Work Text:
Sudah sewajarnya sebagai mahasiwa baru memiliki ambisi semustahil mungkin—mendapat IPK 4.0, meningkatkan kemampuan diri dengan lomba dan tak lupa menjalin relasi lewat organisasi.
Wajar. Itu karena kau belum ditampar kehidupan kuliah yang sebenarnya. Jika sudah berkenalan dengan kehidupan kuliah yang sebenarnya maka seperti Zenitsu sekarang. Bertransformasi dari mahasiswa kura-kura (kuliah-rapat-kuliah-rapat) menjadi kunang-kunang (kuliah-nangis-kuliah-nangis).
Apalagi jika harus menjalani kehidupan ‘Kuliah enggan DO tak mau’ tanpa adanya penyemangat, makin nelangsa si pikachu ini.
Ngomong-ngomong organisasi, ada alasan kuat mengapa Zenitsu enggan melanjut seiring bertambahnya semester.
Jawabannya adalah aktivitas yang adik tingkatnya lakukan sekarang. Mondar-mandiri layaknya sales sambil berkata, “Risolnya kak?” dengan nada memuakkan.
Perlu diingat! Jika sudah memantapkan hati ikut organisasi—yang katanya demi mencari relasi, maka jangan lupa untuk memantapkan isi dompet juga.
Kalau ada kakak tingkat dengan enteng berkata, “Lebay deh, kan tinggal jualan aja.” Ayo sini ke lapangan, kita selesaikan saja secara baku hantam.
Mudah apanya?!
Pertama, setiap organisasi rata-rata menerapkan sistem ini dalam mencari dana usaha, jadi bisa dibayangkan kalau dalam satu kelas ada banyak mahasiswa yang berbeda organisasi dan kebetulan mendapat hari jualan yang sama, medan perang pun terbentuk seketika.
Kedua, jika yang mengirim gorengan telat dan keburu kelas selesai, siap-siap saja menjadikan risol sebagai lauk pauk.
Ketiga, jika kelas kuliah/praktikum hanya sebentar, tentu tak perlu gorengan sebagai pengganjal perut sementara. Namun itu semua dapat diatasi jika
- Kau memiliki duit (memilih bayar keuntungan dan tidak perlu berjualan).
- Kau popular
- Kau—
“Kak Zenitsu”
Zenitsu nyaris berpikir ia berada di surga saat telinganya menangkap suara bidadari—Nezuko—yang memanggilnya lembut.
“Ya?”
“Risolnya, Kak?”
—punya gebetan yang siap ditumbalkan.
Risolnya kak?
Kimetsu no Yaiba © Gotouge Koyoharu
Saya tidak mengambil keuntungan dalam pembuatan fanfiksi ini.
Dipersembahkan khusus untuk event #KimetsuNoValentine dan pelampiasan bagi kegiatan danus di kampus//ga gitu.
Warn : University AU! (maybe) OOC, typos, humor receh dll. So, don’t like don’t read
Seandainya kemarahan bisa menyemburkan api, Zenitsu pastikan Gedung Fakultas Teknologi Industri Pertanian di hadapannya hangus seketika. Bagaimana kemarahannya tidak memuncak?! Semua kesialan soal danus yang telah Zenitsu jabarkan justru dialami titisan bidadari—Nezuko Kamado.
Hari ini banyak mahasiswa yang danus di kelasnya, tetapi orang yang bertanggung jawab mengantar risol justru telat. Keadaan semakin diperparah dengan jumlah risol yang ditambah dua kali lipat. Dengan alasan ada mahasiswa yang seharusnya berjualan tapi tiba-tiba tak masuk dan si gorengan laknat itu terlanjur dibeli.
Gak bisa dibiarkan! Orang yang sudah membuat gadis secerah mentari tak lagi memancarkan sinarnya sangat halal untuk disantet.
“Kalau Kakak gak mau beli gak apa, aku pergi dulu.”
Zenitsu mengacak rambutnya frustasi. Dari lubuk hati paling dalam, ia tak bisa membiarkan sang gebetan (sepihak) pergi dengan wajah ditekuk. Dengan sigap Zenitsu menyambar tangan Nezuko. Membuat surai hitam gradasi jingga berputar indah menghadapnya.
“Kenapa, Kak?”
“Ahh…” Zenitsu menatap satu kotak risol yang masih terisi penuh. Ia tak mungkin membeli semuanya kan? “Aku bantu jualan. Gimana?”
Kau jenius Zenitsu! Dengan membantunya jualan berkeliling fakultas tentu saja akan membuat waktu berdua lebih banyak. Sambil menyelam minum air. Sekali lagi, kau jenius Zenitsu!
Nezuko menggeleng. Ia memaksa tersenyum. “Terima kasih, Kak. Tapi setelah ini aku ada kelas praktikum. Gak bisa jualan lagi.” Nezuko menghela napas pasrah, membuat hati Zenitsu resah.
“Biar aku yang beli risol ini.” Zenitsu melontarkan pernyataan yang membuat Nezuko berkedip takjub. Gadis dengan pita merah muda di poni kirinya masih memproses apa yang terjadi, sampai akhirnya satu kotak risol berpindah tangan ke Zenitsu. Dengan gerakan santai, ia mengangkat kotak tersebut menggunakan satu tangan. Zenitsu berdeham sebelum menjelaskan, “Kebetulan aku belum sarapan kok.”
Dalam rentang singkat, Zenitsu mendadak bertranformasi layaknya tokoh utama pria dalam drama korea. Terutama saat ia menyuapkan sebuah risol ke mulut Nezuko sambil berkata. “Nezuko juga jangan lupa sarapan ya~” Jangan lupakan kedipan mata yang membuat desiran aneh di hati Nezuko
Namun filter bunga-bunga itu menghilang seketika. Tepat saat sang kakak tingkat membuka dompet, memperlihatkan tak ada satupun penghuni. Si Pikachu menjelma menjadi kepiting rebus, sambil menunduk ia berkata “A-aku bayar nanti ya” dan menghilang dalam sekejap.
Anehnya, walau sekotak risol dibayar hutang, Nezuko justru tertawa. Ia lupa kalau beberapa saat lalu dirinya lebih suram daripada kuburan.
~o0o~
Sejak kejadian itu, hubungan Nezuko dan Zenitsu mengalami peningkatan. Dari Kakak-Adik tingkat zone menjadi Penjual-Pembeli zone. Kau bertanya darimana naik tingkatnya? Setidaknya sekarang Nezuko membutuhkannya! Ya, Nezuko memerlukannya (tambahkan kalau lagi danus). Bahkan Zenitsu hapal kapan Nezuko harus menjualkan risol-risolnya, untuk menyempatkan membantu berjualan sambil bermodus ria (mumpung gak kena omel Tanjiro). Sungguh dedikasi (baca : taktik modus) yang luar biasa.
Tanpa terasa, sudah satu jam keduanya berkeliling fakultas, namun masih ada lima risol yang tersisa di kotak. Zenitsu mengerti, gelagat Nezuko yang terus-terusan menatap waktu di layar gawai adalah tanda untuk berpisah.
Menghela napas berat, pria bermahkota kuning itu memecah keheningan, “Sisanya aku yang beli saja. Kebetulan aku ingin makan risol.”
Bohong! Zenitsu sudah muak selama satu minggu selalu menjadikan risol lauk utama. Mendengar namanya saja membuatnya tak berselera, apalagi memakannya. Tapi demi pujaan hati, ia rela melakukan apapun.
Zenitsu merasa janggal. Nezuko menatapnya lama dengan sirat tak terbaca. Biasanya gadis itu akan menurut ketika Zenitsu berkata akan membeli risolnya. Tanpa berpikir panjang ia akan menyerahkan kotak risol pada Zenitsu lalu meninggalkannya menuju laboratorium analisis pangan. Tapi gadis bermarga Kamado itu terlihat ragu. Ia sempat membuka mulut untuk cepat-cepat menutup. Dengan erat, risol masih berada dalam gemgamannya. Zenitsu jadi overthingking, jangan-jangan Nezuko mengira ia akan berhutang dan kabur membawa risolnya lagi—walau terbesit ingin begitu.
“Kenapa?” ada nada gusar dari pertanyaan Zenitsu.
“Hari ini, hari terakhir danus.”
Zenitsu merasakan tempat berpijaknya runtuh. Ia ikut-ikutan menjadi sendu. Apakah ini akhir kisah antara Zenitsu dan Nezuko dan sekotak risol?
Sambil berjalan menuju laboratorium pangan, Nezuko mulai bercerita, “Awalnya aku mengira Kak Zenitsu tipe kating yang suka modus sana-sini.”
Ah, Zenitsu ingat. Masa orientasi peserta didik baru memang menjadi ajang para kakak tingkat yang ngenesnya tak bisa dikondisikan. Mengingatkan masa ketika Zenistu berada di jalan sesat—selalu modus tak kenal tempat tak kenal waktu (walau sekarang masih begitu), gak harus dibahas di saat meresahkan seperti ini kan, Nezuko?
“Tapi ternyata itu semua salah. Kakak baik, pengertian, rajin membantu tanpa pamrih.” Tambah Nezuko cepat-cepat.
Sekarang Zenitsu berlinang air mata. Entah karena sedih, terharu, atau campuran keduanya. Nezuko memang roller coaster! Mampu membuat Zenitsu terjun bebas lalu membawanya terbang tinggi.
“Jadi,” Nezuko memberi senyum termanisnya, “setelah ini, kita tetap berhubungan ya Kak!”
Sepertinya Zenitsu akan meminta tanggung jawab Nezuko atas Diabetes Melitus yang tiba-tiba diterimanya.
“Kak, kok nangis?”
Mungkin kalian akan berpikir kalau Zenitsu berlinangan air mata bahagia. Tapi bisa juga kan, Zenitsu nangis karena sudah tak ada beban moral untuk membeli risol.
Itulah akhir kisah antara Zenitsu, Nezuko dan sekotak risol.
