Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-03-20
Words:
1,559
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
27
Hits:
131

Bridge of Life

Summary:

Sejun ingin marah pada dunia, karena bagaimana bisa semuanya berjalan dengan normal disaat dunianya bahkan sudah runtuh.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

"Tomorrow's sun will rise, dengan Kang Seungsik disini."

"..Ah.. Kau lagi."

Terdengar kekehan pelan di seberang sana, namun sayangnya hal itu tidak menular untuk lelaki yang saat ini sedang bersandar di pembatas besi Jembatan Mapo, berbeda dengan nada bicara Seungsik yang sangat ceria di telepon, raut wajah Sejun masih sama suramnya.

"Im Sejun? Kali ini apa yang membawamu ke sini?"

"Entahlah.. jika kau yang mengangkat telepon ini, semua yang ingin aku ungkapkan tiba-tiba sirna."

Kekehan kecil kembali terdengar, Seungsik benar-benar sudah hafal dengan suara ini, suara yang kerap kali menelepon kantornya tempat ia bertugas sebagai volunteer untuk mendengar cerita orang yang menggunakan jasa telepon di Jembatan Mapo.

"Aku pun heran kenapa selalu aku yang mengangkat telepon darimu."

"Mungkin Tuhan belum mau aku mati, karena setiap mendengarkanmu, keinginanku untuk mati selalu hilang."

Hening sesaat, baik Seungsik maupun Sejun seperti memilih nyaman dalam keheningan. Memang Sejun sudah beberapa kali ke sini, dan sebanyak itulah selalu Seungsik yang mengangkat telepon tersebut, seakan-akan langkah Sejun yang ingin mengakhiri hidupnya berakhir dengan mencurahkan seluruh hatinya pada Seungsik.

"Kali ini, what's troubling you, Sejun?"

"Banyak, sampai aku bingung harus memulai dari mana"

"Aku akan dengarkan"

Senyum tipis terpatri di wajah Sejun, selalu seperti ini, nada bicara Seungsik yang menenangkan dapat mengantarkan rasa hangat ke hatinya, padahal Seungsik hanya mengucapkan kalimat-kalimat singkat yang mungkin saja sudah terencana karena ini adalah pekerjaannya, bukan untuk menghibur dirinya.

"Seungsik."

"Hm?"

"Hari ini aku menyadari satu hal."

"Apa?"

"Dunia tidak akan berhenti, walaupun kita sedang menderita karena kehilangan seseorang."

Tidak ada getaran di nada bicara Sejun, tapi entah kenapa hatinya terasa nyeri mendengarnya.

"Matahari masih tenggelam di sebelah barat, manusia tetap sibuk untuk menyenangkan dirinya sendiri, dunia tetap berjalan seperti biasa di saat duniaku bahkan sudah runtuh sepenuhnya."

Seharusnya, jika Seungsik menerima telepon seperti ini, dirinya harus sigap menghubungi 911 untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, tetapi berbeda dengan Sejun, Seungsik percaya lelaki itu kuat, dan dirinya yakin kalau ia akan berhasil menghentikan Sejun dari aksi nekatnya itu.

"Seungsik, kau ingat kan semua cerita ku yang lalu?"

Seungsik mengangguk walaupun ia tahu Sejun tidak akan melihatnya. Seungsik tentu ingat berbagai cerita Sejun di setiap lelaki itu meneleponnya, mulai dari tekanan yang Sejun dapatkan dari keluarganya, dan hal lainnya yang membuatnya muak dan terbesit pikiran untuk mengakhiri hidupnya.

"Kau tentu tahu, sekeras apa aku berusaha kuliah demi membahagiakan orang tuaku."

"Tentu, Sejun. Kau hebat, kau akan berhasil nantinya."

Seungsik mengernyitkan dahi saat mendengar tawaan sinis di seberang sana, lalu berujung dengan isakan pelan.

"Sejun?"

"Semuanya sia-sia."

Seungsik terdiam, tangannya mengepal karena gugup, haruskah ia menghubungi 911 sekarang?

"Mereka pergi, aku tidak punya apa-apa sekarang."

"Sejun.."

"Aku kuliah untuk membuat mereka bangga, tapi kalau mereka sudah tidak ada, untuk apa aku hidup dan melanjutkan semuanya?"

Seungsik menggigit bibir bawahnya kencang, hatinya kembali terasa perih saat mendengar isakan Sejun yang semakin jelas di telinganya.

"Sejun, ini bukan akhir."

"Kalau bukan akhir, lalu apa? siapa yang akan datang di wisudaku nanti? siapa yang akan merasa bangga padaku?"

Seungsik kembali bergerak gelisah, ingin rasanya ia berlari menuju Jembatan Mapo dan memeluk lelaki yang selama ini hanya ia kenal melalui telepon, tapi ia takut jika dirinya meninggalkan telepon ini akan ada hal yang tidak diinginkan terjadi.

"Sejun, duniamu tidak berhenti hanya karena kau kehilangan seseorang."

Tidak ada jawaban disana, tetapi Seungsik masih bisa bernafas lega karena isakan tangis Sejun masih terdengar jelas, tanda kalau lelaki itu masih mendengarkannya.

"Kau masih punya keluarga lain, Sejun. Hidupmu harus terus berjalan, kabulkan semua keinginan orang tuamu, yakinlah bahwa mereka melihatmu dengan bangga di atas sana jika kau berhasil."

"Kau paham apa yang aku maksud dengan orang tuamu akan melihatmu dengan bangga?"

Sejun menggeleng lemah walaupun tahu bahwa Seungsik tidak akan mengetahui pergerakkannya, tetapi dirinya benar-benar sudah kehabisan tenaga untuk sekedar mengeluarkan suara.

"Saat kau berhasil nanti, nama orang tuamu yang akan disebut pertama kali oleh orang-orang, mereka akan menyebut nama orang tuamu dan mengagumimu yang bisa berhasil walau tanpa kehadiran orang terpenting dihidupmu, dan jangan lupakan mereka juga melihatmu di atas sana, Sejun. Jika kau seperti ini, bukankah mereka akan sedih? Kau sudah sampai sini, apakah nantinya kau tidak akan menyesal jika berhenti sekarang?"

Deru nafas Sejun mulai teratur, dan itu membuat Seungsik tanpa sadar menghela nafas lega.

"Sejun, kau boleh menangis sepuasnya hari ini, mengutuk dunia sesukamu, tapi kau harus berjanji, besok kau akan memulai kembali semua, life must go on, Sejun. Kau pasti berhasil, kau hebat."

Rasa hangat kembali menjalar ke seluruh hatinya, nada bicara Seungsik yang hangat dan tenang selalu berhasil membuatnya lebih baik, terkadang Sejun penasaran bagaimana sosok Seungsik sebenarnya? apakah ia akan mendapat lebih banyak kehangatan jika bertemu langsung dengannya?

"Seungsik."

"Hm?"

"Terima Kasih."

Seungsik tersenyum lebar, "Sama-sama, Sejun."

Dan malam itu, Sejun kembali menggagalkan rencana yang kerap kali hinggap di otaknya, dan dirinya kembali ke rumah dengan perasaan yang lebih ringan.

 


 

"Tomorrow's sun will rise, dengan Kang Seungsik disini."

"Wah.. benar-benar ajaib."

Tawa Sejun pecah setelahnya saat mendengar suara Seungsik, sudah lama dirinya tidak kembali ke tempat ini, dan saat ia memutuskan untuk kesini ia sama sekali tidak menyangka kalau dirinya benar-benar akan disambungkan kembali dengan Seungsik.

"Sejun? sudah lama sekali ya, apa kabar?"

Nada bicara Seungsik yang sama antusiasnya membuat Sejun tersenyum lebar, membuatnya berpikir kalau bukan hanya dirinya saja yang merindukan suara lelaki itu.

"Baik, baik sekali, Seungsik."

"Syukurlah, lalu.. apa yang membawamu ke sini?"

"Aku rindu suaramu"

Seungsik termenung mendengarnya, namun tidak dipungkiri senyum lebarnya justru terpatri di wajahnya, ia bahkan belum pernah bertemu langsung dengan lelaki ini, tapi ia merasa senang mendengar kalau dirinya dirindukan.

"Seungsik."

"Hm?"

"Kau benar."

"Benar dalam hal apa?"

"Hari ini aku berhasil mengabulkan keinginan orang tuaku, dan seperti yang kau bilang, mereka melihatku dengan bangga."

"Benarkah? Selamat, Sejun. Aku turut berbahagia."

Sejun tersenyum mendengarnya, alangkah indahnya jika ia bisa bertemu Seungsik sekarang dan mendengar ucapan selamat dari lelaki itu secara langsung.

"Tapi ada satu hal yang menggangguku, Seungsik."

"Apa?"

"Keluarga ku memang banyak yang datang, tetapi melihat teman-temanku.. ada yang berbeda dengan raut wajah mereka."

Seungsik mengernyitkan dahinya bingung, tangannya yang tadi sibuk membolak-balikkan kertas yang ia pegang berhenti dan ia lipat di atas meja, tanda ia akan lebih fokus dengan apa yang akan dikatakan Sejun setelah ini.

"Berbeda?"

"Iya. Awalnya aku tidak mengerti, tapi setelah aku perhatikan, aku paham.. mereka semua didampingi dengan soulmate mereka."

"Soulmate?"

"Kau percaya dengan hal itu, Seungsik?"

Seungsik menggeleng pelan, sadar bahwa hal tersebut luput dari Sejun maka ia langsung menyuarakannya.

"Entahlah.."

"Bukankah semuanya akan bertemu dengan soulmatenya saat berumur 20 tahun?"

"Katanya sih seperti itu, kau belum bertemu soulmate mu?"

"Belum, selama ini aku belum bertemu orang yang warna matanya sama denganku"

Seungsik menggumam pelan, sejujurnya dia juga ragu akan hal itu, karena dirinya sendiri pun sama seperti Sejun, ia belum menemukan soulmatenya di umur sekarang.

"Bagaimana dengan mu? kau sudah menemukan soulmate mu?"

"Aku juga belum."

"Apa sistemnya error ya?."

Seungsik terbahak mendengarnya, nada bicara Sejun terdengar polos, tetapi Seungsik justru menganggapnya itu lucu.

"Yang benar saja, Sejun. Mungkin kita memang tidak memiliki soulmate, atau mungkin kau sudah bertemu dengannya tetapi kau tidak sadar?"

"Tidak mungkin, semua orang punya soulmatenya masing-masing, Seungsik."

"Kalau begitu, apa warna matamu, Sejun?"  

Tanpa sadar Seungsik menggigit bibir bawahnya dengan gugup sembari menunggu jawaban Sejun.

"Kau ingin melihatnya sendiri?"

"Apa?"

"Ayo kita bertemu."

Seungsik mengerjapkan matanya kaget, badannya refleks menegak karena tidak menyangka kalimat itu akan terdengar olehnya.

"Kau.. tidak ingin bertemu denganku ya?"

"B-bukan.. hanya saja.."

"Aku akan menunggumu dalam waktu dua jam"

Bohong kalau Seungsik tidak ingin bertemu langsung dengan pelanggan setianya ini, sudah sejak lama ia sangat penasaran dengan sosok Sejun, bahkan sempat terpikir olehnya ia akan memeluk lelaki itu dan menenangkannya secara langsung, tidak hanya melalui suara di telepon.

"Aku hanya ingin bertemu denganmu, dan mengucapkan terima kasih secara langsung, mungkin kau tidak sadar, tapi kau adalah penyelamat hidupku, Seungsik."

Jantungnya kembali berdetak tidak normal, bahkan setelah telepon mereka terputus dan membuat Seungsik menimbang apakah ia harus pergi atau tidak. Seungsik bisa saja langsung pergi saat itu juga, tetapi banyak pemikiran yang menghambatnya, bagaimana kalau nantinya mereka akan canggung? bagaimana kalau Sejun akan kecewa dengan rupa aslinya?. Seungsik dengan segala insecurity nya akan selalu menghambatnya.

 


 

Sejun tidak tahu ia sudah menunggu berapa lama di sini, walaupun tadi dirinya memberi waktu dua jam pada Seungsik, nyatanya sampai hari mulai larut pun dirinya masih betah di tempat ini, menatap luasnya laut di hadapannya dan hembusan angin malam yang sesekali membuatnya bergidik kedinginan.

Rasa kecewa dan takut tentu ada, apakah Seungsik benar-benar tidak ingin bertemu dengannya? Sejun ingin mencoba menelepon kembali tetapi dirinya takut kalau nantinya sambungannya akan diangkat oleh Seungsik dan ia mendapatkan jawaban yang membuatnya kecewa.

Sejun menghela nafas, mungkin sudah waktunya ia pergi, Seungsik tidak mungkin mau bertemu dengan orang yang selama ini hanya ia ketahui suaranya saja.

"Sejun?"

Sejun menoleh cepat saat mendengar suara familiar yang memanggilnya, ia mendapati lelaki berambut pirang dengan sweater kebesaran berwarna hijau tua dan celana jeans hitam yang menutupi kaki jenjangnya, Sejun terpaku saat Seungsik menunjukkan senyum canggungnya, tangan lelaki itu bergerak gugup dengan memainkan ujung sweaternya.

"Maaf, aku terlambat."

Dan satu hal lagi yang membuatnya terpaku adalah, warna mata Seungsik yang membuat tatapannya terkunci hanya pada lelaki itu.

 

Rose Squartz..

Persis seperti dirinya.

 

"Hai.. Seungsik, akhirnya aku bisa bertemu denganmu."

Sejun menunjukkan senyum lebarnya bahkan sampai ceruk dalam di kedua pipinya terlihat, ternyata benar apa kata Seungsik, ia sudah menemukan soulmatenya, walaupun selama ini ia hanya terhubung melalui sambungan telepon.

 

-

Notes:

Semua kesedihanku sudah aku tumpahin disini, maaf kalau mengecewakan ya... ini debut imsumku, debut nulis pake bahasa baku juga.... jadi maaf kalau banyak kekurangan soalnya aku masih belajar🥺.

Terima kasih sudah luangin waktu buat baca!❤️