Work Text:
Taehyung terlambat.
Mengigiti kuku jari kanannya gelisah sementara jari yang lain terus mengetuk roda kemudi tak sabar. Sesekali melirik Cartier yang nelingkar indah di pergelangan tangan kirinya lalu merapal serentetan umpatan setelahnya. Taehyung sudah terlambat berjam-jam, dan lampu merah di depan sana tidak kunjung berubah hijau juga.
Mengerang kesal, Taehyung menyenderkan tubuhnya pada jok empuk Hyundai-nya. Kepalanya terdongak, terasa berdenyut sebab sedari tadi Taehyung terus merutuki kebodohannya.
Hari ini adalah peresmian perdana toko bunga milik Jimin setelah pindah ke gedung yang baru di daerah Seongbuk-gu. Jimin mengundangnya dan beberapa sahabat mereka untuk makan malam sebagai perayaan. Meskipun Jimin menyuruh mereka untuk datang langsung ke restoran saat jam makan malam, tetapi Taehyung bersama yang lain sepakat untuk mengosongkan jadwal seharian penuh dan akan berada di toko sejak pagi untuk membantu Jimin.
Kenyataannya, Taehyung masih terjebak di jalanan menuju Seongbuk-gu padahal jam makan siang sudah hampir habis.
Semalam Taehyung baru sampai di apartemennya pukul tiga dini hari setelah lima hari berada di luar kota untuk menghadiri seminar-seminar berkaitan dengan penelitiannya terkait konservasi hewan langka di Korea bersama dokter hewan senior lainnya.
Saat dia pulang, Jimin sudah terlelap di kasurnya. Tentu saja, hari sudah hampir subuh dan Jimin tidak boleh terlambat berada di toko pagi-pagi sekali karena ada beberapa hal yang masih harus disiapkan sebelum toko resmi dibuka sehingga dia tidak mungkin tidur larut.
Jimin memang sempat membuka matanya sebentar ketika Taehyung bersiap tidur—mungkin terganggu dengan gerakan Taehyung saat dia merebahkan diri di kasur—menggumamkan kalimat aneh dan kembali tidur setelah berhasil mendapatkan kehangatan dengan membenamkan wajahnya di dada bidang milik Taehyung.
Taehyung tersenyum; mengeratkan pelukan, mengecup puncak kepalanya kemudian menyusul tidur. Memanfaatkan dengan baik tiga-empat jam sebelum pagi datang untuk mengistirahatkan tubuhnya. Singkat memang, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali bukan?
Taehyung tidur begitu tenang dan nyenyak. Sangat optimis dapat bangun pagi lantaran dia sudah menyiapkan semuanya. Memasang sepuluh alarm bahkan mengirim pesan singkat pada Jimin untuk membangunkannya nanti pukul tujuh sebelum pergi tidur. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Kecuali kadar tidur Taehyung yang kelewat nyenyak.
Membuatnya total lupa akan keoptimisannya untuk bangun pagi dan bangun tujuh jam kemudian.
Sepuluh alarm yang sudah disiapkan tidak ada yang berhasil menembus kesadaran Taehyung. Begitu pun Jimin yang dengan sengaja tidak membangunkannya, terlihat dari pesan berbunyi ‘Tidurlah lebih lama, Taetae <3’ yang muncul pada notifikasi Taehyung. Berbanding terbalik dengan belasan panggilan tak terjawab dan pesan-pesan berisi huruf kapital dari Jungkook dan yang lain.
Belum lagi panggilan mendadak dari senior yang mengharuskan dirinya untuk berada di rumah sakit selama dua jam lamanya.
Lampu hijau yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Taehyung langsung menginjak pedal gas lalu menjalankan mobilnya membelah jalanan Itaewon. Taehyung sempat mampir ke salah satu minimarket di dekat toko Jimin, membeli beberapa camilan sebagai permintaan maafnya karena datang terlambat.
Taehyung tiba di Seongbuk lima belas menit kemudian. Dari dalam mobilnya bisa melihat segerombolan orang mulai memasuki toko Jimin, yang artinya dia datang tepat saat waktu istirahat makan siang selesai.
Melepas sabuk pengaman, Taehyung pun segera keluar dari mobil tak lupa membawa kantung belanjaannya. Mengeluh kesal begitu panas matahari Seoul menyentuh kulitnya sebelum berjalan mendekati toko.
Angin sejuk menyapa tubuh Taehyung begitu dia melangkahkan kaki masuk melewati pintu. Taehyung langsung dapat mencium berbagai aroma harum dan segar dari bunga-bunga yang menenangkan—salah satu alasan mengapa Taehyung selalu suka dan betah berlama-lama di toko Jimin dari dulu.
Semua orang sibuk melayani pelanggan. Termasuk Jimin, yang tampak mempesona dengan kemeja hitam tanpa kerah dan apron cokelat kopi yang memeluk tubuh kecilnya dengan pas. Kepalanya sedikit menunduk sehingga Taehyung tidak bisa melihat seluruh wajah manisnya. Jimin tengah merangkai satu buket bunga dengan telaten di atas meja dekton tadi bersama salah satu karyawannya.
Jimin belum menyadari kedatangan Taehyung.
Berpikir bahwa Jimin terlihat sangat menawan di depan sana, Taehyung kemudian mengeluarkan ponsel, berniat akan memotret Jimin untuk diunggah di akun media sosialnya nanti tatkala sebuah suara menyapa indera pendengarannya.
“Kak Taehyung! Baru dateng?”
Taehyung menoleh ke samping dan mendapati Jiwoo, salah satu karyawan paruh waktu Jimin, tengah tersenyum padanya. Suara Jiwoo yang lumayan keras sepertinya berhasil menarik perhatian Jimin lantaran ketika Taehyung mengembalikan pandangannya, Jimin ternyata sudah beralih menatapnya sambil tersenyum. Rambut cokelanya sedikit terayun terkena hembusan angin dari penyejuk ruangan yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Taehyung balik tersenyum, melambaikan tangannya pelan sebelum menjawab pertanyaan Jiwoo.
“Hai, Jiwoo. Iya, gue kesiangan.” Taehyung tertawa hambar. “Yang lain di atas, kah?”
Jiwoo mengangguk. “Yap. Kami baru aja kelar makan siang.” Jiwoo nyengir. “Udah makan, Kak? Kalau belum naik aja, masih ada makanan kayaknya.”
“Oke, gue naik ka—”
“Wow, wow. Bapak Dokter satu ini bangun juga akhirnya.” Sebuah suara familier lainnya muncul memotong ucapan Taehyung. Melihat Jungkook dan Namjoon menghampiri, Jiwoo pun menganggukkan kepala sopan, pamit pada Taehyung untuk kembali bekerja.
“Lo tidur kaya orang mati, Tae. Jungkook gak berhenti ngomel dari pagi.” ucap Namjoon selepas mereka saling berpelukan singkat. Taehyung mengedikkan bahunya gugup; hampir keceplosan mengeluh bahwa Jimin tidak membangunkannya tadi pagi.
Yah, begini lah kalau backstreet. Harus super ekstra hati-hati saat berucap.
Taehyung tidak menjawab pertanyaan Namjoon, lebih memilih meladeni sambatan Jungkook yang kesal lantaranTaehyung tidak kunjung mengangkat panggilannya tadi pagi. Menanggapinya dengan permintaan maaf kemudian menceritakan sedikit agenda padatnya lima hari belakangan yang cukup membuatnya kelelahan.
Jungkook memaafkan Taehyung akhirnya, menatap Taehyung dengan wajah iba lantas berjanji akan sekalian membelikannya vitamin setelah ini.
“Mau kemana kalian? Pacaran?”
“Mungkin? Mau jalan-jalan bentar, sih, kata Joon ada toko kacamata bagus deket sini.” Jungkook menjawab seraya merangkul pundak yang lebih tua. “Mau ikut?”
“Hah, gak deh. Panas banget di luar.” Taehyung menggeleng. Bergidik ngeri membayangkan jika dirinya harus berjalan di bawah teriknya matahari. Dia tidak pernah tahan dengan panas dan pergi keluar dalam cuaca seperti ini bukanlah hal yang bagus. “Gue mau naik aja terus bantuin Jimin habis makan.”
Jungkook memicingkan matanya. “Mau bantun apaan, lo? Lo ‘kan payah sama bunga-bungaan?”
“Bantuin narik pelanggan, lah.” Ujar Taehyung menaik-turunkan alis sembari memasang ekspresi tengil andalannya selepas menyugar rambut yang kemudian dibalas dengusan malas oleh Jungkook.
Dua sejoli itu pamit pada Jimin sesudahnya dan beranjak pergi, meninggalkan Taehyung yang berdiri kikuk di tengah ruangan seorang diri. Dia berpaling; hendak naik ke atas. Tak lupa kembali memandang ke arah Jimin yang masih sibuk dengan rangkaian buket di tangannya.
‘Kamu mau naik?’ Tanyanya tanpa suara, balas menatap Taehyung.
Taehyung mengangguk, menjawabnya dengan gerakan bibir pula. ‘Iya. Nanti turun lagi bantuin kamu.’
‘Semangat, sayang.’ Tambahnya disertai dengan lemparan ciuman jarak jauh sebelum dia naik.
Jimin tertawa.
***
Taehyung kembali dari kamar mandi sehabis membasuh muka–sekalian mengecek penampilan–dan menemukan tumpukan daging dan beraneka makanan pendamping sudah tertata rapi di atas meja.
Akhirnya
Taehyung tidak pernah menduga menyambut pelanggan dan membersihkan toko yang kelihatan sepele—mereka tak mau ambil risiko menjadi sok tahu tentang urusan bunga—ternyata lumayan melelahkan juga. Apalagi toko yang semakin ramai menjelang sore hari tadi.
Tapi tidak masalah.
Taehyung mendapat tempat yang strategis tadi—berdiri tepat di sebelah Jimin. Mengusir rasa bosan pelanggan yang tengah menunggu pesanan mereka dirangkai dengan mengajak mereka bicara, sembari sesekali menggenggam tangan Jimin di bawah meja, atau menepuk pantatnya diam-diam. Bukan Taehyung namanya kalau tidak memanfaatkan setiap kesempatan yang ada.
Pilihan mereka jatuh pada salah satu restoran barbeku di Seongbuk-gu, tidak terlalu jauh dari toko milik Jimin. Kondisi restoran sudah mulai ramai saat ini. Berarti mereka datang di waktu yang tepat tadi. Kalau tidak, mungkin tidak akan mendapatkan meja dengan posisi cukup nyaman--berada di sudut restoran. Atau bahkan mereka akan kekurangan kursi mengingat mereka datang berombongan–tujuh ditambah empat karyawan Jimin, total sebelas orang.
Tersenyum puas, Taehyung mendudukkan diri di ruang kosong antara Seokjin dan Jimin saat Jungkook meletakkan samgyupsal di atas panggangan. Sekumpulan asap langsung menubruk wajah yang baru saja dibasuhnya. Taehyung benar-benar tidak boleh lupa untuk mencuci wajah dengan benar sehabis ini jika tidak mau wajahnya menjadi kusam selama beberapa hari ke depan.
“Capek banget ya?”
Merasakan ada tangan hangat yang melingkupi punggung tangan kanannya yang dingin di bawah meja, Taehyung menengok. Suara Jimin sangat pelan, nyaris berbisik. Tapi Taehyung masih dapat menangkap nada kekhawatiran yang ada. Taehyung lantas menggeleng, “Gak kok. Cuci muka biar segar aja ini muka.”
Jimin mengangguk paham. Menepuk punggung tangan Taehyung dua kali sebelum mengambil gelas berisi bir di hadapannya dan mengangkatnya. Dia berdeham agak keras meminta atensi.
“Ayo kita bersulang semuanyaaa.” ujarnya dengan senyuman lebar di wajah.
Semua sudah siap dengan gelas di tangan, termasuk Taehyung dan gelas berisi soda miliknya—Taehyung tidak bisa minum bir—tatkala Hoseok bersuara.
“Ini gak ada pidato ala-ala dari Jimin, nih?”
Jimin mengerang malas sementara yang lain bersorak setuju akan ucapan Hoseok. “Plis gak usah ngaco. Gue cuman bisa ngerangkai bunga sama tanaman, kata-kata gak termasuk sama sekali.”
“Loh, ya gakpapa. Kan ini acara perayaan lo, ngomong lah satu-dua kalimat harapan. Jadi kami bisa ikut doain. Siapa tau, doanya langsung dijabah besok sama Tuhan langsung?” Tambah Taehyung membuat Jimin memutar bola matanya malas.
“Lo ateis, Taehyung.”
“Oke bapak-bapak, nanti dulu debatnya ya maaf nih cacing gue udah demo rusuh banget di dalem.” Seokjin menyela, nada bicaranya khas. Dia memajukan tubuhnya menatap Jimin yang sebelumnya terhalang oleh tubuh Taehyung. Mengambil paksa gelas dingin dari genggaman Jimin untuk ditaruhnya kembali ke atas meja. “Yak, saudara Park Jimin dipersilakan untuk berdiri dan memberikan sambutan, baru kita bersulang. Cepeeettt.”
Jungkook yang duduk berseberangan dengan Taehyung bertepuk tangan seraya memekik heboh—agak sedikit terlalu heboh sebab kini orang-orang mulai menatap ke meja mereka. Tapi hal itu tidak mengganggu Jungkook sama sekali. Anak itu tetap menyemangati Jimin dengan heboh hingga Namjoon gemas dan mencubit pipi berisi itu.
Taehyung merangkul Jimin yang masih terduduk lesu di kursinya, ikut menyemangati dengan memberikan sedikit pijatan pada pundak sempit Jimin.
Jimin kembali mengerang panjang. Menghela napasnya pasrah sebelum bangkit dari kursi menggenggam gelasnya. Kali ini tidak hanya Jungkook, tetapi semuanya bertepuk tangan. Terdengar juga beberapa sorakan juga siulan sebelum semuanya diam, bersiap mendengarkan Jimin.
“Oke, selamat malam. Gue mau ngucapin terima kasih atas partisipasi luar biasa lo semua pada acara merecoki toko juga menguras dompet gue hari ini.” Jimin berhenti sejenak, memberi waktu bagi yang lain untuk tertawa (ya, dia sangat sadar bahwa ucapannya memang lucu).
“Kalian orang sibuk, tapi hari ini kita bisa full team, gue seneng. Khususnya Heejin dan Jiwoo yang besok pagi dadakan harus ketemu dengan dosen di kampus, maaf yaa gue malah nahan kalian keluyuran sampe malem gini.”
Terdengar sautan ‘siap kak!’ dari ujung meja, membuat Jimin tertawa.
“Gue… gak pernah nyangka hari di mana salah satu mimpi gue jadi kenyataan itu bener-bener datang. Jujur, sekarang rasanya masih kayak mimpi.”
“Jelas ini semua gak bakal jadi tanpa dukungan kalian semua. Makasih, ya, semuanya? Gue berharap kita bisa bareng-bareng terus, soalnya gue juga pengen ada di sana waktu mimpi kalian terwujud.” Ujar Jimin menatap hangat seluruh temannya satu per satu.
“Dan Taehyung,” nada bicara Jimin menggantung seolah sedang memanggil Taehyung, meminta Taehyung untuk menatapnya. Maka Taehyung lakukan itu, mendongakkan kepala dan menatap tepat pada netra Jimin.
Selama beberapa saat mereka terdiam mengunci pandangan. Saling mengagumi sekaligus saling menyalurkan rasa hangat di sana. Merasakan suasana haru yang mulai menyelimuti di tengah riuhnya restoran, Taehyung tersenyum lembut.
“Gue gak tau gimana cara nyampein yang bener, tapi gue amat bersyukur punya kalian, punya lo di sini yang selalu ada buat gue dalam keadaan apapun. Thank you so much.”
Jimin mengakhiri kalimatnya dengan senyuman lebar. Tangannya terulur membelai surai karamel Taehyung sebelum menunduk, menempelkan bibirnya ke bibir Taehyung yang lembab. Keduanya mendesah puas ketika akhirnya bisa merasakan kehangatan satu sama lain setelah lima hari lamanya. Taehyung tersenyum di sela ciuman itu; merasakan hatinya berdesir hangat.
Taehyung menggenggam tangan Jimin yang berhenti di rahangnya lalu membalas ciumannya. Mengecup, membelai lembut bibir kenyal nan panas milik Jimin dengan bibirnya. Posisinya sedikit canggung memang, tetapi bukan masalah berarti. Keduanya tetap larut dalam ciuman itu. Menikmati ciuman sederhana yang manis tanpa adanya tuntutan sama sekali di dalam sana.
Terlampau menikmati hingga tak mengindahkan napas tertahan dan keheningan yang mendominasi di sekeliling.
“Uh, g-guys…?”
Suara gugup Jungkook datang menginterupsi. Baik Taehyung maupun Jimin menghiraukan. Berpikir jika Jungkook memiliki sesuatu untuk diutarakan, dia bisa menyampaikan itu nanti. Setelah mereka puas melepas rindu satu sama la—
Taehyung mengernyit. Tunggu sebentar.
Jungkook?
Jungkook?
JEON JUNGKOOK???
Taehyung melepas tautannya langsung. Menatap Jimin yang bingung dengan pandangan horornya. Taehyung total beku, tidak ada nyali untuk bergerak satu senti pun. Kepalanya mendadak pening, dia bersumpah saat ini bisa mendengar dengan jelas betapa berisik jantungnya berdetak. Dan tampaknya Jimin menangkap sinyal panik itu karena sedetik kemudian ekspresi wajahnya tak jauh beda dengan Taehyung.
Mampus sudah.
Keduanya menelan ludah yang kali ini terasa puluhan kali lebih berat dari biasanya. Kemudian bersama menoleh, melempar pandangannya ke segala arah dengan perasaan luar biasa gugup.
Taehyung meringis canggung.
“Hai...?”
***
“DUA TAHUN?!”
Taehyung mengangguk pasrah sembari mengusap pelan telinga kirinya akibat baru saja diteriaki oleh Seokjin. Selepas insiden ciuman tidak disengaja tadi, mereka sepakat untuk menyimpan pembahasan dan menyantap makanan dahulu.
Heejin dan Jiwoo harus segera pulang sebelum larut agar tidak terlambat menemui dosen besok. Begitu juga dengan karyawan Jimin lainnya yang memiliki urusan tersendiri yang harus segera diselesaikan.
Suasana masih sedikit canggung saat mereka makan, khususnya bagi Jimin dan Taehyung. Tapi semuanya berusaha mengesampingkan hal itu dengan saling melemparkan candaan serta komentar-komentar ringan mengenai makanan di restoran ini.
Mereka tidak ingin membuat Jimin sedih di acara perayaan keberhasilannya.
Dan Taehyung sangat menghargai itu.
“Kacau parah. Gue kira yang pacaran Namjoon sama Jungkook doang di sini. Taunya…” Itu Hoseok yang berkomentar. Tidak berhenti menggeleng-gelengkan kepala dengan matanya yang melebar sedari tadi.
“Bentar-bentar. Kok bisa? Maksud gue, lo berdua selama ini pasti kencan, qtime berdua, dan gue yakin pasti kalian juga sering gantian tidur di apato satu sama, iya ‘kan?” Jungkook menegakkan tubuhnya. Taehyung mengangguk pelan. “Dan kami semua gak tau sama sekali. Dua tahun, Bos, itu lama banget. Kayak, anjrit, kok bisa?”
Yoongi mengedikkan bahunya. “Gue sempat curiga sebenernya pas Jimin masuk rumah sakit. Tapi abis itu mereka balik kaya biasa lagi, jadi gue pikir Taehyung cuman sedikit terlalu khawatir aja dari kita soalnya si Jimin ‘kan gak pernah opname.”
“Kalau pas itu mah kita semua juga khawatir.” Tambah Seokjin.
“Jimin, plis stop ngeliatin Taehyung dan jawab pertanyaan gue.”
Jimin terbahak menanggapi ujaran protes Jungkook. Dia merangkul bahu Taehyung dan menyandarkan kepalanya di sana. “Gue harus jawab apa, Jungkookie?? Ya bisa-bisa aja soalnya kami profesional.”
“Profesional. Wow. Aku tercengang.” Cibir Jungkook dan Jimin kembali tertawa.
“Gue akui, sih, kalian emang profesional. Gue sama kagetnya kayak Koo, masih deg-degan jujur tiba-tiba kalian ciuman.” Kata Namjoon melirik Taehyung. “Tapi kenapa kalian backstreet kaya gitu btw?”
Taehyung tersenyum. Dia sudah menduga mereka pasti akan melontarkan pertanyaan itu.
“Banyak drama, sih, waktu itu,” Taehyung terkekeh. “Tapi intinya kami takut. Takut kalau kami malah putus abis kasih tau ke kalian, terus ujungnya bikin pertemanan jadi renggang gara-gara kami. Makanya kami milih backstreet aja waktu itu.”
Jimin mengangguk. “Tapi itu dulu, sih. Satu setengah tahun ini kami banyak belajar daaaan, yap! Semua oke, guys.”
“Lah, harusnya kalian udah bisa dong kasih tau gue dari enam bulan lalu? Parah banget, makanan mahal gue terlambat enam bulan. Kriminal.” Ucap Seokjin yang langsung disetujui Yoongi.
“Tau, nih. Kenapa gak kasih tau dari enam bulan lalu?”
Jimin berdecak main-main dan memutar bola matanya malas sebelum menimpali. “Harusnya kalian anjir yang kasih gue makanan. Dasar para manajer kikir.”
“Udah terlanjur aja, sih, kalau itu mah. Gue suruh lanjut aja terus sampe nikah, seru kayanya ntar liat muka shock kalian pas dapet undangan kami nanti.” Jawab Taehyung santai sembari menandaskan sisa sodanya yang sudah bercampur dengan air lelehan es, membuat rasanya menjadi manis tanggung yang kurang enak.
Teman-temannya kembali menyoraki, menggumamkan kata-kata seperti ‘Huuu dasar payah!’ ‘Alasan gak mutu!’ yang ditukas langsung oleh Jimin hingga terjadi perdebatan konyol yang kembali mengundang atensi dari meja lain.
“Tunggu. Emangnya kalian kapan mau nikah?”
Satu pertanyaan lagi dari Hoseok dan semua kembali hening. Semua mata kembali tertuju pada Taehyung dan Jimin, menuntut jawaban.
Taehyung mengedikkan bahu, “Oh, kalau itu belum tau, sih. Tahun depan mungkin,” lantas menatap Jimin. “Mau gak?”
Jimin terdiam. Mencoba memproses maksud pertanyaan yang diutarakan Taehyung barusan.
Taehyung… tidak mungkin kan?
Seolah mengerti isi pikiran Jimin, Taehyung menganggukkan kepalanya pelan sembari tersenyum. Dan semburat merah pun mulai bermunculan, menghiasi pipi berisi milik Jimin. Tampak indah bersanding dengan freckles yang bertebaran di daerah tulang pipi hingga hidung Jimin.
Jimin cantik sekali.
“Apaan ini? Gue dilamar?” tanya Jimin. Taehyung tidak menjawab, hanya menatap Jimin masih dengan senyuman di wajahnya. “Sumpah, Taehyung?”
Jimin tertawa.
Sangat keras hingga air matanya mulai menumpuk dan akhirnya tumpah dengan perlahan. Melihat Jimin yang mulai terisak, Taehyung langsung menarik Jimin ke dalam pelukannya, meletakkan dagunya pada bahu sempit Jimin seraya mengusap lembut punggung Jimin; mencoba menenangkan kekasihnya yang setengah menangis dan setengah tertawa itu.
Suasana masih hening—yang lain tentu juga sama terkejutnya dengan Jimin mengenai lamaran dadakan Taehyung. Tentu saja, siapa yang tidak terkejut jika satu jam yang lalu baru mengetahui bahwa dua sahabatnya sudah berpacaran selama dua tahun dan sekarang salah satunya melamar yang lain di hadapan mereka?
Berbeda dengan saat keduanya tidak sengaja berciuman di depan mereka, kali ini mereka diam untuk memberi waktu lebih bagi Taehyung dan Jimin karena mereka tahu lamaran bukanlah hal yang remeh—meski eksekusi Taehyung kelewat santai; bahkan tidak ada cincin di sana.
“Wow, wow, wow. Dua kejutan dalam satu malam. Luar biasa sekali.” Buka Jungkook pada akhirnya setelah beberapa menit.
“Oke!” Seokjin menepuk tangannya dengan keras lantas berdiri. “Karena Jimin udah terima lamarannya, mari kita habiskan malam ini di tempat karaoke.”
“Emangnya Jimin udah bilang yes?”
“Lah, kalau belum terus ngapain pelukan? Di youtube ‘kan kayak gitu biasanya, mereka bakal langsung pelukan kalau salah satunya udah bilang iya.”
“Plis, lo sok tau banget, Kak.”
Mendengar perdebatan antara Jungkook dan Seokjin, Jimin dan Taehyung lantas tertawa bebarengan. Melepaskan pelukan mereka. Jimin meraih kotak tisu di hadapannya, mengambil seperlunya kemudian menyeka sisa-sisa air matanya.
“Gimana gimana?” Jungkook bertanya tidak sabar.
Jimin mengedikkan bahunya. “Yah, agak sayang ya gak ada cincin. Gue jadi gak bisa pamer dengan maksimal.” Jimin tertawa lagi saat ujarannya mendapatkan cibiran. Dia meletakkan kertas tisu tadi lalu beralih menatap Taehyung.
“Bodoh, sih, kalau gue tolak lamaran dokter ganteng kayak Taehyung. Jadi, yes gue terima” Katanya final lalu mengecup sayang pipi Taehyung berulang kali.
“Ewww.” Keluh Seokjin mengerutkan hidungnya sesaat, memasang ekspresi jijik. “Tapi oke mantap, terima kasih atas konfirmasinya bapak-bapak sekalian. Semoga kalian langgeng, oke? Sekarang kita pindah ke tempat karaoke, Taehyung yang traktir. Cus berangkat!”
Belum sempat Taehyung melayangkan protes, semua serentak bertepuk tangan heboh seraya berdiri dari kursinya masing-masing. Berjalan keluar restoran meninggalkan Taehyung serta Jimin yang termenung di kursi mereka.
“Emang bener-bener. Malaknya gak main-main mereka.” Taehyung mengadu, menatap tidak percaya punggung teman-temannya yang tengah bergurau di depan restoran. Jimin mengulurkan tangannya menepuk lembut pipi Taehyung seraya mendengarkan keluhan Taehyung.
“Yang tadi, kamu serius?”
Taehyung mengalihkan tatapannya. “Lebih dari serius. Cincinnya besok, ya? Kurang briefing soalnya tadi.”
“Pak Dokter Kim ini emang luar biasa, ya?”
“Yep. Dari dulu kalau itu.”
Jimin terbahak. “Oke, oke. Kita ngomong lagi nanti. Sekarang bayar makanannya terus nyusul daripada kena omel.”
Taehyung tersenyum, membubuhkan satu kecupan di pelipis Jimin.
“Oke, sayang.”
