Actions

Work Header

obat untuk Norton

Summary:

Naib tahu Norton tak baik-baik saja, tapi apa yang bisa dia lakukan jika Norton saja menolak rutinitas mereka? | naibnort.

Notes:

Identity V adalah milik NetEase, sesungguhnya saya hanyalah penulis dari fanfiksi ini.

Sebuah fanfiksi yang ditulis teruntuk penulis lainnya, LucianoFyro (ffn).

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Oletus Manor; sebuah gedung besar yang menjadi tempat berkumpulnya dua puluh orang, dengan beragam sifat dan latar belakang yang berbeda pula. Apa kalian berpikir orang-orang yang berkumpul dalam manor ini hendak mengadakan pesta dansa? Kalian salah besar; karena di sini, hidup dan mati lah yang menjadi taruhannya.

"Oi, sudah siap?"

Naib bersandar pada sudut pintu, memperhatikan Norton yang tengah mengeratkan ikat tali sepatunya.

"Hm. Sudah." Senyum tipis terukir di wajah Norton, ia pun segera bangkit dan menyusul Naib yang sudah melangkah duluan. "Aku jadi membuatmu menungguku, ya."

"Bukan masalah besar." Naib menyunggingkan cengiran usil, "Siapa tahu kakimu masih gemetar setelah semalam, 'kan."

Norton mendecih, ia lalu membalas, "Huh, kalau kau tidak tertidur, kita bisa saja lanjut."

—dikatakan pertaruhan nyawa pun, masih ada orang-orang yang menikmati hidupnya, kok.

"Iya, iya. Simpan energimu untuk match hari ini." Naib meregangkan tubuhnya, "Kudengar kita akan ditempatkan di lokasi baru. Kau sudah tahu dimana?"

"Tidak tertarik," balas Norton bahkan tanpa menoleh, terang-terangan menunjukkan ketidak tertarikannya.

Dalam permainan hidup atau mati ini, yang menyatukan semua orang hanya satu; keinginan untuk hidup. Tentu saja, jika tak dapat bertahan, mereka akan mati sebelum mendapatkan hadiah yang dinanti-nantikan. Hadiah macam apa? Entahlah. Semua penghuni manor telah sepakat tak membicarakan hal tersebut.

"Ah, kalian sudah datang!" Eli menyapa dengan senyuman lebar ketika Norton dan Naib memasuki ruang tunggu.

Pandangan Naib menyusuri seisi ruang tunggu, "Hah. Sepertinya kami tidak datang terakhir, ya."

"Aesop sudah datang tadi, tapi dia kembali untuk mengambil peralatannya yang kurang." Eli terkekeh, "Ekspresinya terlihat tidak senang, sebaiknya kalian siap-siap saja."

"Aku akan menyalahkan Norton."

"Enak saja. Tidak ada yang menyuruhmu menunggu."

Benar saja, tak lama setelahnya, Aesop memasuki ruang tunggu dengan wajah bersungut-sungut. Kerut di keningnya semakin tampak kala ia melihat Norton dan Naib. Sudah pasti ada kurva terukir di balik masker yang digunakannya. Sudah bisa ditebak bahwa Aesop takkan menggunakan coffin-nya untuk mereka berdua.

"Oh? Sudah waktunya."

Fokus ketiga orang lainnya teralih oleh suara Eli, membuat mereka tersadar bahwa ada hal yang lebih penting, yaitu nyawa mereka.

"Soal minta maaf bisa dilanjutkan nanti, ya, Aesop," ujar Naib sembari mengacungkan jempolnya.

Aesop mendengus keras. "Terserah."

Hanya bertahan hidup memang mudah bagi seorang Norton Campbell. Permainan ini bukan masalah besar baginya; ia dapat memastikan bahwa ia akan mendapatkan hadiahnya—

—setidaknya, itu pikir Norton saat itu.


.
.
.
.


"AAAAAAAAAAAAAGGGHHHHH!!!!!"

Jeritan itu menggema, beresonansi diantara batu-batu.
Suara derap langkah terdengar terburu-buru.
Ia tak bisa mengatur nafasnya.

Tolong.

"Norton, ada apa?!"

"Norton, kau dengar aku? Bernafaslah perlahan-lahan. Pertolongan akan segera datang."

"OI, AKU SUDAH MEMANGGIL EMILY!"


.
.
.
.


[Aku bermimpi indah.]

"Nak Norton, ayo istirahat dulu. Sudah waktunya makan siang."

"Campbell, aku tahu kau pekerja keras, tapi makan siang tetap makan siang!"

"Fufu, anak muda memang penuh semangat."

Aah...
Tawa itu.

Norton masih ingat betul tawa para rekannya yang bergema diantara dinding batu penambangan tempat mereka bekerja; Golden Cave.

[Bahkan mimpi indah pun, semua itu hanya sesaat.]

Satu ledakan bising yang menelan kebisingan lainnya.

Norton bahkan tak dapat mendengar suara jeritan apapun (atau pikirannya menolak mendengarnya?). Seolah semua tawa yang semua ia dengar, ditelan oleh bebatuan yang meratakan tanah. Hanya keheningan mencekam yang tersisa.

...ini...
...bukan salahku,...

...'kan?

"...ngun."

Suara itu...
Apakah...hantu?

"...ba...ngun..."

Apa aku mengusik tidur tenang para roh karena memimpikan i—

"BANGUN, KEPARAT! MAU TIDUR BERAPA LAMA LAGI, HAH?!"

Norton sontak membuka matanya, mendapati Naib dengan ekspresi kusut sedang menarik selimutnya, dengan Mike dan Emily yang menahan Naib dari belakang.

"Lihat, 'kan, dia bangun—OI, BERHENTI MENARIKKU!"

Naib masih meronta, kali ini ia ditarik dengan bantuan William dan Jose. Setelah debam pintu di tutup, terdengar suara sayup-sayup Naib mengomel dari luar ruangan.

Emily menghela nafas. "Halo, Mr. Campbell. Bagaimana perasaanmu?"

"Baik-baik saja, kurasa." Norton bangkit, mendudukkan dirinya. Rasanya sendinya sakit semua—berapa lama ia tertidur? "Apa itu tadi?"

"Ah, Mr. Subedar terus-terusan ingin membangunkanmu sejak kemarin—harusnyadosisobatnyakukurangi—tapi syukurlah kau tidak apa-apa," ujar Emily seraya menyunggingkan senyum.

Norton akan pura-pura tidak mendengar yang barusan.

 

.

.

 

Norton mengerenyit kala ia memasuki kamarnya dan mendapati Naib berbaring santai di kasurnya sambil menggoyangkan kaki. Dasar tidak tahu diri. "Minggir."

"Berbagi saja."

"Ini kasurku."

Sontak, Naib meraih pergelangan tangan Norton, menariknya dalam pelukan. Pria itu mengeratkan pelukannya seraya menenggelamkan wajahnya di punggung Norton—entah karena punggung lebih nyaman atau karena perbedaan tinggi mereka.

Norton mendecih, "Lepas."

Naib tak menyahut, tapi jemarinya perlahan menyibak fabrik yang menutupi kulit Norton—

dugh.

"Ow—apa-apaan?!" Naib mengaduh. Iapun melepaskan pelukannya karena perutnya disikut keras oleh Norton.

"Kau yang apa-apaan?!"

"Aku berusaha menghiburmu, keparat!"

Norton mengerenyit. "Aku baik-baik saja."

"Kau tiba-tiba berkeringat dingin dan menjerit di tengah match, lalu kau bilang itu baik-baik saja?!"

—sial, Norton hampir melupakan itu. Emily tak membahasnya ketika ia terbangun, dan disaat bersamaan ia tak menanyakan kenapa ia ada di ruang kesehatan.

Disaat seperti ini, ia tak punya alasan yang bagus. "Itu bukan urusanmu. Sekarang, keluar," ujar Norton penuh penekanan.

"Ap—""

Keluar. Aku sedang tidak mood."

 

.
.
.
.
.

 

Naib Subedar bukannya tidak peka. Sekian tahun mengabdi pada tanah pertempuran, instingnya pada kehidupan normal tentu menumpul. Ditambah lagi, ia tak pernah punya kekasih.

—dalam kata lain, ia tidak tahu cara untuk membuat pasangannya merasa dihargai.

Naib menggaruk kepalanya. Bisa dibilang, ini pertama kalinya Norton mengusirnya. Biasanya, sekesal apapun Norton, setelah mereka melakukan hubungan intim, ia akan kembali normal. Sejak hari dimana mereka menginjakkan kaki di lokasi Golden Cave, tingkah Norton jadi semakin aneh saja.

Pria itu merangsek masuk dalam ruang kesehatan tanpa ba bi bu—langsung to-the-point saja, "Oi, Emily, kau tidak berikan yang aneh-aneh selama Norton tertidur, 'kan?"

Emily membuka gorden bangsal yang digunakan Norton beberapa hari sebelumnya—tampak wanita itu tengah merapikan seprai tempat tidur di sana. "Tentu saja tidak, Mr. Subedar. Pertanyaan macam apa itu?" jawab Emily, terkekeh.

Naib mendengus keras. "Kalau begitu, kau bisa lakukan sesuatu untuk Norton? Sepertinya sakitnya parah sekali."

Ekspresi Emily tampak keheranan menanggapi permintaan Naib—ia cukup yakin Norton sehat-sehat saja sebelum meninggalkan ruang kesehatan. "Bisa kau jelaskan padaku seperti apa gejala penyakitnya?"

"IA TIDAK MAU DIAJAK BERHUBUNGAN INTIM!"

...

Krik, krik.

"A-ahaha, begitu?" Emily tertawa awkward. "Kalau begitu, sepertinya aku sudah tahu obatnya."

"Benarkah?!"

Wanita itu mengangguk sembari tersenyum, "Tolong panggilkan Ms. Woods."

 

.
.
.
.
.
.

 

"...apa...ini?"

"Obat."

Norton pun mengerenyit. Ditambah dengan jawaban penuh keyakinan dari Naib, ini semakin membingungkan. Obat? Obat apa?

BAGAIMANA SEKOTAK DONAT BISA DISEBUT OBAT?!

"Kau dan Emily tidak memasukkan yang aneh-aneh kedalam adonannya, 'kan?"

"Tidak. Aku membuatnya bersama Emma."

Dilihat dari sisi manapun, ini donat. Hanya donat. Norton pun memutuskan mengambil satu potong—lagipula, kalau dia mati, pelakunya sudah jelas.

—sekali lagi, bahkan di dalam mulutnya, ini tetap donat. Tak ada yang aneh.

"...ini enak, tapi tidak ada rasa obatnya," gumam Norton. Keningnya berkerut, berusaha mencari rasa obat dalam mulutnya—tapi nihil.

"Karena itu memang hanya donat."

"...hah?"

"Awalnya aku juga tidak mengerti," Naib menguap sembari meregangkan tubuhnya, lalu melanjutkan, "Emily bilang bahwa obat terbaik untuk penyakit yang tidak di fisik itu adalah makanan favorit."

Pria itu tertegun. Ia tak menduga Naib akan sampai sejauh ini hanya untuk menghiburnya.

Dan

Donatnya enak.

"Hm. Terima kasih."

Naib menyunggingkan cengirannya seraya mengacungkan jempolnya, "Bukan masalah."

 

.
.

 

[Apa yang kusedihkan?]

[Golden Cave memang membawa kenangan masa laluku, tapi aku hidup di masa sekarang.]

"Ah. Golden Cave lagi." Eli tampak khawatir. Ia lalu menoleh pada Norton, "Kau tak apa, Norton?"

"Tentu saja. Emily sudah memberikanku resep obatnya. Karena itu—"

Bibir Norton membentuk kurva; tanpa perlu bertatapan, seolah mereka dapat membaca pikiran satu sama lain.

"—mohon bantuannya."

.
.
[end.]

Notes:

I'm not really familiar w/ ao3 so I take longer time to edit, haha;;;;

Hello, koualice20 here!

Ini pertama kalinya saya mengetik ff lagi setelah hiatus panjang (sebelumnya saya aktif di ffn as 'sempakznya nanas'), and this is not really my cup of tea

((((HOW TO HURT/COMFORT?))))

Anyway, I hope u enjoy the story!