Actions

Work Header

Happy Birthday, Yuuji!

Summary:

Satoru hanyalah seekor kucing. Ia benci mengakui fakta bahwa ia selalu kalah langkah dalam menguasai sang Tuan alias Yuuji.

Maka, ia mengucap doa;
Ia ingin menjadi manusia, menghabiskan waktu dengannya, mengucapkan selamat ulang tahun dan memberinya hadiah. Mengukir kenangan bersama—tak peduli jika hanya sesaat.

Notes:

Jujutsu Kaisen © Gege Akutami

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Satoru jelas sangat tahu, bahwa manusia senang merayakan peristiwa penting dalam hidup mereka—salah satunya adalah hari kelahiran. Maka, Satoru tak heran ketika kedua teman tuannya, yaitu Kugisaki dan Fushiguro membahas mengenai perayaan ulang tahun sang tuan yang akan datang dalam beberapa hari lagi ketika pemuda itu beranjak meninggalkan mereka untuk memasak makan malam. 

 

Satoru dengan santainya duduk di antara dua manusia yang tengah berdebat itu—hanya Nobara yang semangat menyusun seribu satu rencana dan Fushiguro yang masih bertahan dengan ekspresi datar tanpa minatnya itu. Ia mendengarkan dengan seksama, otak kecilnya mengingat setiap detail obrolan mereka mengenai kejutan juga hadiah. Sayangnya, obrolan seru mengenai hadiah apa yang akan diberikan kepada Yuuji itu berakhir menggantung ketika teriakan pemuda manis itu menggema di apartemen mungilnya, membuat Satoru mendengus kesal sebab gagal mendapatkan inspirasi. 

 

Satoru menikmati makannya dalam diam, mata biru yang tersembunyi di balik kacamata mainan kesayangannya melirik sang tuan yang tengah bersenda gurau dengan teman-temannya. Oh Tuhan, betapa Satoru menyukai bagaimana seulas senyum itu terbentuk di paras manisnya, juga suara tawanya.

 

Ia jadi penasaran, apakah Yuuji akan memberikan senyum serupa—atau lebih manis lagi—ketika ia memberikan hadiah padanya?

 

Tapi, apa yang bisa ia berikan pada Yuuji sebagai hadiah? Tikus? Cicak? Sudah terlalu sering, dan dua benda itu selalu berakhir dibuang meski Yuuji memujinya. Satoru ingin memberikan hadiah yang berbeda, hadiah yang nantinya akan disimpan oleh Yuuji. 

 

Sayangnya, ia tak tahu. Ia benar-benar buntu. Nasibnya yang terlahir sebagai kucing membuatnya tak punya banyak pilihan. Tak seperti Kugisaki dan Fushiguro dimana dia manusia itu pasti sudah memiliki rencana sendiri. 

 

Disaat seperti inilah Satoru merasa iri. 

 

Ia iri kepada Kugisaki dan Fushiguro yang terlahir sebagai manusia. Bisa berkomunikasi dan melakukan apapun kepada tuannya. Memberikan afeksi sesuka hati. 

 

Tak seperti dirinya

 

Satoru menghela nafas, mangkok berisi makanan yang baru berkurang seperempat ia dorong menjauh. Ia membawa langkah kakinya menuju beranda apartemen Yuuji dan memilih untuk melingkarkan badannya di lantai dengan mata menatap langit malam berhias bintang—posisi favoritnya ketika ingin menyendiri. 

 

“Ada apa dengan kucing obesitasmu itu?” Satoru bisa mendengar dengan jelas suara Kugisaki. Namun ia memilih untuk tak peduli. Sekarang ia sedang dalam mode overthinking.

 

Ia terlalu tenggelam dalam pikirannya, tak sadar jika lampu ruangan telah sepenuhnya padam, hanya menyisakan sinar temaram dari televisi yang menyala—trio itu pasti berniat untuk movie marathon yang berakhir dengan ketiduran. Satoru—untuk entah yang keberapa kalinya—kembali menghembuskan nafas lelah, ia melangkah pelan menuju sang tuan, berniat untuk tidur di pelukan hangatnya. 

 

Yang sayangnya, jatahnya sudah terlebih dahulu diambil oleh Kugisaki dan Fushiguro yang seenaknya menjadikan Yuuji sebagai guling. Benar-benar tak menyisakan sedikitpun tempat untuknya. 

 

Kurang ajar! 

 

Kenapa nasibnya selalu sial begini kalau sudah dalam masalah menguasai Yuuji!

 

Demi Tuhan dan seluruh alam semesta, Satoru ingin jadi manusia saja kalau begini caranya!

 

Menggeram, Satoru dengan sepenuh tenaga menyingkirkan tangan dua manusia itu dari pinggang ramping sang tuan. Setelah dua tangan itu hilang dari teritorinya, ia menyamankan diri di atas perut Yuuji, Satoru pun mengeong pelan, “Miaw miaw miaw…”

 

Yang artinya, ‘Wahai Dewa, pokoknya besok aku ingin jadi manusia! Aku tidak mau tahu, pokoknya besok aku harus jadi manusia!’ pinta—tidak, perintah Satoru kepada Dewa-Dewi di langit sana sebelum ia menutup mata. 

 


 

Pagi ini, Satoru bangun dengan perasaan aneh. Entah mengapa, ia merasa kedinginan—sangat kedinginan, seperti hembusan angin tanpa permisi langsung menjilat tubuhnya begitu saja tanpa tertahan bulu-bulu tebalnya. Ia bergidik, meski tubuhnya kedinginan, ia terlalu malas untuk membuka mata, lebih baik ia merapat ke benda hangat yang berada di pelukannya. Hangat dan nyaman. Begitu membuainya. 

 

Hingga—

 

“SIAPA KAU?! ITADORI BANGUN!” 

 

Teriakan Kugisaki menghancurkan pagi indahnya. Meski enggan, Satoru memaksakan diri membuka kelopak matanya. Ia mengerjap ketika mendapati helai merah muda yang menyambutnya, helai merah muda yang terlalu familiar untuknya. Ia melarikan pandangannya semakin kebawah, mengerjap takjub ketika mendapati wajah manis sang tuan tertampang jelas. Wajah manis yang masih setengah sadar akibat dibangunkan dengan teriakan tak berperikemanusiaan—wajah yang begitu menggemaskan. 

 

“Yuuji?” gumamnya bingung. 

 

Tunggu. TUNGGU SEBENTAR. 

 

Ada yang aneh disini. 

 

Satu, tubuhnya yang bergidik kedinginan dan terasa telanjang. 

 

Dua, wajah Yuuji yang terasa lebih jelas dan lebih mungil dari yang selama ini ia lihat. 

 

Tiga, yang terpenting, ia baru saja buka suara dan yang keluar bukanlah meongan bodoh. Tapi… 

 

“Aku bisa bicara?” 

 

Satoru melepaskan pelukannya pada tubuh Yuuji, ia memandang Kugisaki yang tengah menatapnya dengan wajah mengerikan—abaikan, gadis itu sering memasang ekspresi demikian. 

 

Satoru mengambil posisi duduk, ia mengangkat tangannya. 

 

Yang terpampang bukan lagi cakar penuh bulu putih, melainkan tangan manusia normal. Tangan manusia pada umumnya, sama seperti tangan Yuuji, tapi sedikit lebih pucat. 

 

Ia masih takjub dengan keadaannya, tak sadar bahwa sang tuan sudah membuka matanya dan menatapnya ngeri. 

 

“Yuuji!” tanpa permisi, Satoru menerjang tubuh sang tuan, membuat keduanya kembali terjatuh di atas kasur lipat. 

 

“Yuuji! Yuuji! Akhirnya aku jadi manusia!” girang Satoru, yang tanpa pemikiran panjang langsung menjilati bibir Yuuji—seperti apa yang biasa ia lakukan. Tanpa sadar bahwa perbuatannya membuat paras manis Yuuji memerah padam, serta dua manusia yang sedari tadi menjadi saksi terdiam membeku. 

 

“ORANG MESUM! MENYINGKIR DARI ITADORI!”

 

Bruak!

 

Dan dengan begitulah, pagi hari di kediaman Itadori terlihat begitu hidup . Lengkap dengan sosok pria (telanjang) bersurai seputih salju yang tengkurap tak sadarkan diri setelah dihadiahi dengan tendangan penuh kasih dari Kugisaki Nobara. 

 


 

Satoru terbangun—untuk kedua kalinya. Ia tak lagi merasakan dingin, tapi sebagai gantinya kepalanya terasa agak sakit setelah terkena tendangan mematikan Kugisaki. Ia memaksakan dirinya untuk duduk, tangannya tanpa sadar memukul pelan kepalanya guna menghalau pening yang tak kunjung pergi. 

 

Ia mengedarkan pandangannya dan menemukan Kugisaki berdiri di hadapannya dengan tangan bersedekap di depan dada, dilengkapi sepasang mata yang menatapnya tajam. Disamping gadis itu berdiri seorang pemuda berambut hitam, siapa lagi jika bukan Fushiguro. Pemuda itu menatapnya tajam ketika ia berusaha mencuri pandang pada sosok Yuuji yang disembunyikan di balik punggung Fushiguro. Membuatnya mendecih tak suka. 

 

“Kau siapa, Pak Tua? Dan kenapa kau bisa masuk ke sini?” tanya Kugisaki sambil menodongkan palu yang entah ia dapatkan darimana. 

 

Satoru menyingkirkan palu itu dari hadapannya, ia justru berjalan mendekati Yuuji—yang semakin disembunyikan oleh Fushiguro. Ia mengerucutkan bibirnya, “Yuuji, Yuuji, ini aku Satoru. Nyatoru kucing kesayanganmu.”

 

“Nyatoru?” 

 

Yuuji mengambil langkah maju, mengabaikan Fushiguro yang berusaha menahannya. Pemuda manis itu mendekati Satoru, menatapnya lekat. 

 

“Kau… Nyatoru? Kucingku?” tanya Yuuji tak yakin.

 

Satoru menganggukkan kepalanya, ia hendak menerjang Yuuji—lagi—jika saja Kugisaki tak menahan kerah bajunya.

 

“Jangan mengarang cerita ya. Bagaimana bisa kucing gendut mesum itu berubah jadi manusia begini? Jawab ju—“

 

“Hei! Siapa yang kau panggil kucing mesum, Nobara?!”

 

Kugisaki menaikkan sebelah alis, “ What? Bagaimana bisa ia tahu namaku? Ew, paman mesum ini pasti seorang penguntit.”

 

“Sudah kubilang aku ini Satoru, kucingnya Yuuji. Terserah kalian percaya atau tidak. Eh tapi Yuuji percaya padaku ‘kan?” 

 

Yuuji menggaruk pelipisnya, ragu. Ia mengalihkan matanya dari pandangan Satoru, “Er—matanya mirip dengan Satoru sih.”

 

“Tidak masuk akal,” Fushiguro akhirnya buka suara, ia kembali memasang badan di depan Yuuji, menghalaunya dari tatapan Satoru. 

 

Satoru mendecih, ia melipat tangannya di depan dada. Matanya menatap remeh ke arah Fushiguro, seulas senyum menantang terlukis di wajahnya, “Yuuji memungutku di taman setelah memberiku makan sebungkus sosis. Aku pernah sakit karena terlalu lama berendam dengan Yuuji. Aku juga pernah jatuh sakit saat kau dan Yuuji akan berkencan, yangmana membuat kencan kalian batal. Aku suka tidur di dada dan pantat Yuuji, aku juga tahu ukuran celana da—“

 

BUGH!

 

“Bukankah itu ciri-ciri penguntit! Ayo kita seret dia ke kantor polisi!” heboh Kugisaki setelah ia mendaratkan pukulan pada kepala putih itu. 

 

“Sudah kubilang aku ini bukan penguntit! Yuuji, percayalah padaku. Aku sungguhan Satorumu!”

 

Yuuji menghela nafas panjang, sebenarnya ia tak ingin percaya, tapi apa yang dikatakan oleh Satoru semuanya ada benarnya. Orang yang mengetahui bahwa ia memungut Nyatoru malam itu hanyalah Kugisaki, soal Nyatoru yang sakit karena terlalu lama berendam dengannya dan perkara kencan itu hanya ia dan Fushiguro yang tahu. Meski terlihat tak masuk akal, entah kenapa Yuuji percaya bahwa pria—tampan itu adalah Satoru atau Nyatoru, kucing kesayangannya.

 

“Ha—h, daripada ribut-ribut begini terus, lebih baik kita sarapan. Aku sudah lapar,” ucap Yuuji. Ia balik badan, hendak berlalu ke dapur sebelum ia merasa limbung ke depan akibat ditubruk oleh seseorang. 

 

Yang tak lain adalah Satoru. 

 

 

 

Singkat cerita, akhirnya Satoru dan Yuuji kembali berduaan di apartemen milik pemuda manis itu. Nobara dan Fushiguro berhasil pergi setelah perdebatan panjang yang membuat telinga Satoru panas sendiri karena mendengarkan tuduhan-tuduhan tak mengenakkan yang dilayangkan padanya. Ia sebenarnya tak peduli jika dua orang itu tak percaya padanya, ia hanya peduli pada Yuuji. Jika Yuuji percaya, itu sudah cukup untuknya.

 

Keduanya kini duduk di meja makan, berhadapan, dengan secangkir susu hangat di genggaman. Satoru tak bisa berhenti tersenyum ketika matanya bertemu pandang dengan sepasang manik madu milik Yuuji. Ia senang bukan kepalang, setelah sekian lama akhirnya ia menjadi manusia.

 

Yang entah sampai kapan akan bertahan, yang penting ia akan menikmati dan memanfaatkannya dengan bersungguh-sungguh.

 

“Kurasa Satoru- san butuh baju yang lebih layak,” celetuk Yuuji tiba-tiba setelah memandang Satoru lekat. Dimana Satoru mengenakan kaos berwarna orange miliknya yang memeluk erat tubuh Satoru alias kekecilan, juga celana panjang yang menggantung di sebatas betis. Yuuji sendiri sebenarnya masih tak menyangka jika kucing gemuk nan lucunya jika menjadi manusia akan menjadi— ehm, tampan, ehm —dan tinggi menjulang.

 

“Hm? Tidak usah, aku nyaman pakai baju Yuuji. Baunya seperti Yuuji,” ucap Satoru sambil tersenyum tampan, membuat paras manis Yuuji bersemu merah.

 

“Tetap saja. Bajuku terlalu kecil untukmu. Apa aku pinjamkan baju ke Fushiguro?”

 

Oh tidak, ide yang buruk. Ia menggeleng, “Tidak apa, Yuuji. Tidak usah repot begitu, lagipula aku tidak tahu sampai kapan aku akan berada dalam wujud begini. Lebih baik aku meminjam pakaianmu sementara waktu.”

 

Yuuji mengangguk setuju, ia mengangkat cangkir miliknya, menyesap isinya sebelum ia teringat akan sesuatu, “Setidaknya kita harus beli pakaian dalam. Milikku terlalu kecil untuk Satoru- san gunakan.”

 

“Hm—untuk yang itu aku setuju. Yuuji memang kecil.”

 

Blush— !

 

Terkutuklah mulut Satoru yang sudah dengan kurang ajarnya membuat Yuuji malu setengah mati.

 

Keesokan harinya, ketika Yuuji pulang dari kerja paruh waktunya, ia membawakan kantong berisi 3 stel pakaian santai, 1 stel pakaian semi-formal, dan 6 pasang pakaian dalam untuk Satoru—yang Yuuji beli berdasarkan insting.

 

Ketika Satoru mencobanya, ia memasang wajah kecewa.

 

“Salah ukuran ya?” heran Yuuji ketika melihat wajah asam Satoru.

 

Pria itu menganggukkan kepalanya, ia menarik tangan Yuuji dan meletakkannya di selangkangannya, “Yuuji, jika kau terlalu malu untuk bertanya ukuranku, kau bisa mengukurnya sendiri.”

 

Blush— !

 

Yuuji, untuk yang kesekian kalinya, merasa begitu malu dan juga murka dengan tingkah Satoru yang tidak tahu malu.

 

Bedebah.

 


 

Sudah dua hari lamanya Satoru berada dalam wujud manusia. Ia sama sekali tak kesulitan untuk beradaptasi dengan kehidupan barunya. Sebab selama ia menjadi kucing, ia selalu mengekori Yuuji dan mengingat dengan baik apa yang pemuda itu lakukan, sehingga ia tak begitu asing dengan segala perabotan di rumah itu. Lagipula, sejak awal ia juga bukan seperti kucing pada umumnya—Satoru sangat sadar akan hal itu.

 

Selain itu, kehidupannya sebagai kucing dan sebagai manusia juga tak terlalu berbeda—sama-sama ditinggal Yuuji di rumah sendirian. Bedanya, sekarang Satoru diberi uang juga ponsel—milik Yuuji ketika SMA—dan juga kunci cadangan apartemen jikalau Satoru ingin menghabiskan waktu jalan-jalan ke luar, yang hanya pernah terjadi sekali ketika ia berinisiatif keluar untuk mencari hadiah ulang tahun untuk Yuuji.

 

Ngomong-ngomong tentang ulang tahun, ia sudah menyiapkan kejutan untuk Yuuji. Ketika pemuda itu pergi kuliah, ia ikut keluar demi membeli kue stroberi kesukaan Yuuji. 

 

Ia hanya mampu membeli kue, uang yang diberikan Yuuji tak cukup untuk membeli daging steak favorit pemuda manis itu. Apa boleh buat, ia ‘kan hanya kucing. Mantan kucing lebih tepatnya. 

 

Sembari menunggu Yuuji pulang, Satoru memilih untuk duduk di ruang makan. Tangannya sibuk dengan ponsel lama milik Yuuji, membuka galeri demi menikmati tiap potret masa remaja pemuda manis itu. 

 

Seulas senyum terulas di bibir. Terkadang ia berseru saking tak kuat menahan gemas melihat potret sang tuan yang terlalu manis. Tak jarang juga ia mencium layar ponsel saking tak tahannya. Tingkahnya sudah serupa dengan orang kasmaran. 

 

Tepat pukul 8 malam, Yuuji pulang dengan tangan yang menenteng kantong berisi kotak hadiah. 

 

“Maaf ya, Satoru -san , aku pulang terlambat. Satoru- san sudah makan?” tanya Yuuji ketika ia bertemu pandang dengan Satoru yang masih bertahan di meja makan. 

 

Satoru menggeleng, membuat Yuuji memasang wajah bersalah. Ransel dan kantong berisi hadiah ia letakkan di sofa. Ia melangkah menuju dapur, lengan hoodie yang ia tarik sebatas siku, sudah bersiap untuk bertempur dengan peralatan dapur sebelum tangan Satoru menuntunnya untuk duduk manis di meja makan. 

 

“Satoru- san ?” bingung Yuuji.

 

“Sstt, duduk disitu sebentar Yuuji,” ucapnya. 

 

Satoru membuka kulkas, menarik sebuah kotak dan membukanya, menampilkan kue berwarna putih dengan hiasan buah stroberi di atasnya dan meletakkannya di hadapan Yuuji. Ia menancapkan dua buah lilin dan menyalakannya sebelum ia mengambil posisi duduk di hadapan pemuda manis yang terpaku diam. 

 

“Satoru- san , ini…?”

 

Satoru tersenyum, ia mengutip kata yang pernah ia tonton di televisi, “Selamat ulang tahun, Yuuji. Terima kasih telah merawatku dan terima kasih sudah terlahir ke dunia ini.” 

 

Sepasang manik sewarna madu itu berkaca-kaca. Ia meniup lilin itu diiringi dengan suara nyanyian Satoru yang sedikit false. Tapi tak masalah, begini saja Yuuji sudah merasa sangat bahagia. 

 

Yuuji kembali kehilangan suaranya ketika Satoru meletakkan kotak berwarna oranye di hadapan pemuda manis itu, “Hadiah untuk Yuuji. Bukalah.”

 

Menurut, Yuuji membuka kotak itu. Ia tercekat ketika mendapati sebuah kalung silver dengan bandul berbentuk kepala macan yang dihiasi berlian berwarna oranye dan biru muda. Cantik. Sangat cantik. 

 

Tapi tunggu, darimana Satoru mendapatkan hadiah yang sepertinya mahal ini?

 

“Jangan khawatir, Yuuji. Aku tidak mencurinya. Hanya sedikit memanfaatkan ketampananku,” ucapnya ditutup dengan kedipan genit, yang mau tak mau memancing tawa dari Yuuji. 

 

“Terima kasih, Satoru- san . Ngomong-ngomong, ayo kita makan malam di luar! Aku yang traktir karena hari ini ulang tahunku!” ucap Yuuji ceria.

 

Tanpa menunggu jawaban Satoru, Yuuji langsung menyimpan kue tersebut ke dalam kulkas dan menyeret Satoru ke dalam kamar. Diraihnya jaket miliknya untuk dipakaikan ke Satoru, juga kacamata hitam yang sempat ia beli kemarin. 

 

“Nah, Satoru- san sudah tampan, ayo kita berangkat!” ucapnya lagi. 

 

Satoru terkekeh, “Berkencan, eh?”

 

Pipi itu merona merah meski hanya sesaat, namun ia tak menyanggahnya. Hanya mengulas senyum dan menarik Satoru meninggalkan kediaman mereka. 

 

Keduanya berjalan menyusuri jalanan malam Tokyo dengan tangan saling bertaut. Yuuji berceloteh panjang lebar mengenai hari-harinya.

 

“Kugisaki dan Fushiguro sempat mengerjaiku, mereka mendiamiku seharian. Menyebalkan sekali, padahal kami ada presentasi siangnya,” gerutu Yuuji. Wajahnya tertekuk lucu, membuat Satoru yang melihatnya terkekeh. 

 

“Lalu? Mereka tidak membuatmu mengerjakannya seharian ‘kan?”

 

Yuuji menggeleng, “Tentu saja tidak. Hanya saja waktu presentasi, aku dibiarkan menjawab semua pertanyaan sendirian. Bahkan mereka bekerja sama dengan dosen mata kuliah itu untuk mengerjaiku! Bayangkan saja Satoru-san!”

 

Satoru melarikan tangannya yang terbebas untuk mengusap gemas rambut merah muda Yuuji, “Yuuji pastinya bisa menjawab semuanya. Yuuji ‘kan pintar.”

 

“Tentu saja! Untungnya juga mereka berdua mentraktirku selama seminggu penuh. Yah, sebenarnya aku tak enak hati, tapi mereka memaksa. Ya sudah,” ucapnya diiringi dengan tawa kecil. 

 

Keduanya kembali larut dalam obrolan mereka, bahkan ketika makan di kedai langganan Yuuji pun pemuda manis itu tiada henti berceloteh. Pemuda manis itu terkadang menyuapinya dan menjelaskan makanan tersebut dengan mata berbinar. Satoru tak keberatan, sedikitpun tidak. Ia menikmati semuanya, mengukirnya dalam buku memori agar tak terlupakan olehnya jika ia kembali ke wujud kucingnya—yang entah kapan. 

 

Meski dalam hati kecilnya ia ingin menjadi manusia agar bisa senantiasa berjalan berdampingan dengannya, menggenggam tangan mungil ini. 

 

Selepas makan, Yuuji tak ingin segera pulang, ia bilang ingin menghabiskan malam ini dengan berjalan-jalan dengan Satoru, menikmati malam di kota Tokyo. Berjalan menyusuri kota, berbaur dengan puluhan manusia yang memenuhi trotoar jalan. Tautan tangan itu pun tak terlepas barang sedetik pun. Menggenggam erat penuh kehangatan.

 

Yuuji bilang, ini salah satu permintaan di hari ulang tahunnya. Jika Yuuji sudah berkata begitu, maka Satoru bisa apa selain mengabulkannya?

 

“Ini ulang tahun terbaikku,” celetuk Yuuji tiba-tiba. Ia mengayunkan tangannya yang bertaut dengan Satoru. 

 

“Karena ada aku?” 

 

Yuuji tertawa, manis, ia menganggukkan kepalanya, “Sejak ada Satoru- san , aku tidak lagi merasa kesepian setiap di rumah. Terima kasih ya, Satoru- san , sudah mau menemaniku, juga semua kejutan yang kau berikan hari ini. Aku senang sekali.”

 

Satoru tersenyum, genggaman tangan ia eratkan, “Sama-sama, Yuuji. Apapun untukmu.”

 

“Satoru- san , ini pertanyaan bodoh, tapi Satoru- san lebih suka jadi manusia atau kucing?” tanya Yuuji ketika keduanya hendak menyebrang dan menunggu lampu lalu lintas pejalan kaki menyala hijau. Ia menatap Satoru dari ujung matanya—yang tanpa ia sadari sedari tadi sepasang biru itu menatapnya lekat. 

 

“Dulu, aku lebih suka menjadi kucing. Aku hanya perlu memikirkan bagaimana cara membuat makanan datang padaku,” jawab Satoru sambil tertawa kecil. 

 

“Kalau sekarang?”

 

“Manusia.”

 

“Kenapa—? Ah, lampunya sudah hijau, ayo menyebrang sekarang.”

 

Satoru tak beranjak meski Yuuji menarik lembut tangannya. Ia bertahan pada tempatnya dan malah menarik Yuuji ke arahnya, menjatuhkan pemuda manis itu dalam pelukan, menghadiahkan kecup pada sepasang ranum yang selama ini hanya mampu ia kecap dengan lidah kucingnya. 

 

Ia mengulas senyum tipis nan tulus ketika melihat semburat merah mewarnai wajah manis itu. Kecupan penuh kasih ia hadiahkan kembali di kening Yuuji. Lama, sebab ia menyisipkan seribu doa untuk kebahagiaan sang tuan terkasih. 

 

Cintanya

 

Aku lebih senang menjadi manusia. Karena hanya dengan menjadi manusia aku bisa mencintai dan memilikimu sepenuhnya.”

 

Malam itu, di hiruk pikuk lautan manusia, tepat ketika jarum jam menunjukkan angka dua belas, dua kecupan ia tukar dengan lantunan doa untuk Yuujinya terkasih. Juga ia sisipkan keinginan egoisnya agar selamanya ia menjadi manusia. 

 

Agar ia bisa bersanding bersama Yuuji. 

 

“Selamat ulang tahun, Yuuji. Aku mencintaimu.”

 

Ucapnya sepenuh hati, sebelum gelap perlahan menjemputnya. 

 

Diambang kesadarannya, ia berharap, semoga ketika ia membuka mata nanti, ia tetap bertahan di tubuh manusianya. 

 

Karena jauh di dalam lubuk hatinya, ia masih ingin merasakan hangat dari dua tangan yang saling bertaut—antara dirinya dan Yuuji. 

Notes:

Ingin ikut merayakan ultah bayiku aka Itadori Yuuji my ball of sunshine!

ditulis terburu-buru huhu, semoga memuaskan. seperti biasa, kritik saran sangat diterima. Ciao!

Series this work belongs to: