Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-03-24
Words:
5,771
Chapters:
1/1
Comments:
5
Kudos:
8
Hits:
97

Meet The Stranger

Summary:

Berawal dari pendulum, keraton hantu hingga berujung pada '𝘢𝘯𝘫𝘪𝘳'.

Notes:

CW // Some descriptions of height (acrophobia), Ghost things (phasmophobia), little bit harsh words

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Hanse menyesali pilihannya, menghabiskan waktu dari pukul sepuluh pagi menjelajah isi tempat dan berakhir terjebak pada antrian menjengkelkan ini. Terlebih, kerumunan dalam pagar yang dibentuk mengular ini sama-sama bertujuan pada sebuah momok untuk Hanse—tak terhitung berapa kali salivanya ia paksa telan berat, melihat dari jarak lima meter saja ia mati-matian menyembunyikan rasa gemetar. Jadi, saat antrian ini bergerak maju … Hanse hanya bisa turut berjalan dengan jantung yang berdegup kencang.

Wahana yang menantang ketinggian adalah sebuah ketakutan baginya. 360 pendulum … Wahana di mana sebanyak tiga belas orang duduk melingkar menghadap keluar, diajak berayun berputar di atas ketinggian dengan posisi 360 derajat bak pendulum jam kuno. Singkatnya, wahana ketinggian ini bukan keahlian Hanse.

Tak bisa menampik fakta bahwa bibirnya sedikit memucat itu ternyata disadari oleh sosok di sebelahnya. Choi Byungchan dengan segala tampang meremehkannya, tertawa kecil menyadari Hanse yang sedang tidak baik-baik saja.

Byungchan yang siang ini mengenakan kaus bergaris vertikal putih kuning dan sebuah celana pendek sebatas lutut menyeruput sedikit choccolate magma dengan topping marshmellow yang tadi Hanse belikan. “Se, kalau gak yakin mending mundur aja deh. Muka lu pucet banget.”

Sedangkan si topik hanya melirik sekilas pada Byungchan sebelum kembali berusaha berekspresi datar lagi. “Lu ngomong gitu setelah antrian belakang penuh, telat.” Ucapnya bersedekap di depan dada sembari memposisikan ulang kacamata hitamnya untuk menghalau sinar matahari yang lumayan terik. Sudah beberapa kali melirik kebelakang berencana untuk kabur, namun terus mengurungkannya melihat antrian dibelakang yang terlalu padat untuk ditembus.

Jadi Hanse tidak punya pilihan lain selain terus mengikuti antrian dengan lutut yang sudah bergetar lemas. “Lagian dari seluruh wahana yang ada, kenapa abis star chase lu pilih pendulum sih.” Hanse menarik minuman Byungchan, “Mana masih tenang-tenang aja minum manis gini, kuat perut lu?”

Setelah beberapa jam mereka habiskan berfoto di rute pendidikan kebudayaan dan sejarah, Byungchan dengan pola pikir dan semangat ajaibnya beberapa waktu yang lalu menarik Hanse menuju satu wahana tanpa antrian, Star Chase yang bertemakan pesawat ruang angkasa mengaduk isi perut karena memutar para penumpang dengan kecepatan tinggi selama kurang lebih tiga menit.

Mungkin, Hanse tak akan banyak berkomentar mengenai kemauan Byungchan ini—walau jika diminta megulangi wahana yang kedua kalinya, ia tetap menolak—namun jelas-jelas pria tinggi itu berjalan sempoyongan setelah wahana berhenti dengan kantong plastik di tangannya dan bersiap-siap muntah.

Lama mereka duduk pada salah satu bangku yang disediakan di sana, berusaha meredakan rasa mual yang berhasil Hanse atasi selama sepuluh menit. Sedangkan Byungchan butuh tiga puluh menit sebelum akhirnya kembali gila lagi, itu pun di paksa merasa ‘baikan’ setelah Hanse membawakannya es coklat dengan omelan yang ditahan.

Maka dari itu, Hanse tak habis pikir bagaimana setelah di permainkan Star Chase, Byungchan malah mencoba yang lebih ekstrim lagi seperti pendulum.

“Kuat gak kuat semuanya harus gue cobain, Se.” jawab Byungchan dengan mendudukkan diri pada pagar pembatas antrian, berusaha menjaga keseimbangan karena tubuhnya yang terlalu tinggi dipaksa duduk pada sebatang besi. “Lagian rugi lah, sekali dihajar doang seratus ribu cuma kepake buat liat-liat.” Byungchan mengerutkan dahi, menyesal meninggalkan topi jika tahu langit akan seterik ini. “Ini juga cuma berapa meter, sih? Gak terlalu tinggi.”

Byungchan melongokkan kepala mencari papan penjelasan, berpikiran mungkin mendapat penjelasan walau akhirnya ia mendapatkannya dari pihak lain.

Di belakang mereka, tiga pria muda bergabung, atau lebih tepatnya salah satu dari mereka yang bergabung dengan menjawab pertanyaan Byungchan.

“Gak ada papan penjelasannya, Mas.” Dari logatnya, Byungchan yakin yang punya rahang sedikit lancip ini bukan orang lokal, “Tapi kita yakin ini nyampe sepuluh meter.” Menuruti sedikit insting tata kramanya, Byungchan menyahut, “Tau dari mana, mas?”

Kini, ketiga pemuda itu memberikan atensi mereka kepada Byungchan dan Hanse—yang masih memilih untuk diam saja melihat antrian, bukan berniat sombong tapi lututnya berisik dari tadi. Sibuk memikirkan cara untuk mengurungkan niat menaiki wahana ini.

Si pembicara awal, memiliki logat seperti orang Jakarta dengan lesung pipi yang cukup dalam, di sebelahnya si pria dengan kaus tanpa lengan yang memperlihatkan tato angka romawi di bahunya dan yang terakhir pakai dua anting di bagian atas telinganya. Oke juga, batin Byungchan berbisik.

“Jangan percaya Mas, ini manusia emang sukanya ngarang.” Ujar si pemilik tato bergabung, mendekat pada Byungchan dengan tertawa kecil. “Yee, liat aja. Perkiraan gue ga pernah salah.” Sahut si lesung pipi.

Sedangkan Byungchan hanya tertawa, melihat si pemilik tato menahan pukulan pura-pura dari pemuda di sampingnya. Lalu tersentak sedikit saat Hanse menyentuh lututnya yang tertekuk.

Hanse menoleh dengan bersuara kecil, “Siapa, sih?” rujuknya pada betapa mereka cepat terlihat akrab. “Mas-mas random. Ganteng, anjir.” Balas Byungchan berbisik sedikit, “Ini yang logat Jakarta kayanya tipe lu deh, Se.”

Namun karena faktor sudah diujung tanduk ketakutan, Hanse tak memberi banyak respon, “Cowo mulu yang dipikirin. Ini bentar lagi giliran kita!” ujarnya sembari memutar mata.

“Ngomong-ngomong, Masnya asli sini?” memang, dasar Byungchan. Entah dia yang malas menanggapi Hanse atau tabiat Social Butterfly yang selalu melekat, Byungchan kembali membuka obrolan bersama ketiga pria itu.

Si pria dengan logat luar kota itu menggeleng. “Kita lagi liburan aja. Kebetulan lagi touring terus mereka berdua ngajakin ke sini.” Touring? Byungchan yang memang bercita-cita mendekati anak motor sejak awal masuk kuliah semakin tertarik.

“Emangnya asli mana, Mas?” Hanse semakin membuat jarak, masih tak terbiasa dengan kepribadian Byungchan yang mudah akrab dengan berpura-pura melihat putaran pendulum.

“Kita dari Bogor. Biasa, temen main jarang ketemu, jadi sekali ada kesempatan ya touring ke sini.” Byungchan yang merasa pegal karena bokongnya yang tidak bisa duduk sepenuhnya berdiri, “Kebetulan sama, nih. Ini temen kecil saya pas di Surabaya.” Byungchan menyentuh bahu Hanse, yang ditanggapinya dengan pandangan horor.

“Lama gak ketemu, sekalinya ketemu satu kampus mana satu kos juga.” Jadi, mau tidak mau, Hanse berbalik, memberikan senyum yang dibuat-buat sebelum berbalik pura-pura sibuk. “Wah, kebetulan lagi ya emang. Gak nyangka.” Ujar si pemilik tato tertawa, memberikan senyum yang menurut Byungchan manis banget.

“Gila, yang tatoan manis banget, Se.” bisiknya yang sekali lagi mendapatkan decihan malas dari Hanse, “Sok-sok ngomong cakep, belajar masak mie dulu yang bener, Choi Byungchan.”

Sekali lagi, omelan Hanse kembali menjadi angin lalu, “Maaf ya, ini temen saya emang orangnya rada kaku. Jadi tolong maklum kalo cuek-cuek gini. Aslinya baik kok.” Hanse tak percaya dengan pendengarannya, kali ini kakinya yang bertindak. Mau menginjak sepatu sang teman walau akhirnya dia urungkan dengan tertawa kembali pada ketiga pemuda itu.

“Otaknya kadang agak geser emang.” Hanse mencari alibi.

Akhirnya, dari pada semakin terjebak dengan situasi tidak nyaman lagi, Hanse melepaskan pegangan Byungchan di pundaknya, kali ini bersyukur pada antrian yang kembali maju hingga membuatnya menarik pinggang sang teman.

“Chan, ini giliran kita. Ayo!” sedikit, ia mendengar bahwa Byungchan berpamitan pada ketiga pemuda itu dan berbalik arah menuju antrian yang berjalan. “Ayo Se, cepetan! Pilih yang kanan aja.” Ujarnya menunjuk tempat duduk yang sebenarnya terlihat sama. Pria dengan tinggi di atas rata-rata tersebut sedikit berlari, bersemangat seperti bocah karena takut dirinya tidak termasuk tiga belas orang yang hendak masuk ini.

Mendesah lega saat memastikan tubuh sudah keluar dari pagar antrian, tanpa sadar meninggalkan Hanse yang tiba-tiba antriannya diserobot oleh seorang ibu-ibu. Sialnya lagi, Hanse tidak termasuk pada tiga belas orang sesuai kapasitas kursi ini.

Ingin segera berlari menyusul, namun pintu pembatas kembali ditutup. Sesuai standart keamanan bahwa yang boleh masuk hanya tiga belas orang sesuai kuota kursi. “Loh, Mas. Itu temen saya di dalem sendirian.” Ujarnya masih tak menyerah, namun sang petugas tersebut tak menghiraukan. Kini berjalan menuju barisan bangku penumpang untuk memastikan sabuk pengaman sudah terpasang sempurna.

“Mas! Itu temen saya gimana!” Hanse setengah berteriak, “Byungchan! Gue masih di sini!” sekali lagi, tak ada yang meresponnya. Byungchan sudah berlari pada tempat duduk yang tak terjangkau dari penglihatan Hanse dan si petugas yang sibuk mengerjakan yang lainnya.

Hingga akhirnya sabuk telah terpasang semua, mesin juga sudah mematenkan sabuk agar tidak terbuka. Membuat Byungchan duduk dengan senyum yang terukir lebar, “Se, seriusan lu jangan muntah loh ntar.” Ucapnya tak bisa menahan euforia pada wahana ekstrim ini.

Namun merasa tak ada seorang pun yang menjawabnya, Byungchan menoleh ke sekitar. Sedikit kebingungan bukan Hanse yang ada di sampingnya sampai permainan sudah mulai berputar.

Wahana mulai bergerak, memutar seluruh penumpang seperti komedi putar hingga Byungchan menangkap seseorang dengan raut cemas memandangnya dari balik pintu pembatas.

“LOH HANSE!”

Dan pendulum mulai bergerak menggila.

 

.

.

.

 

Hanse menelan salivanya sekali lagi saat melihat pendulum mulai berputar 360 derajat di ketinggian, walau tak terlalu jelas Byungchan yang mana, tapi Hanse bisa mendengar bahwa telinganya beberapa kali mendengar suara melengking Byungchan yang meneriakkan sumpah serapah.

Hal itu semakin menambah keinginan Hanse untuk mundur. Bukan, bukan Hanse mengidap phasmophobia yang di tahap ekstrim, hanya saja ia sudah merasa gemetar saat keluar dari kamar kosnya yang di lantai tiga dan melihat ke arah balkon.

Jadi Hanse mengenakan lagi kacamatanya, berusaha bersikap masa bodoh akan menembus antrian mengular yang panjang. Ia hanya perlu menunduk, menyembunyikan wajah dengan kata ‘maaf, permisi’.

Namun kegiatan pria itu ternyata tak berjalan semudah itu.

Hanse lupa, jika di belakangnya ada tiga pria yang tadi sudah mengobrol dengan mereka.

“Mas, mau ke mana? Mau balik?” Hanse mengangguk, “Kebelet, duluan ya.” Hanse lantas bergerak lagi menembus ketiga orang itu. Menuju antrian belakang yang ternyata sangat-sangat padat.

Sesuai dugaan, pada cuaca yang panas ini sangat sedikit orang yang bisa beramah-tamah. Seorang pria yang cukup berumur dengan kumis tebalnya memandang Hanse tidak suka. “Antriannya padet, Mas. Gak bisa terobos-terobos gitu.”

Hanse masih tidak kehabisan akal, “Saya mau ke kamar mandi, Pak.” Namun sekali lagi ekspresi masam yang didapat Hanse. “Ya tapi ini gak ada jalan. Mau lewat mana?! Lewat atas?! Udah tau mau ngantri juga bukannya ke toilet dulu, giliran udah di depan malah ngerepotin orang lain.”

Kepala Hanse sudah menyusun kalimat jawaban yang menurutnya cukup pedas. Hendak menyahut lagi kalimat pria berumur dihadapannya sebelum sedikit ia mendengar bisikan di sebelahnya.

“Percuma ditanggapin. Orang-orang otaknya udah kepanggang semua, mataharinya panas banget.”

Di sebelahnya, pria yang sama dengan yang menjawab pertanyaan Byungchan soal papan petunjuk tadi. Memberikan senyum pada si pria berumur, “Ini tadi temen saya udah ngomong baik-baik, Pak. Nadanya direndahin sedikit ya.”

Hanse terdiam di tempatnya. Memilih memundurkan kaki karena merasa ada benarnya juga perkataan pria dengan lesung pipi di sampingnya, tidak akan ada ujungnya jika mereka adu emosi.

Si pria berumur itu akhirnya juga ikut diam. Namun masih tak membukakan jalan untuk Hanse hingga membuat ia mau tidak mau kembali ke barisan terdepan lagi.

Menghela nafas berat membayangkan nasibnya yang akan sama seperti Byungchan yang kini suara teriakannya mendominasi dari penumpang yang lain.

“Beneran mau ke toilet?” kini pria lesung pipi itu mendekat pada Hanse. memberikan pandangan ramah dan senyum sederhana. Menyadarkan Hanse bahwa perkataan Byungchan ada benarnya juga tadi.

“Gak sih. Alasan aja.” Hanse melanjutkan, “Gue gak terlalu suka ketinggian. Niatnya cuma ngikutin anak itu tadi.”

Pria itu mengangguk, membuat rambutnya yang sepanjang alis mata berayun. “Phobia?”

Hanse menggeleng, “gak se-ekstrim itu. Cuma lutut agak gemeter aja liat tingginya. Lagian buat apa naik, orang sendirian gini.”

Ia tertawa, tertawa begitu lebar hingga Hanse bisa melihat lesung pipinya lebih dalam dari jarak sedekat ini. Manis, “Gak maksa sih, tapi kalau lu mau bareng kita bertiga juga gak papa. Iya gak, Bang? Bin?” ujarnya menyenggol lengan pria bertato yang tadi Byungchan puji.

Pria itu memberi anggukan, membuat hidung runcingnya sedikit terkena sinar matahari. “Kita juga takut ketinggian. Tapi lebih baik ketakutan bareng-bareng dari pada sendirian.”

Si pria dengan dua anting pada bagian atas telinganya menimpali, “Sebenarnya kalau sendirian, takut plus seremnya jadi double. Bareng kita aja, Mas.”

Sepertinya, tiga orang lagi bertambah sebagai social butterfly yang Hanse kenal selain Byungchan. Sedikit, ada rasa bersalah karena tadi niatnya mengabaikan mereka bertiga.

“Gue Hanse.” ujarnya memperkenalkan diri, pria lesung pipi di sampingnya tertawa ramah. “Gue Sejun.” Lalu ibu jarinya menunjuk si pria bertato, “Ini Bang Seungwoo,” dan berlanjut pada si pengguna tindik telinga, “Ini Subin.”

Bertepatan dengan perkenalan mereka bertiga, suara sabuk terbuka terdengar cukup nyaring. Menyita perhatian mereka bertiga, terlebih Hanse yang segera mencari keberadaan Byungchan.

Di sana, pada bangku yang sedikit lebih jauh, Byungchan bangkit dari kursinya. Memberikan senyum pada Hanse dengan berjalan mendekati pintu keluar yang berada di samping pagar antrian.

“Chan, gimana?” tanyanya sedikit berteriak karena jarak mengetahui teriakan Byungchan paling mendominasi tadi. Namun alih-alih mendapat jawaban dari Byungchan, pria tinggi itu berusaha tersenyum walau kali ini perpegangan pada pagar.

Memberikan lambaian tangan dengan raut yang berubah pucat dan sedikit berlari ke pintu keluar.

Menarik kantong plastik dari kantong celananya dengan suara muntahan yang bisa di dengar semua orang. “PENDULUM GILA!” tutup Byungchan yang masih terduduk dan melanjutkan muntahnya.

 

.

.

.

 

Pintu pagar pembatas antrian dibuka, mempersilahkan Hanse dan ketiga kenalan barunya masuk bersama beberapa orang lain—termasuk si bapak berkumis yang melirik Hanse tidak senang.

Hanse akui dirinya masih sedikit khawatir mengenai Byungchan. Pasalnya, setelah menyita perhatian dengan teriakan, pria itu berjalan terhuyung-huyung menuju gazebo kecil yang disediakan pihak fun park.

Namun sungguh bukan itu masalah terbesar Hanse sekarang.

Pendulum sudah ada di hadapannya. Semakin di dekati, semakin terlihat besar yang sekali lagi membuat Hanse menelan berat salivanya.

“Se, sini!” Sejun melambaikan tangannya, memberi tahu bahwa mereka bertiga memilih bangku yang tak spesial, menunjukkan Subin, Bang Seungwoo, satu bangku kosong hingga Sejun sebagai pembatas dengan orang asing lainnya.

Hanse menjawab dengan anggukan, meletakkan sling bag dan kacamata miliknya pada rak yang di sediakan, merapikan kaus putihnya yang bertuliskan Nirvana sebagai upaya mandiri meredakan rasa gugup.

Akhirnya ia mendudukkan bokongnya pada bangku tersebut, menoleh pada Bang Seungwoo yang tak terlihat ketakutan, “Santai aja, Se. Let it flow.” Lalu sabuk pengaman bersamaan turun, dibarengi oleh sang petugas yang sekali lagi mengecek apakah tidak ada sabuk yang macet atau terkendala.

Hanse menyandarkan kepalanya, menarik nafas berulang kali berusaha mencegah gugup yang semakin meraja lela.

“Sejun,” ucapnya memanggil pria yang juga nampak tenang di sebelahnya. “Sorry kalau nanti gue teriak-teriak mulu.”

Pria pemilik lubang manis di pipi itu tertawa. “Itu kali gunanya naik beginian. Kapan lagi bisa teriak sepuasnya.”

Suara musik mulai terdengar, Hanse tak mengenali lagu apa ini padahal biasanya dia sangat tanggap akan lagu-lagu yang ia dengar. Ia menutup matanya, merasakan pendulum mulai berputar.

Jantungnya berdegup kencang, Hanse berpegangan pada handle yang menempel di sabuk pengaman. Dalam hati masih berucap banyak pujian pada Tuhan upaya memohon kesalamatan.

Sepuluh detik berlalu, putaran kini menambah dengan ayunan yang tak terlalu kencang, Hanse bisa merasakan tubuhnya terangkat sedikit dari tempatnya duduk.

Suara seruan orang-orang mulai terdengar, juga sedikit pekikan nyaring suara gadis semakin menyadarkan Hanse bahwa permainan bertambah cepat.

Di sampingnya, Sejun dan Seungwoo juga mulai berteriak lalu Subin tertawa. Melepaskan pacuan adrenalin saat di arahkan ke bawah dan rasa kagum saat dilontarkan ke atas.

Merutuki sabuk pengaman yang cukup tebal hingga menutupi jarak pandangnya, Sejun berupaya menoleh ke arah samping. Berusaha melihat pada Hanse yang masih diam saja sedang memejamkan mata.

“Se …,” Sejun menjeda sebentar kalimatnya akibat rasa ngeri saat mereka hampir dibalik tepat diketinggian sempurna.

Hanse masih menutup mata, menahan diri untuk tidak berteriak kencang walau lutut sepenuhnya lemas.

“Hanse!” Sekali lagi Sejun berseru, “Buka mata! Serius ini sayang kalo ga diliat.” Sejun menahan kalimatnya lagi akibat lontaran yang makin menjadi, “Gunungnya bagus banget!”

 Walau tetap merasa tegang, Hanse merasa penasaran. Bisa membayangkan fun park yang terletak di lereng gunung ini pasti memberikan pemandangan yang menakjubkan. “GAK MAU!” Hanse sepenuhnya berteriak hingga membuat Seungwoo melirik terkejut, “TAPI PENASARAN.”

Sejun berpegangan pada handle sabuknya, “Sabuk udah paten gak bisa ke buka. Buka aja matanya gak akan kenapa-napa!” ia kembali melanjutkan. “Teriak juga yang kenceng! Ungkapin uneg-uneg lu.”

Lantas Hanse menurutinya walau jantungnya sudah merosok jauh ke lambung. Ia membuka mata.

Bersiap untuk mengumpat saat menyadari putarannya berada di atas ketinggian namun berbalik tertegun saat putaran sampai ke atas dan melihat langsung pemandangan Kota pada lereng gunung yang hari ini cerah tanpa tertutup awan.

Sepenuhnya membentang indah lahan hijau dan beberapa pemukiman seperti sebuah lukisan. Walau hanya beberapa detik, tetapi tetap saja itu terlampau indah.

Sampai putaran kembali menghempaskan mereka seperti bandol jam ke arah bawah, Hanse menyadari kengerian yang jelas masih ada.

“ANJING, INI TINGGI BANGET.” Teriaknya melihat tanah di bawah. Sejun di sampingnya tertawa, “Teriak terus yang kenceng, Se.”

“GUE TAKUT!” Hanse menarik nafasnya, mereka kembali dihempaskan ke atas dan melihat pemandangan kota sekali lagi. “TAPI BAGUS BANGET. GILA SUNTUK GUE ILANG.” Ujarnya menjelaskan tersirat kesibukan sebagai mahasiswa di semester empat yang terkadang membuat kepalanya ingin meledak. “SUMPAH! … NAKUTIN TAPI SERU.” Hanse tak bisa menahan tawanya, “MASIH LEBIH TEGANG KETEMU PAK BAMBANG DARI PADA PENDULUM.” Rujuknya pada salah satu dosen yang sudah terkenal suka memberikan nilai jelek tanpa alasan.

“Iya, Se. Teriakin, teriakin semua itu Pak Bambang. Kapan lagi bebas teriak gini.”

Hanse mengangguk, tertawa kencang sekali hingga membuat Seungwoo terkejut namun tetap fokus berteriak sendiri. “PAK BAMBANG, SAYA GAK BAKAL BOLOS MATKUL LAGI,” Hanse menarik nafas menahan dirinya yang sekarang dibalik pada posisi 360 derajat di ketinggian, “TAPI TOLONG PAK SAYA CAPEK DAPET ‘F’ TERUS.”

Sejun tertawa lepas, tak bisa menahan diri kala melihat Hanse yang kali ini sudah tidak memperdulikan ketinggian. Terus berteriak mengenai topik Pak Bambang hingga permainan terasa seperti ajang curhatan dalam teriakan.

“SUMPAH SAYA SAYANG BANGET SAMA PAK BAMBANG.” Hanse berteriak dengan suara yang keras, tertawa lepas hingga kedua tindik diwajahnya beberapa kali terkena pantulan silau dari sinar matahari.

Membuat Sejun memahami ternyata pendulum menjadi ajang pengikis rasa canggung yang cukup unik. “GUE SUKA PENDULUM.” Ujar Sejun kini ikut berteriak dengan maksud tersirat.

 

.

.

.

 

Setelah tiga menit kira-kira berlalu, lagu pengiring juga sudah mulai dipelankan, kini wahana itu perlahan-lahan mulai kehilangan kecepatan.

Membuat Hanse bisa menarik nafas sedikit pelan dengan menyandarkan kepala merasakan sisa wahana yang masih berputar kecil, yang selanjutnya segera berhenti saat sang petugas berjalan ke arah mereka untuk membuka sabuk pengaman.

Hanse segera berdiri. Menarik nafas dalam dengan euforia di dalam diri yang tersisa, tak bisa menahan senyum bahwa pendulum bukan pengalaman buruk. Walau kini dirinya bisa merasakan kepalanya sedikit berputar.

“Se, gak papa ‘kan?” Seungwoo membuka obrolan saat mereka semua menuju pintu keluar. “Teriakan lu kenceng banget tadi.”

Hanse tertawa, sedikit merasa malu karena pasti dia tidak terlihat oke. “Gak papa, Bang. Tadi terlalu bersemangat aja.” Jawabnya setelah mengambil barangnya lalu bergabung bersama ketiganya di depan papan peringatan pendulum.

“Gak nakutin?” sambung Sejun memiringkan kepalanya dengan tertawa kecil.

“Berkat lu sih, gue jadi bisa ngalihin perhatian. Gak buruk-buruk banget ternyata. Makasih, ya.” Hanse tersenyum tulus, mengenakan lagi kacamatanya karena silau yang mengganggu.

Mereka berempat mengambil tempat sedikit pada arah pinggir, berusaha tak menggangu jalur orang lain dan kembali melanjutkan obrolan kecil.

“Oke, habis ini lu mau ke mana?” tanya Sejun dengan sikap santai yang didukung oleh pakaian kasualnya yang terlihat rapi secara bersamaan. Sebuah kaus hitam yang tak terlalu ketat dan celana denim yang ditutup rapi melalui sepatu converse.

Hanse langsung tersadar akan sesuatu, ia berjinjit sedikit melihat gazebo yang tak terlalu jauh dari sana. “Gue mau balik ke temen tadi, Bang. Mau nengok sekalian anaknya kaya babak belur banget.”

Seungwoo mengangguk, “Oke deh. Kalau gitu kita lanjut dulu deh ya. Bye, Se.”

Ketiganya beranjak dengan Sejun di urutan terakhir. Menoleh pada Hanse dengan suara pelan namun gerak bibir yang bisa dibaca. “Have a nice day. Salam buat Pak Bambang.” Lalu ketiga pemuda itu menghilang bersama kerumunan pengunjung yang lain. Meninggalkan Hanse yang kini tertawa sendiri kala mengingat nama sang dosen.

Merasa sudah tidak ada hal lagi yang perlu ia lakukan di pendulum ini, Hanse beranjak. Menuju beberapa gazebo yang disediakan untuk para pengunjung beristirahat.

Tak perlu waktu lama untuk Hanse mencari sosok berisik yang setiap pagi selalu datang ke kamar kosnya. Pria jangkung itu tengah duduk dengan kepala yang diletakkan di atas meja bersama dengan sebotol air mineral.

“Katanya gak tinggi,” Hanse mengambil botol tersebut, “Tapi sekarang udah K.O.” lalu meneguk untuk menghilangkan rasa haus.

Byungchan masih dengan mata sayu dan bibir pucatnya tidak sanggup mengangkat kepala, “Tinggi emang gak seberapa tapi bayangin aja perut lu di balik-balik begitu.”

Untuk kali ini Hanse tertawa, membuat tindik peraknya bergerak mengikuti. Ia bergabung duduk bersama Byungchan, “Salah lu juga sih buru-buru banget, coba tadi gabung sama kita-kita.”

Byungchan mengangkat kepalanya, “Kita?” kali ini dengan alis tertekuk.

“Iya, mas-mas random yang lu bilang oke tadi,” Hanse melipat beberapa jarinya tanda menghitung. “Itu yang tatoan namanya Bang Seungwoo, yang imut pake tindik dua Subin.” Hanse melepaskan kacamatanya, “Terus yang ramah kelewatan sampe ada lubang di pipi namanya Sejun. Dia coba nge-distraksi pikiran gue tadi. Suruh teriak tentang uneg-uneg.”

Sesungguhnya jika dikeadaan normal Byungchan tak pernah sesunyi ini. Ia akan dengan suka hati mengolok Hanse yang awalnya tak tertarik namun berujung membawa ketiga pria itu ke dalam topik pembicaraan.

Akhirnya Byungchan tak berkomentar banyak, ia kembali menjatuhkan kepala di atas meja lagi tanpa semangat. “Yaudah bodo lah.” Byungchan lebih tertarik pada keadaan perutnya yang masih terasa diaduk-aduk. “Gak ngurusin gue. Nih perut udah minta digotong aja dari tadi.”

Hanse menggelengkan kepalanya heran, “Terus abis ini mau lanjut ke mana lagi?”

Byungchan memberikan gelengan pelan. “Pulang.”

“Pulang?” manik coklat gelapnya melihat pada jam tangan. “Ini masih setengah jalan mau pulang, yakin?”

Energi Byungchan sudah habis, “Gak sanggup gue kalau lanjut cari wahana lagi. Perut kacau banget.”

Hanse menolehkan kepalanya mencari sesuatu, “Gak mungkin kalau misal langsung pulang, ini kita ada di tengah-tengah rute.” Tak kunjung menemui apa yang ia cari, Hanse membuka ponselnya. “Ke gedung kesehatan aja ya? Ini gue cariin.” Ujarnya membuka rute peta yang tadi ia foto di pintu masuk.

Byungchan memegang perutnya yang terasa bergemuruh lagi. “Gak usah deh, Se.” Byungchan meraih air mineralnya, “Gue butuh duduk aja, gak segitunya juga.”

Hanse memandang tak yakin, “Serius? Muka lu udah kek gak ada darahnya gitu.”

“Kalau dipaksa jalan yang ada gue malah makin K.O. Paling bener benerin perut dulu deh di sini.”

Hanse sedikit iba, ”Yaudah gue tungguin di sini. Perlu teh anget?” ujarnya melihat sebuah stan kecil yang menjual beberapa snack.   

Byungchan mengarahkan telapak tangannya untuk menghentikan maksud Hanse. “Lu lanjut jalan-jalan lagi. Gue udah pesen teh, tenang aja.” Ia mengangkat kepalanya, “Sendirian gak papa ‘kan? Lu yang sayang duit, jarang-jarang bisa liburan gini.”

Hanse sekali lagi bertanya, “Yakin? Gak papa sih kalau lu masih butuh ditemenin.”

Byungchan mendorong bahu teman masa kecilnya tersebut, “Puas-puasin dihajar wahana sebelum dihajar UAS.”

 

.

.

.

 

Sejujurnya masih tersisa rasa khawatir memandang Byungchan yang wajahnya seperti tidak dialiri darah tadi. Namun semakin Hanse mendesak pria jangkung itu untuk dibawa ke gedung kesehatan, semakin pria itu bersikeras mengusir Hanse untuk pergi melanjutkan wahana.

Hanse tentu khawatir, karena Byungchan tetaplah Byungchan walau sudah memasuki umur dewasa awal. Ia masih teman masa kecil Hanse yang sering menangis karena diganggu anak-anak lain, yang suka murung berlama-lama karena tidak menang dalam lomba perayaan kemerdekaan.

Namun tetap saja jika ia kembali sekarang, yang ada mereka berdua hanya akan saling adu keributan. Jadi, Hanse berniat menuju satu wahana dulu sesuai permintaan Byungchan agar pria itu tidak punya alasan lagi untuk mengelak.

Maka dari itu, Hanse sempat bimbang tadi. Harus mengantre lagi pada antrian super panjang demi menaiki spinning coaster, atau memilih wahana terdekat sekaligus memiliki antrian yang tak terlalu panjang namun hanya berisi jalur gelap dengan nuansa menyeramkan bernama Keraton Hantu.

Sekali lagi, ia hanya akan menyelesaikan satu wahana dan mengantar Byungchan. Maka dari itu, Hanse memilih pilihan yang logis, Keraton Hantu.

Kakinya segera berlari kecil menyusuri pagar antrian yang mengular, bergabung bersama tujuh orang yang sudah terlebih dahulu berada di depannya.

Mulai melihat-lihat pada papan petunjuk mengenai informasi yang tersedia. Memandangi dengan seksama bahwa ia memasuki segala persyaratan yang ada. Lalu berlanjut mengamati dekorasi ruang antrian yang dibuat sedikit suram, seperti warna abu-abu tua mendominasi dan tiruan tanaman sulur yang digantungkan di langit-langit.

Ada patung hantu wanita berbaju merah di dekat pintu masuk, dekat dengan tempatnya berdiri dan mengantri, juga sebuah kolam kecil berisi entah monster apa itu Hanse tidak melihat terlalu jelas.

Namun sesuatu yang lain menangkap perhatiannya. Sepasang sepatu model klasik yang berdiri tepat di samping kolam, Hanse merasa tak asing.

Hingga ia mendongak untuk menemui si pemilik yang selanjutnya terpekik sedikit keras, “Sejun?”

Si pemilik nama menoleh, memandang Hanse dengan terkejut juga hingga tak bisa menahan suara, “Hanse!” Sejun memilih mundur dari antriannya dan membiarkan dua wanita di belakangnya bergerak maju.

Ia bergabung bersama Hanse, “Ketemu lagi,” Ia menoleh ke sekeliling Hanse, “Sendirian?”

Hanse mengangguk, meletakkan kacamatanya di atas kepala. “Temen gue tepar karena pendulum. Mau gue bawa ke gedung kesehatan malah ngeyel minta istirahat sendirian.” Hanse melihat ke sekeliling Sejun dan sisa antrian yang ada, “Lu juga sendirian? Bang Seungwoo sama Subin ke mana?”

Sejun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, “Itu …,” ia kembali melanjutkan “Mereka makan siang. Gue kena dare disuruh ke sini sendiri.”

Hanse menaikkan alisnya. “Ah gitu,” ia mengangguk-ngangguk. Sedikit merasa canggung juga karena tak se-luwes Byungchan dalam mencari topik pembicaraan hingga bukan hal baru lagi jika percakapan selalu mati di Hanse.

Sedikit lama mereka terdiam, tetap berdiri berdampingan dengan Hanse yang kini memandangi dekorasi dengan lebih lanjut. Tak benar-benar memandangi sebenarnya karena ini hanya pengalihan dari rasa canggung.

Hingga akhirnya Sejun kembali membuka suara. “Hanse,” ujarnya memanggil pelan hingga pria dengan dua tindik di wajahnya itu menoleh. “Kenapa?”

Sejun menggigit bibir dalamnya selama beberapa detik, “Gue bisa minta tolong, gak?” melihat Hanse masih menunggunya berbicara maka Sejun melanjutkan, “Bareng gue ya masuknya?”

Sejun menunjuk pada pintu masuk tersebut, “Gue rada gak suka suasana-suasana horor begini.”

Pemuda Do itu mengangguk merasa itu bukan ide yang buruk, “Boleh. Gue juga sendirian.” Hanse menoleh pada barisan dibelakangnya, “Eh tapi maksimal masuk enam orang. Kalau dihitung berarti setelah mereka, cuma kita berdua yang masuk.”

“Gak papa. Seenggaknya gue gak aneh ntar teriak-teriak sendiri di dalem.” Sejun kembali melanjutkan, “Lu gak takut hantu, Se?”

Hanse memiringkan kepalanya tanda menimbang sebentar, “Lebih bersikap apatis dari pada gak takut, selama dia gak ganggu gue bodo amat.” Hanse melanjutkan dengan menunjuk papan nama wahana, “Lagian kita kan juga udah tau kalau ini yang di dalem cuma property, beda cerita kalau ketemu penampakan aslinya, siapa juga yang gak gemeter.”

Mereka terdiam lagi selama beberapa saat, “Tapi bentar deh, ini di dalem cuma patung sama robot ‘kan? Gue gak suka kalau ada orang terus ngejar-ngejar.”

Sejun mengangkat bahunya, “Gak tau, nah ini barisan udah maju.” Sejun dan Hanse berjalan hingga berhadapan dengan sang staff yang mengatur batas pengunjung masuk. “Coba tanya aja sama pegawainya, Se.”

Mengikuti anjuran Sejun, Hanse bertanya. “Mas, di dalem itu patung sama robot aja ‘kan?” ia kembali melanjutkan, “Gak ada orang yang bakal ngejar-ngejar gitu? Saya gak suka lari-larian soalnya.”

Pegawai tersebut menggeleng dengan senyum ramah. “Wahana di dalam seratus persen hanya robot dan patung Kak.”

Hanse akhirnya mengangguk sedikit lega, “oke kalau gitu aman.”

 

.

.

.

 

Tak berjarak terlalu lama, Hanse dan Sejun ternyata benar-benar hanya masuk berdua saja karena hanya mereka antrian yang tersisa.

Disambut oleh tulisan Ghost Mansion, Hanse berjalan di depan lalu disusul oleh Sejun yang selanjutnya menemukan patung anjing dengan sorot lampu berwarna merah.

FYI, gue parno sama hantu. Jadi maaf nanti kalau gue teriak-teriak.” Sejun sudah merapat pada Hanse, sedikit merinding pada backsound berisikan tawa seorang perempuan.

Perjalanan mereka dilanjutkan menuju lebih dalam lagi, sejauh ini masih berisikan beberapa patung dengan dekorasi menyeramkan lain. “Serius, Se. Gue gak suka di sini.” Ujar Sejun kini mengamati salah satu patung dengan taring panjang.

“Ini cuma property, rileks, bro.”

Mereka menemukan jalan menurun, keduanya berhati-hati melangkah karena penerangan yang sengaja dibuat gelap. Hingga akhirnya sesuatu di sisi kiri mereka tiba-tiba menyala dengan suara tawa perempuan yang lebih keras lagi.

“ANJING, SE. ITU APAAN.”

Robot hantu tengkorak.

“LU NGAGETIN GUE, SEJUN.” Sontak, mereka berdua beradu teriakan.

Sejun terlanjur meloncat menarik kaus Hanse dan memaksanya berlari, menuju spot lain yang kini didominasi warna hijau dan auman serigala sebagai musik pengiring.

“Serius, Se. Benci banget sama auranya di sini. Serem.” Hanse yang masih mengondisikan rasa terkejutnya menepuk dadanya berkali-kali sembari mengikuti langkah Sejun, “Namanya rumah hantu mana ada diajak dugem, Sejun.”

Sejun memejamkan mata saat tengkorak-tengkorak lain berjajar dalam rute mereka.

“Enggak, Se. Beneran yang ini beda.” Sejun ingin sekali mengumpat dalam hati, kali ini lagu lingsir wengi yang menyambut mereka. “Susah jelasinnya, tapi gue udah pernah ke rumah hantu dufan …,” lalu sebuah robot lain tiba-tiba menghalau jalan mereka dengan sedikit auman menyeramkan.

Yang tentunya mengagetkan mereka berdua.

“ … DAN GAK ADA YANG SEDINGIN INI SUASANANYA, ANJING KAGET GUE.” Sejun reflek memukul patung tersebut, kali ini Hanse tak berbicara banyak karena jantungnya kebingungan ia terkejut karena property atau teriakan Sejun yang terlalu kencang.

“Oke, mending lu yang di belakang gue deh, Sejun.” Hanse mengambil tempat di depan lagi, “Lu kalau kaget bisa ngajak berantem.” Sejun masih tak ingin membuat jarak dengan Hanse, “Terus kalau lu emang takut, coba kaya tadi di pendulum. Alihin pikiran sama apapun.” Hanse mencoba melihat jalan dengan jelas, karena kini penglihatannya super gelap. “Bahkan lu mau ngoceh apapun juga gue silahkan.”

Sejun menoleh pada Hanse yang masih fokus mencari jalan, “Beneran nih? Apapun?” Hanse mengangguk, “Kalau itu bisa nenangin lu ya kenapa gak dicoba.”

Mereka akhirnya melanjutkan rute dengan tubuh saling berdekatan, Sejun yang masih tak berani membuat jarak hingga menggenggam kaus Hanse berjaga-jaga mereka terpisah karena terlalu terkejut dan Hanse yang sibuk memperhatikan jalan dengan jantung yang berdegup kencang juga.

Well, tak bohong Hanse kalau ia juga sedikit terpengaruh dengan perkataan Sejun mengenai aura rumah hantu ini.

Suara lingsir wengi kembali didengar saat mereka melewati jembatan kecil. Semakin menambah suasana menyeramkan dengan suara katak sebagai pelengkap.

“Gue pokoknya berterimakasih banget sama Subin,” Sejun menguatkan genggamannya pada kaus Hanse dengan menutup mata. Kali ini entah robot seperti apa yang tiba-tiba mengagetkan mereka dengan menyeruak dari dalam peti. “Gue awalnya sebel sih udah rencanain mau sunmori malah diajak main ke fun park begini.”

Mereka memasuki area yang lebih gelap lagi, Hanse melangkah dengan hati-hati. Mencari pijakan kaki karena takut menemui jalan turunan lagi. Melangkah pelan-pelan hingga sesuatu dari arah kiri muncul tiba-tiba.

Sebuah robot berbentuk kuda daru kereta kencana maju dengan ringkikan yang memekik, sekali lagi mengagetkan mereka berdua, terlebih untuk Sejun.

“TAPI SERIUS KALAU SUBIN GAK NGOTOT KE SINI MUNGKIN GUE BAKAL LEBIH NYESEL, ANJING INI RUMAH HANTU APA RUMAH ORANG KAYA, SIH.” Sejun ingin sekali memukul siapapun pembuat rumah hantu ini.

Hanse menepuk jemari Sejun di pundaknya, “lanjutin aja cerita, gue juga ngerasain hal yang sama.” Ujar Hanse memberikan penjelasan singkat dan segera membuat Sejun tersadar kembali.

Ia meneguk berat salivanya, bukan ia saja yang merasakan hawa tidak enak.

“Gue mikir apaan banget umur udah sering pake balsem gini masih ke fun park. Gue bete seharian, mana minta ke pendulum, perut diaduk-aduk makin gak mood gue.” Hanse berjalan semakin perlahan, merasakan ada sedikit semilir angin pada tengkuknya, ia meraba dinding karena penerangan yang semakin minim.

“Tapi ternyata pendulum gak seburuk itu, Se.” Sejun masih setia bercerita.

Jalanan turun kembali mereka temui, pagar pembatas dan seutas tali sebagai pegangan dan patung pocong yang ditempelkan di samping kanan. Sekali lagi, ini semua menyeramkan.

“Jadi lu sendiri tadi juga gak mau naik pendulum?”

Sejun mengangguk, “Siapa juga mau perut diaduk-aduk begitu.”

Hanse rasa, ini puncak dari semuanya, berjejeran banyak property monster yang sangking jeleknya tidak bisa digambarkan, menimbulkan banyak suara-suara beberapa lampu sorot yang semakin membuat suasana mencekam.

“Tapi mendadak semua rasa begitu hilang, Se …,” entah untuk ke berapa kali, Sejun sangat ingin memukul pembuat wahana ini. Sebuah patung monster dengan janggut tipis dan teriakan manusia tiba-tiba menyeruak ke hadapannya.

“SOALNYA GUE NGELIAT ELU CEMAS-CEMAS PUCET GITU PAS NGANTRI TADI BATIN GUE LU LUCU BANGET TAPI NYEREMIN JADI GUE CUMA PERHATIIN DOANG DARI JAUH.”

Sejun mengatakan sederet kalimat itu dalam satu tarikan nafas dan suara yang cukup kencang.

Mendadak, persoalan rumah hantu ini tak menarik lagi untuk Hanse. Ia berhenti berjalan, mencerna sebentar kata-kata Sejun selama beberapa detik hingga akhirnya berbalik.

Berhadapan dengan Sejun yang masih terengah-engah akibat terkejut. “Lu barusan bilang apa?”

Sejun dengan dada yang masih kembang kempis mencari oksigen mengangguk, “Lu narik perhatian gue banget. Pengen ngajak kenalan tadi tapi takut.”

Hanse total terkejut, “Ini serius akhirnya lu confess ginian di dalem rumah hantu?” Hanse sudah tak terpengaruh oleh beberapa property dan musik menyeramkan yang masih ingin menakuti mereka. Ia bersedekap di depan dada, memasan gestur menginterogasi dengan nada heran yang kentara.

 Sejun menaikkan bahunya, “Lu sendiri yang ngomong gue boleh ngomong apa aja di sini.” Sejun akhirnya juga sedikit bisa mengondisikan rasa takutnya, “Jadi gimana kalau ….”

Namun kalimat Sejun kali ini tidak dapat terselesaikan, karena Hanse yang tengah berhadapan dengan Sejun menangkap sebuah pergerakan.

Di belakang Sejun, tepat di samping robot monster berjanggut tiba-tiba ada wanita yang turun dari salah satu anak tangga, berjalan ke arah mereka dengan  baju putih lusuh dan rambut acak-acakan.

“Sejun,” Hanse mengguncang tubuh pemuda di hadapannya. Masih memperhatikan bagaimana wanita itu mendekat dengan kepala tertunduk hingga akhirnya pergerakan lambat tersebut nampak seperti berlari dari kecepatannya.

Tak membuang waktu, Hanse menarik tangan Sejun. Sejenak melupakan percakapannya bersama Sejun dan terus berlari. Menyusuri beberapa rute berkelok dengan sedikit melirik bahwa wanita itu masih mengejarnya.

“Se, kenapa?” meski begitu, Hanse tak berhenti, “Kita di-kibulin, anjing.” Hanse bersyukur ternyata tempat mereka berhenti tadi sudah memasuki akhir rute hingga tak butuh waktu lama untuk mereka berhasil keluar.

Masih dengan nafas terengah-engah akibat berlari, Sejun kembali menuntut penjelasan. “Di-kibulin apanya?” Pemuda Do itu melihat pada tirai hitam pemisah mereka pada wahana di belakang sana, “Masnya bilang gak pake orang buat property kejar-kejaran. Jelas-jelas tadi ada mbak-mbak pake baju kuntilanak ngejar kita.”

Sejak berlari dari dalam sana, Hanse sudah menyusun segala kalimat pedasnya, “Gak terima gue, harus diprotes mereka.”

Hanse berjalan menjauhi pintu keluar wahana tersebut. Menapakkan kaki dengan emosi yang masih tersulut di susul dengan Sejun yang masih terkejut.

“Serius, Se? ada yang ngejar kita?” Hanse mengangguk, kali ini mengabaikan Sejun sebentar karena ingin memberikan hardikan kecil pada sang pegawai yang tadi menjawab pertanyaan mereka.

Tak bisa memasang wajah ramah, setibanya di pintu masuk keraton hantu, Hanse memulai dengan nada suara yang dingin, tak peduli dengan beberapa orang lain yang mulai meletakkan atensi pada mereka. “Mas, kalau niat mau ngerjain gak gini caranya. Kalau kita punya penyakit jantung gimana? Mau tanggung jawab?”

Sedangkan sang pegawai yang masih tak mengerti situasi ini bersikap sopan dan berdiri dari tempatnya. “Maaf Kak, maksudnya gimana ya?”

Hanse menunjuk pintu keluar wahananya tadi, “Katanya gak ada orang yang ngejar-ngejar gitu. Buktinya tadi ada mbak-mbak ngejar kita berdua.”

Sejun berani bersumpah, seharusnya ia menghentikan Hanse untuk tidak protes mengenai hal ini tadi. Karena selanjutnya staff tersebut merubah air wajahnya menuju raut terkejut yang tak dibuat-buat.

“Mohon maaf ya, Kakak tenang dulu.” Sang pegawai mencoba menenangkan namun Hanse tetap terlanjur emosi. Bagi dia, gak ada lucu-lucunya bercanda macam ini. Ia sudah ingin melanjutkan aksi protes lagi, namun sang pegawai menunjukkan sebuah gestur tangan.

“Kak, rumah hantu ini gak pernah pakai orang buat bagian wahana. Cuma patung sama robot.” Sang staff memperlihatkan sebuah layar televisi di atas kepalanya, berisikan beberapa penayangan dari kamera keamanan yang sengaja dipasang di dalam rumah hantu.

Menunjukkan seluruh rute dalam keraton hantu, termasuk pada area monster berganggut di mana Hanse dan Sejun bertemu si mbak tadi.

Sialnya, ternyata benar. Tak ada wujud mbak-mbak yang Hanse lihat seperti tadi.

Hanse dan Sejun bisa merasakan tulang-tulang kaki mereka mendadak menghilang. Keduanya saling bertatapan, dengan raut wajah setengah panik dan ketakutan.

Anjir.”

.

.

.

END

Notes:

Thank you for reading! <3