Work Text:
"totalnya jadi 147.250 rupiah ya kak,"
pria dengan rambut pirang itu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, lalu menyerahkannya pada kasir yang berada di hadapannya.
"sisa kembaliannya simpen aja mba,"ia pun mengangkut tas berisi barang belanjaannya dari meja kasir.
"terimakasih ya kak, sampai jumpa kembali."
albedo menenteng dua tas belanja yang penuh dengan kedua tangannya, berjalan keluar dari supermarket yang tidak terlalu ramai pada malam senin itu.
kota mereka mulai memasuki musim penghujan. langit malam itu tidak secerah yang biasanya, rembulan bersembunyi di balik awan-awan gelap dan angin kencang. albedo mempercepat langkahnya agar cepat sampai tujuan.
banyak hal yang berubah dalam kehidupannya selama tiga tahun terakhir setelah kelulusan. tujuan-tujuan di tahun terakhirnya yang ia tulis pada lembar kertas bertajuk “final year goals” pemberian bu jean itu…sayangnya tidak semuanya tercapai.
tujuan pertamanya yaitu, sehat. ia sempat jatuh sakit beberapa kali menjelang ujian karena jadwal tidur yang berantakan, walaupun begitu, untungnya lebih banyak hari-hari dimana kondisinya segar bugar dibandingkan sakit.
kedua, masuk university of mondstadt di jurusan DKV. Ya, setelah bersusah payah meyakinkan kedua orang tuanya bahwa dia lebih menyukai bidang seni dibandingkan kimia murni, akhirnya ia resmi menjadi mahasiswa fakultas seni rupa dan desain, dan kini ia memasuki semester kelimanya.
ketiga, menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga. tujuannya ini bisa dibilang tercapai, karena mama dan papanya berganti-gantian mengajarinya jika ada waktu kosong. ia juga menghabiskan liburan seminggu bersama keluarganya setelah mendapat kabar baik atas pengumuman kelolosannya masuk universitas ternama itu.
namun...tujuan terakhirnya untuk menikmati tahun terakhirnya di sekolah...
setelah pernyataan cinta sucrose yang berakhir mengenaskan, dan berujung menyakiti hati keduanya, ada kerenggangan yang kasat mata di antara mereka. mereka masih saling menyapa dan mengobrol sesekali, namun rasanya berbeda, tidak seperti sedia kala. bagaimana bisa mereka berbicara dengan leluasa, jika menatap wajah satu sama lain saja sudah mengingatkan mereka akan kejadian di uks sore itu? saat sucrose menyatakan rasa sukanya yang berakhir dengan tangis.
karena itulah, bisa dibilang ia tidak dapat sepenuhnya menikmati tahun terakhirnya di sekolah. satu-satunya teman yang paling dekat dan paling ia percaya, perlahan pergi jauh darinya.
kini, semuanya sudah menjadi bagian dari masa lalu.
albedo akhirnya sampai di depan kamar apartemen yang kata sandinya sudah ia hafal di luar kepala. setelah terdengar bunyi yang menandakan pintunya telah terbuka, ia pun mengangkut kembali satu tas yang sempat ia turunkan dari tangannya.
gelap. albedo melepas sepatunya, lalu meletakkan dua tas yang terasa semakin berat itu di atas meja makan. dengan meraba-raba dinding, ia menekan saklar lampu yang seketika menerangi ruang makan. tangannya bergerak membuka kulkas dan memilah barang belanjaan mana yang perlu dimasukkan ke dalam kulkas, freezer, dan lemari penyimpanan. menyisakan beberapa bahan-bahan yang diperlukan untuk memasak makan malam.
setelah isi tas kain reusable itu kosong, ia melipatnya lagi dan meletakannya di rak kecil, bersama tas-tas kain dan tas plastik lainnya yang tersusun rapi. pemilik apartemen ini memang orang yang sangat terorganisir.
albedo pun beranjak dari dapur, mengetuk pintu kamar.
"masuk,"jawab suara seseorang di balik kamar itu.
tangan albedo memutar kenop pintu, memperlihatkan seorang gadis dengan rambut mintnya yang terkuncir berantakan, kantung mata yang menggelap dan kacamatanya yang merosot dari pangkal hidung. lembaran-lembaran kertas berserakan tak karu-karuan di mejanya. di pojok meja, secangkir kopi hitam mulai mendingin.
wajahnya yang lelah itu berganti senyum, sucrose pun menyapa albedo,
"hai."
"udah makan?"tanya albedo.
"belum..."
"tugasnya masih banyak?"
sucrose mempoutkan bibirnya lalu mengangguk.
"yaudah aku yang masak ya, kamu lanjutin aja ngerjainnya."albedo menatap sucrose yang nampak kelelahan. sudah seharian ini ia mengerjakan laporan praktikumnya yang tak kunjung usai.
"iya, makasih..."
albedo tersenyum kecil sebelum menutup pintu. menu makan malam hari ini sudah ditentukan, yaitu nasi dengan lauk kari ayam. sesuatu yang mudah dan cepat untuk dimasak, sebelum itu, albedo mencuci beras dan memasaknya dengan penanak nasi kecil bermotif bunga-bunga.
oh, mengenai apa yang terjadi setelah kelulusan tiga tahun lalu, mungkin ada bagian yang harus kamu tahu...
tiga tahun lalu, beberapa hari setelah mereka dinyatakan lulus sekolah, melepas gelar siswa yang melekat pada diri mereka bertahun-tahun lamanya, albedo membuka hasil pengumuman diterimanya ia sebagai mahasiswa baru university of mondstadt. tulisan LULUS dengan warna hijau di layar laptop membuatnya tersenyum lebar. secepat mungkin ia menghubungi kedua orang tuanya yang masih belum pulang dari kantor untuk memberitakan kabar bahagia itu.
lalu hal kedua yang dilakukannya, adalah berlari secepat mungkin ke rumah sucrose. dengan wajah gembiranya yang amat langka, ia mengetuk pintu rumah sucrose. perempuan itu keluar dengan wajah yang tak kalah antusiasnya. tanpa berpikir panjang, albedo memeluk sucrose di depan halaman rumahnya.
"sucrose, saya lolos!"serunya, seperti anak kecil. sisi albedo yang ini, jarang sekali ditampakannya. sucrose tersenyum kecil, sejujurnya terkejut tiba-tiba albedo memeluknya. "s-selamat ya kak!"sucrose menepuk punggung albedo pelan.
albedo melepas pelukannya, senyum lebar masih terpatri di wajahnya.
"sucrose, hasil pengumumanmu gimana?"
"aku juga lolos, di jurusan biologi university of mondstadt…walaupun itu pilihan keduaku, sih."
"oh iya? kita satu kampus dong. selamat ya!"albedo kembali membenamkan sucrose ke pelukannya. tak peduli sucrose yang mati-matian menyembunyikan semburat merah di pipinya, dan degupan jantungnya yang dengan jarak sedekat ini yang mungkin samar-samar dapat terdengar. melihat albedo sesenang ini, kuncup bunga di hati sucrose rasanya mekar kembali. apa yang terjadi di antara mereka satu tahun belakangan, nyatanya tidak mengubah cara sucrose memandang albedo. binar keemasan di matanya masih sama, sesulit apapun ia menyembunyikannya.
inilah hari yang selama ini albedo tunggu, hari dimana akhirnya ia dapat mencapai salah satu tujuan yang susah payah ia gapai. belajar bukan hal sulit bagi albedo, anak itu terlahir dengan gen kepintaran alami yang diwariskan oleh kedua orang tuanya. namun, keinginannya untuk memilih jurusan yang tidak sejalur dengan apa yang orang tuanya harapkanlah yang membuat perjalanannya menjadi sulit. dan akhirnya proses negosiasi panjang itu berhasil ia menangkan.
selain itu, ia juga menunggu datangnya kesempatan untuk mewujudkan satu tujuan terakhir yang tak pernah ia tulis di lembaran kertas itu.
"sucrose,"
"iya?"
"selama ini...saya sebenarnya juga suka kamu."
siang itu langit cerah. warnanya amat biru. membuat hati siapa saja yang melihatnya menjadi sejuk. awan-awan bergerombol, berpegangan tangan, bersama-sama mengitari langit. dari pohon besar yang tak jauh dari tempat mereka berdiri, ibu dan anak-anak burung tersenyum di sarangnya.
semesta seakan mendukung albedo dan pernyataan cintanya.
pupil mata sucrose membesar, mulutnya menganga. ia terpaku di tempatnya berdiri. perkataan albedo barusan...apakah ini mimpi?
"serius?"tanya sucrose tidak percaya.
"iya, serius."
"...selama ini?"tanyanya dengan nada muram.
"iya, selama ini."
sucrose menatap albedo di hadapannya, tangannya gemetar. daripada senang, ekspresi wajahnya menggambarkan kemarahan. hatinya bergejolak, layaknya dua larutan kimia yang bertentangan, dicampur dalam satu gelas labu, menciptakan reaksi eksotermik yang dapat memecahkan gelas.
bulir air mata perlahan menetes membasahi pipinya. "kenapa..."ucapnya pelan.
wajah albedo yang tadinya secerah mentari, berubah cemas. walau langit masih cerah, namun rasanya ada awan gelap yang mengelilingi mereka.
"sucrose?"
"kalo selama ini suka, kenapa gak pernah bilang...kenapa baru sekarang..."tangisnya pecah. sucrose menutupi wajahnya dengan lengannya. setiap kali dirinya bersama albedo, rasanya sukar untuk menyembunyikan apa yang ia rasakan. ia akan menangis jika ingin menangis, dan marah jika ingin marah. mungkin ia memang sudah terlampau nyaman dengannya, hingga tidak masalah baginya untuk menunjukkan suara hati yang sesungguhnya.
“kenapa butuh waktu selama itu untuk kasih tau aku…”
emosi yang selama ini sucrose tahan-tahan meluap begitu saja. delapan bulan setelah pernyataan cintanya ditolak. selama itu ia berusaha untuk menjaga jarak dengan albedo, segala cara ia coba untuk menghapus perasaan yang masih bersemayam di hatinya. namun ketika hari minggu berganti senin, semua usahanya gagal begitu saja seketika ia menatap mata hijau kebiruan milik albedo. albedo yang selalu bersikap lembut, dan memperlakukannya sebaik mungkin. mungkinkah ia menemukan seseorang yang lebih baik darinya? bila pun ada, sucrose tidak mau.
dirinya memang keras kepala.
dan kini, dengan mudahnya albedo mengucapkan ia juga menyukai sucrose. selama ini. bukankah itu keterlaluan? lalu apa artinya suasana canggung yang selama ini menyeruak setiap kali mereka berbicara? dan malam-malam dimana hatinya mendadak pilu ketika bayang-bayang albedo tanpa izin menghampiri pikirannya? ia bahkan memilih university of liyue sebagai pilihan universitas pertamanya. saking kuat niatnya untuk pergi jauh dari hidup albedo.
albedo menggenggam tangan sucrose yang gemetar. "maaf...saya punya alasan tersendiri,"
sucrose berusaha menghentikan tangisnya, lalu menatap albedo, seakan meminta penjelasan lebih lanjut.
albedo pun menggandeng tangan sucrose, "sini, ikut saya sebentar."
albedo membawa sucrose masuk ke rumahnya yang kosong. klee masih belum pulang sekolah siang itu. sucrose dengan pasrah mengikuti langkah albedo.
gadis itu menunggunya di depan pintu kamar, sementara albedo masuk, mengambil sesuatu di meja belajarnya.
albedo keluar dengan sebuah jurnal bersampul kulit di tangannya.
ia menyerahkan jurnal yang dibukanya, memperlihatkan dua halaman penuh berisi tulisan tangannya. sucrose membaca itu secara perlahan. kata demi kata, kalimat demi kalimat yang semakin dibaca semakin membolak-balikkan hatinya, seperti ada ratusan anak panah yang jatuh menghujam jantungnya.
23/10/19
hari ini saya akhirnya ngejawab pertanyaannya sucrose.
saya bukan bilang saya gak suka dia. saya bilang gak tahu harus kasih jawaban apa.
sebentar lagi persiapan masuk universitas bakal dimulai, walaupun saya bilang ke mama kalo saya gak mau ikut bimbel, pasti mama akan tetap masukkin saya ke bimbel. mama juga pasti ngajarin saya setiap ada waktu kosong.
ini tahun terakhir kita di sekolah, dan saya tahu apa yang dilakukan remaja seumuran saya kalo pacaran: jalan-jalan, nonton bioskop, dan segala kegiatan lainnya yang bakal banyak ngehabisin waktu bareng-bareng.
saya tahu sucrose juga mau ngelakuin itu semua. namun saya tau saya gak bisa.
saya gak mau ngecewain mama, papa. saat mama nyuruh anak buahnya buat nemenin saya keliling di university of mondstadt, saya baru sadar ekspetasi mereka ke saya ternyata setinggi itu.
saya gak mau egois...saya gak bisa ngelawan mama, karena dia tahu yang terbaik buat saya. dan kalo saya tau saya gak bisa hadir setiap kali sucrose butuh saya di sampingnya, lebih baik saya gak pernah berjanji untuk selalu ada buat dia.
saya juga gak mau minta dia nungguin saya, tanggung jawab untuk memegang janji itu besar, dan saya gak siap untuk menanggungnya. yang lebih penting lagi, saya gak mau lihat satu hari dimana dia akhirnya capek nungguin saya terus.
dear sucrose...
seandainya aja saya juga bisa bilang saya suka kamu semudah kamu bilang kamu suka saya...
maaf ya, seseorang yang kamu anggep keren ini, sebenernya pengecut.
bulir air mata sucrose kembali berderai. albedo...ternyata ia sangat memikirkan dirinya. ia tidak ingin mengecewakan dirinya dengan kesibukannya. atau pun membuatnya menunggu. artinya selama ini ia juga melewati hari-harinya dengan hati yang lara, karena sucrose berusaha sebisa mungkin untuk menjauhinya.
"maaf, walaupun saya gak pernah bermaksud untuk bikin kamu sedih, tapi akhirnya jadi begini,"
sucrose menyeka air matanya, "gak apa-apa…makasih udah jujur.” sucrose menutup jurnal di tangannya, meletakkannya di atas meja makan.
kali ini, sucrose memberanikan diri untuk mendekat dan membenamkan kepalanya di bahu albedo. setelah mengetahui perasaan albedo kepadanya, setelah mengetahui ia merasakan hal yang sama, hatinya merasa nyaman. sucrose menghirup wangi albedo yang ia rindukan. sudah lama sekali sejak mereka sedekat ini.
walaupun kini ia telah tahu perasaan albedo, tidak serta merta membuatnya memaafkan apa yang telah berlalu, namun untuk saat ini, biarlah ia melepas rindu.
keberanian sucrose yang tiba-tiba ini membuat wajah albedo bersemu. samar-samar ia mencium wangi rambut sucrose. wangi nan familiar. senyum kecil hadir di wajahnya. ternyata shamponya masih sama.
albedo pun memeluk sucrose dengan erat. yang ia inginkan selama ini, akhirnya berada dalam dekapannya.
“jangan jauhin aku lagi ya…”
hujan deras tiba-tiba turun, melanda seisi kota pada malam itu. cuaca memang kurang bersahabat belakangan ini, setidaknya bagi sucrose yang sedang melewati minggu ujiannya. setiap kali ia mendengar suara hujan, rasanya ia ingin berbaring di kasur dan melupakan tugas-tugasnya.
samar-samar sucrose mencium wangi kari ayam lewat celah-celah kamarnya, perutnya pun berbunyi tanda minta diisi. ia pun bangkit dari kursinya, meregangkan badan yang terasa pegal-pegal, setelah seharian mendekam di dalam kamar, ia akhirnya keluar.
albedo telah menyiapkan dua piring nasi hangat di meja makan. dengan hati-hati ia memindahkan panci berisi kari yang asapnya masih mengepul ke tengah-tengah meja makan yang sudah dialasi alas kayu.
sucrose mengambil alat makan dan gelas dari lemari, lalu mengambil teko berisi air dan meletakannya di meja makan.
mereka pun duduk dan menyendok kari ke mangkuknya masing-masing.
“selamat makan!”seru sucrose dengan wajah gembira. wangi kari buatan albedo selalu menggugah selera.
“tiup dulu,”ujar albedo melihat sucrose yang menyuap nasi dengan tidak sabaran. sucrose meniup campuran nasi dan kari di sendoknya dengan cepat, ia benar-benar kelaparan.
“enak?”tanya albedo.
sucrose mengangguk, “enak! makasih ya udah nyiapin makan malem hari ini,”
albedo ikut menyendok nasi dan karinya. “sama-sama.”
walaupun sama-sama sibuk dengan tugas kuliahnya, albedo dan sucrose selalu mencari waktu untuk sekadar duduk bersama dan mengobrol. jika albedo yang sibuk, maka sucrose akan datang ke studionya untuk membawakan kue yang ia panggang, atau pun ketika sucrose yang sibuk, albedo memasak untuknya.
“minggu besok kamu ikut gak reunian kelas?”tanya albedo.
“oh iya, ada reunian ya.”sucrose menenggak air sebelum melanjutkan perkataannya. “minggu ini ujianku harusnya udah selesai sih, jadi kayaknya bisa deh ikut.”
albedo mengisi ulang air di gelasnya. “yaudah nanti aku jemput,”
waktu makan malam pun selesai, sucrose segera mencuci piring dan gelas yang kotor, dibantu albedo. setelah dapur kembali bersih, barulah sucrose kembali melanjutkan laporan praktikumnya, sementara albedo bersandar di ranjang sembari memainkan ponselnya. ia berencana untuk kembali ke rumah esok pagi.
albedo menguap, melihat ke arah sucrose yang masih duduk di mejanya, fokus menulis dan sesekali mengetik di laptopnya.
“sucrose, udah jam segini, kamu gak tidur?”
“bentar lagi,”jawab sucrose tanpa menoleh.
“yaudah aku tidur duluan ya,”albedo mengunci layar ponselnya, meletakannya di nakas. albedo yang juga lelah seharian berada di studio itu pun dengan cepat terlelap.
sucrose, gadis itu masih seperti yang dulu. rajin, rapi dan pekerja keras. mungkin yang membedakan sucrose semasa sma dan sucrose semasa kuliah adalah, kini ia lebih membuka diri pada orang lain, dan ia pun berhasil menjaga persahabatannya bersama teman-teman sekelasnya di sma dulu. jika albedo sibuk, ia biasanya pergi ke perpustakaan bersama noelle, atau makan siang dengan mona. namun saat-saat ujian seperti ini, ia memilih untuk menghabiskan waktu di lab atau mendekam di kamarnya mengerjakan laporan. albedo kerap berkunjung untuk memeriksa keadaannya, karena disaat sibuk, sucrose bisa jadi makhluk paling lupa di dunia. lupa makan, lupa tidur, lupa untuk sekadar keluar kamar, menyerap udara segar dan sinar matahari.
tiga tahunnya bersama albedo juga ia lalui dengan sederhana. sesekali mereka jalan-jalan, entah ke museum, bioskop, taman bermain, piknik di tengah kota, atau makan ke restoran mewah. (hanya terjadi sekali, mereka kapok karena biayanya yang mahal, serta sucrose malu karena tidak terbiasa dengan table manner) atau kebanyakan mereka menghabiskan waktu bersama di perpustakaan, pusat perbelanjaan untuk belanja bulanan, atau apartemennya, seperti sekarang ini.
walaupun rumah sucrose terbilang tidak terlalu jauh dari kampusnya, ia memilih untuk pindah dan menyewa apartemen kecil di daerah kampusnya. selain karena ia sering bolak-balik ke laboratorium, ia juga beralasan ingin hidup mandiri. alasan lainnya yang tidak ia sampaikan ke kedua orangtuanya adalah untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama albedo tanpa diganggu.
albedo terbangun dari tidurnya ketika suara sambaran petir terdengar agak keras. lampu meja belajar sucrose masih menyala terang, dan pemilik kamar masih duduk di mejanya. jam menunjukkan pukul satu pagi.
“sucrose…”panggil albedo dengan suara sedikit serak, efek baru bangun tidur.
“iya?”
“tidur…udah jam segini,”
“dikit lagi,”
albedo menghela nafas. kekasihnya ini memang kepalanya sekeras batu.
“sucrose...”
“iyaaa…”
“sayang…”
tangan sucrose berhenti bergerak. padahal ini sudah tahun ketiga mereka berpacaran, tapi tetap saja kalau albedo sudah memanggilnya dengan panggilan yang satu itu, seluruh tubuhnya berubah menjadi jeli.
“iya iya aku tidur.”sucrose buru-buru merapikan kertas-kertas di mejanya. tak peduli susunan yang benar seharusnya bagaimana. ia mematikan lampu meja belajarnya, lalu naik ke atas kasur, merebahkan badannya yang penat di samping albedo.
“udah gosok gigi?”
“udah tadi habis makan,”
“bagus,”
albedo kini menghadap ke arah sucrose yang telah melepas kacamatanya. wajahnya terlihat letih. dengan pelan albedo mengelus helai rambut sucrose, sementara sucrose menikmati pemandangan wajah albedo dari dekat. hehe, pacarku ganteng banget ya. pikirnya.
“hari minggu gak usah ikut reunian,”ujar albedo.
“kenapa?”
“mending kita tidur seharian aja,”
sucrose terkekeh, “bener juga.”
albedo menarik selimut, menutupi mereka berdua dari udara yang dingin.
“lampunya aku matiin ya, biar cepet tidur.”
“iya,”
tangan albedo bergerak mematikan lampu tidur kecil yang terletak di atas nakas, ia memperbaiki posisi tidurnya, menghadap ke arah sucrose.
“selamat tidur, sucrose.”
“selamat tidur, albedo.”
