu pikirkan tentang Shinobu. Jadi Giyuu hanya bergerak dan berputar dengan tenang saat Shinobu menuntun langkah-langkah tariannya. Sebab hanya Shinobu seorang yang ia perkenankan memimpinnya seperti ini.
“Se-seperti ini?” Giyuu mengabaikan debaran jantungnya sendiri yang merembes melalui nadi, dan berdengung keras di telinga.
Shinobu mengayunkan tangannya lagi. “Ya. Benar. Seperti itu!”
Senyuman Shinobu kian melebar. Lengan mereka terayun bersama. Kali ini ujung jemari Shinobu meluncur menggenggam milik Giyuu secara lembut dan erat.
Giyuu menyambut dengan mengangkat tangan lebih tinggi hingga ia bisa membalas genggaman Shinobu secara meyakinkan.
Satu langkah pertama. Dua langkah kedua. Tiga langkah ketiga. Giyuu menghitung ketika tiba-tiba Shinobu mengenali keraguannya.
“Lanjut, Tomioka-san. Nggak usah takut.”
Shinobu selalu bisa membaca dan mengenali dirinya seolah-olah ia adalah buku yang terbuka lebar.
Giyuu bertanya-tanya apakah suasana hatinya, atau apapun yang tercermin melalui mimik wajahnya memang sejelas tulisan dalam buku yang bertinta tebal?
“Kau tahu, Tomioka-san?” Shinobu mendorong ujung tumitnya dan membuat gerakan memutar.
Ada jeda yang sengaja ditamabahkan agar Giyuu menyelesaikan langkah tarian berikutnya.
“Esensi penting dari seni dansa ini adalah jiwa. Ekspresikan jiwamu ke dalamnya, Tomioka-san. Jangan merasa terikat saat melakukannya. Berekspresilah secara bebas. Itu kuncinya.”
Kata-kata itu begitu meyakinkan hingga semua keragu-raguan Giyuu lenyap dalam sekejap.
Sepanjang sisa waktu berikutnya, Giyuu membiarkan tangannya ditarik dan dituntun. Berputar dan berayun. Mengulangi gerakan sebelumnya, berpindah menuju step selanjutnya. Tertawa-tawa dan bergembira. Hingga matahari beranjak ke peraduan.
Giyuu tidak akan pernah melupakan momen itu. Bagaimana jantungnya berdebar lebih cepat setiap kali senyuman Shinobu terlukis seperti semburat cahaya senja. Sedikit pujian dan ejekan yang Shinobu lontarkan setiap kali Giyuu berhasil mengulangi gerakan miliknya tanpa kesalahan.
Ketika jari-jemari mereka saling meluncur dan bertautan bersama, itu meninggalkan bekas. Giyuu berangkat tidur seraya menciumi telapak tangannya dan mengira dirinya gila. Merasakan jejak hantu sentuhan ujung jari-jari Shinobu masih tertinggal di sana.
Jadi ketika malam berikutnya, mereka kembali menari, kali ini dalam aula besar. Dikelilingi oleh para lelaki tampan bersuit mengkilap dan perempuan-perempuan cantik bergaun mewah. Tetapi hanya kecantikan Shinobu yang paling memukau. Tanpa keraguan, Giyuu mengajak Shinobu berdansa.
Giyuu tahu Shinobu akan memberinya kesempatan untuk memimpin; menuntun langkah-langkah tarian mereka, seperti yang diajarkan sebelumnya. Ternyata itu mudah dan tidak sesulit yang dia bayangkan.
Bagian terbaiknya adalah pengetahuan bahwa Shinobu senang dia mengambil kendali atas dirinya, lalu membuat mereka sejajar. Di akhir langkah, Giyuu tak ragu untuk mencuri momen itu. Ketika satu tangannya meraih pinggang Shinobu dan mendorong punggungnya ke bawah. Lengan Shinobu melingkar erat di bahunya. Nyaris membuat mereka berpelukan. Ia menautkan bibir mereka dalam ciuman lembut yang penuh arti.
