Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-02-22
Words:
4,413
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
51
Bookmarks:
3
Hits:
750

bloomsday.

Summary:

Itadori Yuuji, si wajah baru di dunia model, jatuh cinta pada Fushiguro Megumi--model papan atas dari agensi saingannya.

Notes:

Jujutsu Kaisen (c) Gege Akutami. Tidak ada keuntungan dalam penulisan fanfik ini.

Work Text:

Tidak hanya Paris, London juga merupakan kota romantis untuk jatuh cinta. Pada musim semi, bunga-bunga bermekaran di sepanjang jalan. Betapa banyak dan indah. Sungai Thames menjadi obyek yang pas untuk menghabiskan waktu bersama pasangan, terlebih sambil menikmati keindahan kota dari atas London Eye.

Bukan tanpa alasan Yuuji datang ke London, dia diundang secara resmi oleh pihak Jujutsu Agency—agensi model yang menaunginya baru-baru ini—untuk menghadiri London Fashion Week, sebuah ajang bergengsi tempat berkumpulnya model-model papan atas. Yuuji yang baru terjun ke dunia model langsung merasa takjub karena undangan itu, ia tak bisa tidur sehari sebelum terbang ke London. Ini merupakan pengalaman pertamanya pergi ke luar negeri.

Yuuji tak bisa berhenti bergumam betapa menakjubkannya London. Dia akan mengabadikan setiap momen dengan kamera digitalnya. Pak Tua Nanami—direktur Jujutsu Agency—mengizinkannya berjalan-jalan sampai pukul lima sore, Yuuji tentu takkan menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia sibuk memotret pemandangan di sekitar Sungai Thames. Model-model satu agensi yang lain berpencar entah ke mana.

Dan di saat itulah, dia jatuh cinta, di atas tanah London.

Seorang lelaki berparas cantik berdiri di bawah pohon ek. Pandangan matanya tertuju pada ponsel dalam genggaman. Dada Yuuji berdebar kencang. Ia tidak tahu apakah ada manusia yang jatuh cinta secepat ini, tapi masa bodoh. Lelaki berparas cantik itu sudah membuat degup jantungnya berpacu cepat sedemikian rupa. Entah cinta atau hanya euforia perihal harapannya jatuh cinta di tanah London setelah membaca artikel betapa indahnya London untuk jatuh cinta, Yuuji memilih tak peduli. Yang ia tahu, jantungnya enggan kembali berpacu normal.

Yuuji mengarahkan kamera digitalnya ke arah lelaki itu. Klik. Ia berhasil memotretnya. Lelaki tersebut tampaknya mendengar suara kamera, sebab matanya kemudian beralih ke arah Yuuji. Kedua mata adam itu saling memandang. Ada sesuatu yang aneh dan asing, Yuuji merasa kepalanya memberitahu sesuatu:

Dia menemukan apa yang selama ini hilang, dia menemukan kedua bola mata indah itu dalam lelaki berparas cantik di bawah naungan pohon ek.

Lelaki itu terkesiap. Matanya membola. Betapa rupawan.

Hajime mashite,” sapanya seraya membungkukkan badan.

Yuuji tergugu. Ternyata lelaki yang diam-diam memenuhi hatinya itu berasal dari tanah yang sama: Jepang. Ia menjawab dengan gugup. Tangannya panas dingin. Lelaki itu tersenyum manis, senyum yang mampu melelehkan Yuuji sampai ke tulang-tulang. Yuuji memutuskan untuk mendekat, bagaimanapun caranya, ia ingin menciptakan obrolan dengan lelaki tersebut.

“Mengejutkan sekali bisa bertemu denganmu di sini, Yuuji-san.”

Yuuji mengerjap. “Kau tahu namaku?”

Lelaki itu mengangguk. “Namaku Fushiguro Megumi. Aku model dari Kaisen Agency. Aku sudah banyak tahu tentang sepak terjangmu di dunia model. Kau masih baru, tapi namamu langsung melejit dalam kurun waktu tiga bulan. Dan, aku tak heran kau diundang secara resmi ke acara London Fashion Week tahun ini.”

Yuuji terkesima. “Oh, wow. Aku tak mengira kau mengertahui banyak hal tentangku. Kupikir aku hanya model ingusan.”

“Direktur sering bicara tentangmu. Kau model ingusan dengan segudang kelebihan.”

Yuuji tidak tahu bagaimana harus berekspresi. Rasanya memalukan. Dia jatuh cinta pada agensi saingan sendiri. Kaisen Agency adalah saingan berat Jujutsu Agency. Direktur Nanami berkali-kali memperingatkan model-modelnya untuk tidak berhubungan dengan Kaisen Agency, tapi siapa peduli. Megumi tampaknya lelaki yang ramah dan baik. Dan rasanya, Yuuji pernah mendengar nama Fushiguro Megumi di suatu tempat. Entah di mana.

“Ngomong-ngomong,” kata Megumi, jeda. “Aku suka foto terbarumu yang diambil di Pulau Honshu. Otot-ototmu terbentuk sempurna, kau sudah tidak buncit lagi—maksudku perutmu.”

Wajah Yuuji memerah. “A-ah, jadi kau tahu.”

Megumi tertawa kecil. “Aku suka pipimu yang gembil saat menyanyi Peluk Aku Mama Peluk Aku Papa. Kau menggemaskan.”

Wajahnya semakin memerah. “Aku ingin melenyapkan masa kanak-kanak itu. Sungguh memalukan. Kupikir namaku tak seterkenal itu, maksudku, aku mantan penyanyi cilik yang tersingkirkan pop modern. Astaga, aku benar-benar tak ingin mengingatnya.”

Lelaki itu tersenyum manis. “Direktur tidak tahu kau pernah menyanyi sewaktu kanak-kanak, tidak banyak yang tahu. Barangkali hanya aku di Kaisen Agency yang mengetahuinya.”

Yuuji menghembuskan napas lega. “Baguslah. Itu memalukan. Rasanya aku ingin mengubur diriku sendiri. Aku konyol sekali waktu kecil. Megumi-san, jangan beritahu siapapun soal Peluk Aku Mama Peluk Aku Papa.”

Megumi terdiam. Sepasang matanya memandang Yuuji dalam dan misterius. Yuuji sedikit waswas, ia jadi teringat peringatan Direktur Nanami untuk tak dekat-dekat dengan para model Kaisen Agency, katanya mereka seperti serigala berbulu domba. Detik berikutnya, ia melihat Megumi tersenyum tipis. Lelaki itu tampaknya senang sekali tersenyum.

“Baiklah,” jawab Megumi. “Tapi dengan satu syarat.”

“Syarat? Syarat apa?”

Yuuji menelan ludah. Megumi mendekat, tubuhnya yang lebih pendek berjinjit demi berbisik lembut di telinga Yuuji. Ia merasa geli saat hembusan napas lelaki itu mengenai telinganya, seluruh syaraf terasa tegang.

“Kau akan tahu saat malam di tengah-tengah acara London Fashion Week nanti,” bisiknya seduktif.

.

.

Itadori Yuuji merasa dikutuk karena sudah melanggar peringatan dari Direktur Nanami. Pak Tua itu sepertinya tidak main-main. Para model Kaisen Agency benar-benar serigala berbulu domba. Yuuji menenggelamkan diri dalam bantal empuk di hotel yang disewa Jujutsu Agency. Teman sekamarnya, senior di dunia model, Nobara, tampak tak peduli dan memilih sibuk memasker wajah untuk persiapan besok.

Yuuji menggerung tak karuan. Berkali-kali dipukulinya bantal empuk itu. Besok dia akan hancur, meledak dan pecah berkeping-keping! Lelaki bernama Megumi itu pasti membocorkan masa lalunya di tengah-tengah acara London Fashion Week, semua model papan atas tidak akan lagi terkesan dengan segala sepak terjangnya. Mereka akan menganggap ia sebagai penyanyi cilik Peluk Aku Mama Peluk Aku Papa, bukan sebagai seorang Itadori Yuuji si wajah baru yang mempesona.

Dia benar-benar akan hancur!

Padahal Yuuji sudah ber-angan muluk. Ia pikir ia benar-benar jatuh cinta pada Megumi, lelaki itu begitu manis dan cantik—dan ramah. Senyumnya terus terbayang. Rasanya mustahil membayangkan Megumi yang manis itu berbuat jahat padanya di acara London Fashion Week nanti. Yuuji semakin tenggelam.

“Oi, apa kau mengenal beberapa model dari Kaisen Agency?” tanyanya suram.

Nobara sedang mengenakan masker di bagian kening. “Secara pribadi, tidak. Aku hanya tahu nama-namanya. Memangnya ada apa? Kau bertemu salah satu dari mereka? Jika benar begitu, saranku: lebih baik kau berdoa untuk kelangsungan kariermu di dunia model.”

Yuuji merutuki kebodohannya. “Apa mereka sejahat itu?”

Nobara mendelik. “Kau masih bertanya?! Sudahlah, kau berdoa saja. Dan, satu lagi, jangan mengajakku mengobrol, oke? Aku tidak mau membuat masker di wajahku retak.”

“Satu pertanyaan lagi, kumohon! Apa kau mengenal siapa itu Fushiguro Megumi?”

Nobara tak menjawab. Tangannya mengibas-ngibas, tanda bahwa gadis itu sudah tidak mau diganggu. Yuuji merengut. Ia memutuskan untuk ikut mengenakan masker, ia tidak mau wajahnya terlihat kusut besok.

.

.

London Fashion Week benar-benar di luar ekspektasi.

Aula indoor yang megah di daerah Knightsbridge, London Barat, disulap menjadi ruangan yang elegan dan dipenuhi lampu-lampu besar dan tirai beludru berwarna emas. Meja-meja dipenuhi wine dan minuman beralkohol lain. Pelayan yang menyodorkan minuman tidak berpakaian sembarangan. Semua orang yang ada dalam ruangan itu berpakaian selayaknya model papan atas—tak terkecuali si pelayan. Semuanya tampak elegan dan mewah—dan tentu saja, sempurna!

Yuuji mencoba bersikap selayaknya model gemilang, walau kadang ia tak mampu menahan mulutnya untuk tak terbuka karena terpesona pada dekorasi ruangan yang luar biasa. Para model banyak berjejal, didominasi oleh kaum perempuan. Mereka mengenakan pakaian yang mahal. Mereka terlihat anggun dan mempesona. Model-model mancanegara berada dalam satu ruangan, asyik berbincang dan berkenalan.

Yuuji si anak baru sibuk berbenah diri, luar biasa gugup. Sampai seorang perempuan bermata coklat keemasan menyentuh pundaknya, perempuan itu tersenyum. Yuuji mencoba tersenyum dengan benar—ia tak mau senyumnya terlihat aneh karena terlalu gugup.

Enjoy the party, Gentleman,” katanya dalam bahasa Inggris. Mata perempuan itu berkilat jenaka. “Siapa namamu? Kau tampak asing.”

“Namaku Itadori Yuuji, aku memang baru diundang ke acara semacam ini.”

“Oh, orang Jepang. Kau mengenal Maki Zennin?”

“Tidak, I mean, yes. Dia seniorku. Kami berbeda agensi, dia berada dalam naungan Queen Agency, satu manajemen dengan Kaisen Agency.”

Yuuji merasa lega ia mengetahui beberapa model papan atas dari Jepang. Ia jadi tak terlihat bodoh di hadapan perempuan bermata coklat keemasan itu.

“Oh, ya, namaku Antonina Vasylchenko, aku dari Ukraina. Senang berkenalan denganmu.”

“Senang berkenalan denganmu.”

Antonina berlalu, perempuan itu menghampiri temannya. Mereka bicara dalam bahasa yang tidak Yuuji mengerti—barangkali mereka bicara dalam bahasa Ukraina. Pak Tua Nanami mengirim pesan, katanya Yuuji harus bisa beradaptasi dengan sekitar, kalau bisa, menggandeng salah satu model terkenal dan berfoto bersama. Itu bisa menaikkan rating-nya di dunia model.

Yuuji mencoba mempraktikkan saran dari Nanami. Dia berkenalan dengan banyak perempuan, mereka terlihat ramah dan terbuka, ada pula yang acuh tak acuh. Perempuan asal Inggris tampak selalu menjaga jarak, entah kenapa. Ia terus berusaha berkenalan, mendapatkan teman yang cocok dan mau diajak berfoto bersama.

“Kau dari Jepang? Aku suka sekali ramen. Aku pernah ke Tokyo enam bulan yang lalu untuk pemotretan dan aku ditawari makan ramen. Sampai sekarang, rasa ramen yang unik dan beragam itu masih terbayang dalam mulutku,” kata Nastya Ivanova, model asal Rusia.

Mereka lalu bicara seputar makanan khas Jepang. Nastya tampak antusias dengan pembicaraan mereka, perempuan itu terlihat senang mengobrol dengan Yuuji. Mereka lalu mengobrol tak hanya soal makanan, tapi juga merambat ke karier dan pengalaman di dunia model. Pada akhir obrolan itu, Yuuji sukses berfoto bersama Nastya, mereka bahkan saling mengikuti di instagram.

“Tengah malam nanti akan ada fashion show di karpet merah, model-model papan atas berlenggak-lenggok di sana dengan tema pakaian Alam dan Lingkungan Sekitar. Pastikan kau duduk bersamaku saat menontonnya nanti,” ujar Nastya diakhiri senyum.

“Ya, tentu saja. Dengan senang hati.”

“Saudaraku akan tampil di sana, kau tahu Sasha Pivovarova?”

Yuuji mengerjap, berpikir sejenak. “Well, yeah, of course. Dia model paling famous dari Rusia. Eh—tunggu, jadi kalian bersaudara?”

Nastya mengangguk mantap.

Yuuji tak bisa menghilangkan rasa takjub.

“Baiklah, aku harus bergabung dengan agensiku. Pastikan kau duduk di deret kelima, oke?”

“Tentu.”

Nastya berlalu. Yuuji menghela napas lega. Ia mengecek pemberitahuan di instagram. Banyak sekali yang memberi komentar positif di fotonya dengan Nastya. Ia tersenyum senang.

“Sepertinya kau mulai menikmati acara ini, Yuuji-san.”

Yuuji mematung. Ia ingat dengan suara lelaki ini. Fushiguro Megumi! Dia menoleh dan mendapati lelaki itu berdiri di belakangnya dengan senyum manis tersungging di sana. Yuuji mulai berdoa. Masih setengah jam menuju angka dua belas malam, dia tidak boleh hancur sebelum bisa duduk bersisian dengan Nastya.

Megumi tiba-tiba tertawa kecil. “Astaga, aku tidak akan memakanmu.”

Yuuji tersenyum miring. Ia tahu senyumnya terlihat aneh. Megumi menyesap sampanye dalam genggaman dengan gerakan anggun. Lelaki itu mengenakan tuksedo hitam berbalut permata di bagian depan, dasinya berwarna putih dengan motif mata—banyak sekali mata. Tampak elegan. Jantung Yuuji kembali berdegup kencang. Ini aneh, benar-benar aneh. Ia sama sekali tak berdebar seheboh ini saat mengobrol bersama Nastya ataupun model-model lainnya.

“Untuk syarat yang kuajukan kemarin,” katanya, jeda. Yuuji berkeringat dingin. Megumi memandangnya dengan sepasang mata bulat. Bibir tipisnya terbuka, mulai kembali bicara. “Aku berubah pikiran. Aku takkan memberitahunya di tengah-tengah pesta—pada jam dua belas nanti—tapi aku ingin memberitahunya sekarang.”

“E-eh?”

“Untuk itu, kau harus ikut denganku.”

“Jangan bercanda!”

Yuuji tidak tahu bagaimana harus bereaksi saat tiba-tiba Megumi menarik paksa tangannya. Mereka keluar ruangan. Udara dingin Knightsbridge langsung menyapa kulit mereka. Yuuji mencelos mengingat janjinya dengan Nastya sudah pasti tak bisa ia tepati.

.

.

Fushiguro Megumi menculiknya.

Mereka melaju cepat di jalan raya kota London yang mulai sepi. Yuuji tidak banyak bicara. Dia hanya duduk, menyamankan diri, dan menyesali kebodohannya berkali-kali. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu. Saat ini Yuuji seharusnya duduk di samping Nastya, melihat acara fashion show para model papan atas, dan mengomentari berbagai macam pakaian yang dipamerkan.

Tapi Yuuji justru terjebak di dalam mobil bersama Megumi. Ia mendesah beberapa kali, namun, anehnya, hati kecilnya berkata tidak apa-apa. Megumi takkan mencari masalah. Lelaki semanis itu tidak mungkin tiba-tiba membunuhnya dengan pisau lipat dan menenggelamkannya di Sungai Thames, kan? Yuuji menggeleng-gelengkan kepala. Dia terlalu paranoid.

Mobil berhenti di parkiran sebuah apartemen kumuh. Yuuji ragu dugaannya meleset. Siapa tahu Megumi akan membunuhnya di apartemen ini.

“Di mana ini?”

“Kita di Hampstead.” Megumi menjawab dengan nada biasa. Lelaki itu tengah membuka sabuk pengaman. Yuuji melakukan hal serupa meski ia tidak tahu di mana Hampstead itu, apakah masih di kota London atau justru mereka terdampar di kota asing yang bahkan tidak Yuuji ketahui namanya.

Mereka lalu masuk dan menyewa kamar untuk satu malam. Yuuji tidak tahu apa yang terjadi dengan otaknya, tapi ia terus-menerus mengikuti langkah Megumi sampai mereka berhenti di depan pintu kamar bernomor 14. Lelaki manis itu membuka pintu kamar. Mereka lalu masuk. Megumi menguncinya dari dalam. Yuuji mulai waswas.

“Jadi, apa syarat untuk membungkam mulutmu?”

Lelaki bermarga Fushiguro tersebut membuka jasnya. Megumi kini hanya mengenakan kemeja tipis dan celana hitam panjang.

“Kau benar-benar ingin tahu?”

“Ya, untuk itulah aku mengikutimu kemari.”

“Aku jadi penasaran, apa sebenarnya yang membuatmu begitu tak ingin mengekspos kehidupan masa kecilmu. Kau tahu, Yuuji-san, menjadi penyanyi cilik bukanlah sesuatu yang memalukan.”

“Kau tidak mengerti. Aku … aku gemuk sekali waktu itu.”

Megumi terdiam, memandang. Yuuji gemas.

“Cepat, katakanlah apapun syaratnya. Aku harus kembali ke Knightsbridge!”

“—dan menonton fashion show bersama model cantik dari Rusia itu?”

Yuuji terkesiap. “Bagaimana kau bisa tahu?”

Megumi membuka kancing kemeja paling atas. Lelaki manis itu tersenyum, tak menjawab. Tapi ada sesuatu yang aneh pada senyum itu, bukan senyum misterius ataupun ganjil, senyumnya kali ini seperti senyum menahan sedih. Yuuji mematung saat jari-jemari lentik Megumi menyentuh pundak, leher, dagu sampai bibirnya. Ia bahkan menahan napas.

“Penuhi aku.”

“H-Hah?!”

Megumi memeluknya dalam dekapan erat yang lembut. “Aku tahu kau tertarik padaku saat kita pertama kali berjumpa. Aku tahu diam-diam kau memotretku. Aku juga tahu kau seorang biseksual. Jadi, bukan masalah apabila malam ini kau dan aku ber—“

“Tunggu dulu!” Yuuji memotong. Ia tidak mengerti bagaimana bisa pertemuannya kemarin akan menjadi serumit ini. Yuuji mendorong tubuh Megumi. Napasnya bahkan memburu. “Apa kau menjebakku?! Ini tidak terdengar seperti syarat untuk menutup mulut.”

Lelaki itu tersentak. Sepasang matanya yang dihiasi bulu lentik melebar sempurna. “Apa maksudmu? Apa kau pikir aku sejahat itu?”

“Tentu saja. Kau dari Kaisen Agency!”

Megumi menelan ludah. Wajahnya menyiratkan kesedihan. “Lantas, kalau aku pindah ke agensimu, apa kau akan menerimaku?”

Yuuji berujar pelan. “Aku … aku tidak sedang bergurau.”

“Aku serius,” timpal Megumi penuh penekanan.

Tiba-tiba Yuuji merasa sulit bicara. Sepasang mata Megumi menguncinya. Lelaki berparas cantik sekaligus manis itu melangkah mendekat, kedua tangannya melingkar di bahu Yuuji. Tak lama setelah itu, bibir mereka bertemu dalam ciuman lembut.

“Aku menyukaimu bahkan sebelum kita bertemu sore itu.” Kata-kata Megumi menggema, memenuhi ruang di kepalanya. Yuuji hilang kendali. Pacu jantungnya semakin kencang dan keras. Mereka menghabiskan malam berdua, di atas ranjang dengan sprei bermotif bunga-bunga. Yuuji sudah tidak peduli lagi dengan apapun. Megumi berhasil mendobrak paksa hatinya.

Malam itu, bulan bersinar terang. Cahayanya masuk melalui celah jendela, menerangi dua tubuh lelaki telanjang dalam keremangan.

.

.

‘Kau tahu model Kaisen Agency bernama Fushiguro Megumi? Kudengar semalam dia check-in di hotel dengan seorang pria.’

‘Itu bukan hal yang aneh. Minggu lalu aku memergokinya berciuman di bar kumuh daerah Kabukichou!’

‘Dengan seorang pria?”

‘Tentu saja! Semua model di Kaisen Agency tahu Fushiguro Megumi menyukai laki-laki!’

‘Apakah itu cara dia bertahan dalam dunia model?’

‘Entahlah. Siapa yang tahu. Bahkan, mungkin saja, dia pernah melakukannya dengan Pak Direktur yang terkenal diktator itu.’

‘Jangan menyebar gosip!’

‘Hey, yang kita bicarakan adalah Fushiguro Megumi. Fushiguro Megumi yang itu!’

.

.

Yuuji terbangun dan mengingat semuanya—obrolan-obrolan teman sesama model di Jujutsu Agency tentang Fushiguro Megumi. Saat itu, Yuuji hanya diam mendengarkan. Ia tidak tahu siapa itu Megumi, jadi, ia hanya menyimaknya.

Yuuji terbangun. Megumi masih lelap di sampingnya. Wajah lelaki manis itu semakin manis saat tidur. Yuuji menghela napas kecewa. Semalam sempat tersirat dalam benaknya untuk mempercayai kata-kata Megumi bahwa lelaki itu benar-benar menyukainya. Sekarang, rasanya terdengar bodoh. Yuuji berpikir ia hanya satu dari sekian banyak lelaki yang tidur dengan Fushiguro Megumi. Ia merasa dimanfaatkan.

Yuuji beranjak dan mengenakan pakaian. Dia menelepon Nobara untuk menjemputnya di Hampstead, untunglah gadis itu sudah tahu banyak seluk-beluk London. Nobara datang tiga puluh menit kemudian. Ternyata jarak apartemen itu tidak terlalu jauh dengan hotel yang disewa Jujutsu Agency.

“Apa yang kau lakukan? Bermalam dengan model mana? Apakah dia cantik?”

Nobara tak henti merecokinya dengan berbagai pertanyaan. Yuuji merengut malas. Ia jadi teringat Nastya. Perempuan itu pasti marah. Ia segera mengecek instagram. Nastya meng-unfollow instagramnya. Yuuji semakin murung.

“Nobara, kau tahu Fushiguro Megumi?”

“Oh, astaga.” Nobara yang sedang mengemudi tampak kaget. Sepertinya gadis itu sudah tahu ke mana arah pembicaraan mereka.

“Aku tidur dengannya semalam.”

Nobara tidak bertanya lebih jauh. Mereka sepakat untuk diam.

.

.

Mereka tidak bertemu lagi. London Fashion Week sudah berlalu sejak satu bulan lalu. Kini Yuuji kembali pulang ke Tokyo, menjalani aktivitas seperti biasa, melakukan pemotretan di sela-sela jadwal kuliah yang padat. Nobara tampaknya tidak membocorkan perihal malam di Hampstead itu pada siapapun. Lagipula Yuuji tidak terlalu peduli.

Sekarang, Yuuji tengah sibuk mengerjakan tugas-tugas mata kuliah akibat ketidak-hadirannya selama seminggu. Ia ingin menyelesaikan tugasnya secepat mungkin sebelum terbang ke Kamakura untuk melakukan pemotretan di sana. Dia berusaha mengabaikan Megumi dalam pikiran dengan menyibukkan diri sendiri. Walau itu tak sepenuhnya berhasil.

Fushiguro Megumi benar-benar sukses membuat seorang Itadori Yuuji kehilangan semangat. Bayangan mengenai lelaki itu kerap muncul menjelang tidur. Yuuji tidak mengerti, padahal dia tahu dia hanya dimanfaatkan, sepatutnya sangat mudah baginya untuk melenyapkan wajah Megumi dalam kepala. Yuuji berkali-kali memantapkan diri dalam hati; dia ditipu habis-habisan. Tapi Megumi enggan pergi dari pikiran.

Aku menyukaimu bahkan sebelum kita bertemu sore itu.

Kata-kata Megumi begitu dalam dan menghipnotis. Yuuji tidak bisa melupakannya begitu saja. Dia berhenti mengetik dan memutuskan untuk mematikan laptop. Satu jam lagi akan ada pertemuan penting antara model-model dari Jujutsu Agency dan Kaisen Agency. Barangkali saling memamerkan kharisma dan pakaian mahal seperti biasa. Yuuji mengeluh. Dia tidak mau datang seandainya Nanami tak memarahinya—dan mengancamnya. Kata Nanami, dia adalah si wajah baru yang paling dinantikan.

Wajah baru apanya. Sudah hampir sepuluh bulan sejak terakhir kali dia menjadi model. Yuuji merengut kesal. Namun tetap pergi ke acara pertemuan antar model itu.

Nobara sibuk memamerkan jam tangan barunya, Maki dengan topi baru dan Inumaki yang tak banyak bicara. Yuuji datang dengan tampang lesu. Penata rias langsung menyeretnya ke belakang ruangan untuk dipolesi berbagai macam kosmetik agar terlihat lebih segar.

“Kau ada masalah?” tanya si penata rias sambil menyisir rambutnya lalu menyemprotkan hair-spray.

“Banyak sekali.”

Wanita itu tertawa. “Kau masih muda, seharusnya enerjik dan penuh semangat.”

“Kau tidak bilang begitu pada Inumaki.”

“Dia lebih tampan kalau diam.”

Yuuji tertawa. “Benar juga.”

“Nah, sekarang kau sudah tampan. Bergabunglah dengan teman-temanmu dan sapu bersih model-model sombong dari Kaisen Agency itu! Ganbatte!”

Mendapat suntikan semangat dari penata rias, Yuuji sedikit merasa bersemangat. Dia melangkah tegas menuju aula tempat diadakannya pertemuan antar model. Yuuji merasa menjadi pusat perhatian. Matanya mencari-cari sosok manis di antara model Kaisen Agency, namun ia tidak menemukannya.

“Kudengar Fushiguro Megumi hengkang dari dunia model,” kata Noritoshi sebelum menyesap tekuila.

“Sayang sekali. Model sekaliber seperti dia sangat disayangkan apabila berhenti dari dunia model. Dia punya modal wajah yang manis namun gahar. Kabarnya dia juga sering berfoto cross-dress sebagai wanita, kau tahu, model androgini sedang banyak diminati di Eropa.” Mai menimpali.

Yuuji mendekat ke arah sekumpulan model satu agensinya yang sedang bergosip. “Noritoshi-san,” panggilnya pada Noritoshi. “Kau tahu dari mana Megumi berhenti menjadi model?”

“Aku tahu dari temanku. Dia teman dekat Megumi. Memangnya ada apa?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa.”

“Oh, Yuuji—“ Noritoshi bicara lagi, namun suaranya terdengar samar-samar. Yuuji tidak terlalu mendengarkan, ia lebih memilih melangkah pergi.

Dalam acara pertemuan sesama model itu, Yuuji duduk bersisian dengan Inumaki. Keduanya tak banyak bicara, tidak pula menikmati acara. Model-model Kaisen Agency melintas bolak-balik melewatinya.

.

.

Rasanya seperti mimpi.

Itadori Yuuji mengusap-ngusap kedua mata, dengan jeli ia kembali memfokuskan pandangan pada sesosok lelaki yang tengah duduk di lantai—tepat di depan pintu apartemennya. Jantung Yuuji berdebar keras. Padahal sudah satu bulan mereka tidak bertemu, tapi entah kenapa, reaksi jantungnya tak pernah berubah. Ia masih berdebar, begitu keras. Kencang.

Fushiguro Megumi ada di depan pintu apartemennya ketika Yuuji baru pulang dari acara pertemuan model.

Yuuji menghembuskan napas banyak-banyak. Dan sekarang, lelaki manis itu lelap dengan wajah tertunduk. Ada tas besar di sampingnya. Yuuji tidak tahu dari mana Megumi tahu tempat tinggalnya. Ia jadi teringat dengan kata-kata Noritoshi yang begitu samar. Apakah Noritoshi baru saja memberitahunya bahwa pria itu memberitahu tempat tinggalnya pada Megumi? Itu terdengar masuk akal.

Ia masih mematung. Berdiri dengan wajah bingung. Apa yang harus dia lakukan? Membangunkan Fushiguro Megumi? Tapi tampaknya lelaki manis itu sangat mengantuk. Dan betapa sial, wajahnya yang terlelap seribu kali lipat lebih manis. Yuuji dilema. Diam-diam sesuatu dalam hatinya merongrong: Dia penipu! Lelaki penipu itu sekarang ada di depanmu! Hajar dia!

Menghajar Fushiguro Megumi? Yang benar saja. Hanya membangunkan pun rasanya enggan, apalagi menghajar. Terlalu mustahil.

Yuuji berdeham. Megumi langsung terbangun. Matanya terbuka lebar, sedikit memerah. Wajahnya tampak pucat.

“Yuuji-san…” suara lelaki itu sangat lembut. Yuuji kehilangan kata-kata. Ia tahu wajahnya saat ini pasti terlihat aneh. Megumi perlahan berdiri, lelaki manis tersebut menepuk-nepuk bagian bokong celananya. Mata mereka kembali bertemu. Yuuji menelan ludah.

“Aku menunggumu sedari tadi,” katanya lagi. Yuuji mengerjap. Megumi menggigit bibir. “Yuuji-san…” lelaki itu memanggilnya lagi.

“Y-ya?” dan dengan tolol, Yuuji menjawab gugup.

“Aku menyukaimu.” Wajah Megumi memerah sampai ke cuping telinga. Jantung Yuuji berdebar semakin gila.

Tidak, tidak. Lelaki di hadapanku adalah penipu! Aku harus bisa menguasai diri!

Yuuji tertawa sarkastik, padahal tangannya bergetar gugup. “Jangan bercanda.”

“Aku tidak bercanda. Aku menyukaimu sejak dulu. Aku mengidolakanmu!” sepasang mata Megumi berkilat penuh keyakinan.

Yuuji berdecak kesal. Ia memutuskan untuk menyingkirkan Megumi yang menghalangi pintu apartemennya. Lelaki itu tampak kaget. Yuuji mencoba tak peduli. Sial, sial, siaaal! Tangannya semakin bergetar saat mencoba membuka kunci pintu. Megumi menunduk sedih saat Yuuji berhasil membuka pintu dan masuk ke dalam.

Tiba-tiba saja, sesuatu yang berat dan besar dilempar ke arah Yuuji. Itu tas yang dibawa Megumi. Yuuji memandang tak mengerti. Megumi menunduk, bibirnya bergetar.

“Aku … demi Tuhan, aku menyukaimu. Sejak kecil, aku selalu kagum padamu. Kau bertubuh besar tapi tetap percaya diri ketika menyanyi. Kau masih terus menyanyi walau CD-mu tak laku di pasaran. Kau … kau si gendut yang tidak tahu kapan harus berhenti berusaha. Aku menyukaimu, Yuuji-san, suka sekali.”

Kening Yuuji mengerut, menciptakan barisan parut. Dia sangat sensitif dengan kata gendut ataupun gemuk—dan besar. Yuuji punya pengalaman buruk dengan kondisi tubuhnya yang dulu gempal. Sebagai penyanyi cilik, ia sama sekali tak dilirik oleh stasiun televisi. Dia juga harus menerima ejekan dari teman-temannya yang kurus dan yang lebih menyebalkan adalah, banyak perempuan tidak mau menerima cintanya. Semua itu karena dia gemuk.

Yuuji tertawa hambar. “Berhenti mengolok-olok masa laluku. Silakan kau sebar gosip apa saja di agensimu untuk memperburuk karierku di dunia model, aku sudah tidak peduli.”

“Apa hanya itu yang kau pikirkan tentangku? Apa aku selalu jahat di matamu hanya karena aku berada di Kaisen Agency?” suara Megumi terdengar lirih. “Lagipula … lagipula aku sudah keluar dari dunia model. Aku sudah bukan lagi Fushiguro Megumi dari Kaisen Agency, sekarang aku hanya Fushiguro Megumi, lelaki biasa yang menyukaimu.”

Yuuji tersentak. Ia baru ingat. Ternyata benar, Megumi sudah berhenti di Kaisen Agency. Ia tersenyum—merasa lega entah karena apa. Tapi rongrongan Megumi si Penipu terus berdengung di kepalanya. Senyumnya yang semula tulus berubah miring. Ia menyeringai.

“Ya, ya, kau menyukaiku. Lalu apa?” tanya Yuuji retoris. “Kau ingin aku jadi kekasihmu, begitu? Lantas, bagaimana dengan pria-pria di luar sana yang pernah tidur denganmu? Apakah kau juga berkata bahwa kau menyukai mereka?”

“I-itu…” Megumi tak mampu menjawab.

“Pulanglah dan bawa tas sialan ini.”

Lelaki tersebut segera tersadar dan menggeleng cepat. Megumi menerobos masuk ke dalam apartemen Yuuji. Dengan cepat, dia membuka resleting tasnya dan menghambur-hamburkan seluruh isi yang ada di sana. Yuuji tak mampu menahan rasa kaget di wajahnya.

“Kalau aku pergi begitu saja,” kata Megumi, jeda. “Lalu apa yang harus kulakukan pada semua ini?!”

Foto-foto Yuuji sewaktu kecil bertebaran, tabloid yang memuat artikel mengenai Yuuji si penyanyi cilik ditempel sedemikian rupa di kertas hardcover entah bekas buku apa. Semua yang ada dalam tas besar dan berat itu berisi tentang masa kanak-kanak Yuuji hingga dewasa. Megumi memandang dengan mata berkilat, napasnya memburu. Yuuji takjub, tak menyangka.

Megumi bicara lagi, napasnya sudah teratur. “Kau banyak menginspirasiku. Dulu, aku juga gemuk sepertimu—lebih gemuk lagi. Aku tahu bagaimana rasanya di-bully karena tubuhku terlalu gemuk, aku tahu bagaimana rasanya dihina dan ditolak mentah-mentah. Aku gemuk dan aku marah. Tapi, setelah melihatmu bernyanyi Peluk Aku Mama Peluk Aku Papa dengan sangat percaya diri, aku tahu, aku tidak boleh menyalahkan tubuh gempalku untuk setiap penghinaan-penghinaan. Aku harus bisa sepertimu. Terus bangkit dan merasa percaya diri.”

Yuuji menganga mendengar setiap penuturan dari Megumi. Ia tidak menyangka ada orang yang sebegitu menggilainya. Yuuji hendak bicara, namun suara lembut Megumi kembali terdengar.

Katanya, “Aku bahagia sekali saat tahu kau masuk dunia model. Kau berubah seratus delapan puluh derajat. Kau tampan dan tubuhmu sempurna. Sayang sekali, andai kau masuk ke Kaisen Agency, aku pasti lebih mudah mendekatimu. Jujur, berkat kau, selama ini aku mencari-cari di mana letak kelebihanku, hingga kuputuskan untuk terjun ke dunia model dengan Kaisen Agency yang menaungiku—itu terjadi dua tahun sebelum kau bergabung dengan Jujutsu Agency.

Di dunia model-lah aku merasakan apa itu percaya diri. Kaisen Agency tidak seburuk yang kau dengar, model-model di sana sangat baik. Mereka membimbingku dengan sabar dan mengajakku berolahraga agar bisa lebih kurus lagi, tentu saja aku sudah kurus saat bergabung dengan Kaisen Agency, tapi, katanya itu belum cukup. Aku harus lebih kurus lagi mengingat model-model pakaian yang kupamerkan adalah pakaian wanita. Aku model andorgini, kau pasti sudah mendengarnya.”

Yuuji berdeham dan menggaruk-garuk bagian belakang kepala. “Yeah.”

Pandangan Megumi terlihat hangat. Lelaki itu meraih sebuah foto yang berserak, foto Yuuji ketika sudah menjadi model, diambil di Tokyo dengan judul street fashion. Megumi memandang foto itu dalam-dalam.

“Rasanya … dikatakan suka saja tidak cukup. Aku barangkali sudah jatuh cinta padamu.”

Yuuji diam, mendengarkan.

Megumi tersenyum manis. “Kata apa yang tepat menggambarkan perasaanku saat tahu kita bertemu di London sore itu? Menakjubkan. Kau diam-diam memotretku dan tersenyum padaku. Luar biasa menakjubkan. Kau bersikap terbuka dan ramah, kau tertarik padaku, aku tahu. Betapa jauh lebih menakjubkan. Aku bahagia sekali. Aku mencari-cari alasan agar kita bisa bertemu lagi, sebab, kau pasti akan menjauhiku setelah tahu aku model dari Kaisen Agency. Karena itulah, aku menculikmu ke Hampstead sebelum model Rusia itu lebih akrab denganmu saat acara fashion show di karpet merah nanti.”

“Kau … egois sekali,” komentar Yuuji.

“Aku egois karena aku menyukaimu.”

Well, yeah, kau ada benarnya.” Yuuji tersenyum samar. Sepertinya ia harus menghapus segala praduga mengenai Megumi si Penipu. Megumi bukan penipu, lelaki manis itu berkata jujur. Yuuji sekarang bisa bernapas lega. Ia merasa tak masalah dengan laju pacu jantungnya yang di luar batas kewajaran. Ia tak masalah jatuh cinta pada pandangan pertama bila Megumi orangnya.

“Jadi,” kata Megumi hati-hati. “Apa kau masih ingin aku pulang?”

Sepasang mata bulat lelaki manis itu memandangnya penuh harap. Yuuji menahan napas. Sial, terlalu manis! Yuuji berjalan pelan menuju pintu yang menjeblak terbuka, dia menutupnya—dan menguncinya dari dalam. Megumi berkedip dua kali. Yuuji menyandarkan tubuhnya pada pintu, tangannya terlipat di dada. Ia memandang Megumi seduktif.

“Keberatan kalau aku ingin mengurungmu di sini semalaman, Megumi?”

.

.

END