Work Text:
Kata Abyss pertama kali ia dengar saat mengunjungi sebuah museum beberapa tahun lalu. Banyak misteri terselubung dalam karya-karya seni yang dipamerkan di sana dan ada rumor yang mengatakan bahwa Abyss adalah sumber dari semua itu. Rasa ingin tahunya pun mulai tumbuh dan untuk memuaskannya, Luchino yang mendapat julukan ilmuan gila itu mulai meneliti tentang Abyss. Sayangnya, sebuah organisasi bernama Bureau menjaga ketat segala informasi mengenai Abyss dan semua berkas-berkas penelitian milik Luchino disita oleh mereka ketika ia ketahuan.
Luchino berpikir kalau penelitiannya akan berhenti sampai disini saja, apalagi ia sudah di-blacklist dari museum itu. Sampai pada hari itu, dimana ia menemukan seorang laki-laki yang tergeletak pingsan di depan rumahnya. Seorang pria bersurai hitam dengan luka bakar pada wajah kirinya dan mengenakan seragam Bureau yang lusuh. Tapi, yang menarik perhatiannya adalah benda hitam yang mencuat dari balik topi yang lelaki itu kenakan, berdenyut sesekali seolah-olah ia hidup. Itu adalah tanda seseorang telah terkena erosi Abyss. Ia membawa lelaki itu masuk untuk memeriksanya. Sesekali lelaki itu berguman, “Tolong jangan bunuh saya.”, “Kenapa aku meninggalkan mereka?”, dan seterusnya. Luchino dapat menarik kesimpulan bahwa dia adalah seseorang yang terbuang tanpa adanya tempat untuk kembali.
Maka dari itu saat Luchino berkata, “Kau boleh tinggal di sini.” Lelaki itu terbelalak kaget tidak percaya. Namun sebelum ia mengelak, rambutnya ia usap perlahan sambil mengatakan, “Kita sama-sama orang yang terbuang...”
Langkah pertama untuk memulai penelitian ini adalah mendapatkan kepercayaan dari subyek penelitian. Ini patut dilakukan agar penelitian nanti dapat berjalan lancar. Kelihatannya aku terlihat tidak berperasaan karena memanfaatkan situasi dan perasaan dari subyek saat ini.
.
Benar seperti apa yang ia pikirkan waktu itu. Dengan memberinya tempat tinggal, makanan serta perhatian pada subyek penelitiannya, Norton Campbell, dalam beberapa bulan langsung menempel pada Luchino seperti anak ayam pada induknya. Norton juga kelihatannya tidak keberatan saat sang profesor bertubuh reptil itu mencoba bertanya-tanya tentang Bureau dan Abyss walau jawaban yang diberikan tidak mendetail.
“Anu profesor...” Norton yang sedang berbaring di kasur untuk diperiksa mengangkat tubuhnya dan duduk sambil meraih kemeja yang ia tanggalkan tadi.
Luchino mengangkat kepalanya dari berkas hasil pemeriksaannya pada tubuh pemuda di depannya. “Ya Campbell?”
Norton merogoh saku kemejanya dan menyodorkan benda yang ia keluarkan pada sang profesor. Beberapa pembatas buku dari berbagai macam bunga yang dikeringkan dalam plastik berada dalam genggamannya. “Profesor suka membaca buku kan? Saya membuat ini karena kelihatannya jumlah pembatas buku anda tidak banyak.”
“Oh..tidak buruk juga.” Kata Luchino saat menerimanya. Siapa sangka pemuda yang terlihat seperti berandalan dapat membuat benda seperti ini. “Saya sedikit terkejut kau tahu cara mengeringkan bunga.”
“Kenalan saya di Bureau pernah mengajarkannya. Dia orang yang baik walau sedikit aneh karena selalu berbicara dengan burung peliharaannya seolah ia mengerti maksudnya.” Norton tertawa kecil lalu beberapa saat kemudian raut wajahnya terlihat murung.
“Begitu kah? Apa kau bisa menceritakan kenalanmu ini pada saya?”
“Ah, tentu saja. Lalu profesor... terimakasih karena masih mengijinkan saya tinggal disini.” Pemuda bersurai hitam itu tersenyum. Senyuman yang penuh rasa syukur namun dibaliknya terdapat kesedihan dan penyesalan.
“Nhm..” Luchino hanya membalasnya singkat dan kembali membaca berkas penelitiannya lagi. “Tolong berbaring kembali Campbell, masih ada beberapa hal yang harus saya periksa.”
Oh Campbell, seandainya kau tahu bahwa aku hanya memanfaatkan perasaanmu, kau tidak akan bersikap seperti ini padaku. Kira-kira berapa lama sampai kau sadar bahwa semua perhatian ini hanyalah kebohongan belaka?
.
“Campbell, apa kau perlu... bantuan?” Sejak tubuhnya berubah menjadi reptil akibat kebodohannya saat bereksperimen, ia melepas dirinya dari masyarakat dan hidup menyendiri. Makanya ia sudah lupa sama sekali dengan istilah ‘Alpha, Beta, dan Omega’. Sekarang, ia berdiri di depan kamar Norton yang terus mengeluarkan suara-suara aneh. Kalau tidak salah namanya ‘rut’, secara kasarnya siklus yang dialami oleh Omega setiap bulan dimana mereka sedang dalam masa siap untuk kawin dengan Alpha.
“Aah.. Ti... tidak usah.. prof...” Norton berusaha menjawab tanpa mengeluarkan suara erangan. “Me-melaku..anh.. hu..bungan de-ngan.. prof.. aku.. haah..” Napasnya yang tersengal-sengal terdengar dari balik pintu.
Tunggu, berhubungan? “Hei! Maksudku bukan bantuan seperti itu!!! Ukh-” tercium samar-samar bau harum, benar juga ia adalah seorang alpha dan kelihatannya masih bisa terpengaruh dengan rut omega. Subyek penelitiannya yang berharga bisa celaka kalau ia terus berada di sini.
Kalau tidak salah ada obat untuk meredam rut yang dijual di apotek. “Aku akan pergi membelikanmu obat, tahan sebentar.” Mau Norton mendengar perkataannya atau tidak ia tidak peduli.
Sambil berjalan keluar, Luchino mengambil buku catatan dari saku kemejanya dan menuliskan informasi sekedarnya yang ia baru dapat. Seorang omega yang terkena erosi Abyss masih dapat mengalami rut walau kelihatannya jadwalnya jadi tidak beraturan karena subyek tidak pernah mengalami rut selama beberapa bulan tinggal di sini.
Selain itu, obat yang biasa digunakan para omega juga masih memberikan efek yang sama dengan omega yang udah terkena erosi Abyss. Setelah Norton mengkonsumsi obat itu, tubuhnya berangsur membaik dan rutnya perlahan menghilang. Napas lega dihembuskan oleh Luchino karena ia tidak perlu pusing memikirkan jika seandainya obat itu tidak bekerja.
“Kau tahu prof?” kata Norton masih terbaring di tempat tidurnya “Aku tidak keberatan lo kalau kau yang melakukan hal ‘itu’ padaku. Hanya saja...” pipinya berubah merah padam dan ia memalingkan wajahnya dari Luchino. “Aku malu...”
“........hentikan itu menjijikan.” Dan yang selanjutnya terdengar adalah tawa terbahak-bahak dari Norton.
Kejadian hari ini membuat Luchino berpikir, Norton bilang ia tidak keberatan jika melakukan hubungan intim dengan Luchino. Orang waras macam apa yang mau melakukan itu dengan seorang manusia reptil?
Begitu percayanya kau padaku kah Campbell? Ah, padahal ini yang aku inginkan, tapi sekarang aku mulai mempertanyakannya. Berapa lama lagi aku harus terus berpura-pura seperti ini padanya?
.
“Luchi...”
“Jangan memanggilku dengan panggilan aneh.” Luchino menyuntikan cairan penahan rasa sakit bagi Norton yang terbaring di depannya. Tentakel hitam itu mulai sering aktif beberapa hari ini. Semakin sulit dikendalikan penyebaran erosi Abyssnya. Rut yang dialami olehnya pun semakin jarang dan sekarang sepertinya sudah berhenti. Kelihatannya sudah tidak lama lagi sampai erosi Abyss itu akan mengambil alih tubuhnya.
“Tapi itu lucu.” Norton hanya tertawa kecil, terbiasa dengan reaksi Luchino yang tidak ramah. “Kau juga boleh memanggilku Norton.”
“Tidak perlu.” Ia merasa tidak memiliki hak untuk memanggilnya Norton.
Norton menggembungkan pipinya layaknya anak-anak yang sedang kesal. “Kau tidak seru ah.”
“Hei, Luchi.” Tangan bersisik milik sang profesor ditarik oleh Norton dan ia tempelkan ke pipinya. “Pinjamkan tanganmu sebentar. Dingin... aku suka walau terasa kasar hahaha...”
“Terimakasih karena telah merawatku selama ini, Luchino...” tatapan yang hangat dan penuh rasa sayang diberikan pada sang manusia reptil. Tidak ada jawaban yang diberikan oleh yang bersangkutan bahkan sampai Norton terlelap dalam dunia mimpi. Tatapan itu, apa Luchino bisa menerima tatapan seperti itu?
Hal yang tadinya bisa kulakukan semudah bernafas sekarang terasa sulit sekali. Aku tidak mampu berpura-pura lagi seperti ini terus menerus. Campbell, kuharap kau masih bisa mempercayaiku... ah untuk apa pembohong sepertiku berharap.
.
Sinar mentari sore hari menembus masuk ke dalam jendela kamar Norton. Suasana kamarnya begitu hening. Padahal biasanya Luchino sudah datang untuk memeriksa dirinya. Ingin sekali rasanya ia mencari keberadaan sang profesor, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk digerakan sekarang. Semua gara-gara erosi Abyss ini, tapi tanpa adanya erosi ini ia tidak akan bertemu dengan Luchino. Dan juga yang membuatnya dapat terus tinggal di sini juga karena erosi ini...
Lamunan Norton buyar ketika ia mendengar suara pintu dibuka. “Luchi~!” panggilnya dengan riang.
Luchino, dengan kepala yang tertunduk, berjalan mendekati tempat tidur Norton. “Campbell, aku... ingin minta maaf...”
Pemuda berambut hitam itu menatapnya dengan alis yang dinaikkan sebelah dan berusaha untuk duduk. “Huh, untuk apa? Bukankah harusnya aku yang meminta maaf karena telah merepotkanmu selama ini?”
Kepala sang manusia reptil digelengkannya pelan. Kakinya jatuh berlutut dihadapan Norton dengan kepalanya yang masih ditundukkan. “Aku telah berbohong padamu... banyak sekali. Semua perhatianku selama ini hanya agar kau percaya padaku dan memberitahu tentang Abyss dan Bureau. Semua itu hanya untuk memuaskan rasa ingin tahuku pada Abyss.
Aku tidak sanggup lagi untuk melanjutkan kebohongan ini. Kau terlalu baik, tidak pantas untuk merasakan perasaan palsu ini terus-terusan dan dimanfaatkan seperti ini. Aku juga tidak berhak... menerima semua hal yang kau berikan padaku... aku tahu kau tidak akan pernah memaafkanku tapi setidaknya kau harus tahu tentang semua ini... maafkan aku...”
Iris hitam milik Norton menatap Luchino dalam kesunyian. Memproses beberapa saat pada apa yang dikatakan oleh profesor yang berlutut di depannya. Lalu dengan suara serak seakan menahan tangis ia berkata, “Aku sudah tahu kok...” kepala yang sedari tadi sang profesor tundukkan langsung diangkatnya, terkejut dengan perkataan barusan.
“Mana mungkin kan ada yang mau menerima seseorang dengan tentakel yang tumbuh di kepalanya. Bureau sekalipun ingin melenyapkanku. Yah, tentu saja kecuali seorang profesor sepertimu. Tapi, aku tidak ingin mempercayainya...” Air matanya perlahan berjatuhan mengalir ke pipinya. “Karena Luchino satu-satunya orang yang pernah memberiku kasih sayang selama aku hidup. Walau itu semua hanya kebohongan aku tetap senang. Walau hanya sebentar aku tetap senang... karena aku mencintaimu Luchino sangat...”
Rasa bersalah yang lebih besar seakan merayap di punggungnya. Ia tidak mampu terus-terusan berbohong pada Norton dan pemuda itu sendiri selama ini sudah tahu semua kebohongan itu, dan justru malah mencintai dirinya. Ia benar-benar pembohong yang buruk dan makhluk yang rendah. Keheningan mengisi ruangan itu kembali sebelum akhirnya Norton memecahnya.
“Hey Luchi, apa yang mau kau lakukan setelah ini? Menyerahkanku pada Bureau atau membiarkanku termakan oleh erosi Abyss ini?”
“... keduanya adalah pilihan yang buruk...”
“Benar juga ya...hehe... kalau begitu, maukah kau mendengar permintaan terakhirku? Anggap saja sebagai ganti semua kebohonganmu itu.”
“Katakan saja.”
“Waktuku sudah tidak banyak seperti yang kau tahu jadi... tolong bunuh aku.” Sebelum Luchino memotongnya ia menaruh jemarinya pada mulut sang profesor. “Aku lebih memilih dibunuh olehmu daripada Bureau ataupun menjadi monster karena erosi ini. Lagipula semua perasaanmu itu hanya kebohongan kan? Harusnya kau tidak masalah untuk melakukan hal seperti ini... kumohon...”
Benar, ia tidak memiliki perasaan apapun padanya, ia hanya menganggapnya sebagai subyek penelitian. Meskipun begitu, tidak ada satu kata patahpun yang keluar dari mulut Luchino.
.
.
.
Malam itu, terdengar suara raungan yang seperti tangisan seseorang yang telah kehilangan sesuatu yang berharga baginya. Entah apakah ia yang berbohong pada perasaannya sendiri atau ia yang baru menyadari setelah kehilangan, bahwa Luchino sebenarnya juga mencintai Norton Campbell.
