Actions

Work Header

Nggak boleh pegangan tangan, nanti hamil!

Summary:

"Ajax, genggam tangan aku sini, biar tidak hilang," si anak berambut lebih gelap mengejar Ajax yang berjalan di depannya, lalu langsung menggenggam tangan anak itu.

Ajax, anehnya, langsung histeris. Tangannya menepis tangan Zhongli.

"Ng- nggak boleh!!" Jerit Ajax, ekspresi wajahnya panik. "Nanti kamu hamil!!"

Notes:

Kindergarten AU! Di AU ini, para F4 adalah anak tk (yang muncul di sini cuma Childe dan Zhongli sih). Bahasa dialog mereka jadi gaul gitu karena mereka masih krucil-krucil.

Oh iya, kalau ada yang sadar setting fanfic ini mirip sama kindergarten AU-nya @icedkappe di Twitter, yup, kalian bener, fanfic ini terinspirasi dari kindergarten AU-nya beliau. It is by no means "lanjutan" dari mini-comic kindergarten AU-nya ya! Anggap aja fanfic ini adalah fanfic dari AU-nya beliau. Jadi pasti ada beberapa hal yang beda dari AU-nya. Saya udah mengantungi izin dari beliau kok, bisa dilihat nanti screenshotnya di @k_evphoria ya!

Kemungkinan besar fic ini akan ditranslate juga ke Bahasa Inggris as a token for appreciation biar icedkappe bisa baca, jadi kalau ada yang mau bantu translate/proofread feel free to contact me.

Happy reading!

Work Text:

Taman Kanak-Kanak Teyvat.

 

Hari ini pertama kalinya TK Teyvat mengadakan tur keluar sekolah di bawah pengawasan guru. Rute jalan-jalan mereka hanya sekitaran alun-alun dekat TK mereka. Sangat dekat, kok, tidak sampai 1 km.

 

Tapi bukan TK Teyvat namanya kalau tidak ada masalah. Terutama karena ada duo trouble-maker ini, Ajax dan Zhongli.

 

Sebenarnya mereka sendiri tidak terlalu bermasalah kalau sendiri-sendiri—nggak, deng, kalau Ajax sih memang selalu bikin masalah. Tapi, Zhongli tidak demikian. Zhongli adalah anak yang manis. Dia anak baik yang bersifat dewasa, berpengetahuan sangat luas.

 

Masalahnya, dia punya sifat senang mempelajari hal baru dan menggumam tidak jelas sampai lupa waktu. Sifatnya yang sebenarnya tidak berbahaya ini, kalau digabungkan dengan sifat Ajax, menjadi kombinasi yang sangat berbahaya.

 

Saat Pak Aether meleng sedikit, Ajax yang usil memakai kesempatan itu untuk keluar dari barisan, tentu dengan mengikutsertakan Zhongli (salahkan rambut buntut kudanya Zhongli yang memudahkan Ajax untuk menariknya ke mana-mana).

 

Ketika mereka berpapasan dengan hewan lucu, Zhongli-lah yang terkesima dengan hewan tersebut dan menghabiskan waktu mengikuti hewan itu—tentu dengan membawa Ajax juga karena Zhongli butuh seseorang untuk diajak bicara tentang asal-usul hewan itu dan segala trivia tidak penting lainnya.

 

Saat Ajax sudah mulai bosan, dia akan menyeret Zhongli ke tempat lain (sungguh, rambut buntut kuda Zhongli itu sudah seperti tali tuntun untuk hewan piaraan).

 

Di tempat lain, mereka akan menemukan sesuatu yang baru lagi, membuat Zhongli terkesima dan mengamati hal itu lagi sampai bermenit-menit lamanya, hingga Ajax bosan, kemudian menyeret Zhongli pergi dari sana ke tempat lain. Lalu mereka bertemu hal yang baru lagi— dan seterusnya. Ajax yang tidak betah di satu tempat + Zhongli yang suka mempelajari hal baru sampai lupa waktu = kombinasi anak hilang yang sulit ditemukan.

 

Begitu sadar, matahari sudah tenggelam.

 

"Lapar," ucap Ajax tiba-tiba sembari berbaring di taman. Entah di mana mereka berada sekarang. Sepertinya sih di taman di pusat kota, melihat banyaknya orang-orang berkemeja di jalanan, seperti baru mau pulang. Keberadaan Ajax dan Zhongli sangat out of place di sana, tapi tidak ada yang memedulikan mereka karena mereka sendiri sudah terlihat lelah habis bekerja. "Kita nggak dikasih makan siang!"

 

Zhongli duduk di sebelah Ajax, mengamati sekitarnya. "Kalau aku tidak salah ingat, makan siang kita biasanya jam 12. Kita keluar sekolah tadi jam 11. Terus, langitnya sudah gelap, berarti sekarang sudah lewat jam 6."

 

"Ngomong apaan sih"

 

"Berarti, Ajax, kita harusnya dapat makan siang, kalau saja kita tetap berada di barisan tadi. Sekarang sudah telat," Zhongli diam sebentar untuk berpikir. "Jam segini, biasanya sekolah udah berakhir, sudah jam pulang."

 

"Ya udah yuk pulang," Betul sekali, Ajax tidak peduli kalimat panjang Zhongli dan hanya memahami bagian terakhirnya saja.

 

"Ajax, kamu tahu jalan pulang?"

 

"Enggak," jawab Ajax santai sambil berdiri, membersihkan sisa-sisa rumput di baju dan celananya. "Kita sambil jalan lagi aja, yuk!"

 

Zhongli mengangguk. Dia ikut berdiri dan berjalan mengikuti Ajax sambil mengamati sekelilingnya. Hampir beberapa kali ia dan Ajax terpisah jalan karena mereka berusaha menghindari tabrakan dengan kaki orang dewasa yang lalu lalang. Ajax menghindar ke kiri, tapi Zhongli menghindar ke kanan. Pun sebaliknya. Zhongli jadi khawatir. Kalau begini, mereka bisa tidak sengaja terpisah.

 

"Ajax, genggam tangan aku sini, biar tidak hilang," si anak berambut lebih gelap mengejar Ajax yang berjalan di depannya, lalu langsung menggenggam tangan anak itu.

 

Ajax, anehnya, langsung histeris. Tangannya menepis tangan Zhongli.

 

"Ng- nggak boleh!!" Jerit Ajax, ekspresi wajahnya panik. "Nanti kamu hamil!!"

 

.

 

.

 

.

 

Zhongli berkedip bingung. "Hah?"

 

"K, kata Kak Teucer," Ajax menatap tangannya yang tadi digenggam Zhongli, bergidik takut. "Kata Kak Teucer, Ajax nggak boleh pegangan tangan sama temen!! Nanti dia hamil!! Gimana, nih!! Kamu udah pegang tangan Ajax tadi, abis ini kamu hamil!!"

 

Zhongli mengusap dagunya, berpikir keras. Pantas saja belakangan ini Ajax sering menarik rambutnya, bukan tangannya. Tapi kalau tidak salah Ajax pernah beberapa kali menggandeng tangannya atau tangan teman-teman lainnya... apakah itu tidak sengaja? Atau saat itu Kak Teucer belum memberi tahu Ajax tentang hal itu, makanya Ajax masih berani menggandeng tangan orang? Hmm, tapi, Mama Ningguang bilang, yang bisa hamil cuma perempuan... tapi Zhongli, 'kan, bukan perempuan? Apa Zhongli tetap bisa hamil?

 

"Ajax belom mau punya dedek bayi!" Ajax masih histeris. "Nanti dedek bayinya mainin boneka lumba-lumba Ajax!!"

 

Berbeda dengan Ajax, Zhongli malah terlihat senang. Dia tidak peduli dengan bayi dan apalah, rasa penasaran akan ilmu pengetahuannya masih mendominasi. Rasa penasaran tentang apa, tanyamu?

 

Tentang kehamilan.

 

Apakah Zhongli, yang seorang laki-laki, bisa hamil?

 

Dia tidak meragukan ucapan Mama Ningguang, tapi keluguannya juga tidak membuatnya meragukan ucapan Kak Teucer. Jadi... yang mana yang benar?

 

"Nggak apa-apa, Ajax, sini," Zhongli menggandeng tangan Ajax lagi, kali ini kuat-kuat karena Ajax masih ingin melepaskan gandengannya. "Kalau aku hamil, nanti aku yang urus bayinya biar dia tidak main sama boneka lumba-lumbanya Ajax."

 

Ucapan itu sukses membuat Ajax sedikit tenang. Tapi kemudian dia menjerit lagi, "Tapi Ajax pernah lihat ibu-ibu hamil. Mereka jadi gendut! Ajax nggak mau Zhongli gendut, nanti Zhongli jadi jelek!"

 

"Gendut karena hamil itu cuma 9 bulan, kok, Ajax. Sehabis itu aku jadi kurus lagi," Zhongli menenangkan.

 

Ajax akhirnya diam, tapi ekspresinya jelas masih menggambarkan ketakutan. Berkali-kali dia melepaskan tangan Zhongli dari tangannya, tapi Zhongli kekeh sekali dalam menggandeng tangan Ajax.

 

"Zhongli jangan dong, nanti kamu hamil!!"

 

"Tidak apa-apa, Ajax, aku mau buktiin itu."

 

"Jangan main-main sama hamil, Zhongli!! Kak Teucer bilang harus nikah dulu sebelum hamilin orang!"

 

"Kalau gitu, nanti kita nikah."

 

"E- eh..." Mata Ajax tiba-tiba berbinar-binar. "Kalau gitu, nanti kita tinggal bareng, terus Zhongli bangunin Ajax setiap pagi?"

 

Zhongli mengangguk. Ide itu menarik juga. Mama Ningguang juga suka bangunin Mama Beidou setiap hari, apalagi kalau Mama Beidou nggak sengaja ketiduran di depan tv sebelum kasih makan Zhongli. "Iya. Nanti aku masak makanan buat Ajax juga."

 

Kali ini Ajax-lah yang memperkuat gandengan tangannya. "Kalau gitu ayo kita pegangan tangan terus biar Zhongli hamil dan kita bisa nikah!"

 

"A, anu, Nak, apa kalian yang namanya Ajax dan Zhongli?"

 

Sebuah suara tiba-tiba menginterupsi mereka.

 

Seorang satpam.

 


 

Saat Ajax dan Zhongli kembali ke TK Teyvat setelah diantar si satpam baik, sudah ada 3 orang dewasa di sana yang marah-marah.

 

"Kalian ke mana saja!?" ini Pak Aether.

 

"Ajax!! Kakak nggak tahu harus gimana kalau kamu hilang!!" ini Teucer, kakaknya Ajax.

 

"Ciye, kencan." ini Mama Beidou—oh, cuma dia deng yang tidak marah.

 

Pada akhirnya, Teucer memeluk Ajax sambil marah-marah sekaligus nangis. Pak Aether (yang hampir menangis juga) sibuk minta maaf atas kegagalannya menjaga anak-anak ke Mama Beidou, sementara Mama Beidou sendiri sangat woles, katanya wajar saja kalau anak laki-laki punya jiwa petualang.

 

Tak lama, mereka pun jalan pulang ke rumah masing-masing. Aether mematikan seluruh lampu TK dan mengunci semua pintu dan jendela sebelum ia sendiri pulang ke rumahnya.

 

Happy end.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

...mungkin?

 


 

"Ajax, kita mampir ke restoran dulu, yuk? Ajax pasti lapar, 'kan, karena belum makan." 

 

Ajax jalan di sebelah Kak Teucer yang perlahan-lahan sudah mulai tersenyum lagi. Bukannya menjawab Kak Teucer, dia malah menunjuk ke toko mainan yang baru saja mereka lewati.

 

"Kak Teucer, ayo beli boneka lumba-lumba lagi."

 

"Hah, kenapa? Memangnya boneka lumba-lumba Ajax ke mana?"

 

"Masih ada. Ajax mau beli lagi biar bisa punya dua boneka lumba-lumba! Nanti Ajax kasih ke dedek bayi."

 

"Dedek bayi..." Teucer berkedip bingung. "Dedek bayinya siapa?"

 

"Dedek bayinya Ajax," Ajax menjawab polos. "Tadi Ajax hamilin Zhongli."

 

.

 

Sunyi.

 


 

Sementara itu, Zhongli yang saat ini sedang berada di gendongan Beidou,

 

"Mama..."

 

"Ya, Sayang?"

 

"Mulai hari ini, Zhongli mau makan makanan sehat."

 

"Kenapa gitu? Kamu kan tiap hari juga makan makanan sehat. Mahal lagi, dimanjain Ningguang terus sih."

 

"Mau yang lebih sehat!" Zhongli merengek. "Biar bayinya Zhongli nanti lahirnya juga sehat."

 

"Hah?"

 

"Mmm, tadi Ajax pegang tangan Zhongli," ucap si bocah. "Kata Ajax, kalau pegangan tangan, bisa hamil. Berarti Zhongli sekarang hamil."

 

"PFFTT—" Demi Celestia! Beidou susah sekali menahan tawa.

 

"Ini serius, Ma! Kalau Zhongli melahirkan nanti, anaknya Zhongli harus sehat."

 

"Kalo kamu sih nggak akan melahirkan."

 

Zhongli berkedip bingung, "Karena Zhongli laki-laki ya Ma?"

 

"Nggak. Kamu bertelur, nanti keluarnya anak naga."

 

"Hah"

 

 

[ END ]