Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-03-25
Words:
1,086
Chapters:
1/1
Kudos:
21
Hits:
173

Bitter and Pretty

Summary:

Bokuto yang terpaksa menemani kakaknya ke upacara minum teh bertemu dengan orang tercantik yang pernah ia temui dan tidak bisa melepasan pandangannya.

Notes:

- Di AU ini, mereka berdua beda sekolah jadi belum pernah bertemu sebelumnya.
- Selisih usia mereka sama seperti canon.

Happy Reading!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Biasanya di hari Sabtu, Bokuto akan latihan bersama klub volinya atau pergi bermain bersama teman-temannya untuk bersenang-senang di akhir pekan. Namun minggu ini sedikit berbeda karena kakak keduanya, Yumiko memintanya untuk ikut ke ujian kursus Chado* karena Akiko, kakak pertamanya tidak bisa hadir karena urusan pekerjaan.

Sebenarnya, Bokuto malas untuk ikut ke acara seperti ini. Apalagi upacara minum teh terkesan kuno dan membosankan. Tapi Yumiko memaksa Bokuto karena jarang-jarang ada kesempatan hadir di acara seperti ini. Ditambah lagi sebenarnya yang perlu Bokuto lakukan hanya duduk manis dan menerima teh serta cemilan dari peserta ujian.

“Kak Yumiko kan tahu aku tidak tahan duduk bersimpuh lama-lama!” rajuk Bokuto saat kakaknya memaksanya ikut.

“Cuma sebentar kok! Nanti kan ujiannya bergantian jadi kamu tinggal duduk manis waktu sesi pengujianku. Mau ya? Nanti habis ujian aku traktir makan deh Kou!” berhubung Bokuto tidak bisa menolak permohonan kakaknya, jadilah ia minta ijin untuk tidak ikut latihan voli bersama teman-temannya di pagi hari.

*Chado: Upacara minum teh ala Jepang


“Kak, aku boleh ke toilet dulu ya?” Bokuto meminta ijin pada kakaknya setelah sampai di rumah tradisional tempat acara diadakan.

“Dasar Kou! Padahal kau sudah pakai kimono rapih begitu! Yasudah nanti jangan lupa kembali lagi kesini, soalnya ujian akan dimulai 30 menit lagi.” Seluruh hadirin yang datang di hari itu memang diharuskan memakai kimono, sebagaimana upacara minum teh dilaksanakan. Ini juga yang sebenarnya membuat Bokuto malas menemani kakaknya untuk datang sebagai tamu hari itu, tapi mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur setuju.

Rumah tradisional tempat diadakannya kursus upacara minum teh ini sangat luas. Tempat kursus dilaksanakan disebut chashitsu, yang berada terpisah dari beberapa bangunan lain. Untuk ke toilet saja, Bokuto harus berjalan sekitar 5 menit dari chashitsu. Menurut Kak Yumiko, guru yang membuka kursus upacara minum teh ini adalah anak pemilik dari rumah besar tersebut dan ia adalah generasi ketiga yang melanjutkan tradisi minum teh ini secara turun menurun.

Karena tadi Bokuto bertemu dengan tukang kebun di rumah tersebut, ia tidak tersesat saat sampai di toilet. Namun saat ingin kembali ke chashitsu, ia malah tersesat dan berputar-putar di kompleks rumah yang super luas tersebut. Bokuto berusaha mencari orang untuk bertanya arah kembali, tapi apa boleh buat karena tidak ada orang yang lewat sejak tadi.

‘Gimana cara balik ke tempat tadi ya…’ gumam Bokuto di dalam hati sambal melewati area kolam. Rasanya pemandangan sekitarnya mirip semua, jadi ia tidak bisa membedakan bangunan-bangunan yang ada.

“Permisi, apa anda tersesat?”

Suara terdengar lembut dan halus, namun asing menyapa Bokuto dari belakang. ‘Akhirnya ada orang yang bisa kutanyai!’

“Ya, saya salah satu tamu di acara upacara minum teh hari ini.” Jawab Bokuto sambal berbalik ke orang yang memanggilnya tadi. Terlihat seorang pemuda yang nampaknya sepantaran dengannya memakai kimono campuran warna biru tua dan abu-abu. Rambutnya berwarna hitam kelam dan bola matanya berwarna hijau – atau biru? Bokuto tidak punya kata-kata yang bisa mendeskripsikan isi pikirannya saat melihat orang asing ini. Ia terlihat begitu cantik dan anggun di mata Bokuto.

“Ah, kalau begitu silahkan ikut saya. Saya juga sedang menuju kesana.” Jawab si orang asing, sementara Bokuto masih sibuk mengagumi orang yang baru ditemuinya itu.

“Maaf, apa anda mendengar saya?” si rambut hitam Kembali bertanya karena tidak ditanggapi dan malah ditatap lekat-lekat.

“Eh maaf! Iya, saya harus ke chashitsu sekarang atau kakak akan membunuhku! Maaf tadi saya sedang tidak fokus.”

Pemuda itu terkekeh kecil mendengar jawaban Bokuto, lalu mengajaknya untuk berjalan Kembali ke chashitsu. Si orang asing hanya diam saja, jadi Bokutolah yang membuka suara lebih dulu “Perkenalkan namaku Bokuto Koutarou! Aku hari ini datang untuk menemani kakakku ujian kursus upacara minum teh, makanya aku tidak terbiasa dengan tempat ini… Oh iya, namamu siapa?”

“Akaashi Keiji, Panggil saja Akaashi.”

“Akaashi peserta kursus juga seperti kakakku?”

“Hmm.. bisa dibilang begitu.”

“Apakah Akaashi tidak gugup? Kak Yumiko tegang sekali sejak kemarin, katanya takut kalau melakukan kesalahan…”

“Umm.. sedikit?”

Tidak terasa mereka berdua sampai di bangunan tempat chashitsu berada dan langsung berpisah karena Akaashi juga harus bersiap untuk ujian. Dari obrolan singkat itu, Bokuto tahu kalau Akaashi setahun lebih muda dari dirinya dan ia juga pernah bermain voli waktu di SMP dulu, bahkan pernah mengikuti turnamen yang sama dengan Bokuto. Anehnya, kenapa Bokuto tidak ingat pernah berpapasan dengan orang secantik ini?

“Koutarou, jangan melamun! Ingat ya, nanti waktu giliranku menyajikan teh, kau harus masuk sebagi tamu. Mereka tidak mengatur siapa yang akan menjadi tamu untuk peserta mana, tapi karena satu tamu tidak boleh ikut jamuan dua kali, jangan sampai kau salah.” Ujar Yumiko membuyarkan lamunan Bokuto sekaligus menjelaskan mekanisme ujian hari itu.

“Siap kak!”


Rasanya Yumiko ingin memarahi adiknya itu, baru saja diingatkan tadi tapi ia malah ikut sebagai tamu di sesi ujiannya Akaashi Keiji, anak pemilik penyelenggara kursus upacara minum teh yang diikutinya.

Ya, Akaashi adalah tuan rumah sekaligus calon penerus kegiatan chado yang dilakukan oleh keluarganya. Ia baru mengikuti ujian dasar waktu SMA karena ia sibuk dengan kegiatan klub volinya waktu SMP. Saat memasuki SMA, ia berjanji akan fokus belajar untuk meneruskan tradisi keluarga makanya ia sedang menyajikan tehnya sekarang ini.

Akaashi tersenyum lebar sekali saat melihat pemuda berambut abu-abu itu mendadak mengajukan diri menjadi tamunya hari itu. Dari obrolan singkatnya, Akaashi bisa menyimpulkan kalau Bokuto adalah orang yang spontan dan apa adanya – kalau tidak suka ya langsung bilang, tidak seperti kebanyakan orang yang menyembunyikan perasaannya.

Mungkin ini terdengar aneh, tapi Akaashi senang dengan pembawaan Bokuto yang ceria dan mudah berbaur dengan orang yang baru saja ia temui. Dari pembicaraannya tadi, ia sudah tahu kalau Bokuto adalah anak ketiga dan punya dua orang kakak perempuan. Salah satunya adalah Yumiko-san yang mengikuti kursus chado. Bokuto lebih tua  satu tahun darinya, menyukai bola voli dan sedang berjuang untuk maju ke pertandingan nasional di tahun terakhirnya di SMA.

Akaashi menaruh chasen* yang baru saja ia pakai untuk mengaduk teh terakhir yang dibuatnya. Ia membagikan chawan* beserta dengan makanan manis di nampan satu per satu kepada tamunya, yaitu ibunya sendiri dan Bokuto yang secara spontan mengajukan diri sebagai tamunya tadi.

“Terima kasih untuk tehnya” Bokuto menerimanya sambal tersenyum lebar sekali dan menunduk hormat, seperti yang sudah dijelaskan penyelanggara acara sebelum mulai tadi. Ia memutar chawan di tangannya agar motif Bunga Sakura yang cantik tersebut berada di posisi depan lalu meminumnya.

‘Pahit! Tapi enak… Apa karena Akaashi yang buat?’

Bokuto jadi berpikir, apa boleh kalau setelah ini ia berkenalan Akaashi supaya bisa kenal lebih dekat dengannya? Rasanya ia masih tidak percaya ada orang yang berusia sepantaran dengannya namun terlihat cantik, anggun dan menakjubkan seperti Akaashi.

*Chasen: Pengaduk teh khusus yang terbuat dari kayu
*Chawan: Sebutan untuk wadah keramik teh yang dipakai di upacara minum teh 

- END

Notes:

Thank you for reading!