Actions

Work Header

Kamado's Bread and Chocolate

Summary:

Aoi tak akan pernah lupa dengan sajian (menu) dari Kamado's Bread and Chocolate.

[Didedikasikan untuk acara #kimetsunovalentine]

Notes:

Kamado's Bread and Chocolate
[Kimetsu no Yaiba milik Gotouge Koyoharu; fanfiksi ini ditulis hanya untuk bersenang-senang dan diikutsertakan dalam Kimetsu no Valentine Event di Twitter]

#

Untuk: aca
Prompt: Sepasang kekasih terpisah setelah tak sengaja masuk toko roti yang ternyata mesin waktu lalu bertemu di Hari Valentine

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Dari sekian banyak toko yang berjajar rapi di sekitar stasiun Fujimori—Kyoto, Aoi memilih satu toko roti yang bernama Kamado's Bread and Chocolate. Butuh berjalan sekitar 200 meter menuju lokasi. Melewati toko buku dan bunga. Pun jembatan kecil. Di sana, tepatnya di tikungan sebelah kiri. Ada tanaman rambat yang menyembulkan mawar-mawar merah jambu mengelilingi pagar bercat putih.


Pintu toko diberi hiasan lonceng berwarna perak. Bunyi kling menjadi tanda pengunjung yang datang. Toko ini sangat ramai saat akhir pekan. Pengunjungnya berasal dari berbagai usia. Kadang mereka datang sepasang atau sendirian. Bagi yang sedang jatuh cinta atau patah hati tak pernah dibedakan dalam pelayanan. Roti kari isi telur dan butterlfy pea flower tea sangat direkomendasikan untuk dinikmati di tempat ini. 


Aoi turut mengantri untuk memesan cokelat di hari kasih sayang nanti. Ia tidak terlalu percaya diri membuat cokelat untuk kekasihnya, Inosuke. Ia sudah memutuskan untuk memesan di toko ini. Menurut Kanroji-san, cokelat di sini tak kalah enaknya dengan menu lain. Sebab itu ia datang membawa sedikit uang tabungan di dalam saku jaket, berharap mendapatkan cokelat yang sesuai dengan Inosuke.


"Selamat datang di Kamado's Bread and Chocolate!" sapa salah satu pelayan laki-laki—yang memakai sepasang anting unik di balik meja kasir. "Ada yang bisa saya bantu? Nama saya Tanjiro." Ia memperkenalkan diri dengan senyum sehangat sinar matahari di luar sana.


"Ano, bisakah kau merekomendasikan cokelat yang sesuai untuk Valentine's Day? Em, untuk teman laki-laki." Aoi sedikit gugup saat mengatakan "teman laki-laki" karena kebenarannya Inosuke lebih dari itu. 


Tanjiro memperhatikan penampilan Aoi dengan saksama. Rambut yang dikuncir dua. Jepit kupu-kupu bercorak biru senada dengan warna bola matanya. Ia merasa pernah melihat gadis itu, tapi tidak ingat kapan dan di mana. "Apakah kita pernah bertemu di tempat lain?" tanya Tanjiro penasaran. Namun, Aoi hanya menggeleng dan menatapnya seolah kebingungan dengan sikap Tanjiro. "Aku merasa pernah melihatmu sebelumnya," gumam laki-laki yang tampak seumuran dengan Aoi itu.


Seorang gadis yang lebih muda menghampiri keduanya sembari membawa nampan yang di atasnya ada banyak croissant. Aromanya berbaur dengan keju, cokelat, dan kopi. Mendadak ia merasa lapar dan ingin mencicipinya. Tanjiro yang seperti tahu dengan perubahan sikap Aoi pun menawarkan untuk mengambil satu croissant secara gratis. Ini merupakan hal yang biasa dilakukannya kepada pengunjung baru.


"Ah, tidak." Aoi menolak dengan halus. "Aku datang ke sini untuk membeli cokelat saat Valentine's Day nanti dimulai. Tapi, aku ingin mencicipinya lebih dulu sebelum memberikannya kepada teman laki-lakiku itu. Karena selera makannya sangat payah." Ia mendengkus di akhir kalimat.


"Kami punya cokelat yang sangat spesial dan cocok dengan apa yang kau mungkin mau. Tapi, kau harus duduk menunggu dulu sembari menyantap kudapan gratis dari kami. Karena cokelatnya sedang dibuat di dapur. Butuh waktu 30 menit hingga siap disajikan." Tanjiro menjelaskan dengan ramah dan meminta tolong Nezuko—gadis yang membawa nampan, untuk mengantar Aoi duduk di salah satu kursi di dekat jendela. Kursi dan meja yang tersedia di toko ini sengaja diperuntukkan bagi pengunjung yang ingin menikmati produk Kamado's Bread and Chocolate secara langsung. Pemandangan di luar jendela sangat cocok untuk menemani mereka yang sedang asyik berbincang bersama teman.


Aoi tak punya pilihan dan mengikuti Nezuko segera. Ia duduk sendirian sembari menunggu cokelat spesial itu selesai dibuat. Selang beberapa menit, Nezuko membawa croissant dengan aroma kopi dan keju. Pun secangkir minuman yang terkenal di toko ini, butterfly pea flower tea. Tanpa basa-basi, Aoi menyantap croissant rasa kopi dengan lahap dan dilanjut dengan rasa keju. Perasaan puas tercetak di wajahnya  Tanjiro dan Nezuko tersenyum dari kejauhan.

 


 

Sudah 15 menit lamanya Aoi menunggu. Ia mulai tampak bosan dan tak sabaran. Tanjiro tiba-tiba pergi meninggalkan meja kasir setelah mengangkat telepon. Nezuko menggantikannya dengan baik dan telaten. Aoi menduga mereka adalah kakak beradik yang menjaga toko milik kedua orangtuanya—karena terlihat mirip satu sama lain. Terlebih jika tersenyum kepada pelanggan, muncul ciri khas dari Tanjiro dan Nezuko.


Aoi segera bangkit dari kursi dan menghampiri Nezuko. Ia mencari celah saat antrian sudah kosong. Segera ia bertanya perkiraan selesai pembuatan cokelat spesial yang Tanjiro katakan beberapa menit yang lalu. Nezuko sedikit kebingungan, tapi ia ingat kakaknya berpesan agar Aoi masuk ke suatu ruangan yang ada di belakang toko.


"Ruangan?" Aoi tak mengerti, tapi ia menurut dan segera keluar dari sana. 


Sebelum sampai ke halaman belakang, Aoi memperhatikan sekeliling yang banyak dihiasi bunga wisteria. Toko roti ini memang memiliki daya tarik besar karena tak hanya menunya yang luar biasa, tapi juga suasana serta bangunan yang dibuat dengan tema yang unik. Seperti di negeri dongeng. Benar-benar sangat cocok untuk tempat berkencan. Aoi tiba-tiba memikirkan hal itu. Kapan-kapan aku ingin mengajak si Babi Bodoh itu ke sini, batinnya.


Ruangan yang dimaksud ada di depan Aoi. Terlihat seperti gudang biasa bercat putih tanpa corak. Ada tanaman merambat di sisi-sisi pintu. Aoi melihat ada pendar yang muncul sekelebat dari lubang ventilasi. Ia penasaran. Jantungnya berdetak lebih kencang. Tak ada siapa pun yang nampak di area itu. Ketika Aoi dengan mantap mendorong salah satu pintu, ia terkejut dengan kehadiran Tanjiro dari balik punggung. Ia terlonjak.


"Maafkan aku, Aoi-san. Kau pasti terkejut." Tanjiro sedikit menyesal.


Aoi hanya menggeleng dan menatap ke arah Tanjiro. "Kau berpesan kepada gadis di meja kasir untuk menyuruhku datang ke sini, bukan? Memangnya ruangan apa ini?"


"Ini adalah mesin waktu. Tapi benda ini juga bisa menghadirkan orang yang kaupikirkan." Ekspresi Aoi terlihat sama sekali tidak percaya. "Buka saja, Aoi-san. Jangan lupa bayangkan wajah orang yang ingin kau temui saat melewati pintu." Tanjiro mengedipkan sebelah mata. Ia mempersilakan Aoi untuk masuk. 


Ruangan itu sangat gelap dan tidak terlalu luas. Aoi mendesah panjang sebelum memejamkan mata sembari memikirkan wajah seseorang, Inosuke. Tak lama tercium aroma cokelat yang terasa pekat di rongga hidung. Pun suara seorang anak laki-laki yang sangat dikenal oleh Aoi. Suara itu terdengar samar, tapi membuat Aoi tersenyum. Sudah 2 hari keduanya tak bertemu. Rasa rindu Aoi merambat hingga sampai ke ubun-ubun. 


"Inosuke," panggilnya. Kedua mata Aoi refleks terbuka dan melihat sekeliling. Tanjiro menyalakan lampu kuning yang menggantung di tengah ruangan. Dengan jelas Aoi bisa melihat wajah dari Inosuke. Mereka sama-sama terkejut. Hingga tanpa sadar turun bulir-bulir air dari mata kiri Aoi. "Inosuke, ke mana saja—"


Laki-laki itu tercengang, kemudian tersenyum lebar sembari menggaruk tengkuknya.

 


 

Aoi menangis hingga kedua kakinya lemas dan terjatuh. Inosuke menghampirinya cepat-cepat dan mengelus pucuk kepala Aoi. Gadis itu terlalu rindu dengan kekasihnya hingga lupa akan keberadaan Tanjiro. Namun, tak lama Aoi menyadari sesuatu jika pakaian yang dikenakan Inosuke cukup aneh karena serupa dengan pelayan Kamado's Bread and Chocolate


"Kau apa, katamu?" tanya Aoi setelah menghapus air matanya.


"Aku bekerja paruh waktu di sini." Inosuke menjawab setengah meyakinkan. "Tanjiro menyuruhku membantunya di bagian pembuatan cokelat. Aku terlalu semangat hingga malas untuk pulang ke rumah."


"Kenapa tidak memberiku kabar?" tanyanya lagi.


"Aku kan tak tahu cara memakai ponsel, Bodoh." Aoi memukul dada Inosuke sembari menahan tawa. "Aku ingin membelikanmu cincin saat Valentine nanti. Aku juga akan belajar yang rajin supaya bisa berada di satu universitas denganmu."


"Tapi kau kan bodoh dan malas ke sekolah." Aoi menampilkan ekspresi kesal dan Inosuke pun jadi salah tingkah. Dari kejauhan Tanjiro mengamati pasangan ini dengan satu senyuman yang melegakan. "Ngomong-ngomong, apa benar ini mesin waktu?"


"Hah?" Inosuke terkejut. "Tentu saja bukan, Bodoh. Tanjiro membohongimu." Terdengar suara cekikian dari balik punggung Aoi.


"Bagaimana kau tau jika aku dan si Bodoh ini saling mengenal, Tanjiro-san?" Meskipun Aoi bertanya dengan nada yang kesal, tapi di dalam hati ia berterima kasih dengan Tanjiro. Karenanya ia bisa bertemu dan melepas rindu dengan Inosuke. 


"Itu karena Inosuke pernah memperlihatkan foto Aoi-san di wallpaper ponselnya." Senyum Tanjiro menjadi akhir dari penjelasan singkatnya kepada Aoi. Wajah Inosuke pun terlihat memerah hingga sampai ke daun telinga, sedangkan Aoi salah tingkah tak mau menatap Inosuke. "Aku lega kalian dapat bertemu di sini. Aoi-san, Inosuke itu tidak pernah berhenti mengoceh tentangmu, loh. Aku pamit duluan, ya. Maaf membuatmu cemas." Aoi lekas berdiri dan membungkuk sebelum mengucapkan terima kasih kepada Tanjiro. "Inosuke, jangan lupa minta maaf kepada Aoi-san, oke?" tambahnya.


Setelah kepergian Tanjiro, keduanya pun saling tersenyum dan berpelukan. Kupu-kupu besar di hati Aoi pun lepas dan menggelitiki hati Inosuke.

 

Fin

Notes:

Maaf kalau tidak sesuai dengan prompt