Actions

Work Header

a white rose before spring begins

Summary:

Catatan:
Semua yang tertulis di sini tak boleh kaupercayai begitu saja. Kau boleh berpikir ini halusinasi penulis atau sungguhan kisah nyata yang dimilikinya.

-Shinazugawa Sanemi-

[#sanekana; Adalah semacam kumpulan kisah cinta yang ditulis oleh Pilar Angin sendiri perihal hubungannya bersama Pilar Bunga; 1/15]

Notes:

[Kimetsu no Yaiba milik Gotouge Koyoharu; fanfiksi ini ditulis hanya untuk bersenang-senang dan memenuhi batin saya sebagai penyuka pasangan Sanemi dan Kanae; tanpa mengambil keuntungan berupa materiel]

#

Warning: Berpotensi Out of Character, terutama karakter Sanemi. Penulis sedang ingin menggambarkan sisi lembut+manis Sanemi saat berhadapan dengan Kanae.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

as long as i have you

i am complete

-Edgar Holmes-


Setangkai bunga mawar putih di tangan kanan dan sebuah kanzashi perak di tangan kiri. Daunnya mencuat dari balik punggung Sanemi. Seperti hendak mengintip ingin tahu—kepada siapa ia akan berakhir. Kepada siapa tuannya akan berbagi. Karena warna putih tak hanya bermakna suci, tapi juga penyatuan hati. Ia jelas akan diserahkan kepada yang terkasih. Namun, hingga detik ini ia belum juga muncul. Si mawar putih mulai penasaran.


Adalah Kanae—nama yang indah; perempuan ini hadir dengan senyuman yang mendamaikan. Pantas saja burung-burung kecil yang bertengger di ranting pohon ikut bercicit. Angin musim semi seperti berbisik atau barangkali melempar godaan kepada Sanemi. Karena rona merah jambu bercahaya di kedua sisinya. Samar-samar ia pun mendengar melodi indah dari arah barat. Arah Kanae berlari-lari kecil. Membuyarkan lamunan dan membuainya supaya jatuh. Jatuh cinta. Cinta pada pandangan pertama. Cinta yang pertama. Baginya tak terlukiskan seperti apa rasanya detik ini.


Dengan kimono polos berwarna merah jambu Kanae mendekati laki-laki yang memiliki garis luka di wajahnya. Kanae tak terlihat merona, tapi jantungnya terasa berdetak begitu cepat. Barangkali, ia terlalu gugup karena Sanemi tak kunjung selesai mengamati bibirnya. Hingga satu kelopak bunga sakura jatuh melewati pucuk hidungnya. Kemudian, Kanae tertawa sembari memukul ringan dada Sanemi yang tampak luka-luka sayatan. Tentu saja Sanemi tak kesakitan karena itu. Sebab ia merupakan salah satu hashira terkuat yang menguasai pernapasan angin. 


#


Hari ini, bukan kali pertama mereka bertemu secara rahasia. Apalagi di tengah hutan; di ujung jembatan; usai misi memburu iblis. Adalah kali ke empat belas mereka berdua bertemu dan saling melempar senyuman seperti ini. Meskipun awalnya Sanemi berair muka kaku, tsundere, dan enggan terbuka. Namun, seiring berjalannya detik dan menit, Sanemi merasakan kenyamanan saat bersama dengan perempuan yang memiliki bola mata seperti bunga lavender tersebut. Sanemi mendadak teringat dengan Masachika dan Himejima-san. Dua orang yang membuatnya menyadari keberadaan Kanae di hatinya.

 
Kanae berhenti tertawa. Fokusnya berganti turun ke arah daun bunga mawar yang mencuat. Ia tersenyum dan menanti Sanemi berbicara lebih dulu. Meskipun rasa penasaran menggorogoti hatinya saat ini. "Apa yang sedang kau pegang, Shinazugawa-kun?" 


Dengan sedikit malu-malu Sanemi mengeluarkan tangan kanannya dan seketika muncul setangkai mawar putih. Kanae tampak senang dan tak sabar untuk kejutan di tangan kiri Sanemi. Namun, alih-alih menyodorkan tangan kiri, Sanemi justru menyodorkan wajahnya hingga ujung bibirnya menyatu dengan ujung bibir Kanae. Detik berikutnya, mereka saling memejamkan mata.


Di sela-sela ciuman itu, Sanemi menarik tubuh Kanae dan mulai menjelajahi pipi dan lehernya. Aroma bunga sakura yang disua angin menambah gairah pubertas pasangan yang sedang dimabuk cinta. Akan tetapi, Kanae tak mau kalah. Di saat Sanemi hanyut dalam jagat, ia dengan sengaja menarik tangan kiri Sanemi hingga kanzashi berbahan besi—dengan hiasan manik-manik merah jambu itu terjatuh.

 
Sanemi terlonjak, sedangkan Kanae refleks meminta maaf dan segera memungut benda tersebut. Ada ukiran nama terselip di benda itu. Kanae Shinazugawa. Dengan wajah berseri-seri keduanya saling bertatap muka cukup lama. Hingga tanpa sadar ada seekor tupai menertawai mereka.


"Kanae, aku ingin kau memilikinya."


Satu kalimat yang menyentuh dan menghangatkan hati Kanae. Kanzashi perak itu secara kiasan memberi arti sebuah lamaran. Bersamaan dengan jantungnya yang kian detik kian berdetak kencang, Kanae menyambut benda itu dengan perasaan tulus. Pun berjanji akan selalu menjaganya. Hingga tulang-tulang yang berwarna putih berubah menjadi abu legam.

 
Fin

Notes:

[kanzashi: tusuk konde asal Jepang; berbahan besi, kuningan, kayu, dll]

Series this work belongs to: